Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Desember 25, 2012

Cinta Dan Politik


oleh arif saifudin yudistira 

Kisah cinta dan politik seperti persinggungan yang tak usai. Sejarah negeri ini pun sering kali menyingkap persinggungan itu. Urusan politik tak pernah lepas dari kisah cinta. Konon, cinta itulah yang menggerakkan politik jadi ramai. Entah menjadi bahan perbincangan public, atau sekadar alat untuk menaikkan popularitas. Urusan cinta pun bukanlah lagi urusan yang alamiah, orisinal dan natural. Cinta seketika berubah menjadi momok, menjadi senjata atau bahkan menjadi bom waktu yang bisa sewaktu-waktu membunuh dan mematikan karier politik.

Kita mengenang para tokoh-tokoh kita seperti Soekarno yang begitu mahfum membuat singgungan perkara cinta dengan politik. Soekarno adalah bapak pencinta, tapi ia sadar diri dan mengontrol diri agar politik tak terusik oleh urusan percintaannya. Kita bisa menemui ini dari pengisahan Yurike Sanger. Wartawan Kadjat Adra’I menelusuri kisah cinta Bung Karno dengan anak SMA ini dalam bukunya Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA. Di sana Yurike mengisahkan, bahwa percintaan Bung Karno dengan dia bukan semata urusan seks semata. Soekarno pun dikenal sebagai sosok perayu ulung, pencinta kesenian, hingga membawanya menyukai perempuan yang cantik-cantik.

Urusan percintaan Soekarno pun terlihat politis, mesti dibaluti dengan agenda-agenda terselubung melaluiIncognito, melalui dalih barisan “Bhineka Tunggal Ika” yang dipamerkan kepada publik untuk menyambut Soekarno. Soekarno tak hanya menjadikan acara-acara berbau kenegaraan yang resmi sebagai upacara untuk mengukuhkan politiknya, tapi ia juga alat politik untuk mendapatkan percintaan. Kita menyimak suatu saat kelak di masa-masa akhir Bung Karno, persoalan percintaan Bung karno ini menjadi alat paling empuk rezim Soeharto untuk menghapus Soekarno dalam panggung politik Indonesia, “desoekarnoisasi”. Kisah cinta Soekarno pun bisa diartikan sebagai percintaan dengan menggunakan posisi-posisi manusiawi mesti ia adalah pejabat publik. Kontrol diri inilah yang membedakan kisah Soekarno dengan kisah percintaan para politisi di masa kini.

Trauma
Berbeda dengan Soekarno yang lebih membawa percintaan itu mengukuhkan kedudukan politiknya di masa Orde Lama, percintaan ala Sjahrir pun menyimpan trauma menyakitkan. Kisah percintaan Sjahrir pun harus rela kandas karena urusan politik kebangsaan. Kisah lain bisa kita temui di kisah percintaan yang santun ala Mohammad Hatta. Percintaan Bung Hatta ini tak seperti Soekarno, ia lebih memilih sumpah setianya akan bercinta ketika negeri ini telah merdeka. Hasrat percintaan ini pun melahirkan buku yang sangat fenomenal dalam waktu itu yang bertajuk “Alam Pikiran Yunani“.

Kita pun menyimak kisah traumatik ala Bapak Kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka. Tan Malaka pernah memberikan pengakuannya yang ditulis oleh Adam Malik. “Apakah anda pernah jatuh cinta“, pertanyaan itu dijawab dengan nada tragis. “Saya pernah jatuh cinta tiga kali, di Sumatra, di Belanda dan di Thailand, tapi saya lebih mencintai negeri saya“. Percintaan pun dialihkan pada urusan kemerdekaan dibanding menuruti ambisi percintaan pribadi. Kisah percintaan Sjahrir dengan negerinya pun menyimpan traumatik yang mendalam. Rosihan Anwar mengisahkan dengan lihai, bagaimana Sjahrir tragis menemui kematiannya dipisahkan dari negerinya melalui pengobatan di luar negeri. Atas nama politik, Soekarno pun menyisihkan Sjahrir dari cintanya yakni cinta pada negerinya.

Urusan percintaan dan politik di abad XXI terasa membawa risiko yang pelik. Kita menyimak kisah pergunjingan percintaan SBY yang konon pernah mencintai perempuan sebelum Ani Yudhoyono. Gonjang-ganjing ini pun diselesaikan dengan politis antara SBY dan Zaenal Maarif. Zaenal Maarif pun kini menjadi politisi Partai Demokrat. Kita menyimpan curiga urusan percintaan ketika di bawa ke ranah politik begitu pelik dan sering diselesaikan dengan sangat politis. Begitupun ketika kisah Hatta Rajasa yang kalang kabut mencari cara menaklukkan SBY. Ia tak kalah cerdik, anak pun jadi terbawa dalam urusan politik. Besanan antara SBY dan Hatta Rajasa pun diduga tak lepas dari urusan politik.

Penulis adalah mahasiswa FKIP jurusan Bahasa Inggris Univertsitas Muhammadiyah Surakarta

Tulisan dimuat di SOLO POS 

18 Desember 2012

Hutang Kita pada Buku



NEGERI ini dibangun dan didirikan tak mungkin lepas dari peradaban buku. Buku mencipta perubahan, buku menggerakkan founding fathers kita untuk membentuk negeri ini. Betapa Sukarno adalah pengagum dan penggemar buku-buku marxis, buku-buku sosialis, pemikiran Gandhi, hingga Tan Malaka. Tak jauh berbeda dengan Hatta yang menggemari buku dan menggeluti buku adalah teman dalam perjalanan, dan juga alat untuk membaca dan menganalisis persoalan kehidupan, salah satunya aspek ekonomi. Buku menghasilkan buku. Kita mengenal buku “Di Bawah Bendera Revolusi” karya Soekarno, kita mengenal “Memoir” karya Muhammad Hatta, hingga “Madilog” karya Tan Malaka.


Perasaan-perasaan menyesal pun muncul ketika buku hilang dan buku tak ada dalam kehidupan Tan Malaka. Tan Malaka adalah tokoh sekaligus orang yang mengalami trauma dan siksa karena tak ada buku. Ia menuliskan dalam Madilog, “Saya mohon maaf karena tidak menyertakan catatan-catatan kaki karena saya dalam masa pengejaran, dan buku-buku harus saya buang ke laut untuk menyelamatkan buku-buku saya.” Nasib Tan Malaka tak seberuntung Hatta dan Soekarno, ia harus berhadapan dengan kolonialisme yang merampas hak untuk memiliki dan menyimpan buku. Kita masih ingat, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang mengalami trauma dan siksa terhadap buku. Ia seperti tak diberi hak untuk memiliki buku, hingga menuliskan buku. Kita tahu penjara adalah ruang untuk mencipta bukunya, setelah itu, ia harus mengalami pembakaran terhadap karya-karyanya, bahkan rumahnya pun dibakar oleh angkatan darat pada waktu itu.
Peradaban lahir dari kerja kata dan pendokumentasian kata-kata dan setiap ucapan yang memiliki makna pada suatu hari. Gairah menulis buku memungkinkan manusia bekerja dan berkarya untuk memberikan pencerahan dan juga mengekalkan peristiwa, pengetahuan dan lain sebagainya. Sejarah tulisan adalah sejarah pengetahuan. Usaha agama menafsirkan teks adalah iktikad dan laku seseorang beragama. Dan beragama tak lain adalah bagaimana usaha manusia menafsirkan kitab yang merupakan buku utama manusia.

Betapa kita tak tahu terima kasih kepada buku ketika menyepelekan buku yang dibuat oleh manusia. Betapa kita menyepelekan karya dan juga pemikiran dalam buku, ketika kita melihat bagaimana dunia perpustakaan kita semakin ditinggalkan. Dunia buku tak memikat, dunia kantin dan dunia bermain lebih memikat. Pikat buku tak sekadar ajakan kita menyelami ke dalam bagaimana buku itu memanggil-manggil kita untuk menemuinya, mencumbuinya, hingga pada melahirkan penafsiran ulang dan memendarkan teks tersebut pada realitas kehidupan kita.

Ajakan membaca dan memahami buku, bedah buku, hingga pada penghargaan kita pada buku akan mencerminkan sikap dan etos kita bahwa buku sejelek apapun dan seburuk apapun adalah proses dari manusia melahirkan ide, gagasan dan sampai pada bagaimana penulis menembus penerbitan. Usaha ini adalah usaha seorang penulis buku untuk menjadikan bukunya bermakna, maka kerja membaca buku adalah kerja yang merupakan penghargaan kita sebagai manusia akademik dan manusia intelektual yang memberi penghormatan melalui kritik, melalui penafsiran hingga melalui apresiasi kepada buku yang ditulis seseorang.
Buku memberikan berkah pada kehidupan manusia. Betapa peradaban yang dibangun setinggi apa pun, ia tak lepas dari penghargaannya pada buku. Etos itu lahir tidak tiba-tiba, tapi melalui proses kesadaran yang tinggi bahwa buku adalah hidup itu sendiri. Maka tak heran, orang menulis dengan menghabiskan masa hidupnya untuk menciptakan buku. Demi pengetahuan dan demi etos keilmuan dan intelektual.

