<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782</id><updated>2012-01-26T06:31:49.673-08:00</updated><category term='Platform calon ketua umum IMM FKIP UMS'/><category term='Puisi IMM'/><category term='puisi_q'/><category term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><category term='Budaya'/><category term='&quot; Membangun Budaya Kota Solo &quot;'/><category term='Mempertanyakan Kembali Peran Koperasi dalam Perekonomian Indonesia'/><category term='Tafsir kawah institute'/><category term='Sepercik Tentang Kejahatan neoliberalisme'/><category term='Wanita_Q'/><category term='KEmerdekaan'/><category term='&quot; Utopia Pendidikan Kita &quot;'/><category term='Pesan bapak Pram'/><category term='Perlunya Evaluasi secara Menyeluruh'/><category term='अर्तिकेल.com'/><category term='Bukan sekedar UNPK'/><category term='Serial nakal dan menggugat'/><category term='Catatan tentang pilrek'/><category term='tan muda'/><category term='puisi kiri'/><category term='puisi-dariku'/><category term='Tulisan_Q'/><category term='cerpen'/><category term='Fenomena pemakaian bahasa indonesia'/><category term='PESAN &quot;sARTRE&quot;'/><category term='&quot;Puisi Iklas Buat Pram&quot;'/><category term='&quot; MEmbangun Budaya Kritis&quot; by Yudistira'/><category term='&quot; Calon Guru yang menyedihkan &quot;'/><category term='PuisiQ_ PErsimpangan'/><category term='&quot;Puisi Abank GIE&quot;'/><category term='PRESIDEN'/><category term='orator kita'/><category term='मुसिम gugur'/><title type='text'>Kawah Institute Indonesia</title><subtitle type='html'>Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>173</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-213546413445633867</id><published>2012-01-20T06:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T06:19:19.404-08:00</updated><title type='text'>Kampus dan Masyarakat Kita</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="text-align: justify;"&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;               Jika ingin melihat kemajuan bangsa lihatlah kampusnya, ungkapan ini saya pikir masih relevan dengan zaman ini. Di jaman ini, rasanya tak ada kampus yang tak berpengaruh bagi kehidupan bangsanya.Bangsa-bangsa Eropa, Amerika, maupun bangsa Asia sendiri, bisa mencapai kejayaan dan keemasannya lahir dari rahim kampus. Pun peradaban yang begitu besar kini, hadir dari kampus, meski kita tak menafikkan peradaban-peradaban yang dicipta dari luar kampus yang terus-menerus tumbuh dan berkembang di masyarakat kita.Kecenderungan kampus sebagai pusat ilmu dan tumbuhnya budaya tidak lagi menunjukkan ke arah yang membanggakan. Kampus seperti kehilangan taringnya dan kehilangan jati dirinya.Jati diri kampus tak lain adalah jati diri manusia-manusianya. Kampus kini seperti lembaga yang tersegmentasi sendiri dan terpisah dari manusianya. Apakah manusia kini mengenal kampus?Apa kampus yang kemudian tak mampu mengenal manusia-manusia yang ada di dalamnya?. Sehingga muncul produk yang tak sesuai dengan harapan manusia-manusia yang ada di kampus.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;Kampus sebagai Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;                Sebenarnya kampus tak lain seperti ibu-bapak guru kita, yang meruwat dan memupuk optimisme terhadap harapan kita, dan dengan berbagai fasilitas yang ada membantu mewujudkan harapan itu. Harapan-harapan individu-individu tersebut diolah menjadi visi bersama dalam sebuah kerangka universitas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi tak ada larangan, kampus menciptakan jalannya sendiri dan cita-citanya sendiri, sebab kampus tak harus sama di tiap daerahnya. Kampus di kota besar berbeda dengan kampus yang ada di pinggiran desa.Dari sanalah kita telah mencoba mengembalikan bahwa kampus tak terlepas dari pelbagai lingkungan yang ada di sekitarnya. Sebab mestinya dari lingkungan dan orang-orang disekitarnya itulah, kampus bisa menjadi solusi dan alternatif bagi persoalan yang ada disekitarnya.“Untuk apa pendidikan dibangun kalau melepaskan diri dari berbagai persoalan di masyarakat kita?”. Begitu HAR Tilaar pernah berujar.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;Ideologi&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Begitu banyak percakapan, obrolan, dan juga berbagai fenomena yang muncul di kampus melahirkan produk dari masyarakat kampus itu sendiri. Produk-produk ini bisa berupa dokumentasi buku, pidato guru besar, maupun kerja organisasi kemahasiswaan.Makalah-makalah, hingga karya tulis mahasiswa. Kita memang bukan dewa yang bisa menciptakan perubahan dengan segera hadir di depan mata kita. Akan tetapi, dimanakah semua produk kampus tadi berkontribusi terhadap pola perubahan masyarakat kita ketika tak mampu memberikan perubahan yang berarti sekecil apapun.Saat itulah kita mulai sadar, bahwasannya ideologisasi begitu memegang peranan penting dalam membangun peradaban yang konon kini hilang entah kemana. Apakah kampus kehilangan ideologi?. Atau apakah kampus berhak mempunyai ideologi?.Modernitas itulah yang diimpikan oleh kampus-kampus di era awal kampus berdiri di negeri ini. Orang masuk ke kampus dengan harapan bisa modern. Namun apa sebenarnya modernisasi itu?.Barbawa ward pernah mengatakan : “Modernisasi adalah memberikan kepada rakyat harapan bahwa sekarang jauh lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari sekarang,kuncinya adalah” &lt;em&gt;hope” &lt;/em&gt;(Rosihan anwar, 2010).Seperti apakah sebenarnya ideologi yang ada di kampus itu?. Tan malaka menderskripsikan ideologi kampus dengan kalimat sederhana dalam brosur pendeknya &lt;strong&gt;SI dan semarang dan Onderwijs&lt;/strong&gt;.&lt;em&gt;”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;                 Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan”.&lt;/em&gt; Dari kalimat itulah muncul onderwijs atau perguruan yang bernafaskan rakyat, modal syarekat atau kebersamaan, dan cita-cita satu yakni hope tadi. Harapan itu tak lain dari harapan murid-murid dan harapan rakyat.Tanpa ideologi yang kuat, maka kampus akan jadi seperti sekarang ini, gamang dan kehilangan posisi di rumahnya sendiri. Ia tak mampu menentukan bagaimana ia harus bersikap, diposisi mana ia bersikap dan kepada siapa sikap itu akan disampaikan?. Jika sudah demikian,maka kampus atau perguruan ini akan jadi menara gading yang tinggi di puncak kejayaannya sendiri, tapi tak membumi.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;Masyarakat kita&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;                 Masyarakat kita pun demikian halnya, saat ini masyarakat kita seperti mendapatkan didikannya bukan dari pengalaman mereka sendiri. Masyarakat kita cenderung belajar dari apa yang disampaikan oleh media-media kita melalui televise, radio dan berbagai arus informasi yang tak terkira cepatnya. Desa kita jadi berubah menjadi desa yang kosmopolitan, yang tak mampu mengenal batas-batas maupun sekat kultural.Alhasil, ketika masyarakat kita ditanya dimanakah kampus yang terbaik di kota ini?. Mereka akan bertutur berdasarkan nama-nama kampus ternama dari televisi, media-media, hingga pada iklan-iklan dan selebaran.Tanpa sadar, masyarakat kita kehilangan kepercayaan dirinya, kepercayaan terhadap alamnya, hingga kemajuan serta kemampuan mereka mengelola harapan-harapan akan masa depan anaknya. Maka diserahkan anak-anak mereka ke dalam kampus .&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;               Dengan demikian, tanpa sadar ideologisasi telah hilang sejak kampus berubah jadi tempat yang hanya memuja harapan, tanpa kemudian beranjak mewujudkan harapan, yang muncul adalah ahli-ahli yang bisa membaca persoalan dengan analisis mendalam, tapi tak mampu menguraikan solusi persoalan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;Hilangnya Zeitgeist&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Zeitgeist &lt;/strong&gt;adalah semangat membebaskan orang kecil, golongan buruh dari kungkungan keterbelakangan, kemiskinan, mengangkat martabat kaum pekerja menjadi layak menurut perikemanusiaan. Kampus kini jadi kumpulan jargon yang pandai mengelola iklan dan memainkan komunikasi klisenya dengan berbagai tawaran menggiurkan, tapi lalai substansinya sebagai zeitgeist. Jika mengeliminir spirit zeitgeist tadi,maka kampus jadi terpisah dari masyarakat kita. (*)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di bilik litearasi solo, presidium kawah institute indonesia,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*)tulisan dimuat di gema-nurani.com 19 januari 2012&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-213546413445633867?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/213546413445633867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2012/01/kampus-dan-masyarakat-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/213546413445633867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/213546413445633867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2012/01/kampus-dan-masyarakat-kita.html' title='Kampus dan Masyarakat Kita'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-423756611217217945</id><published>2012-01-06T01:36:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T01:40:10.186-08:00</updated><title type='text'>Politik Dan Hakikat Kemenangan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kurang dari 13 tahun negeri ini mereformasi dirinya, akan tetapi realitas politik di negeri ini makin menunjukkan kemundurannya. Politik adalah panglima itu slogan dan fenomena politik pada masa orde lama, rakyat wajib berpolitik, meskipun rakyat belum dibiarkan memiliki kebebasan politiknya. Orde baru lebih mengerikan lagi, politik adalah pembangunan yang ditafsirkan dengan gaya politik “asal bapak senang”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah lama kita meninggalkan reformasi, kita menikmati era kebebasan dan ekspresi politik yang luar biasa. Dari reformasi itu pula partai politik menikmati hasil dari melimpah-ruahnya kekayaan negeri ini. Partai politik menjadi mandor dan pemilik di negeri kapling seperti negeri ini. Politik dijadikan alasan untuk menimbun, mengelola dan melestarikan generasi politik yang berputar bagai siklus nestapa yang memberatkan bagi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Realitas politik yang seperti ini sudah pernah dianalisa oleh guru bangsa kita Ahmad Syafii Maarif di bukunya “mencari autentitas dalam kegalauan”(PSAP,2004): Dengan kerusakan mental yang cukup berat yang kita warisi selama ini, konstelasi dan konfigurasi politik kita ke depan masih sulit mencapai kemapanan dan kestabilan. Budaya politik instan yang dihasilkan dari gaya didikan dan kaderisasi partai politik adalah dosa sejarah yang mesti kita hentikan. Partai politik kita sangat berhasil menciptakan politikus, tapi tidak negarawan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah politik di negeri manapun mesti berkaitan erat dengan cita-cita politik bangsa ini yang tidak lain adalah mewujudkan cita-cita UUD 45 kita. Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah krisis politik, krisis nurani dan krisis manusiawi. Maka yang timbul dalam dunia politik kita adalah kongkalikong, koalisi dan saling menjatuhkan. Iklim kerjasama semakin ditinggalkan kecuali ada pamrih  dan transaksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Politik islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai saat ini tidak ada yang bisa menyangkal bahwa kebesaran umat islam menjadi potensi politik yang besar bagi berkembangnya kemajuan dan peradaban islam maupun bagi tumbuh suburnya partai politik islam. Partai politik islam saat ini belum mampu menunjukkan etika politik islam yang dimaknai bahwa islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan juga cita-cita negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Muhammad iqbal pernah mengatakan : “Cita etika islam- ialah membebaskan manusia dari rasa takut, dan memberi kepadanya suatu rasa kepribadian, agar ia dapat menyadari bahwa ia sumber kekuatan”. Maka etika politik islam tidak lain adalah menyadari bahwa potensi umat islam adalah kekuatan bagi pencerahan dan kemajuan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika realitas politik yang terjadi adalah sebaliknya, maka akan sangat sulit bagi umat islam mengembangkan cita-cita dan politik islam itu sendiri. Rendra menganalisa gejala ini diakibatkan oleh hilangnya nurani. Simaklah penggalan puisi rendra berikut : Negara tidak mungkin kembali diutuhkan/ tanpa rakyatnya dimanusiakan/ dan manusia tidak mungkin menjadi manusia /tanpa dihidupkan hati nuraninya. Nurani menjadi kata yang alfa di kamus pemimpin partai politik kita maupun politikus kita yang menjabat maupun yang akan menjabat dalam struktur lembaga-lembaga pemerintah kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paradoks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           Apakah perilaku politik sangat berpengaruh dalam membentuk budaya politik kita?. Atau sebaliknya agama islam yang tidak mampu memberi pencerahan bagi umatnya tentang makna dan hakikat politik itu sendiri?. Natsir pernah menuliskan dalam majalah Pembela Islam 1932 : Islam adalah peraturan pergaulan hidup yang memberi hak sama rata, memberi kewajiban juga sama berat atas segenap manusia penduduk ala mini. Peraturan mengangkat budi pekerti,mengurus rumah tangga, pergaulan dalam negeri,mengurus pemerintah dan kerajaan,mengurusi perhubungan mereka yang berlainan negeri ini,mendidik, memimpin, dengan tubuh semangat pencapai derajat kemanusiaan yang sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           Melihat apa yang ditulis natsir tersebut kita akan bisa berkesimpulan ternyata umat islam-lah yang justru perlu kita pertanyakan dengan sikap politik dan garis politiknya selama ini. Sampai kini realitas politik di negeri ini membentuk opininya sendiri. Padahal sejatinya, partai politik itu yang mestinya menyatukan antara tokoh dan masyarakatnya. Derajat kemanusiaan adalah barang langka, karena di negeri ini para politikus dan calonnya sudah melakukan hubungan intim untuk meneruskan visi kelompok, golongan dan partainya masing-masing. Maka realitas politik yang diciptakan oleh sebagian partai islam sangat tidak wajar ketika logika etik politiknya adalah bagaimana menguasai system keuangan dan menggerogoti negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           Kebesaran yang ada pada umat islam adalah potensi, tapi kebanggaan akan hal tersebut akan melalaikan bahwa ada satu paradoks yang kentara ketika jumlah umat yang besar tidak mampu menunjukkan kerja peradaban di dalam bangsa yang penuh dengan berbagai persoalan. Cita-cita agama sebenarnya memiliki fondasi kuat dengan nilai-nilai yang abadi dan universal. Agama tidaklah cukup hanya difahami sebagai formula-formula abstrak tentang kepercayaan dan nilai . Ia menyatu dan menyatakan diri dalam hidup nyata para pemeluknya(nur cholis madjid : 90).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;          Harapan akan masa depan politik di negeri ini sebagaimana Muh. Hatta pernah bilang, tidak lain dan tidak bukan bertumpu pada pemuda indonesia. Sebab dari pemuda itulah lahir gagasan luhur, dan memiliki nurani yang murni dengan cita-cita idealismenya. Dalam indonesa merdeka ia menuliskan : &lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemuda indonesia adalah hati nurani bangsa yang berbicara jiwa bangsa yang menyala, yang akan mewarnai masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           Harapan ini akan menjadi kenyataan jika antara partai politik islam, maupun umat islam membenahi dan menginsafi bahwa politik tidak mungkin langgeng jika bertumpu pada kekuasaan semata. Selain itu, perkaderan partai harus berubah dari mindset oligarki dan dinasti serta pragmatisme politik menjadi politik yang didasarkan kembali pada cita-cita bangsa dan politik nurani. Jika demikian, maka kemenangan islam yang pernah disuarakan oleh cak nur yang dimaknai sebagai kemenangan ide,cita-cita,dan sikap hidup umat islam benar-benar terwujud, bukan kemenangan umat islam yang semu dengan berbagai sirkus dan akrobat politiknya. (*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Tulisan dimuatdi Gema-nurani 31 desember 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-423756611217217945?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/423756611217217945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2012/01/politik-dan-hakikat-kemenangan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/423756611217217945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/423756611217217945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2012/01/politik-dan-hakikat-kemenangan-islam.html' title='Politik Dan Hakikat Kemenangan Islam'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-881627750442550097</id><published>2012-01-02T01:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T02:14:19.938-08:00</updated><title type='text'>Sajak Cinta Dalam Sebait Kata</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-family: georgia;" href="http://4.bp.blogspot.com/-uQppbSlY-Q0/TwFznGR4sGI/AAAAAAAAAJ4/rBka3umosdY/s1600/Image-937.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-uQppbSlY-Q0/TwFznGR4sGI/AAAAAAAAAJ4/rBka3umosdY/s200/Image-937.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692958519510741090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Judul buku   : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;“Cinta, Kenangan, dan Hal-Hal Yang Tak Selesai”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun    : 2011&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tebal    : 235 halaman &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Harga    : Rp.41.225,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ISBN    : 978-979-22-7653-4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sajak Cinta Dalam Sebait Kata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Puisi adalah pesta,itulah pesta yang bertahan melawan musim,di tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang-sebuah keriangan pesta bawah tanah(oktavio Paz)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kumpulan sajak ini adalah pesta anak muda, anak muda yang sering tak mampu menuangkan hasrat, rasa, juga kelu lidah yang akhirnya mereka tuangkan dalam bentuk sajak. Pesta tak sekadar menghadirkan senyum, tawa atau pun mabuk yang tak tertahankan. Anak-anak muda dalam puisi ini, para penyair dalam kumpulan sajak ini tak hanya mabuk cinta, tetapi juga mabuk kata. Buku kumpulan ini adalah pesta kata, yang ingin mengungkap cinta dengan berjuta kata-kata. Cinta tak habis dengan kata-kata, cinta tak habis pula diperistiwa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kumpulan sajak ini tak salah jika diberi tajuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;”Cinta, kenangan, dan Hal yang tak selesai”.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kumpulan sajak ini tak seperti yang kita kira, berhenti pada hand-phone kita, kemudian di kirim kepada kekasih kita, tapi ia akan melekat pada hati kita, peristiwa kita, karena sajak ini adalah gambaran manusia kasmaran, gambaran kita yang tak sempat memendam angan ketika dilanda kerinduan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Bandingkan dengan pepatah jawa yang mengatakan : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Witing tresno jalaran soko kulino”(cinta itu berawal dari kebiasaan).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kebiasaan-kebiasaan kita mengungkapkan kata cinta seringkali hanya berdiam dicatatan keseharian kita, berhenti di memori handphone kita. Oleh karena itu, ketekunan pengumpul dalam sajak-sajak ini bukan hanya memberikan bukti bahwa kata-kata cinta patut diabadikan, patut dikabarkan, dan juga dikabarkan ,melainkan cinta itu tak pernah selesai dalam beribu zaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Zaman modernitas mengajak kita hadir dengan beribu riuh peristiwa, beribu riuh manipulasi, tapi modernitas juga menghadirkan ribuan kata-kata yang hadir sebagai ekspresi manusia yang mutakhir,cepat dan sekelebat. Media social yang hadir pun digunakan manusia untuk menuangkan ekspresi, rasa, juga berbagai peristiwa dihadirkan disana. Kumpulan sajak ini membuktikan, bahwa sastra cyber, tak kalah dengan sastra yang ada di media-media lain. Maka itulah, buku kumpulan puisi ini patut dihadirkan untuk merayakan dan mengabarkan cybernet tak beda dengan yang di Koran-koran, majalah-majalah dan lain-lain. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sihir Kata Dan Pesta  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik”(pramudya).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Beberapa penyair dalam sajak-sajak cinta yang dihimpun dalam buku ini percaya, cinta bukan perkara remeh dan hilang dalam sekejap mata. Pengarang dalam buku ini pun menyadari kekuatan kata sebagaimana pramudya berujar. Ia akan melesat kemudian hari, tak berhenti untuk menyapa, memanggil-manggil, ada cinta dalam buku yang kecil tapi berjuta makna ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buku kumpulan sajak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Cinta, Kenangan, Dan Hal Yang Tak Selesai&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;adalah sihir kata. Kata-kata dalam buku ini memberikan sihir, seolah-olah kita diajak melakukan perjalanan, peristiwa, hingga kita merasai ada imajinasi yang tak berhenti ketika-kata-kata tersebut dihadirkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“cinta adalah lengan-lengan Tuhan, yang memelukkan kebahagiaan”(@sekedar kata).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dari kata-kata sederhana itu, tentu kita tak hanya akan berhenti pada satu tafsir,tapi seolah kita diajak berimajinasi dalam ruang yang luas, cinta memelukkan kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Para penyair adalah denyut arus ritmis generasi-generasi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Para penyair ini berhak bersajak, berhak menyalurkan kata-kata mereka, perasaan mereka. Dan sajak-sajak ini berbeda dengan sajak-sajak penyair kenamaan. Penyair-penyair kenamaan cenderung menghadirkan sajak-sajak mereka buta, karena mereka tak peduli pada pembaca. Pembaca cenderung diajak bersusah payah, berkerut kening, dan melupakan sajak-sajaknya sendiri. Dari para penyair-penyair inilah, ritmis generasi modern dihadirkan, dan lebih menyapa pembaca dengan sajak-sajak sederhana. Singkat, padat, jelas, dan menyapa pembaca dengan imajinasi yang berguguran, peristiwa, juga makna yang tak sembarang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para penyair dalam buku ini berpesta, bukan untuk dirinya saja, tapi mencoba mengajak teman-teman, kekasih, rekan-rekan sejawat, karena dihadirkan dalam media social(twitter) dan kali ini pesta mereka menemui pembaca lain yang dihadirkan bersamaan hadirnya buku ini. Sajak-sajak ini pendek, tapi tak pendek usia, ia bisa jadi teman tidur, teman santai, sambil menerawang dan menerka-nerka makna cinta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Cinta memang bukan hanya kata, tapi juga peristiwa yang tak lekang dimakan usia,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sebagaimana buku ini dihadirkan, cinta pun demikian halnya. Buku kumpulan puisi ini adalah kata-kata sederhana, sesederhana cinta yang tulus tak meminta balas pada pencintanya. Maka sajak ini tak lain dan tak bukan adalah kumpulan sajak cinta yang meski diungkapkan dalam sebait kata-kata tapi ia tak lekang dimakan usia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Terakhir kali, sajak-sajak ini memang pendek, tapi ia tak meluncur begitu saja, di dalamnya tersimpan peristiwa, menyimpan rasa, dan menyimpan duka. Sebagaimana Gunawan Muhammad berujar : “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Puisi mengembalikan kata pada peristiwa”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Buku kumpulan sajak ini dihadirkan tentu dengan maksud mengekalkan cinta, yang meskipun berhenti dalam dua tiga kata, tapi tidak akan berhenti meski manusia dan yang dicintai mati meninggalkan kata cintanya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*) Peresensi adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di komunitas tanda Tanya dan Pengajian Puisi.