Senin, November 23, 2009

Semiotika Tikus sampai dengan “Cicak Melawan Buaya”

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Paul Ricouer dalam filsafat wacana mengatakan, “Apa yang terjadi dalam tulisan adalah manifestasi sepenuhnya dari sesuatu yang berada dalam keadaan virtual, sesuatu yang bermuncul dan bermula dalam pembicaraan yang hidup yakni pemilahan makna dari peristiwa.
Dari pernyataan Paul Ricouer tadi kita bisa melihat, bahwasannya pemunculan istilah “tikus kantor” sampai pada cicak melawan buaya adalah sesuatu yang muncul dari pemilahan makna dan peristiwa. Selain itu, pemunculan istilah ini juga bermula dari pembicaraan yang sebelumnya ada dalam era virtual pula. Misalnya pada dunia facebook.
Misalnya pada kata “tikus” kata tikus disetarakan dengan koruptor. Iwan Fals dengan apik menggambarkan dalam lagunya yang berjudul “tikus kantor”. “ Kisah usang tikus-tikus kantor yang suka berenang di sungai yang kotor”,Kisah usang tikus-tikus berdasi yang suka ingkar janji lalu sembunyi”. Tikus-tikus tak kenal kenyang, rakus-rakus bukan kepayang.
Koruptor dianggap seperti tikus kantor yang suka berenang di sungai yang kotor. Artinya, koruptor sangat senang meskipun hidupnya dalam kehinaan dan kenistaan dan tidak malu melakukan perbuatan yang jijik. Tikus atau koruptor juga dianggap sebagai seseorang yang rakus karena kebanyakan koruptor adalah pejabat tinggi yang notabene hidup berkecukupan dengan gaji yang cukup tinggi.

Metafora inipun juga pernah diungkapkan oleh Monroe beardsly sebagai puisi miniatur. Sedang menurut Paul Ricouer dalam buku filsafat wacana menjelaskan tentang metafora “ ia merepresentasikan perluasan makna dari suatu nama melalui deviasi dan makna kata literal. Secara simbolis, ketika melihat fenomena saat ini, sangat tidak mungkin jika dilihat dari realita. Bagaimana mungkin “Cicak bisa melawan Buaya”.
Kembali pada semiotika, istilah cicak , tikus, dan buaya hanyalah iconitas yang merupakan pengilhaman sesuatu yang riil secara lebih riil dari pada realitas. Karena secara realitas tidak mungkin kemudian cicak menangkap tikus apalagi melawan buaya.
Sama halnya dengan istilah “Cicak melawan Buaya”. KPK disini digambarkan melawan musuh-musuhnya yang besar, yaitu anggodo karena dianggap mafia peradilan. Yang bisa memainkan hukum dan peradilan dengan uang dan kekuasaannya.
Pengistilahan Cicak melawan Buaya sah-sah saja dalam era kekinian, Akan tetapi, gerakan rakyat dalam dunia maya akan menjadi simbolisasi semata dalam menegakkan keadilan di negeri ini.
Akan sangat ironi ketika gerakan mahasiswa saat ini bisa teriak-teriak di dunia maya “lawan koruptor” tapi enggan turun ke jalan bersama rekan-rekan lainnya menyuarakan suaranya dalam dunia realita.
Semiotika “ Cicak melawan Buaya” adalah simbolisasi perlawanan yang tidak hanya disuarakan dalam dunia maya, tetapi perlu diaktualisasikan dalam kehidupan nyata kita.


*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, alumnus LPMF FIGUR UMS.

Senin, November 16, 2009

Mencermati Relasi Linier NATIONAL SUMMIT & KESEPAKATAN APEC

Oleh Arif Saifudin yudistira*)

Negeri ini sepertinya gagap melihat dan menatap masa depan. Negeri ini sepertinya kaget menghadapi perdagangan bebas. Nampak sekali dalam NATIONAL SUMMIT yang menjadi prioritas pemerintahan SBY 100 hari ke depan bahkan 5 tahun ke depan.
Dengan melihat pokok-pokok NATIONAL SUMMIT 2010 bukannya kita optimis melihat perkembangan dan kemajuan Indonesia akan tetapi justru harus mengelus dada mengingat Negara ini semakin tidak punya tawaran dalam kebijakan ekonominya, dan kebijakan-kebijakan yang lainnya.
UU penanaman modal no.25 tahun 2007 jelas-jelas memberi “angin surga” bagi investor-investor asing. Apalagi tidak ada upaya perlindungan pada investor dalam negeri. Dengan demikian salah satu point penting dalam National summit jelas tercapai yaitu merombak aturan dan menyesuaikan dengan perdagangan bebas.
Ada pertanyaan yang mungkin kita ajukan kembali pada masa pemerintahan SBY ini, apakah benar pemerintahan SBY adalah pemerintahan neolib???. Tentu masyarakat akan semakin terang dan jelas setelah melihat National summit ini.
Dialektika pemerintah dalam memainkan citra dan perdebatan panjang akhirnya terbuka jelas dan gamblang dengan adanya kebijakan-kebijakan yang ditelorkan SBY –budiono.


Relasi neoliberalisme global
Kalau membaca keadaan ini, maka kita akan memberikan kesimpulan sementara, bahwasannya ini tidak terlepas dengan scenario neo liberalisme global. Dengan membaca kesepakatan APEC di singapura, kita akan tercengang dan kaget tentunya.
Misalnya beberapa point yang seakan-akan selaras dengan National summit. Diantaranya penghapusan segala kendala perdagangan antar daerah dan pulau dengan kesepakatan APEC perluas akses pasar dan membuka akses modal masuk.Tolak segala hambatan perdagangan dan investasi, dengan menangani hambatan yang mengancam iklim dan daya saing invsetasi,Mendesak menteri menghormati komitmen WTO.
Dengan demikian jelas bahwasannya Indonesia tidak punya tawaran yang jelas dalam membangun ekonomi ke depan selain pada investasi dan investasi. Sama halnya dengan yang dikatakan menteri ekonomi kita, yang belum apa-apa sudah berani menargetkan investasi sebesar kurang lebih 200 triliun.
Yang lebih parah lagi, relasi ini seperti menjalar pada tawaran pendidikan kita. Salah satu point penting yang bisa kita cermati pada National summit adalah mensinergikan perguruan tinggi dan dunia usaha{Solo pos, 29 oktober 2009}.
Tidak ada lagi pembangunan pendidikan berkarakter kebudayaan, pendidikan berkarakter, yang ada pendidikan berkarakter pekerja dan pengusaha. Ini berbahaya bagi perkembangan masa depan kita karena pendidikan makin hilang dari nilai-nilainya. Seperti kita lihat pendidikan kita saat ini lebih mendorong tumbunya SMK dari pada SMU yang dinilai lebih menjamin mendapatkan pekerjaan.
Dengan mencermati relasi kesepakatan APEC dan kesepakatan dalam national summit kita akan menemukan titik temnu dan benang merah yang jelas bahwasannya negeri ini sudah dikuasai oleh korporat dan tehnokrat baru.

*) Penulis adalah mahasiswa bahasa inggris universitas muhammadiyah surakarta.
*) Presidium Kawah Institute Indonesia, Pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner

Minggu, November 01, 2009

"Sastra & Keberfihakan"



Oleh arif saifudin yudistira*)

Sastra sering kali dianggap sebagai sesuatu yang menyendiri, sebagi sesuatu yang bertengger dalam ruang tersendiri. Anggapan semacam itu akan menjadi benar ketika sastra hanya beronani pada dunianya sendiri.
Sejarah sastra indonesia mencatat para sastrawan-sastrawan kita tidak egoistis dan onani dengan sastranya. Taruhlah WS REndra, dalam sajak-sajaknya, ia mencerminkan sastra bisa melampaui tembok-tembok linier yang membatasi sastra dan kehidupan. Bisa kita cermati pda salah satu sajaknya. …
…….Ya ! Ya ! Akulah seorang tua ! //
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.//

Kini aku berdiri di perempatan jalan. //

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing. //

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak. //

Sebagai seorang manusia.

{Sajak seorang tua di bawah pohon}

Sajak yang ditulis oleh WS Rendra ini mencerminkan bahwasannya sebagai gambaran seorang tua yang meski sudah tua renta,yang tidak berdaya dalam hal fisik, akan tetapi masih saja mencoba bersuara menyuarakan nurani.
Sebab, saat ini langka sekali, orang tua yang sempat mempehatikan dunia disekitarnya, dunia indonesia yang sarak masalah dan berbagai persoalan.
Rendra barangkali ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan bahwasannya optimisme perlu dibangun meski di tengah-tengah keterpurukan. Sama halnya juga pada “sajak seorang tua untuk isterinya” :

…………Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Pramudya ananta toer pun sama halnya, hampir di setiap karya-karyanya merupakan cerminan semangat perlawanan pada ketidakadilan dan penindasan. Misalnya saja pada “BUMI MANUSIA” ia menulis : Duniaku bukan pangkat, derajat, gaji, ataupun kecurangan, duniaku bumi manusia dengan segala permasalahannya.
Jangan kita lupakan pula sastrawan dari Solo yang hilang sampai sekarang yaitu widji Thukul. Ia tercatat sebagai sastrawan yang getol menyuarakan keadilan dan semangat keberfihakan.

Dengan sajaknya “peringatan “yang menunjukkan oposisi biner penguasa dan rakyat. Apabila usul ditolak tanpa ditimbang,,, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan,,dituduh subversif dan mengganggu keamanan,,,
maka hanya ada satu kata: lawan!.

Sajaknya sampai sekarang pun masih tetap menjadi inspirasi bagi aktifis mahasiswa sampai sekarang.
Keberfihakan para sastrawan-sastrawan tadi bukan tanpa alasan, dalam hal ini sama juga dengan yang diungkap oleh Jean Paul Satre yang juga seorang sastrawan. Ia mengatakan : Tugas seorang intelektual adalah mencela ketidakadilan dimanapun ia berada. Para sastrawan adalah seorang intelektual, yang menyuarakan seninya melalui sastra sebagai mediumnya.
Ketika sastra belum mampu menyuarakan keberfihakan, maka sastra akan cenderung menjadi sampah dalam pasungan pigura-pigura penghargaan dan pigura reward semata. Sastrawan menyandang tugas yang cukup berat, ia harus mampu menyuarakan suara keadilan, refleksi kehidupannya, serta realita yang dilihatnya.
Dengan demikian, sastra akan menjadi bagian yang tidak terlepaskan dalam dunia yang lainnya. Ia tidak bertengger dalam keterasingan, tapi ia menyublim dalam dinamika kehidupan dan zaman. Sehingga sejarah pantas menempatkan sastra sebagai hal yang tidak bisa diremehkan dalam kehidupan kita. Begitu.

Senin, Oktober 26, 2009

Kabinet Indonesia Berjajar


Kabinet Indonesia Berjajar
Oleh Arif Saifudin yudistira*)

20 oktober 2009 resmi sudah SBY dan Budiono dilantik. Seperti tak mau dikatakan ingkar janji lagi, selang satu hari para menteri KIB II pun menyusul dilantik.
Selang beberapa hari, berbagai kritikan dan opini mengalir deras ke KIB II ini. Mulai dari sistem seleksi para menteri yang seperti audisi idol sampai dengan kasus beberapa menteri yang dipandang “bermasalah”.
Kita masih ingat tentunya kontroversi wakil presiden Budiono yang banyak dianggap oleh beberapa kalangan sebagai penganut “neoliberalisme” yang sulit diharapkan untuk mengentaskan rakyat miskin.
Kali ini tiba pula menteri-menteri di kabinet KIB II yang menuai kontroversi. Seperti berjajar satu persatu permasalahan dalam KIB II yang makin kentara dan makin terungkap.
Endang Rahayu Sedya ningsih selaku menteri kesehatan baru di KIB II yang dinilai sebagai menteri “titipan amerika”mulai ramai dibincangkan public. Selain pemunculannya yang tiba-tiba, ia juga pernah terlibat dalam kasus NAMRU yang sempat dimutasi oleh Siti fadilah supari pada masa sebelumnya.
Sebenarnya tidak hanya Endang yang patut kita curigai karena dinilai “titipan amerika”. Menteri Keuangan dan menteri perdagangan pun layak kita curigai sebagai menteri “pro asing”.
Sri mulyani misalnya selain dia lulusan amerika, dia juga memiliki kebijakan yang jelas-jelas meng-iyakan kebijakan pro pasar. Begitupun Marie Elka pangestu di sisi perdagangan yang memeperkuatnya dengan liberalisasi ekonomi
Sepertinya SBY dan budiono tak mau menaggapi permasalahan yang dinilainya tidak perlu ditanggapi. Jelas, pemerintahan SBY- Budiono memang menginginkan pemerintahan yang kuat dalam sektor ekonomi yang didukung pembantu-pembantunya yang handal. Handal jelas, dan tahan banting tentunya dengan kritikan dari berbagai penjuru.
Kabinet KIB II ini seperti benar-benar berjajar menyambut deretan permasalahan, baik pada kinerja yang akan diembannya, juga permasalahan kontroversi perihal personal menterinya.

Selain kontroversi Menteri kesehatan, menteri keuangan dan perdagangan, menyusul juga menteri KOMINFO kita. Tifatul sembiring, selain dinilai kurang bisa diharapkan karena bukan pada bidangnya, juga karena memang satuan yang mendukung komunikasi kita sudah dijual. Misal saja INDOSAT yang cukup besar dan mendukung sisi telekomunikasi.
Ditambah lagi, rencana SBY menaikkan gaji menteri-menterinya yang dilengkapi dengan fasilitas yang lebih mewah dari yang tahun lalu.
Rakyat tentu makin berat dan makin dibebani berbagai permasalahan. Karena selain ia harus menanggung derita ini semua, rakyat harus berfikir keras mengawal pemerintahan ini, karena tidak adanya oposisi.
Kecil harapan untuk menyandarkan semua ini pada DPR kita. Selain sebagian besar adalah mitra koalisi, mereka juga baru duduk di DPR ini. Jangan lupa banyak pula dari mereka yang artis yang sulit kita mempercayakan mereka, buktinya mereka belum merespon berbagai permasalahan yang lagi dibicarakan ini.

Permasalahan pengentasan kemiskinan pun sepertinya belum ada tawaran yang lebih substansial dari sisi kebijakan KIB II, karena bisa kita lihat akan sama dengan penyelesaiain kemiskinan pada KIB pertama. Hanya penyelesaian kemiskinan pada tahap yang tidak menyentuh saja seperti BLT, PNPM,dan lain-lain.
Kabinet Indonesia berjajar, mengantri mengeluarkan permasalahan satu-satu seperti dalam barisan, tentu bukan harapan kita semua. Semoga saja, para petinggi negara kita mendengar apa yang kita suarakan. Demikian.








Penulis adalah Presidium Kawah Institute Indonesia

Rabu, Oktober 21, 2009

Inikah Kita????

Arif saifudin yudistira*)
Dunia cyber sudah begitu melekat dan intim dalam kehidupan manusia modern. Kita pun sulit membedakan antara realita kita dengan dunia maya tersebut. Manusia modern begitu peka dengan perkembangan teknologi. Akan tetapi makin lama makin tidak peka pula manusia menanggapi realita di sekitarnya.
Kehadiran globalisasi dengan teknologi sebagai bagian yang tidak terlepas darinya, membuat manusia semakin menyukai candu teknologi yang melenakan dan merusak, bahkan terkadang mematikan.
Ambil contoh pada computer misalnya. Teknologi computer yang mulai hadir dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan manusia begitu takut terlepas dari alat teknologi yang satu ini. Bayangkan pada satu kasus berikut ini,
seorang bapak yang marah sampai 3 hari lebih gara-gara computer miliknya buat mainan anaknya sehingga mengakibatkan arsip dan file-file kantornya hilang.
Ketergantungan pada dunia seperti ini sangat membahayakan pada masa depan manusia dalam membangun bingkai peradaban yang serba absurd ini. Ketegangan dan keintiman kita dengan teknologi harus mulai dikurangi dari sekarang. Aktifitas kita jadi seperti maya.
Seperti waktu kita menuliskan sesuatu dengan komputer, seakan-akan kita tidak menulis, akan tetapi kita memijit-mijit dan menekan keyboard saja.




Kita tidak menulis dalam arti yang nyata, akan tetapi dalam arti sepadan saja. Bisa kita lihat ketika tulisan yang kita simpan di computer tiba-tiba listrik mati seketika, ataupun fles disk kita hilang, atau pun virus dahsyat mengenai computer kita. Hilang sudah semua tulisan dan arsip kita.
Seringkali kita tidak sadar akan kejadian-kejadian yang sederhana ini, akan tetapi tiba-tiba kita menyadari betapa lemahnya dan tidak berdayanya kita tanpa teknologi yang sebenarnya kita ciptakan sendiri.
Afrizal malna dalam sebuah diskusi mengungkapkan : “bagaimana mungkin saat ini modernitas mengaburkan pandangan kita antara realitas dan kenyataan”. Begitupun yasraf amir piliang mengungkap ini dengan bukunya hiperrealitas.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia kita ke depan yang semakin membingungkan ini?. Perlu kita konsisten dan tekun membaca fenomena ini, agar ke depan mestinya dunia cyber ini dalam genggaman kita, bukan kemudian kita yang semakin lemah dan tidak berdaya menghadapi digdayanya dunia cyber ini.
Buku “Dekonstruksi Nilai dan Matinya makna pada dunia Cyber” mencoba sedikit mengungkap bahaya dan resiko yang cukup tragis dari kelemahan kita pada dunia cyber yang kita buat.
Serta mencoba memberikan ajakan pada kita semua agar senantiasa melakukan penyadaran ulang dan mengajak kita memikirkan kembali apakah kita perlu “teknologi” dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita???.



Harapan besar bagi dunia kita ke depan bisa menangkal efek negative dari dunia cyber ini, atau mungkin mencoba merekonstruksi ulang memang teknologi hanya utopi yang tidak begitu menyekap apalagi membius, dan membunuh nilai dan karakter kita. Mungkinkah???.

*)Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Minggu, Oktober 18, 2009

CerpeNku Lagi.....


Nasib……Nasib………………
by Arif saifudin yudistira*)

ndrrrrrrrrr……..nder…………ndrrrrr…Begitulah bunyi mesin laundry yang berhari-hari menemani putri setiap harinya]. Sudah dua tahun ini putri bekerja di jasa pencucian dekat kampus di Solo. Berhari-hari ia kerja hampir tiada henti.
Meski buka mulai jam 08.00 pagi sampai jam 21.00 malam,akan tetapi badannya seperti tak pernah berhenti dari gerak. LElah, cuapek,,,,bahkan sampai terlelap ketiduran ia alami sudah berkali-kali.
Pekerjaan laundry memang tak begitu sulit dibayangkan, akan tetapi begitu berat dirasa oleh Putri. Ia memang cukup pandai melayani pelanggan. Senyum manisnya,,,,,tutur katanya yang sopan,,,,,,,serta penampilannya yang cukup enak dipandang membuat pelanggan makin betah menitipkan baju-baju kotornya ke laundryan itu.
“Bruk……”[begitulah bunyi pelanggan yang menaruhkan pakaiannya di timbangan]
5 kilo mas bayu……diambil 2 hari setelah ini yah mas…..pewanginya apa mas???[tanya putri sambil melempar senyum manisnya].
Hijau mbak…..sama kayak baju mbak……[jawab bayu]
Ah…..mas bayu ini bisa ajah…..makasih mas……
Yah…..sama-sama ….[sahut bayu]
Pagi-pagi Putri harus sudah memulai pekerjaannya. Mula-mula ia pisahkan jenis pakaian dari bayu tadi. Bayu adalah pelanggan yang sudah betah 2 tahun menitipkan bajunya di laundryan putri. Sampai terkadang Putri hafal baju dan pakaiannya itu. Putri harus mencatat semua pakaiannya dan membuka satu persatu isi plastic yang ditimbang yang isinya tidak lain baju dan semua pakaian bayu.
ihhh….bau banget sih…..gila,,,,,pa ni orang sudah nikah yah??tanya putrid dalam hati.…..Masak celana dalam penuh dengan pulau Sumatra begini….[Putri menggerutu sambil memberi tanda nama pada celana dalam bayu yang penuh dengan sperma, Putri begitu hafal, maklum satu tahun sudah beralalu bayu jadi langganan putri]. [Kemudian Dibukanya isi kantong plastic itu lagi].
ihhhh………..apalagi nih………masak ada celana dalam cewek……penuh darah lagi…….[Putri tambah penasaran lagi…..jangan-jangan…..?????jangan-jangan……]
Sudahlah……urusan dia…..kalau gak bersih biar aku ladeni protesnya dia,,,,,lagi pula selama ini dia jarang protes….dan hampir tidak pernah protes…..tapi bosan juga kalau terus-terusan begini…….[gumam Putri dalam hatinya].
Setalah menandai semua pakaian bayu, ia mulai menghidupkan mesin laundrynya dan memasukkan pakaian itu. Bagi Putri menghadapi orang seperti bayu sudah biasa. tapi kadang dia merasa jijik. Akan tetapi meski jijik, ia harus melakukan itu dengan senang hati dan rasa senyum.
Maklum,,,,gajinya 250 ribu per bulan dinilainya tak sebanding dengan beratnya pekerjaan dia. Belum lagi kalau dia kena marah dari salah satu pelanggan yang komplain tentang pelayanannya.
“ Mbak Putri ini gimana?jelas-jelas jaket ini bukan milik saya kok ditaruh sama pakaian saya……jaket saya mana????Awas….kalau hilang!!!!mbak Putri yang aku tuntut pertama kali!!!......[kata pak karjo yang juga langganannya].
Sabar pak…..Sabar…….paling tertukar......ntar saya cari dulu yah jaket bapak……apa ada merknya pak????[Tanya Putri dengan sabar,,,,dan tidak lupa melemparkan senyumnya walau berat].
Jaket Suzuki……..jawab pak Karjo.
yadah kalau begitu cari dulu……saya tunggu 2 hari setelah hari ini,,,,,,awas kalau tidak ketemu…….[sahut pak karjo lagi].
iyah….iyah…..maaf yah pak,,,,,,,pangapunten…….[Masih sabar menghadapi pak karjo]. Belum beranjak jauh dari tempat laundryan itu……mulailah bu Prety pemilik laundry itu marah-marah mendengar kejadian itu.
“Kamu ini kerja gimana toh”, Put???.
Bisa kerja ndak kamu…..kayak kamu gak tahu pak karjo saja…..
Dia itu pemilik Solo Grand Mall……awas kalau tidak ketemu…….bisa turun citra laundry kita dan kamu kupecat……..[bentak dan marah bu Pretty pada Putri]
Ampun Bu......[sambil bersujud di kaki Bu Pretty]ampun bu.......ampun Bu.....jangan dipecat saya,,,,,,saya mau kerja dimana????[sambil menyeret dan memohon ampunan Bu Pretty]
Tidak.....pokoknya kamu harus ketemu........[jwab Bu Pretty]
***
Dua hari kemudian Pak karjo kembali ke laundryan itu. Dengan muka muram dan kumis yang membuat semua agak merinding. Pak karjo selain orangnya keras dan kaku juga terlihat ”sangar”. Dengan jalan metenteng datanglah ia menghampiri Putri.
Setelah dicari-cari tidak ketemu......Putri seperti agak ketakutan kali ini. Tidak seperti biasanya, ia agak ketakutan dan wajahnya kelihatan sayu dan pucat.....serta bibirnya seketika itu pula menjadi merah delima,,,,,,keringat dingin pun tak disadari bercucuran ke muka dan air mata tak tahan keluar dari pipinya.....
emmm......mmmm......Ma.....ma......Maaf pak..Maaf. pak.......[begitulah Putri berucap sebelum ditanya].
Maaf.....kamu bilang maaf!!!......jadi.....belum ketemu???[ bentak dan tanya pak karjo]. Iy......iyah....pak......[dengan nafas tersedu Putri menangis dan menjawab pertanyaan Pak Karjo]
Ya sudah.......kamu harus ganti pakaian itu dengan kau kerja di tempatku.....[jawab Pak Karjo kali ini dengan nada agak menurun].
Apa,,,,,,apa pak......Kerja di tempat bapak????....Putri gak mau....pak.......[Putri menjawab agak kaget dan masih menangis].
Sudah......sudah.....kamu harus mau !!!.....Kamu sudah saya pecat mulai hari ini.....!!!
hah.......dipecat Bu.....ampun.....ampun Bu.....[sambil memohan dan bersujud di bawah kaki Bu Pretty].
Sudahlah......ayo.....kamu saya kasih kamu hidup yang lebih layak nanti......[Pak Karjo menyahut......sambil membuka mobilnya].
Benar.....pak......nggih pun Pak.......jawab Putri. [Meski dengan nada agak berat, lekas Putri membawa semua pakaian dan barang-barang miliknya ke mobil]. Berat pula dirasa oleh Putri karena akhirnya harus berhadapan tiap hari dengan celana kusut Pak karjo......Celana dalam yang baunya minta ampun milik pak karjo pula......Belum lagi anak-anaknya yang suka bermain di lumpur yang membuat noda membandel tiap hari[bayangkan.....tiap hari.......].
Semantara Pak Karjo dan anak-anaknya seringkali melempar pakaiannya seenaknya ke muka Putri.....akan tetapi Putri tetap sabar demi uang dan keluarganya yang hidup di desa. Nasib......nasib.......kalau bukan karena nasib......dan karena uang.......aku tak sudi mencuci celana dalam yang bau dan pakaian yang kotor-kotor dan kadang menjijikkan ini.........
Begitulah sepenggal kisah para pembantu jasa laundry.......yang kadang kita melupakannya. Dibalik baju kita yang harum dan bersih. Penampilan kita yang macho.............tersimpan pula keringat dan derita yang luar biasa yang terkadang dipendamnya......
Sekian.......

*) Mahasiswa bahasa Inggris UMS

Rabu, Oktober 14, 2009

Caraku Menggapaimu





Caraku menggapaimu


Aku ingin terbang tanpa sayap,,,

Aku ingin berjalan tanpa kaki,,,

Aku ingin mencumbumu tanpa mulut

Aku ingin menyentuhmu tanpa rasa sentuhan,,,

Aku ingin itu,,,,

Aku ingin itu,,,,

Selasa, Oktober 13, 2009

Tuhan Masih Bicara- - -


Tuhan Masih Bicara- - -
By Arif Saifudin yudistira

Tuhan Masih bicara pada orang tuli
Tuhan masih bicara pada orang yang Menentang-Nya
Tuhan pun masih bicara diantara keramaian orang
Tuhan masih bicara pada orang-orang mati
Tuhan pun bicara pada orang yang banyak bicara
Tuhan bicara pada langit dan bumi
Tuhan pun bicara pada suara-suara alam
Pun Tuhan bicara pada alam yang bersuara
Tuhan masih bicara saat kita diam
Tuhan masih bicara dengan caranya---


Solo, 13 oktober 2009

Tuhan, Aku cinta padaMu---


Tuhan Aku Cinta Padamu by Rendra
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga

Senin, Oktober 12, 2009

***MenyamBut PelanTikan SBY???***


Oleh Arif saifudin yudistira*)
20 Oktober adalah moment yang ditunggu-tunggu dan dinantikan oleh sebagian orang. Akan tetapi, 20 oktober juga momentum sejarah bagi pergerakan dan dinamika kemahasiswaan untuk menyikapinya.
Ada pertanyaan menarik, kenapa momentum 20 oktober 2009 nanti harus disikapi, atau harus dinanti?. Moment pelantikan SBY begitu dinanti oleh para calon menteri dan jajaran kabinet SBY untuk segera ”bekerja” mewujudkan janji-janji SBY pada waktu kampanyenya. Juga sekaligus momentum bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa mahasiswa masih mengawal jalannya pemerintahan dan dinamikanya.
Mengingat pada pemerintahan kedepan sudah bisa dipastikan tidak ada oposisi dalam pemerintahan. maka tidak lain dan tidak bukan adalah mahasiswa yang akan menjadi oposisi yang sehat dan memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa dan negara kita ini.
Pelantikan SBY menjadi sebuah kajian yang menarik bagi perhatian publik, selain karena presiden SBY merupakan buah dari pemilu yang cukup carut-marut, SBY juga merupakan sosok yang merupakan pilihan rakyat indonesia. Selain itu, pelantikan SBY menjadi perhatian publik pula karena sampai saat ini masih ada dosa-dosa pemerintahan SBY yang harus diselesaikan dimasa pemerintahannya mendatang.
Kasus lapindo yang sampai sekarang belum juga selesai, kasus bank century, masih merajalelanya korupsi, dan permasalahan bangsa pada waktu pemerintahan SBY akan menjadi PR besar bagi kabinet SBY mendatang.
Pelantikan SBY ini juga menjadi sebuah momentum sejarah bagi indonesia karena biasanya dalam acara pelantikan, akan ada pidato kenegaraan yang akan disampaikan dalam rangka memandang indonesia ke depan. Apa yang akan dilakukan kabinet SBY nanti, visi-misi dan program kerjanya, dan lain-lain.
Mahasiswa mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka memanfaatkan momentum bersejarah ini. Mengingat kondisi negara kita yang semakin akut dengan berbagai persoalannya.
Masih segar dalam ingatan kita tentunya, pelantikan anggota DPR kita yang menghabiskan dana yang berlebihan yang kurang lebih 11 miliar. Bagaimana dengan SBY nanti???jangan sampai biaya pelantikan SBY pun terkesan boros dan berlebihan dan melebihi batas kewajaran, mengingat negeri ini juga sedang mengalami bencana gempa yang belum lama ini.
Oleh karena itu, penyambutan pelantikan SBY ini perlu dalam rangka mengawal dan mengawasi agar jangan sampai kesalahan yang ada pada pelantikan DPR tidak tejadi pada pelantikan SBY, selain itu juga untuk mengingatkan SBY agar tidak ingkar janji dan mengulangi dosa-dosanya yang dilakukan pada periode sebelumnya.
Pilihan membentuk parlemen jalanan akan menjadi salah satu metode alternatif, mengingat pemerintahan indonesia ke depan akan sangat riskan. Tidak adanya oposisi akan mengakibatkan berjalannya tradisi dan kesalahan-kesalahan pada masa lalu akan terulang dan cenderung didiamkan, atau bahkan direncanakan.