Sekolah


Sekolah pun hadir dengan beragam buku, tapi belum menuntaskan untuk sampai pada iman terhadap buku. Sekolah penuh dengan buku, tapi belum dengan ajakan menekuni buku dan mengabarkan berkah buku pada siswa. Etos baca dan etos menulis belum sepenuhnya menjadi kesadaran kampus dan sekolah kita untuk mencipta dan mengekalkan ilmu dan keilmuan. Alhasil, buku semakin ditinggalkan dan seperti tak jelas nasibnya. Maka yang terjadi di perpustakaan pun tak ada cara dan etika menata buku, buku ditumpuk seenaknya, kerusakan dan kehilangan adalah hal yang wajar. Kita telah lalai dan melupakan buku secara diam-diam.

Penghormatan dan penghargaan kita pada buku, adalah etos kita untuk membaca dan menghormati sejarah, melalui kerja merawat, mengekalkan hingga memanfaatkan buku itu menjadi teks yang bergerak dan menggerakkan. Kerja itulah yang kini kian langka, dan ditinggalkan kita. Padahal, kerja itu tak lain adalah kerja kita sebagai usaha kita yang kecil untuk memberikan penebusan dosa atas tingkah laku kita dan keteledoran dan kebodohan kita tak menghargai dan menghormati buku.

Arif Saifudin Yudistira, bergiat Bilik Literasi Solo
Tulisan Dimuat Di BALI POS tanggal 16 Desember 2012

Kata, buku, kita



Oleh arif saifudin yudistira*)
           
“Pada mulanya adalah kata-kata itu mengada bersama Tuhan serupa dengan kata-Tuhan,kata itu merupakan kreasi”
(Nadine Gordimer)

Manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk lain. Salah satu diantaranya adalah bahasa. Kemampuan berbahasa itulah yang membuat manusia bisa mengucap kata. Huruf jadi acuan kedua setelah belajar berkata-kata diajarkan kepada kita di masa bayi. Kata itulah yang mengucap dan diucapkan oleh kita. Dunia kita dicipta dan digerakkan oleh kata. Siapa tak kenal filsuf eksistensialis kita Jean paul Sartre yang menuliskan indah pengalamannya mengucap dan diucap oleh kata dalam bukunya “kata-kata”(Words). Sartre memahami kata adalah pikiran dan gagasannya yang diungkapkan dan ditulis ulang di masa dewasanya. Buku Sartre menegaskan dan menjelaskan bahwa kata “tidak” adalah kata paling cukup menjelaskan adanya kita.Bila kita hanya menggunakan kata “ya” atau setuju saja, berarti kita tak memiliki eksistensi. Ferdinand de Saussure dalam kanonnya, Cours de linguistique générale, (1965: 157), “pikiran adalah recto dan suara adalah verso; seseorang tak dapat memotong satu sisinya tanpa memotong sisi lainnya di waktu yang sama; dan di dalam arti yang sama, dalam bahasa, seseorang tak dapat mengisolasi suara dari pikiran maupun pikiran dari suara (kata)”.

            Dengan mengucap ‘kata’ itulah kita tak langsung menyatukan antara pikiran dan gagasan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Takjub kata membuat manusia semakin menyadari bahwa ia adalah makhluk berbudaya. Melalui kata itu pula kita mengenal sastra. Puisi dan karya sastra lain setidaknya adalah kata-kata yang membicarakan dirinya. Kita pun mengenali sastrawan nobelis najib mahfuz yang mampu menggunakan medium bahasanya untuk alat penyadaran dan perlawanan. Edward said memujinya dengan mengatakan : “Mahfuz sebenarnya memiliki suara khusus. Ia berhasil menunjukkan kehebatan bahasa pribumi yang justru belum banyak diperhatikan”. Dari sanalah sebenarnya kita menemukan kata berkembang menjadi slogan, hingga menjadi bualan para politisi kita. kata jadi rusak karena aroma politik  dan juga media. Dan disanalah tugas penulis mesti menjernihkan dan mencerahkan kata kepada asalinya.

Suparto brata seorang penulis novel “generasi yang hilang” yang pernah menjuarai sayembara “kartini” menuturkan alasan mengapa manusia Indonesia sekarang kehilangan spirit membaca dan kehilangan ghirah mengurusi buku.  “kita telah salah dalam merumuskan kurikulum pendidikan kita, kita mesti merubahnya dengan spirit membaca  dan menulis buku”. Bapak tua itu mungkin sudah uzur usianya, tapi ia tak lelah dan tak berhenti mengurusi kata, melalui menulis buku dan membaca buku. Puluhan buku pun dihadirkan sebagai kerja dan semangat hidup yang tak kunjung pudar meski jaman sudah berubah.

Membaca buku dan mengurusi buku adalah pekerjaan langka di era multi kulturalisme ini. Era teknologi sekarang menghadirkan e-book dan internet sebagai penyedia layanan dalam dunia pendidikan kita. Internet dan teknologi pun memanjakan kita, tapi belum memuaskan dan menunjukkan-kualitas membaca- manusia Indonesia. Kita terkadang miris ketika  melihat buku-buku dijual dengan harga mahal-mahal di awal terbit, tetapi ketika di bazaar menjadi sebegitu murah. Pemerintah kita tak memiliki politik penerbitan dan politik dalam meningkatkan mutu baca masyarakat kita melalui buku-buku yang ada. Dulu semasa soekarno buku-buku terjemahan dan buku-buku berbau revolusi dan politik dihadirkan, sedang dimasa soeharto buku-buku penataran p4 dan buku berbau pancasilais digalakkan melalui sekolah dan pendidikan. Setidaknya setelah dua presiden itu, politik untuk meningkatkan mutu dan penyediaan buku bagi masyarakat luas belum tampak kembali.

Dunia buku dan dunia penulisan mengajarkan kita setidaknya pada dua hal penting “kerja intelektual” dan juga “ penghormatan intelektual”. Dua kerja inilah yang akan kita jumpai dalam dunia menulis buku dan dunia membaca buku. Ketika kita membaca buku setidaknya kita sedang melakukan dua kerja itu. Yakni kerja intelektual dan penghormatan intelektual. Sebab penulis yang menulis bukunya tak semudah yang kita bayangkan selesai begitu saja. George Orwell mengatakan “ menulis buku itu mengerikan,perjuangan yang meletihkan seperti sakit yang berkepanjangan”.

Negeri kita seolah melupakan kerja kata yang sebenarnya adalah kerja intelektual dan kerja kemanusiaan. Kita lupa bahwa mengurusi kata, dan mengurusi buku tak beda dengan mengurusi kita. Siapa mau mengurusi arsip nasional di Jakarta yang sudah menghasilkan berderet-deret gelar dan juga berates-ratus buku dan penelitian. Kata kembali mengingatkan kita akan keberadaan dan eksistensi kita. Dengan budaya membaca buku dan menulis buku yang masih minim dibanding negara tetangga kita maupun di dunia, setidaknya menunjukkan betapa kita tak menghargai kita. Dunia kata, dunia buku, dan dunia kita adalah tiga frase yang tidak bisa kita lepaskan dan pisahkan dalam kehidupan kita. Saya ingin menutup essai ini dengan kesimpulan menarik dari Virginia Wolf yang mengatakan : “ Masa sekarang adalah masa yang buruk karena kemiskinan cara pandang terhadap sastra dibiarkan begitu saja”. Jika demikian halnya, masihkan kita percaya akan kekuatan kata dan buku-buku kita untuk menggerakkan dan mencipta peradaban dan mengulang kejayaan kita?.




*)Penulis adalah Pegiat Bilik Literasi , Pengelola kawah institute Indonesia
*)Tulisan Termuat di Bali Post 25 November 2012

Senin, Oktober 15, 2012

Sejarah Kecil dan Humanisme Rosihan Anwar 

oleh arif saifudin yudistira*)


          Bila kita pernah belajar dan mempelajari sejarah kita di masa sekolah-sekolah kita, kita akan merasakan setidaknya menyadari bahwa sejarah di masa sekolah-sekolah kita tak memberikan rasa yang cukup menggetarkan di sanubari kita. Cara bercerita dan bertutur mempengaruhi bagaimana kita bisa memahami dan merasakan para pejuang dan pahlawan kemerdekaan di masa lampau mengalami penderitaan yang tiada habisnya demi tercapainya Indonesia merdeka. Beruntunglah kita yang menemui buku-buku sejarah yang naratif, sekaligus eksplanatif kita mengenali ini dari sartono kartodirjo, meski dengan bahasa yang ketat, kita bisa memasuki alam masa lampau yang diceritakan. Atau sebut saja buku pangeran diponegoro karya peter carrey(2011). Disana kita akan menemukan betapa sejarah, alam, hingga peristiwa masa lampau jadi hidup di depan kita.
          Dan di tahun 2012  ini, kita menikmati kembali sejarah yang dikemas dengan bahasa jurnalistik, renyah, penuh dengan intimitas, dan tentu membawa kita merasakan apa yang diceritakan oleh penulisnya. Rosihan anwar wartawan cum sejarawan yang hidup di tiga jaman ini lihai dan menggeluti terhadap profesinya. Jika Jacob oetama menyebut ia adalah wartawan yang tak pernah berhenti untuk bergulat dan mengalami pergulatan di masanya.  Rosihan anwar menunjukkan pada kita bahwa setiap peristiwa kecil, kenangan kecil dan hubungan dengan kerabat, teman-teman adalah peristiwa yang sayang untuk dilewatkan untuk dicatat. Melalui profesinya itulah, ia sering meninggalkan catatan-catatan kecil tentang hidup orang-orang. Melalui rubric “in memoriam” harian kompas itulah tulisannya memperoleh perhatian public dan mengalami kontroversi. Sebab kisah yang ditulis rosihan tidak semuanya baik, dengan menceritakan kebaikan dan keburukan yang diceritakan rosihan mencoba bersikap objektif dalam menuliskan kisah-kisahnya itu.