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="georgia" style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*)Tulisan dimuat di koranopini.com  5 januari 2012&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0.14in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-881627750442550097?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/881627750442550097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2012/01/sajak-cinta-dalam-sebait-kata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/881627750442550097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/881627750442550097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2012/01/sajak-cinta-dalam-sebait-kata.html' title='Sajak Cinta Dalam Sebait Kata'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-uQppbSlY-Q0/TwFznGR4sGI/AAAAAAAAAJ4/rBka3umosdY/s72-c/Image-937.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-6950120507782355299</id><published>2011-12-26T17:56:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T17:58:33.223-08:00</updated><title type='text'>Kerja Kata Mencipta Peradaban</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sudah menjadi ghalibnya manusia berkata-kata. Kelahiran seorang bayi di dunia ini dinanti-nanti ketika manusia mengucapkan kata-kata. Dari kata-kata itulah kita mengenal kosakata yang pertama di dunia ini. Ayah, ibu, mama, papa, bu, pa dan lain-lain. Mengapa ibu dan bapak adalah kosakata yang pertama di dunia ini, sebab dari rahim merekalah kita mengenal peradaban manusia itu lahir. Keluarga tanpa kita sadari adalah mikro kosmos dari makro kosmos dunia dan seisinya ini. Dari keluarga itulah keterampilan berbahasa mempengaruhi bagaimana kerja kata dan cipta bahasa lahir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia, kebudayaan pun dihasilkan dari berbagai kata-kata yang berhamburan. Hingga manusia sadar kata-kata mesti diabadikan dan dituliskan. Meski terkadang kekuatan pikiran dan budaya manusia tidak mampu dituliskan dalam sejuta kamus dan pengertian. Penulisan kata-kata justru hadir menghentikan, menyempitkan dan mengunci pengertian dan makna dari kata-kata tersebut. Ini bisa jadi kemajuan atau sebaliknya kemunduran. Kita selalu lambat dan gagap menangkap berjuta kata yang berseliweran dihadapan kita. Sebab itulah, manusia memiliki keterbatasan dalam menafsir begitu cepatnya dan begitu kompleksnya perubahan budaya manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dalam sejarah awal manusia, kata-kata pula yang membedakan kapasitas manusia dengan makhluk lainnya dihadapan Tuhan. Manusia mengenal dan memiliki nama-nama semua yang ada diajarkan Tuhan, sedang iblis tak sanggup untuk itu. Maka tak heran, gen tersebut diwariskan adam hingga pada kita semua selaku keturunannya yang memiliki kelebihan berbahasa yang membedakan manusia dengan hewan. Begitupun munculnya berbagai ideologi-ideologi besar dan mahzab pemikiran besar yang muncul di dunia kini berasal dari pemikiran dan kata-kata sederhana. Co gito ergo sum,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; misalnya adalah kata-kata dari &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;descrates. Ia  tak sadar bahwa kata-katanya akan memenuhi ruang-ruang diskusi dan dituliskan hingga kini. Spirit dan etos buruh yang kerap hadir dengan ketertindasannya muncul dengan berbagai problematikanya dituliskan dengan kata-kata sederhana dalam puisi widji thukul ; hanya ada satu kata :lawan!.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kata adalah senjata, begitulah yang biasa dikatakan oleh para jurnalis. Para musisi menggunakan kata sebagai alat untuk mengingat nostalgia dan kenangan masa lalu, selain untuk membahasakan kerja perlawanan lewat lagu. Dunia tanpa sadar dicipta oleh kata, kun faya kun, adalah kata-kata dari Tuhan yang mencipta dunia ini. Bagaimana kemudian kita sebagai manusia bisa meremehkan kata dan kerja kata?. Presiden ceko-slovakia Vaclav havel pernah menuliskan esai yang berjudul “kekuatan kata”. Baginya kata bisa memancarkan harapan besar, atau sebaliknya mengirimkan seberkas kematian. Kata bisa membuat penulisnya hidup, atau sebaliknya mati di tiang gantungan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kata, buku,dan kita&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Untuk apa berkata-kata jika tak abadi nasibnya, pesan itu yang disampaikan oleh pramudya ananta toer dalam beberapa karyanya. Ia mengutip kartini, “menulis adalah kerja keabadian”. Siapa yang lebih mulia dari ahli kitab yang menuliskan kitab-kitab agama di dunia ini, serta menjadikan kata-kata itu lentera bagi umat manusia. Kita tak bisa membayangkan seandainya kitab-kitab itu tidak dituliskan?. Ilmu modern dan kebudayaan kita sekarang muncul karena jasa para ilmuwan yang menuliskan penelitiannya di waktu dahulu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maka buku adalah kumpulan kata-kata,yang menyapa berjuta pemikiran, berjuta respon dan kata-kata dari pembaca, buku-buku menjadi antologi kehidupan yang terangkum dalam bentuk puisi, cerpen, novel, ataupun essai. Dan tiba-tiba saja, dunia modern menyediakan wadah yang sangat akrab dan intens dengan kita melalui facebook, twitter, dan juga media sosial lainnya. Media tersebut tak lupa menawarkan kita untuk sekadar berceloteh atau berkata-kata. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Tak jauh berbeda dengan “puisi” yang dimaknai sebagai pencapaian estetika bahasa manusia. Di puisi itulah tersirat cerita, riwayat, lelucon, dan segala tentang kehidupan kita. Oktavio paz membandingkan pasar dan puisi, pasar tahu segalanya tentang harga,namun tak tahu apa-apa tentang nilai. Puisi itulah yang meriwayatkan nilai-nilai itu. Puisi bergerak dari mulut-ke mulut, seperti udara dan air, nilai dan manfaatnya tak dapat diukur. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kerja&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Intensitas, spiritualitas, dan religiositas adalah hal yang tak  bisa dianggap sepele dari kerja seorang penulis. Penulis menyimpan tulisan dengan kerja pikir dan dzikir yang tak semua orang melakoni itu. Dari kerja pikir dan dzikir itulah penulis mesti dihargai karena jasa-jasanya telah menuliskan yang berjalan cepat yakni kata-kata. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Nasib pengarang dan penulis tak seindah yang dibayangkan. Banyak penulis yang menekuni kerja kata memperoleh penghargaan, pujian atau nobel gara-gara kepenulisannya. Tapi banyak juga penulis yang sengsara dan tak berdaya menunggu dengan sabar kata-kata menemui pembacanya dan menemui penggemarnya. Sebagaimana yang pernah dituliskan jokpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Pengarang, engkau sungguh sabar menunggu ide yang tanpa kabar. Dirimu sangat percaya diri, meskipun karyamu tidak banyak terbeli. (Paska WW, Bobo,&lt;br /&gt;27 November 2003).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menekuni kata dan menuliskannya serta menjadikannya sebagai kerja yang tak pernah selesai adalah laku dan spirit penulis. Menulis adalah kerja kata yang mencipta peradaban. Sebab dari tulisan itulah kelak tercipta perilaku, kebudayaan serta aktifitas manusia melalui pengejawantahan dan tafsir kepenulisan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kartini memaknai kerja kata ini dengan kalimat yang indah: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“ Tahu kenapa aku mencintaimu? Karena engkau menulis. Menulis adalah kerja untuk keabadian”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.Maka menekuni kerja kata melalui aktifitas membaca, serta mengabadikannya lewat tulisan adalah kerja yang mesti kita tekuni bukan untuk mencari puji dan pamer akan diri, tetapi lebih dari itu, untuk memuliakan diri, mengekalkan makna, dan mencipta dunia dengan kerja kata itu pula kita akan menemukan peradaban kita. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di Bilik Literasi Solo,&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="georgia" style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*)Dimuat di Radar surabaya , 25 desember 2011&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-6950120507782355299?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/6950120507782355299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/kerja-kata-mencipta-peradaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/6950120507782355299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/6950120507782355299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/kerja-kata-mencipta-peradaban.html' title='Kerja Kata Mencipta Peradaban'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-7590100376611379246</id><published>2011-12-22T00:55:00.001-08:00</published><updated>2011-12-22T00:58:23.210-08:00</updated><title type='text'>Imajinasi Pernikahan Yang Sakral</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Cambria,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Cambria,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Cambria,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pernikahan bila ditinjau dari ilmu pengetahuan, kita akan mengenal sejarah sexology sebagai sejarah yang kerap intim dengan berbagai simbolisasi. Laki-laki disimbolkan dengan sosok yang utuh, dan perempuan diidentikkan dan disimbolkan sebagai paruh atau separuh. Maka kehadiran wanita dalam kehidupan ini adalah pelengkap tulang rusuk yang hilang ini. Ditinjau dari perspektif teologis, pernikahan adalah manifestasi penyatuan kembali sosok yang hilang, sosok yang hilang itulah perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Perempuan hadir sebagai entitas yang sempurna, kehadirannya melengkapi dalam alam mikro kosmos. Alam mikro kosmos menjelma dalam fisiologis berupa rahim, perempuan adalah rahim, sedangkan laki-laki adalah yang membuahi rahim. Maka entitas pernikahan dan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut adalah sakral ditinjau dari sisi religiositas. Sisi religiositas memandang bahwa pernikahan dihukumi wajib jika sudah mampu lahir dan batin, hukum nikah menjadi makruh bila tidak mampu secara lahir dan batin untuk motif tertentu dan nikah dihukumi haram bila hanya untuk menyakiti dan untuk mengambil harta orang yang mau dinikahi saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sisi religiositas memandang bahwa agama menghalalkan nikah jika memang sudah mampu. Nikah dipandang tidak hanya untuk sekadar kenikmatan biologis saja, tetapi untuk mengekalkan peradaban. Peradaban itu dilahirkan dengan pelestarian konsepsi dan budaya manusia melalui pelestarian keturunan. Maka secara biologis, menikah merupakan penyempurnaan pertemuan dua entitas yang terpisah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ibnu Al-arabi pernah menuliskan ini :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;”Tubuh manusia pertama yang terwujud adalah adam.Ia adalah Ayah pertama jenis makhluk ini.Kemudian Tuhan memisahkan darinya seorang Ayah kedua bagi kita yang disebutNya ibu.Maka benarlah jika dikatakan bahwa Ayah pertama ini mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari pada ibu, karena Ayah adalah asalnya(Ibu)”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maka sejarah penciptaan manusia adalah kesatuan. Kesatuan itulah yang kemudian menciptakan peradaban manusia hingga saat ini. Lebih lanjut Al-arabi menjelaskan :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;”Kaum perempuan dibuat sebagai yang dicintai karena mereka adalah lokus yang menerima aktifitas untuk mewujudkan bentuk yang paling sempurna daripadanya.Tidak ada lokus yang menerima aktifitas mempunyai kesempurnaan istimewa ini”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Patologi Cinta&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Freud menjelaskan yang dituliskan dalam Erich Fromm dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“The art of love “ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Bahwa manusia didorong oleh suatu keinginan yang tak terbatas untuk penguasaan seksual terhadap semua wanita, dan bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Bagi Freud, tindakan pelecehan seksual, tindakan yang berorientasi pada nafsu hanya dapat diselesaikan oleh tekanan dari masyarakat dan pencegahan dari masyarakat kita. Ketika masyarakat menganggap ini sebagai sesuatu yang didiamkan, maka hasrat dan naluriah manusia tersebut justru semakin menjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Erotika media massa, serta pergaulan masyarakat modern hadir dalam budaya-budaya yang tak terkontrol. Budaya barat menjelma menjadi perilaku masyarakat kita dengan paradigma barat bahwa hubungan lawan jenis dimaknai sebebas-bebasnya. Maka budaya kita menjadi budaya yang mereduksi pergaulan dan misi suci pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Imajinasi yang sakral&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Imajinasi pernikahan adalah imajinasi yang sakral. Sakralitas dalam pernikahan diwujudkan dengan kebersatuan kepentingan, jiwa, hingga pada cita-cita membangun keturunan dan pewarisan nilai-nilai budaya dan peradaban manusia. Maka pernikahan tidak bisa dipandang sebagai aktifitas yang terpisah dari fisik dan jiwa. Yang terjadi saat ini, aktifitas pernikahan menjadi hilang kesakralannya. Para pemuda-pemudi saat ini menganggap pernikahan sebagai hal yang dilakukan setelah mereka melakukan sex setelah nikah. Nikah dipandang sebagai pelengkap sex tersebut. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;sex in the cost&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; menjadi culture yang tidak asing di setiap perguruan tinggi. Data menunjukkan bahwasannya hubungan antara mahasiswa dengan dosen, antara mahasiswa dengan mahasiswa dalam melakukan hubungan nikah menjadi hal yang dilakoni setelah mereka melakukan hubungan sexual. Kenikmatan dan penyatuan jiwa direduksi menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;pleasure(kenikmatan)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kampus menjadi entitas yang melindungi ini dan menutupi ini demi citra. Citra akademis menjadi hal yang diutamakan padahal nikah mesti dimaknai sebagai penyatuan dua entitas yang terpisah, nikah itu mulia dan memuliakan kita. Nikah muda justru hadir sebagai jawaban yang premature karena peradaban manusia direduksi sekadar untuk menghindari pergaulan bebas. Hingga kualitas pernikahan tidak diperhitungkan baik sisi usia maupun bagaimana pernikahan membangun peradaban, alhasil pernikahan jadi buruk ketika konflik dalam keluarga tidak bisa diatasi oleh orang yang nikah muda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dalih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;rejeki akan dimudahkan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, tentu akan didukung dengan kemampuan dan kedewasaan para pemuda dan mahasiswa yang melakukan nikah muda dengan kesiapan mental maupun spiritual.Meskipun realitas memberikan jawaban lain, bahwa nikah muda tidak didukung oleh sarana dan prasarana layaknya di Iran yang lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang dari pemerintah. Sehingga nikah muda sering diakhiri dengan cerai gara-gara persoalan ketidak matangan secara ekonomi maupun psikologis, hingga persoalan keturunan yang tidak sehat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Nikah sebagai tradisi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di beberapa daerah dan suku di indonesia, pernikahan adalah budaya yang berjalan biasa. Nikah muda adalah keterbatasan mereka dalam membentuk dan membangun peradaban selanjutnya dan untuk melindungi arus modernitas. Nikah muda dijadikan sarana untuk motif bahwa pemuda harus segera meneruskan keturunan dan mengolah tanah yang ada di suku-suku dan daerah mereka. Lihatlah budaya suku samin, dan budaya di beberapa daerah pelosok di nusa tenggara barat, di papua, bugis, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Pernikahan bukan perkara modal atau kapital, tapi pernikahan adalah sarana pertemuan antar suku antar budaya, dan pelestarian alam mereka. Berbeda dengan di bugis atau dayak dan pelosok di indonesia, tradisi di sumatera dan madura menunjukkan hal lain. Pernikahan di kedua wilayah tersebut dipandang sebagai sarana untuk mewujudkan budaya mereka yakni budaya rantau. Budaya rantau dilakukan karena imajinasi perantuan membawa pada imajinasi kemakmuran, kesejahteraan dan kematangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maka di kedua daerah tersebut, menikah dijadikan motifasi bahwa kematangan itu harus diperoleh melalui pernikahan dan perantauan. Aktifitas ini tidak bisa terlepas dalam budaya masyarakat di kedua wilayah tersebut. Maka menikah bukan persoalan kapital, tetapi persoalan harkat dan martabat lelaki sebagai sosok yang mampu mengayomi dan matang dalam membentuk dan membangun keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;` &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(79, 129, 189);font-size:100%;" &gt;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(79, 129, 189);font-size:100%;" &gt;&lt;i&gt;Imajinasi pernikahan hadir sebagai imajinasi yang suci, sakral dan penuh dengan motif mulia sebagaimana yang dititahkan Tuhan. Menikah adalah sarana membangun peradaban dan meneruskan generasi dan melestarikan visi dan misi kemanusiaan. Maka pernikahan adalah persoalan yang tak terlepas dengan kemampuan dan kekuatan manusia secara lahir dan batin yang membutuhkan persiapan matang. Sehingga persoalan modal adalah hal yang menopang,tapi tidak menutup kemungkinan,kekurangan modal digunakan sebagai motif bagaimana membangun kerja spiritual dan kerja fisik untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang ditanggung dalam pernikahan”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maka kapital bisa dipandang sebagai sebuah sarana untuk mendukung atau sebaliknya dijadikan motif yang jahat untuk menjadikan perempuan atau lelaki yang dinikahi sebagai sarana untuk memperoleh harta tersebut. Dan pernikahan pun menjadi hilang kesakralannya, karena motif harta, kuasa, pamor, dan wilayah-wilayah material. Akhirnya pernikahan menghilangkan misi sucinya “melestarikan keturunan, dan visi-misi umat manusia sebagaimana fitroh manusia sebagai kholifah di bumi ini” untuk mewujudkan masyarakat yang beradab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di Kawah institute Indonesia, tulisan tersebar di berbagai media massa dan juga majalah nasional. Bisa dihubungi di tan.muda@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Cambria,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;*) Tulisan Dimuat di MAJALAH PABELAN EDISI DESEMBER 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-7590100376611379246?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/7590100376611379246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/imajinasi-pernikahan-yang-sakral.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7590100376611379246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7590100376611379246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/imajinasi-pernikahan-yang-sakral.html' title='Imajinasi Pernikahan Yang Sakral'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-4626464999681065895</id><published>2011-12-15T10:03:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T00:35:33.337-08:00</updated><title type='text'>Buku Puisi Dan Do'a Penyair Joko pinurbo(Jokpin)</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;i&gt;Selamat ulang tahun buku/ anggap saja aku kekasih atau pacar naasmu/ panjang umur, cetak ulang selalu.[selam&lt;/i&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;t ulang tahun buku].&lt;/i&gt;Membaca puisi jokpin seperti merapal do'a penyair. Penyair menyimpan do'a dan pujian pada buku yang pernah ditulisnya. Buku yang ditulis jokpin memang bukan buku pelajaran, melainkan buku kehidupan dia, mereka atau saya yang membacanya. Buku puisi adalah buku penyair, puisi adalah penyair, meminjam nobelis sastra tahun 90-an oktavio paz berujar penyair adalah puisinya, dalam puisi penyair ada disana. Maka buku-buku puisi jokpin adalah tubuh jokpin dan buku kehidupan dia.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Tapi untuk siapa dan untuk apa ia melahirkan buku puisi itu?. Untuk mengingatkan kembali tubuh yang cerewet, tubuh yang tak selalu bisa memakai celana, tubuh yang selalu rindu kekasihnya, tubuh yang rindu yesus, dan tubuh yang penuh canda, tubuh jokpin adalah tubuh manusia dengan segala humor dan segala kelucuannya yang tak pernah dan jarang ditangkapnya. Jokpin ingin menjelaskan dan mengajak, bacalah tubuhmu, maka akan kau temukan dirimu.Betapa jokpin tekun dan menggeluti tubuhnya hingga jadi puisi yang tak murahan, tak mudah, dan tak main-main. Simaklah betapa ia berdarah-darah membuat dan merampungkan buku puisinya : &lt;i&gt;“kau bahkan tidak seperti dulu ketika aku berdarah-darah menuliskanmu”. &lt;/i&gt;Sebagaimana rapal do'a dan pujanya, buku puisi jokpin seperti doa yang dipanjatkannya. Buku kumpulan puisi dari tiga buku kumpulan puisinya diterbitkan kembali oleh gramedia pustaka utama 2007 : &lt;i&gt;Celana,Pacar kecilku, dan dibawah kibaran sarung. &lt;/i&gt;Begitupun buku puisi “kekasihku dicetak ulang oleh omah sore(2010)”.