Kecurigaan ini cukup beralasan, kita bisa melihat contoh kasus pada waktu pemerintah SBY mau menaikkan harga BBM beberapa tahun silam, hanya kelompok oposisi yang menentang, kasus lapindo pun demikian halnya, serta pembahasan RUU yang bermasalah seperti UU penanaman modal, UU BHP, UU MINERBA, dan lain-lain.
Dengan tidak adanya oposisi pada pemerintahan ke depan akan membuka peluang yang sangat besar bagi eksekutif kita untuk melakukan persekongkolan dengan anggota legislatif. Begitupun legislatif kita yang begitu minim untuk diharapkan.
Selain karena kita masih meragukan kapabilitas mereka yang baru, juga karena mereka dipilih karena kepopulerannya saja. Sehingga dikhawatirkan produk undang-undang dan regulasi pada pemerintahan mendatang semakin jauh dari keberfihakan terhadap rakyat.

Mahasiswa, mari bergerak...
Sejarah kita sudah cukup untuk memberikan pelajaran bagi kita, bahwa kaum muda cukup bisa diharapkan dalam rangka ikut serta menentukan masa depan bangsa kita ini. Sukarno, syahrir, tan malaka, adalah kaum-kaum muda yang menorehkan sejarah bangsanya.
Rakyat berharap besar pada mahasiswa di tengah apatisme dan pesimisme yang sudah demikian parah. Oleh karena itu, 20 oktober nanti adalah momentum yang harus dimanfaatkan bagi elemen gerakan mahasiswa untuk mengawal dan menunjukkan eksistensinya bahwa mahasiswa masih peduli akan nasib bangsanya.
Kita tentu masih ingat akan puisinya taufik ismail pada bait terakhirnya ” ....................presiden takut pada mahasiswa..........” karena itu, pilihan bagaimana, apa yang harus dilakukan, strategi apa yang harus digunakan ada di mahasiswa.
Mahasiswa dituntut untuk memberikan respon kritis terhadap pelantikan SBY karena diharapkan mahasiswalah yang mampu memberikan pertanggungjawaban secara moral terhadap pemerintahan SBY pada masa silam, pada masa sekarang, dan bagaimana pemerintahan ini berjalan ke depan.
Dengan adanya sambutan yang meriah dari mahasiswa dan beberapa catatan dan rekomendasi ke depan bagi pemerintahan SBY nanti, harapannya SBY dan seluruh pemangku pemerintahan saat ini akan tersadarkan akan kesalahan yang dibuat pada masa silam, dan mau memperbaikinya pada masa yang akan datang. Demikian.


















Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ketua DPM UMS 2009/2010

Sabtu, Oktober 03, 2009

Sensitifitas SoLo



Oleh Arif Saifudin yudistira*)
Solo menyimpan sejarah yang panjang dalam dinamika perubahan zaman. Banyak ragam peristiwa terekam dalam jejak kota ini. Kota ini cukup menyimpan potret kelam yang luar biasa.
Dalam bukunya zaman bergerak, takashi siraizi mendeskripsikan solo adalah kota yang dinamis dengan berbagai perubahan di dalamnya. Aneka warna corak, karakter, serta kultur masayarakat solo begitu plural. Solo menyimpan kenangan yang tragis, getir, dan sejuta peristiwa.
Dari kota inilah lahir pula seorang pejuang dan tokoh komunis Alimin dan sarjono yang ditulis juga oleh Soe Hoek Gie dalam skripsinya ” Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan ”. Bersama kota ini pula lahir kiai revolusioner yang sangat gencar menggerakkan umatnya untuk mengkontekskan ajaran-ajaran Islamnya yaitu H. Misbach.
Dari zaman- ke zaman Solo memang dikenal sebagai kota yang dinamis, selalu bergeser dan berubah. Perubahan ini bukan tanpa alasan, masyarakat solo begitu peka terhadap perubahan ini, dimulai sejak zaman kiai misbach hingga zaman kemerdekaan masyarakat solo tidak berhenti menggelorakan perubahan ini, bahkan hingga era reformasi di zaman suharto.

Hal ini sangatlah wajar, masyarakat solo begitu inisiatif, begitu responsif terhadap kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya. Peristiwa kerusuhan solo tahun 1999 tentu membuka mata kita bahwa masyarakat solo begitu tekun membaca fenomena di kotanya maupun di negaranya.
Maklum kesadaran akan pentingnya informasi sudah terbangun sejak zaman alimin dan sarjono dengan harian ”majapahitnya”, begitu juga misbach yang lebih awal dengan ”medan musliminnya”. Dengan hadirnya media inilah, masyarakat solo melakukan perubahan dalam setiap dinamikanya.
Keanekaragaman dan kepluralan solo bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Masyarakat solo sudah terbiasa saling menghargai dan menghormati prinsip masing-masing sejak zaman pra kemerdekaan hingga sekarang. Hal ini terbangun karena solo merupakan kota dagang yang cukup besar yang mempertemukan beraneka warna corak dan karakter.
Solo yang bergeser
Peristiwa yang terjadi pada 14 / 9 / 2009 yang terjadi antara radio Solo radio dengan kelompok laskar yang merasa tidak terima akan pemutaran lagu genjer-genjer menunjukkan bahwa kota solo telah bergeser.
Solo begitu sensitif terhadap peristiwa dan fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari potret kelam masa lalu. Tidak heran, sejarah kita sudah di belokkan selama 32 tahun oleh pemerintahan Suharto. Sehingga stigmatisasi terhadap hal yang berbau komunis selalu dinilai negatif dan harus dihancurkan.
Kejadian beberapa hari yang lalu seakan membuktikan kebenaran dan peringatan Sukarno pada waktu itu yang berteriak lantang dengan mengatakan : JAS MERAH {jangan sekali-sekali melupakan sejarah}.
Sejarah begitu penting untuk bagaimana kemudian masyarakat mempunyai pijakan untuk membangun masa depan, ketika masyarakat begitu lemah dalam pemahaman sejarah, maka masa depannya pun tidak terarah.
Genjer-Genjer sebetulnya hanyalah lagu biasa. Ia diciptakan seniman Banyuwangi, Muhammad Arief, pada sekitar 1942. Lagu ini berkisah tentang kesengsaraan masyarakat kabupaten tersebut semasa pendudukan Jepang. Saking melaratnya masyarakat waktu itu, mereka terpaksa mengonsumsi daun genjer (Limnocharis flava), sejenis tananam pengganggu yang banyak tumbuh disungai.{Media Indonesia}
Akan tetapi, karena pemahaman sejarah kita sudah lama dan terbiasa dengan doktrin dari suharto, maka tidak heran, masyarakat solo utamanya islam yang punya cerita kelam terhadap peristiwa masa lampau merasa tersakiti.
Solo, selain menyimpan karakter yang dinamis, plural, juga meyimpan sejarah yang begitu kelam yang bisa membuat masyarakat solo sensitif terhadap peristiwa yang mengungkit sejarah kelam di masa lalunya. Begitu.

Penulis adalah mahasiswa bahasa inggris universitas muhammadiyah surakarta, alumnus LITBANG PERS FIGUR UMS

Senin, September 14, 2009


Sakralitas itu telah Usai
Oleh arif saifudin yudistira*)

Manusia adalah permasalahan begitulah kata ali shariati seorang tokoh pergerakan & intelektual iran mendiskripsikan manusia. Deskripsi ini bukan tanpa alasan, sebab kaum sebelum adam memang hanya membuat permasalahan, diantaranya membunuh dan merusak saja.
Oleh karena itu secara historisitas agama diciptakan untuk mengatasi sebuah permasalahan ini, yakni permasalahan manusia. Pergeseran dan dinamika zaman menuntut agama harus relevan dengan dialektika dan dinamika itu.
Islam adalah salah satu dari agama yang sakral dan relevan,serta berani memperbincangkan hal ini. Serta berani menguji bagaimana kemudian kitab al-qur’an relevan dengan dinamisasi dan perubahan zaman.
Melalui ibadah, perbincangan dan dialektika kesesuaian kitab dengan zaman ini di pertemukan. Ibadah merupakan sarana bagaimana kemudian agama mengatasi permasalahan tadi, salah satunya mengatasi serta mengatur manusia.
Ibadah selain merupakan sarana bagaimana seseorang yang beragama bisa berhubungan dengan Tuhannya juga merupakan manifestasi dari kepasrahan hamba pada pencipta-Nya. Hubungan intim ini merupakan suatu hal yang sangat privat. Sebab dalam ibadah hanya seorang hamba dan Khaliq lah yang tahu.
Pergeseran zaman menuntut adanya perkembangan dinamika sosial dalam kehidupan manusia modern. Pemaknaan tentang hakikat ibadah dalam keintiman dan keskralan pun kini mulai berubah.
Manusia mulai mencipta tata cara dan dunia baru dalam pemaknaan ibadah tadi. Tidak hanya itu,teknologi pun kini dicipta manusia sebagai sarana dan wahana untuk memanifestasikan hubungan intim itu.
Era cyber begitu pelak dan menawarkan alternatif solusi maupun alternatif masalah baru dalam dinamika penafsiran tentang pemaknaan ibadah tadi. Inovasi pun diciptakan manusia demi mewujudkan kepuasan dan kedekatan dalam praktek kekhusukan ibadah tadi.
Sebut saja fenomena yang lagi ngetrend saat ini. Munculnya SMS RELIGI {baca : REG spasi SHALAT, REG spasi DOA, REG spasi ADZAN,dll} dengan dalih ibadah pun menjadi mode dan model ibadah dalam konteks modernitas. Dialektika dan diskusi ini pun seperti tak pernah rampung&membingungkan.
Ibadah tidak lagi menjadi hubungan privat dan intim antara hamba dengan Khaliq akan tetapi mengalami perluasan makna dan interaksi yang tak terpisahkan pada aspek lain. Aspek bisnis, kapitalisasi,dan lain-lain.
Absurditas pun muncul dalam tanya dan dialektika zaman. Apakah ibadah bisa tercampur dengan spirit bisnis dan kapitalisasi?. Hp menjadi simbol dan sarana itu. Handphone pun seolah-olah menggantikan sakralitas itu. Hubungan ibadah bukan lagi menjadi hubungan antara manusia dengan khaliq akan tetapi berubah menjadi hubungan antara benda elektronik dengan sang khaliq.
Membaca al-kitab, melafalkan adzan, hingga do’a-do’a berubah menjadi aktifitas benda mati yang senantiasa dilakukan setiap harinya oleh benda bernama handphone. Pertanyaannya kemudian dimanakah ibadah manusia???. Apakah kemudian dengan elektronik tadi bisa menggantikan makna ibadah kita dengan sang khaliq???.

Belum lagi kemudian al-kitab yang tidak mungkin bisa memasuki toilet, dengan mudahnya bisa dibawa kemana-mana hingga sakralitas al-kitab itu pun tidak terasa lagi yang menjelma dalam benda bernama handphone.
Akhirnya sakralitas pun menjadi hal absurd di zaman modern ini. Sakralitas ini menjadi perbincangan penting bagi kita yang masih percaya akan sakralitas agama. Sebab agama tentu punya etik sendiri dalam membuat standar sakralitas tadi, tanpa mengesampinglkan peran teknologi dalam membantu dakwah manusia.
Ibadah adalah ibadah. Ibadah bukan hanya nuansa pelaksanaan kewajiban, maupun sekedar rutinitas yang kemudian digantikan dengan benda elektronik. Aktifitas adzan, aktifitas mengaji, serta aktifitas membaca do’a adalah aktifitas yang kemudian dikerjakan manusia sebagai bagian dari praktek ibadah.
Dimanakah letak sakralitas, dimanakah letak ruang prifat, dimanakah kemudian letak sebuah amal ketika tergantikan dengan benda mati???. Pun kampanye untuk menghilangkan sakralitas ibadah ini didukung dengan fihak korporasi yang begitu dahsyat.
Sebut saja salah satu iklan pada salah satu produk hape dengan konten lengkap. Adzan, tadarus , jadwal shalat, al-qur’an, serta konten do’a-doa seharian. Konten-konten itu tidak gratis, akan tetapi bayar beserta hapenya. Ibadah kemudian menjadi hal yang begitu naif dan nista seperti sebuah produk yang kemudian layak dijual{baca : komoditi}. Suara syekh dari arab pun seolah-olah menambah betapa religinya atau betapa khusuknya ibadah itu.
Padahal secara sadar atau tidak, kita sudah mereduksi, mendekonstruksi, dan merampungkan makna sakralitas ibadah itu sendiri. Manusia modern sudah usai dalam melakukan ibadah, sebab ibadah sudah tergantikan oleh makhluk lain yaitu teknologi. Sehingga makin jelas, sakralitas itu kian lama kian usai.
Sehingga efek ibadah saat ini kian tidak membekas, kian tidak bermakna, dan kian kontras dengan perilaku manusia modern. Sakralitas itu telah usai, digantikan dengan teknologi,demikian.





























Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta,

Rabu, September 09, 2009

Resensi CerPen "Tanah Tabu"


Tanah Tabu ;
Keterasingan dan Keberfihakan
Oleh Arif Saifudin yudistira*)
Tanah tabu adalah sepenggal kisah dari penulis yang terasing. Anindita memang penulis yang mencoba mengasingkan diri dari pilihan menulis. Pilihan tema yang diangkat oleh anindita memang unik dan emik.
Tanpa sengaja ia mengangkat sebuah feminisme, arti perjuangan, dan pergesekan melawan kapitalisme yang saat ini kering dalam dunia novel indonesia. Novel ini berkisah tentang orang-orang yang tinggal di tanah tabu.
Tanah tabu memang mengisahkan orang-orang yang dipinggirkan, disisihkan dan memang sengaja ditindas. Lewat alam lah mereka belajar. Dikisahkan sesosok mabel yang dengan kegigihannya melawan ketertindasan, dan si kecil leksi yang cerdas dengan rasa keingintahuannya yang dalam.
Di tangah kondisi novel kita yang kering akan novel dengan semangat keberfihakan, novel ini hadir dengan gaya bahasa lugas, tapi juga emik. Novel ini menjadi bahan refleksi sekaligus menjadi tantangan bagi dunia sastra di indonesia, bahwasannya novel ini layak mendapat tempat. Sebagai bukti novel ini menjuarai penullisan novel DKJ 2008.
Yah, novel ini pantas melengkapi rak perpustakaan anda seorang penggemar novel indonesia. Yang tidak kalah menariknya dengan novel-novel yang pernah ada. Selain dari penulis yang asing dan memilih tema yang asing pula, novel ini menjadi unggul karena bahasa yang apik dan tema keberfihakan yang mencoba diangkat oleh penulis sebagai ajakan untuk membela kaum tertindas. Selamat membaca novel ini, anda akan membuka mata anda.



*) Penulis adalah Presidium Kawah Institute Indonesia

Senin, September 07, 2009

Posting Jawa POs TentanG UMS

Jumlah Dosen dan Mahasiswa Njomplang
UMS Rekrut Tenaga Pengajar

SUKOHARJO-Pihak rektorat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kini tengah mengalami kekurangan tenaga pengajar (dosen). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) diklaim yang paling banyak membutuhkan tenaga pengajar. Kondisi ini membuat dewan perwakilan mahasiswa bereaksi.

Untuk mengantisipasinya, saat ini pihak rektorat tengah bersiap menggelar rekrutmen tenaga pengajar. "Kekurangan itu akan kami selesaikan secepatnya. Memang yang paling menonjol ada di FKIP," ujar Rektor UMS Bambang Setiadji kepada koran ini kemarin (24/8).

Pria berkacamata ini mengaku dari total 125 dosen di FKIP yang harus dipenuhi, UMS baru menyediakan 100 orang. Sisanya akan ditutup dalam beberapa bulan ke depan untuk mengajar 6 ribu mahasiswa FKIP.

Saat ini pihak kampus telah menerima 47 dosen dengan status magang. Mereka akan disaring menjadi 15 orang melalui seleksi ketat. Materi yang akan diujikan integritas, kemampuan intelektual serta keimanan dan ketakwaan. Mereka yang lolos nanti akan dikirim mengikuti pendidikan di luar negeri sebelum diangkat menjadi dosen tetap.

Penambahan jumlah dosen ini tak lain dari adanya keluhan dari dewan perwakilan mahasiswa (DPM). Mereka menilai pendaftaran calon mahasiswa baru (maru) di kampus tersebut melebihi batas kewajaran karena tak diimbangi dengan ketersediaan ruang kelas dan dosen.

Berdasar data One Day Service (ODS) hingga Selasa (18/8) jumlah pendaftar menyentuh angka 8.774. Dan yang diterima sebanyak 7.819 orang. Sementara yang melakukan registrasi 4.540 orang dan 585 calon mengundurkan diri.

Jumlah ini dianggap melebihi batas karena sebelumnya kampus hanya menargetkan menambah 4.200 mahasiswa baru. Tapi kenyataannya rektorat menambah 4.540 orang. "Itu dilema karena UMS masih menjadi pilihan. Membeludaknya mahasiswa baru membuat kami harus menambah tenaga dosen dan ruang kelas," bebernya.

Ke depan untuk mengantisipasi membeludaknya mahasiswa, UMS akan menggandeng dinas terkait serta pemerintah. Sebab membeludaknya mahasiswa justru menambah pekerjaan rumah bagi UMS. Bambang juga akan menambah jumlah kapasitas tempat parkir. Menurut rencana areal parkir di kampus I akan dibuat bertingkat supaya mampu menampung lebih banyak kendaraan. "Tahun ini akan kami bangun dan sekarang sedang kami desain," bebernya.

Sementara itu, Ketua DPM UMS Arif Saifudin Yudistira mengaku, tak seimbangnya jumlah dosen dan mahasiswa sangat terlihat di FKIP. Pada program studi (progdi) Biologi dan Matematika, kata dia, rasio dosen dan mahasiswa mencapai 1 : 100. Sementara pada progdi Pendidikan Guru SD (PGSD) perbandingannya adalah 1: 50, begitu pun pada Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK). Padahal idealnya rasio dosen dan mahasiswa bidang IPA adalah 1:20, sedangkan bidang IPS adalah 1 : 30. "Kalau sarana prasana tak dipenuhi, pembelajaran tak efektif. Padahal mahasiswa sudah membayar sesuai ketentuan," paparnya.

Pihaknya juga menyoal ketersediaan lahan parkir yang tak kunjung diakomodasi. Mahasiswa terpaksa memanfaatkan taman untuk lokasinya. Tuntutan itu pernah diajukan ke universitas pada 5 Agustus, berupa pernyataan sikap DPM tentang perlunya perhatian khusus kampus terhadap penerimaan maru.(im/nan)

Bias GEnder Bahasa Indonesia Perspektif Semiotik

Oleh Arif Saifudin y*)
Kata dalam bahasa indonesia memang terdiri dari berbagai macam sumber yang melatarbelakanginya. Bisa dari latar belakang bahasa melayu sendiri, atau kemudian serapan dari bahasa asing. Dari berbagai kata-kata dalam bahasa indonesia, kita memang sering kali menemukan kata-kata yang sering kali dalam ”penafsiran” lebih mengandung makna secara tersembunyi lebih menekankan kaum pria sebagai ”penguasa” makna itu sendiri.
Kata-kata seperti ini sering kita gunakan dan sering kita kurang menyadari ada semacam bias gender kalau kita tinjau dalam pendekatan semiotik. Misalnya kata-kata seperti ilmuwan, kemudian sejarawan,seniman.
Kata-kata seperti tadi secara tidak sadar adalah merupakan bias gender dalam bahasa kita. ada ilmuwan, kenapa tidak ada kata ilmuwati, kemudian ada sejarawan tidak ada sejarawati. Juga pada kata seniman tidak ada seniwati.
Yah, inilah beberapa kata dalam bahasa kita yang merupakan bias gender. Namun apakah masalah bias gender ini sudah memang berasal dari aspek historis, ataukah sosiologis, juga konsensus dari dulu, atau memang ini ada pengaruh dari fihak bangsa asing(penjajah) yang mempengaruhinya.
Pertanyaan tersebut bisa kita ketahui lebih lanjut bila kita membaca tanda kata-kata tersebut terlebih dahulu barulah kita memulai untuk mencoba mengupas dari aspek yang lain. Semiotik hanya merupakan salah satu pendekatan saja yang bisa membantu menemukan dan mengkaji lebih dalam makna dan latar belakang sastra itu ada.
Penulis adalah Mahasiswa Semester 6 Bahasa Inggris UMS

Kamis, September 03, 2009

"DekonsTruksi Nilai & Matinya Makna pada Dunia Cyber"1

Oleh Arif Saifudin Yudistira*2)

Diskursus dan kajian ilmu komunikasi khususnya pada studi media memang belum begitu lama, akan tetapi perkembangan kajian ini sudah cukup meluas di era saat ini. Kajian tentang ilmu komunikasi dan media saat ini pun melahirkan kajian cultur studies*3).
Bicara tentang kajian media tidak bisa kita melepaskan dari bicara ilmu penanda. Perlu kita ketahui, media selain merupakan produk budaya modernitas, juga bisa menghasilkan pola budaya baru yang sering disebut culture studies.
Untuk memudahkan pemahaman kita tentang lingkup kajian budaya atau culture studies ini tidak mudah. Sebab lingkup kajian ini begitu luas dan tak terbatas{sulit menentukan batas tersebut}.
Facebook, friendster, blog, dan lain-lain hanya sebagian dari fenomena dunia cyber yang merupakan lingkup kecil kajian ini. Keadaan ini digambarkan dengan unik oleh Umberto Eco*4) : ”Disneyland lebih hiperrealistik ketimbang museum lilin, disebabkan museum lilim masih mencoba meyakinkan kita bahwa apa yang kita lihat merupakan reproduksi absolut realitas. Semntara disneyland menjelaskan pada kita bahwa di dalam ruangan yang mencengangkan itu, merupakan fantasi yang secara absolut direproduksi”
Dari pernyataan umberto eco diatas jelas, bahwasannya dunia cyber justru lebih menampakkan pada fantasi yang direproduksi. Sama halnya dengan friendster jadi facebook, kemudian blog jadi twitter atau multiply, dan lain sebagainya. Secara jujur perlu dijelaskan bahwasannya facebook, blog, serta maya lainnya benar-benar mengaburkan bahkan sampai mendekonstruksi pada apa yang disebut nilai.
Sebut saja kasus prita yang menjadikan pelajaran buat kita akan pendekonstruksian nilai-nilai tersebut. Di dalam facebook kita akan melihat berbagai nilai semu yang coba diciptakan atau dipersepsikan orang untuk mengekspresikan dirinya.
Selain itu, pada dunia cyber ini mengakibatkan matinya makna. Akan sulit kita melacak seseorang dalam maya, akan sulit menentukan standar moral, akansulit menentukan pola persahabatan dalam ruang virtual dan semu ini.
Imagi dan mimpi yang dicitrakan melalui facebook begitu lengkap,sehingga dunia ini seperti tidak lepas dari kehidupan kita. Citra semu yang mencoba dibangun ini akan sangat menentukan perilaku orang untuk senatiasa berlomba-lomba menjadi artis dalam realita semu.
Yah, Memang pada akhirnya kita sendiri yang akan menentukan bagaimana imagi-imagi ini tidak meringkus kita, membius, bahkan memperbudak kita, tapi kita yang menjadi tuan terhadap ”makhluk ”ini. Demikian.

Keterangan :
1)Disampaikan dalam diskusi dan bedah buku bahaya facebook di LPM BALANCE EKONOMI
2)Penulis adalah alumnus litbang Pers UMS
3)Simon during : ”studi budaya tentu merupakan berbagai komponen dan studi tentang budaya kontemporer”
4) Umberto Eco adalah pakar semiotika dari Italia.

Sabtu, Agustus 29, 2009

***PasaR RamadHan***



Oleh Arif Saifudin yudistira*)

Ramadhan memang dikenal sebagai bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan. Puasa merupakan ritual yang beriringan dengannya. Semua umat islam gembira menyambut bulan ini. Suasana masjid pun seperti disulap dengan penuhnya jamaah yang hadir disana.
Beragam produk pun juga menyambut bulan ini. Mulai dari produk makanan, minuman kesehatan, kemudian obat-obatan seperti tak mau kalah mengucapkan ” selamat menjalankan ibadah puasa”. Begitupun mall-mall juga menyambut dengan diskon habis-habisan.
Tak hanya itu, stasiun televisi beserta sponsorsipnya dadakan menggelar acara dan kuis besar-besaran untuk memeriahkan bulan ramadhan ini. Ramadhan pun tampak begitu meriah dan terasa “wow”. Kita pun ikut asyik dalam ramainya “pasar ramadhan” ini.
fenomena ini memang sering dan bahkan menjadi rutinitas dalam menyambut bulan ramadhan. Sepintas tidak ada yang salah dengan semua ini.kan tetapi, bulan sakral ini alangkah lebih bijaknya jika disambut bukan hanya dengan kemeriahan semu, tetapi juga dengan kebesaran hati kita masing-masing untuk senantiasa mendidik hati kita untuk menjadi manusia yang taqwa.
Bukan hanya hanyut dalam pola konsumtif yang tinggi, tetapi juga pola ibadah dan ritual yang meningkat sehingga pasca ramadhan kita bisa menjaga kualitas ibadah kita.

Kecerdikan para pemodal memang begitu luar biasa menawarkan beragam produknya dibungkus dan dibalut dengan diskon besar-besaran serta nuansa islami. Akan tetapi tidak harus kita ikut hanyut dalam pola konsumtif yang tinggi tadi. Puasa mengajarkan kita akan pentingnya menahan nafsu kita bukan mengumbar nafsu kita.
Kondisi ini saya beri nama “pasar ramadhan” karena memang hanya ada di dalam bulan ramadhan. Penawaran yang begitu besar, juga diiringi dengan permintaan yang begitu besar pula. bahkan permintaan tak sebanding dengan penawaran. Sehingga tidak heran, pola konsumtif di bulan ini melebihi bulan-bulan biasanya meskipun di bulan puasa.
Pasar merupakan kata atau tempat yang dalam islam dibenci Tuhan. Tentu akan menjadi sangat tidak pas ketika kata ”pasar” ini disandingkan dengan kata ramadhan yang dicintai Tuhan.
Sudah selayaknya ramadhan tidak dikotori dengan budaya boros. Sebab budaya boros itu merupakan kebiasaan yang ada di pasar, dan tentu kita harus bersama-sama menjaga nafsu kita agar senantiasa puasa kita makin berisi, meskipun tawaran iklan yang begitu menggoda dengan berbagai balutannya menghujam di media kita setiap harinya.
Obral pahala, serta obral rejeki, obral lain yang diberikan Tuhan hendaknya lebih kita dahulukan, daripada mengejar obral dan diskon khusus ramadhan yang berakibat pada pola konsumtif yang tinggi sehingga tidak sesuai dengan spirit puasa dan spirit ramadhan ini.

Penulis adalah Mahasiswa UMS,

Jumat, Agustus 21, 2009

SIPA buktikan Solo Sebagai Kota Budaya
Oleh Arif Saifudin yudistira*)
Sepertinya tekad solo untuk mewujudkan Solo sebagai kota budaya tidak hanya cukup sebagai slogan dan ucapan. When the world need harmony, art is answer. Yah ketika dunia membutuhkan harmony seni adalah jawabannya. Melalui SIPA {Solo International Performance Art} inilah tekad walikota solo Joko widodo dan rakyat solo membuktikan tekadnya.
Harmoni memang bagian dari seni. Harmoni inilah yang mencoba ditampilkan dalam SIPA. Ada salah satu pertunjukan yang menarik dari SIPA ini. Salah satunya group dance dari korea yang sebagian besar anak-anak menyanyikan lagu sang maestro “bengawan solo”. Ini menunjukkan bahwa budaya solo juga bisa bersanding dengan budaya internasional dalam spirit SIPA.
Selain itu, SIPA yang pertama ini membuktikan bahwa antusiasme warga solo dalam meruwat budayanya. Ketertarikan, rasa simpatik, kemudian pengapresiasian budaya solo bisa berawal dari sini. Memang membangkitkan gairah minat dan kecintaan terhadap budaya kepada pemuda solo rasanya perlu persepsi dulu bersifat internasional baru para pemuda-pemudinya tertarik untuk mengikuti dan menikmatinya.
Hal ini terbukti ketika pertunjukan biasanya penontonnya tidak sebesar di SIPA. SIPA membuktikan dengan “panggung yang opo anane, tapi ugo ora kalah karo liyane tingkat internasional”begitulah ungkap Slamet gundono yang menutup pertunjukan SIPA kali pertama ini.
SIPA yang diadakan mulai dari tanggal 7-10 Agustus 2009 ini sekali lagi membuktikan pada dunia bahwa Solo layak menyandang gelar sebagai kota budaya seperti yang dikatakan waljinah juga dalam cuplikan komentar para seniman akan SIPA.
Yah, SIPA merupakan awal bukan yang terakhir untuk menggairahkan dan mengajak selalu muda-mudi Solo untuk selalu melestarikan dan mencintainya. Terbukti budaya Jawa sebagai budaya Solo akan tetap menampilkan keindahan, harmoni, dan kepuasan hati bagi semua penikmat seni, baik bagi masyarakat solo maupun masyarakat internasional.
Selain itu, SIPA juga bisa meningkatkan partisipasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, karena dengan adanya SIPA, hotel-hotel, rumah makan, tukang parkir, abang becak, sampai penjual tahu bisa merasakan manfaatnya.
Selamat dan sukses atas diselenggarakannya SIPA yang pertama kalinya, Semoga SIPA-SIPA berikutnya juga akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati masyarakat Solo dan masyarakat internasional pada umumnya. SIPA JOSSS---
PEnulis adalah PEni’mat Seni, belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Selasa, Agustus 18, 2009

Jumlah mahasiswa dinilai tak sebanding jumlah dosen
UMS diminta batasi Maru


Solo (Espos) Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menuntut pembatasan jumlah mahasiswa baru (Maru). Pasalnya, jumlah mahasiswa dinilai tidak sebanding dengan jumlah dosen maupun fasilitas yang ada.