Reportase dari dalam

              Tulisan Rosihan anwar dalam buku “petite historie 5” ini setidaknya memberikan gambaran pada kita bagaimana kita melakukan teknik reportase dari dalam. Reportase yang dilakukan oleh rosihan adalah percakapan-percakapan ringan, kenangan-kenangan kecil, dan peristiwa kecil yang sebenarnya biasa saja. Justru dari pengalaman yang biasa itulah, ia menemukan cara berkisah yang menunjukkan sejarah dari sisi lain. Dengan itulah ia menuliskan sejarah para pelopor negeri ini. Baik dari pejuang kemerdekaan, bapak proklamasi, hingga para perintis kemerdekaan dan para pegiat sastera dan kemanusiaan. Telisik sejarah memang memberikan kita sengatan tersendiri akan memori masa silam yang dibawa melalui tulisan. Sejarah mengundang kita, bahwa ia bukan sekadar cerita. Sejarah itu saksi yang tak terlepas dari tragedy, cerita sedih, senang. Kekurangan dan kesempurnaan.
                Kita bisa menemui kisah yang menunjukkan betapa soekarno adalah sosok yang penuh dengan integritas, penuh dengan keakraban yang hangat, tapi di sisi lain ia adalah pejantan sebagaimana yang dituliskan oleh cindy adams dalam otobiografinya. Di masa mudanya ia adalah pemimpin yang sering mengejar sinyo, dan di masa tuanya pun sempat bercanda dengan dokter pribadinya- dr ong. Simaklah percakapan berikut ini : “tahukah kamu bagaimana cara memastikan apakah seorang gadis pada penglihatan dari luar masih perawan?” Tanya bung karno. “Tidak tahu,”jawab ong. Dan bung karno pun menunjukkan caranya pada Ong. Percakapan yang bagi kita sulit dipercaya, soekarno adalah sosok yang begitu terbukanya kepada dokter pribadinya. Di sisi lain, rosihan menyebut paska 1950-an soekarno lebih dikenal dengan sosok diktatur dan keras berbeda ketika sebelum 1950-an hal ini karena soekarno juga yang memberedel harian PEDOMAN yang dipimpin rosihan anwar. Dari kisah soekarno kita menemui pelajaran bagaimana pemimpin dididik dari buku, realitas dan pengalaman yang mendalam. Soekarno adalah pembangun national and character building yang menyebabkan rakyat kita tak lagi minder di mata asing.
           Di dalam buku ini kita juga bisa menemui kisah soedjatmoko yang akrab di panggil “koko”. Intelektual sosialis ini memenuhi tugasnya, ia meninggal dengan petuah dan kuliah terakhirnya tentang bagaimana memandang negeri ini ke depan. Kita pun menyimak kisah kesederhanaan yang tulus dari Bung Hatta. Meskipun di tengah-tengah keterpurukan dan kesulitan ekonomi, hatta tak mau menggunakan uang negara sepeser pun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya meskipun kesempatan itu ada. Rosihan pun menceritakan peran bung kecil (syahrir) dalam membangun dan menciptakan kemerdekaan negeri ini.
Rosihan dengan objektif mengangkat sisi manusiawi syahrir, yang perlu kita dengarkan. Ia berhasil keluar dari cara pandang subjektif meskipun secara pribadi rosihan lebih simpatik terhadap partai sosialis ini. Sebagaimana di tulis rosihan mengutip syahrir di tahun 1946 : “saya percaya ideas have legs, pikiran-pikiran itu punya kaki,mampu menyebar, dan pikiran bisa mewujudkan kekuasaan”. Dengan prinsip itulah syahrir diejek bahwa partai gagasannya itu tak akan membawa apa-apa bahkan tiada berguna, sebab partai di masa itu penuh dengan semangat haus akan kuasa.

               Hampir semua liputan yang dilakukan oleh rosihan dipadu dengan fakta dan data sejarah, didukung oleh intimitas personal yang mendalam sehingga mengerti betul apa dan sosok seperti apa yang dia tulis. Sehingga tulisan rosihan memiliki ruh yang memanggil pada kita untuk masuk dalam alam yang dituliskannya.

Humanis

             Rosihan anwar yang dikenal dengan sosok humanis, menggunakan watak humanis ini untuk menulis. Dengan itulah kita mengerti betapa soekarno yang besar seperti itu tak berdaya di akhir menjelang jatuhnya, ia mengenali kesederhanaan hatta dan mengartikulasikannya dengan baik. Kita bisa mendengar bagaimana syahrir yang konsisten dalam konsep perjuangannya. Kita juga diajak untuk meneladani para isteri-isteri tokoh-tokoh kita melalui kesetiaan rahmi hatta, keteguhan fatmawati soekarno, dan “mbekti”nya hartini soekarno. Dengan buku ini pula kita bisa mengambil pelajaran berharga dari para tokoh pelopor, perintis kemerdekaan, juga pegiat film, sastra dan kemanusiaan. Cerita dan kisah dalam buku ini mungkin hanya sepenggal, tapi ia turut membentangkan kesejarahan kita, dan turut melantunkan sisi lain sejarah Indonesia. Begitu.


*)Penulis adalah Mahasiswa UMS pegiat bilik literasi solo, Presidium kawah institute indonesia

*)Tulisan termuat di Lampung Post 14 oktober 2012

Senin, September 24, 2012

*** Bahasa Tubuh Politisi Kita***


Peran Bahasa Tubuh Politisi Kita
Oleh Arif Saifudin Yudistira*)

Seperti kita ketahui bersama, tubuh kita bisa mengucapkan pesan yang bisa kita terjemahkan dan tafsirkan masing-masing oleh yang melihat tubuh kita ini. Tubuh kita mampu mengungkapkan pesan melalui simbol-simbol yang dimanifestasikan melalui kedipan mata, lambaian tangan, ekspresi muka, ataupun gerakan pada tangan atau kaki kita.Inilah yang sering kita namakan bahasa tubuh.
Tidak jauh beda saya pikir dengan apa yang ada dalam baliho,banner, spanduk ataupun pamflet-pamflet yang ada di sekitar rumah atau pinggiran jalan raya yang dipasang oleh para calon legislatif kita. Michael Foucault pun sudah lama mengungkapkan ini : “ Dalam setiap masyarakat, tubuh senantiasa menjadi obyek kuasa. Tubuh dimanipulasi,dilatih,dikoreksi,menjadi patuh, bertanggung jawab,menjadi terampil dan meningkat kekuatannya. Tubuh senantiasa menjadi obyek” kuasa”baik di dalam “anatomi metafisik”pun dalam arti “teknik politis”. Lebih jauh lagi foucault juga mengatakan :”Teknologi politis terhadap tubuh akhirnya sampai pada perhatian terhadap tubuh yang tadinya harus disiksa -sampai pada tubuh yang harus dilatih agar disiplin”.
Bisa kita lihat lebih jauh hal ini pada sosok SBY yang melambaikan tangannya,dengan senyuman, Prabowo yang berjabat tangan dengan orang desa, sutrisno bahir yang tersenyum lebar, atau pada megawati dengan gaya seperti mempersilahkan tamu sambil tersenyum.
Bahasa tubuh para politisi kita sangat berperan dalam membangun “kuasa” para calon legislatif kita juga bagi mereka. Dengan dipasang Puan dan Mega dengan bahasa tubuhnya misalnya, ini seakan-akan pencalonan caleg tersebut sudah didukung oleh megawati. Begitupun dengan SBY dengan bahasa tubuhnya yang kharismatik, akan membuat para calon legislatif kita lebih dipercaya masyarakat (dalam tanda kutip) pendukungnya. Juga dengan prabowo, Wiranto, Ataupun Sutrisno Bachir.