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Puisi memberi diri dan mengucap arti, memuliakan penyair. Simaklah sajak yang meriwayatkan hal ini :&lt;i&gt;&lt;b&gt; Aku tidur berselimutkan uang/&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;aku tidur berselimutkan uang/ ketika bangun tahu-tahu tubuhku sudah telanjang&lt;/i&gt;. Tubuhku sudah telanjang, penyair meriwayatkan keuntungannya, merayakan kerjanya, dan menggambarkan kebahagiaannya. Akan tetapi selimut yang menyelimutinya kemudian tiada ketika ia bangun, penyair ingin mengatakan bahwasannya uang tak patut menyelimuti terus menerus sementara tubuh dalam ketelanjangan. Tubuh tak patut diselimuti uang, melainkan cukup dikasih celana sebagai pakaian yang khas yang jadi pakaian tubuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Do'a Penyair &lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Ada dua judul yang secara tersirat bercerita tentang buku dalam kumpulan puisi jokpin yang  berjudul &lt;b&gt;“Telepon Genggam”(2003);&lt;/b&gt; yakni “buku” dan selamat ulang tahun buku”. Dua-duanya menceritakan betapa lugunya dan betapa bodohnya jokpin sebagai penyair. Ia barangkali ingin bercerita soal taktik bagaimana membaca buku yang ia peroleh dari buku loak yang sederhana sekali, kusut dan cenderung ditinggalkan tapi justru kaya makna. Buku dalam judul puisinya “buku” mengingatkan bahwa buku tak sekadar menyimpan memori dan ingatan yang membawa kita pada kesederhanaan dan kepapaan manusia, pembaca buku. Buku memberi arti pada sosok teman dan mengajarkannya pentingnya membaca buku. Melakoni laku membaca buku bukan sekadar aktifitas  sederhana, melainkan aktifitas yang sulit, sampai-sampai jokpin menggambarkan sulitnya membaca buku melupakan membaca sosok isteri di malam pertama kawannya. Dan puisi ini diakhiri dengan keluguan, bahwa pembaca buku justru tak menemukan isteri yang sebenarnya, isteri menjelma jadi buku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Di puisi yang kedua &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Selamat ulang tahun buku” &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;adalah do'a penyair yang merindukan dan mengenang buku yang sudah menjadi berkah dan penuh dengan catatan dan coretan dari berbagai pendapat orang. Buku puisi jadi pengingat dan doa tersendiri bagi penyair. Do'a penyair tak lain dan tak bukan adalah agar puisinya memberi makna bagi dirinya dan pembaca. Sebagai penghargaan akan buku puisinya, ia menghimpun ratusan komentar dalam blognya &lt;i&gt;&lt;b&gt;jokpiniana. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Berbagai catatan dan coretan yang bingung mau ditaruh mana ditaruh dalam blognya sebagai memori kolektif, pengingat, dan wujud kebesaran bukunya yang digambarkan dalam puisinya : &lt;i&gt;Maaf, aku tidak bisa kasih hadiah apa-apa / selain sejumlah ralat dan catatan kaki yang aku tak tahu akan kutaruh atau kusisipkan di mana. Sebab kau sudah pintar membaca /dan meralat dirimu sendiri.&lt;/i&gt;Do'a dari penyair menemui jawabnya, buku puisinya sudah jadi besar, dan sudah berulang tahun &lt;span lang="en-US"&gt;dengan cetak-ulang.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Buku puisi joko pinurbo meriwayatkan tubuhnya, dan juga do'a penyair yang membutuhkan amin dari para pembacanya. Amin dimaknai sebagai wujud relasional antara penyair dan pembaca yang berhasil menemui puisi-puisi jokpin sekaligus berhasil menemui buku kehidupan jokpin yang tak lain dan tak bukan adalah buku kehidupan kita juga.Yakni tubuh kita yang dihadirkan dengan berbagai warna.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bergiat di Pengajian Jumat Petang, Komunitas tanda tanya, dan presidium Kawah institute Indonesia.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-4626464999681065895?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/4626464999681065895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/buku-puisi-dan-doa-penyair-jokpin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4626464999681065895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4626464999681065895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/buku-puisi-dan-doa-penyair-jokpin.html' title='Buku Puisi Dan Do&apos;a Penyair Joko pinurbo(Jokpin)'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-2274251040442775863</id><published>2011-12-15T01:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T02:00:27.139-08:00</updated><title type='text'>Celeng Degleng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-z5RPqRx-1g8/TunFMWUDYjI/AAAAAAAAAJs/vwSB8-bGDtI/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 115px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-z5RPqRx-1g8/TunFMWUDYjI/AAAAAAAAAJs/vwSB8-bGDtI/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5686292820470751794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jaman memang memiliki kisahnya sendiri-sendiri, bertutur sebagaimana riwayat yang ingin mereka ceritakan. Begitupun kisah sang pelukis ternama joko pekik yang dikenal dengan pelukis “satu milyar”. Nasibnya tak seburuk sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; miskin, melarat dan serba kekurangan. Semenjak lukisannya yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;salah kedaden&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dianggap sebagai ramalan jaman yang akan datang, maka hebohlah tentang riwayat “jaman celeng” kemana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Celeng, adalah riwayat dan dongeng dari lukisan joko pekik, tanpa sadar pelukis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“nggendhong bejo”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Tapi tak hanya keberuntungan yang datang, tapi penyesalan, kenapa celeng yang ada dalam lukisannya menjelma jadi riwayat di negerinya. Negeri-nya kali ini jadi negeri celeng karena lukisan yang dilukisnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;”Indonesia 1998 berburu celeng”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Celeng adalah simbolisasi penguasa, pejabat-pejabat yang melahap uang rakyat.Mereka adalah penguasa yang membuat rakyat melarat. Celeng-celeng itu membuat kita jadi sekarat.Sungguh mereka adalah bagian dari kaum laknat. Sudah tidak dikehendaki rakyat, tapi mereka berulah seperti pimpinan yang memperoleh mandate. Kejahatan mereka sudah terkuak,tapi mereka malah semakin nekad. Akal busuk mereka sudah terungkap, tapi malah menjadi mata gelap.Untuk mempertahankan kekuasaannya,mereka menggelapkan uang rakyat. Zaman sudah berubah, seharusnya mereka mundur. Mereka pandai mengulur-ulur,dengan mudahnya janji mereka diundur-undur. Mereka menyeruduk sana menyeruduk sini. Menyusup sana menyusup sini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Begitulah sindhunata mengisahkan dunia celeng degleng yang ada dalam lukisannya joko pekik dalam buku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Tak entheni keplokmu,tanpa bunga dan telegram duka”(2001)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Jaman sekarang lebih diidentikkan dengan riwayat dan ramalan jangka jaya baya sebagai jaman kalatidha, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;jaman edhan, sing ra edhan ra keduman,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; jaman gila yang tidak gila tidak kebagian. Maka jaman sekarang ibarat jaman di negeri celeng, makin lama mereka bingung setelah menangkap celeng, mereka pun bersepakat tapi kemufakatan itu adalah meneruskan perjalanan hidup mereka, meski salah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka yang terjadi yah seperti dunia sekarang ini, keburukan jadi biasa dipertontonkan di muka rakyat, sebab rakyat sudah terbiasa dengan peristiwa yang semacam itu. Jaman celeng &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, memang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tak hanya celeng-nya yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, pimimpinnya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, rakyatnya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, dan semuanya jadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berburu Celeng&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenapa celeng yang diburu?. Celeng identik dengan babi ngepet di jaman sekarang, babi ngepet diburu karena ia menyukai selokan dan lubang-lubang sanitasi, disanalah ia menyedot semua yang ada disekitarnya. Babi ngepet itulah yang merupakan symbol keserakahan, pencurian, perampokan, dan tak mati-mati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rakyat akan sangat senang ketika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; celeng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ini musnah dan sirna dalam kehidupan manusia. Sebab watak serakah, ingin menang sendiri, serta merampok adalah hobi dari celeng, dan aneh nya celeng ini susah mati. Untuk menangkap celeng, rakyat harus berpuasa dan membersihkan diri. Celeng tetap saja susah ditangkap, ia hidup lagi menjelma menjadi celeng-celeng berikutnya, yah celeng sudah ada di hati rakyat-kita, cuek, dan membiarkan watak celeng ini ada dimana-mana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mereka sebenarnya menantikan satrio piningit yang hadir menyelamatkan mereka dari terror celeng. Tapi apa daya, satrio piningit ternyata adalah celeng juga, maka jaman sudah bicara, celeng deglenglah yang kini berkuasa, tanpa malu menyebut dirinya penguasa, merampas semua yang ada, meski dikritik oleh rakyatnya, ia sama sekali tak mendengarnya. Hartanya digunakan tak kenal puas untuk keluarganya. Sampai-sampai ia lupa dan tak berdaya menghadapi maut yang kian lama kian mendekat padanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Negeri Celeng&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Siapa bisa melawan celeng &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng?.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Negeri ini negeri celeng, perutnya besar dengan penuh makanan, apa-saja ia makan, bahkan tambang dan juga alam pun ia makan hingga tubuhnya begitu besar sampai menyentuh tanah. Maka perut celeng kalau tidur menyentuh tanah. Gigi celeng digambarkan dengan gigi indah dan taring yang indah, begitu senyum semua rakyat terkesima, padahal giginya itu hanya digunakan untuk menyeruduk siapa yang berani menghalangi keinginannya. Celeng punya enam susu, yang boleh ngemut yah hanya anak cucunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Si celeng hampir selesai masa kerjanya. Siceleng pun menggelar sayembara untuk mempersiapkan raja celeng berikutnya. Tapi siapa mau jadi raja celeng?. Calon-calon celeng kini ber-atraksi, berunjuk gigi pagi,siang, dan malam hari di layar-layar televisi. Nasib celeng benar-benar mujur, rakyat kini mudah ditipu dengan sekarung cerita tak jujur, bentar lagi celeng jadi raja, menindas sama seperti penguasa-penguasa berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Degleng &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; Si celeng memang terlanjur degleng, si celeng belum mati hingga kini. Nafsu ketamakannya menjadi-jadi,dalam gelap hidup yang tak pasti.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Meski celeng sudah tertangkap, justru jaman semakin gelap. Kini rakyat hanya bisa berharap,dan berdoa penuh harap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kini negeri jadi ngeri, penuh fitnah dimana-mana, musibah pun datang tak disangka-sangka. Kutukan jaman celeng sudah terlanjur menimpa, pada rakyat dan pemimpinnya. Jaman celeng sudah bukan cerita langka, rakyat sudah banyak jadi korbannya. Tapi apa daya tangan mereka, tak mampu melawan jaman yang sudah terlanjur mereka cipta. Lewat lukisan tak disengaja, celeng &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;degleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; mencipta cerita. Tapi siapa sangka siapa menduga, jaman celeng adalah jaman kita, yang diam-diam kita ada disana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, presidium kawah institute indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-2274251040442775863?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/2274251040442775863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/celeng-degleng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2274251040442775863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2274251040442775863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/celeng-degleng.html' title='Celeng Degleng'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-z5RPqRx-1g8/TunFMWUDYjI/AAAAAAAAAJs/vwSB8-bGDtI/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-8570129014906409990</id><published>2011-12-13T01:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T01:27:44.286-08:00</updated><title type='text'>RUU perguruan Tinggi Dan Otonomi mahasiswa</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mahasiswa selalu ramai dengan geliat aktifitas dan dinamika politik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;serta &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ekspresinya. Ekspresi intelektual ataupun ekspresi social sebagaimana yang diungkapkan oleh Tilaar (2001) Pendidikan yang baik tak melepaskan dari realitas di masyarakatnya. Seringkali aktifitas dan geliat mahasiswa menarik bukan saja karena ide-ide perubahannya dan cita-cita yang menghebohkan, tapi juga semangat heroic yang melekat padanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Etos akademik membawa mahasiswa tak hanya jadi makhluk individualisme semata, tapi juga membawa pada konsekuensi moral bahwa aplikasi keilmuan dari mahasiswa perlu diberi ruang dan membutuhkan wadah yang cukup untuk mengembangkan potensi kemahasiswaan tersebut. Sudah dari dulu, peran mahasiswa sebagai tonggak dan pelopor dalam pembangunan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya tak perlu kita nafikkan. Begitupun harapan-harapan para ka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;um tua  pun &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bertumpu pada anak muda. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Syafii maarif&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pun berharap besar pada perguruan tinggi dimana mahasiswa bisa melakukan perubahan dan memberikan alternative solusi dari persoalan kebangsaan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Aparatus ideology &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beragam fihak dan berbagai lembaga pun ingin berebut pengaruh, berebut ruang dan memperebutkan posisi dan letak strategis dari mahasiswa ini. Melalui berbagai cara salah satunya melalui kebijakan pemerintah, muncullah para pemegang kepentingan untuk mempengaruhi, mengkader, membina mahasiswa dalam kerangka kepentingannya. Salah satu lembaga paling efektif adalah perguruan tinggi. Disanalah berkembang paradigma keilmuan,mentalitas mahasiswa terbentuk, juga kebudayaan mahasiswa dilahirkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Disanalah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;apparatus ideology &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;memainkan peranannya, dengan demikian, kampus dipandang sebagai tempat yang cukup empuk dengan masuknya berbagai kepentingan melalui program-program pemerintah, program kerjasama dengan swasta, juga lembaga-lembaga lain yang memiliki kepentingan terhadap perkembangan mahasiswa ke depan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemerintah, melalui RUU Perguruan tinggi membuat peranan mahasiswa seperti tak ada gaungnya. Mahasiswa tak diberi tempat dalam memberikan pengaruh,sumbangsih, dan tetap saja ditempatkan sebagai objek dari kebijakan perguruan tinggi. Sedangkan perguruan tinggi adalah objek dari kebijakan pemerintah baik pendidikan swasta maupun negeri. Meski tidak kentara, kurikulum tetap menjadi monopoli pemerintah dalam menentukan arah perguruan tinggi kita. Alhasil, mahasiswa semakin tak bisa mengulangi kejayaan di masa lalu, ia bisa lebih lentur dan leluasa mengelola administrasi, mengelola keuangan dan konsep kemandirian dalam organisasinya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Otonomi kampus vs otonomi mahasiswa&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejauh ini, tak muncul kreatifitas mahasiswa yang tidak dibawah monitoring dari kampus  dalam hal ini birokrat. Pengembangan kewirausahaan menjadi sebatas penyaluran dana pemerintah yang dijadikan legitimasi bahwasanya pemerintah memiliki relasi dan kepedulian terhadap mentalitas wira usaha mahasiswa. Begitupun pengembangan kemahasiswaan yang bertumpu pada pengembangan intelektualitas dan gagasan mahasiswa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Yang aneh, penelitian mahasiswa pun ikut melengkapi rak-rak penelitian yang juga dari lembaga ilmu pengetahuan yang terlantar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Penelitian kita pun dikatakan kalah telak dan belum dimanfaatkan secara maksimal(kompas,24/11/2011). Akhirnya, mahasiswa pun tak tahu penelitiannya lari kemana dan difungsikan untuk apa, logika yang muncul adalah mahasiswa puas karena mendapatkan imbalan berupa uang yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. Intelektualitas mahasiswa jadi tak berharga, bahkan tak lagi dipedulikan, cukup dihargai dengan uang pembinaan dan hadiah saja. Kejadian diatas adalah salah satu contoh dari otonomi kampus, atau otonomi birokrat, lebih jauh lagi otonomi pemerintah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;jadi alat kuasa untuk mengontrol mahasiswa, menentukan mahasiswa mau jadi apa, dan yang tidak mengenakkan adalah kreatifitas mahasiswa jadi terbelenggu dan tak maju.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Hal ini menandakan bahwasannya otonomi kampus atau birokrasi lebih dominan dari pada otonomi mahasiswa. Sehingga yang terjadi mahasiswa tetaplah menjadi objek kebijakan, tak memungkinkan merubah kebijakan. Melalui NKK/BKK format baru itulah mahasiswa tak beda dengan sapi perah yang siap disedot hasilnya dan juga dimanfaatkan untuk kepentingan tuan rumah yakni birokrasi dan pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Kampus dan Peranan Kebebasan akademik &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kampus semestinya mengembalikan fungsinya sebagai tempat kebebasan ekspresi mahasiswa dan juga tempat mahasiswa beraktualisasi dengan berbagai konsepsi dan pemikirannya. Otonomi dimaknai sebagai wujud penghargaan dan penghormatan bahwasannya mahasiswa adalah sosok yang dianggap sudah mampu mengembangkan pemikirannya sendiri dan mengaktualisasikannya. Birokrasi tak lain adalah fasilitator dalam memberikan, membantu, dan mengusahakan berbagai fasilitas yang kiranya perlu untuk pengembangan mahasiswa. Dengan otonomi mahasiswa maka kebebasan akademik mahasiswa akan lebih berpeluang untuk berkembang. Mahasiswa diberi keleluasaan untuk berfikir, beraktualisasi, dan mengevaluasi diri, sehingga mereka akan lebih terlatih dalam mengembangkan bakat, keilmuan dan juga aktualisasi diri  di dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Selama otonomi kampus atau birokrat yang lebih dominan dan berkuasa, maka tak mungkin mahasiswa memiliki perkembangan yang signifikan dalam melakukan kajian, refleksi dan aktualisasi yang mengembalikan perannya sebagai tonggak penerus bangsa ini. RUU Perguruan tinggi masih dalam pembahasan, kita tentu berharap banyak bahwasannya otonomi mahasiswa diberi tempat yang semestinya dalam kebijakan pemerintah melalui RUU ini. Di RUU inilah nasib otonomi kampus atau otonomi mahasiswa ditentukan. Jika memang pemerintah dan kampus peduli terhadap perkembangan dan peningkatan kualitas mahasiswa, tentu ruang-ruang kebebasan berekspresi dan otonomi mahasiswa diberi tempat yang semestinya. Begitu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.35cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-8570129014906409990?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/8570129014906409990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/ruu-perguruan-tinggi-dan-otonomi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8570129014906409990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8570129014906409990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/ruu-perguruan-tinggi-dan-otonomi.html' title='RUU perguruan Tinggi Dan Otonomi mahasiswa'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-8247937659932406017</id><published>2011-12-13T01:25:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T01:26:05.826-08:00</updated><title type='text'>Negara Tanpa Politik Pangan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Negeri ini dikaruniai dengan berbagai kekayaan dan sumber daya yang begitu besar. Hanya saja kekayaan dan sumber daya tersebut cenderung tidak dikelola dengan baik, atau tidak ada kemauan untuk mengelola kekayaan dan seumber daya tersebut dari negara. Negeri ini semakin lama semakin bergeser ke arah Negara industrial, kota-kota semakin menyempitkan lahan pertanian,sehingga pabrik-pabrik di kota-kota besar menggusur dan semakin merampas tanah pertanian kita. Konsekuensi yang dihasilkan adalah hilangnya kedaulatan pangan, ketahanan pangan, dan tak ada politik pangan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lihatlah betapa logika pemerintah kita yang mencoba menyelesaikan persoalan pangan dengan cara-cara yang sangat pragmatis, dan hanya sebatas pada ketahanan pangan. Asumsi yang muncul hanya pada bagaimana kebutuhan pangan terpenuhi, bukan pada aspek pangan adalah hak setiap warga, dan petani wajib sejahtera. Yang menyedihkan lagi data statistic kita menunjukkan petani gurem kita jumlahnya 14,029 juta rumah tangga, atau sekitar 56,4 persen dari total 24,869 juta petani(Kompas,2/12/11).