Demikian diungkapkan Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UMS, Arif Saifudin Yudistira saat ditemui wartawan di Kantor DPM UMS, Selasa (18/8). Dalam kesempatan itu, Arif mengatakan, berdasarkan data jumlah mahasiswa baru yang diterimanya, Sabtu (15/8), jumlah resmi mahasiswa baru mencapai 4.532.

Menurutnya, jumlah itu berdasarkan calon mahasiswa yang sudah melakukan registrasi masuk dari total 7.188 calon mahasiswa yang dinyatakan diterima. Padahal, hingga kini UMS masih membuka pendaftaran gelombang III pada tanggal 22 Agustus mendatang.
Ia menilai, penerimaan mahasiswa baru itu tidak realistis dengan jumlah tenaga dosen maupun jumlah sarana dan prasarana. ”Idealnya rasio jumlah dosen dan mahasiswa itu 1:20. Akan tetapi, di UMS rata-rata rasionya mencapai 1:50. Bahkan, untuk Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi rasionya mencapai 1:100. Kalau seperti itu kan berakibat kepada efektivitas pembelajaran,” papar Arif.

Arif melanjutkan, jumlah mahasiswa UMS juga tidak sebanding dengan jumlah fasilitas ruang kuliah. Menurutnya, keterbatasan ruang kelas membuat pembelajaran terpaksa dilakukan di masjid kampus. Sementara, ketika ujian semester berlangsung terpaksa menggunakan ruang sidang dosen sebagai tempat ujian. Bahkan, kondisi lahan parkir UMS dinilainya tidak sanggup lagi menampung jumlah kendaraan milik mahasiswa. Dalam hal ini, ia mempertanyakan transparansi dana pengembangan kampus yang dibebankan kepada mahasiswa baru setiap tahunnya. ”Dana pengembangan setiap tahun naik 10%. Akan tetapi, selama tiga tahun saya menjadi mahasiswa UMS, belum ada penambahan pembangunan gedung untuk ruang kuliah,” tandas Arif.

Sementara itu, Kepala Humas UMS, Agus Mulyanto mengatakan sebenarnya pada tahun ini pihak pengelola sudah berupaya menekan jumlah mahasiswa baru. Menurutnya, jumlah mahasiswa baru yang diterima UMS pada tahun ini tidak akan melebih jumlah yang diterima pada tahun lalu yakni mencapai hampir 5.000 orang. Ia menilai, jumlah mahasiswa baru masih sebanding dengan jumlah mahasiswa yang lulus setiap tahunnya.

Belum ideal

”Permintaan masyarakat sangat kuat. Jadi, kami berupaya mengakomodasi animo dari masyarakat yang tinggi,” tuturnya.

Di sisi lain, pihaknya mengakui rasio jumlah dosen di UMS belum ideal. Hal itu tampak dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Menurutnya, diperlukan sebuah solusi untuk memecahkan persoalan itu secara bersama-sama. Saat ditanya mengenai alokasi biaya pengembangan per tahun, ia menjawab biaya pengembangan sementara ini lebih banyak dialokasikan di bidang operasional. ”Kami belum merencanakan untuk membangun gedung lagi. Biaya pengembangan itu lebih digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional seperti pemenuhan kesejahteraan dosen, penambahan sarana, dan lain sebagainya,” tandas Agus. - Oleh : Moh Khodiq Duhri

Selasa, Agustus 11, 2009

"Narasi Dalam Dunia Imaginasi"



Oleh Arif saifudin yudistira*)

Pelan tapi pasti sekat imaginer itu kian lama kian luluh dan melebur menyatu dalam kehidupan kita. Pagi kita disuguhi dengan berbagai tayangan intertaint lengkap dengan kemasan berbeda-beda mulai dari gossip sampai pentas musik.
Pendongeng itu pun mulai mendongeng berbagai macam narasi dan mimpi-mimpi. Imagi yang melanakan ini dinikmati dari kalangan anak-anak sampai kalangan dewasa. Kita pun enyah meninggalkan kebiasaan mendengarkan dongengan ini sampai tak terasa kalau itu hanya dongengan.
Kita pun seakan tak kuat menghadapi dekapan dunia dibalik layar itu. Dari pagi kemudian siang,malam seakan kita tidak bisa melepaskan makhluk ini, televisi. Kita pun mulai lupa dengan orang-orang di sekeliling kita. Kita lebih intim bercanda, tertawa, menangis dengan makhluk televisi ini.
Perlahan tapi pasti dunia imaginasi ini memperbudak kita dengan gaya paling gaul,ngetrend, bahkan ”modern” . Tanpa sadar pun kita mengikuti pelan-pelan gaya, budaya, serta apa yang ada di televisi tersebut.
Pertanyaannya kemudian adakah budaya lokal? Adakah kemudian citra diri?adakah nilai otentik dari nilai budaya kita?. Yah, hilang tak terasa, tanpa sadar kita sudah dibius selama bertahun-tahun dalam hubungan intim dengan makhluk televisi ini.


Maka tidak heran banyak kasus kriminal, kemudian kasus asusila juga berawal melalui televisi ini. Berbagai mimpi, imaginasi, bahkan bualan-bualan mewarnai dunia kita setiap harinya dengan genit marayu mata, otak, bahkan hati kita untuk menyaksikannya.
Pun kita tak merasa bosan dengan apa yang disuguhkan, akhirnya kita buta melihat realita. Intuisi kita pun serasa lenyap, nilai-nilai yang ada berubah menjadi standar dalam kekaburan.
Dari fenomena ini, tak banyak orang bereaksi. Mulai sedikit-sedikit kekhawatiran ini pun dirasakan oleh beberapa kalangan. Berbagai seminar, diskusi, dan talk show pun mulai marak. Akan tetapi justru penikmat televisi pun bertambah banyak. Degadrasi bangsa bisa berawal dari sana, sedikit kemajuan bangsa juga bisa dimulai dari sini.
Dunia sudah mulai bertanya dan menggugat adanya efek mematikan ini. Dunia lain juga berteriak asyik menikmati sajian di dalamnya dan makin tak bisa lepas darinya[baca televisi].
Memang pada akhirnya kita sendiri yang akan menentukan bagaimana imagi-imagi ini tidak meringkus kita, membius, bahkan memperbudak kita, tapi kita yang menjadi tuan terhadap ”makhluk ”ini. Demikian.









Penulis adalah Mahasiswa bahasa inggris universitas Muhammadiyah Surakarta

Rabu, Juli 29, 2009

SOLO POS 2009 rubrik bahsa kita

Edisi : Kamis, 30 Juli 2009 , Hal.XII

Otoritas makna kata dalam bahasa Indonesia
Oleh Arif Saifudin Yudistira


.   Bahasa sebagai struktur dan sistem begitulah kata seorang ahli linguistik Ferdinand de Saussure. Bahasa sebagai sistem dimaknai sebagai struktur karena ia berada pada lingkup kajian yang tidak terlepas dengan sistem dan struktur di sekitarnya.


Bisa kita lihat pengaruh sosiologis, antropologis, maupun historisitas yang kemudian mempengaruhi otoritas makna dalam bahasa itu sendiri. Bahasa merupakan bagian dari wacana yang begitu kompleks.
Otoritas makna dalam bahasa yang saya maksud khusus membincangkan pada bagaimana makna itu memiliki otoritas dalam lingkup bahasa. Banyak kita temui contoh yang ada di sekitar kita. Misal kata ”kepala”. Kata kepala memiliki otoritas makna sesuai dengan pemakaiannya.

Kata kepala bisa dimaknai sebagai ketua atau pimpinan, pada satu sisi, akan tetapi juga bisa dimaknai sebagai ”bagian anggota tubuh” jika ditempatkan pada konteks yang lain. Juga sama dengan kata ”bisa”. Kata ”bisa” dapat dimaknai sebagai ”dapat melakukan sesuatu” akan tetapi juga bisa dimaknai sebagai ”racun” ular.

Dialek
Otoritas seperti ini tidak terlepas dari teori Roman Jacobson yang membagi unsur bahasa menjadi pembicara, pendengar, dan pesan, ada juga kode, kontak, dan konteks. Lebih lanjut Paul Richoer juga mengatakan; ”bahasa memiliki referensi hanya bila ia digunakan”.

Oleh karena itu, setiap kata memiliki otoritas makna tergantung dalam posisi mana dia ditempatkan. Inilah yang kemudian menyebabkan bahasa menjadi berkembang sesuai dengan tempat, atau faktor lain.
Misalnya sama-sama merupakan satu jenis bahasa Jawa, dialek dan makna katanya pun sering kali kita menemukan perbedaan di sana. Dengan demikian, setiap kata, akan memiliki otoritas makna dalam posisi di mana ia ditempatkan. Demikian. - Oleh : .Arif Saifudin Yudistira

Senin, Juli 13, 2009

Koperasi PEmuda InDoneSia????

Pemimpin Baru, Sikap dan Haluan Barukah???
Oleh Arif Saifudin Yudistira*)

Setelah RAT ke XXVIII pada tanggal 28-30 juni 2009 yang baru berakhir di Lampung. Akhirnya KOPINDO{Koperasi Pemuda Indonesia} mengambil langkah baru dan haluan baru untuk arah koperasi ke depan dan masa depan koperasi indonesia.
Para anggota bersemangat untuk menyepakati pemberhentian pengurus pada periode 2008-2011 yang dinilai anggota memihak pada kepentingan politik sehingga dinilai merugikan dan membawa keburukan pada KOPINDO begitulah kesimpulan sementara yang diambil anggota dari seluruh perwakilan se-indonesia.
Ada semacam kejenuhan anggota yang sampai saat ini belum merasakan perubahan di tubuh KOPINDO dan dirasakan belum ada sebuah pengaruh akan adanya KOPINDO ini. Anggota memandang bahwasannya KOPINDO saat ini belum bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi anggota.
Misi pencerdasan dan pendidikan kepada anggota juga dinilai bagian dari evaluasi yang dianggap menjadi penyebab kurang berartinya KOPINDO dimata anggotanya. Respon dan kritisisme para anggota kita hargai bersama sebagai suatu upaya pengembangan insan koperasi indonesia.
Akan tetapi nuansa politis lagi-lagi mewarnai adanya RAT KOPINDO ke XXVIII ini. Susah kita menggunakan nurani sepertinya dalam forum RAT kali ini. Munkinkah ada perubahan dalam KOPINDO kali ini. Itu pertanyaan mendasar yang perlu kita pertanyakan untuk kemajuan KOPINDO.
Ada beberapa pertanyaan yang kemudian bisa kita ajukan untuk membantu menjawab pertanyaan bisakah pemimpin baru membawa harapan baru bagi koperasi tumpuan pemuda ini.
Pertama, bagaimana kemudian komitmen nahkoda baru kita?. Kedua, Bagaimana kemudian sinergi yang belum terbangun antara pengurus dengan anggota bisa lebih baik?. Terakhir kedewasaan anggota dan kita semua.
Mari kita analisa, pertama komitmen nahkoda kita yang baru. Jelas seperti yang dikatakan dalam penyampaian visi-misi bahwa Muhammad Mujayin berjanji bahwa KOPINDO akan lebih konsen pada kesejahteraan dan pendidikan anggota bukan pada kepentingan politik, sehingga komitmen ini perlu kita kawal dan awasi bersama.
Kedua, Sinergi antara pengurus dan anggota. Masalah yang dipandang krusial dan perlu diobati adalah satu ini. Belum ada sinergisitas antara anggota dan pengurus dalam tubuh KOPINDO sehingga yang kemudian merasa memiliki hanya pengurus dan pengawas, anggota hanya dipandang sebagai penyetor simpanan saja, begitulah kiranya analisa selama ini yang ada pada tubuh KOPINDO. Ini perlu dibenahi kalau KOPINDO mau maju dan lebih baik.
Terakhir, kedewasaan anggota dan kita semua. Pelajaran kasus NH dan AS cukup menjadi pelajaran bahwa Kopindo perlu konsentrasi pada tubuhnya sendiri. Akan tetapi sikap pendewasaan kita dalam mengambil keputusan dan penyikapan ini perlu kita lakukan. Bagaimana kemudian anggota kedepan perlu hati-hati dan mengawal setiap permasalahan yang ada di KOPINDO serta tidak terburu-buru menilai adanya pengambilan keputusan dalam kebijakan yang menyangkut KOPINDO.
Di sisi lain, pengurus hendaknya juga perlu komunikasi intensif dengan anggota sehingga apa yang diambil pengurus adalah yang terbaik dari representasi anggota sehingga pengurusan tahun ini lebih kuat karena dukungan anggota dan tidak ada lagi nuansa politis yang kemudian pro terhadap kepentingan sesaat.Semoga harapan ini benar-benar terwujud dalam kepengurusan tahun depan atas dukungan dan kerjasama kita semua.


Penulis adalah PRESIDIUM SIDANG NASIONAL RAT KOPINDO XXVIII
belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rabu, Juli 01, 2009


Perubahan itu Bemula dari Sini…

Semangat perubahan akan ada dalam orang yang memerlukan dan menginginkan perubahan itu ada. Jargon Perubahan muncul bukan tanpa sebab tentunya. Perubahan itu ada karena adanya suatu hal yang membuat orang ingin melakukan perubahan.
Kondisi permasalahan yang akut tentunya. Kawah Institute begitulah kiranya sebuah wadah yang berusaha menginginkan perubahan lewat goresan pena. Pena kami meyakini bahwa pena merupakan salah satu perangkat perubahan sebagaimana symbol dalam seragam IMM yang saya pakai ini.
Semangat tidak akan pernah ada pula tanpa kemudian dituliskan bagaimana perubahan harus kita wujudkan dalam ikatan dan kebersamaan tanpa kemudian memandang symbol dan warna semangat itu. Akan tetapi memandang bagaimana kemudian perubahan itu bisa kita wujudkan.
Partisipasi para anggota dan masyrakat semua itu yang kemudian menjadi harapan besar kita semua. Oleh karena itu, mari kita wujudkan perubahan itu dengan berbagi ide, konsep, argument dan apapun itu untuk mewujudkan perubahan itu.
Terimakasih terhadap semua anggota yang telah bergabung dalam grup ini dan mempunyai niatan bareng untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik untuk bangsa dab Negara kita. Semoga perubahan itu terwujud dengan tangan kita semua dengan kebersamaan dan kekeluargaan. Terimakasih dan salam perubahan.





Tertanda Presidium Kawah Institute Indonesia



Arif saifudin yudistira

Selasa, Juni 30, 2009

Masa Depan Koalisi Kita"

Oleh Arif Saifudin Yudistira*)
Atas nama rakyat, begitulah katanya koalisi dibentuk. Lalu rakyat yang manakah yang kemudian diatasnamakan tersebut?. Ketika jumlah para pemilih dengan yang golput banyak yang golput?. MEmang idealnya sistem kepartaian itu mewakili kepentingan rakyat, akan tetapi yang terjadi selama ini, sistem kepartaian hanya mewakili golongan elite-elite partai saja.
KEnapa demikian? Sistem partai kita membuka peluang untuk demikian. Kaderisasi partai idealnya berjalan selama tiga tahun sehingga waktu setelah tiga tahun itu, para kader partai siap untuk melanjutkan estafet partai serta visi-misinya. Akan tetapi yang terjadi justru lain, partai hanya terlihat punya gawe ketika mau pemilu saja, nampanglah dari partai A sampai Z, dengan berbagai jurusnya.
Ada yang kemudian bagi-bagi sembako, dengan sasaran wong cilik. Ada juga yang menawarkan pendidikan gratis, ada yang membuka lowongan kerja kontrak, ada yang klaim program pemerintah misalnya dengan mengklaim program budidaya ternak,dengan mengajukan proposal kepada pemerintah atas nama partai, dan lain-lain.
Sehingga tidak heran, yang kemudian terjadi hanya program partai sesaat, alias menjelang pemilu saja. Sedangkan visi-misi partai atau yang sering dinamakan visi-misi kerakyatan seakan tidak ada sama sekali. Ini yang kemudian sulit kita terima.
Maka yang terjadi rakyat pun pesimis, sehingga menimbulkan mental yang tidak bagus, hingga terjebak pada money politics. “Sudahlah terima saja, daripada gak milih, mendingan milih yang ada uangnya”.
Sikap seperti ini tidak bisa dilimpahkan pada rakyat sepenuhnya, akan tetapi partailah yang sebenarnya membangun mental seperti ini. Oleh karena itu, demokrasi kita seringkali dicap sebagai demokrasi atau politik dagang sapi.
Maka lobi-lobi yang terjadi antara partai yang menang kemudian, hanya lobi-lobi kekuasaan. Bukan lobi-lobi program yang jitu untuk mengentaskan bangsa dari keterpurukan.
Bisa kita lihat bersama prosesi koalisi elit-elit partai kita. Dengan tiba-tiba partai yang menentang mau lepas dari koalisi partai dempkrat, tiba-tiba diam seperti tiada suara setelah SBY benar-benar menetapkan budiono sebagai cawapres.
Aneh, baru saja partai-partai mitra koalisi menentang dengan keras cawapres penganut neolib yang kebetulan bukan dari parpol, tiba-tiba saja menyepakati dengan alasan tahun depan kita butuh ekonom kuat dan pengalaman untuk menuntaskan permasalahan ekonomi bangsa. Yah, maka tidak heran, rakyat pun bingung, yang sebenarnya benar yang mana?. Yang mana yang membawa kepentingan rakyat?.
Jargon-jargonnya pun seperti miskin visi, “lanjutkan, lebih cepat lebih baik, “pro wong cilik”. Rakyat pun kemudian fasih untuk mengucapkan saja, akan tetapi tidak mengerti apa sebetulnya yang dimaksudkan dengan lanjutkan, lebih cepat apanya?, lalu wong cilik yang mana?. Demikian yang menjadi pertanyaan rakyat kita.
Serba Dilematis
Jelas, rakyat serba dilematis antara memilih atau tidak memilih. Ketika tidak memilih, satu-satunya jalan untuk kemudian menjalankan pemerintahan ke depan adalah melalui pemilu, akan tetapi pemilu telah dikotori dengan berbagai permasalahannya dan para pemimpinnya miskin visi misi .
Akan tetapi kalau memilih, maka jawaban yang sebenarnya adalah belum ada pilihan yang kiranya membawa rakyat kepada visi-misi kerakyatan yang membangun dan menyelesaikan persoalan bangsa. Yang ada justru tarik-menarik dan lobi-lobi kepentingan.
Di sisi lain, pemerintah saat ini sudah benar-benar tidak mau lagi campur tangan lagi dengan ekonomi kita. Terbukti dengan menyepakati butir-butir kesepakatan dalam G-20 yang salah satu poinnya, menghapus proteksionisme.
Dengan kata lain ekonomi kita mau-tidak mau sudah dibawa kepada ekonomi liberal, yang jauh tentunya dengan ekonomi kerakyatan. Padahal ketika kita menganut ekonomi kerakyatan, pemerintah wajib untuk mengelola sumber-sumber daya ekonomi digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Undang-Undang yang ada pun begitu membingungkan, adanya UU penanaman modal, UU migas,dan UU MINERBA, justru pro terhadap kepentingan pemodal, pro terhadap neolib. Dalih yang digunakan pun cukup membuat dahi kita berkerut, dengan alasan bila diprivatisasi, bila diswastanisasi, akan lebih transparan, akan mengurangi korupsi,dan lain-lain.
Bagaimana nasib Indonesia ke depan adalah bagaimana kemudian pemilu bisa kita harapkan sebagai sarana untuk memilih pemimpin yang benar-benar mengaspirasikan suara rakyat, ketika ini belum bisa, maka alternatif terakhir adalah gerakan kerakyatan yang kemudian menjadi tawaran untuk mewujudkan kembali Indonesia yang lebih baik. Semoga.

*) PEnulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta fakultas bahasa inggris semester 06, Presidium Kawah Institute

Selasa, Juni 23, 2009

Meruwat Wisata BukitTumpanG

Meruwat Taman Wisata Bukit Tumpang
Oleh Arif Saifudin yudistira*)

Kota klaten mempunyai cukup banyak tempat wisata. Beberapa diantaranya ada yang sudah tenar, akan tetapi ada juga yang kurang tenar, tapi ramai dikunjungi oleh banyak orang. Rawa jombor, kemudian makam sunan bayat, taman pemancingan janti, serta Pabrik tembikar di bayat.
Tempat-tempat tersebut akan mampu menjadi ikon klaten, dan menjadikan klaten lebih maju dalam bidang pariwisataan jika memang diruwat dengan baik. Dalam meruwat tempat wisata tentu tidak hanya kemudian memanfaatkan obyek wisata tersebut, akan tetapi juga bagaimana tempat wisata tersebut menjadi tambah menarik, tambah di minati, tambah bersih, dan tambah sempurna di segala hal.
Kota klaten merupakan kota yang memegang posisi strategis, sehingga merupakan keuntungan secara geografis tersendiri baginya untuk memanfaatkan obyek-obyek wisatanya. Sayang, perhatian dinas kepariwisataan menurut saya kurang memperhatikan potensi pariwisata yang ramai dikunjungi hanya saja kurang tenar.
Sama saja dengan obyek makam sunan bayat yang ada di bayat, ketika tidak ada perhatian yang mendalam, maka lama-kelamaan akan tidak lagi diminati. Seperti halnya obyek wisata makam sunan bayat, Obyek wisata taman bukit tumpang yang ada di gantiwarno, akan kian lapuk, kotor, dan semakin ditinggalkan.
Akan tetapi, berbeda ketika obyek wisata tersebut diberi dengan sedikit polesan, maka akan semakin tertarik orang berkunjung kesana, ditambah dengan hiburan rakyat ketoprakan atau campur sarinan yang diminati anak muda, dengan demikian, selain akan meningkatkan taraf hidup warga disekitarnya, juga akan menambah penghasilan bagi pemerintahan kota.
Sehingga dengan lebih memperhatikan obyek wisata tersebut, selain menjaga alam dari kerusakan, tapi juga memanfaatkannya menjadi daerah yang bisa mengangkat jati diri kota klaten dan meningkatkan kesejahteraan warganya.





___________________________________________________________________________________
Penulis adalah alumnus PD IPM Klaten,belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Prita...Oh Prita

Email & Hukum
Oleh Arif Saifudin yudistira*)

Pesatnya perkembangan dunia teknologi kita menimbulkan kemudahan dan membantu manusia di berbagai sisi. Akan tetapi, berkembangnya teknologi juga menimbulkan dampak yang kurang baik pada manusia seperti halnya yang dialami oleh Prita mayasari.
Meskipun hanya berawal dari sebuah email pribadi yang disampaikan ke teman-temannya, akses data pada dunia maya memang memungkinkan siapapun untuk mengakses data oleh dan dari siapapun itu.salah satunya pada email.
Saat ini kita memang mengalami dunia post realitas. Setiap manusia memang pada hakekatnya memiliki sikap yang sama pada pemenuhan libido. Sedangkan saat ini, pemenuhan akan kebutuhan tersebut seperti sudah tersedia pada semua sisi.
Maka kemudian orang terjebak pada sebuah persepsi-persepsi atau pencitraan-pencitraan. Dunia maya adalah salah satu wujud hal itu. Di dunia maya memang kita bisa bebas berekspresi sebebas-bebasnya untuk melakukan pencitraan tadi.
Dalam dunia maya memang juga membuka peluang untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Memang dunia lain ini hanya memiliki sekat yang sempit dengan dunia nyata kita.
Email merupakan salah satu produk yang ada pada dunia maya itu. Saat ini email sudah menjadi salah satu sarana buat semua orang untuk semakin memudahkan manusia, tidak kalah juga media massa juga memanfaatkan teknologi ini untuk berhubungan dengan pembacanya.
Prita mayasari mungkin tidak mengira keluhannya kini menjadi santapan publik yang kini justru menjeratnya. Kasus ini memang menimbulkan banyak perspektif dan penafsiran banyak orang. Media juga berperan dalam membangun opini yang mencerdaskan.
Secara sosiologis kita memang dikejutkan oleh model proses yang kurang mencoba melihat kasus ini secara holistic. Pada satu sisi kita dihadapkan pada Prita yang berhak memperoleh hak-haknya sebagai konsumen, akan tetapi kita juga melihat kepentingan Rumah sakit Omni.
Awalnya Prita memang dijerat pasal 310 dan 311 KUHP karena tuduhan pencemaran nama baik menyebarkan keluhannya terhadap pelayanan rumah sakit omni, yang fihak rumah sakit merasa keluhan tersebut tidak benar. kan tetapi pada persidangan prita tiba-tiba juga dijerat dengan pasal 27 undang-Undang ITE(informasi dan transaksi teknologi).
Jaksa Agung Hendarman Supandji pun menilai bahwasanya jaksa tidak professional, dan ada kemungkinan penindakan terhadap jaksa yang menambahkan pasal-pasal yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kasus prita.SBY pun menyarankan terhadap aparat penegak hukum untuk menggunakan rasa nurani dan keadilan agar keduanya bisa seimbang.
Kasus Prita ini memberikan gambaran kepada kita bahwasannya email maupun fasilitas yang ada pada dunia maya yang lain bisa mengakibatkan masalah ketika kita tidak bijak dalam memanfaatkannya. Akan tetapi juga memberikan pelajaran kepada kita, bahwasannya masyarakat kita masih takut menyampaikan kritik secara terbuka demi kemaslahatan bersama.
Kita sama-sama menunggu perkembangan kasus Prita ini, apakah hukum bisa ditegakkan dengan tidak hanya mempertimbangkan keadilan procedural dan normative, akan tetapi juga mempertimbangkan rasa nurani dan kemanusiaan. Karena pada dasarnya hukum dibuat untuk manusia.





























Penulis adalah Mahasiswa Bhasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kamis, Juni 18, 2009

"Lomba Bikin Puisi" buat anak UMS


“LOMBA BUAT PUISI
Alias GAWE PUISI”



Silahkan Kirim Karyamu lewat email :
kawahinstitute@gmail.com
Kita tunggu dari/ ampe pada ; Tanggal 18-27 juni 2009


Silahkan bikin Puisi “BEBAS” dengan tema
“Atas nama Rakyat,,,........... ”
Pengumuman Pemenang di
Kawahinstitute.blogspot.com tanggal 30 juni 2009 paling lambat tanggal 27 juni 2009,,,
cantumkan biodata juga nomer hape yang bisa dihubungi.
Kurang Jelas,,,,???.................................Buka aja di Kawahinstitute.blogspot.com atau hubungi 085642388268 (yudistira)
Pemenang akan dihubungi via sms,,,,dan dikasih hadiah menarik untuk 3 orang pemenang,,,,yang belum beruntung akan ditampilkan karyanya di kawahinstitute.blogspot.com

Minggu, Juni 14, 2009

"MeNyeMaiKan MakNa"

Oleh Arif Saifudin Yudistira*)

Goresan itulah yang akan melahirkan berjuta tafsir, goresan itulah yang menciptakan pergulatan dikala ia berkembang dan dinikmati orang. Baik pada sisi apresiasi juga tak mustahil justru dicaci. Yah, disitulah kita mencoba menyemaikan makna. Menulis!!!
Banyak intelektual- intelektual tidak kemudian menjamin akan tumbuh iklim yang kemudian menimbulkan dinamisasi, iklim yang progresif tanpa adanya goresan pena. Dengan goresan pena itulah akan muncul nantinya spirit-spirit yang menimbulkan dinamika dan dialektika baik dalam nuansa dialektika tekstual maupun dialektika secara konstekstual.
Dunia akademik kita cenderung mereduksi istilah “goresan pena” dengan menggantinya menjadi membuat makalah, tugas-tugas kuliah, juga karya tulis ilmiah yang menumpuk di pasar loakan. Sekilas memang kita melakukan dialektika dua sisi yang saya sebut diatas, akan tetapi spirit mengimani laku penulis riset seperti yang diungkapkan oleh munawir aziz itulah yang saya kira semakin hilang.
Laku penulis riset disini perlu kiranya kita kembangkan di kampus kita. Karena dengan mengimani ini, maka spirit dinamika intelektual, dialektika langsung maupun tidak langsung itu kemudian muncul subur.
MEminjam istilah Pram dari Kartini ; “Menulis untuk Keabadian”. MEnjalani laku sebagai penulis akan membawa kita pada sisi keabadian. Sedangkan “seleksi alam “ tentu ada seperti yang diungkapkan Charles Darwin. Yah, dengan sendirinya penulis yang mampu menangkap dialektika secara alamiah, dinamika tekstualitas dan mengolahnya ,menjadi teks yang lebih bermakna itulah yang kemudian menjadi penulis abadi.
TErakhir kalinya menjalani laku sebagai penulis adalah pilihan untuk mengurai spirit zaman, dan menyemaikan makna dalam pergulatan setiap zamannya. Tentunya dengan tanggungjawab sebagai intelektual mahasiswa, yang tidak melupakan sumpah mahasiswanya dalam tulisan-tulisannya. Bukan, sekali lagi bukan spirit yang direduksi hanya pada pengembangan karya tulis ilmiah maupun makalah-makalah yang itu merupakan tugas dari dosen semata.

PEnulis Adalah Presidium Kawah Institute Indonesia,Belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rabu, Juni 10, 2009

Senin, Juni 08, 2009

"Pertanyaan mendasr TenTanG PenDidikan"

Apakah
LOGIKA PENDIDIKAN KITA SEPERTI INI ???

"Anda punya uang, kami beri anda titel. Anda boleh kuliah, boleh tidak. Suka-suka anda. Kami tidak peduli anda mau pintar atau tidak. Kami tidak peduli anda mau bermoral atau tidak. Kami tidak peduli anda besok bisa bikin apa. Yang penting anda bayar, kami untung. Jangan lupa, biaya sudah termasuk pajak untuk kami setorkan ke pemerintah"

JIKA IYA,MARI KITA LAWAN!!!LAWAN!!!LAWAN!!!