Dari bahasa tubuh yang begitu banyak kita lihat, kita akan bisa membaca bahwa bahasa tubuh tersebut memang mempunyai peran seperti yang dikatakan Foucault dengan “teknologi politis” yang berujung pada perebutan kekuasaan.
Bisa jadi seseorang caleg yang kurang populer, atau bahkan caleg jadi-jadian dengan bahasa tubuh yang bagus akan lebih dipilih oleh masyarakat karena kepiawaiannya dalam mengemas“ teknologi politisnya”melalui bahasa tubuhnya daripada para caleg yang berkualitas tapi kurang lihai dalam mengemas bahasa tubuh ini.

















*)Penulis adalah mahasiswa UMS semester 6, Aktivis IMM SOLO

Label:

Senin, Juli 16, 2012




Masih Tentang Dunia Impian Kita

oleh arif saifudin yudistira



Aku tak merujuk kita adalah aku dan anda semua yang membaca dan merasai hadir dan saya sebut. Saya membatasi kita adalah aku dan kamu, dan “kamu” selanjutnya kuserahkan padamu untuk menafsirkannya.
Dan kita belum selesai, di dunia ini, kita Cuma mampir. Mampir dari satu tempat ke tempat lainnya. Selanjutnya perjalanan mesti dan harus dilanjutkan. Perjalanan kemana? Hendak kemana?. Itu pertanyaan semua orang hidup, bagi orang yang hidupnya mengalir akan mengatakan hidup itu yah di lautan, kita akan kelautan, dan laut adalah persinggahan terakhir air itu. atau tanah, sebab air meresap ke tanah. Dan bagi yang mengandaikan hidup seperti angin yah mengalir ke mana angin membawa. Dan bagi yang berTuhan akan mengatakan hidup akan kembali pada Tuhan.  Dan bagi kehidupan orang yang tidak berTuhan, maka ia akan mengatakan : “hidup tak kemana-mana, kita ada dengan sendirinya”.
Tapi bagiku hidup adalah perjalanan, dari mana dan mau kemana itu yah kita sendiri yang menentukan.
Dan impian, mengapa kita harus bermimpi?. Setiap orang mengalami masa itu, masa kanak-kanak, bahkan berimajinasi ingin pergi ke langit dengan tangan dan kaki kita. imajinasi itulah yang membawa manusia mencipta kapal terbang, mencipta kapal, mencipta apa saja yang diinginkan.
Di tiap mimpi itulah, kita terkaang menaruh harapan yang tak sadar menjadi harapan kita di alam nyata, dan menjadi kenyataan sampai hari ini. Manusia memerlukan cita-cita dan mimpi untuk menjaga bahwa ia masih punya harapan, bahwa hidup harus berjalan.

Dan aku ingin meriwayatkan bhwa kampus adalah tempat tinggalku sekaligus tempat menaruh impian-impian dan imajinasiku. Pikiran tentang kampus tak lebih dari itu, mimpi itu adalah sesuatu yang besar, dan hal besar itu bisa aku namai perubahan. Perubahan macam apa yang aku inginkan setidaknya adalah perubahan yang melampaui masyarakat yang tak berumah atau bersinggah di kampus.
Kampus menyemai harapan itu,mestinya. Kampus memiliki tugas untuk itu, dan tugas keilmuan itu mahal begitu kata MT arifin. Tugas itu mahal bukan karena persoalan uang, tapi juga tenaga dan pikiran kita mesti dikuras untuk mengurusi itu.
“bayangkan, membeli buku sja mesti harus berjalan, mesti mengeluarkan uang, dan tidak berhenti sampai di situ kita mesti membca buku itu dan selanjutnya baru menulis” ia sangat ekspresif menyampaikannya.
Aku tak tahu apa professor-professor di kampus ku mengalami dan melakoni kerja semacam itu. aku tak tahu misi akademis mereka. Ada yang nyelethuk bahkan temanku sendiri mantan presma “ apa ada intelektual di ums rif”?. Pertanyaan itu seperti satire di masa kini. Realitas sekarang memang menunjukkan kampus sering dan berburu memburu gelar dengan guyonan “Doctor humoris causa”. Professor kan untuk tunjangannya yang besar dalam hatiku. Tapi esok harinya saya pun menemui professor saya di UMS. Ia adalah professor lingkungan di UMS. “Maaf pak, mengganggu. Saya mau diskusi sebentar”. Dan percakapan pun berlangsung. Waktu itu kami mempertanyakan : “apa itu pak,?”(terlihat sang professor sedang membaca-baca ulang buku laporan yang akan dibuat untuk penilaian DIKTI”.
Dan professor itu menjawab : “yah begini mas professor, harus bikin jurnal untuk tunjangan dan gaji, kalau gak bikin yah gak ada tunjangan”.
Kami pun hanya diam saja dan dalam hati gerundelan. Apa ini professor-professor kita?. aku masih berpikir bagaimana impian yang begitu besar itu masih ada di kepala-kepala mahasiswa?. Apa aku yang terlalu gila mengimpikan impian perubahan itu? dan aku masih memiliki impian perubahan itu. enam tahun berjalan masih belum terlihat juga impian itu. aku terdiam, apa aku mengikuti arus orang-orang dengan segala kenikmatan yang mereka ciptakan?. Apa aku menciptakan arus sendiri bergumul dengan buku-buku dan tulisanku? Tanpa masa depan sbagaimana orang-orang cita-citakan dan takutkan?. Atau sebaliknya, “sudah waktunya keluar dari kampus rif, ketika memang dunia kampus sudah tak memberi apa yang kau cari” begitu ungkap temanku yang kini sudah mau beranak kembar.
Dan masih tentang impian, impian itu adakah?
Di aku, kamu ,dan kita???



7/juni /2012
Tulisan di muat di Koran pabelan edisi 20 /2012


Nafsu Besar Sekolah

oleh arif saifudin yudistira*)

           
Pada masa kanak-kanakku
aku jadi seragam
buku pelajaran sangat kejam
Aku tidak boleh menguap di kelas
Aku harus duduk menghadap papan di depan
Sebelum bel aku tidak boleh mengantuk
(Kenangan Anak-Anak Seragam, Widji Thukul)

            Memori sekolah itu ada di kepala kita masing-masing. Sekolah memang menyimpan luka dan trauma. Sekolah adalah waktu senggang sebagaimana dirumuskan oleh plato dan para filsuf di jaman dulu, kini tak ada lagi. Kini, sekolah bahkan lebih parah dengan berbagai perangkatnya yang semakin membawa satu ketidakfahaman dan semakin membingungkan. Apa yang dialami di sekolahan adalah siksa, apa yang dialami di sekolahan bukan lagi kenangan dan kesenangan dan tawa. Sekolah itu bisnis !
            Imbauan illich masih relevan hingga kini untuk membubarkan istitusi bernama sekolah. Bagaimana tidak, ketika nilai mata pelajaran ditentukan berapa banyak kamu membeli buku paket terbitan A,B, dan lain sebagainya. Sekolah itu memori menyakitkan bagi si miskin. Trauma itu melekat di widji thukul, ia adalah penyair yang menegaskan bahwa sekolah itu adalah trauma yang mengenaskan. Sekolah telah memukul telak kehidupannya, bapak ibunya buruh, kemiskinan yang mendera hingga siksaan kelaparan tak ada dalam kamus bernama sekolah. Sekolah bagi thukul adalah perjalanan hidupnya, kehidupannya sendiri yang ia alami bersama mall, tukang becak, dan keluarganya yang ia tuliskan di buku puisinya.
            Hari ini kita mengingat kembali memori bersekolah kita, di hari ini lah dan bulan-bulan inilah sekolahan di buka. Murid-murid baru mulai mendaftar sekolah, para mahasiswa baru pun mulai berebut kursi di perguruan tinggi. Orang tua mulai ribut dan ribet mempersiapkan uang sekolah, pegadaian ramai dengan pinjaman dan kredit untuk satu tujuan “sekolah”. Betapa selebrasi sekolah mengalahkan selebrasi international di forum-forum dunia. Toko-toko buku dan alat tulis menggeser buku-buku wacana dan buku-buku pahlawan diganti dengan buku-buku tulis dan paket-paket diskon. “paket pintar” satu paket tas, pensil dan sebagainya. Fenomena yang demikian kelihatan nampak wajar, lalu apa sebenarnya yang dicari di sekolah dan untuk apa tujuan sekolah itu?.