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Logika yang salah dari penyelesaian persoalan pangan adalah tak ada politik pangan yang menyadarkan kita bahwa alat produksi bagi petani adalah penting. Sebab alat produksi itulah yang akan menjamin kehidupan petani-petani kita. Yang ada hanyalah politik pemenuhan kebutuhan pangan. Pemerintah melalui BPN akan memanfaatkan tanah yang terlantar sejumlah 850.000 hektar yang ada di 31 propinsi untuk lahan pertanian(kompas,2/12/11).Dari situ kita bisa melihat bagaimana mungkin kebijakan itu bisa dimaksimalkan,sementara tanah terlantar belum tentu produktif semua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Involusi pertanian Geertz&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meski konsep Geertz belum bisa kita adopsi sepenuhnya, konsep tentang “involusi pertanian”yang akhirnya menghasilkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;shared poverty&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; patut kita cermati. Sejak Sistem colonial yang menerapkan intensifikasi pertanian karena ekstensifikasi pertanian yang tak memungkinkan lagi, dan membagi-bagi lahan tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan kemiskinan bersama. Persoalan lain adalah system tebasan yang memperparah jurang sosial bertambah parah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Penelitian geertz penting untuk menarik kesimpulan bahwa kebijakan pertanian kita ternyata tak jauh beda dengan colonial, bahkan lebih parah lagi. Reforma agraria cenderung diabaikan dan tak berfihak dengan logika liberalisasi yang semakin masuk dalam kebijakan Negara. Anehnya, politik liberalisasi pertanian ini justru masuk dalam konstitusi Negara kita melalui produk RUU pangan. Maka pemerataan lahan bagi petani adalah mustahil, karena tak ada politik dari Negara untuk mensejahterakan petani kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Liberalisasi pertanian&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; RUU pertanian yang dibahas di DPR justru memberikan penjelasan kepada kita, bahwa tumpuan pangan nasional kita masih pada produksi dan konsumsi beras sehingga swasta dibebaskan bermain di pasar dan impor sejalan dengan produksi. Dalam rancangan undang-undang ini, pasal 15 disebutkan logika impor dibenarkan, tapi tak ada bagaimana strategi pengaturan cadangan pangan belum diatur. Ini penting agar spekulan dan para pengusaha tidak memainkan harga dalam pasar.Negara perlu mengatur kebijakan harga dalam pangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Pasal 48 memberikan sinyalemen liberalisasi pertanian. Di pasal tersebut memberikan peluag bagi para investor dan para spekulan, karena kebijakan pangan kita dikaitkan dengan bagaimana investasi berjalan. Jika orientasinya untuk menghindari inflasi, maka kebijakan pangan justru kehilangan tujuan semula yakni mensejahterakan petani dan mewujudkan kedaulatan pangan jadi tersingkirkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Selain itu, perlu bagi Negara untuk mengatur lebih lanjut bagaimana perencanaan, pengendalian harga, pengembangan penelitian dan penentuan harga tidak boleh dilepaskan dari bagaimana Negara berperan dalam kebijakan pangan kita.Sehingga pasal 10 dalam RUU ini belum jelas siapa yang berperan dalam berbagai kebijakan ini. Karena, jangan sampai para spekulan dan swasta besar yang justru memiliki andil lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Land Grabbing &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Praktik land grabbing-penguasaan tanah dalam luasan besar di tangan satu dua orang,termasuk asing justru dihalalkan oleh pemerintah melalui UU no.25 tahun 2007. Melalui peraturan presiden nomer III tahun 2007 membolehkan kepemilikan modal asing sampai 95 persen pada budidaya pertanian tanaman pangan. Meskipun, MK telah membatalkan pasal 22 yang mengizinkan penguasaan lahan hingga 90 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Land-grabbing ini tak hanya Nampak pada bagaimana tak ada keberfihakan pada petani gurem, tapi yang lebih Nampak adalah ketika Negara merampas tanah rakyat untuk kepentingan pembangunan utamanya di tanah jawa yang makin sempit. Pembangunan tol, pembangunan perumahan, dan juga pembangunan perluasan jalan. Hal ini menunjukkan bahwasannya cita-cita kebangsaan kita dalam rangka menegakkan pasal 33 ayat 2 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“bumi,air, dan segala yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;semakin tak terlaksana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jalan yang memungkinkan tak lain adalah segera melaksanakan reforma agraria yang mesti harus berkonfrontasi kembali dengan kepentingan asing dan para pemodal. Kebijakan ini tentu membutuhkan kepemimpinan yang tegas untuk menegakkan politik pangan kita. Mungkinkah kebijakan ini bisa dilaksanakan oleh pemimpin negeri kita?. Rasanya akan jadi mustahil,sebab negara ini memang tak ada politik pangan yang jelas untuk mewujudkan dan menegakkan kedaulatan pangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*)Penulis adalah mahasiswa Universitas muham,adiyah Surakarta, presidium kawah institute Indonesia  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-8247937659932406017?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/8247937659932406017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/negara-tanpa-politik-pangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8247937659932406017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8247937659932406017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/negara-tanpa-politik-pangan.html' title='Negara Tanpa Politik Pangan'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-140423921559867846</id><published>2011-12-09T10:47:00.001-08:00</published><updated>2011-12-09T10:47:59.815-08:00</updated><title type='text'>Tragedi Dan Ironi “Wong Ndeso”</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="CENTER"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Kembali ke laptop&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;katrok…dasar ndeso!!!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;….”adalah jargon yang sering dipake thukul arwana presenter dan pelawak yang terkenal “ndeso”nya. Jargon tersebut menunjukkan bahwa orang desa kerap dihadirkan sebagai sosok yang lugu, tidak banyak tahu apa-apa, gagap teknologi, dan tidak gaul. Kehadiran Thukul sebagai sosok pelawak “ndeso” memang mencoba menggali dan mengingatkan kota yang penuh hiruk-pikuk dengan segala kemewahannya, dengan segala modernitasnya, dan kemajuan teknologinya hingga melupakan, meminggirkan dan menghilangkan identitas orang desa. Sosok Thukul mencoba mengembalikan itu dengan gaya lawaknya yang khas. Gaya lawak Thukul mengajak kita mengembalikan memori kolektif kita bahwasannya tidak selayaknya kita melupakan identitas kita berasal, yakni dari desa. Yah, kita ini orang desa, dan berasal dari sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Imaji orang desa juga dihadirkan oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;koes ploes&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dalam lagunya “gadis desa jadi biduan”.Di lagu tersebut koes ploes menggambarkan potret gadis desa yang datang ke kota menjadi biduan tapi lupa identitas kulturalnya, lupa identitas social dan kehilangan dirinya, sehingga ia merasa perlu mengubah dan menghilangkan identitasnya dan melebur ke dalam identitas kota. Identitas kota yang penuh dengan cap “maju, gaul, modis, dan tidak ketinggalan zaman” menjadi impian orang desa ketika hijrah ke kota. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, saat ini kehadiran desa menjelma dalam ruang-ruang komoditas. Baik pada komoditas ekonomi, maupun komoditas politik. Dalam komoditas ekonomi, banyak produk yang memanfaatkan citra “orang desa”(wong ndeso) yang melekat pada artis. Dalam komoditas politik, kita juga mendengar jargon “bali ndeso mbangun ndeso” yang menjadi sihir politik bagi rakyat dalam kampanye. Alhasil, produk-produk ekonomi kita laku keras, dan kampanye politik politisi kita juga berhasil memperoleh kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ironi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Desa tidak hanya menjadi komoditas politik dan ekonomi dalam perkembangannya. Akan tetapi desa juga sebagaimana yang distereotipkan selama ini. Orang desa tetap saja menjadi sosok yang terpinggirkan, tersingkirkan dan tetap miskin. Harapan orang-orang dusun yang bermigrasi ke kota dengan berbagai khayalannya tak mampu mengubah nasib dan keadaan orang desa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebenarnya kisah pahit ini sudah pernah dituliskan jauh-jauh hari oleh pramudya dalam cerpennya “Jakarta”. Simaklah peringatan pram berikut : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Jadi beginilah, kawan. Jakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Jakarta. Tapi Jakarta sendiri hanya kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan yang masak tidak punya. Anak-anak men­jadi terlampau &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;c&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;epat masak, karena baji-baji, kanak­-kanak dan orangtuanya digiring ke dalam ruangan­-ruangan yang teramat sempit sehingga tiap waktu me­reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada yang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men­jadi hilang, dan segi-segi yang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini menjadi tum­pul. Agama telah menjadi ga&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;y&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;a kehidupan, bukan perbentengan rohani yang terachir.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam cerpennya pramudya mengingatkan tentang sosok orang dusun yang sia-sia mendambakan impiannya dan mempertaruhkan hidupnya dijakarta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Jakarta hanyalah kelompokan besar dusun” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang dengan kehadiran kita justru mempercepat runtuhnya dusun tersebut. Imajinasi kerja hanyalah impian semata, sebab Jakarta justru menghadirkan sebaliknya, kekerasan, kesengsaraan dan kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Desa telah jadi ironi dalam imajinasi orang-orang modern saat ini. Yang kalau kita kaji lebih dalam apa yang mereka harapkan sebenarnya ada di desa. Kehidupan yang tenteram, suasana yang akrab, budaya gotong-royong, serta kekayaan alam yang melimpah justru berada disana. Pendidikan telah mengubah imajinasi “wong ndeso” menjadi akarab dengan dunia kerja, status social, pekerja kantoran, hidup lebih kaya, dan akrab dengan nuansa kemajuan. Mas marco kartodikromo mengisahkan ini dengan baik dalam novelnya “student hidjo”. Hidjo diperingatkan oleh ibu dan ayahnya agar menjaga kesopanan dan cara berpakaiannya. Pendidikan membuat orang desa mengubah identitas mereka dan melupakan riwayat biografis mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Realitas desa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Desa sebenarnya akrab dengan nilai-nilai filosofis dan khazanah yang luhur. Wejangan, pitutur dan juga kekayaan cultural begitu kaya di desa. Sebagaimana petuah orang jawa berikut : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Nge’li ning ora ke’li”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; yang maknanya ikut mengikuti perkembangan zaman, tapi tidak ikut arus dalam gemuruh dan tergelincir dalam arus jaman tersebut. Masih banyak pepatah yang lain yang berasal dari desa, misalnya di bali &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Limane’ ane’h ngisiang tampul aneh’- ane’he ngisi pedang”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang artinya hukum dan patokan yang kokoh akan berani melawan kebatilan yang menghadang.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Selain itu, desa begitu lengkap dengan berbagai sumber daya alam dan kebutuhan kita. Kita seringkali lupa apa-apa yang ada di kota sebenarnya dipasok dari desa. Seperti beras dan bahan pokok lainnya, begitupun sumber daya manusia di kota adalah pasokan dari desa kita. Desa juga menggambarkan suasana pemerintahan yang dinamis, tenteram, dan penuh kedamaian yang sangat jauh berbeda dengan suasana di kota. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Oleh karena itu, sudah selayaknya desa kita bangun kembali. Dan menjadikannya sebagai subjek bukan objek dari pembangunan, serta tidak hanya menjadikannya sebagai lelucon tapi jadi motor perubahan bagi bangsa ini. Bukankah perubahan Negara-negara besar di dunia ini juga berasal dari peran besar orang desa?. Bukan sebaliknya kita tinggalkan dengan berduyun-duyun dan melupakan identitas,riwayat, dan biografis kita yang justru membuat tragedy dan ironi orang desa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;(wong ndeso).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Begitu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.35cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di kawah institute indonesia&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-140423921559867846?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/140423921559867846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/tragedi-dan-ironi-wong-ndeso.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/140423921559867846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/140423921559867846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/12/tragedi-dan-ironi-wong-ndeso.html' title='Tragedi Dan Ironi “Wong Ndeso”'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-5738682934952601621</id><published>2011-11-29T09:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T09:29:32.538-08:00</updated><title type='text'>Memaknai Kembali Etos Haji Dan Qorban</title><content type='html'>&lt;h1 class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://www.gema-nurani.com/2011/11/memaknai-kembali-etos-haji-dan-qorban/" title="Memaknai Kembali Etos Haji Dan Qorban" rel="bookmark"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt;       &lt;div class="entry-content entry"&gt;        &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;“Raut wajah dan bentuk yang berbeda-beda, pakaian yang serba khas, adat-istiadat yang beragam,bahasa yang tidak sama dan warna kulit yang berbeda-beda namun persatuan ukhuwah yang satu dan tujuan yang satu pula yakni menunaikan haji”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;(Azkarmin zalni,1975 dalam bukunya Pengalaman haji di tanah suci)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;            Baru saja kita menyelesaikan dan merayakan hari raya idul qur’ban. Hari raya qur’ban tidak terlepas dari serangkaian ritus haji. Ibadah qurban adalah ibadah yang dimaknai sebagai salah satu bentuk pengabdian total atau totalitas ibadah manusia terhadap Tuhannya. Karena berdasarkan sirah Ibrahim, Ibrahim melakukan ini sebagai wujud totalitas kecintaanNya kepada Tuhannya sehingga ia mau melakoni perintah Alloh untuk menyembelih anaknya. Di jalan, Ibrahim digoda oleh iblis yang kemudian dilempar oleh Ibrahim sehingga jadilah tiga jumrah yakni jumrah ula’, wustha’, dan aqabah. Di tempat itulah kini dibangun tugu yang digunakan untuk meniru Ibrahim sebagai simbol melempar syetan dan sebagai bagian dari ritual ibadah haji.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam ibadah haji, sebagaimana yang diungkapkan Azkarmin dalam bukunya (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;pengalaman ibadah haji di tanah suci, 1975)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, bahwa ibadah haji adalah bentuk penyatuan umat sedunia. Prinsip utilitas dan universalisme ada di sana, islam itu universal, meluluhkan batas-batas duniawi dan material, untuk kembali pada satu hakikat yakni Tuhan. Di sanalah kemudian manusia setelah melakukan ibadah haji diharapkan memancarkan sifat-sifat Ketuhanan dengan berbagai cara setelah melakukan ibadah haji. Maka harapan menjadi haji mabrur dimaknai sebagai haji yang bisa menanamkan kebaikan dan menaburnya di berbagai tempat dan kapanpun ia berada &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Cak Nur, perjalanan haji dan umrah, 97)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyatuan dan hakikat kesatuan ini pun pernah dialami oleh Sidharta ketika ia bercermin di Sungai Gangga, ia menemukan hakikat dirinya, ia melihat manusia berjalan berbondong-bondong, dan berjalan bergemuruh di sungai tersebut, dan di sana ia menemukan kekosongan, kekosongan adalah isi, isi adalah kosong. Berbeda dengan Sidharta, dalam ibadah haji, di waktu berjuta-juta manusia berkumpul di Mekah, ketika mereka sedang melakukan Thowaf di ka’bah mereka merasakan berbondong-bondong manusia menyerukan hakikat kebesaran, melebur dalam satu tekad, dan satu tujuan yakni Tuhannya. Di sana berlantun do’a dan harapan agar manusia memancarkan kebaikan ketika nanti berpulang di kampung halamannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Disinilah hakikat haji itu terletak, bahwa insan haji adalah insan &lt;em&gt;prophetic&lt;/em&gt;. Ketika mereka menemukan siapa dirinya, di ka’bah dan menjalankan haji dengan segenap rukun-rukunnya dengan baik, maka ia menyadari segala yang diperintahkan dan dilarang, ia melakoni doa sepanjang perjalanan haji, dan menapak tilas apa yang dilakoni Ibrahim menyerahkan harta dan segala yang dicintainya untuk Tuhannya melalui ritus qur’ban. Maka ia telah kembali seperti bayi lahir. Ia tidak cukup berhenti di sana, tapi ia mengemban tugas dan misi profetik yakni menabur kebaikan dan menyingkirkan kemungkaran dimanapun ia berada. Maka manusia haji yang tak mampu melakoni dan mengilhami ini, biasanya ia akan biasa-biasa saja setelah ia pulang dari haji. Tapi sebaliknya, manusia haji yang mengilhami dan merasai hakikat haji sebagai pengemban misi profetik, maka ia akan menebar kebaikan dan memberi pencerahan bagi manusia di sekitarnya utamanya masyarakatnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Manusia haji kita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Haji di negeri ini serasa belum menemui haji mabrur. Ketika kita melihat berbagai kemungkaran dan kedzaliman saat ini tidak hanya terjadi pada penguasa dan juga elit politik kita, tapi mulai merambah pada desa-desa kita. Sementara manusia haji di negeri ini lebih mengejar titel atau gelar “haji” dari orang-orang. Haji adalah status, bukan lagi misi profetik. Maka tak jarang mereka haji hingga berpuluh-puluh kali tapi tak menemui esensi dari haji itu sendiri. Mereka melakoni do’a dan haji baru pada tahapan fisik, tapi belum merasai sentuhan dan hakikat haji itu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah betapa politisi kita dan koruptor kita adalah manusia penyandang haji, atau ulama’ulama’ kita adalah manusia haji, begitupun presiden dan elit birokrasi kita, tapi mereka belum mampu melempar jumroh-jumroh yang ada di negerinya. Yakni korupsi, kolusi, nepotisme, hingga penyakit moral masyarakat lainnya. Alhasil manusia haji kita berubah menjadi manusia &lt;em&gt;hajirut &lt;/em&gt;yakni haji yang justru jadi bahan tertawaan kita sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Film emak ingin naik haji&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; mestinya jadi pelajaran buat manusia indonesia yang belum dan akan melakoni haji. Haji itu spirit, haji itu hakikat, haji itu pengorbanan dan keikhlasan bukan hanya ucapan mulut, bukan hanya pamer gelar dan status, bukan hanya tempelan di depan nama kita. Melainkan haji itu misi, haji itu adalah tantangan, dan juga tugas suci.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Haji dan Qurban&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Sebagaimana&lt;em&gt; &lt;/em&gt;haji, qur’ban tak jauh beda, qur’ban sebagaimana dijelaskan dalam &lt;strong&gt;surat Al-Kautsar ayat 1-3.&lt;/strong&gt; Menerangkan Qur’ban adalah perintah yang dilakukan sebagai pengabdian, karena Tuhan telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita. Sebelum qur’ban dimulai dengan mendirikan sholat karena Tuhan. Dan orang yang berqurban sebelum berqurban dituntunkan untuk menyempurnakan shalat mereka karena Alloh.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan kita, tidak menyadari qur’ban berangkat dengan sikap taat kita sebagai  sebagai hamba di hadapan Robb-nya. Ibadah qur’ban adalah puncak, sebagaimana yang dituntunkan oleh Ibrahim. Ibrahim sudah melakukan ibadah-ibadah lainnya sehingga ia melakoni perintah yang menurut Tuhan adalah ujian puncak ketaatan hamba pada Tuhannya. Yakni mengurbankan anaknya sebagai sembelihan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka etos qurban mengajarkan pada kita &lt;em&gt;“bahwa penyatuan pada Illah, serta hakikat pengabdian tertinggi yang membawa misi suci ketika hamba sudah menyatu pada Tuhannya, maka mustahil jika ia akan berdiam melihat kemungkaran dan kedzaliman di negeri ini”. &lt;/em&gt;Ibadah haji dan qur’ban adalah serangkaian, maka haji mabrur dan orang yang berqur’ban mestinya memaknai bahwa dirinya adalah para insan profetik yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar. Bukankah masih banyak kemungkaran di negeri ini?. &lt;/p&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;Maka memaknai Haji dan Qurban tidak lain adalah memahami bahwa kita adalah manusia pelopor dalam memimpin perang melawan kedzoliman dan pemimpin dalam menegakkan misi profetik Tuhan. &lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*) Tulisan dimuat di gema-nurani.com 29 november 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-5738682934952601621?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/5738682934952601621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/memaknai-kembali-etos-haji-dan-qorban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/5738682934952601621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/5738682934952601621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/memaknai-kembali-etos-haji-dan-qorban.html' title='Memaknai Kembali Etos Haji Dan Qorban'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-8311809336537785476</id><published>2011-11-29T09:26:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T09:29:59.134-08:00</updated><title type='text'>Perempuan sebagai Terdakwa</title><content type='html'>&lt;div class="entry-content entry"&gt;        &lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;“Saya sayang kepada perempuan, saya menaruh perhatian besar kepada nasibnya, karena dia tidak dihargai, dan ditindas seperti yang masih terdapat dalam banyak negeri di dalam abad terang ini”&lt;strong&gt;(Surat Kartini kepada NY abendanon-mandri dan suaminya)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kekerasan terhadap perempuan kembali berulang di negeri ini. Setelah ada perempuan melaporkan pelecehan seksual yang terjadi di antrian &lt;em&gt;busway, &lt;/em&gt;kini muncul kasus pemerkosaan di angkutan umum di Jakarta lagi. Kasus ini membuktikan kembali bahwasannya perempuan menjadi sosok yang ditindas oleh sistem kapitalisme, modernisme dan juga kebijakan publik. Sistem alat transportasi modern dengan berbagai keunggulannya ternyata membawa dampak pada sistem hubungan masyarakat yang membawa konsekuensi pada kebijakan yang menyudutkan kembali perempuan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perempuan setelah abad 19 pasca revolusi industri, membawa mereka bermigrasi ke ruang publik dengan menunjukkan eksistensinya memasuki dunia kerja, ternyata harus dibayar mahal dengan berbagai resiko dan perjuangan yang cukup panjang. Bahkan hingga kini, perempuan adalah objek yang sangat massif bagi dunia industri. Hadirnya industri menghidupi perempuan namun tanpa sadar menjadikan ia mangsa yang empuk bagi penjajahan &lt;em&gt;cultural&lt;/em&gt; dan ideologis. Betapa kita dilihatkan fenomena di kota-kota besar, perempuan dengan profesi sebagai sekretaris, buruh pabrik, dan juga artis mereka mau tidak mau dihadapkan pilihan yang sulit antara materi dengan persoalan tubuhnya. Sehingga dari cara bergaya, cara berpakaian dan aturan dunia industri menuntut mereka tampil erotis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Fenomena pemerkosaan di angkutan umum yang mengundang Gubernur DKI berkomentar bahwa &lt;em&gt;perempuanlah yang salah karena memakai rok mini&lt;/em&gt; perlu kita tinjau ulang dan koreksi bersama. Persoalan tubuh perempuan tentu tidak bisa kita lepaskan dari dunia industri, kapitalisme, dan juga budaya masyarakat kita. Di China beberapa bulan lalu ada seorang berganti pakaian di kereta api toh tidak menimbulkan sesuatu apa. Di barat, berpakaian seksi bahkan adalah kebiasaan mereka, tapi tidak menimbulkan persoalan yang merisaukan seperti di negeri kita. Ada apa dengan budaya masyarakat kita? Lebih lanjut ada apa dengan kebijakan pemerintah kita sehingga hal tersebut bisa terjadi?.