By Kawah Institute Indonesia
{Pusat Studi&Pembelajaran Generasi revolusioner}
{arifsaifudinyudistira*}

*)Presidium Kawah Institute Indonesia

"Solo ilang Salane"

Solo Ilang Salane???
Oleh Arif Saifudin Yudistira*)
Tidak selamanya yang dikatakan bersih,indah adalah cerminan masyarakat berbudaya. Justru letheknya pasar tri windu itulah yang membuat turis-turis itu suka. Akan tetapi kalau kita lihat pasar tri windu sekarang ini, justru turis tidak suka lagi, nuansanya itu lho sudah hilang, rasa, itu sudah hilang disinilah nilai estetis budaya itu ada kata Laura seorang warga italia yang betah di Solo,juga seorang budayawan.
Spirit wali kota untuk mempercantik kota solo dengan mengajak partisipasi warga solo perlu kita sambut dengan dukungan yang hangat. Akan tetapi, ketika spirit mempercantik kota solo dengan menggusur tempat-tempat yang kemudian mempunyai nilai budaya serta sejarah kota solo, ini yang kiranya perlu kita luruskan.
Barang sing luwih separo abad, kuwi ojo diancurake begitulah salah satu cirri benda yang bisa dianggap mempunyai nilai sejarah dalam pepatah jawa.. Akan tetapi, saat ini nilai atau spirit Solo sebagai kota budaya akan terasa meredup ketika tempat-tempat berbudayanya sudah hancur.
Budaya tidak selalu identik dengan gaya modernisme. Kebersihan, kemudian keindahan, tidak bisa kita gandengkan dengan suasana pasar gedhe misalnya yang serba kotor dan ruwet. Juga pasar tri windu yang penuh dengan barang unik yang berantakan. Justru disitulah letak rasa, rasa kekhasan kota solo dibanding dengan kota yang lain.




Rasa inilah yang kini mulai hilang, ketika tidak ada yang membedakan Solo dengan kota yang lain, maka hilanglah kekhasan sebuah kota. Rasa-rasanya pemerintah kota solo perlu untuk bersama-sama ngudarasa terhadap permasalahan ini dengan sesepuh atau budayawan solo, sehingga pembangunan yang ada tidak kemudian menggusur nilai budaya dan estetika solo.


Oleh Arif Saifudin Yudistira,,,,pelajar Solo

Minggu, Juni 07, 2009

Puisi sapardi joko darmono

aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Senin, Juni 01, 2009

"Puisi Jeritan bangsa"

Sebuah Renungan


Negeriku,…
Kau dijajah,ditindas…..
Tapi tak ada putera-puteramu yang peduli…
Mereka terlena di negeri surga…
Mereka lupa akan anugerah Tuhannya
Lupa akan semua ini dari-Nya
Akankah kita terus begini…
Keadaan itu akan kembali…
Kita ditindas…
Budaya kita dirampas…
Rakyat kita disiksa…
Sebagai babu-babu mereka…
Kawan,…
Sampai kapan kita akan begini…
Sadar….,Sadar…..,atau kita akan terbuang!!!
Terbuang….selamanya……..
Perempuanmu yang dulu suci….
Suci….tanpa terkotori….
Tapi,kini….
Kesucianmu….,keanggunanmu,…..
Kau lepas dan kau ganti
Dengan baju bikini…
Kau rela melepas pakaian moralmu,budayamu….
Demi satu kata, kemenangan untuk kalah….
Karena kau membuang…
Membuang baju dan budayamu…
Untuk iklan sabun para penjajahmu
Sampai kapan,….
Indonesia dijajah….
Malu…dulu…, kini tak ada lagi
Hilang…..,hilang……
Yang tinggal hanya kemaluan
Ohhh….,negeriku…
Kau hijau…dulu…
Kering…..kini…..

"Menata Kembali Gerakan Kita"

“Perlunya Menata kembali Sebuah Gerakan di Jaman Edan”
Oleh Arif Saifudin yudistira*)

“Kebebasan lebih merupakan syarat yang tak bisa ditawar-tawar lagi
Agar manusia dapat memulai perjuangan
untuk menjadi manusia yang utuh”(Paulo Freire)

Iklim dalam dunia kampus kita sudah menjadi system yang benar-benar absurd. Tidak heran kebanyakan dari kita selaku mahasiswa akan sangat gagap ketika menghadapi dunia di masyarakat. Semangat jaman yang dibentuk dan diwariskan oleh pemimpin-pemimpin bangsa kita sudah dilupakan oleh generasi kita.
Pada jaman pemimpin bangsa dulu mereka benar-benar merasakan adanya penindasan yang benar-benar diwujudkan dalam kasus nyata. Seperti, pembunuhan, kerja paksa, dan penegeksploitasian alam secara terang-terangan. Mereka pada waktu itu benar-benar merasakan apa artinya menjadi jiwa yang bebas dari penin dasan. Sehingga keadaan mereka memaksa untuk belajar politik,strategi,dan cara untuk keluar dari penindasan tersebut.
Sangat berbeda dengan dunia kita saat ini, mahasiswa sudah dimanja dengan berbagai surga dunianya sehingga apa yang disebut kebebasan itu tidak pernah ada,tapi mereka begitu menikmati ketidak bebasannya. Mulai dari hiburan dan segala macamnya yang tidak memerlukan usaha yang susah payah untuk mendapatkannya. Lagi-lagi penindas yang akan meraup keuntungan,tidak perlu heran dengan itu. Karena hal itu sudah lama diprediksi oleh Erich Fromm : “Sistem ekonomi kita menciptakan manusia-manusia yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan system itu, system kita menciptakan manusia yang cita rasanya seragam seleranya distandarkan,yang gampang dipengaruhi,yang kebutuhannya dapat diantisipasi”.
Kita memang jarang dididik untuk mengharagai dan menumbuhkan kepluraran. Aturan kita saat ini pun dibuat menuju ke arah yang demikian. Tidak ada proses pembelajaran, pengembangan pola pikir, dan apalagi kebebasan hidup.

Mau gimana lagi jika sudah seperti ini, kita mau menyalahkan siapa?. Wajar, itulah kata yang pantas menggambarkan kemapanan yang tidak mapan ini. Mahasiswa kita saat ini berbeda dengan mahasiswa di tahun-tahun perjuangan. Minat baca kurang, inginnya dapat nilai bagus, dan bangga dengan semboyannya : “muda foya-foya ,tua kaya raya ,dan mati masuk surga”.
Seperti kata Paulo freire diatas syarat untuk menjadi manusia yang utuh adalah bebas. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi manusia yang utuh, bila saat ini kita tidak pernah sadar dengan kondisi yang tidak bebas ini namun terlena dan bangga. Maka tidak salah bila solusi dari ini adalah penyadaran. Penyadaran itu hal yang tidak mudah, perlu adanya system pula yang mendukung hal itu. System ini akan berbenturan dengan system yang besar dan yang sudah mapan.
Perlunya Rekonstruksi kultur akademik

“Bangsa budak belian akan mendidik anak-anaknya di dalam roh perhambaan dan dan penjilatan, bangsa orang merdeka akan mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang yang merdeka” ( Bung Karno )
Sudah sejak dulu terbukti kekuatan kultur merupakan kekuatan yang sulit dirobohkan. Bangunan kultur terbentuk dari sebuah gerakan yang tertata rapi. Mari kita lihat dalam kultur mahasiswa saat ini, budaya membaca baik membaca realita maupun membaca buku saat ini begitu minim dan cenderung menghilang. Setelah kita mengetahui hal ini, ternyata hal inipun tidak terjadi dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena memang system di pendidikan kita juga mengarah kepada ketidakjelasan cita-cita maupun tujuan pendidikan itu sendiri. “mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum…………….”
Tujuan pendidikan kita semakin menjauh dari itu. Tujuan pendidikan kita seakan cenderung kea rah apa yang dikatakan bung karno pada kalimat pertamanya yaitu “Bangsa budak belian akan mendidik anak-anaknya di dalam roh perhambaan dan dan penjilatan”. Sangat sesuai dengan sikap pemimpin-pemimpin kita saat ini yang berani menggadaikan sikap nasionalisme dan harga dirinya demi untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran diri maupun golongannya.
“Tidak berbeda dengan dunia yang terjadi di mahasiswa saat ini, mahasiswa rela menggadaikan jiwa keberpihakannya dengan sejumlah uang ataupun bea siswa”.
Daya kritis kita hilang seketika dengan adanya itu, sebagai contoh juga kita akan merendahkan diri serendah-rendahnya demi mendapatkan uang jatah organisasi kita. Yang padahal kita belum jelas dengan tujuan kegiatan - kegiatan kita. Kita juga dibuat buta menganalisa kebijakan-kebijakan kampus, apakah kebijakan itu membuat kita makin bebas, ataukah justru semakin membuat kita tertindas, atau hanya membuat kita makin terlena dengan keadaan yang serba instant ini.
Pertanyaanya sekarang adalah apakah kita kembali terjirat ke dalam system itu, ataukah kita akan keluar dengan system itu dengan segala resikonya. Rasanya konsepsi “saya berpikir oleh karena itu saya ada” oleh Descrates perlu diterapkan disini. Sudah menjadi kebiasaan dari mahasiswa untuk malas berpikir, berpikir apapun.
Seperti dalam firmanNya dalam surat ali Imron ayat 190 :Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir. Jadi jelas dalam bergantinya siang dan malam itulah kita diperintahkan untuk berfikir,tidak hanya pada satu bidang tapi semuanya.
Perlunya pembacaan dan pemahaman terhadap sejarah
Organisasi dan pergerakan pada masa sebelum kemerdekaan adalah merupakan pelajaran yang kini nilai-nilainya sering ditinggalkan pada organisasi kita saat ini.

Nilai kemandirian

Organisasi kita saat ini cenderung “ njagagke ndoke si blorok”
(tergantung pada orang lain) dalam hal ini kita amat sangat tergantung kepada dana dari universitas, meskipun itu sudah menjadi hak kita. Tapi ketergantungan inilah yang saya kritisi, kita jadi tumpul otak kita bila tidak ada dana dari universitas, bingung dan sebagainya. Namun, organisasi dulu seperti SI(Sarekat Islam) adalah organisasi pergerakan juga mandiri dalam pendanaan dan non kooperatif terhadap penjajah.



Nilai Kedisiplinan
Sudah bukan menjadi suatu hal yang asing lagi bahwa organisasi kita saat ini terlalu menyia-nyiakan waktu. Waktu kita, kita sia-siakan dengan banyak bercanda ria, dan lain sebagainya. Sangat jauh dengan organisatoris di masa itu, tidak ada kata canda tawa, apalagi mengulur-ngulur waktu.
Nilai kebersamaan dan sikap kekeluargaan
Susah bicara kekeluargaan, kebersamaan di jaman penuh hedonis saat ini. Organisasi kita saat ini cenderung pragmatis dan oportunis. Nilai-nilai itu kian luntur, dan semakin ditinggalkan. Kita sekarang cenderung memikirkan apa yang ingin menjadi ego pribadi-pribadi saja. Kebersamaan kita hanya sebatas rame-rame saja dalam kegiatan saja.
Nilai dan semangat kerja keras

Anti bagi generasi dulu mendapatkan semuanya dengan instant. Tidak ada sesuatu hal yang gratis tanpa keringat. Walaupun hanya sesuap nasi mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan keringat. Semangat mereka luar biasa,tidak mengenal waktu demi tujuannya. Dalam organisasi kita saat ini berbeda, apa-apa serba ada, hanya tinggal memanfaatkannya tapi semangat perjuangannya amat jauh apalagi hasilnya.

Kembali kepada kebebasan dan kesadaran, dua bangunan ini amat sangat penting untuk menciptakan manusia yang utuh. Dalam dunia kemahasiswaan ini penting karena mahasiswa mau tidak mau harus melanjutkan estafet kepemimpinan.








Penulis adalah Presisium kawah institute indonesia

"Mari pangkas Birokrasi"

Mari, Memangkas Birokrasi di UMS
Oleh Arif Saifudin Yudistira*)

Birokrasi ialah perkakas memerintah dan administrasi yang di zaman kapitalisme menjadi perkakas menindas kaum pekerja. Mulanya biro, kantor itu memang perlu buat satu pemerintah dan satu administrasi. Tetapi lama kelamaan oleh pengaruh kapitalisme menjadi badan yang terpisah dari Rakyat murba dan dipakai sebagai alat penindas semua gerakan murba yang membahayakan kekayaan dan kekuasaan kaum kapitalis yang di zaman kapitalisme memiliki birokrasi itu.(Tan malaka)
Begitulah gambaran dan pengertian birokrasi menurut tan malaka, lalu bisa kita sedikit merefleksikan hal tersebut pada birokrasi yang ada pada kampus kita yang tercinta ini, apakah juga sedemikian gambarannya?
Kampus kita memang kampus yang unik bila kita mau mengenalnya lebih dalam, kita bisa melihat pada statuta kampus kita yang bisa diakses oleh siapa saja, melalui website UMS,hanya saja sedikit orang yang mengetahui apa itu statuta.
Kembali pada masalah birokrasi, pada statuta kita sedikit banyak berbicara mengenai rector, pembantu rector, kemudian dekan, wakil dekan, dan sebagainya. Mengenai peranan dan fungsinya mungkin kita bisa baca lebih lanjut pada stauta kita.
MEmang sekilas tidak ada yang janggal dalam pembacaan statuta kita, akan tetapi akan terlihat jelas ketika kita melihat realita birokrasi kita saat ini. Birokrasi kita memang sudah sering berganti-ganti. Dulu, birokrasi kita bisa dikatakan bagus ketika semua urusan mahasiswa bertumpu pada Pembantu Rektor III di jaman pak Priyono, Namun bisa kita lihat birokrasi kita sekarang ini.
Kita bisa melihat disini, wakil rector tiga kita mempunyai banyak pembantu juga, ada pembantu bidang penalaran, bidang kemahasiswaan ,ada bidang bea siswa. Sampai-sampai tidak jelas lagi, apa tugas wakil rector tiga kita. Kalau kita melihat definisi birokrasi yang dikatakan tan malaka di atas, mungkin ini juga berkaitan dengan kekayaan dan kekuasaan kaum birokrat kita.
Kenapa kita harus memangkas birokrasi kita?
Salah satu ciri universitas yang baik atau good university adalah universitas yang ramping birokrasinya. Karena ini terkait dengan pelayanan dan akuntabilitasnya. Birokrasi yang ramping juga akan meminimalisir masalah-masalah keuangan, maupun pelayanan administrasi.
Selain itu, dengan merampingkan birokrasi kita, anggaran keuangan kita bisa digunakan untuk menaikkan gaji para tukang sapu kita, yang di dokumen kontrak politik kita akan diangkat penghasilannya(menurut audiensi calon rector).
Begitulah administrasi itu menjadi Berat-Kepala (topheady). Lebih berat kepalanya daripada kakinya. Karena semua putusan mesti datang dari atas, maka semua putusan itu terlambat datangnya ke bawah. Tindakan yang mesti dijalankan dengan cepat mesti ditunda karena menunggu putusan atas. Tindakan itu sering terpaksa ditunda selamanya, karena tidak akan berhasil lagi kalau dijalankan juga, sudah terlewat.(Tan Malaka).
Terakhir kalinya, semoga suara ini bisa di dengar para birokrat kita dan menjadi evaluasi bagi para pimpinan dan petinggi di UMS ini,semoga.






Penulis adalah Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UMS 2009/2010

Selasa, Mei 26, 2009

"Ruang KosOnG MahAsiSwa"

Ruang Kosong Mahasiswa
By ; Arif Saifudin yudistira*)

Yah, ruang itu saya namakan ruang kosong mahasiswa. Ada semacam ruang dimana kita tidak kita sadari, ruang kosong itu begitu membosankan. Ada banyak hal mahasiswa lakukan untuk mengisi ruang kosong ini. KEsibukan dunia kuliah memang begitu menyesakkan dan begitu membuat kehidupan ini semakin terasa pendek saja.
PErnah saya mewawancarai seseorang di mahasiswa biologi mengeluh kepada saya; “Saya ini seperti kuliah 24 jam”. Mulai dari pagi sampai malam hari isinya hanya tugas-tugas kuliah, yah saya harus sabar…kadang-kadang saya merasa seperti robot{begitulah katanya}..
Apakah memang gambaran pendidikan kita akan membuat kita seperti robot? Apakah itu jawaban sementara?. Mahasiswa selalu cerdas mengisi ruang kosong itu, biasanya mereka mengisi aktifitas kosongnya dengan mengutak-utek hapenya, menonton film, Play Station, dan ada juga yang paling sering dilakukan yaitu “Ngedet with girl friend atau boy friendnya alias pacaran ”.
MemaNG sEKilas tidak ada yang salah dengan semua itu, akan tetapi kenapa harus ada ruang kosong??? Ini pertanyaan yang kiranya sulit kita jawab dengan waktu yang singkat. Akan tetapi, saya akan mencoba sedikit yang mencoba menjabarkan apa itu ruang kosong.
Ruang kosong ini timbul karena sepertinya kehidupan atau aktifitas kita hanya seperti monoton dan tidak berubah. Atau disebabkan karena kebosanan terhadap aktifitas kita karena melihat realita yang penuh absurditas dan ketidakjelasan. Karena seakan-akan dunia yang kita lihat ini tampak tidak nyata.
Apa yang dinamakan “piknik” untuk menyenangkan hati saat ini tidak harus ke pantai, cukup kita melihat TV, bisa juga kalau kita ingin ke Amerika, cukup melihat lewat internet. Kalau kita ingin apapun semua ada dan tinggal kita mencarinya dengan mudah.
KEmudahan-kemudahan ini ada karena globalisasi dan ada kekuatan yang tak nampak itu seakan membuat kita ingin kembali pada masa dahulu yang penuh sesuatu yang alami bukan semu. Begitupun pendidikan yang ada saat ini, ketika sudah ada internet, sudah ada hape berteknologi tinggi, ada buku, lalu buat apakah kita kuliah?.
Ruang kosong itu hendaknya kita isi dengan ruang public. Sistem belajar di ruang public itu yang saat ini kurang. Dengan belajar pada ruang public, maka kita akan menemukan variasi ide, variasi ilmu, wacana, pengetahuan dan lain-lain dan tentunya menghasilkan ruang mimpi yang membantu kita makin senang dan memberikan kepuasan tersendiri untuk semakin meyakinkan bahwa apa yang dinamakan cita itu bisa dengan mudah kita capai.
Selain itu, ruang public tidak menciptakan stagnasi, akan tetapi akan menciptakan dinamisasi, serta mengembangkan nalar kritis dan tentunya berbeda dengan sistem belajar di gedung-gedung yang angkuh itu, yang semakin membuat sesak nafas, membuat sesak pikiran kita. Yah, Begitulah.
*) PEnulis adalah Presidium Of Kawah Institute Indonesia ,belajar pada ruang public dan penjara bahasa inggris UMS.

Senin, Mei 25, 2009

"MenCaRi AuTenTitas Dalam KeGalauAn"

Mencari Autentitas Dalam Kegalauan
Oleh Arif saifudin yudistira*)

Begitulah ungkapan hati buya syafi’I melihat kondisi bangsa ini yang belum berubah. Memang renungan dan ungkapan hati syafi’I maarif di tahun 2004 lalu belum berubah. “Kalau seandainya Al-qur’an tidak melarang umat Islam itu untuk pesimis, saya orang yang pertama kali akan pesimis “begitulah kata buya.
Buya memang melihat bangsa ini sudah hampir tidak ada harapan di semua lini. Spiritualitas agama saat inilah yang kemudian dipertanyakan oleh Ahmad Syafii maarif tentang bangsa ini.
Bangsa ini sudah menderita luka yang cukup lama, kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan. Sudah saatnya pemimpin bangsa ini menyadari dan memahami kondisi ini dan diharapkan mampu mengubah keadaan bangsa ini, bukan menambah luka bangsa ini.
Masalah moralitaslah yang menjadi masalah utama pemimpin bangsa ini. Moralitas pemimpin kita begitu rendah sehingga Ia mudah tergiur oleh kekuasaan dan kegelimangan di dunia.
Agama sudah tiada lagi menjadi panutan dan pedoman hidup mereka. Mentalitas inilah yang saat ini kian lama kian hilang. Budaya menjaga kebersihan, budaya malu, kini kian lama kian menghilang saja dari Indonesia.
Rasa optimisme itulah yang selalu di dengungkan buya. Sudah tidak ada waktu lagi buat kita untuk pesimis. Sudah waktunya kita membangun bangsa ini dengan semangat dan senyum lebar. Meskipun tantangan dan hambatan begitu banyak.
Autentitas dalam kegalauan inilah yang sulit didapatkan. Yang sering terjadi adalah dalam kegalauan hanya putus asa. Dan yang ada bukan lagi autentitas. Menurut buya Autentiknya Islamlah yang sampai saat ini masih relevan.
Menimbang Calon Pemimpin Kita

Kalau kita lihat calon pemimpin bangsa ini, baik yang duduk di DPR maupun Presiden mereka sama-sama masih minim moralitas bangsanya. “Pemimpin saat ini yang ada hanya moralitas politik belum moralitas bangsa”.Inilah yang belum ada dalam pemimpin kita saat ini.
Bisa kita lihat saat ini koalisi yang baru-baru ini menjadi berita hangat ternyata belum ada yang kemudian merumuskan visi dan misi kerakyatan yang kuat sehingga komitmen kepentingan rakyatlah yang akan dibawa.
Akan tetapi, yang ada saat ini hanya koalisi partai dan kepentingan. Koalisi yang tidak memandang lagi masalah-masalah kepartaian akan tetapi memandang Indonesia ke depan juga memikirkan nasib rakyat kita hampir tidak ada.
Demokrasi kita saat ini masih dalam pembelajaran yang jauh dari kesempurnaan. Itulah yang harus diakui di negeri kita saat ini. Masalah DPT yang tak kunjung usai, muncul lagi kasus dugaan korupsi menteri sampai bupati masih saja ada di negeri yang mayoritas muslim.
Pemimpin kita saat ini belum ada yang serius melepaskan bangsa ini dari kepentingan pasar dan jeratan utang. Baru-baru ini Indonesia dengan diwakili SBY menjadi tuan rumah ADB, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk minta utang.
Cukup cerdas presiden kita rupanya dengan menyatakan ; “Saya yakin jika bekerjasama kita bisa berhasil,dalam krisis selalu ada peluang”. Yah peluang untuk utang lagi. Sampai kapan Indonesia menggunakan konsepsi kerakyatannya Hatta.
Begitulah kiranya yang perlu dijadikan refleksi buat kita semua. Bahwa memang mau tidak mau kita harus mencari autentitas islam dalam kegalauan bangsa ini yang semakin akut permasalahannya diharapkan bisa menjadi solusi atas permasalahan bangsa ini. Sebab mayoritas kita juga Islam.
Yah, inilah yang ditawarkan buya syafi’I maarif dan kita tentunya yang masih percaya dan optimis harapan itu masih ada, dan badai pasti berlalu. Dengan cara mencari autentitas Islam. Karena sesungguhnya Islam itu rahmat bagi seluruh alam.























Penulis adalah KETUA DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009/2010

Rabu, Mei 20, 2009

SOlo, sebuah Refleksi

Gladag Book Store VS Gramedia Book Store;
Pertarungan peradaban
Oleh:Arif Saifudin Yudistira

Menarik kiranya ketika kita mencermati lebih dalam kedua toko buku ini. Pertaruhan peradaban dan budaya terasa ada begitu mencolok ketika kita menggali lebih dalam. Solo, begitulah kita biasa menyebut sebagai kota budaya.Budaya tidak akan lahir adanya pola-pola perilaku manusia, karena secara tidak langsung budaya itu ada karena adanya manusia yang menciptakan budaya itu sendiri.
Masih segar dalam ingatan kita bahwa Solo tidak hanya disebut sebagai kota budaya akan tetapi juga lebih dikenal dengan “center of movement”. Saya kira ini tidak begitu berlebihan ketika melihat Solo. Pergerakan ada karena salah satunya dengan budaya baca.
Solo kota kecil penuh makna dan penuh beraneka ragam khasanah yang bisa kita pelajari. Kembali pada mencermati pola budaya, pola kebiasaan, ataupun dari suasana kedua toko buku ini. Gladag storesering dikenal sebagai pusat buku-buku kuno dan buku jawa yang langka di pasaran. Di sini selain tempatnya yang kurang begitu bagus dibanding dengan Gramedia, buku-buku disini cukup untuk mengobati masyarakat yang haus akan khasanah keilmuan.
Jajanan yang disajikan di sini pun begitu berbeda dengan Gramedia, satu sisi toko buku ini lebih terkesan menunjukkan bahwa inilah solo yang tetap menghargai jajanan tradisional, dan suasana yang serba tradisional. Dari jenis bukunya, tentu di Gladag jauh lebih menghilangkan kesan sebagai Toko buku yang menjual buku-buku Populer.
Jelas kentara toko ini dibalut dengan nuansa alamiah. Ada memang selingan musik dari salah satu pemilik toko yang menyetel musik sebagai hiburan, yah lagu keroncongan, lagu jawa, dan lagu-lagu lama yang jauh dari budaya pop.


Akan tetapi begitu berbeda ketika kita coba perbandingkan dengan Gramedia book Store. Meskipun sama-sama akan membentuk budaya yang bagus yaitu membaca, akan tetapi jelas nampak gramedia lebih mengesankan glamour,dan tentu untuk kalangan menengah ke atas. Dari AC nya, kemudian musik iringannya, warung makannya, maupun suasana pelayanannya. Jangan heran pula ketika buku disini lebih mahal.
Meskipun baru beberapa tahun berdiri, toko ini begitu cepat menyerap minat anak muda ataupun semua kalangan untuk datang ke sini. Bukunya pun menyesuaikan dengan buku yang lagi “ngetrend”saat ini. Secara tidak sadar dan perlahan, kedua toko buku ini saling bertarung dan juga membentuk pola masyarakat kita.
Bagaimana pola pertarungan peradaban ini saling membawa kepada peradaban yang berkemajuan. Gladag menawarkan sisi ketradisonalannya, buku sejarahnya, dan suasana alamiahnya. Tetapi Gramedia juga tidak meninggalkan suasana budaya solonya, kemudian tidak terlalu menonjolkan nuansa kapitalismenya,dan lain-lain.
Akan lebih menarik jika Gladag kemudian lebih dimeriahkan dengan pameran, atau event-event seni disana,juga dengan Gramedia yang punya balai sudjatmoko yang harus dikembangkan lagi dalam pertunjukan seninya, atau pertunjukan yang lainnya. Dengan demikian, maka Solo tetap akan menjadi kota yang menghargai buku, menghargai buku berarti peduli akan berkembangnya budaya baca masyarakat, dan tentunya akan mewujudkan peradaban yang maju.




Penulis adalah Presidium Kawah Institute Indonesia, masih belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta
LITBANG FIGUR FKIP UMS,2008

Jumat, Mei 15, 2009

CAtatn Thesis TAn malaka

Catatan dari Thesis Tan Malaka

Seorang nachoda yang berpengalaman cukup, yang mengemudikan kapal, yang kuat dan baru juga mesti menentukan keadaan pelayaran lebih dahulu sebelum bertolak dari pelabuhan.(Tan Malaka)
Kita akui penuh bahwa aliran yang kita pakai ialah aliran Marx, yang berdasarkan pertentangan dalam hal sosial, politik dan ekonomi. Dengan pisau analyse-nya yang bersifat pertentangan (dialektika) dua klas dalam masyarakat (Proletariat melawan borjuasi) inilah kita mencoba menaksir arahnya politik dunia bergerak menuju kedepan.
Buat kita POLITIK itu tidak bisa dipisahkan daripada EKONOMI dan begitu juga EKONOMI tidak bisa dipisahkan daripada POLITIK. Sering kita dengar di kalangan kita sendiri, bahwa POLITIK adalah concentrasi dan pemusatan ekonomi. Dijaman Kampetai Jepang tidak akan kita pikirkan membikin BADAN EKONOMI ini ataupun itu, karena MACHTFACTOR (perkara kekuasaan) untuk memeriksa dan menghukum yang bersalah, umpamanya tukang catut tadi tidak ada pada kita.
Benar atau tidaknya sesuatu faham atau teori SOSIAL dalam satu masyarakat yang berdasarkan pertentangan Proletar borjuis bukanlah diputuskan oleh "title", sebagai pengesahan borjuis saja, tetapi terutama oleh golongan Proletariat yang menantang!

Selasa, Mei 05, 2009

" When We meet in the First Time"

When we meet in the first Time?
By Arif Saifudin Yudistira

English for me it is very important. Really English not so difficult. I want made English not separate with my life. I am sure, one upon a time, I can be a leader. A leader in every thing. I have a dream, school in Australia.
Maybe Australia has full of wonderful about the story my lecturer. Not only that, I want flying around the world with my parents. I want mom glad with me. I want my mother always smile with me.
This is my dream, but the most important, I want to be a revolutionist. I wanna be New Hugo Chavez, Mahmoed Ahmadinejad, and the New Paulo Freire, and give enlightenment to the oppressed and the poor society.
I am sure change not a dream, but really. I am sure that............


*) The writer is a student in Muhammadiyah University of Surakarta

Minggu, Mei 03, 2009

"Harus Transparan dan Rasional"

Rubrik DEBAT SUARA MERDEKA
Rasional dan Transparan
Oleh Arif Saifudin Yudistira

SUDAH menjadi rahasia umum, kuliah di perguruan tinggi saat ini sangat mahal. Banyak lulusan SLTA dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang tidak bisa menikmati bangku kuliah. Tidak sedikit pula orang tua yang rela melakukan apapun, termasuk menjual tanah atau sawahnya, hanya karena ingin anaknya bisa menikmati belajar di perguruan tinggi.