Belajar dan mengajar

            Saya jadi teringat nyanyian bocah-bocah kecil yang saya temui di Qorri'ah Toyyibah. Di taman belajar itu ia menyanyikan lirik “untuk menjadi pintar itu mudah kuncinya banyak membaca, untuk menjadi terampil itu mudah kuncinya banyak berkarya”. Membaca dan berkarya. Apakah sekolah mengajari dan memahami dua kata itu?. Sekolah tak lebih institusi yang mengekalkan mitos dan mitologi nilai-nilai. Betap tidak, bila sekolah mengukur dan mengubah prestasi dan bakat siswa ke dalam angka-angka statistik. Tidak hanya itu, sekolah adalah mesin yang terus-menerus menyerukan etos konsumsi. Mulai dari buku yang berjenis tiga macam buku catatan, buku tugas, hingga buku PR. Anak-anak kita diam-diam dibawa dalam suasana yang kelihatannya menyenangkan. Anak-anak dilatih berkonsumsi di tiap ajaran barunya, dengan menggunakan semua hal yang serba baru. Tapi pengetahuan tak kunjung baru. Buku paket pun ikut ikutan baru dengan label “edisi revisi”,”disesuaikan dengan kurikulum terbaru” dan lain sebagainya.
            Belajar jadi direduksi, anak-anak mengalami siksa dan tragisme ketika mereka dipaksa dalam kondisi yang serba cepat dan serba terbatas. Istirahat disetting hanya lima belas menit. Seolah waktu mereka disita untuk mengurusi buku dan mata pelajaran. Pertanyaannya benarkah mereka bapak ibu guru, murid dan sekolah mengurusi buku-buku?. Tak ada bagaimana cara membaca, yang ada adalah menjawab soal dan kunci jawaban. Bimbingan belajar tiba-tiba direduksi dengan bimbingan soal-soal dan prestasi pun dirubah menjadi “nilai tertinggi UAN” dan tak ada tempat bagi siswa bandel, siswa yang melenceng dan bertobat dari jalur demikian. Alhasil sekolah mengeliminir mereka-mereka kaum kreatif dan kaum termarginal dari sekolah. Mereka-mereka itulah kaum miskin, dengan bakat alam yang sungguh hebat tiada tara yang berbekal pengalaman itu mereka mampu mengarungi hidup yang kejam ini di negeri kaya raya. Mereka inilah yang sekolah sebenar-benarnya.
            Kita pun tak mengenal belajar dan mengajar. Guru dan murid sama-sama belajar, belajar dan mempelajari apa saja yang ada di kelas, yang ada sebaliknya guru memberi murid tetap menerima meski pola kurikulum diganti ratusan kali. Siswa adalah para pekerja yang menyelesaikan soal LKS tanpa tahu untuk apa LKS itu. Yang kemudian harinya justru dibuang dan dijual di loakan. Buku itu seperti ada batas nilai gunanya, kenang-kenangan,catatan pun dibuang begitu saja. Dan akhirnya kita tak mampu lagi mengingat memori-memori masa lalu yang dulu begitu lekat di buku-buku tulis kita. Belajar mengajar pun tiada lagi di sekolahan.

Perayaan konsumsi

            Siapa yang sebenarnya bermain dibalik etos konsumsi yang muncul di tiap ajaran baru ini?. Negara seperti tak mau tahu urusan kualitas manusia-manusia indonesia. Negara memahami sekolah dalam pengertian pemasok perusahaan-perusahaan dan angka statistik yang berurusan dengan laporan kebijakan dan keberhasilan presiden yang tiap tahunnya dipamerkan di pidato kenegaraan. Ada persoalan substansial yang melampaui itu semua. Yakni etos konsumsi yang diam-diam berjalan terus-menerus, seperti siklus yang tak berhenti. Orangtua, murid, pemerintah hingga sekolahan sendiri seperti mengamini dan tidak bisa berbuat banyak. Saya jadi teringat lagu iwan fals “Dan orde paling baru” : Kota besar menjadi magnit. karena televisi mengiming imingi. Yang jelas rakyat butuh pendidikan. Tapi pendidikan yang didapat adalah rongsokan “.
            Sepertinya memang demikian halnya, pendidikan yang didapat adalah rongsokan.  Dan rongsokan itu makin lama makin mendapat pengakuan saja dari manusia indonesia. Pendidikan itu kian tak menemui jawaban terhadap persoalan-persoalan. Sebab tanya jawab kita berbeda dengan tanya jawab realitas. Sungguh saya membenarkan kegagapan para mahasiswa yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi kita. Diam-diam kita pun mengikuti apa yang dikatakan Baudrillard yakni “keberlimpahan”. Semua sudah berlimpah, termasuk apa yang kita mau dan butuhkan. Keberlimpahan itulah yang coba dijelaskan dengan berapa biaya kita selama kuliah? Ternyata ratusan juta dibuang tiap tahunnya, dan untuk apa?. Sedang negeri ini masih saja bicara, mari masuk sekolah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bukankah kita semua rugi?, kita sudah keluar begitu banyak uang, begitu banyak biaya untuk memenuhi nafsu besar “sekolah”.
            Dan kita masih saja terlena, berjalan apa adanya seolah tidak ada apa-apa dan mengamininya. Sekolah, meski banyak dera dan derita, tapi kita masih memasukinya, dengan rela,dengan suka cita, dengan senyum manis di wajah orangtua kita. Dan inilah dehumanisasi sekolah hari ini, kemaren dan mungkin nanti. Entah-entah sampai kapan.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo, Pengelola Kawah Institute Indonesia
*)Tulisan dimuat di bulletin ora weruh edisi enam 2012 

Minggu, Juli 15, 2012


Sejarah Dan foto Di Abad 21
Oleh arif saifudin yudistira*)
           
“Saya ingin menghidupkan Jawa di masa lalu, yang subur, penuh dengan nuansa hutan dan hijau, padang yang luas. Karena saat ini sudah tidak ada lagi, melalui foto-foto yang saya lampirkan dalam buku KUASA RAMALAN saya berhasrat seperti Raffles”
 (Peter Carey dalam diskusi 21 april 2012)

            Telisik sejarah ternyata mampu mengundang imajinasi dan juga nuansa masa lampau di masa kini. Sejarah negeri ini sebenarnya sangat kaya akan khasanah, kebudayaan, hingga peristiwa yang begitu membuat kita takjub di jaman sekarang. Kita tak lagi mampu melacak keadaan, nuansa, suasana, hingga momen-momen yang begitu bersejarah tanpa  fotografi. Semenjak dunia fotografi yang masih berupa heliografi yang ditemukan oleh joseph Nicephore Niepche di tahun 1825, dunia fotografi pun berkembang hingga saat ini. Dunia fotografi tak hanya berkembang pada bagaimana momen-momen diabadikan begitu saja, dunia sekolah merawat ini dalam rupa biografi dan administrasi. Dunia sekolah di masa colonial pun tak berbeda jauh. Foto begitu berharga untuk menarasikan diri dan juga peristiwa yang sudah berlalu demikian jauh dari kita.
            Foto berubah menjadi alat untuk mengucap dan mendefinisikan diri. Kita pun kini menemui buku dan biografi para tokoh dan founding fathers kita dilengkapi dengan foto-foto mereka. Sebut saja buku biografi Hatta yang ditulis Deliar noer yang diterbitkan kembali oleh gramedia yang memuat lebih dari seratus foto Mohammad Hatta. Foto ini memberi penjelas sekaligus narrator untuk mengucapkan sang tokoh. Foto dengan berbagai ekspresi dan berbagai momentum indah dan momentum serius pun dihadirkan untuk melengkapi biografi. Narasi teks pun serasa hambar tanpa narasi visual. Narasi visual jauh melampaui narasi teks, konon foto adalah rangkuman dari seribu kata yang mampu menjelaskan tanpa harus ditulis.              
Dunia kini mengenal foto tak hanya sebagai dokumentasi dan arsip-arsip semata. Foto melebihi itu, foto adalah sejarah yang bergerak dan menggerakkan. Foto jadi dunia yang kemudian bisa dilacak sebagai data autentik untuk mendeskripsikan dan menarasikan seseorang di masa lampau. Kita mengetahui kerja dan jerih payah harry a.poetze yang menggunakan foto tan malaka di belanda dan juga di sumatera sebagai satu data untuk melengkapi penelitian sejarahnya tentang orang misterius dan paling berpengaruh terhadap lahirnya bangsa Indonesia ini. Melalui penelitiannya itu pula Harry a poetze menulis Tan malaka dan gerakan kiri Indonesia.
Fakta bahwa foto adalah sejarah yang menggerakkan pun bisa ditelusuri ketika Pater Carey menelusuri sejarah dan biografi Pangeran diponegoro melalui foto diponegoro yang digambarkan melawan belanda dengan berdiri tegap dan dagu ke atas. Foto inilah yang mengajak dan mengantarkannya ke jawa dan meneliti pangeran ini selama hampir 40 tahun.Ada panggilan mistis untuk meneliti dan mengganjal di foto diponegoro tersebut.  Foto pun bisa kita temui di buku Raffles (History of java)yang memuat berbagai sosok dan potret priyayi, kawula alit, demang, hingga para ulama di masa itu. Raffles menggunakan foto untuk menjelaskan kelas sosial pada waktu itu, orang china, orang jawa dan juga orang colonial. Foto pun menjadi data primer yang tak bisa dilewatkan begitu saja.
Di dalam buku Dari Jawa Menuju Acehi Linda christanty pun menulis tentang foto yang menarasikan pasukan belanda yang berpose selepas penyerbuan di sebuah kampong di aceh timur di tahun 1886. Penyerbuan tersebut bertujuan meringkus Teuku Umar suami cut nyak dien. “Di wajah-wajah itulah saya temukan jawabannya : mereka adalah orang jawa yang dikirim oleh orang belanda untuk menguasai aceh!”. Temuan foto Linda ini ditegaskan oleh pram dalam wawancara sebelum ia meninggal. Pram mengatakan “untuk menundukkan aceh orang-orang belanda mengambil tentara bayaran dari jawa. Ini terus berlanjut sampai hari ini!”.
Foto abad 21
            Di abad modernitas kini, foto pun bergerak melalui sekolah. Dunia sekolah kita pun memberikan satu pelajaran penting tentang fotografi. Foto di dunia sekolah dan dunia kerja kita pun seperti berubah menjadi foto yang berfungsi administrative dan data di sekolahan. Tak beda dengan dunia kerja, yang menjadikan foto tiba-tiba jadi sebuah syarat untuk kelulusan ataupun mendaftar pekerjaan. Foto berubah jadi arsip dan data-data di perusahaan dan juga di lembaga-lembaga pendidikan.
            Foto di abad ini seperti menjelaskan betapa foto sudah tak seperti dulu lagi. Foto tak lagi sacral, dalam foto tak ada lagi diri dan biografi. Foto di dunia modernitas pun berkembang sebagai area selebrasi dan narsisme. Dunia modern mengejewantahkan cara mereka sendiri mendefinisikan foto. Foto berubah jadi tak lagi seperti dulu yang berfungsi sebagai pengucap diri dan biografi hingga momentum-momentum bersejarah, sedang saat ini foto justru membuat kita bunuh diri. Identitas jadi tak bernilai, foto tak lagi mengucap, foto justru menipu dan menjebak kita ke dalam dunia yang asing dan absurd. Sejarah terus bergerak dari foto. Foto masih menjadi saksi dan pengingat masa lampau. 