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Patologi Cinta &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara teoritik, Freud menjelaskan ini dengan gamblang dalam bukunya &lt;em&gt;Cilization and Its discontent. &lt;/em&gt;Disana ia menjelaskan ; &lt;em&gt;“cinta dengan sasaran yang terlarang sungguh-sungguh penuh dengan cinta yang bersifat indrawi menurut asalnya, cinta ini begitu tenang dalam alam pikiran tak sadar manusia” maka cinta yang seperti ini adalah patologi, yakni sebagai sesuatu kemunduran pada keadaan “narsisme tak terbatas”.  &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Lebih lanjut Freud menjelaskan yang dituliskan kembali &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Erich Fromm dalam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“The art of love &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;“ : “&lt;em&gt;Bahwa manusia didorong oleh suatu keinginan yang tak terbatas untuk penguasaan seksual terhadap semua wanita, dan bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”.&lt;/em&gt; Bagi Freud, tindakan pelecehan seksual, tindakan yang berorientasi pada nafsu hanya dapat diselesaikan oleh tekanan dari masyarakat dan pencegahan dari masyarakat kita. Ketika masyarakat menganggap ini sebagai sesuatu yang didiamkan, maka hasrat dan naluriah manusia tersebut justru semakin menjadi. Jikalau kita lihat di negeri ini, maka pernyataan Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo yang menyatakan bahwa salah perempuan yang memakai rok mini, maka ini menunjukkan bahwa gejala patologi cinta dianggap sebagai sesuatu yang mendakwa perempuan sebagai sosok yang menjadi kambing hitam. Sebab pakaian dipandang sebagai suatu penyebab timbulnya kekerasan terhadap perempuan tanpa melihat faktor yang menjadi penyebab utamanya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Belum efektif &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Fenomena ini mengingatkan kembali kepada aktivis gerakan perempuan dan juga pemerintah, dan kita semua, bahwasannya gerakan pembebasan perempuan ternyata belum efektif di negeri ini. Diskriminasi gender, ketidakadilan terhadap perempuan masih saja terjadi di negeri ini. Meskipun UU pornografi dan porno aksi sudah ditetapkan, pemerintah belum mampu memblokir semua situs porno di negeri ini. Selain itu, secara filosofis pornografi dipandang dari fisik semata, misalnya segi pakaian, sedangkan yang lebih fundamental adalah pembenahan masyarakat kita tentang budaya menghargai perempuan sebagai sosok yang sama dan setara sehingga keadilan gender bisa terwujud. Selain itu, pemerintah masih saja belum mampu menyeleksi tayangan-tayangan yang berbau erotis yang tiap hari hadir di layar kaca kita baik di dunia &lt;em&gt;entertainment&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;advertising&lt;/em&gt;, dan dunia film kita yang mengumbar erotisme.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kebersamaan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika melihat fenomena di atas, Dr. Mansour Fakih menyarankan dalam bukunya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Analisis Gender dan Transformasi Sosial&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; mengatakan ; &lt;em&gt;“Segala bentuk yang merendahkan kaum perempuan bukan semata-mata salah kaum perempuan maka usaha menghentikannya secara bersama perlu digalakkan”&lt;/em&gt;. Fakih menyarankan gerakan ini bisa dilakukan dengan mencatat kejadian di catatan harian, catatan harian ini akan berguna ketika diproses secara hukum. Menyuarakan &lt;em&gt;uneg-uneg &lt;/em&gt;di kolom-kolom surat kabar, surat pembaca misalnya secara serentak, berdemonstrasi secara bersama-sama, atau menyuarakan opininya melalui media massa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gerakan ini akan lebih efektif untuk mengurangi dan mencegah kekerasan terhadap perempuan sebagaimana yang sudah dipraktikkan di Negara maju dan juga sebagaimana yang dikatakan Freud : “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Sehingga tidak lagi menempatkan perempuan sebagai terdakwa dalam setiap kasus pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan. Begitu. (*)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Tulisan dimuat di gema-nurani.com 22 november 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-8311809336537785476?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/8311809336537785476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/perempuan-sebagai-terdakwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8311809336537785476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8311809336537785476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/perempuan-sebagai-terdakwa.html' title='Perempuan sebagai Terdakwa'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-4991507693141474855</id><published>2011-11-28T21:28:00.001-08:00</published><updated>2011-11-28T21:29:33.969-08:00</updated><title type='text'>Mahasiswa Dan Politik Nurani</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Tanggapan untuk Radhar Panca Dahana KOMPAS (3/10/11)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kegelisahan yang dirasakan oleh budayawan kita radhar panca dahana patut kita cermati. Radhar panca dahana di opini kompas (3/10/11) mengungkapkan adanya budaya yang buruk di negeri ini dengan menunjukkan perilaku masyarakat kita yang mengkritik pemerintah dengan simbol-simbol kenegaraan seperti karikatur, foto SBY yang memegang kemaluan sendiri sebagai kritik yang berlebihan dan mencerminkan masyarakat yang kurang beradab. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kekecewaan radhar adalah kekecewaan kita semua, radhar pun sebenarnya memiliki kegelisahan yang sangat akan kepemimpinan presiden kita(SBY) kalau kita mau dan masih menganggapnya sebagai presiden. Kekecewaan yang sama ini digambarkan dengan kalimat : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“kenyataan di negeri ini menunjukkan kerja politik lebih didedikasikan pada (upaya merebut atau mempertahankan)kekuasaan ketimbang memperjuangkan nilai-nilai luhur yang justru menjadi keadaban lahirnya politik itu sendiri : menata dan mengelola negeri semata untuk memajukan dan memuliakan manusia”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kekecewaan radhar sebenarnya ada dua macam ; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sindiran akan budaya kita yang identik dengan budaya halus, dan anti kekerasan, tetapi tiba-tiba mengkritik dengan cara yang seperti mencerminkan masyarakat yang tak beradab. Radhar seolah-olah ingin mengatakan ; Apa yang terjadi dengan bangsa ini?. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kekecewaan radhar akan fenomena para pelaku politik saat ini yang sibuk ramai dan berebut kekuasaan di senayan dengan mengeluarkan kritik yang dipandang tidak beradab hanya untuk memenuhi nafsu dan hasrat politiknya yakni kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Daulat Rakyat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kegelisahan tersebut sebenarnya merupakan pertanyaan retoris akan bangsa dan negara kita. Yang tanpa kita tanyakan kita sudah tahu jawabannya. Ketika gerakan tokoh lintas agama menyerukan bahwa pemerintah berbohong dan inskonstitusional, para tokoh lintas agama selalu menyerukan seruan moralis : “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Jangan anarki, terlalu banyak darah yang ditumpahkan, kita tidak ingin darah keluar lagi di negeri ini, sudah terlampau banyak rakyat menderita”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ujar syafii maarif dalam orasi kebangsaannya di solo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Jalan pikir dan logika ahmad syafii maarif senada dengan radhar panca dahana yang tidak menginginkan kekerasan. Pertanyaannya kemudian, apakah rakyat kita yang tidak beradab? Atau para pemimpin dan politisi kita yang sesungguhnya biadab?. Demokrasi kita mengajarkan kembali arti pentingnya kedaulatan rakyat. Muh. Hatta seringkali mengatakan : Bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; “rakyatlah yang berdaulat, bukan negara yang berdaulat”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Artinya, uraian radhar panca dahana menjadi tidak cocok ketika dihadapkan dengan kondisi kekinian di negeri ini. Rakyat kita sudah terlampau menderita dengan berbagai kebijakan dan juga sajian drama para politisi kita, apalagi korupsi yang semakin merajalela,bahkan politisi DPR berani mengatakan ingin membubarkan KPK dalam konflik “KPK dan badan anggaran DPR”(tempo,4/10/11). Sampai-sampai Busyro muqoddas mengatakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;:”Apa boleh buat, kalau memang mau dibubarkan, kami kan hanya melaksanakan undang-undang”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Demokrasi kita saat ini memang lebih cenderung pada demokrasi liberal dan kriminal. Liberalisasi yang ada pada demokrasi ditujukan atau diarahkan untuk berbuat kriminal. Misalnya korupsi berjamaah tanpa malu-malu, saling tutup-menutupi dan gotong royong untuk merampok negara ini. Realitas inilah yang kemudian menuntun rakyat kita suka yang serba instant, bahkan mereka rela berpanas-panas di jalan raya hanya untuk mengisi perut lapar mereka walaupun dengan melakukan demonstrasi simbolik dengan membawa kerbau misalnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kebebasan kita setelah orde baru yang mengekang mahasiswa terkungkung dalam kampus dan bebas dari aktifitas politik membawa mahasiswa turun ke jalan dengan aksi-aksi heroik dan aksi sosialnya. Aksi-aksi simbolis yang digambarkan radhar adalah bagian dari wujud kekesalan dan ketidakpuasan terhadap kondisi negeri ini yang dipimpin oleh penguasa yang berhaluan neoliberalisme. Tentu mahasiswa memiliki kerangka analisis yang tajam, memiliki data yang mendukung dan nalar berfikir yang bisa dipertanggungjawabkan. Kritik tajam yang simbolis ini pun kerap dilancarkan ketika masa orde baru dengan mengatakan “DPR-nya bego-bego, “presidennya impor isteri” bahkan sampai muncul poster atau puisi “suharto asu”. Kejengahan dari masyarakat menjadi hal yang dilakukan dengan aksi simbolik, menggelitik, dan menampar tapi tidak dengan aksi bom dan teror yang mencekam sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah dengan teror kemiskinan, teror kekalutan ekonomi dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kesemua aksi-aksi mahasiswa diatas dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah jalan politik nurani mahasiswa menyuarakan aspirasi masyarakat. Jika ada yang mengatakan mahasiswa sudah tidak berpolitik nurani, maka ini pertanda negara ini mau hancur. Sejarah telah mencatat perubahan bangsa ini dimulai dari pusat peradaban dan kebudayaan , tidak lain dan tidak bukan adalah dunia kampus-kampus kita yang dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat tentunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tanpa kekerasan &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika politik simbolis dinilai sebagai cara-cara yang tak beradab,apakah sudah ada cara ampuh lain yang mampu menegur pemimpin kita yang berbuat kelewatan ini?. Barangkali kita bertanya ulang terhadap radhar panca dahana : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“ Pemimpin yang beradabkah ketika dikritik dan dihujat dengan simbol yang begitu keras masih diam dan menjabat sebagai pemimpin kita?”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Budaya kepemimpinan kita memang sangat buruk, para pemimpin kita seperti menunggu kritik dan suara keras dan terus-terusan dari rakyat barulah mereka menyadari bahwa kepemimpinan mereka buruk dan juga salah arah. Seharusnya pemimpin kita meniru ahmadinejad yang memimpin iran dengan sangat sederhana sekali, rumah sederhana, fasilitas sederhana tapi tegas terhadap kekuasaan despotik dan korup. Pemimpin jepang dan china adalah contoh yang menunjukkan budaya malu penting dalam kepemimpinan kita untuk menunjukkan integritas, harga diri sebuah bangsa. Apa artinya kedaulatan bangsa yang dipertanyakan radhar panca dahana ketika negeri ini dipimpin politisi busuk dan menjual kedaulatan negerinya dengan menghamba pada asing, inferior dan korup. Gene Sharp dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;The politics of non violence action &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mengatakan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“metode perlawanan tanpa kekerasan salah satunya dengan komunikasi publik yakni dengan slogan, simbol-simbol,selebaran, pamflet-pamflet dan spanduk-spanduk”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Metode ini dipandang lebih efektif daripada dengan metode kekerasan yang justru melahirkan pemimpin yang lebih diktator.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dimana  Pers dan mahasiswa???&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; “Tugas pers bukanlah untuk menjilat kekuasaan, tapi justru untuk mengkritik yang berkuasa” (PK Ojong). &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu dimanakah pers kita berada saat ini, ketika kondisi negeri ini sudah kian carut-marut?.Jawabannya tentu terlihat dengan fenomena yang terjadi saat ini. Pers kita digambarkan tidak jauh berbeda dengan kondisi orde baru yang merangkul pers ibarat kawan sejawat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Semenjak SBY memimpin, SBY beberapa kali memperoleh penghargaan akan apresiasinya terhadap kebebasan pers. Dari situlah kita melihat, hubungan relasional antara pers, partai politik, dan para koalisi SBY seperti aman-aman saja dan seolah pers tidak tahu apa-apa.Ini yang menjadi PR bagi pers kita agar lebih menyuarakan hati nurani rakyat kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Hal ini tentu berbeda dengan politik nurani mahasiswa, meskipun ada beberapa demonstrasi dan budaya kritik yang identik dengan politik uang, masih banyak mahasiswa yang mengkritisi pemerintah melalui budaya tulis, budaya orasi ilmiah dan juga aksi-turun kejalan dengan menyuarakan suara rakyat. Sehingga,kritik radhar perlu kita dengar, akan tetapi kita perlu memperoleh jawaban &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“politik yang baik” &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang seperti apakah jika membiarkan penyalahgunaan kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;(abused power)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ini terjadi terus-menerus dan mendiamkan rakyat kita makin banyak mati dengan sendirinya dan menjadi korban kedzaliman rezim???.Tentu radhar punya jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*)Penulis adalah aktivis IMM SOLO, presidium kawah institute indonesia &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: georgia;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-4991507693141474855?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/4991507693141474855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/mahasiswa-dan-politik-nurani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4991507693141474855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4991507693141474855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/mahasiswa-dan-politik-nurani.html' title='Mahasiswa Dan Politik Nurani'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-3657546032880611855</id><published>2011-11-27T01:36:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T01:38:15.951-08:00</updated><title type='text'>Cerpen : Malam terakhir dengan Ayah</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P.sdfootnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; margin-bottom: 0cm; font-size: 10pt }   P { margin-bottom: 0.21cm }   A.sdfootnoteanc { font-size: 57% }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Aaaaaaaaaaaaaaaahhhh..........................”. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Ayah………………,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tidak………………………….!!!.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt; Aku memeluk ayahku erat-erat. Seperti tak pernah bertemu kembali dengannya.  Seperti biasa, aku selalu menyayangi  ayah. Ayah adalah yang paling mengerti apa yang kumau. Aku tak tahu percakapan yang dilakukan dua minggu kemaren. Yah…..di ruangan ini, aku tak menyangka, ayah telah pergi…..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tiba-tiba pikiranku melayang-layang membawaku ke masa laluku.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“&lt;i&gt;Nak,,,,,kamu jangan nakal lagi yah…..jangan lupa belajar…..jangan malas…..kalau kamu malas, kamu gak bisa jadi anak yang pintar…..”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“&lt;i&gt;Sayangi ibumu…dia sudah susah-susah merawatmu, dengarkan nasehatnya, berbaktilah kepadanya, ayah akan cari uang….mungkin tak kembali lagi……”&lt;/i&gt; begitu kata yang kuingat dari ayahku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Ibu sudah tak mampu mengurusiku, apalagi membisikkan kata-kata atau petuah lewat telingaku. Ibu sudah kapok mengurusiku dan berceloteh di depanku, setiap kali ibu melihat tingkahku yang kelewatan ibu hanya diam, memegang dadanya, dan berkata &lt;i&gt;:”Duh gusti…..paringono sabar lan hidayah marang anakku iki….”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Aku memang anak yang sudah kelewatan….hampir tiap malam aku keluar malam dan menggemparkan tetangga dengan suara motorku. Pagi-pagi aku pulang dengan baju lusuh layaklnya pengemis dan gelandangan. Malam-malamku selalu kuhabiskan untuk bersenang-senang. Bukankah hidup ini adalah kemudahan seperti kata pramudya tinggal makan, minum, dan berbuat kebajikan….Meski tetanggaku selalu meneriakiku dengan kata-kata serapah….aku tak peduli….aku tak merasa bersalah terhadap mereka,,,pada ibuku pun tidak…..aku orang bebas…begitu kata hatiku seperti yang dicita-citakan rakyat perancis waktu itu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Lama-lama, Ketidakwajaranku dianggap sebagai sesuatu yang biasa oleh tetanggaku. Mereka sudah terbiasa dengan ulahku entah itu berteriak di malam hari sambil menikmati lagu-lagu dangdut, atau suara motor YAMAHA GL PRO yang bikin telinga mereka pecah, atau suara uring-uringan dengan ibuku yang membikin mereka menjadikanku tontonan karena penasaran dengan kelakuanku terhadap ibu. Hal ini mereka lakukan karena takut terjadi sesuatu pada ibu. Selain itu, mereka sudah memasrahkanku pada takdir dan hukum karma yang biasa mereka percayai lewat mitos-mitos yang tak rasional. &lt;i&gt;“Sopo salah seleh”&lt;/i&gt; [siapa yang salah pasti akan mendapatkan jawaban]. “Dasar!!! orang desa” begitu gumamku,  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Ayah sudah lama meninggalkan kami sejak aku lahir. Ayah baru datang ketika aku berusia 17 tahun waktu kelas tiga SMP. Kehidupanku yang akrab dengan buku-buku bacaan dan televisi, serta fasilitas yang serba mewah tak membuatku semakin mengerti  arti kehidupanku. Aku ibarat itik ditinggal induknya, meski ibuku menemaniku di tiap malamku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Ndin, belajar toh ndin…….nilai pelajaran matematikamu buruk terus…..kasihan ayahmu……ia kerja untuk kamu…….”begitu ibuku bertanya di malam minggu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Ibu ini apa sih bu…..ini andin juga sedang baca!!!”, Ibu tahu pramudya gak bu???ibu tahu aristoteles gak bu? Atau ibu tahu kisah sukarno?.....Hebat loh bu…………...,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Yah……kau ini nduk…nduk…dikandani ngeyel……ibu kan Cuma lulusan SD…..mana tahu itu semua????yang ibu tahu angka-angka ulanganmu itu loh…Cuma 1,2,3,4,5…….gimana nih……&lt;i&gt;sakjane koe&lt;/i&gt; kie yoh pinter,……&lt;i&gt;ning ndablek&lt;/i&gt;……….!!![sebenarnya kamu itu juga pandai,,,,tapi  malas].&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Goblok….!!” Dasar lulusan SD……gak tahu apa-apa malah nasehatin aku……Dah….aku malas sinau.Tiba-tiba “Tarr………….”piringpun melayang menjadi korban amarahku.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Melihat itu,ibu menangis dan melelehkan air matanya.Tubuhnya yang ringkih hanya bisa menatapku sambil memegang dadanya. Tak kuat menahan tubuhnya yang sudah uzur, ibu jatuh pingsan….melihat itu…aku langsung saja cabut tancap gas….dan cuek tak peduli.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Esok paginya ibu sadarkan diri. Aku seperti anak yang kehilangan kasih sayang ayah. Ayah memang lebih lekat dan lebih dekat dengan anak perempuan, seperti  kebiasaan orang selama ini, aku tak tahu teori ini ternyata sudah ditulis oleh para pemikir lampau seperti freud, simone de behavior, dan pemikir lain.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Bu…..ibu sudah sembuh,,,,,”entah malaikat mana yang datang merasukiku. Aku seperti luluh dan tak berdaya melihat ibuku terbaring di &lt;i&gt;amben&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt; . Matanya lelah, usianya yang sudah senja mengalahkan garis wajahnya untuk sekedar melekukkan senyuman kepadaku, tapi matanya masih cemerlang menerkam ke arahku dingin.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Ada apa toh nduk…?”Ibu akan sembuh kok nduk….”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Ibu…..&lt;i&gt;bapak kemana?kapan bapak pulang???”&lt;/i&gt;tanyaku.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Uhuk,,,,uhuk,,,,,cuih(suara ibunya meludah)……tolong ambilkan ember nduk…….”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tanpa banyak bicara aku sediakan ember yang diminta ibu, hanya untuk mendengar kabar dari ayah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Sini nduk…..tak ceritani…….” [Kesini nak….aku mau cerita]&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tiba-tiba ingin sekali aku menyandarkan diri ke pelukan ibu. Air mataku mengalir pelan bagai mata air di gunung-gunung. Aku merasa telah menyakiti ibu. Ibu sudah sabar mengurusiku. Meski aku sebenarnya merindukan ayah, ayah yang tak kulihat sejak aku lahir. Aku bingung, ketika Tanya teman-temanku menyerbuku. Entah anak haram, entah anak janda tua, anak temon, dan berbagai hinaan lain menyerbuku menggebu-gebu. Ibu, kali ini anakmu menyentuhmu, ingin menumpahkan kerinduan pada ayah, menjadi rasa sayang pada ibu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“&lt;i&gt;Ayahmu adalah pekerja keras, ayahmu tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya disana. Malaya adalah negeri yang sebenarnya bukan cita-cita ayah. Ayahmu merasa sesak disana, ia bertahan dengan sikasaan para petugas keamanan disana yang kadang memergoki ayahmu karena tak membawa surat resmi”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Ayahmu…terakhir kali ia kerja di pabrik motor cina disana, asap menghiasi tiap harinya. Ayahmu….adalah kekagumanku. Tapi saat ini semua itu sudah berubah nduk.