Biaya kuliah di perguruan tinggi memang menjadi masalah klasik dan sering menjadi faktor utama yang menghambat para mahasiswa untuk belajar. Tak hanya itu, perguruan tinggi sering menaikkan SPP secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan, serta tanpa transparansi mengenai alokasi penggunaan dana tersebut.
Hal ini sering terjadi pada perguruan tinggi di Indonesia, terutama perguruan tinggi swasta (PTS). Sebenarnya tidak menjadi masalah ketika uang SPP dinaikkan, namun mahasiswa tahu persis ke mana uang yang dibayarkannya itu dibelanjakan. Dengan penjelasan yang rasional dan transparansi keuangan, para mahasiswa tentu bisa menerima dengan baik.
Namun yang kerap terjadi tidaklah demikian. Uang SPP dinaikkan setiap tahun, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan mengenai fasilitas kampus maupun pelayanan terhadap mahasiswa. Kalau logika yang dipakai adalah konsumen dan produsen, mestinya pihak kampus sebagai ’’produsen’’ memberikan pelayanan sesuai dengan uang yang dibayarkan mahasiswa selaku ’’konsumen’’.
Tidak heran apabila mahasiswa kerap melakukan protes terhadap kenaikan uang SPP secara tiba-tiba. Hal itu sangat wajar, karena bisa jadi uang yang dibayarkan mahasiswa tidak dibelanjakan sebagaimana mestinya. Bahkan bisa saja terjadi korupsi, jika tidak ada pengawalan dari semua fihak utamanya mahasiswa.
Sekali lagi, kenaikan uang SPP boleh saja dilakukan pihak universitas, asalkan adapenjelasan yang rasional, serta ada transparansi mengenai penggunaan uang tersebut. Dengan adanya transparansi dan penjelasan yang rasional, mahasiswa tentu akan menerima keputusan dari pengelola kampus, kalau itu memang merupakan keputusan terbaik untuk masa depan mahasiswanya. (32)




*)Penulis adalah Mahasiswa UMS semester 6

Selasa, April 28, 2009

" Sekolah HOROR" by Arif Saifudin Yudistira

Sekolah HOROR !!!
oleh arif saifudin yudistira*)

Apa yang salah dari pendiddikan kita? Begitulah kiranya pertanyaan yang ada saat komunitas kami mendiskusikan tentang pendidikan yang ada di negeri kita saat ini. Mengapa kita harus menyalahkan pendidikan, atau mengapa kita harus meletakkan pendidikan pada fondasi utama sebab timbulnya permasalahan bangsa ini, yah itulah yang menjadi renungan kami.
Sebab pendidikanlah yang menjadi sarana penanaman ideologi, penenaman mindset kita yang mengubah watak dan karakter bangsa nantinya. Sebab itulah kami memutuskan untuk mencoba mengartikulasikan realita pendidikan yang tidak pernah usang untuk kita kupas.
Melihat realita pendidikan kita saat ini kita perlu prihatin. Karena kualitas pendidikan kita belum banyak berubah. Kita melihat hal ini pada banyak kasus. Karena masih banyak dari warga masyarakat kita yang belum mengenyam pendidikan.
Dari sekitar 200 juta jiwa lebih, masih ada 40 juta lebih anak-anak yang belum bisa mengakses pendidikan itupun pada tahun 2008, belum tahun ini.pendidikan kita juga masih dipertanyakan kualitasnya. Buktinya, makin banyak universitas dan sekolah-sekolahan baru hanya menciptakan pengangguran baru.


Keadaan ini timbul karena pendidikan telah direduksi pada arti yang sebenarnya. “Kesalahan terbesar sekolah adalah mencoba mengajarkan segala hal kepada anak-anak dan menggunakan rasa takut sebagai motivasi dasarnya(Stanley Kubrick). Inilah yang terjadi di sekolahan-sekolahan kita. Hal ini terlihat jelas ketika guru memberi peringatan siswanya ketika mendekati ujian. “Belajar yang rajin yaa naak, kalo nanti gak lulus kamu yang rugi sendiri”.
Kemudian anak menjadi termotivasi oleh ketakutan yaitu takut tidak lulus, apalagi setelah tidak lulus ditakuti lagi dengan UNPK yang juga masih belum jelas lulus tidaknya.
Inilah yang sebenarnya tidak sesuai dengan konsep pendidikan kita. Pendidikan dipandang sebagai sesuatu hal yang menakutkan sehingga mengkerdilkan kemampuan peserta didik itu sendiri.
Siswa kita dipaksa mengerjakan soal-soal latihan dan menghafal rumus selama satu bulan penuh sebelum menempuh ujian, baik ujian nasional ataupun UNPK juga tidak jauh berbeda.
Maka tidak heran ketika nanti pada saat ujian ada siswa yang jatuh sakit, stress, dan lain-lain. Terlebih nanti saat pengumuman hasil ujian, ada siswa yang tidak lulus.
Siswa takut, minder, putus asa, bahkan ada yang sampai bunuh diri.Pendidikan yang seharusnya memiliki makna bagi perkembangan peserta didik(Brown,1977) menjadi sesuatu monster yang menakutkan. Akibatnya, kemampuan peserta didik, potensi peserta didik cenderung dimatikan.



Pendidikan kita belum mampu menjawab segala persoalan bangsa yang ada selama ini. Karena memang tidak diarahkan ke arah sana. Dan memang pemerintahan kita belum mampu mewujudkan pendidikan yang mampu menghadapi masalah seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire.
Ini terjadi karena pendidikan kita hanya layaknya sistematika pasar seperti gaya “banking consept of education”(gramcian)dimana pelajar diberi pengetahuan yang kelak dapat menghasilkan hasil yang berlipat ganda.
Kalau tidak percaya silahkan lihat fenomena universitas-universitas yang dengan segera membuka jurusan-jurusan baru untuk memenuhi kepentingan pasar. Misalnya saja, maraknya jurusan PGSD, PAUD, dan lain-lain yang tiap tahun berubah sesuai dengan kepentingan pasar yang ada.
Anggaran pendidikan kita yang rencananya 2009 diterapkan 20% tidak berdampak perubahan pada guru-guru tidak tetap dan honorer. Masih banyak guru-guru honorer dan tidak tetap yang telah banyak berjuang dan masih kurang beruntung.
Yang terjadi saat ini juga berdampak bagi calon-calon guru kita, saat ini calon-calon guru kita jarang yang mau ditempatkan di pelosok-pelosok. Mereka ingin cepat lulus, cepat mengajar , namun ingin juga dapat gaji besar.
Orientasi mereka sudah berubah, tujuan mereka bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, tatapi sudah berorientasi ke materi atau uang dan kesejahteraan pribadi mereka saja.

Hal ini tentu akan membahayakan bagi masa depan pendidikan kita kedepan. Bagaimana bangsa kita bisa maju, bila guru-guru kita bermental lemah, lemah semuanya.
Kita saat ini makin terjebak dalam penjara pendidikan kita. Karena, pendidikan kita bisa menyamakan isi otak kita. Gaya-gaya orde baru masih ada di sekolah dan pendidikan kita. Hukuman yang tidak mendidik, bahkan kekerasan masih ada sampai sekarang.
Pemikiran kita sama, karena gambaran yang ada dalam perkuliahan di perguruan tinggi baik dari dosen maupun mahasiswanya hanya pandangan sempit. Seperti cepat lulus, dapat skor tinggi, dan dapat pekerjaan dengan bayaran tinggi. Inilah gaya pendidikan kita, logika pendidikan kita sudah berubah dari logika pendidikan menjadi logika untung rugi, maupun logika investasi.
Kurikulum masalah utama?
Inilah yang saya kira menjadi masalah utama saat ini. Kurikulum kita yang semrawut, yang sering ganti tiap tahunnya membuat bingung para pelaku pendidikan kita. Ini selain membingungkan para guru, juga membingungkan murid-murid kita.
Tidak aneh ini terjadi, sebab kurikulum kita adalah kurikulum pasar, yang ditentukan berdasarkan kebutuhan pasar. Pendidikan kita belum mampu menciptakan daya kritis, daya kemandirian dan pembangunan kesadaran seutuhnya.
Solusi yang seharusnya kita lakukan adalah merombak kurikulum kita dengan kurikulum yang sesuai dengan indonesia saat ini. Bisa kita contohkan masyarakat daerah pantai akan lebih sesuai bila mereka diajarkan tentang kelautan dan seputarnya.

Kalimantan dengan hutannya , lebih sesuai bila diajarkan bagaimana mengelola hutan dan melestarikannya. Ataupun masyarakat jawa yang khas dengan kesenian gamelan dan wayangnya. Akan tetapi berbeda dengan realita yang ada saat ini.
Sehingga dengan merombak kurikulum kita dengan kurikulum yang sesuai dengan potensi budaya maupun sumber daya alam kita akan membawa pendidikan indonesia yang berkharakter dan lebih maju. Semoga.











Artikel ini dimuat pada Koran media indonesia

Sabtu, April 18, 2009

Puisi

Aku Harus Belajar...........
oleh arif saifudin y*)
Aku Harus Belajar,,,,,,,,,,,
Bahwa bergerak perlu bersabar, serta berfikir, bukan mainan,
Aku makin ingat bahwa aku, aku aku,masih perlu banyak belajar
Riyadh, mungkin itu nama kawanku yang sekaligus guru
yang pernah kutemui dengan,,,,
Sejuta keajaiban....
Aku bisa gak yah???
Aku bisa!!!bisa!!!bisa!!!!
Gak tahu, aku belajar........itu yang mungkin aku tahu,,


*)penulis adalah mahasiswa UMS

Kamis, April 16, 2009

Informasi doang,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Workshop Semiotika Sastra
Kabut Institut – Bale Sastra Kecapi

Kami mengundang teman-teman (umat sastra) untuk mengikuti dan menikmati Workshop Semiotika Sastra yang bakal diadakan pada tanggal 9 Mei 2oo9 (mulai jam o9.oo WIB) samapai 1o Mei 2oo9 (berakhir jam 15.oo WIB) di Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah, Jalan Ir. Sutami No. 45, Solo. Siapa saja memiliki hak untuk ikut dengan pemenuhan sekian syarat yang gampang dan menggiurkan. Bisakah dan mungkinkah?

Perihal Peserta:
1. Mengirimkan tulisan dengan bentuk bebas (semaumu saja tapi harus keren) tentang semiotika (5ooo-7ooo karakter) yang sudah pernah dipublikasikan atau tulisan baru
2. Mengirimkan biodata komplet dan foto yang paling keren (tidak boleh tidak dan harus)
3. Pengirimkan tulisan dan biodata paling lambat tanggal 18 April 2oo9 dengan alamat email: bandungmawardi@yahoo.co.id dan aku290386@yahoo.com
4. Pengumuman peserta terpilih pada tanggal 20 April 2oo9 di http://kabutinstitut.blogspot.com
5. Mengisi formulir untuk peserta terpilih (bukan formulir mencari jodoh)
6. Peserta terbatas (4o orang) dan gratis alias bebas tiket masuk tapi tidak bebas tiket perjalanan (tanggung sendiri) meski nanti ada upah
7. Berdoalah dan ikhtiar untuk jadi peserta terpilih (jangan pesimis)

Fasilitas:
Buku materi, buletin sastra, sertifikat, penginapan, konsumsi, uang lelah, dan .... apa lagi ya? Fasilitas ini kurang menggiurkan? Jangan serakah!


Rencana Pembicara:
1. ST. Sunardi (Dosen Sanata Dharma dan Penulis Buku Semiotika Negativa)
2. Saifur Rohman (Kritikus Sastra dan Novelis)
3. Afrizal Malna (Penyair dan Esais)
4. Kris Budiman (Dosen UGM, Kritikus Sastra, Pakar Semiotika)

Panitia:
Koordinator: Haris Firdaus (6285725418328}

Sabtu, April 11, 2009

*** Bahasa Tubuh Politisi Kita***

Peran Bahasa Tubuh Politisi Kita
Oleh Arif Saifudin Yudistira*)

Seperti kita ketahui bersama, tubuh kita bisa mengucapkan pesan yang bisa kita terjemahkan dan tafsirkan masing-masing oleh yang melihat tubuh kita ini. Tubuh kita mampu mengungkapkan pesan melalui simbol-simbol yang dimanifestasikan melalui kedipan mata, lambaian tangan, ekspresi muka, ataupun gerakan pada tangan atau kaki kita.Inilah yang sering kita namakan bahasa tubuh.
Tidak jauh beda saya pikir dengan apa yang ada dalam baliho,banner, spanduk ataupun pamflet-pamflet yang ada di sekitar rumah atau pinggiran jalan raya yang dipasang oleh para calon legislatif kita. Michael Foucault pun sudah lama mengungkapkan ini : “ Dalam setiap masyarakat, tubuh senantiasa menjadi obyek kuasa. Tubuh dimanipulasi,dilatih,dikoreksi,menjadi patuh, bertanggung jawab,menjadi terampil dan meningkat kekuatannya. Tubuh senantiasa menjadi obyek” kuasa”baik di dalam “anatomi metafisik”pun dalam arti “teknik politis”. Lebih jauh lagi foucault juga mengatakan :”Teknologi politis terhadap tubuh akhirnya sampai pada perhatian terhadap tubuh yang tadinya harus disiksa -sampai pada tubuh yang harus dilatih agar disiplin”.
Bisa kita lihat lebih jauh hal ini pada sosok SBY yang melambaikan tangannya,dengan senyuman, Prabowo yang berjabat tangan dengan orang desa, sutrisno bahir yang tersenyum lebar, atau pada megawati dengan gaya seperti mempersilahkan tamu sambil tersenyum.
Bahasa tubuh para politisi kita sangat berperan dalam membangun “kuasa” para calon legislatif kita juga bagi mereka. Dengan dipasang Puan dan Mega dengan bahasa tubuhnya misalnya, ini seakan-akan pencalonan caleg tersebut sudah didukung oleh megawati. Begitupun dengan SBY dengan bahasa tubuhnya yang kharismatik, akan membuat para calon legislatif kita lebih dipercaya masyarakat (dalam tanda kutip) pendukungnya. Juga dengan prabowo, Wiranto, Ataupun Sutrisno Bachir.

Dari bahasa tubuh yang begitu banyak kita lihat, kita akan bisa membaca bahwa bahasa tubuh tersebut memang mempunyai peran seperti yang dikatakan Foucault dengan “teknologi politis” yang berujung pada perebutan kekuasaan.
Bisa jadi seseorang caleg yang kurang populer, atau bahkan caleg jadi-jadian dengan bahasa tubuh yang bagus akan lebih dipilih oleh masyarakat karena kepiawaiannya dalam mengemas“ teknologi politisnya”melalui bahasa tubuhnya daripada para caleg yang berkualitas tapi kurang lihai dalam mengemas bahasa tubuh ini.

















*)Penulis adalah mahasiswa UMS semester 6, Aktivis IMM SOLO

Kamis, April 02, 2009

***Puisi_Ku LAgi***

Aku, Siapa Yang Peduli...!!!


Aku iri kepada kalian,,,yang terlalu cepat menemukan kebebasan kalian,,,
Aku iri dengan kalian,,, yang terlalu cepat untuk tertawa,,,
Aku iri dengan kalian,,, yang terlalu cepat puas,,,

Aku iri dengan kalian,,,
yang terlalu cepat menemukan kebebasan,,,
Tapi,,,Aku mantap berjalan,,,
Berjalan dengan pencarianku,,,
Aku,,,perih,,,terkadang sakit,,,
Tapi aku yakin kelak ada hati yang menatap wajah ceriaku,,,
Menyambutku dengan tangan halusnya,,,
Mengusap peluhku di kala pikirku lelah,,,

Aku ingin tersenyum lebar,,,
Kala hari itu tiba,,,bukan hari ini,,,
karena aku pikir hari ini,,,,belum,,,,belum,,,belum saatnya,,,

Bersamaku,,,Aku sambut,,,tangan halus,,,
orang-orang yang mau berfikir keras,,,namun lembut hatinya,,,,,,

Selasa, Maret 17, 2009

:Ulil said

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.

"PuiSikU>>>>Wiji ThukuL Laghi

bunga dan tembok

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

by wiji thukul

"PuiSikU>>>>Wiji ThukuL

BUKAN DI MULUT POLITIKUS
BUKAN DI MEJA SPSI

berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal
dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi

solo 14 mei 1992

Senin, Maret 16, 2009

PuisiKu>>>BErgeJolaK

Ingin rasanya aku berteriak kencang pada orang-orang di sekitar ku ini,
Sepertinya mereka tuli,
Tuli,tapi punya telinga,
Susah, susah, harus berani susah untuk melakukan revolusi bangsa ini
Aku mulai sadar,,,,
Bangunan kesadaran itu harus segera ditegakkan,,,
Dan bangunan ketulian itu segeralah musnah.........
Waktuku aku tak tahu sampai kapan,
Menempuh jalan REVOLUSI yang begitu keras, berduri,
OOOH, aku makin tak tahu,
Apa ni petanda kan hancurnya peradaban,,,
Aku,,,,
manusia Unggul begitulah kiranya dia bercita,,,

Minggu, Maret 15, 2009

Persimpangan

Persimpangan-Q

Aku tak tahu melangkah,
Atau terus berhenti di persimpangan,,,,
Pilihannya begitu memberatkan,,,
Kalau melangkah......banyak duri,juga karang tajam menghadang kaki
Kalau di persimpangan, ada yang tak rela,,,
yang tak rela beriku bisik,
Sudah, kau berhenti saja,,,,atau jalan.,.....atau.....sudahi saja langkahmu itu,,,
Sudahi!!!
Yah, mungkin itu,
tapi aku tak mau,,,aku mau melangkah....

" IKatan mahasiswa Muhammadiyah"

IMM
Disini,
aku belajar,
Disini, Aku dibesarkan....
Disini, aku berjuang....
Di Ikatan Ini........

Kamis, Maret 12, 2009

"PEmuda daN Titik balik Pemerintahan bangSa" *)*)

Disposisi Kaum Muda Dan
Dilematika Estafet Kepemimpinan Bangsa
Oleh Arif Saifudin Yudistira*)**)

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya; berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Sukarno)

Apa artinya sebuah bangsa yang dibangun dengan megah dan fondasi yang kokoh akan tetapi ia lupa meningggalkan generasi yang menopangnya. Pemuda, yah pemuda itulah yang kelak akan menjadi generasi penerus,dan pemangku jabatan serta pemangku estafet bangsa nantinya.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, sampai daimana posisi pemuda indonesia saat ini?.Pemuda kita saat ini terasa gamang menemukan visi-dan misinya ke depan?. Jaman sekarang memang jaman yang begitu sulit dan serba membingungkan. Selain tantangan yang dihadapi begitu besar, fondasi gerak para pemuda kita begitu minim.
Masalah ini tidak terlepas tentunya dengan masalah pendidikan yang ada di negeri kita ini. Ada perbedaan mendasar yang menurut saya penting untuk kita cermati terkait dengan pola pendidikan kita saat ini dengan pola pendidikan kita pada saat Tan malaka, Semaun,ataupun Syahrir. Pada masa Tan malaka, pendidikan kita dilengkapi dengan wacana-wacana yang visioner bukan hanya pragmatis, selai n itu nilai-nilai humanisasi selalu di ajarkan pada mereka, sehingga tidak heran umur 12-15 tahun mereka sudah siap berjuang dengan segala kemungkinan.


Sedangkan hal ini berbeda dengan pendidikan kita saat ini yang belum mengajarkan kelengkapan dan bekal serta kecakapan hidup. Tidak heran yang ada selama ini pemuda adalah masalah baru yang menjadi PR rutinitas bagi pemerintah. Karena hanya mencetak pengangguran baru, sehingga posisinya justru cenderung dikesampingkan.
Apakah benar seperti itu keadaannya saat ini? Jawabannya tentu tidak bisa kita jawab begitu saja. Ada dua jawaban bisa yah bisa tidak. Yah, ini terbukti banyak pula tenaga-tenaga ahli kita setelah lulus sekolahan ataupun universitas ternama di negeri luar, diperhitungkan disana. Bisa tidak, karena masih banyak dari pemuda kita hanya mencetak pengangguran baru.
Posisi pemuda saat ini mengalami pergeseran yang amat sangat. Bisa kita lihat pada masa GIE, pemuda berada pada posisi yang moderat, dan independen. Akan berbeda ketika melihat saat ini pemdua kita seperti Rizal malarangeng, Andi malarangeng, ataupun Anas Urbaningrum, yang kini justru berselingkuh dengan penguasa. Salahkah?
Saya kira perlu ditegaskan kembali bukan pada salah atau tidak salah melainkan, perlu ada garis pembagian yang jelas antara peran masing-masing dan selama bisa mempertanggung jawabkan dengan apa yang dilakukan saya pikir itu tiada masalah.
Pemuda sering kali dipandang masih murni baik pada sisi idealisme, wawasan dan kecakapan yang luas, dan rasa empati pada kaum mustad'afin masih kentara, serta semangat yang menggebu-gebu dalam menyuarakan suara rakyat kita.
Menurut saya,Disposisi inilah yang saat ini menjadi masalah besar. Banyak pemuda kita saat ini kuliah, bekerja, hanya melayani kepentingan para pemodal saja. Sehingga tidak heran, apa yang menjadi tanggungjawabnya terlupakan, yaitu meruwat dan menjaga amanah atau penyambung lidah rakyat.
Apa kaitannya dengan estafet kepemimpinan bangsa?. Maka tidak heran pemuda saat ini yang tergesa-gesa memangku amanah”nyaleg” kemudian seringkali kurang berbekal pengalaman yang cukup, dan terlalu prematur menyandang apa yang dinamakan wakil rakyat.


Yang kemudian terjadi adalah kegamangan visi dan misinya, sehingga ini berdampak pada jalannya kepemimpinan pemuda yang cenderung pragmatis, oportunis, dan pro kapitalis tentunya. Karena modal, bekal, serta kesiapan itu tidak dipersiapkan dari dini. Juga karena pemuda saat ini hanyut dalam pusaran ideology, pusaran gaya hidup, serta pola pikir yang cenderung membawa pada kegamangan. Sehingga perlu kiranya pemuda sebagai “the middle between government and peoples”,”the agent of social control”, and “agent of change” tentunya bisa diwujudkan.
Akhirnya pemuda yang siap menghadapi kemungkinan dan tantangan akan mustahil diwujudkan tanpa bangunan kesadaran, serta bangunan pola pikir yang cukup untuk mendukung analisa dan ketajaman di dalam menanggapi permasalahan bangsa saat ini salah satunya adalah masalah kepemimpinan.










*) Aktivis IMM KOM KI HAJAR DEWANTARA CABANG SURAKARTA

Rabu, Maret 11, 2009

"BAji**An AgAmA"

“ Baji**gan Agama”

by Arif Saifudin Yudistira*

Sudah cukup lama insan Indonesia dikatakan sebagai orang yang taat beragama atau bangsa yang religius. Namun, pada kenyataannya dalam taraf aplikasi, masih banyak saja kejahatan, dan problema-problema yang timbul atas legitimasi agama.

Agama pada dasarnya merupakan aturan-auturan yang mengatur umatnya untuk menjalani kehidupan sesuai titahnya sebagai manusia. Hakikatnya agama akan membawa keselamatan bagi pemeluknya.

Pertanyaannya sekarang apakah Agama masih menjadi sandaran untuk keselamatan, kebahagiaan, dijaman yang serba susah dan penuh tantangan ini?. Jawabannya tentu ya, karena agama saat ini yang muncul tidak hanya agama samawi (Islam,Kristen,Yahudi) tapi juga agama yang menjadi spirit manusia modern saat ini.

Kita bisa melihat adanya hedonisme, konsumeristik, liberalisme,kapitalisme,dan lain-lain. Hal itulah yang sekarang menjadi agama baru bagi manusia modern. Justru saat ini, agama yang sebenranya mereka yakini dijadikan legitimasi bagi agama baru mereka.

Satu contoh yang baru-baru ini kita dengar. Kok bisa seorang petinggi negara meminta kepada MUI untuk membuat fatwa bahwa golput itu haram. Padahal sudah jelas, memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jadi, golput tidak bisa disamakan dengan daging babi. Sepertinya manusia sekarang sudah bisa menjadi Tuhan(Erich From). Mengingat yang bisa memutuskan haram-halal adalah Tuhan tentunya.

Begitu takutnya pemerintah saat ini menghadapi mosi tidak percaya dari rakyat. Mengingat rakyat sekarang sudah makin dewasa dan tidak bisa dibohongi lagi. Dunia politik kita terlalu mahal dan penuh dengan manipulasi. Kebosanan itulah yang jadi jawaban masyarakat atas keadaan seperti ini.

Agama saat ini di Indonesia Cuma dijadikan legalitas saja. Undang-Undang Pornografi yang sudah disahkan, belum begitu signifikan bagi perubahan akhlaq orang- orang beragama. Masih banyaknya kasus-kasus asusila, dan lain-lain juga disebabkan oleh tidak adanya pembangunan moral bagi masyarakat indonesia.

Lihat saja tayangan di TV kita, masih banyak juga tayangan berbau pornografi yang masih saja ditayangkan. Padahal efek media inilah yang begitu besar mempengaruhi psikologis orang yang melihat, bahkan bisa sampai ke perilaku kesehariannya.

Peran lembaga sensor film saat ini masih dipertanyakan. Karena masih saja menayangkan film yang ternyata memberi sumbangsih bagi rusaknya generasi muda. Tidak hanya itu, tayangan mana yang saat ini bisa memberikan pendidikan bagi anak-anak kita dan pemuda kita?. Hampir tidak ada yang memberikan pendidikan bagi generasi muda dan anak-anak kita. Yang ada justru yang mengarah pada hancurnya moralitas bangsa kita.

Peran agama saat ini pun hampir tidak ada ketika terbitnya undang-undang yang merampok kekayaan kita. Belum ada satu lembaga agama pun yang memberikan pernyataan bahwa UU Penanaman Modal adalah haram, UU BHP adalah haram, atau UU MINERBA adalah haram.

Begitupun ormas-ormas keagamaan, tidak jauh berbeda keaadannya. Mereka lebih suka mengurus masalah-masalah yang kurang esensial. Seperti membubarkan diskotik, mengurusi masalah aliran sesat dan lain-lain. Padahal, hal tersebut bergantung dari kesadaran bergama dari para pemeluknya.

Padahal ada yang lebih sesat lagi, yaitu menjual bangsanya sendiri dengan menerbitkan undang-undang yang menindas rakyat. Sudah waktunya para pemeluk agama sadar akan kondisi ini.

Agar bangsa ini bisa lekas sembuh dari sakit yang berkepanjangan ini.Ketika para pemeluk agama tetap seperti ini terus, maka tinggal menunggu kehancuran Indonesia. Sudah waktunya para ”Bajingan Agama” dimusnahkan dari bumi Indonesia. Agar cita-cita bangsa ini segera bisa terwujud.

Penulis adalah aktifis IMM kota Surakarta,Belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

"Jean paul Sartre Berteriak"

" KEWAJIBAN DARI INTELEKTUAL ADALAH UNTUK MENCELA KETIDAKADILAN DIMANAPUN IA BERADA"
{jean pAUL SARTRE}

"Pesan Bang Pram"

" Orang Boleh Pandai setinggi langit,
tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,
menulis adalah bekerja untuk keabadian"
(Pramudya Ananta Toer)

"Jeritan Kaum Papa"

"Saya selalu bertanya kepada Tuhan dlam pikiran dan doa-doa saya setiap hari"
Mengapa Tuhan menciptakan
Gunung-gunung batu dan salju yang indah itu di daerah amungwe?
Freeport,ABRI,PEmerintah dan orang luar datang mengambilnya,
Sementara kami menderita,
Ditekan, dibunuh tanpa alasan,,,
Sungguh saya benar-benar marah pada Tuhan
Mengapa Dia ciptakan segala gunug indah dan barang tambang itu disini,,
(Tuwarek,narkime, tertua suku amungwe,menara di tengah kelimpahan,HAM 98)

"ThinK GloBaL At Local"

Oleh Arif Saifudin yudistira*)
Berfikir global dengan tidak meninggalkan kearifan local. Inilah prinsip yang menurut saya sesuai untuk menghadapi era globalisasi saat ini. Termasuk dalam hal ini untuk mempertahankan bahasa kita, bahasa Indonesia.
Kearifan local disini diartikan bagaimana khasanah budaya kita bisa kita munculkan dalam dunia internasional. Bisa kita tunjukkan kepada dunia luar bahwa kita mempunyai sesuatu yang luar biasa yang di dunia lain tidak ada.
Indonesia memiliki banyak khazanah budaya yang bisa kita tunjukkan ke dunia luar, diantaranya seni gamelan, tari, ataupun wayang. Khazanah budaya itulah yang nantinya akan mengangkat kita kepada bangsa yang besar yang tidak meninggalkan budayanya.
Selain itu, dalam hal bahasa, bahasa Indonesia juga merupakan bahasa yang diperhitungkan dunia, saat pemerintahan Sukarno dekat dengan Negara rusia, bahasa Indonesia sempat menjadi pelajaran di perguruan tinggi pada pemerintahan rusia oleh para pelajar kita yang belajar disana.
Hal ini menunjukkan bahasa kita bukan bahasa yang jelek, akan tetapi bahasa yang menarik, dan mudah dipelajari. Untuk itu, bagaimana bahasa kita bisa diperhitungkan oleh bangsa lain,tergantung dari kita masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia.