Para sejarawan menggunakan foto untuk menyelamatkan diri dan biografi. Sedang kita seperti sebaliknya menggunakan foto untuk bunuh diri.

*)Penulis adalah pegiat di bilik literasi mengelola kawah institute Indonesia
Tulisan di muat di radar Surabaya 15 juli 2012

Selasa, Juni 05, 2012


Merindukan Sosok Karno

Oleh arif saifudin yudistira*)



Riwayat Sukarno mungkin sudah usai bertahun-tahun lalu. Sukarno, sosok presiden pertama kita hadir dengan berbagai pujian dan kontroversi. Ia sosok yang kini lahir kembali. Hadirnya tak lagi seperti dulu teriak-teriak revolusi, tapi kini ia lahir kembali dengan menangis dan menyesali diri ,mengapa revolusi tak kunjung selesai sebagaimana pidatonya dulu. 
Begitulah sukarno yang lahir 6 juni di tahun 1901. Riwayatnya tak usai, ia dikenal sampai ke penjuru dunia. Keberhasilannya menjadikan negeri ini bermartabat di mata bangsa asing membuatnya menjadi presiden yang terpandang di mata dunia. Ia adalah orator sekaligus pencinta yang ulung. Perempuan adalah tempat sandaran dan cinta kasihnya. Ia bisa sangat kuat di luar rumah, tapi ia begitu lemah dan mengeluh kesah pada isterinya di rumah.
Kita mengenangkan sukarno tak hanya sebagai bapa proklamator, ia adalah sosok yang begitu terpukau dengan bacaan dan apa yang ia pelajari. Hingga ia mencetuskan cita-citanya tentang revolusi Indonesia. ia tak sekadar ingin menunjukkan bahwa nasionalisme,islamisme dan marxisme sebagaimana dituliskan di buku Di bawah bendera revolusi tidak bertentangan sama sekali. Ada cita-cita bersama diantara nasionalisme, islamisme dan komunisme yang tak lain adalah pencapaian masyarakat adil dan makmur.
Sukarno hadir di panggung politik sebagai sosok sinkretis. Sosok sinkretis inilah yang dicermati oleh Bernhard dahm dalam bukunya Sukarno and The struggle for Indonesian independence. Ia melihat watak inilah yang menyatukan Indonesia menjadi negara kesatuan yang dapat bertahan hingga hari ini. Watak sinkretis ini dilihat oleh dahm karean pengaruh nilai-nilai jawa yang ia pelajari. Hingga ia menyatukan dan mensintesakan marxisme,nasionalisme dan islamisme.
Tak hanya itu, Bernhard dahm melihat watak sinkretis sukarno yang mewujud dalam pernyataan dekrit presiden 5 juli 59.Ia menilai disitulah letak watak sukarno sebagai pemersatu. Tanpa adanya watak itu, barangkali negeri ini masih belum bisa bersatu. Akan tetapi, ini justru dilihat oleh bung hatta sebagai awal dari hancurnya demokrasi yang sebenarnya. Hatta menyebut dalam demokrasi kita : “apa yang terjadi sekarang adalah krisis daripada demokrasi atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki lambat laun menjadi diktatur”.


kritik

Kritik hatta disampaikan karena di masa-masa demokrasi terpimpin, sukarno menunjukkan sikap-sikap yang cenderung diktatur. Soekarno terkesan melebihi kewenangannya sebagai presiden dan ia mengintervensi DPR. Selain itu, soekarno dipandang oleh hatta lebih mengunggulkan terpimpinnya dan menghilangkan demokrasinya. Sebagaimana ditulis Deliar noer dalam buku biografi Hatta , Mohamamd hatta ;hati nurani bangsa : “Soekarno sendiri terus saja dengan gagasan yang menjauhkannya dari hatta.  Gagasan itu antara lain demokrasi terpimpin yang praktis menghilangkan demokrasi an menegakkan terpimpinnya”.
Sikap Soekarno yang diktatur pun ditegaskan ketika soekarno dekat dengan PKI, dan ia memilih membubarkan masyumi dan partai sosialis Indonesia di tahun 60-an. Soekarno berlaku demikian karena sudah menilai bahwa partai yang konsisten dengan agenda revolusinya adalah PKI. Kedekatannya dengan aidit mengakibatkan PKI seperti anak kesayangannya. Dan berkat dukungan dan kedekatan soekarno di tahun 1955 PKI menempati urutan empat partai dengan basis massa yang diperhitungkan di pemilu 1955.

Jatuh

            Kejatuhan soekarno ternyata sudah diprediksi oleh Hatta sejak soekarno mendekap dalam penjara dan dibuang di endeh flores. Hatta menulis di Daulat rakyat  dengan judul “Tragedi Soekarno” 30 nopember 1933: “Soekarno bakal lenyap dari pergerakan rakyat. Akan menjadi satu lakon yang sedih,yang melukai hati seluruh pergerakan radikal. Sekali ini soekarno menjadi korban bukan karena pergerakan atau kekejaman pemerintah melainkan korban daripada dirinya sendiri, karena luntur imannya”.
Setelah masa demokrasi terpimpin yang ia pimpin, hingga pada tahun 65 ia mengalami kejayaan dan bahkan soekarno memimpin pembebasan irian barat dan ganyang Malaysia dai tahun 60-an. Di tahun 1965 itulah ia harus menghadapi  tragedy gerakan 30 september 1965. Di saat itulah kondisi kesehatannya menurun, dan ia dijadikan batu loncatan soeharto untuk membangun orde barunya.

Pelajaran

Riwayat seoekarno memang mengandung berbagai pelajaran bagi kita semua. Kemampuannya berorasi dan membangkitkan semangat rakyat adalah ke khasan dia sebagai pemimpin negara. Sisi lain dia yang konon dianggap pemuja perempuan yang sering dikritik soe hok gie di masa 60-an. Soekarno hadir dengan ide-ide brilliannya tentang persatuan,nasionalisme, hingga ide revolusi yang cukup terkenal lewat karyanya di bawah bendera revolusi hingga doktrin-doktrin revolusi di pidato-pidatonya. Pidato adalah titah dan pengejewantahan ide-ide dan keputusan politiknya.
Hari ini kita mengenang hari lahir bung karno dengan pamrih muncul sosok karno yang hadir sebagai patriot negara pembela negara mengingat negeri ini kian tak berdaya dan berdaulat, dan sebagaimana yang ia bilang dalam pidatonya “revolusi belum selesai”.