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Kenapa Bu??”Sambil mengangkat kepalaku dan menatap mata ibu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Itulah yang aku tak tahu, Ayahmu hanya mengirim uang untukmu. Sambil menunjukkan surat dari suaminya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“ &lt;i&gt;Ini uang untuk anakmu dan hidup satu bulan, rawat anak kita yah…..aku tahu ia pasti merindukanku”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;Doamu yang ku harap sayang…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;b&gt;Suamimu.Parno.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tiba-tiba saja ketika aku dan ibuku asyik bercengkerama.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Nem…..nem……coba kesini…….!! Kemari nem!.....................……..cepet, kesini, nem……..!dok...dok...dok....tetanggaku sebelah berteriak kencang memanggil ibuku seperti ada sesuatu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Coba kamu kesana nduk…..……uhuk…uhuk……”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tanpa membantah seperti biasanya, aku langsung ke tempat tetanggaku. Melihat apa  yang ingin dikatakan dan dipertunjukkan oleh tetanggaku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Ini nem…..ini nem……..!aku dikejutkan tayangan televise yang mempertontonkan lelaki ringkih, dari usianya kulihat sudah 50 tahunan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;(Reporter berita mulai berbicara)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;“Suparno seorang warga negara Indonesia tiba-tiba menjadi sosok yang menggemparkan. Polisi menangkapnya di tempat hiburan terkenal &lt;b&gt;di Asia funny&lt;/b&gt;. Ia menjadi sosok yang mengejutkan &lt;i&gt;dunia pemberitaan Malaysi&lt;/i&gt;a,  yang karena ulahnya membakar tempat hiburan itu”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Kamera televise itu tiba-tiba mengarah ke tulisan yang masih tersisa asap yang pekat bekas pembakaran. &lt;i&gt;“Indonesia, aku mohon maaf…aku tak bisa berbuat banyak, kecuali melawan mereka, mereka sudah tidak punya perasaan, menghina indon dan negeri kami, kami disiksa, dihisap seperti tak ada lagi kehidupan untuk mendapatkan ringgit”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;Nak……jadilah petangguh, yang tak seperti bapakmu,,,bapakmu sudah melawan…..melawan dengan ketidakberdayaan….Meski ia kalah….ia sudah melawan…..&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Tiba-tiba saja mataku dikejutkan oleh nama yang tertera di tembok itu,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;b&gt;SUPARNO LULUSAN SD &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.35cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Universitas muhammadiyah surakarta, bergiat di komunitas tanda tanya, tulisan tersebar di Media indonesia, suara merdeka, SOLO POS, dll.. Finalis lomba Essay Tempo Institute 2009 dll.  Kontak di : arif_love_cinta@yahoo.co.id&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.35cm;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;  [tempat tidur yang terbuat dari bambu].&lt;/p&gt;&lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="sdfootnote"&gt;*)Tulisan dimuat di KABAR FKIP UAD 24/11/2011&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-3657546032880611855?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/3657546032880611855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/cerpen-malam-terakhir-dengan-ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3657546032880611855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3657546032880611855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/cerpen-malam-terakhir-dengan-ayah.html' title='Cerpen : Malam terakhir dengan Ayah'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-1873387343378501763</id><published>2011-11-22T17:54:00.000-08:00</published><updated>2011-11-22T17:56:58.504-08:00</updated><title type='text'>Menebus Kekalahan!!!</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CWIN7UL%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CWIN7UL%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CWIN7UL%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0cm;  margin-right:0cm;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-hyphenate:none;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-fareast-language:AR-SA;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;  mso-footnote-position:beneath-text;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hampir seluruh masyarakat indonesia menyaksikan pertandingan final sea games sepak bola kita di layar televise kita. Kemenangan di beberapa cabang olahraga lain seperti tidak bisa menghasilkan senyum yang lebar, mengingat sepak bola seakan-akan menjadi kunci bagi kemenangan sejati. Ada apa dengan masyarakat kita?. Apakah sedemikian kalah negeri kita?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sepertinya negeri ini memang sama sebagaimana yang dikatakan pramudya: “kita sudah melawan mak, melawan dengan sepenuh tenaga”(bumi manusia). Siapa yang kita lawan?. Sepak bola adalah cermin, bahwa keberuntungan sekalipun seperti menjauh bagi indonesia. Meskipun kita sudah melawan, melawan dengan sekuat tenaga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Final SEA GAMES XXVI tidak hanya sebagai symbol bahwa negeri ini memiliki riwayat yang cukup sengit dengan Malaysia, negeri ini cukup pelik dengan persoalan TKI, persoalan perbatasan wilayah yang menuntut pada satu emosi bahkan nasionalisme kita terusik. Sepak bola sebagai bagian dari simbolisasi itu, ternyata tidak mampu membuat kemenangan berfihak pada negeri ini. Yel-yel “ganyang Malaysia”, “malingsia” seperti tak punya makna?. Apakah ini cerminan kekalahan bagi republic ini?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sepak bola tak jauh dengan cerminan pemimpin negeri ini, sepak bola menggambarkan bahwa negeri ini sepertinya bakal jadi negeri kalah dan jadi negeri mainan bagi Negara-negara lain. Apa jadinya ketika kebijakan-kebijakan pemerintah pun tak bisa dibanggakan oleh rakyatnya?.Sepak bola sebagai simbolisasi dan alternative terakhir untuk melampiaskan rasa kekecewaan, rasa kesal, dan juga rasa emosi dari nasionalisme yang terusik,ternyata tak mampu menampik kesimpulan bahwa negeri ini negeri yang kalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sepak bola dan politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ada kebangkitan dan rasa optimisme ketika sepak bola di negeri ini mulai mengalami perbaikan paska pergantian kepemimpinan PSSI. Ada perbaikan manajemen, perbaikan system, perbaikan regenerasi, namun belum mampu ditunjukkan dalam waktu dan momentum sea games&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kali ini. Siapa sangka sepak bola kita tak ada politik?.Siapa sangka sepak bola bukan perkara politisasi para pemodal, para korporat ?. Jangan kita terlalu lemas melihat kekalahan kita, tapi ada yang perlu di waspadai, yakni kemenangan korporasi yang meraup keuntungan dari iklan di sea games ini, rating iklan yang melonjak tajam, juga manajemen yang memperoleh keuntungan yang cukup, sehingga mereka tertawa lepas, dan sambil menertawakan kemenangan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Persoalan sepak bola pun menyentuh pada persoalan citra, Bukankah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika sea games menang, atau sepak bola kita menang, ada pula pihak-pihak merasa diuntungkan dan mempolitisasi sepak bola kita?. SEA GAMES adalah cermin bahwa SBY layak dijunjung, tapi kita melupakan kasus korupsinya nazarudin?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tak hanya sepak bola&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Nasionalisme kita tak hanya dicerminkan dan diwujudkan dari sepak bola kita, sepak bola memang bagian dari simbolisasi itu, dan merupakan satu-satunya yang paling tidak bisa dibanggakan karena lama sekali kita memperoleh kekalahan dari Malaysia terus menerus. Mengapa nasionalisme kita tak melebar pada persoalan politisasi penyiksaan TKI di arab Saudi dengan memberikan hadiah gelar doctor honoris causa pada raja arab Saudi karena dianggap bisa melindungi TKI kita?. Mengapa kita tak marah-marah dan melampiaskan kemarahan kita memenuhi jalanan-jalanan kita ketika TKI kita dibunuh, dipancung,disiksa di negeri orang?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Nasionalisme kita pun mesti kita pertanyakan ulang?. Negeri ini menjadi negeri kalah bukan karena persoalan bangsa lain, tetapi juga mentalitas kita dan pemimpin yang perlu pembenahan di sana-sini.Kita jadi bangsa yang cepat lupa, bahwa sejarah kebesaran negeri ini dibangun dengan persatuan yang kokoh dan kuat barulah berteriak ganyang Malaysia. Kalau kita belajar dari sukarno, dengan semangat mengenyahkan kapitalisme gagal karena kurang adanya persatuan yang kokoh, dan perhitungan yang matang. Sebagaimana sukarno waktu itu,SEA GAMES kali ini seperti menunjukkan demikian juga. Negeri ini perlu latihan, persiapan, persatuan yang kokoh bagi semua elemen. Tak hanya pemain, pelatih, manajemen, bahkan supporter yang tertib dan santun perlu juga kita tata. Negeri ini perlu belajar menerima kekalahan, bukan untuk menyesali,tapi menyadarkan kembali bahwa sepak bola adalah cerminan dari nasionalisme, cerminan dari politik, ekonomi, dan budaya kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pertanyaannya kemudian, setelah kalah sepak bola dengan Malaysia terus bagaimana?.Apakah akan diam dengan menyesali kekalahan, tentu tidak demikian. Kekalahan ini adalah pelajaran penting sebagaimana yang sudah dilakukan para pendahulu kita, kemenangan tidak bisa diperoleh dengan cepat, instant, dan butuh proses yang panjang untuk itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bukankah momentum kepemimpinan indonesia di ASEAN adalah momentum yang baik untuk melakukan itu?.Jika momentum ini tidak dimanfaatkan,maka kekalahan telak akan kita terima. Bukan hanya kalah dalam sepak bola, tapi juga ekonomi,social, politik, dan lain-lain. Kita masih punya optimisme untuk itu, kepemimpinan ASEAN mestinya adalah jawaban dan tantangan bagi kekalahan sepak bola pada SEA GAMES kali ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mampukah kita melakukan hal tersebut?. Tinggal bagaimana mentalitas inferior itu harus dihilangkan, melainkan membangkitkan kembali mentalitas yang dibangun oleh sukarno waktu itu, kita menjadi bangsa yang “jatuh, bangkit kembali, jatuh, kemudian bangkit kembali” yang memiliki jiwa bangsa yang kuat dan tidak mudah lapuk dimakan zaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;*) Presidium Kawah Institute Indonesia, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-1873387343378501763?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/1873387343378501763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/menebus-kekalahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1873387343378501763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1873387343378501763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/menebus-kekalahan.html' title='Menebus Kekalahan!!!'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-4242408964699135045</id><published>2011-11-20T22:18:00.001-08:00</published><updated>2011-11-20T22:19:54.830-08:00</updated><title type='text'>Dunia Politik Yang tak Puitis</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dunia politik di negeri ini seperti sedang menunjukkan wajah aslinya. Betapa kita disuguhi fenomena yang membuat drama, tragedy, peristiwa politik dalam keseharian kita menjadi catatan yang lalu lalang begitu saja layaknya laju kendaraan yang menghilang dalam sekejap pandang. Negara saat ini tidak lagi bisa mengatur kebusukan, kelemahan system, dan rahasianya menjadi bahasa-bahasa yang puitik sehingga tak tampak lagi keburukan dan kebusukannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Meskipun dengan berbagai cara baik melalui menghadirkan layar semu dalam dunia perpolitikan kita, ternyata rakyat sebagai objek yang dibohongi dengan fenomena-fenomena yang menipu sudah terbiasa dengan retorika politisi kita yang sama sekali tak menyentuh hati rakyat kita. Politisi kita tak pandai mengolah kata dan rasa sebagaimana para penyair melakukan itu, sehingga mereka tak bisa mengungkapkan peristiwa, fenomena atau bahkan rahasia mereka melalui bahasa-bahasa simbolis yang indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dunia puisi tak jauh berbeda dengan dunia politik. Politik mengurusi masalah social, sedang puisi melibatkan kata dan rasa untuk menghasilkan bahasanya sendiri. Politisi yang tak puitis maka akan berkomentar dengan melihat fenomena dan fakta sebagai sesuatu yang tampak di depan mata. Lihat betapa di negeri ini kita sering melihat politisi kita kehabisan kata-kata ketika diwawancarai wartawan terkait perkara korupsi dan sebagainya. Mereka kehilangan bahasa mereka, atau gagap mengungkapkan bahasanya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Puisi menciptakan seni berbahasa yang membedakan orang yang memiliki kemampuan memadukan antara rasa dan kata ke dalam bahasa yang lain. Ketika seseorang memiliki kemampuan puitis ini, maka imajinasi bisa menjelma dalam kehidupannya. Sedang sensitifitas tetap ada dalam dirinya. Sebab sensitifitas itulah yang akan memberikan inspirasi bagi mereka menciptakan dan menciptakan lagi karya dalam bentuk statement, komentar, atau tanggapan sebagaimana yang dilakukan para politisi kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Politik dan puisi adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;art&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(seni) yang membutuhkan keterampilan dan proses yang panjang hingga mencapai puncak estetikanya masing-masing. Puncak estetika politik sebagaimana yang dikatakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;aristoteles&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ialah pencapaian kebajikan untuk umat manusia. Sedang puncak estetika puisi bisa ditafsirkan dengan berbagai pandangan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ideologi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di dalam kita berpuisi pun memerlukan ideology sebagai satu fondasi atau motif yang mendasari para penyair membuat puisi. Ideologi ini sempat mengalami polemic antara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;sastra untuk rakyat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, atau sastra&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; humanisme universal&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Melalui lekra dan manikebu itulah para sastrawan kita menyatakan motif mereka masing-masing. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Akan tetapi ketika melihat kondisi politik di negeri ini sepertinya kita sudah kehilangan ideologis. Para politisi kita memburu harta dan tahta untuk kepentingan pribadi dan partainya, seolah-olah kekuasaan adalah milik partai politik digunakan untuk partai politik, dan kembali untuk kemakmuran anggota partai politik. Demokrasi seperti inilah yang saat ini menghiasi bumi pertiwi kita. Sehingga demokrasi criminal inilah yang direproduksi, dan dimanipulasi untuk melanggengkan politik rente.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di masa orde lama, puisi adalah politik. Politik pun menggunakan bahasa yang puitis. Orde lama memungkinkan rakyat berbicara politik, sebab politik adalah kerja yang digaungkan dan digelorakan untuk menciptakan persatuan. Begitupun puisi adalah metode dan cara untuk menggairahkan politik dengan tujuan sarana pencapaian revolusi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berbeda dengan orde baru, politik dan puisi adalah sama hal yang tak boleh dibiarkan lama hidup dan tumbuh di negeri ini. Hingga dunia politik menjadi dunia yang penuh terror dan mencekam. Orde baru mematikan puisi-puisi rakyat, sehingga penuh dengan ketenteraman, kedamaian tapi penuh dengan was-was. Orde baru memaknai politik dan puisi adalah titah sang presiden sehingga rakyat tidak diberi kebebasan untuk melakukan perlawanan terhadapnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kritik&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di era pemerintahan SBY kini, puisi jadi bertebaran di mana-mana sebagai sarana untuk mengungkapkan kekesalan, kegaduhan, ketidakpuasan, dan kegagalan pemerintah kita. Puisi hadir dari aktifis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; adi massardi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dengan judul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“negeri para bedebah”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak hanya itu, lirik dari bona naputulu yang berjudul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“andai aku gayus tambunan”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; adalah kritik akan bobroknya hukum di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;“Seperti para koruptor”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; adalah puisi kritik dari Slank yang menggambarkan betapa korupsi telah menjadi subur di negeri ini. Puisi-puisi dan syair-syair ini menghadapi resiko dan juga tantangan bagi para pelantunnya. Sebagaimana pengakuan bona yang mendapatkan terror yang mengganggu. Puisi dipilih karena memiliki nilai estetika yang tinggi, tapi menohok. Kehadiran puisi inilah yang menjadi bukti bahwa para sastrawan, budayawan dan para kritikus untuk melancarkan kritiknya pada penguasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Barangkali itu pula alasan taufik ismail mengirimkan puisi peringatan dan kritik terhadap pemerintahan SBY pada hari ulang tahunnya(9/9/2011)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Inilah kutipan puisi taufik ismail :  …..&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena sepanjang sejarah negara kita belum pernah ruwetnya masalah yang membelit bangsa seruwet sekarang ini. Artinya kompleks masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;em&gt;……&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.kita hidup di zaman ketika perilaku bangsa mulai berubah, sedikit-sedikit tersinggung, acung kepalan dan marah-marah lalu merusak, membakar dan menumpahkan darah,menggoyang-goyang pagar besi. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;em&gt;…&lt;span style="font-size:100%;"&gt;..Bukan kepalang beban tanggung jawab yang anda pikul lebih berat dari zaman-zaman sebelumnya, jauh jauh lebih berat, bersihkanlah yang kotor-kotor dari pemerintahan anda. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Puisi dan politik sebenarnya saling berhubungan erat. Puisi adalah sarana yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang berbau politik. Gesekan antara puisi dan politik tetap akan terjadi di negeri ini sebab manusia memerlukan bahasa symbol untuk melakukan sesuatu. Yang terjadi kini, adalah politik yang kehilangan bahasa puitisnya. Sebab politisi kita tidak mampu mengemban dan menunaikan tugasnya layaknya para penyair yang memadukan rasa dan kata. Maka tak heran, dunia politik kita sama sekali tak puitis hari ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.35cm; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bergiat di Kawah institute indonesia&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-4242408964699135045?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/4242408964699135045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/dunia-politik-yang-tak-puitis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4242408964699135045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4242408964699135045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/dunia-politik-yang-tak-puitis.html' title='Dunia Politik Yang tak Puitis'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-2241644062944079823</id><published>2011-11-07T20:41:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T01:59:31.840-08:00</updated><title type='text'>Hidden Curriculum, tabir pendidikan kita</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWIDY%7E1.WID%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWIDY%7E1.WID%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWIDY%7E1.WID%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0cm;  margin-right:0cm;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-link:"Footnote Text Char";  margin-top:0cm;  margin-right:0cm;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar  {mso-style-name:"Footnote Text Char";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Footnote Text";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;}  /* Page Definitions */  @page  {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/WIDY~1.WID/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;  mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/WIDY~1.WID/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;  mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/WIDY~1.WID/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;  mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/WIDY~1.WID/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; line-height: normal;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=2241644062944079823#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;Tanggapan essai Sartika dian Nuraini(1/10/2011)&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah kampus adalah satu-satunya tempat atau lembaga yang berhasil melahirkan pengetahuan?atau apakah kampus adalah produsen bagi ilmu-ilmu pengetahuan kita?. Maka pertanyaan tersebut perlu kita jawab tegas, kampus tak lain adalah garbage input, garbage output. Pendidikan tak jauh dari kesimpulan Paulo Freire yang memandang bahwa pendidikan kali ini lebih mirip pada pendidikan gaya banking.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Produksi pengetahuan?.Sepertinya kampus yang digadang-gadang menciptakan ilmuwan produktif dan juga kontributif bagi persoalan masyarakat kini dan kemanusiaan tak kunjung muncul. Logika proyekisasi penelitian dan berbagai proyek hibah berorientasi pada profesionalisme semata tanpa landasan etos meneliti. Maka mustahil dan ajaib ketika kampus masih saja mengumandangkan sebagai produsen pengetahuan. Tak beda dengan mahasiswa-mahasiswanya yang cenderung dicaci dan dicerca oleh mahasiswanya sendiri yang berlagak kritis terhadap kampusnya. Lihat tulisan dian nuraini di mimbar mahasiswa dengan tajuk : “E-library, lompatan teknologi?(1/10/2011).