Namun, ketika melihat Solo kita melihat hal yang ironis, ketika Solo memantapkan diri sebagai kota budaya, yang terjadi justru lain. Penggunaan nama mall, nama hotel, maupun pada penyelenggaraan event tidak mencerminkan bahwa Solo konsisten dengan jargonnya.
Kita bisa melihat pada nama “Solo SquaRE, Hotel Lor in, Novotel, maupun kata “night market” yang baru-baru ini juga digunakan dalam penamaan ikon solo. Seharusnya Solo tidak malu memakai nama hotel, mall, ataupun nama event yang ada di solo dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sebab dengan memakai bahasa Indonesia justru kharakteristik kita akan terlihat dari sana, bahwa kita menjunjung tinggi bahasa dan budaya kita.
Benturan Globalisasi
Tidak bisa kita pungkiri globalisasi adalah sesuatu yang ada saat ini. Namun, bagaimana kita menyikapi hal itu dengan sikap bijak itulah yang penting. Solo merupakan kota yang cukup diperhitungkan di dunia internasional. Setelah menjadi tuan rumah SIEM dan WHCC.
Selain itu, Solo dengan beberapa objek wisata yang khas banyak menarik wisatawan asing untuk datang ke Solo. Seperti Keraton, museum radya pustaka, juga taman sri wedari,ataupun pasar klewer.
Untuk menunjukkan atau mengenalkan tempat-tempat tersebut kepada dunia luar, tidak perlu kiranya solo memakai bahasa asing. Biarlah natural seperti apa adanya, karena turis juga tidak melihat ketertarikan pada tempat wisata di kota solo, bukan karena penamaan yang menggunakan bahasa inggris.
Langkah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah kota solo adalah tidak lagi menggunakan nama-nama ikon ataupun nama tempat menggunakan bahasa asing. Karena masyarakat sudah cukup bangga dengan bahasa Indonesia. Selain itu, menggunakan bahasa Indonesia juga tidak berpengaruh dengan banyaknya wisatawan yang datang ke kota Solo. Dan justru memperkuat tekad solo dalam rangka mewujudkan kota budaya.
Oleh karena itu, globalisasi yang ada saat ini harus kita sikapi dengan cara yang bijak, sehingga globalisasi bisa kita manfaatkan dengan menunjukkan kharakteristik budaya kita kepada dunia luar. Bukan malah membuat kita semakin tidak percaya diri mengangkat nilai-nilai kearifan local kepada dunia.
Selain itu, dalam hal pemakaian bahasa Indonesia yang saat ini mengalami degradasi, harus kita perbaiki bersama-sama. Termasuk para pemimpin kita yang menjadi contoh bagi warganya, salah satunya dengan menggunakan bahasa Indonesia pada ikon dan tempat-tempat umum dengan bahasa Indonesia.
Sehingga solo dengan jargonnnya sebagai kota budaya benar-benar dirasakan gaungnya oleh kota lain, bangsa Indonesia, bahkan dunia. Dengan cara menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan local yang ada di kota solo, termasuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia.





Penulis adalah Mahasiswa Bahasa Inggris Semester 6,Aktivis IMM surakarta

Rabu, Maret 04, 2009

"Membangun Budaya kRitis"by Yudistira

Membangun Budaya Kritis
Menuju Transformasi dan perubahan
Sosial
(*Arif Saifudin Yudistira)

Mahasiswa selalu identik dengan kaum intelektual terpandang yang didalam masyarakat biasa dipandang sebagai elit intelek. Oleh karena itu mahasiswa dipandang mempunyai kemampuan lebih dari sisi pengetahuan, kemampuan berpikir, menganalisa permasalahan, dan lain sebagainya.
Pada kenyataanya saat ini mahasiswa seperti kita kurang menyadari bahwa mereka memegang peran yang begitu berat di masa yang akan datang. Kita perlu menyadari bahwa tonggak kepemimpinan bangsa saat ini menjadi tanggung jawab kita selaku generasi penerus. Saat ini kita hanya disibukkan oleh aktivitas kuliah kita tanpa memandang apa tujuan kita kuliah? dan Apa yang kita dapat dari kuliah?
Sejarah telah membuktikan bahwa dengan adanya Mahasiswa kita bisa menumbangkan hal yang keliru, kekuasaan, dan hukum yang tidak adil. Hal ini seperti yang dilakukan oleh tokoh reformasi kita Bapak Amien Rais yang menumbangkan rezim yang amat kuat, tersistem, dan berkuasa pada waktu itu. Bapak Amien Rais pada waktu itu mulai membangkitkan dan memunculkan ide-ide dan wacana kritis kepada teman-teman Mahasiswa untuk menyuarakan suara-suara yang benar.
Hal ini berbeda dengan kenyataan mahasiswa kita saat ini yang kurang banyak wacana, kurang ada minat baca, dan takut untuk menyuarakan hal–hal yang benar. Semua berawal dari hal yang kecil dulu, sebelum kita berani mengkritisi para penguasa yang ada disana kita bisa mengkritisi pemimpin-pemimpin kita yang ada di tataran kampus terlebih dahulu.
Mulai dari sinilah kita akan membiasakan budaya kritis,disamping itu kita juga perlu adanya budaya instropeksi agar antara kritis dan realita kita tidak bertentangan. Dengan budaya inilah kita bisa merubah hal-hal yang sekiranya belum sesuai menjadi hal-hal yang sesuai.
Mari kita lihat dilingkungan kita saat ini, banyak dari kita tidak tahu menahu tentang kebijakan kampus, tentang latar belakang para pemimpin-pemimpin kita yang berada ditataran dosen dan rektorat. Seandainya kita tahu banyak tentang latar belakang para pimpinan kita, kita bisa mengamati, mengkritisi, dan meluruskan mereka sekiranya ada hal yang tidak sesuai.
Selama ini mahasiswa dimanja dengan fasilitas yang seakan-akan itu sudah fasilitas yang lebih. Namun, pada kenyataanya hal itu belum seberapa jika dibanding dengan apa yang kita bayarkan. Kalau saya memandang selama ini kita tidak peduli dengan apa yang dilakukan pihak universitas dan terkesan kurang wacana.
Namun selama ini kita terkesan hanya diam dan tidak mau tahu. Termasuk juga dengan pendidikan kita di kampus,sudahkah kita merenung setelah kita lulus dapat apa? Atau kita lebih memilih untuk berpikir pragmatis, yang penting dapat pekerjaan. Lalu,apakah kita hanya puas kerja di perusahaan luar negeri,pulang bisa bangun rumah,punya anak,selesai. Percuma kalau paradigma kita masih seperti itu,sudah saatnya kita sadar akan hal ini dengan membangun budaya kritis tersebut.
Bahwa kita kuliah ,mencari ilmu,tidak hanya untuk cari pekerjaan,kemudian bangun rumah selesai,lalu bagaimana warisan sifat-sifat para pahlawan-pahlawan kita?Apakah kita sudah lupa,atau kita buang begitu saja?. Kita sebagai mahasiswa harus mempunyai budaya kritis dan budaya instropeksi. Kalau kita melihat pergerakan kita saat ini, pergerakan di kampus kita terkesan mati dan vakum dan sarat dengan berbagai masalah.
Hal ini amat kita sayangkan, padahal maju tidaknya mahasiswa di kampus itu biasanya ditentukan oleh maju tidaknya pergerakan di kampus tersebut. Bagaimana kampus kita mau maju, kalau pergerakan di lingkungan kita saja sudah lesu. Apalagi kita saat ini, mau mengoreksi dan mengomentari bangsa. Bukan saya menyalahkan, tapi marilah kita sedikit mengoreksi dari dalam terlebih dahulu.



Kalau saya melihat akar permasalahan dari semua ini adalah kembali kepada mahasiswa yang kurang atau memang belum sadar akan perannya sebagai mahasiswa. Kadang kita melihat saudara kita yang menyuarakan suara rakyat saja kita mengatakan “Huuuh apaan tuh mahasiswa kurang kerjaan aja panas…panas…teriak-teriak mendingan tidur saja enaak“. Itulah gambaran mayoritas mahasiswa kita saat ini. Budaya kritis memang tidaklah mudah.
Kadang kita malu mengatakan teman kita salah, teman kita kurang benar, atau bahkan bapak dosen kita yang ngajar seenaknya saja. Budaya-budaya yang dicontohkan pahlawan-pahlawan kita,yang dituliskan tinta sejarah harus kita lestarikan.Seperti penjelasan dari Buya Syafi’i Maarif yang mengatakan : “Melalui jejak kelampauanlah seseorang melakukan rekonstruksi tentang peristiwa tertentu pada masa lampau yang menjadi pusat perhatiannya. Untuk apa dan untuk kepentingan siapa? Bertrand Russell mengatakan "untuk pleasure (kesenangan). Tidak salah, tetapi sejarawan Itali, Benedetto Croce (1886-1952), memberikan jawaban umum yang lebih mantap: untuk kepentingan orang hidup, bukan untuk kepentingan mati”. Maka sangat relevan jika kita saat ini haruslah sadar akan pentingnya budaya kritis dan budaya instropeksi.
Dengan membangun budaya kritis kita diharapkan bisa mengkritisi dan memberikan solusi tentunya terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan realita sosial. Paling tidak kita sebagai mahasiswa sudah ikut menyalurkan aspirasi rakyat dan berusaha menggugah kesadaran masyarakat untuk membangun budaya kritis.
Budaya kritispun tidak harus dengan berdemo,tapi juga dengan menulis salah satunya serta peduli dengan nasib bangsa. Seperti contoh kebijakan pemerintah yang melakukan penggusuran para pedagang pinggir jalan. Tapi,bagaimana kita bisa menulis tanpa pandangan dan pengetahuan yang luas. Oleh karena itu,budaya kritis tidak mungkin bisa tanpa dibangun melalui budaya membaca,dan membaca realita sosial dalam masyarakat kita.


Akhirnya kita bisa mengkritisi apa yang menjadi kebijakan pemerintah,sehingga apabila kita menjadi pemimpin kita bisa bekerja dengan lebih baik. Amien yaa robbal ngalamiin. ( *Penulis adalah KETUA DIVISI LITBANG FIGUR )

"Puisi TAnpa Warna by Iklas"

Puisi tanpa warna
;Buat bang pram

Seperti katamu kita masih bisa tertawa
Walau kutau tadi pagi kita menagis karena lapar
Seperti katamu pula kita masih bisa bercanda
Meskipun malaikat maut merajut hendak menjemput

Walau kau tak lagi berkata tapi kutau
Kau tetap disini usir segala dahaga
Berutuphia untuk negri pertiwi
Agar lebih berbenah tuk cita-cita adil dan makmur

Selagi kau mengawasi kan ku sebarkan semua
Teriakan yang kau dulu perjuangkan
Selagi masih ada sisa-sisa semangatmu
Aku berdiri beranjak dalam gelap

O mungkin jalan kita sama tuk
Suarakan jeritan hati yang miskin
Karena dirampok dan diperas
Juga karena lapar akan keadilan social.













Solo 29/4/08

"Puisi abank GIE"

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Rabu, Februari 18, 2009

" Minimnya Jiwa PEndidik"

“Menjadi Pendidik antara Keterpaksaan & Kerelaan”

Oleh Arif Saifudin Yudistira*

“Ada seorang guru di suatu sekolah “X” bercerita tentang riwayatnya sebelum menjadi seorang guru. Beliau bercerita bahwa Ia menjadi seorang Guru karena kepepet alias terpaksa. Karena pada waktu itu beliau sudah mencari kerja sebagai karyawan dan direktur namun akhirnya beliau tidak diterima dan kemudian mendaftar sebagai seorang Guru. Beliau juga menambahkan “Jadi Guru itu repot, Gajinya pas-pasan dan ga’ bisa kaya” tuturnya. Dan beliau juga berpesan “Jangan jadi seorang Guru kalau pengin hidupmu sukses dan jadi orang”.

Setelah mendengar cerita tersebut, saya yang waktu itu berkemauan keras menjadi seorang Guru, kemudian saya ingin menjadi seorang pengusaha saja. Melihat jadi Guru begitu susah dan digambarkan sebagai posisi yang patut di kasihani dan dipandang begitu rendah [Eko,Prasetyo,Guru mendidik itu melawan]. Begitu sempit orang memahami filosofi seorang “pendidik atau guru”. Seorang Guru ,dalam falsafah Jawa begitu santun dan memberikan hakikat yang mendalam begitu mulianya seorang Guru[“Di Gugu Lan Di Turu atau Di taati Dan Dicontoh”].
Sama seperti yang diajarkan Islam oleh Rosul Kita “Tauladan&Keteladanan”. Tidak banyak Guru sekarang memahami tentang arti Guru yang seperti ini, sering sekali Guru bisa menjadi teladan di sekolahan namun tidak bisa memberi keteladanan kepada keluarganya atau sebaliknya. Guru atau calon Guru kita saat ini cenderung kurang memahami peran dan fungsinya sebagai seoarang Guru.
Profesi seorang Guru adalah profesi yang dilandasi hati nurani sebagaimana yang dilakukan oleh seorang ibu. Sifat Keikhlasan, Ketulusan, cinta, hendaklah menjadi sikap dasar untuk menjadi seorang pendidik. Fenomena Guru saat ini begitu memprihatinkan, melihat Guru yang tidak patut dipandang sebagai seorang Guru. Hal ini karena orientasi & tujuan Guru saat ini amat sangat rendah. Karena Guru saat ini cenderung melihat materi,dan gaji. Memang itu merupakan suatu hak, namun hendaknya harus diimbangi dengan jiwa pendidik.

Minimnya Jiwa pendidik sebagai Guru & Calon Guru

Terbukti jika kita lihat saat ini bila melihat seorang Dosen yang sering terlambat mengajar, serta dosen yang mengejar materi. Juga tidak jauh beda dengan mahasiswanya yang masuk hanya sekedar mencari skor ”A” namun ditanya tentang filosofi seorang pendidik tidak tahu. Pendidikan adalah proses penyadaran[Paulo Freire] berawal dari konsep tersebut hendaknya seorang Guru tahu bagaimana menyadarkan muridnya tentang bagaimana pendidikan itu bisa menghadapi permasalahan-permasalahan hidup atau “ pendidikan hadap masalah “. Untuk itu tugas seorang Guru harus difahami sebagai tugas yang berat dan bukan main-main.



Memprihatinkan & menyedihkan bila kita mendengar kata-kata diatas “ Saya menjadi Guru hanya karena terpaksa ”. Bagaimana bisa melihat akan berhasil bila Gurunya saja mengajar dengan terpaksa, apalagi orientasinya pada materi. Maka tidak heran bila melihat murid dan anak-anak didik kita begitu jauh sesuai yang kita harapkan. Pendidikan yang menghasilkan manusia yang cerdas, bermoral, menjadi amat jauh dari dunia pendidikan kita.
Fenomena penghargaan Guru yang mengakibatkan pada keterpaksaan

Guru saat ini dihadapkan ke dalam posisi yang dilema. Sebuah derita kembali menghadangnya. Fenomena sertifikasi Guru adalah hal yang saya maksudkan. Guru kembali diuji hati nuraninya, antara memberikan ilmu yang dengan hati tulus ataukah harus dengan sertifikat?. Sangat memprihatinkan ketika ada fenomena seorang Guru memohon kepada Seorang Ketua Sebuah Organisasi hanya meminta sertifikat pernah mengajarkan Kajian. Ironis, apakah harga sebuah ilmu cukup hanya dihargai dengan sertifikat.
Tiap kebijakan memang ada positif dan lebihnya, Tapi apakah sertifikasi harus merendahkan arti&nilai sebuah pendidikan dan seorang pendidik?. Tak heran bila pendidikan kita adalah pendidikan yang carut marut dan jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan sudah dikotori oleh sebuah sertifikat . Sertifikat sudah menjadi “thoghut” dalam dunia pendidikan kita.
Bisa kita lihat di kampus kita mahasiswa saat ini mengikuti seminar-seminar hanya untuk menadapatkan sertifikat bukan untuk mendapatkan ilmu & esensi dari seminar itu sendiri. Yang lebjh mengherankan lagj bahwa bila saat ini kita sibuk mencari sertifikat saat ini, padahal, undang-undang guru dan dosen baru bisa diterapkan secara utuh di tahun 2015(Kompas)
Maka tak heran ketika saat ini Guru yang ada di pedesaan-pedesaan saling rajin mengikuti seminar-seminar dan memberikan pelatihan-pelatihan, tidak datang dari nurani melainkan ada tendensi yaitu demi meningkatkan kesejahteraanya. Maka kalau boleh saya katakan : “Bila seorang Guru sudah berorientasi pada Gaji berarti Guru itu telah mengotori hakikat pendidikan dan hakikat sebagai seorang pendidik itu sendiri” . Oleh karena itu bila kita saat ini sebagai calon Guru tidak mau memahami filosofi seorang Guru, apalagi manjadikan dan memandang profesi ini sebagai suatu mainan, akan kita lihat pada generasi kita dua sampai tiga tahun kedepan adalah generasi yang jauh dan semakin jauh dari tujuan pendidikan.
Kembali pada Guru antara sebuah kerelaan dan ketulusan hati hendaknya tidak dikotori dengan sebuah sertifikasi serta sikap terpaksa. Perlu difahami Guru pada hakikatnya profesi mulia yang akan beroleh penghargaan yang tinggi dari seorang murid bila Guru tersebut mengajar dengan cinta, ketulusan, serta kasih sayang. Dan penghargaan “ Pahlawan tanpa tanda jasa” akan selalu tersimpan dalam benak-benak kami selaku muridmu ”. Sedangkan masalah gaji, itu sudah semestinya menjadi kewajiban pemerintah. Oleh karena itu kita sebagai calon-calon Guru, baik Guru pada murid kita ataupun pada anak kita nanti, hendaknya perlu belajar banyak tentang hakikat pendidikan dan seorang pendidik. Sehingga bila kita menjadi Guru nanti tidak pernah berkata: “ Saya menjadi Guru seperti ini karena terpaksa”.







Penulis adalah mahasiswa bahasa inggris UMS

KEmerdekaan : MErdeka SepeNuhnya

Kemerdekaan : Merdeka Sepenuhnya!!!
Oleh Arif Saifudin Yudistira*

”Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa yang tak langsung maupun yang langsung”(Soekarno)
Bulan Agustus adalah bulan yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Karena dibulan ini bangsa Indonesia merayakan sebuah peristiwa yang bersejarah yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia. Sampai hari ini bangsa Indonesia telah 62 tahun mengisinya dengan berbagai aktifitas sebagaimana diamanatkan oleh pendiri bangsa ini.
Jika kita sedikit merenung tentang negara kita saat ini, tentu dalam benak kita akan ada banyak pertanyaaan, salah satunya, apakah negeri ini sudah merdeka?. Bisakah negeri kita bangkit ?. 62 tahun Indonesia merdeka, namun apakah selama ini rakyat Indonesia sudah merasakan sebuah kemerdekaan?.
Jawabannya adalah belum sepenuhnya, hal ini bisa dilihat dari makna kata merdeka itu sendiri, kita belum bisa mewujudkan sepenuhnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “merdeka” mengandung tiga makna. Pertama, bebas dari (penghambaan, penjajahan, dsb) atau berdiri sendiri. Kedua, tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Ketiga, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, atau leluasa.
Seperti pesan Soekarno diatas, bahwa merdeka berarti mengakhiri selama-lamanya bentuk penghisapan oleh bangsa, baik langsung maupun tidak langsung. Yang terjadi saat ini justru sebaliknya, Indonesia secara tidak sadar,telah dijajah secara langsung maupun tidak langsung.
Kita dijajah secara tidak langsung melalui gencarnya arus gesekan budaya melalui globalisasi. Baik dari Tayangan Televisi, Radio, Mass Media, dan lain-lain. Di sektor ekonomi, kita diikat lewat GATT, dan utang dan konspirasi ekonomi lewat privatisasi BUMN dan regulasi-regulasi yang tidak berfihak pada rakyat.
Semangat kemerdekaan, bukanlah semangat yang mengajarkan kita untuk diam begitu saja, apalagi putus asa, melainkan semangat untuk maju dan berubah ke arah yang lebih baik. Meskipun masalah yang menimpa bangsa ini bisa dibilang sudah begitu parah, namun semangat rakyat Indonesia di dalam berjuang, berkarya, seharusnya bisa menjadikan kita optimis bahwa bangsa kita masih punya harapan di tengah berbagai masalah yang menimpanya.
Kita belum bisa dikatakan merdeka sepenuhnya karena kita juga dijajah oleh bangsa kita sendiri. Banyak hal yang dilakukan para penjajah ini. Baik melalui korupsi, atau melalui regulasi yang tidak memihak rakyat seperti UU Penanaman Modal Asing dan UU Pengelolaan Sumber Daya Air, dan lain-lain.
Sementara itu, kita juga dihadapkan dengan para elite politik kita yang semakin jelas menunjukkan gesekan-gesekan kepentingan dengan begitu jelasnya di muka umum. Kita bisa lihat kejadian yang belum lama ini, antara Tifatul Tembiring dan Megawati, yang terlihat jelas saling menunjukkan eksistensinya. Sudah saatnya kita butuh pemimpin yang tidak hanya bisa ngomong banyak, rakyat kita sudah terlalu sering disakiti dan dibohongi.
Disamping itu, kita punya semuanya, baik Sumber Daya Alam maupun Manusia, namun perhatian kita kearah sana begitu kurang. SDM kita misalnya, berapa ribu para Tenaga Kerja Perempuan Indonesia di luar negeri yang jarang mendapat perhatian kita. Padahal mereka sudah berkorban semuanya, bahkan nyawa. Selain itu kita bisa melihat pada kejadian yang menimpa PKL kita. Para PKL( pedagang kaki lima ) yang digusur tanpa adanya tindak lanjut. Padahal dari PKL-PKL itulah perusahaan-perusahaan besar minuman dan makanan bisa maju.
Dilihat dari sisi sumber daya alam kita, kita punya semuanya. Namun, distribusi, manajemennya, yang menguasai orang asing. Kita bisa lihat pada kasus freeport, Kasus Blok Cepu, dan lain-lain. Yang lebih mengherankan adalah pemerintah dengan dalih peningkatan manajemen, pemerintah satu demi satu memprivatisasi BUMN.
” Indonesia, sejak dulu kala.............., tetap di..puja...puja bangsa” begitulah bunyi petikan lagu, Indonesia Pusaka. Sebenarnya, sampai saat ini indonesia masih dihargai orang luar. Namun, justru orang indonesia sendiri yang justru masih tidak menghargai negerinya sendiri. Ini bisa kita lihat ketika para koruptor kita melambaikan tangannya sambil tersenyum setelah diperiksa KPK.
Sejarah kita membuktikan, bahwa tradisi kita bukan tradisi “tempe”kita dizaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara,pernah mengarungi lautan sampai Arabia, Afrika, atau Tiongkok( Pidato 17 Agustus 63, Soekarno ). Kita punya perempuan-perempuan tua renta yang tetap survival dengan berbagai pekerjaan. Baik kerajinan kain, batik, jual makanan, dan lain-lain.
Kemerdekaan adalah proses pembebasan politik dari penjajahan asing. Pasca kemerdekaan adalah masa berlanjutnya proses pembebasan sosial masyarakat dari kemiskinan, ketakpedulian, kebodohan, ketergantungan, dan berbagai bentuk kendala yang membatasi masyarakat dalam berinovasi, mengembangkan pilihan-pilihan sah, dan dalam menghadapi masa depan( Hatta Rajasa ).
Untuk mencapai kemerdekaan yang seperti diatas, kita perlu membangun semangat kemandirian, dan kompetitif namun dengan tidak meninggalkan kearifan lokal. Dalam kenyataannya, hanya dengan karakter kompetitiflah suatu bangsa dapat mempertahankan keunggulan daya saingnya.
Bahkan di era knowledge based economy, dengan karakter kompetitiflah, suatu bangsa mempertahankan eksistensinya sebagai bangsa yang merdeka. Selain itu, kita juga tidak boleh meninggalkan budaya-budaya kita, seperti budaya malu, budaya gotong-royong semangat kerjasama, hendaknya dikembangkan. Bukan semangat saling monopoli, atau individualis.
Hal yang penting lagi adalah bagaimana kita bisa benar-benar bebas, dan mandiri. Tanpa adanya itu, kita tidak punya kuasa dalam merubah bangsa kita. Karena kita sendirilah yang akan menentukan masa depan bangsa kita. Tidak seperti saat ini, sebagian besar aset-aset bangsa kita dikuasai asing.
Terakhir kali, kita bisa merenungkan pesan Soekarno : ” Cita – cita kita dengan keadilan sosial ialah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, dengan alat-alat tehnologi modern. Asal tidak dikuasai sistem kapitalisme”. Dengan melihat pesan soekarno di atas, kita bisa mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka sepenuhnya.










Penulis adalah Mahasiswa Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta

HArapan yang kian ,menghilang

MAsihkah ada Harapan?

Pertanyaan inilah yang pantas kita ajukan kepada para calon wakil rakyat kita yang akan maju menjadi wakil rakyat kita pada pemilu 2009 nanti. Indonesia seperti layaknya yang digambarkan oleh penyair-penyair “ bicara Indonesia seperti bicara dalam cerobong asap, meski gelap dan pengap toh kita masih tetap berharap”.

Tidak salah memang apa yang digambarkan oleh penyair diatas. Tatanan Negeri ini sudah hancur,dihancurkan oleh penguasa yang haus akan kekuasaan. Cukup sudah masyarakat berharap, karena tiada lagi memang yang bisa diharapkan untuk membawa perubahan.

Sistem di Negara ini sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa ditawarkan untuk membangun negeri ini menjadi negeri yang berdikari. Pengkhianatan konstitusi kita ada dimana-mana. Kita bisa melihat berapa persen produk undang-undang yang pro kepada rakyat. Hampir tidak ada undang-undang yang berfihak kepada kesejahteraan rakyat.

Undang-undang penanaman modal asing, undang-undang mineral dan batubara, maupun undang-undang minyak dan gas hanya berfihak pada investor asing saja.Tidak salah apa yang dikatakan Sukarno : “ Kolonialisasi hanya soal rejeki”. Akan tetapi, saying Indonesia yang kaya penduduk dan kaya sumber daya alam penguasanya justru menjualnya dengan membungkukkan badannya kepada pemodal dan korporat asing.

Kita bisa melihat hancurnya system di negeri ini hampir di setiap sector. Pertama, di sector hukum. Hukum kita seperti halnya jual-beli. Mulai dari tingkat bawah sampai tingkat tinggi. Mulai dari kasus pencurian di desa hingga kasus korupsi semuanya sama.

Idealnya ketika kita melapor ada masalah pada polisi maka kita akan mendapatkan bantuan. Akan tetapi lain ketika di negeri Indonesia justru kita akan kehilangan uang kita untuk membayar para penegak hukum. Bagaimana mungkin kita bisa mewujudkan keadilan bila para penegak hukum maupun system yang mendukung tegaknya keadilan sudah rusak seperti ini.

Kita bisa melihat kasus minum-minuman keras. Para polisi tentu tahu jaringan-jaringan pengedar maupun pabriknya langsung, akan tetapi kenapa minum-minuman keras tetap ada di tangan para pengecer. Karena pajak yang diberikan pabrik minuman keras tidak sedikit.

Kedua, pada system birokrasi. Birokrasi kita adalah birokrasi yang paling boros dibanding Negara-negara lain. KTP yang seharusnya gratis saja, harus bayar puluhan ribu rupiah di kota-kota besar. Kalau tidak percaya silahkan saja anda mengurus pembuatan SIM di kantor polisi. Kalau tidak memakai uang maka akan lama waktu pembuatannya.

Ketiga, Sistem ekonomi kita. Jangan heran kalau negeri kita negeri terkorup nomer satu, karena system ekonomi kita sudah benar-benar hancur. Sistem ekonomi kita adalah system ekonomi yang menghamba pada pasar. Sudah tidak ada lagi peran Negara dalam system ekonomi kita. Bisa kita cek pada peraturan menteri kita yang menghalalkan impor barang jenis berat sampai teringan pun gratis. Akan tetapi lain halnya dengan kaum pengusaha negeri kita sulit kita temukan dari mereka yang bebas pajak.

Keempat, system pertambangan kita. Apalagi pada sector ini, hampir tidak ada lagi harapan pada sector ini, pencuri kekayaan alam kita dilindungi Negara kita. Dengan adanya undang-undang penanaman modal tidak ada lagi jaring pengaman bagi pertambangan kita. Kekayaan negeri ini sudah habis diraup oleh para pemodal dan korporat asing. Bahkan nurani pemimpin negeri ini bisa dikatakan mati.

Kasus Freeport, kasus newmon, dan kasus lainnya menjadi bukti bahwa pemerintah lebih berfihak pada pemodal. Tanah rakyat digusur demi pertambangan dengan nilai tukar yang tidak manusiawi, bahkan sampai penduduk negeri sendiri diusir dengan paksa dengan pembuangan limbah yang mencemari laut kita seperti yang ada pada kasus newmon.

Tidak tanggung-tanggung para perampok ini berhenti, sector pendidikan pun jadi sasaran berikutnya. Bagaimana kita membangun reformasi atau bahkan revolusi jika komponen-komponennya sudah diliberalisasi bahkan dikomersialisasikan.

Siapa yang tahu undang-undang BHP yang pada pasal awal-awalannya begitu bagus, akan tetapi pada pasal berikutnya mengarah pada liberalisasi dan komersialisasi. Negeri ini sudah dijual oleh pemimpin kita sendiri.

Layaknya perlu kita merenungkan pesan sukarno bukan hanya pada Megawati akan tetapi pada seluruh bangsa juga : “ Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, sedang perjuanganmu akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri”. Inilah kiranya jaman yang sudah dipesankan oleh Sukarno.

Tiada lagi yang diharapkan di negeri ini. Semua sector sudah rusak, gerakan penyadaran, dan gerakan alternatif perlu kita lakukan dari sekarang. Tenbtu kita sebagai warga Negara ini tidak ingin Negara ini hancur perlahan-lahan. Sudah saatnya semua rakyat Indonesia sadar akan yang terjadi saat ini.

Harapan akan selalu ada, jika kita mau berjuang demi tegaknya kembali kedaulatan negeri ini. Cita-cita sukarno, Hatta, Tan malaka yang belum selesai harus kita selesaikan. Demi terwujudnya negeri subur indah makmur, adil aman, dan sentosa.