*)Penulis adalah penggiat bilik literasi solo pengelola kawah institute indonesia

Minggu, Juni 03, 2012


Jokowi, Facebook, Dan Identitas Kota
Oleh arif saifudin yudistira*)
Pilihan jokowi calon gubernur DKI menggunakan metode kampanye melalui penjualan baju koko nya memang menarik public. Selain karena metode ini tergolong baru, masyarakat saat ini juga jengah melihat plakat-plakat di jalanan kota dan juga iklan di televise yang menghabiskan dana begitu banyak. Jokowi pun tak kurang cerdik, ia memilih jejaring social seperti facebook dan twitter sebagai media untuk menjaring pendukungnya.
Pilihan jokowi ini tentu patut diapresiasi, tapi perlu juga dicermati lebih lanjut.  Jika kita telisik lebih lanjut, metode kampanye jokowi di era modern seperti ini sangat tidak bisa menentukan kapasitas pendukungnya. Barangkali para penasehat dan tim kampanye jokowi perlu belajar pada kasus sebelumnya, ketika pasangan capres Amin rais dan Siswono yudho husodo yang diprediksi oleh berbagai lembaga survey menduduki paling unggul ternyata kalah dengan pasangan SBY-JK di pemilu tahun 2004 lalu. Pelajaran ini membuktikan bahwa kualitas survey ataupun prediksi teknologi tak sepenuhnya menjamin realitas social masyarakat kita.
Memang jejaring social adalah salah satu metode “jajanan politik” pasangan jokowi dan ahok, tapi justru komoditas inilah yang paling laku di media kita saat ini. Media kita tertarik karena metode ini langka dan “unik”. Selain itu, seolah-olah masyarakat diajak untuk menengok kembali keberhasilan jokowi dengan kesederhanaan dan kepiawaiannya memimpin solo.
            Lyotard dalam “The postmodern condition” menyatakan : “Teknologi, dengan demikian adalah permainan yang tidak berkaitan dengan yang benar, yang adil atau yang indah dan sebagainya, melainkan berkaitan dengan efisiensi : suatu”gerak” teknis dianggap ”baik” jika ia melakukannya dengan lebih baik dan atau menghabiskan energi yang lebih kecil daripada”gerak” lain. Artinya ketika dikaitkan dengan kondisi yang ada pada jokowi, jokowi memang hanya menonjolkan persoalan irit dan juga bagaimana cash kampanye tidak boros, meski ia juga berharap pada banyaknya dukungan. Akan tetapi, realitas teknologi kerap tampil dengan aroma menarik, indah, tapi juga sering menipu.
Facebook
            Facebook barangkali tidak bisa kita anggap sepele. Gerakan masyarakat era kini, juga lebih mengandalkan jejaring sosial alias fb untuk mendukung efektifitas gerakannya. Gerakan di tunisia dan di mesir beberapa waktu lalu juga mengunggulkan gerakan jejaring sosial untuk memobilisir massa. Selain karena memudahkan orang berkomunikasi dengan mudah, fb juga digunakan sebagai alat mobilisasi massa untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan. Kabar terbaru mengenai gerakan fb ini bisa dilihat misalnya pada  ”gerakan hakim menuntut kenaikan gaji”, gerakan ”sejuta umat menurunkan rezim neolib SBY-budiono” dan juga gerakan ”Cicak versus buaya” yang pernah membuktikan keampuhannya melindungi KPK dari serangan dan intervensi pemerintah. Hanya saja, kampanye jokowi melalui fb tidak bisa kita pastikan untuk menjamin kemenangan jokowi tanpa dukungan metode lain yang perlu diunggulkan di dalam memenangkan pilgub DKI.
Identitas kota
            Persoalan yang menonjol mengenai kota di abad 21 salah satunya adalah masalah urbanisasi. Sebagaimana paparan Daniel A.Bell dan Avner de-Shalit yang memprediksi menjelang 2025 di china akan dibangun 15 ”mega-kota”. Yang masing-masing dihuni 25 juta orang. Ketika melihat jakarta, kita tidak bisa memprediksi lima tahun lagi tingkat urbanisasi ke jakarta. Jakarta tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat desa, meski berbagai gambaran sudah biasa kita dengar tentang jakarta. Jakarta kerap identik dengan kota kejam, penuh tipu-tipu, penuh kekerasan, tidak nyaman, dan juga kerap banjir. Meski demikian jakarta tetap menjadi kota paling banyak dijadikan tujuan urbanisasi sampai lima tahun ke depan.
            Douglas Wilson pun menulis dalam buku terbaru terbitan gramedia yang berjudul 5 kota paling berpengaruh di dunia. Ia menggambarkan identitas kelima kota ini : ”  Yerussalem mengajarkan tentang kebebasan spiritual, Athena mengajarkan intelektual dengan spirit pembebasan, roma mengajarkan kebebasan dan keadilan dalam hukum, London dengan seni dan kesusateraannya, dan newyork menunjukkan arti kebebasan pasar maupun komersialnya”.
            Pertanyaannya bisakah jokowi membangun identitas kota Jakarta sebagaimana kota-kota lain seperti di solo dengan identitas kota budayanya, bandung dengan kota sepatunya, atau kota aceh dengan karakteristik islaminya?. Atau dengan cara lain sebagaimana contoh yang diberikan afrizal malna yakni membangun jembatan atau bangunan yang dijadikan ciri khas kota dan membawa perubahan besar terhadap nuansa kota yang militeristik, berbau bisnis, menjadi kota yang bernuansa dan berimaji seni dan indah seperti jembatan Samuel Beckett Bridge.
            Setidaknya inilah tantangan bagi jokowi pada khususnya, dan kepada semua calon gubernur DKI pada umumnya. Tanpa itu, Jakarta tetaplah menyimpan identitas yang selama ini kental dalam pikiran masyarakat kita yakni kota berpolutan tinggi sedunia, kota dengan tingat kriminalitas tinggi, juga kota yang kejam dan tak nyaman. Indah dan gemerlap dengan gedung-gedung tinggi, tapi penuh dan sesak dengan tipu-menipu, sesak dengan kongalikong dan korupsi.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di Bilik literasi Solo



Bahasa Topeng Anas  

Oleh arif saifudin yudistira*)
           
Pada hari Jumat (9/3) pernyataan mengejutkan datang dari ketua partai democrat anas urbaningrum. Anas menyatakan berani digantung jika ia terbukti melakukan korupsi dalam kasus wisma atlet dan kasus hambalang. Sentak public mencoba diyakinkan oleh pernyataan anas tadi. Berbagai tanggapan pun datang, tak hanya mendukung, tapi mencurigai anas. Politik anas dinilai mengikuti politik alay alias anak lebay. KPK pun menanggapi anas dengan cuek saja, penyidikan harus tetap dilanjutkan tegas johan budi. Gaya politik anas jelas sejalur dengan SBY yang tak lain adalah Dewan Pembina partai democrat. Anas menggunakan gaya komunikasi politiknya untuk berkomunikasi terhadap public mengingat desas-desus yang terdengar kian kencang dan selama ini anas menanggapi semua ini dengan diam. Ben Anderson(1966) menyebut ini sebagai “bahasa topeng”. Topeng ini akan terbuka dikala tabir sudah terbuka semua. Jika belum terbuka, maka semua orang akan berhak beropini dan berdesas-desus. Indikasi yang mengarah kepada anas sudah sejak semula bisa dibaca ketika nazarudin tersangka kasus korupsi wisma atlet membeberkan ada dana yang mengalir ke anas. Anas juga dituding nazar memenangkan menjadi ketua umum partai democrat melalui menyuap beberapa kader partai democrat. Kesaksian semakin membuat anas terpojok, hingga ia meluapkan perkataan yang mengejutkan.

Komunikasi politik

Menurut Berelson dan Stainer(1964) komunikasi adalah proses penyampaian informasi,gagasan,emosi, keahlian melalui penggunaan symbol-symbol seperti kata-kata, gambar-gambar,angka-angka dan lain-lain. Lebih lanjut kurniawan(2003) mengatakan : “bahasa membentuk ikatan social melalui proses interaksi dan proses saling mempengaruhi penggunanya”. Maka dilihat dari efek psiko-sosial, kalimat anas tak sekadar memiliki motif subjektif semata, ia tidak bisa dilepaskan dari public yang lagi ramai membincangkannya. Ia pun tak bisa dilepaskan dari jabatan yang menempel di dirinya. Yakni sebagai ketua umum partai democrat. Gaya politik anas sangat kentara dan mirip dengan gaya politik SBY yang dikenal dengan politik pencitraan. Ia akan merasa meminta dikasihani public dan meminta empati, hingga simpati yang tinggi untuk mempertahankan citra dan posisinya. Maka tak heran, ditengah gencarnya isu BBM yang akan naik april 2012, SBY kembali bersuara melalui kubu politiknya dengan isu ada ancaman pemakzulan.
Sedangkan anas, ia menghadapi posisi yang tak jauh beda, ia terpojok, dan sulit berkilah untuk membuktikan dirinya tidak terlibat sebagai penerima dana korupsi wisma atlet dan hambalang. Maka strategi terakhir yang digunakan anas adalah mengeluarkan statement subjektif sembari berusaha menampik semua kemungkinan yang dituduhkan kepadanya. Maka dengan pernyataan “saya siap di gantung di monas jika korupsi satu rupiah pun pada kasus wisma atlet dan hambalang”, sentak public terhentak, dan bertanya-tanya. Ada yang beropini : “mungkin anas benar-benar tidak terlibat”, tapi banyak yang menilai ini pernyataan “alay”.

Sikap negara

            Tidak mungkin pernyataan anas tadi akan disikapi oleh lembaga hukum di negeri ini ketika anas benar-benar terbukti, sebab negara kita adalah negara hukum. Tak ada aturan yang mengatur soal hukuman gantung diri. Akan tetapi, kita menyikapi ini sebagai gaya politik topeng sebagaimana yang dikatakan Anderson. Ini tak lain untuk menutupi atau sekilas membantah semua tuduhan dan suara public melalui media ataupun melalui nazarudin sendiri. Sedangkan sikap negara sendiri seperti tak ada jelasnya. SBY selaku panglima tertinggi pemberantasan korupsi hanya berstatement tak akan melindungi koruptor, sementara langkah-langkah untuk menyelesaikan kasus hukum ini seperti diulur-ulur.
            Ketika melihat sikap negara, negara pun ingin melakukan komunikasi politiknya melalui SBY selaku presiden maupun selaku Dewan Pembina partai democrat. Giels dan Wieman menegaskan “ Bahasa mampu menentukan konteks, bukan sebaliknya teks menyesuaikan diri dengan konteks”. Pada konteks anas, SBY pun terpaksa harus turun tangan demi membersihkan citra politiknya. Dalam bahasa effendi Ghazali komunikasi politik seperti ini jelas tak bersih dan kelihatan vulgar dalam sistem politik. Maka melihat kasus anas, ia menunjukkan bahwasannya seluruh jajaran bawah partai democrat dianggap tidak mampu untuk membantah tuduhan dan suara public yang mengarah pada partai democrat dan dirinya. Sehingga anas perlu turun langsung untuk menampik dan melontarkan pernyataan langsung sebagai respon terhadap tuduhan pada dirinya sekaligus sebagai upaya pembersihan nama democrat yang terlanjur buruk dimata rakyat.

Sikap public

            Menyikapi hal ini, masyarakat kita perlu memahami betul bahwa ada relasi antara partai democrat, kebijakan negara, hingga urusan partai politik. Dengan demikian, masyarakat tak ikut arus dalam pemberitaan di media, meski sebenarnya rakyat sudah jengah melihat drama para politikus kita. Masih banyak kasus yang tak jelas ujungnya, century, rekening gendut polri dan juga kasus-kasus lainnya. Jika SBY dan segenap politisi partai democrat masih mengumbar “bahasa topeng”nya, maka rakyat akan semakin tak percaya. Dan jelas, partai democrat akan habis nasibnya. Sebab tak ada lagi jurus untuk menampik selain kompromi politik sebagaimana kasus-kasus sebelumnya yang tak jelas ujungnya.  


*) Penulis adalah Penggiat di Bilik Literasi solo, Mengelola Kawah Institute Indonesia       



“Kegagapan Membaca Realitas pendidikan kita”


Tanggapan untuk al-iklas kurnia salam
Oleh Arif saifudin yudistira


Marxis tidak mampu untuk membaca perkembangan kelas social yang ada di masyarakat indonesia saat ini(Olle Tornquist).



            Ada persoalan besar yang ada di dalam dunia pendidikan kita. Kesalahan tersebut sudah seperti benang ruwet, yang sangat sulit untuk kita urai satu-persatu. Akan tetapi jika menilik tulisan Al-iklas kurnia salam pada selasa(17/4/12) yang bertajuk kesalahan terbesar pendidikan kita, kita justru akan menemukan keruwetan di dalam tulisan tersebut. Di awal tulisan, ia mengungkapkan persoalan penting yang menyangkut konsep pendidikan ala tan malaka. Pendidikan yang berdasarkan didikan kerakyatan akan berjiwa kerakyatan pendidikan berdasar kemodalan maka nalar capital yang terbentuk. Hal yang diungkap di bagian berikutnya adalah persoalan pendidikan kita yang bergaya banking, yang berkonsep Paulo freire tak sesuai dengan pendidikan kita. Pendidikan yang seperti ini dianggap sebagai kesalahan terbesar dalam pendidikan kita. Di akhir uraian, ia mengungkapkan pendidikan mestinya berdasarkan pada konsepsi Ki hajar dewantara yang mendasarkan pendidikan pada tiga hal penting kemandirian, berakhlak, dan juga anti penjajahan. Dan dipungkasan esainya ia melihat ada kemungkinan pelabelan sekolah kerakyatan,SD rakyat, SMA kerakyatan, dan lain sebagainya.
            Bila membaca dan memahami tulisan iklas, kita melihat ada kegusaran, dan kegalauan terhadap realitas pendidikan saat ini, hanya saja kita bisa melihat kegagapan pula dari seorang korban pendidikan. Persoalan kegagapan itu bisa dibaca ketika ia mencoba menerapkan teori “banking of education” ala Paulo freire yang tak mampu menganalisa relitas pendidikan kita. Persoalan freire ini diungkap ketika produktifitas tak menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi. Padahal realitas pendidikan kita justru sebaliknya bertumpu pada konsumsi yang terus menerus, hingga ia tak pernah menciptakan produktifitas dan bertumpu pada nalar konsumsi. Pendidikan kita kini tak hanya menunjukkan kesemrawutan, tapi justru sebaliknya menuju pada pendidikan yang semakin mapan.  
            Kemapanan itu terlihat pada realitas kesadaran masyarakat kita untuk mendidik anak-anaknya untuk masuk dalam jenjang pendidikan yang bermutu mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Kesadaran itu muncul dalam memasukkan anak mereka pada pendidikan dan sekolah yang berkualitas. Inisiatif masyarakat itu muncul dalam bentuk PAUD islami, SDIT atau SD program khusus, hingga Universitas berbasis international. Pada titik ini kita membaca realitas masyarakat yang berusaha menciptakan pendidikan yang mandiri dan juga berkualitas semakin ditunjukkan. Realitas ini jelas berseberangan dengan persoalan pendidikan yang diangkat iklas mengenai pendidikan yang dikhawatirkan iklas tentang didikan kemodalan dan nalar kapital. Nalar capital dan kesenjangan ada pada persoalan pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan, bukan pada persoalan model pendidikan yang mandiri dan berkualitas.

Alam dan nalar lama

            Model pendidikan gaya tan malaka dan ki hajar dewantara tentu bisa dijadikan catatan sejarah pendidikan kita dalam menapaki perkembangan pendidikan. Nalar dan alam yang dipakai tan malaka dan ki hajar adalah alam lama yang tentu tak terlepas pada kondisi di jamannya pada waktu itu. Ketika nalar itu dibawa pada realitas pendidikan saat ini, maka akan ada benturan-benturan yang tak bisa dipaksakan dengan alam modernitas saat ini. Yang jadi persoalan saat ini justru ada pada persoalan  I’tikad dan niatan pemerintah dalam mengurusi pendidikan kita. UU SISDIKNAS no.23 tahun 2003 yang ada malah mereduksi tanggungjawab pemerintah. Alhasil, peran negara jadi sekadar administrative belaka dalam dunia pendidikan kita.   
            Persoalan berikutnya adalah pada jiwa pendidik yang ada pada guru-guru kita. persoalan fasilitas dan kesejahteraan yang sudah ada tanpa dilandasi etos sebagai guru yang mendidik mentalitas bangsa sebagaimana yang pernah dikatakan sukarno : “Guru ia memikul pertanggungjawaban yang maha berat terhadap negeri dan bangsanya”. Menciptakan guru-guru dan juga pendidik yang berjiwa bangsa inilah yang belum maksimal diusahakan oleh pemerintah. Yang jadi soal bukan pada kesenjangan yang ada dalam masyarakat kita dalam mencapai akses pendidikan, tapi pada persoalan negara yang sudah semestinya mensejahterakan masyarakat kita. Sehingga antusias dan perhatian masyarakat dalam menciptakan pendidikan yang mandiri dan berkualitas harus didukung dan dikembangkan,sehingga kesenjangan yang ada dalam pendidikan itu bisa ditiadakan.

Abstrak
            Di akhir essainya Iklas mengimpikan pendidikan bergaya kerakyatan dengan munculnya SD kerakyatan, SMP kerakyatan, dan SMA kerakyatan, dll. Bila melihat hal ini, ada semacam konsep pendidikan yang abstrak yang belum mampu diterjemahkan oleh masyarakat kita. Konsep pendidikan kerakyatan ala tan malaka adalah respon alam negeri ini ketika terjajah, yang membutuhkan semangat anti kolonialistik, membutuhkan alat untuk hidup dan keterampilan hidup, dan semangat internasionalisme. Bentuk-bentuk konsepsi semacam ini adalah konsepsi yang begitu praktis yang ini dicontohkan dalam bentuk sekolah tak terlembagakan. Bayangan iklas dalam bentuk lembaga adalah kesalahan membaca pendidikan ala tan malaka.
            Kegagapan ini berujung pada tak adanya solusi yang pasti dan terarah terhadap realitas pendidikan yang ada. Tulisan iklas adalah cermin dari kegagapan dan pembacaan sebagai masyarakat korban,yang tak mampu membaca dan menafsirkan realitas pendidikan yang ada saat ini. Marxis tak mampu membaca perkembangan kelas social di negeri ini harus diakui, sedang peran pemerintah dalam mensejahterakan dan meningkatkan kualitas pendidikan rakyatnya itu yang mesti ditekankan pada pemerintah kita.


*)Penulis adalah mahasiswa UMS,ikut menulis dalam “AKU & BUKU”2012