Bicara Indonesia,

Seperti bicara dalam cerobong asap,

Meski gelap dan pengap

Toh kita masih tetap berharap,
















Rabu, Februari 11, 2009

" CErpenku"

Lihatlah………!!!
by Arif Saifudin Yudistira

Siang itu panas matahari begitu menyengat kulitku. Di samping belakang kampusku banyak warung makan berderetan. Sambil bercakap-cakap kakiku seperti sudah mencium bau makanan yang enak, dan murah pastinya. Yah,maklum selera anak kos,pas-pasan.
”Enaknya makan dimana Rif?tanya Ikhlas temanku.
”Wah,yang murah ja yah...uangku mepet nih....(jawab aku)
Yah...kalau itu sih sama.(Ikhlas)
(Sambil melirik gubuk milik nenek tua, kami pun menjatuhkan pilihan kami disana).
Disini aja yah rif?.Aku biasa makan disini.kata ikhlas sambil menunjuk jarinya ke arah warung di depannya.
Yah, disini jah gak apa-apa. Tapi murah kan?.(tanya aku sedikit khawatir kalau-kalau uangnya tidak cukup)
Iyah...iyah...murah nak....sahut Ibu pemilik warung.(namanya Mbok Iyem)
Maeme nopo mas?.(Makannya pake apa,Mas? bertanya pada kami).
Saya nasi sayur dan es teh Bu..!(kata ikhlas)
Saya sama Bu....Sahutku...
Sambil menikmati suasana rumah penuh asap hitam pekat ditemboknya. Ini menunjukkan Ibu itu jualan disana sudah lama. Aku memandangi nenek itu penuh rasa iba, tak terasa hatiku tersentuh, fikiranku melayang dan berkata : Apa nenek itu hidup sendiri yah,,,,cari makan sendiri.....kasihan....

Bu, anda jualan sendiri Bu...?(tanyaku...)
Iyah nak, dari pagi sampai jam tiga....(jawab Ibu)
Lha, anak Ibu kemana? (tanyaku kembali)
Anak Saya yah dirumah....(aku terkejut mendengarnya,sambil berkata dalam hati kok tega yah....Ibunya disuruh jualan dan anaknya malah enak-enakan dirumah)
Beneran, Bu....(sahutku tidak percaya)
Iyah.....anakku sudah hidup sendiri semua,sudah mandiri. Lha wong saya itu kan jualan disini....sudah lama....
Lha kangge nopo Bu....untungipun?....(Lha buat apa untungnya,tanya aku)
Oooooalah leeee......Aku ki dodol gur hobi....seneng wae....(OOOOalah nak....nak...aku itu jualan disini itu....Cuma hobi.....senang aja....).
Dalam hatiku berkata : Ternyata, orang Indonesia begitu luar...biasa.......

Selasa, Januari 13, 2009

Meneropong Arah Gerak IMM menuju Gerakan Pencerahan

Meneropong Arah Gerakan Imm Menuju Gerakan Pencerahan
Oleh Arif Saifudin Yudistira

“Pergerakan itu maju kalau tidak ditindas, pergerakan juga maju kalau ditindas”
(Sukarno)
Imm sebagai sebuah gerakan tentu sangat penting peranannya dalam mengemban misi kenabian dan dalam mengemban misi kerakyatan. Imm tidak hanya berfungsi sebagai gerakan dakwah, akan tetapi juga berfungsi sebagai gerakan umat, gerakan perkaderan, juga gerakan kerakyatan.
Sebagai gerakan yang ada dalam lingkup kemahasiswaan tentunya kita mempunyai peran penting dalam mempengaruhi, mengajak, dan melakukan perubahan dan membawa iklim yang kondusif dalam rangka mendukung dan mewujudkan cita-cita bangsa.
Tak terasa umur IMM sudah tidak lagi muda, karena sudah kepala empat. Tentu watak dan karakter harus sudah berubah. Watak dan karakter gerakan kita jangan sampai seperti yang dikatakan syafii maarif yaitu beromantisme internal.
IMM harus sudah saatnya progress, futuristic tanggap terhadap permasalahan-permsalahan yang ada di lingkungan IMM pada khususnya dan kebangsaan pada umumnya.
Zaman yang makin lama makin bergerak harus kita hadapi tantangan-tantangannya. Ke depan apa yang perlu dilakukan IMM?sebenarnya pertanyaan inilah yang cukup mendasar. Hal yang bisa kita lakukan sebagai penggerak IMM adalah :
Pertama, Reorientasi gerakan secara terarah. Dalam hal ini IMM harus menentukan orientasi dan program yang jelas bagaimana gerakan ini akan dibawa. Mau ke arah pragmatiskah?,ke arah romantismekah? Atau kerakyatan?.
Kedua, Implementasi manifesto profetik. Sudah saatnya IMM menunjukkan bahwa dia adalah gerakan yang berkarakter. Bagaimana masyarakat akan melihat bahwa kita punya posisi tawar yang jelas dan terarah.
Ketiga, MElakukan Pembaruan Pemikiran Islam. Dalam hal ini IMM harus merubah konstruk pemikiran yang taqlid dan kita harus melakukan pembaruan pemikiran kita selaku kader IMM. Bagaimana kita bisa berfikir progress, futuristic,dan toleran.
Keempat,Perubahan Konsep perkaderan dengan konsep liberatif dan humanis. Dalam hal ini ke depan kita perlu mengubah konsep perkaderan kita yang non humanis, penuh dengan pemenjaraan pikiran,dan elitis.
Kita perlu mengubah konsep perkaderan yang demikian dengan konsep perkaderan yang liberatif dan humanis. Kader harus kita biarkan bagaimana agar mereka senantiasa berubah menjadi manusia yang seutuhnya. Biarkan mereka berindividuasi dan menemukan dirinya masing-masing. Tugas kita adalah membantu saja agar mereka menemukan dirinya itu.
Terakhir, Seperti yang dikatakan sukarno “pergerakan itu maju kalau ditindas,pergerakan itu maju kalau tidak ditindas”. IMM harus senantiasa membangun semangat kemandirian, tidak membiarkan untuk terus menyandarkan “ndoke si blorok”(mengandalkan pada atasan).
IMM harus tetap berdikari meskipun banyak penindasan menimpa dirinya. Baik itu kampanye hitam, penghambatan gerakan,dan lain-lain.IMM harus menjadi pelopor untuk melawan penindasan sistemik,dan penindasan akal. Bagaimana IMM berperan untuk menjadi stake holder dalam aksi massa agar terwujud gerakan yang membebaskan.













Penulis adalah Aktifis IMM, artikel ini disampaikan dalam diskusi “ Meneropong Arah Gerak IMM” IMM FKIP UMS,

Kamis, Desember 04, 2008

" khazanah Bahasa Iklan "

Ketika kita membaca slogan yang ada pada bahasa iklan kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Bahasa iklan memang bukan sekadar bahasa seperti yang kita gunakan sehari-hari.

Tidak hanya itu, bahasa iklan mempunyai beberapa karakteristik yang menyebabkan kita selaku audiens bisa tertarik untuk melihat, mendengar, mengingat atau bahkan membeli produk iklan itu. Bahasa iklan mempunyai khazanah yang luar biasa kalau kita mau memahami dan mempelajarinya. Ada beberapa hal yang menjadikan bahasa iklan menjadi penuh khazanah bila kita kaji. Pertama, bahasa iklan mengandung sesuatu hal yang sebenarnya ada di sekitar kita namun jarang kita perhatikan (baca: terinspirasi). Sehingga bahasa iklan begitu mudah diingat. Misalnya: ”Teman selalu bisa dijadikan sandaran.” Kalimat ini tentu akan mudah diingat dan biasa terjadi di lingkungan kita sehari-hari. Kemudian yang lain misalnya: ”Nggak ada loe nggak rame itu juga sebenarnya merupakan lelucon yang mungkin biasa diucapkan kita. Kedua, dalam bahasa iklan tidak perlu menggunakan bahasa baku yang penting unik dan memikat. Misalnya seperti kata di atas: ”Sueeger tenan”, ”Nggak ada loe nggak rame”, ”ueenak tenan”, ”roso-roso”, mamamia lezatos dan lain-lain. Ketiga, terkadang bahasa iklan juga mengandung makna filosofis. Padahal tak banyak yang memperhatikan maknanya, namun hanya membeli produknya. Misalnya: ”Perubahan itu perlu”, ”Berani kotor itu baik”, ”Talk less do more” dan lain-lain. Terakhir, bahasa iklan juga bisa mengandung makna ajakan. Hal ini bisa kita lihat dalam iklan layanan masyarakat. Misalnya: ”Ayo pakai produk Indonesia” dan ”Lindungi hutanmu.” - Oleh : Arif Saifudin Y Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Perlunya Evaluasi secara Menyeluruh, Bukan sekedar UNPK

Perlunya Evaluasi secara Menyeluruh,
Bukan sekedar UNPK

“Kesalahan terbesar sekolah adalah mencoba mengajarkan segala hal kepada anak-anak dan menggunakan rasa takut sebagai motivasi dasarnya(Stanley Kubrick). Inilah yang terjadi di sekolahan-sekolahan kita. Hal ini terlihat jelas ketika guru memberi peringatan siswanya ketika mendekati ujian. “Belajar yang rajin yaa naak, kalo nanti gak lulus kamu yang rugi sendiri”.
Kemudian anak menjadi termotivasi oleh ketakutan yaitu takut tidak lulus, apalagi setelah tidak lulus ditakuti lagi dengan UNPK yang juga masih belum jelas lulus tidaknya.
Inilah yang sebenarnya tidak sesuai dengan konsep pendidikan kita. Pendidikan dipandang sebagai sesuatu hal yang menakutkan sehingga mengkerdilkan kemampuan peserta didik itu sendiri. Siswa kita dipaksa mengerjakan soal-soal latihan dan menghafal rumus selama satu bulan penuh sebelum menempuh ujian, baik ujian nasional ataupun UNPK juga tidak jauh berbeda.
Maka tidak heran ketika nanti pada saat ujian ada siswa yang jatuh sakit, stress, dan lain-lain. Terlebih nanti saat pengumuman hasil ujian, ada siswa yang tidak lulus. Siswa takut, minder,putus asa, bahkan ada yang sampai bunuh diri.
Pendidikan yang seharusnya memiliki makna bagi perkembangan peserta didik(Brown,1977) menjadi sesuatu monster yang menakutkan. Akibatnya, kemampuan peserta didik, potensi peserta didik cenderung dimatikan. Hal ini terjadi karena paradigma guru selama ini yang dipandang ”super segalanya” masih melekat.
Kurikulum KTSP yang katanya bisa merubah paradigma tersebut justru dimanfaatkan untuk melegitimasi bisnis penerbitan buku-buku. Siswa diharuskan membeli buku agar pandai. Akhirnya, tidak heran sehingga kemudian sekolah dipandang kapitalis dengan banyaknya buku yang harus dibeli.
Hal ini jelas bertentangan dengan aturan kita pasal 31 ayat 2 : ” Bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar sembilan tahun, dan pemerintah wajib membiayainya”.
Memahami dan memaknai proses pendidikan
Edukasi berasal dari bahasa latin ”educare” yang artinya ”membawa keluar”. Sekolah sebenarnya bearasal dari sana, membawa anak keluar sehingga langsung menyentuh masyarakat. Kemampuan menyesuaikan diri dengan masyarakat, maupun kemampuan untuk hidup mandiri jarang dipelajari di sekolahan.
Sekolah menjadi suatu tempat yang terpisah dengan realita ajaran-ajaran yang ideal namun jarang diterapkan. Sekolah juga menginisiasikan mitos konsumsi tanpa akhir.Mitos modern ini dasarnya keyakinan bahwa proses pasti menghasilkan sesuatu yang bernilai, dan karena itu produksi pasti menghasilkan permintaan. Di sekolah kita diajarkan bahwa yang bernilai adalah hasil kehadiran kita dikelas, bahwa nilainya meningkat jika banyak masukan kita peroleh, dan akhirnya diukur lewat gelar-gelar ijazah(Ivan Illich)
Akhirnya, ketika kita masuk dalam dunia sekolah, kita cenderung merasa terbelenggu dan tidak bebas. Karena ketika kita mau masuk sekolah kita, kita dibayangi dengan berbagai kekhawatiran yang tidak pasti yang menghadang di depan kita. Mengenai lulus atau tidak, mengenai masa depan kita, mengenai moral, dan sebagainya. Belum lagi belenggu SPP, biaya buku, biaya tutor, dan lain-lain.
Dalam proses pendidikan kita, tentu saja kita tidak boleh meninggalkan tujuan pendidikan kita : ........”Mencerdaskan kehidupan bangsa,memajukan kesejahteraan umum”.....inilah yang sering dilupakan dan dianggap enteng oleh para pengambil kebijakan pendidikan.
Mencerdaskan seringkali diartikan dengan menguasai teks-teks materi dan soal-soal. Padahal itu hanya makna secara sempit saja. Makna yang lebih substansial yaitu diharapkan kita memiliki kecerdasan yang akan membawa tidak hanya kesejahteraan pribadi tapi juga kesejahteraan umum.
Selain itu menurut Prof. Suyanto, Ph.D. dalam bukunya ”Dinamika pendidikan nasional” berpendapat bahwa tujuan pendidikan kita adalah ” membangun mentalitas yang berkarakter”. Membangun mentalitas yang berkarakter disini tidak lain dan tidak bukan adalah menemukan jati diri sebagai manusia yang utuh yang memiliki berbagai potensi yang bisa dikembangkan.
Namun, sekolah kita tidak demikian, sekolahan kita menyamaratakan kemampuan dengan adanya standarisasi skor. Hal ini akan berdampak jelas ketika kita keluar dari sekolahan , kita bingung mau kemana?. Akhirnya sekolahan dipandang sebagai mesin pencetak pengangguran,yang juga telah berjasa membingungkan masa depan orang dan membuat banyak orang putus asa gara-gara tidak lulus ujian.
Perlu Evaluasi, Bukan UNPK!!!
Hal yang kurang saat ini adalah tidak adanya sebuah evaluasi dari semua fihak secara mendasar mengenai kurikulum pendidikan maupun penerapannya di lapangan.Kebanyakan evaluasi baru ada dalam tataran praktik di lapangan, belum pada permasalahan mendasar yaitu pada sistem pendidikan kita.
Kejadian pada hari kamis(26/6)tentang tertangkapnya sejumlah guru membantu siswa dalam mengerjakan UNPK kejar paket C setara SMA(SOLO POS) memberikan gambaran bahwa Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan masih diwarnai berbagai kecurangan yang tidak jauh beda dengan Ujian Nasional.
Pelajaran tersebut hendaknya dijadikan evaluasi bagi pemerintah mengenai perlu tidaknya mengevaluasi atau mengubah kurikulum atau sistem pendidikan kita selama ini. Sehingga ke depannnya kita tidak lagi mendengar siswa yang stress, putus asa, juga bunuh diri karena tidak lulus ujian Nasional, ataupun UNPK. Dan yang menjadi catatan penting, ujian yang sesungguhnya adalah ketika kita terjun dan berada dalam masyarakat, dimana apa yang kita dapatkan dalam pendidikan kita diaplikatifkan.

Rabu, Desember 03, 2008

Catatan tentang pilrek

Ada sebuah catatan yang menurut penulis begitu luar biasa dalam pilihan rektor kali ini. Mungkin baru pada pemilihan rektor di tahun ini, mahasiswa bersatu bersama-sama turun ke jalan untuk menyuarakan gumamnya dan aspirasinya.
Rasanya memang sudah cukup lama gumam mahasiswa ini terpendam, sehingga pada saat yang tepat gumam itu berubah menjadi sebuah tuntutan yang sama-sama kita tuangkan dalam aksi besar-besaran pada saat Pilihan Rektor kemaren.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada pilihan rektor kali ini para calon rektor bersedia menandatangani kontrak politik meskipun sebelumnya sempat menyatakan menolak pada saat diwawancarai.
Adanya ” Kontrak Politik ” yang merupakan rumusan dan catatan penting tuntutan dari para mahasiswa harus senantiasa kita kawal. Karena akan percuma saja ketika kontrak politik mahasiswa ini hanya sekedar menjadi kertas biasa saja, meskipun ada kekuatan hukumnya.
Semua civitas akademika harus sadar sepenuhnya bahwa komitmen kita bersama dalam membangun dan mewujudkan kampus ini menjadi kampus yang lebih baik harus kita usahakan bersama.
Sebab, permasalahan-permasalahan yang terjadi di kampus kita harus segera kita selesaikan. Seperti permasalahan sarana dan prasarana seperti ruang kelas, rasio dosen dengan mahasiswa, kenaikan SPP tiap tahun ajaran baru, serta parkir yang amburadul adalah permasalahan yang menjadi PR buat rektor terpilih.
Sudah saatnya kita butuh rektor yang pro mahasiswa yang senantiasa terbuka terhadap permasalahan di Kampus ini, termasuk masalah kekurangan pendanaan yang kemudian harus dibebankan pada mahasiswa melalui kenaikan SPP tiap tahun ajaran baru ataupun tiap semester lima.
Rektor yang baru harus sering dialog dan audiensi dengan mahasiswa serta makin transparan dalam hal keuangan di kampus ini, karena kampus yang semakin baik, akan makin transparan dan terbuka termasuk dalam hal keuangan.
Karena pada dasarnya tanggungjawab akan majunya kampus ini tidak hanya tergantung pada rektornya, akan tetapi mahasiswa juga merupakan komponen pokok yang tidak boleh dilupakan oleh rektor kita.
Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dan partisipasi aktif dari semua elemen kemahasiswaan baik dari IMM,BEM, dan elemen kemahasiswaan lainnya untuk senantiasa saling mengingatkan dengan rektor terpilih agar bertekad bersama-sama untuk mewujudkan apa yang sudah disepakati bersama dalam ”Kontrak Politik Mahasiswa”.
Sehingga cita-cita bersama untuk mewujudkan visi-misi kita menjadikan kampus ini sebagai wahana keislaman dan keilmuan bisa kita wujudkan bersama tentunya dengan kerjasama yang baik antara pemimpin{baca : Rektor} dengan civitas akademika UMS.HIDUP MAHASISWA, HIDUP CIVITAS AKADEMIKA UMS.



Penulis adalah Presidium Kawah Institute{Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi Revolusioner}
dan Pengurus DPP PSS{Partai Sembilan Setengah}

Minggu, November 30, 2008

Sepercik Tentang Kejahatan Neoliberalisme

Secara bahasa arti dari neoliberalisme adalah sebuah faham yang berorientasi pada kebebasan gaya baru. Para ekonom neo-Liberal di tahun 1970-an berhasil menembus dominasi ilmu ekonomi. Di tahun 1974, Hayek dianugerahi Nobel Ekonomi. Sesudahnya Friedman mendapat Nobel Ekonomi di tahun 1976. Juga Maurice Allais, seorang anggota Mont-Pelerin Society, mendapat Nobel Ekonomi di tahun 1988. Sejak tahun 1970-an, neo-Liberal mulai berkibar. Sejak itu pulalah seluruh paradigma ekonomi secara perlahan masuk ke dalam cara berpikir neo-Liberal, termasuk ke dalam badan-badan multilateral, Bank Dunia, IMF dan GATT (kemudian menjadi WTO).
Secara prinsipil, neoliberalisme mengandung beberapa pengertian : Tiga poin dasar neo-Liberal dalam multilateral ini adalah: pasar bebas dalam barang dan jasa; perputaran modal yang bebas; dan kebebasan investasi. Ciri lain dari neoliberalisme antara lain: Kekayaan terpusat pada sekelompok, orang maupun sindikat bisnis raksasa, Mati dan lumpuhnya fungsi negara dalam layanan public, privatisasi atas semua sektor layanan publik (pendidikan dan kesehatan) Semua kekuatan kritis menghamba pada rezim pasar (media, intelektual dan gerakan sosial)
Hal ini seperti yang berawal di inggris seorang thatcher juga menggunakan privatisasi untuk memperlemah kekuatan Serikat Buruh. Dengan privatisasi atas sektor publik, maka Thatcher sekaligus memperlemah Serikat-Serikat Buruh di BUMN yang merupakan terkuat di Inggeris. Dari tahun 1979 sampai 1994, maka jumlah pekerja dikurangi dari 7 juta orang menjadi 5 juta orang (pengurangan sebesar 29%).
Kaum mafia Berkeley UI yang dulu neo-klasik, kini juga berpindah paham menjadi neo-liberal. Sekarang ini praktis kredo neo-liberal telah dipeluk oleh para menteri ekonomi saat ini. Menko perekonomian Aburizal Bakri, selain pengusaha besar juga punya Freedom Institute, lembaga pengibar paham neo-liberalisme. Menteri-menterinya juga satu paham dengan IMF, Bank Dunia dan ADB.
Praktek di Indonesia
Melihat Konteks indonesia, indonesia sudah ”menghamba ” pada neoliberalisme ini. Kita bisa melihat ini dari salah satu ciri dari neoliberalisme yaitu perputaran modal yang bebas, kita bisa melihat ini pada konsep MLM ( multi level marketing) tidak banyak orang Islam yang kemudian terjebak pada sistem ini karena dengan harapan akan membawa perubahan pada ekonomi pada dirinya.,padahal Nabi mengajarkan bahwa untuk menguasai perekonomian dengan berdagang bukan dengan mengakumulasi modal.
Kedua, Mati dan lumpuhnya fungsi negara dalam layanan public, privatisasi atas semua sektor layanan publik (pendidikan dan kesehatan). Hampir semua yang ada dalam kebutuhan sehari-hari kita dikuasai oleh neo-liberalisme ini, karena hanya konglomerat asinglah yang berhak menentukan kebijakan harga. Misal : harga fanta naik Rp.500 maka kita hanya bisa mengikuti saja.



Ketiga, selain dengan privatisasi,permainan modal, mereka juga mengubah mainstream orang indonesia. Semisal, cantik itu harus putih, kemudian Air harus beli, tanah boleh dijual/ diprivatkan, dan lain-lain. Lembaga yang begitu menonjol gencar memasukkan ideologi neo-liberalisme misalnya pada freedom institute milik abu rizal bakrie, dan Andi mallarangeng. Strategi neoliberalisme antara lain dengan :
1. Ber-iklan sebesar-besarnya (omset telkomsel:RP 14,593 triliun/september 2005 dengan belanja iklan Rp 272 milliar (2005)/ PT Unilever omset Rp 3,9 triliun/belanja iklan Rp 256 milliar
2. Melakukan penarikan konsumsi sebesar-besarnya melalui proyek hypermarket (Carrefour bisa meraih omset Rp 1 milliar/hari terutama pada akhir pekan dan hari libur)
3. Mengembangkan layanan sosial untuk masyarakat (total kekayaan 600 ribu oranf kaya di Indonesia: Rp 600 triliun diperkirakan Rp 3-6 triliun (5-10%)
4. Melakukan diskriminasi pelayanan terhadap semua sektor publik (pendidikan dan kesehatan)
Itulah yang dilakukan neo liberalisme pada negara ini, hal tersebut juga ada di lingkungan kota Solo. Misalnya adanya pembangunan center point, paragon, dan mall-mall di Solo. Yang merupakan ciri mendasar yangbisa kita lihat adalah berubahnya keinginan-keinginan manusia menjadi kebutuhan manusia.
1. Terakhir, ada beberapa strategi untuk melawan neoliberalisme tersebut antara lain : Melakukan pendidikan kritis dan kampanye tentang ekonomi pasar dan peta kekuatan modal
2. Mendorong lahirnya organ sosial yang memiliki basis sosial yang prural dan tuntutan politik yang hetrogen
3. Melakukan aksi pada isu-isu spesifik tentang penolakan proyek mercu suar (Pusat Perbelanjaan maupun Pendidikan mahal)
4.Melakukan tuntutan akan kembalinya fungsi negara sebagai penyedia layanan publik yang murah sekaligus bermutu.
Sebagai penutup, yakinlah bahwa kita perlu bersama-sama melawan neoliberalisme ini, musuh kita satu, yaitu neoliberalisme ini.

Selasa, November 25, 2008

Tafsir kawah institute

Tafsir Identitas Mahasiswa Sebagai Generasi Revolusioner
By Kawah Media

Sebuah tantangan sekaligus hambatan mahasiswa hidup dijaman yang serba hedonis dan dihadapkan berbagai pilihan yang memberatkan. Jaman yang dihadapi saat ini memang serba dilematis.
Dilihat dari segi tantangan, kita tak seberat jaman dahulu. Di jaman dulu, kita berhadapan secara fisik maupun fikiran kepada para musuh-musuh kita. Namun, saat ini rasanya benar seperti pesan yang disampaikan oleh Sukarno : “Perjuanganku akan lebih mudah karena melawan penjajah, sedangkan perjuanganmu akan lebih berat, karena perjuanganmu melawan bangsamu sendiri”
Sebuah kata Revolusi yang dibangun dan diteriakkan pada masa Sukarno, memang bukan sekedar cita-cita yang semudah kata-kata. Membangun generasi revolusioner memang penuh tantangan dan butuh waktu yang tidak sedikit.
Butuh proses yang panjang untuk mencapai kata tersebut. Baik dari gerakan penyadaran, ideologisasi, serta kesadaran untuk selalu menciptakan perubahan. Perubahan yang akan dicapai adalah perubahan yang mendasar, radikal, dan kearah perubahan yang lebih baik.
Tantangan yang dihadapi saat inipun begitu kompleks. Mulai dari benturan budaya, benturan ideology, serta benturan modernisasi begitu menghancurkan generasi muda saat ini.
Sehingga apa yang dikatakan oleh Buya sebagai insan bermoral saat ini sulit ditemukan,atau inteleqtual humanis, atau kearifan local lama kelamaan mulai menghilang.
Oleh karena itu,hadirnya Kawah Institute mempunyai andil yang cukup mampu memainkan perannya mengingat selama ini gerakan yang ada belum ada yang membangkitkan kembali sebuah kata yang telah lama bersembunyi dan jarang kita pekikkan yaitu “REVOLUSI”.SALAM REVOLUSI.


Kontak kami di :
arif_love_cinta@yahoo.co.id (Friendster)atau 085642388268

Jumat, November 07, 2008

" Utopia pendidikan Kita "


“Utopia Pendidikan Kita”
Oleh Arif Saifudin Yudistira*
Bicara mengenai pendidikan kita seperti tidak pernah berhenti membicarakan permasalahan. Karena, tiap kali kita membahas unsur-unsur maupun komponen-komponennya tentu kita akan menemukan setiap permasalahan di dalamnya.
Sulit sekali mewujudkan pendidikan yang sebenarnya di era saat ini. Karena setiap kali mendengar kata pendidikan, kita dipaksakan dengan menyebutkan nama-nama seperti sekolah, gedung,SPP,dan lain-lain.
Pendidikan saat ini layaknya pasar yang terus berkembang dan rumit dengan berbagai perangkatnya. Pendidikan yang seperti ini akibat pendidikan kita telah direduksi dari arti yang sebenarnya.
“ Tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka”(Malcolm Fobes). Saat ini pendidikan kita bukan menjadi pendidikan yang membebaskan, akan tetapi menjadi sebuah penjara yang membelenggu.
Lihat saja,murid-murid kita dari SD hingga perguruan tinggi, mereka akan sangat senang ketika libur tiba atau pelajaran kosong. Aneh, inilah yang terjadi dalam pendidikan kita selama ini. Bukan senang dengan pelajaran yang ada disekolahan mereka.
Tetapi mereka lebih senang belajar melalui alam, belajar akhlak, belajar gotong royong,dan belajar semuanya. Namun semua itu berubah ketika mereka berada dalam kelas, seperti PR, tugas, takut dimarahi guru, takut dikasih skor yang jelek dan lain-lain.
Pendidikan kita belum mampu menjawab segala persoalan bangsa yang ada selama ini. Karena memang tidak diarahkan ke arah sana. Dan memang pemerintahan kita belum mampu mewujudkan pendidikan yang mampu menghadapi masalah seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire.
Ini terjadi karena pendidikan kita hanya layaknya sistematika pasar seperti gaya “banking consept of education”(gramcian)dimana pelajar diberi pengetahuan yang kelak dapat menghasilkan hasil yang berlipat ganda.
Kalau tidak percaya silahkan lihat fenomena universitas-universitas yang dengan segera membuka jurusan-jurusan baru untuk memenuhi kepentingan pasar. Misalnya saja, maraknya jurusan PGSD, PAUD, dan lain-lain yang tiap tahun berubah sesuai dengan kepentingan pasar yang ada.
Anggaran pendidikan kita yang rencananya 2009 diterapkan 20% tidak berdampak perubahan pada guru-guru tidak tetap dan honorer. Masih banyak guru-guru honorer dan tidak tetap yang telah banyak berjuang dan masih kurang beruntung.
Yang terjadi saat ini juga berdampak bagi calon-calon guru kita, saat ini calon-calon guru kita jarang yang mau ditempatkan di pelosok-pelosok. Mereka ingin cepat lulus, cepat mengajar , namun ingin juga dapat gaji besar.
Orientasi mereka sudah berubah, tujuan mereka bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, tatapi sudah berorientasi ke materi atau uang dan kesejahteraan pribadi mereka saja.
Hal ini tentu akan membahayakan bagi masa depan pendidikan kita kedepan. Bagaimana bangsa kita bisa maju, bila guru-guru kita bermental lemah, lemah semuanya.
Kita saat ini makin terjebak dalam penjara pendidikan kita. Karena, pendidikan kita bisa menyamakan isi otak kita. Gaya-gaya orde baru masih ada di sekolah dan pendidikan kita. Hukuman yang tidak mendidik, bahkan kekerasan masih ada sampai sekarang.
Pemikiran kita sama, karena gambaran yang ada dalam perkuliahan di perguruan tinggi baik dari dosen maupun mahasiswanya hanya pandangan sempit. Seperti cepat lulus, dapat skor tinggi, dan dapat pekerjaan dengan bayaran tinggi. Inilah gaya pendidikan kita, logika pendidikan kita sudah berubah dari logika pendidikan menjadi logika untung rugi, maupun logika investasi.
Pendidikan kita tidak pernah mengajarkan bagaimana nilai-nilai kemandirian, bagaimana kita survival hidup di zaman global saat ini, begitulah Sri Sultan Hamengku Buwono mengkritik pendidikan kita. Hal tersebut memang benar adanya,karena pendidikan kita sudah di bawah kendala para pemodal saja.
Lebih parah lagi, nilai-nilai kearifan local sudah terasa hilang dalam pendidikan kita. Buktinya para pejabat yang memiliki pendidikan tinggi masih tega membabat hutan, masih tega korupsi, masih tega melihat rakyat kita sesamanya sakit, teraniaya, dan termarginalkan di negeri yang katanya subur makmur.
Tidak heran kemudian sumber daya kita kebanyakan dikuasai asing, karena pendidikan kita bukan diarahkan pula untuk mengelola alam dan kekayaan kita sendiri, tetapi memenuhi kebutuhan untuk dipekerjakan saja. Sedang yang menjadi top manajemen, top leader adalah bukan orang kita melainkan orang asing.
Berbeda dengan orang tua kita dulu, orang tua kita dulu tidak berpendidikan dalam arti bersekolah. Akan tetapi, mereka belajar semua hal tentang kehidupan, sehingga mereka bisa menjadi orang besar dan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai dan kearifan lokalnya.
Maka tidak heran cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum……”hanya menjadi utopia belaka. Entah sampai kapan, kita tidak bisa menjawabnya. Karena system ini sudah terlalu akut, dan terlalu rumit. Hanya dengan perubahan secara radikal, sistematis, secara bersama-sama untuk perubahan dan cita-cita pendidikan kita.
Terakhir kali mungkin kita bisa merenungkan pesan Ki Hajar DEwantara: " Seorang pemuda yang jualan es cendol, lebih bermartabat daripada seseorang yang menenteng ijazah kemana-mana tanpa dia mau mencoba berkarya sendiri"
Penulis adalah Calon Pendidik, belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Selasa, November 04, 2008

" Membangun Budaya Kota Solo"

Tantangan menjadikan Solo kota budaya

Jargon Solo sebagai Kota Budaya memang sudah tidak asing lagi di masyarakat Solo dan sekitarnya. Namun sayang sekali kesadaran masyarakat Solo belum terbangun sepenuhnya.
Kita bisa melihat hal ini pada hari-hari biasa.


Kalau berkunjung ke Keraton Solo, Pura Mangkunegaran dan Museum Radya Pustaka, kita akan menyaksikan sepinya pengunjung. Mungkin kita akan lebih banyak menemukan orang-orang mancanegara. Pertunjukan tari, karawitan, gamelan juga sama sepi pengunjung pada hari-hari biasa.
Sebenarnya Pemkot Solo sudah berusaha secara maksimal untuk membangkitkan kesadaran masyarakatnya untuk menjaga dan melestarikan peninggalan-peninggalan budaya di Kota Solo.
Hanya memang kesadaran berbudaya harus disertai perangkat-perangkat yang mendukungnya. Menciptakan kesadaran berbudaya memang bukanlah suatu hal yang mudah. Namun hal itu bukanlah suatu hal yang mustahil jika dikerjakan secara bersama-sama.
Pencurian arca di Museum Radya Pustaka hendaknya dijadikan pelajaran bagi masyarakat Solo akan pentingnya menjaga kelestarian budayanya. Kemudian, Solo begitu kaya akan bangunan-bangunan yang bernilai tinggi, maka tak heran di tengah dampak globalisasi dan era modern ini Solo masih tetap dikenal sebagai kota yang menjaga eksistensi budayanya.
Komitmen Walikota Joko Widodo dan Wakil Walikota Hadi Rudyatmo harus didukung. Misalnya ini terlihat dari berbagai kebijakannya yang berkomitmen untuk menyelamatkan berbagai warisan budaya. Dibuktikan dengan merevitalisasi kawasan Balekambang, Taman Sriwedari (Bonraja), Taman Monumen ‘45 Banjarsari (Villapark), kawasan batik Laweyan dan Ngarsopura Mangkunegaran.
Langkah pemerintah yang lain adalah beberapa hari lalu Solo menjadi tuan rumah WHCC dan SIEM 2008. Ini merupakan sarana strategis dalam menyosialisasikan dan menunjukkan kepada dunia, bahwa Solo berkomitmen untuk jadi Kota Budaya.
Langkah-langkah pemerintah tersebut perlu didukung sepenuhnya dengan cara berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan budaya Solo. Pasalnya, pemahaman masyarakat begitu minim tentang peninggalan-peninggalan maupun budaya yang ada di Solo. Jangan sampai masyarakat turis mancanegara justru lebih paham tentang budaya di Solo daripada kita sebagai masyarakat Solo.
Solo begitu kaya dengan budayanya seperti Sekaten, kirab 1 Sura, karawitan, tari, batik dan lain-lain. Juga tempat-tempat peninggalan bangunan bersejarah seperti Museum Radya Pustaka, Pasar Gede Hardjanagara (1930), Pasar Kadipolo, Stasiun KA (Purwosari, Balapan dan Jebres), Dalem Poerwadiningratan, Gedung Pamardhi Poetri, Gedung Bank Indonesia (Javasche Bank), Loji Gandrung, Gedung Pertani, Gedung Veteran (Gedung Lowo), Gereja Katolik St Antonius dan Bruderan (FIC) Purbayan, Vihara Avalokiteshwara, gedung Brigade Infantrie, bekas gedung Kodim, gedung Woeryadiningratan dan lain-lain.

Tantangan modernitas
Selain itu, dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Solo tentunya banyak tantangan yang dihadapi. Di antaranya, pertama, benturan globalisasi dan modernitas. Hal ini merupakan tantangan yang sulit diatasi. Misalnya masyarakat kita saat ini lebih memilih bermalam mingguan di mal-mal dan tempat-tempat hiburan daripada menonton wayang di Sriwedari.
Hal inilah yang perlu kita sadarkan bersama, bahwa menjaga eksistensi budaya merupakan tanggung jawab kita bersama. Memang globalisasi menghadapkan kita dengan pilihan-pilihan yang memberatkan.
Kita juga melihat keadaan pemuda saat ini, mereka lebih hafal tempat belanja paling menarik di Solo daripada mengenal tempat budaya di Solo. Hal ini merupakan tantangan kita bersama dalam membangun masyarakat Solo yang berbudaya.
Kedua, kurangnya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya budaya. Hal ini terbukti pada hari-hari biasa. Pertunjukkan budaya hanya ramai di saat momen-momen tertentu.
Ketiga, minimnya regenerasi pelaku budaya atau orang yang melestarikan budaya. Misalnya saja ini terjadi pada minimnya minat generasi muda menjadi pemain gamelan, penari, dan lain-lain. Hal ini berbahaya bagi pelestarian budaya Solo ke depan.
Ketiga tantangan tersebut perlu kita hadapi bersama dengan membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya serta dengan memanfaatkan stakeholders. Misalnya dengan meningkatkan pelayanan akomodasi, transportasi dan lain-lain. Juga kerja sama yang strategis untuk mengoptimalkan wisata budaya agar budaya Solo tetap terjaga dan mewujudkan Solo sebagai Kota Budaya tak hanya sekadar impian. - Oleh : Arif Saifudin Y Mahasiswa FKIP Bahasa Inggris UMS

Selasa, Oktober 07, 2008

Fenomena Pemakaian Bahasa indonesia

Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia
Oleh Arif Saifudin Yudistira*

Membaca fenomena penggunaan bahasa saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Bahasa Indonesia yang diperjuangkan menjadi bahasa nasional kita oleh para pahlawan bangsa kita, menjadi tiada berarti saat ini. Hal ini disebabkan karena telah dirusak dan dikotori oleh para generasi muda sendiri.
Melalui bahasa gaul, bahasa pop, bahasa gado-gado dan bahasa iklan para generasi kita begitu cepat melupakan dan meninggalkan apa yang menjadi bahasa Indonesia. Generasi muda kita begitu cepat terkena pengaruh bahasa-bahasa yang “unik” di telinga mereka. Tanpa peduli itu bahasa baku atau tidak, mereka menggunakan itu dalam keseharian mereka.
Karena sudah menjadi kebiasaan yang mengasyikkan itulah, seakan-akan mereka lebih ”wuaah” jika menggunakan bahasa-bahasa diatas daripada menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Akibatnya mereka tidak bisa memperhatikan juga yang mana bahasa yang sesuai dengan EYD dan aturan baku bahasa Indonesia. Kita bisa melihat seperti kata-kata : “so what gitu looooh”, ”emang gue pikirin”, ”mamamia lezatos” dan lain-lain.
Gitu, gue, loe, terasa sudah menjadi bahasa yang fasih diucapkan oleh anak-anak muda kita. Tidak heran ketika bahasa mencerminkan sifat dalam diri seseorang. Jika dilihat dalam konteks bangsa indonesia kita tahu saat ini bangsa kita sudah tidak lagi dikenal sebagai bangsa yang ramah. Hal itu bisa kita ketahui salah satunya melalui bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Peranan media memang sangat besar dalam mempengaruhi dan membentuk pola komunikasi dalam berbahasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Saat ini pun media terutama televisi hampir tidak ada yang memperhatikan mengenai efek penggunaan bahasa iklan, bahasa sinetron, dan lain-lain yang bisa mengikis bahasa nasional kita.
Kita bisa melihat dalam setiap penampilan tokoh lawak yang banyak menggunakan bahasa seenaknya saja seperti dalam tayangan ”empat mata”, ”ekstravaganza” dan ”tawa sutra”. Memang dari kaca mata seni kita bisa mentolerir namun dalam sisi penghargaan dan eksistensi bahasa indonesia hal tersebut perlu diperhatikan.
Tidak hanya media, terkadang kesadaran para pemimpin dan tokoh-tokoh kita juga amat kurang. Seperti kita lihat dari apa yang dikatakan Gus Dur: ”Gitu aja kok repot”. Para pemimpin kita jarang yang memperhatikan efek yang begitu besar yang kemudian digunakan anak muda menjadi kebiasaan dalam berkomunikasi.
Menjaga eksistensi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional adalah tanggung jawab semua fihak. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa secara tidak langsung kita sudah dijajah bahasa kita melalui media iklan maupun film-film yang menggunakan bahasa-bahasa yang cenderung mengalir. Kemudian diikuti dengan ketidakpedulian kita terhadap efek yang ditimbulkan yang mengikis dan semakin mengaburkan ciri dari bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa nasional.














Penulis adalah Aktivis Kabid LITBANG FIGUR Universitas Muhammadiyah Surakarta(2007/2008)

Jumat, Agustus 01, 2008

PRESIDEN

Buat temen-temen semua yang baca ini kasih komentar yaaa,gemane loo aku jadi presiden masa depan

Rabu, Juli 16, 2008

Platform calon ketua umum imm fkip ums

Arif Saifudin Yudistira


Data Pribadi

Nama Lengkap : ARIF SAIFUDIN YUDISTIRA

Tempat,tgl Lahir : Cilacap, 30 juni 1988

Alamat Sekarang : Bayanan, Gesikan, Gantiwarno, Klaten


Pendidikan Formal

  1. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas FKIP Bahasa Inggris 2006s/dSekarang

  2. SMA N 1 JOGONALAN Klaten 2003s/d2006

  3. SLTP N 1 Gantiwarno 2000s/d2003

  4. SDN 1 Gesikan, Gantiwarno, Klaten 1994s/d2000


Perkaderan IMM

  1. Darul Arqom Dasar 2006


Training dan Pelatihan

    1. Seminar Nasional tentang konstitusi di Universitas Sebelas Maret, 2008

    2. Seminar Nasional tentang ” Strategi Universitas Menghadapi Liberalisasi Pendidikan”,2008

    3. Pelatihan pendidikan Menengah Perkoperasian, Semarang, 2007

    4. Pengajian I’tikaf Ramadhan 2007

    5. Training Kewirausahaan bersana CES ( Citra Emas )2005

Pengalaman Organisasi di IMM

  1. Ketua Bidang SOSMI 2007-2008

  2. Anggota bidang SOSMI 2007


Pengalaman Organisasi di luar IMM

  1. Anggota IRM bidang dakwah 2005

  2. Ketua IRM Cabang Gantiwarno 2006 s/d 2008

  3. Ketua Bidang KPSDM PD IRM KLATEN 2007

  4. Staff HRD KOPMAUMS 2007s/d 2008

  5. Kabid Organisasi HKMS( Himpunan Koperasi Mahasiswa Se-Surakarta ) 2008

  6. Kabid Litbang FIGUR UMS


Publikasi Karya

  1. Ironi Masyarakat Petani ” 2007 Majalah Pers Fakultas Figur UMS 2007

  2. Demo Kenapa Tidak ?” Rubrik curhat SOLO POS

  3. Sumber Energi untuk Siapa?” Rubrik Mimbar Mahasiswa SOLO POS

  4. Tanggung Jawab Kita” rubrik POS PEMBACA,3 JULI 2008



A . Gerakan Pemikir, Pendidik, Pembaharu


Co Gito Ergo Sum, begitulah kata descrates seorang pemikir yunani, saya berpikir oleh karena itu saya ada, berfikir merupakan landasan dasar bagi kita untuk menjadi manusia yang utuh. Dalam hal ini kita sama-sama mengetahui sebuah perbedaan orang yang berfikir dengan orang yang hanya diam. Orang yang berfikir telah membuktikan dalam sejarahnya akan diberi kedudukan yang lebih tinggi.

Hal ini pula yang seharusnya digunakan landasan IMM dalam bergerak, sebagai gerakan Islam. Islam pun tidak melepaskan diri dari pengajaran tentang hakekat berfikir yang begitu mendalam. Hampir dalam tiap surat dalam Al- Quran kita menjumpai kata ” ............Afalaa yatafakkaruun”

Tidak hanya itu, Sesepuh sekaligus pendiri Muhammadiyah K.H.Ahmad Dahlan pun mengajarkan kita tentang hakikat berfikir dengan pesan yang disampaikan beliau yang berbunyi : ” Manusia perlu dikumpulkan secara bersama-sama untuk memikir untuk apa mereka hidup, untuk apa mereka diciptakan, berfikir tentang kebenaran, menimbang-nimbang serta mencari-cari agar ia selamat dalam kehidupannya karena hidup hanya sekali, alangkah meruginya manusia jika hidup sekali ini sampai sia-sia”

Dari situlah berfikir merupakan sebuah landasan penting di dalam IMM agar IMM bisa bergerak kedepan dan lebih maju. Selama ini gerakan pemikiran inilah yang dirasa kurang, sehingga kelemahan dan kemandeganlah yang terjadi. Apalagi dalam tataran komisariat, gerakan pembaruan pemikiran Islam dirasa cukup penting untuk digalakkan sehingga umat Islam/kader akan menjadi umat yang cerdas, tanggap, dan tidak gagap.

Kedua, sebagai komisariat yang ada dalam lingkungan tentunya kedepannya harus ada sebuah komunikasi pedagogik, dalam hal ini pendidikan yang kita lakukan haruslah berusaha untuk mewujudkan pendidikan yang membebaskan atau pendidikan hadap masalah( Paulo Freire ).

Dengan seperti itu, maka timbullah kesadaran dari masing-masing kader untuk senantiasa mengaktualisasikan dirinya ke dalam IMM agar terjadi aktualisasi gerakan yang progresif. Dengan adanya komunikasi pedagogik yang kontinue, secara otomatis akan timbul transfer of knowledge, transfer of value, dan transfer of morality.

Ketiga, Pembaharu dengan adanya gerakan pembaruan maka akan terjadi

perubahan dan bermunculan ide-ide segar, dan inovasi gerakan sehingga mendorong kader untuk senantiasa kreatif, inovatif,serta dinamis.


B. Filsafat Sebagai Landasan Gerakan

Terus-menerus menanyakan adalah kunci pertama menuju kebijaksanaan. Lewat kesangsianlah kita menyelidiki, dan melalui penyelidikanlah kita menggapai kebenaran”( Peter Abelard 1079s/d 1142)

Dari sebuah kata-kata diatas kita akan memahami, bahwa filsafat akan sangat berperan penting dalam mencapai sebuah progresifitas gerakan. Dengan cara berfikir filsafat serta mempertanyakan maka kita akan belajar dan menemukan berbagai sebuah kesimpulan yang bijaksana.

Dari sesuatu yang bijaksana inilah kemudian kita bisa berfikir dan bertindak dengan benar. Dalam lingkungan pendidikan tentu kita juga akan menggunakan filsafat pendidikan. Sehingga cara pendidikan yang kita lakukan dalam menjalankan roda maupun program organisasi akan senantiasa berpacu pada landasan dan dasar yang benar-benar dipertimbangkan.

Dalam hal ini saya akan mengutip kata bijak dari Max Depree : ”Kita tidak dapat menjadi apa yang perlu kita capai,kalau kita tetap seperti apa adanya”. Dalam kata mutiara ini menjelaskan bahwa setiap kita mempunyai potensi masing-masing yang bisa kita kembangkan. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk senantiasa mencari dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan sesuai dengan bakat kita.

Menjadi manusia yang utuh itulah yang menjadi tujuan kita selaku seorang kader. Untuk ke arah sana maka kesadaran individu dan kesadaran kolektif amat diperlukan. Yang terakhir, sebagai seorang kader tentunya kita harus mengembangkan sifat kemandirian pantang mengedepankan sikap mengharap-harap atau bergantung dengan financial atau apapun. Atau dalam bahasa jawa ”njagakke ndok blorok”.









C. ARAH DAN KEBIJAKAN ORGANISASI

Arah Gerakan Intelektual : Menuju Gerakan yang progresif

Disadari ataupun tidak, fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan adalah merupakan fakultas dengan basis yang cukup besar. Oleh karena itu, sebagai fakultas yang paling besar dengan basis massa yang besar pula, FKIP dituntut untuk senantiasa mengembangkan kompetensi kualitas intelektualnya, untuk mengimbangi kuantitas.

Supaya tidak terjadi obesitas gerakan, sehingga hanya terlihat banyak tanpa adanya kemampuan yang cukup. Untuk mengembangkan dan mewujudkan gerakan ini, diperlukan adanya budaya membaca, menulis, juga diskusi sehingga kader benar-benar tahu akan perkembangan kondisi yang ada di tataran bangsanya, masyarakatnya, kampus, juga lingkungan keorganisasiannya.

Wacana-wacana dasar tentang keagamaan hendaknya perlu diadakan sebuah evaluasi-evaluasi juga inovasi sehingga sebagai gerakan Islam atau dakwah tidak meninggalkan spirit keagamaannya yaitu sebagai ”Agama yang meletakkan rakyat tertindas sebagai pihak utama yang patut dilindungi, dibela, dan diperjuangkan ( Islam Kiri )”.

Disamping wacana tentang keagamaan, wacana pendidikan dan perkembangannya juga harus senantiasa di dalami juga difahami, karena hal ini merupakan pijakan awal kita sebagai kader intelektual.

Dengan memahami serta mendalami apa yang menjadi bidang studi kita, maka kita akan mampu menginterpretasikan dalam gerakan kita. Kemudian, wacana wacana umum, pengetahuan sosial juga harus kita kembangkan sebagai sebuah gerakan yang mengaku peduli terhadap kaum mustaadafin.

Kaum mustaadafin difahami tidak hanya kaum miskin saja, tetapi juga seseorang yang tertindas dalam pendidikan, misalnya kapitalisme dalam pendidikan yang melanda negeri ini, juga tidak menutup kemungkinan di kampus kita ini. Fenomena inilah yang harus senantiasa mendapat respon dari kita, seperti banyaknya kasus-kasus kesalahan sistemik, serta kebijakan pendidikan yang menindas serta kebijakan yang melenceng dari tujuan pendidikan.

Dengan demikian, gerakan progresif akan terwujud, dengan terciptanya suasana belajar yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menenteramkan, sesuai dengan visi-misi pendidikan di FKIP. Dalam hal ini saya memaknai gerakan progresif sebagai gerakan yang membawa perubahan ke arah kemajuan yang kebih baik.




    1. Visi

”Terwujudnya gerakan IMM sebagai gerakan intelektual yang mengabdi untuk kepentingan umat dengan tanpa meninggalkan pada spiritualitas Islam sebagai landasan gerakan”

    1. Misi

”Liberalisasi kader serta pemberdayaan kader (empowerment) menuju kesadaran kolektif kolegial sehingga tercapai visi dan misi IMM”

    1. Rencana dan program Strategis

      • Penguatan wacana pendidikan, sosial ,ekonomi, politik, ekonomi, serta budaya, sehingga tercipta kader yang berwawasan luas dan intelek.

      • Penguatan dan pendalaman ideologi gerakan dikalangan kader sebagai bentuk pendidikan ideologi ikatan.

      • Pemberdayaan kader melalui media-media stretegis( Sekolah kader, diskusi, juga sarana lain) untuk menumbuhkan kompetensi kader.

      • Partisipasi terhadap elemen-elemen strategis dalam mengambangkan kompetensi kader.

      • Membangun jaringan intern dan ekstern komisariat untuk menambah pengalaman kader.

      • Berpartisipasi dalam penguatan jejaring keorganisasian ditingkatan fakultas maupun universitas ( Orbitasi )

      • Individuasi kader, sehingga tercipta perwujudan tri kompetensi di setiap kader IMM.

    2. Penutup

”Dengan adanya landasan filosofis IMM KOM FKIP, sebagai generasi pemikir,pendidik, serta pembaharu serta di dukung dengan adanya filsafat sebagi landasan gerakan diharapkan mampu mewujudkan gerakan intelektual IMM yang mengabdi pada kepentingan umat tanpa meninggalkan spiritualitas Islam sebagai spirit gerakan, dengan liberalisasi kader serta pemberdayaan sehingga tercapai visi dan misi IMM”





Islam itu harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman, Kalau Islam tidak mampu buat mengejar seribu tahun itu,niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada zaman kekhalifahan,tetapi lari ke muka,mengejar zaman – itulah satu-satunya jalan menuju gilang kembali” ( Soekarno )








---Tenang Meyakinkan---

















Minggu, Juli 06, 2008

Wanita

Wanita


Kau begitu mempesona,

Dicipta bukan tuk jadi bencana,

Apa kau memilih untuk menjadi,

Menjadi apa yang kau mau,

Entah apa yang kau mau itupun aq tak tahu

Yang kadang maumu tak sesuai kata hatimu

Mereka, lelaki-lelaki tak tahu diri

Merusak dan merenggutmu

Memelukmu dengan lembut rayuan racunnya

Ah,aku ga bisa berkata jauh tentang mu

Aku belum banyak tahu tentangmu,

Kumengagumimu,

Kumembencimu,

Kupunmenaklukanmu,

Akupun ingin mengangkatmu

Tapi,aaaahhhhh kau begitu rumit untuk kufahami,

Untuk kumengerti….

Aku ingin bebas……

Bebas dari dirimu……ahhhhh apa bisa ya?

Ketakutan,kebencian,kesenangan,asmara,semuanya menjadi satu dalam dirimu

Dalam kisamu,dalam derap langkahmu,





Aku masih bertanya-tanya,

Kenapa engkau menjadi penyebab semua

Bisa bahagia juga bisa penyebab sengsara

Kau terlalu membuat berjuta mimpi-mimpi

Kau membuat hayalan tingkat tinggi

Yang membuat ku terbang,terbang,dan kian terbang


Ahhhh,terbang!terbang kemana? Ke alam impian impian,dan impian

Impian.


Impian yang kau ban gun,bisa semu juga bisa seperti madu

Bisa!!!!apakah bisa semanis yang ……

Haha……..haha………..haha……

Terserah manis yang kau mau….?????

Semua trerserah maumu….maumu…..

Ya,ya,yah yah semua kan terjadi karena dari maumu juga!

Ku tak adil bila kau yang selalu dijadikan sebab?

Tapi,kau sendiri yang memilih untuk jadi penyabab!

Ah,,pa gak salah ?,bukanklah penyebab adalah juga timbul dari lalaki?

Mau salahkan siapa?,aq tak bisa berkata…..

Lebih baik akau tak berkata dari pada semua salah menafsirkannya.



Puisi_Q

Hidup hanya sekali
tak kan terulang kedua kali
hidup bukan mencari puji
tapi mencari ni'mat yang haqiqi
Aku ingin hidupku ini
berakhir dengan kasih
Ilahi

"Sumber Energi untuk Siapa?

Sumber Energi, Untuk Siapa?
Oleh Arif Saifudin Yudistira*

Rasanya aneh, negeri pengekspor minyak harus membayar mahal untuk membeli minyak di negerinya sendiri. Sebenarnya, kalau kita melihat kekayaan alam bangsa kita, kita amat kaya dengan sumber daya alam tersebut. Kita juga kaya dengan berbagai sumber energi, terutama yang berasal dari migas.
Kita kaya akan batu bara, minyak, maupun gas bumi. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa harga BBM kita mahal?. Padahal, dalam setiap harinya, kita mampu mengekspor sekitar 500 ribu barel. Jika demikian, pemerintah idealnya bisa memberikan subsidi lebih banyak dari hasil ekspor tersebut.
Indonesia juga merupakan pengekspor sumber energi terbesar di dunia. 70 % batu bara, kita juga termasuk pengekspor LNG terbesar di seluruh dunia. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain, ketika melihat kondisi Indonesia saat ini begitu memprihatinkan. Karena saat ini, 90 % minyak kita telah dikuasai asing. Subsidi hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Hal ini disebabkan oleh hilangnya rasa nasionalisme para pemimpin bangsa kita.
Bagaimana tidak, pemimpin kita lebih percaya pada perusahaan tambang asing dari pada percaya pada pertamina perusahaan kita sendiri yang juga cukup banyak pengalaman. Ditambah lagi ketika melihat iklan yang mungkin terdengar begitu indah namun ketika diresapi begitu mengenaskan.“Kita untung bangsa untung” rasanya lebih tepat bila dikatakan “Kita apes bangsa ikutan ambles” bila melihat kenyataan 90 % minyak kita dikuasai oleh asing.
Akibatnya, tidak heran bila kasus korupsi terdengar seperti menjadi hal yang lazim dilakukan tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan ada juga pejabat yang sempat tersenyum lebar ketika diperiksa KPK, menyedihkan…!. Janji-janji para pemimpin kita pun jadi terlupakan. Yang lebih ironi lagi adalah pemimpin kita bisa menangis ketika melihat ayat-ayat cinta, dari pada melihat anak-anak kita yang mati karena busung lapar.
Amanah UUD 45 pasal 33 kemudian hanya menjadi simbol belaka. Karena pemerintah lebih memilih swastanisasi dengan dalih menjadikan perusahaan lebih efisien dan dapat berkompetisi dalam masyarakat internasional. Namun sayang kenyataan berbicara lain, swastanisasi hanya mengejar laba ketimbang kesejahteraan sosial masyarakat dan ongkos pelayanan publik menjadi amat mahal sehingga tak terjangkau rakyat miskin.
Inilah akibat dari kita menswastanisasi perusahaan nasional kita. Alasan korupsi pun kemudian dibawa-bawa oleh pemerintahan kita untuk melegitimasi swastanisasi, seolah-olah ketika di swastanisasi kemudian korupsi menjadi hilang. Padahal belum tentu demikian, efek yang jelas terlihat adalah kesejahteraan sosial menjadi kian terlupakan.
Baik kesejahteraan buruh, atau kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Apalagi kemudian diperparah dengan eksploitasi yang berlebihan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar dan keterbatasan sumber daya alam tersebut. Hal ini bisa kita lihat di kasus Freeport.
Nasionalisasi dipandang sebagai sesuatu hal yang mustahil, karena masalah mental, memang menjadi masalah yang cukup vital. Dibutuhkan sikap mental yang tegas, berani, serta siap menanggung resiko untuk melakukan hal ini. Sayang pemimpin kita belum ada yang mempunyai sikap seperti sosok Sukarno, yang tegas menolak keterikatan dan kerja sama dengan asing.
Anehnya, pemerintah saat ini bukannya berhenti dari menjual apa yang menjadi sumber daya kita, namun justru semakin nekat. Terbukti dengan diperpanjangnya kontrak PT FREEPORT di Papua dan EXXON di blok Cepu. Belum genap satu minggu ini pemerintah kita juga akan memprivatisasi krakatau steel yang labanya mencapai ratusan trillun rupiah. Maka pantas ketika dikatakan bahwa saat ini kita sedang dijajah lagi, bahkan termasuk bangsa kita sendiri.
Apa yang bisa kita lakukan ?

Melihat fenomena demikian sudah saatnya bangsa ini kemudian bangkit, serta sadar akan penindasan ini. Jika kita tidak sadar, mungkin kita akan selamanya menjadi bangsa yang diperas sumber-sumber kekayaan kita. Salah satu langkah kita untuk mengatasi hal ini, bisa dengan tidak memilih lagi pemimpin yang merugikan rakyatnya. Serta lebih berhati-hati pada janji-janji palsu calon pemimpin kita pada pemilu 2009 nanti. Karena, jika kita salah pilih lagi, lima tahun kita menanggung akibatnya. Rakyat kita sudah terlalu sabar dalam menghadapi berbagai ujian.
Kedua, dengan meningkatkan dan mengembangkan kemandirian daerah sehingga tercipta kemandirian nasional. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan peluang dan kepercayaan yang seluas-luasnya kepada masyarakat kita untuk menjadi pengelola sumber daya kita. Sehingga keuntungannya tidak lari ke asing, namun bermanfaat bagi bangsa kita sendiri .
Ketiga, meningkatkan kerja sama dengan investor namun tidak sampai ikut serta dalam pengambilan dan penentuan kebijakan. Karena, jika sampai terjadi investor sudah ikut mengambil kebijakan, kita kemudian menjadi semakin tersingkir. Hal ini bisa kita lihat seperti kasus yang terjadi pada blok Cepu maupun Freeport, yang terlalu merugikan kita..
Terakhir kalinya, kita bisa merenungkan pesan dari Ayatulloh Khomaeni : “ Inilah kata-kataku bagi kaum Muslim dan rakyat tertindas di seluruh dunia, Kalian tidak boleh duduk berpangku tangan, menunggu diberi anugerah kemerdekaan dan kebebasan oleh orang yang berkuasa di negeri kalian atau oleh kekuatan asing. Kalian wahai rakyat tertindas di dunia,Bangun! Ambillah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian”.
Dalam pesan di atas, bisa kita ambil hikmahnya yaitu sudah saatnya kita memberikan perlawanan kepada pemerintah kita yang tidak berpihak pada rakyatnya. Karena, ketika kita membiarkan negeri kita dipimpin oleh pemimpin yang dzalim, berarti kita telah membiarkan negeri kita dijajah dan ditindas kembali.











Penulis adalah aktifis IMM KOTA SURAKARTA, juga mahasiswa UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA FKIP BHS INGGRIS.TULISAN INI PERNAH DIMUAT DI KORAN SOLO POS