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;Tulisan dian mengajak kita kembali menyesali mahasiswa yang bodoh karena berbagai fasilitas yang ada tak kunjung dimanfaatkan dan cenderung di-anggurkan. Fasilitas internet yang menghabiskan dana puluhan bahkan ratusan juta tak sebanding dengan penelitian dan juga produk dari mahasiswa. Secara sepintas kritik dian benar, tapi lebih lanjut kita akan mengatakan kritik dian adalah dangkal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Dangkal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;Dian,tak lebih dan tak bukan adalah korban dari system yang ada dikampusnya. Dalam wacana Gramsci kita mengenal hegemoni dan contra hegemoni, hasil dari hegemoni pemikiran yang dominan di kampus memandang mahasiswa salah, karena dengan berbagai fasilitas yang ada tak mampu berkembang dan mengembangkan diri. Anehnya, kampus dan system yang jauh lebih besar dari hal yang dangkal itu tak dianalisis dan dikritisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kampus adalah system yang tak mungkin terlepas dari regulasi, konstitusi, dan pemerintah selaku pengatur tertinggi. Kampus di era saat ini adalah penyedia dan pelayan kebutuhan dan apa yang diperlukan pemerintah. Dalam terminology Foucault kita mengenal bahwa tidak ada relasi pengetahuan yang terlepas dari relasi kekuasaan. Dari situ, jelas kita perlu menguak apa yang dilakukan kekuasaan dengan pengetahuan kita. Maka kampus tak lebih dan tak bukan adalah pasar dan lembaga yang harus nurut dan tak boleh menentang pemerintah. Apa yang dikeluhkan dian adalah wujud NKK/BKK baru, apa yang diresahkan dian adalah wajar, dan bagian dari system itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Budaya yang dimunculkan dian,sebagai budaya mahasiswa adalah bentukan system, bentukan dari pemerintah, dan tak lepas dari relasi pemerintah. Kalau lebih jauh kita memakai teori Fitjrof capra ia menuliskan dalam Hidden Connection :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt; Pendidikan adalah kemampuan untuk merasakan hubungan-hubungan tersembunyi antar fenomena [Vaclav Havel]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;maka pemerintah adalah ideology dan pengatur system itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Problem Filosofis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;Belum sempat kita lebih jauh membuka tirai pendidikan kita dari sisi sistemik, dian cenderung memakai analisa dan kaca mata personal dan permukaan dalam memahami kesalahan sistemik dari kampus. Maka yang muncul dari analisa dian adalah mahasiswa adalah objek dan bukan subjek. Maka sebagai objek yang perlu dikasih asupan fasilitas, peralatan teknologi modern, ketika ia tak mampu menggunakannya, atau tak memaksimalkan dalam penggunaannya, mahasiswalah yang salah.Karena ia sebagai objek yang tak mampu membaca kepentingan subjek dan pemberian semua fasilitas dan sarana dan prasarana dari subjek(birokrasi kampus).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apakah kampus berkepentingan terhadap mahasiswa? Apa kepentingan kampus terhadap mahasiswa?. Sepertinya essai dian yang membahas tentang perpustakaan, mahasiswa, dan juga kebijakan rektorat tak lebih dari upaya dominasi wacana yang kembali meletakkan bahwa mahasiswa saat ini adalah mereka yang hedonis, modis dan gaul. Pertanyaan tersebut seakan dijawab dengan jawaban lain oleh dian dengan mengatakan bahwa saya adalah bukan dari mahasiswa tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka ironis logika yang dipake dian justru memakan dia sendiri selaku kritikus, tapi juga objek, karena ia adalah mahasiswa pula sebagaimana yang dia justifikasi. Mahasiswa saat ini pemalas, jarang memproduksi, dan juga aktif sebagai konsumtif, termasuk ilmu pengetahuan. Ketika kita memakai logika yang filosofis, apakah layak ilmu diperjualbelikan?. Apakah layak logika kampus memakai logika pasar?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pendidikan gaya Paulo Freire sebagai aksi-reaksi dan evaluasi yang terus menerus tak kunjung muncul, pendidikan menurut ki Hajar dewantara yang mengedepankan akhlak dan kejujuran serta kearifan budi hilang. Alhasil pendidikan kita secara filosofis bisa dibaca dari pembacaan sartika dian nuraini. Jauh pasca kemerdekaan muchtar buchori sudah menerangkan tentang lonceng kematian pendidikan di indonesia. Lebih lanjut tahun 2000-an HAR Tilaar mengatakan bahwa ilmu pedagogie di indonesia telah mati. Jadi jangan heran, ketika kampus tak bisa diharapkan menciptakan intelektual sehebat para pemikir dan founding fathers dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt;Untuk mengurai problem pendidikan kita, maka kita perlu membaca filosofi pendidikan kita. Pendidikan kita tak lain tak bukan adalah pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan manusia. Tujuan pendidikan tak lain adalah sebagaimana amanah UUD 45 yakni : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:85%;" &gt; Maka menilik yang dikritik dian dalam dunia pendidikan kampus utamanya tak lain dan tak bukan adalah dampak dari sistemik dan terencana dari hidden curriculum(kurikulum tersembunyi) yang kini mendominasi kampus kita sekaligus menghegemoni kampus kita sehingga memproduksi mahasiswa yang apatis, hedonis, dan modis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;*) Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia,Pemimpin redaksi LPM CENDEKIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Tulisan dimuat di SOLO POS 8 november 2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" width="33%" align="left" &gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=2241644062944079823#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Essai dimuat di harian solo pos 8 november 2011&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-2241644062944079823?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/2241644062944079823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/hidden-curriculum-tabir-pendidikan-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2241644062944079823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2241644062944079823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/hidden-curriculum-tabir-pendidikan-kita.html' title='Hidden Curriculum, tabir pendidikan kita'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-7762034681478840959</id><published>2011-11-06T03:00:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T03:20:23.188-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Puisi-Puisi Arif saifudin yudistira</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di bulletin Sastra Pawon Edisi 33 tahun III/2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesan Yang Membunuh; Dari Kawat Nomer 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kawat itu menolak, berjeringgat dan melawan PerintahNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ia sudah tahu, ia tak bisa menolakNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa daya, pesan itu sampai pada-nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia mulai mendengar,Ulu hatinya tiba-tiba perih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada duri,...ada bom.....ada ular......dan apa saja yang tak bisa dibayangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;      datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; meski ia tahu yang datang,&lt;br /&gt;; pasti ia akan datang juga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pesan itu datang...membunuh dari kawat nomer satu&lt;br /&gt;Dan kawat nomer satu,berubah jadi tangis di tengah malam,ketika&lt;br /&gt;    Nomer satu tak lagi patut dibanggakan, ketika nomer satu berubah jadi beban,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah,aku tak mau pesan yang membunuh itu datang dari kawat nomer satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo,september 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Untuk Widji Thukul &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ingin jadi peluru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak memang alasan yang mengukir beda antara anak-anakmu dan anak zamanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anakmu begitu kuat menantang zaman yang kini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;merah&lt;/span&gt; dan tak sehitam dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan anak zamanmu,kini menuliskan tentangmu,&lt;br /&gt;Mana mungkin kau meniruku?kita selalu berbeda dengan segenap dan berjejal kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"katamu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati,aku hanya berucap aku lemah...aku lemah,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanganku belum menyerah,mataku masih menyala,dan mengancam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang kataku beda dengan pena yang kau gunakan,PEnaku adalah pena perasaanku-&lt;br /&gt;Sedang penamu adalah perasaan ribuan orang yang bersamamu menuliskan tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi barangkali ada yang sama antara aku dan kamu;&lt;br /&gt;     Kemerdekaan seperti nasi yang dimakan,kemudian jadi tahi.Sederhana sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku ingin jadi peluru, lebih tajam darimu untuk zamanku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab zamanku lebih kejam dan lebih terang dari zamanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Titik Yang Menangis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;"&gt;Dan belum sempat aku tuliskan kisah berikutnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik itu menyapa,dan sejenak menghentikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang tak pernah mengenal kasihan,pada orang-orang yang tak punya pilihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo,september 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dua bingkai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, aku ingin melukismu,keringat dan juga tangis kisahmu dalam kisahku,bolehkah???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             ; 10 tahun yang lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah,aku ingin menjadi diriku yang sepertimu&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;            ; 23 tahun ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, aku mati dan kalah sebelum berubah jadi engkau???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ; masa kecilku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, bingkaiku dan bingkaimu memang beda, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zaman sudah berubah cara menghadapinya juga harus berubah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo,september 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-7762034681478840959?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/7762034681478840959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/puisi-puisi-arif-saifudin-yudistira.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7762034681478840959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7762034681478840959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/puisi-puisi-arif-saifudin-yudistira.html' title='Puisi-Puisi Arif saifudin yudistira'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-4541457139810452969</id><published>2011-11-04T16:42:00.000-07:00</published><updated>2011-11-04T16:46:02.047-07:00</updated><title type='text'>Jagad Madura yang Gagal Menemui Pembaca</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Buku karya Yan zavin aundjand aku terima dari mas han gagas di hari minggu, 30 oktober sekitar jam 15.45 di kala mas han mau pergi makan dengan keluarga. Kisah perjumpaan saya dengan novel ini bermula ketika mas han menawari saya jadi pembedah dalam acara syukuran Taman budaya jawa tengah. Saya semula senang karena saya kira yang akan dibedah adalah novelnya mas han yang jadi pemenang dalam sayembara novel dewan kesenian jawa tengah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Setelah saya menerima buku itu, semula saya ingin menaruhnya di tas atau kemudian saya taruh di rak buku bersama buku-buku yang lain. Akan tetapi setelah saya membaca judulnya &lt;b style=""&gt;“Tarian di ranjang Kyai”&lt;/b&gt; saya jadi berimajinasi pasti novel ini sangat menarik, penuh ledakan emosi disana-sini dan kita akan menemui kisah yang sangat heboh dalam novel ini. Dugaan saya ternyata keliru, selain karena cover buku yang tidak menyenangkan, saya sebenarnya mau menyelesaikan novel ini di awal, tapi karena saya ditugasi sebagai pembedah saya berusaha menyelesaikan tugas saya dengan sebaik-baiknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Meski novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, saya merasai penulis selalu gagal menggambarkan imajinasi yang tak pernah sampai pada satu klimaks imajinasi yang menyentuh kisah itu. &lt;i style=""&gt;Mula-mula saya curiga dan merasai bahwa novel ini ditulis karena kisah nyata yang terjadi sekitar 2010-an dan sekitar sebelum 2010 yang intim dirasai penulis. Karena sulit juga mempercayai madura yang dikisahkan penulis dalam novel ini yang digambarkan di tahun 1950-an.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Karena ini novel berdasarkan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;true story&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; saya jadi terpikat untuk menelusuri lebih jauh bagaimana penulis menangkap kondisi madura di tahun 50-an. Akan tetapi lagi-lagi penulis gagal menuliskannya dalam novel tersebut. Sulit diterima di tahun 50-an &lt;i style=""&gt;Kiai tetaplah kiai, dan masyarakat menjadi petani, patuh terhadap perintah kiainya dan apapun yang akan dilakukannya demi menghormati kiainya&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt;Jika dilihat di tahun 50-an, kondisi negeri kita pada waktu itu, kultur pesantren memang kuat di madura, tapi apakah hanya demi menghormati seorang kiai?. Ketika kultur yang dijadikan landasan, maka kultur kiai dihormati itu tentu ada satu kemampuan dalam persoalan agama di tahun 50-an, kecuali ketika kiai yang muncul jaman sekarang, kiai justru terlibat gosip dan persoalan kiai iklan, kiai televisi, dan da’i bayaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Kesulitan berikutnya adalah penggambaran budaya madura di tahun 50-an yang di masa setelah indonesia lagi gonjang-ganjing politik yang sangat kencang, bahkan di tahun 59 sukarno mengeluarkan dekrit presidennya. Ketika novel ini mengambil latar di tahun 50-an sehingga mengendap di pengarangnya dan baru di tulis tahun 2010-an. Oleh karena itu, saya menduga novel ini ditulis pengarangnya di tahun 2010- kebawah dan 1985 keatas. Silahkan cek budaya tahun 50-an anak madura dengan pacaran dan hubungan yang diluar nikah sudah ciuman mesra dan adegan pemerkosaan&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sulit diterima nalar ketika nalar orang yang tidak berpendidikan justru menemui adegan yang begitu vulgar dan intim di masyarakat madura. Norma-norma orang desa tidak mungkin menjangkau kecuali ada infiltrasi budaya dari luar. Sulit diterima nalar, ketika madura identik dengan budaya yang sebegitu intim di usia puluhan tahun(dalam tokoh nisa 9 tahun).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Apakah kultur desa dengan segala primitifnya kita akan mengatakan dan membenarkan ini? Studi masyarakat desa yang saya pelajari sejauh yang saya pelajari saya tidak bisa membayangkan masyarakat desa kita sebegitu kotor dan biadab perilakunya. Sekali lagi karena ini novel yang didasarkan kisah nyata, maka saya menemui kontradiksi antara tahun pembuatan dengan tahun yang dituliskan di novel. Tanda-tanda tahun yang ada mengganggu saya menemui imajinasi yang indah di novel ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Beruntung cerita yang saya tunggu-tunggu datang, tapi lagi-lagi saya harus kecewa karena imajinasi saya tidak klimaks dan penulis gagal menuliskan kisah pemerkosaan seorang kiai tanpa menyesal dan lugu seperti yang dilakukan oleh pemuda lugu dan begitu cepat melakukan adegan persenggamaan dan bagi saya orang desa tidak mungkin tiba-tiba tanpa rasa kaku dan penyesalan melakukan hal itu. Saya menduga keras, cerita ini terbawa dengan imajinasi penulis yang sempat menikmati kuliah di perguruan tinggi, yang identik dengan pergaulan yang seperti itu, dan apalagi penulis juga pernah di jogja. Ini mengganggu jalan cerita novel ini. Simaklah adegan berikut : &lt;i style=""&gt;“Kiai...?”panggilnya lagi. Nyawanya sudah berhamburan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Adegan bersenggama seorang kiai seperti anak muda bercinta di ugm atau di bale kambang. Saya benar-benar gagal memasuki imajinasi yang diinginkan penulis menggambarkan &lt;i style=""&gt;tarian di ranjang kiai&lt;/i&gt;. Semula saya berfikir ada wanita yang menari dan telanjang di depan kiai hingga kiai tergoda dan memperkosa wanitanya, tapi ternyata tarian tidak ada dalam novel ini. Tapi adegan jadi mirip persenggamaan anak SMA di jakarta atau di jogjakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Madura yang identik dengan clurit, mantera, dan juga jagat perdukunan justru hanya terkesan sebagai bumbu saja. Seperti pada bagian enam dalam novel ini, ini membuat cerita dalam novel ini terasa hambar dan terasa datar-datar saja. Persoalan berikutnya adalah ketika jagat sosiologis masyarakat madura di telisik lewat novel ini secara kontradiktif. Dalam novel ini diceritakan geng dan preman misnadi sebagai ketua perampok. Ini bertentangan dengan yang ditulis oleh kuntowijoyo dalam disertasinya MADURA ; perubahan sosial masyarakat agraris 1850-1940 meski di akhir bukunya buku ini relevan sampai 60 tahun sesudahnya.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Entahlah, penulis ingin menulis novel sejarah atau tidak saya kurang begitu memahami, atau penulis mau menulis campuran fiksi dan nonfiksi juga sulit saya fahami. Atau penulis mau menuliskan secara fiksi penuh, sepertinya imajinasinya tak mampu menyentuh jalan pikirannnya. Begitupun kisah pembunuhan yang memenggal kepala korban digambarkan seperti biasa saja dan tanpa dosa, padahal Misnadi(tokoh dalam novel ini) belajar dari seorang kiai dengan pesan moralnya. Bagi misnadi tak ada ekspresi penyesalan awalnya, hingga sampai pada yang dibunuh adalah sosok kiai, ekspresi susah digambarkan oleh penulis pada bab tentang pembunuhan kiai aswari di bab 12. Pembaca pun tidak menemui &lt;i style=""&gt;imajinasi kesusahan dan tangis di rumah sakit yang meninggal dengan kepala terputus. Kesedihan digambarkan seperti biasa saja&lt;/i&gt;. Kita bisa bandingkan kasus pembunuhan dan kisah pembunuhan pada &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;trilogi insiden&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Ini kisah pembunuhan yang dilihat secara langsung, tidak ada yang lebih, biasa saja. Semua seperti biasa saja kematian seorang yang biasa. Padahal kematian seorang kiai yang mati dengan kepala dan korban yang putus kepalanya. Rumah sakit pun seperti gambaran orang menjenguk orang sakit saja. Penulis gagal dalam berkhayal tentang kisah pembunuhan, penulis kurang lihai memasukinya, entah apa yang ada dibenak penulis?.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Kegagalan terakhir adalah klimaks dari novel ini yang datar,datar dan datar. Bagaimana gambaran seorang gadis yang diperkosa oleh kiai yang juga memperkosa . Yang ditambah penderitaan seorang gadis yang harus menanggung derita ibunya yang meninggal, bahkan ia tidak pingsan dan hanya bisa menangis dan belum lagi baru ketemu ayahnya yang menghilang bertahun-tahun. Betapa batin dan emosinya di koyak-koyak, tapi gagal lagi-lagi gagal dikisahkan oleh penulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Daripada saya berujar dan berceloteh lebih jauh, saya akhiri saja paparan saya dengan sedikit kebingungan. Saya sulit menerima novel ini sebagai bacaan yang harus berterima dengan pembaca, sebab kegagalan penerbit dengan berbagai kemasan, pengantar, juga pada cover dan sampul belakangnya benar-benar mengganggu saya terkecuali judul. Ditambah kegagalan penulis menyampaikan jagat madura menjadi jagat yang unik, menarik, dan menjadi sangat indah dinikmati dengan tragedi kiai dan pemerkosaan, tapi sayang gagal dilakukan oleh penulisnya. &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;Novel ini mestinya dijadikan pelajaran ulang bagi seorang penulis novel, mempertimbangkan relasi dengan penerbit, juga belajar bagaimana novel akan dikemas dengan format novel sejarah, fiksi, atau separuh fiksi, sampai pada perhitungan penerbitan, jika itu dilakukan dengan kekeliruan dan kegagalan, maka bersiaplah novel akan gagal menemui pembaca. Dan karya jadi tak seindah yang disangka.&lt;/blockquote&gt; Nuwun lan pangapunten. Billahi fiisabilil haq fastabiqul khoirot.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" width="33%" align="left" &gt;    &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt; Penyampai adalah mahasiswa UMS, belajar di komunitas tanda tanya dan bilik literasi, aktif di pengajian jumat petang,Presidium Kawah Institute Indonesia . &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt; Lihat lebih lanjut dalam buku”Tarian di ranjang kiai hal 13&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt; Op.cit....hal 19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;i style=""&gt;Kekerasan yang terjadi disana misalnya perkelahian dan pembunuhan bersifat individual meskipun banyak jumlahnya&lt;/i&gt; tulis kuntowijoyo. Lihat MADURA perubahan sosial masyarakat agraris.1950-1940 hal.577&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5677345061594789782&amp;amp;postID=4541457139810452969#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt; Karya seno gumira aji darma yang kumpulan tiga buku, bentang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-4541457139810452969?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/4541457139810452969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/jagad-madura-yang-gagal-menemui-pembaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4541457139810452969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4541457139810452969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/11/jagad-madura-yang-gagal-menemui-pembaca.html' title='Jagad Madura yang Gagal Menemui Pembaca'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-5414817286615919217</id><published>2011-10-31T14:23:00.000-07:00</published><updated>2011-10-31T14:27:04.307-07:00</updated><title type='text'>Naskah 2 Dalam Lomba Resensi UMS</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The tittle    : Problem-based Learning in Higher Education : Untold stories &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;writer &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  : &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maggi savin-baden&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Published by   : SRHE and Open university Press  Philadelphia USA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Year    : 2000&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Page    : 165 page, 1,5 cm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ISBN    : 0 335 20 338 8(hb)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;The Problem-based Learning In Higher Education to get the best solution to be the best university  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;By arif saifudin yudistira*)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Study in university is more complexity. It’s related the social factor, individual factor, and environment factor for get the good strategies for get the best result after graduated from universities. Maggi savin baden analyze and explain the &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;problem-based learning in higher education : untold stories&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; telling the basic problem in the university in united kingdom. It’s same with the other’s university in the world. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; The research problem-based learning in early in 1970’s grown in breadth and depth across the world. Problem-based learning is an aprroach to learning through which many students have been enabled to understand their own situations and frame works so that they are able to perceive how they learn,and how they see themselves as future professionals.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Times New Roman,serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Problem-based learning can help students to &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;learn with complexity,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;to see there are no straightforward answers to problem scenarios, but that learning and life takes places in contexts,contexts which affect the kinds of solutions that are available and possible. New definitions and new meanings of learning often emerge when the interraction of ideas and experiences collide with one another&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Times New Roman,serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maggi tell the argument of this book is that the potential and influence of problem-based learning is yet to be realized in the context of higher education. Her thesis is that problem-based learning is an important approach to more centrally located in higher education curricula than it is currently. Her statement in sevent theme ;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Problem  –based learning as a concept and approach is often misunderstood.  This tends to result in mistaken perceptions about possibilities for  it use in higher education.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Problem  based learning has often been confused with forms of  problem-solveing leraning. It interpreted too narrowly and utilized  in limited ways.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Misunderstandings  of problem-based learning have resulted in underestimation of its  value in terms equipping students for a complexs and changing  professional life.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Making  the “life curriculum”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Need  adopt of component education staff, the leader and the students to  practice the concept of problem-based learning education.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Learning  should be seen as cyclical process in which students make  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;transitions&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The  full potential of problem-based learning will only be achieved  through realizing the value and complexcity to learning and  challenge their situations.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-style: italic; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;blockquote&gt;This book is very important for lecturer, the institutioal leader in organization in the universities, and staff in higher university. This book is the researcher in complexity methods of learning with partisipative, elaboration and it’s the contextualization method. This book is perform how the student in higher university study with based-community. &lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;In chapter I Maggi savin the important of managing diversity in staff, students, and employers. It’s can influence the success university. And she is explain the issues of learner identity,learning context and learning in relation. Its important for the student’s knowing that to get the qualification of student before and after their graduated from university. Maggi savin hope with elaborate that element, the student’s can be succeed study in university.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Chapter 2 explain the ilustrated the ways in which problem-based can be implemented in diverse ways across different professions and institutional contexts. Internal and exernal influence on curricula, such as curricula constraint and the requirements of proffesional bodies can affect the ways in which problem-based learning.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;In generally, this book tell the method’s of problem-based learning in higher education, the purpose of this is contextual learning, strength pedagogical stances and elaborate the education and practice with relation. Maggi said that for success this method,every students must be now the identity, manage ownself with mapping the experience and elaborate their knowledge to supposed their studies. In problem-based learning methods usually called learning context.  It’s exercise the student’s to solve their problem with groups, manage and maximalize their potential and develop their abilities. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The experience students is struggle students in the interaction of public theories, personal interpretations, academic boundaries and professional territories have been explored along with some of the difficulities in relationship between outcome focused agenda and problem-based learning.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;According &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Maggi savin &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;there are five model in Problem-based learning. Model 1 for epistimological competence, model 2 PBL for professional action, model 3 PBL for interdiciplinary understanding, model 4 PBl for transdiciplinary learning, and model five PBL for contestability. Five model its important to increasing academic competences and characterize.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The attractions of problem-based learning are many and thus the implementation of problem-based learning, in the UK(united kingdom) at least, is becoming wide spread. And it’s possible to adopt problem-based learning methods. The main of this book explain and perform the PBL method is the one of method in higher education. There are many reason to supposed that such as equip students for the world work, offer students opportunities to learn how to learn, improve students learning by complexity and ambiguity,help the students to realize and develop their learner identity,give opportunities for teaching that grounded in the world of work.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The weakness of this book is not compare the complex data to support this “main statement that PBL is the best method” because not elaborate and compare with another country and example practically in other places. But, this book is very appropiate practically in indonesia, but the system education in higher education in indonesia still used the traditional method and separate with the society. If the society, the institution in higher university, and the students ready and have integrity to practice this methods, i don’t have not the belief that education in indonesia is more best than now.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*)Pengelola Kawah Institute indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-5414817286615919217?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/5414817286615919217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/naskah-2-dalam-lomba-resensi-ums.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/5414817286615919217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/5414817286615919217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/naskah-2-dalam-lomba-resensi-ums.html' title='Naskah 2 Dalam Lomba Resensi UMS'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-3537385315172784121</id><published>2011-10-31T14:19:00.000-07:00</published><updated>2011-10-31T14:23:28.528-07:00</updated><title type='text'>Naskah Lomba Resensi UMS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-MLaMXppKo88/Tq8RsKSZ-OI/AAAAAAAAAJU/uCf6XaQ9Wx4/s1600/MACAISME%2BOK.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-MLaMXppKo88/Tq8RsKSZ-OI/AAAAAAAAAJU/uCf6XaQ9Wx4/s200/MACAISME%2BOK.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669769906256214242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dinobatkan Sebagai Juara Umum Penyaji Terbaik Versi UMS library&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Judul buku   : Macaisme  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Penulis    : Bandung mawardi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Penerbit   : Jagad abjad Solo&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Tahun    : 2011&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Tebal    : 304 halaman&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Harga    : Rp.30.000,00&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Yang tekun dan malas mengurusi buku &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Membaca buku adalah membaca hidup, menekuni buku adalah ikhtiar membaca dan mengurusi dunia melalui teks. Pesan inilah yang ingin disampaikan penulis melalui sebuah buku bertajuk &lt;i&gt;macaisme(2011). &lt;/i&gt;Buku ini cukup melelahkan dan melegakan. Melelahkan karena diramu dengan tebal 304 halaman dengan berbagai uraian dan cerita tentang buku yang cukup memberikan makna bagi kita maupun bagi peresensi sendiri(bandung mawardi). Melegakan karena hampir di setiap kita menghabiskan lembar-demi lembarnya kita akan menemukan letupan-letupan khasanah pemikiran dari esai dari buku macaisme.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bandung sadar betul, bahwa pilihan bukunya memang dituliskan dan dihadirkan ke publik melalui buku &lt;i&gt;macaisme&lt;/i&gt; dengan kesadaran penuh pembaca akan dengan sadar dan dengan tekun menekuni dan melakukan aktifitas macaisme.Macaisme disini barangkali tidak hanya diartikan hanya sekadar membaca buku dan menuntaskannya tanpa bekas apapun. Penulis buku ini menginginkan pembaca menemukan pijar-pijar, letupan-letupan khasanah intelektual yang barangkali belum ditemukan sebelumnya, karena buku-buku yang dihadirkan dalam buku macaisme dihadirkan antara 2008-2011. Waktu ini menunjukkan bahwa buku-buku yang coba dihadirkan dalam buku ini adalah buku yang layak kita baca dan perhatikan.Ungkapan ini pun dihadirkan dalam sapaan &lt;i&gt;“buku ini merupakan persembahan kecil bagi para pembaca agar mengingatkan-mengikatkan diri dengan jagat buku”. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Kehadiran buku ini juga mengingatkan penulis sendiri tentang arti sebuah buku bagi publik dan kemampuan mengurusi buku perlu di manajemen dan diperhatikan. Misal saja uraian dalam essai dengan judul &lt;i&gt;&lt;b&gt;semaian rupa buku dalam buku macaisme&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Disana dipaparkan betapa pentingnya cover sebagai alat provokasi dan alat yang diperhitungkan di masa kini dalam perbukuan di indonesia.  Buku ini hadir memang dengan cover sederhana, tapi mengajak kita selaku pembaca untuk menarik dan menantang untuk dibaca.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;i&gt;Macaisme&lt;/i&gt; judul ini mungkin menggoda bagi para akademisi, para mahasiswa ataupun siapapun juga tertantang dengan bahasa yang dijadikan mahzab isme-isme. Bahwa membaca merupakan satu aktifitas penting yang bukan sekadar satu aktifitas remeh. Buku-menghadirkan buku- itulah satu narasi yang ingin disampaikan bandung mawardi melalui buku ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Yang tekun, dan yang malas mengurusi buku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Buku ini ingin menyampaikan pesan yang singkat dan tegas bahwa membaca buku adalah aktifitas yang sangat dan penting untuk mengubah dunia, sebab di dunia inilah kita mengaplikasikan apa yang kita bawa, apa yang kita bawa juga berasal dari apa yang kita baca. Muhammad yunus peraih nobel perdamaian 2006 dari bangladesh dalam bukunya &lt;i&gt;&lt;b&gt;(Grameen bank, 2007)  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;marjin kiri&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, “kita bisa mengubah dunia jika kita bisa mengubah pola pikir kita”.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Perubahan pola pikir kita tentu tidak terlepas dari aktifitas membaca buku. Ketekunan pengarang dan kegigihan penulis macaisme dibuktikan dengan kehadiran koleksinya yang lebih dari 5000 buku yang pernah dibaca dan juga ditekuni selain yang diresensi dan dituliskan dan dikabarkan di media massa. Macaisme hadir bahwa ketekunan membaca buku akan membuahkan hasil yang selain pengalaman, pengetahuan, juga spirit berbagi melalui menulis. Sehingga aktifitas penulis sebagai seorang esais menunjukkan bahwa ia tidak melepaskan dari aktifitas membaca. Buku ini juga menunjukkan betapa penulis menekuni berbagai buku karya orang lain sekitar 100 judul buku yang dilahap dan dicermati hingga kita akan menemukan betapa penulis resensi bandung mawardi adalah penulis yang tekun dengan menekankan &lt;i&gt;angle &lt;/i&gt;dan menutup essainya dengan pesan yang sangat penting disetiap akhir essainya dengan menjelaskan arti penting buku.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bentuk essai dipilih dengan kesadaran penuh sebagaimana diungkapkan dalam uraiannya tentang buku yang mengambil pilihan sama dengan buku macaisme di halaman 132 yang bercerita tentang uraian buku &lt;i&gt;&lt;b&gt;filsafat kebudayaan ;proses realisasi manusia(jalasutera,2009)karya Budiono Kusumohamidjojo&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; :” &lt;i&gt;Buku ini memang tidak tebal meski sesak dan rewel dengan uraian pelbagai materi dalam empat belas bab. Pembagian dengan jumlah halaman pendek sehingga membuat pembaca harus memiliki strategi untuk merebut limpahan tafsir karena durasi dan minimalitas uraian”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  &lt;i&gt; &lt;/i&gt;Uraian diatas sepertinya cukup tegas, lugas, dan menjelaskan bahwa buku ini mestinya dibaca dengan satu cara seperti diatas untuk menangkap limpahan tafsir. Melalui buku ini kita diajak menemukan kematian pengarang dalam hal ini bandung mawardi telah mati, sebagaimana diungkapkan Roland Barthes, &lt;i&gt;“kelahiran pembaca mesti dibayar kematian pengarang”. &lt;/i&gt;Dengan kata lain, bandung mawardi mati, tapi teks dan uraian tentang buku-buku yang dia tuliskan dan dia abadikan dalam buku macaisme akan hidup. &lt;i&gt;Kematian penulis macaisme dibayar dengan kesuburan pengarang-pengarang lain yang dituliskan dalam buku macaisme, dan kesuburan tafsir yang dihadirkan dalam buku macaisme.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Buku ini juga menunjukkan bahwa teks yang dihadirkan dalam buku macaisme adalah teks yang tak mungkin pergi begitu saja, ia adalah hasil intensitas penulis membaca ratusan buku yang dihadirkan tadi, kelihaian pengarang dan refleksi, serta intensitas penulis menggeluti buku yang diresensinya sehingga menghasilkan teks sebagaiman dikatakan Roland barthes &lt;i&gt;“teks adalah jejaring nukilan dari kantong-kantong kebudayaan yang tak terhingga”. &lt;/i&gt;Selain itu,pilihan bentuk essai mungkin lebih komunikatif ketimbang menuruti pamrih memberi penjelasan komplet dengan taburan definisi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;Terakhir, buku ini mengingatkan kita, bahwa para pemalas yang tak mau mengurusi buku tidak akan menghasilkan apa-apa dan tidak memberi apa-apa bagi dunia. Meminjam istilah pramudya ananta toer&lt;i&gt; “sesungguhnya beruntunglah orang bodoh karena ia tidak tahu”. &lt;/i&gt;Para pemalas ini tidak akan menemukan dan mengetahui sesuatu kalau tidak bertanya dan menemukan jawaban&lt;/blockquote&gt;. Salah satunya melalui aktifitas macaisme. Begitu.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;   &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-3537385315172784121?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/3537385315172784121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/naskah-lomba-resensi-ums.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3537385315172784121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3537385315172784121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/naskah-lomba-resensi-ums.html' title='Naskah Lomba Resensi UMS'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MLaMXppKo88/Tq8RsKSZ-OI/AAAAAAAAAJU/uCf6XaQ9Wx4/s72-c/MACAISME%2BOK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-3591714707410419886</id><published>2011-10-31T13:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-31T14:01:23.103-07:00</updated><title type='text'>Ironi Manusia Haji</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="cbyline"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 style="text-align: center;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://www.gema-nurani.com/2011/11/ironi-manusia-haji/" title="Ironi Manusia Haji" rel="bookmark"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt;       &lt;div class="entry-content entry"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Ibadah haji adalah wujud seorang hamba yang setia memenuhi panggilan Tuhan dengan meniadakan segala yang bermakna duniawiah, demi menghadapkan wajahnya kepada Tuhan, sehingga dengan harapan pasca mereka menemui Tuhannya, maka ia akan membawa nilai-nilai ilahiah dan misi ke-tuhanan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibadah haji adalah ikhtiar manusia dalam melakukan pencarian dan “penemuan” sebagaimana al-Akkad menuliskan : &lt;em&gt;“Penemuan  yang  dikaitkan  dengan  Nabi Ibrahim as. Merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang  tak  dapat  diabaikan para  ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom, betapapun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, … yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan  Ibrahim  menguasai  jiwa dan  raga  manusia.  Penemuan  Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam,  serta menilai  baik  buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya berlaku  sewenang-wenang,  tapi  kesewenang-wenangan  ini  tak mungkin  dilakukannya  selama  penemuan  Ibrahim as. itu tetap menghiasi jiwanya … penemuan tersebut berkaitan  dengan  apa yang   diketahui   dan   tak  diketahuinya,  berkaitan  dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk  ini  dengan Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya …”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Godaan duniawiah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Ibadah haji dalam masyarakat kita dipadang sebagai laku spiritual, yang diharapkan membawa manusianya menjadi manusia yang profetik yang mencerminkan laku-laku kenabian dan menyebarkan sifat islam yang universal. Dengan ibadah haji diharapkan masyarakat akan memperoleh berkah dari seseorang yang sudah berhaji. Maka dalam masyarakat kita ada tradisi “pengajian pamitan haji” ini diadakan dengan motif mengucapkan doa dan harap agar barokah dan keselamatan ada pada manusia haji, dan masyarakat berharap hajinya mabrur atau khidmat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Harapan masyarakat seringkali dikalahkan dengan godaan-godaan duniawi dengan godaan &lt;em&gt;oleh-oleh&lt;/em&gt; dari arab dan madinah. Para jamaah kerap mendapatkan pesananan &lt;em&gt;oleh-oleh&lt;/em&gt; pula dari sanak saudara dan handai taulan di desanya, sehingga jamaah haji kita kerap pulang dengan segenap barang bawaan dan belanjanya yang berlebihan. Sampai-sampai menteri agama kita memperingatkan sedari awal dengan mengatakan : “&lt;em&gt;Saya berharap harus betul-betul diiringi niat yang fokus untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. Saya berpesan jangan boros tenaga dan uang, jika ada di tempat belanja,”(2/10/11).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Godaan duniawiah inilah yang kemudian menjadikan nilai ibadah haji menjadi berkurang, dan menghilangkan hakikat haji yang sebenarnya. Haji diibaratkan oleh Ali syariati sebagai “pertunjukan”. &lt;em&gt;Alloh adalah sutradaranya,tema yang diproyeksikan adalah aksi dari orang-orang yang terlibat ; Adam, Ibrahim, dan syeitan adalah pelaku utamanya ; skema-skemanya adalah masjid ul-haram, tanah suci, mas’a,Arafat, masy’ar dan mina. Simbol-simbol penting adalah ka’bah ,shafa, marwa,siang, malam, matahari terbit, matahari terbenam,berhala-berhala,dan acara berkorban,pakaian dan make up Ihram.yang akan memainkan pertunjukan ini adalah engkau sendiri.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Dari situlah, ibadah haji menuntut pembersihan hati dari niat-niat yang bermakna duniawiah. Imajinasi haji dan godaan duniawiah ini pernah dikisahkan dalam  film &lt;em&gt;“Emak ingin naik haji”&lt;/em&gt;. Haji adalah ibadah yang menuntut pengorbanan, dan kerelaan sikap dan meluluhlantakkan ego pribadi. Barangkali cerita &lt;em&gt;emak ingin naik haji &lt;/em&gt;berbeda dengan fenomena para jamaah haji saat ini. Persoalan biaya dan juga pelayanan dan kenyamanan menjadikan jamaah haji harus dibebani dengan biaya mahal dengan dalih kelengkapan fasilitas dan lain-lain. Ibadah haji dipandang sebagai ibadah bagi para kaum hartawan, dan menjadikan jamaah haji menjadi berkasta-kasta. Ibadah haji dengan fasilitas yang serba luar biasa pun ditawarkan. Mulai dengan tausiyah, paket haji dan umroh, bahkan paket haji plus wisata ke tempat-tempat bersejarah. Haji menjadi sekadar pemenuhan kebutuhan material dan duniawiah dan miskin esensi. Hal ini tentu berbeda dengan yang dialami Ahmad Tomson dalam bukunya &lt;strong&gt;“&lt;em&gt;Pengalaman Seorang Mualaf: Haji Kelana Mencari Illahi”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;. Ahmad Thomson merupakan mualaf dari Inggris yang memutuskan untuk melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki dari London sampai Mekah. Ahmad Thompson menemukan hikmah: “Haji merupakan kunci untuk membuka makna keseluruhan perjalanan hidup seseorang.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Iman sosial&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;Ibadah haji seringkali dikaitkan dengan empati dan etos social. Buku ali shariati menjelaskan pandangan kritisnya terhadap ibadah haji dan sosok pelaku haji. Buku itu terbit dalam tiga versi terjemahan Indonesia oleh penerbit berbeda: Pustaka Salman dengan judul Haji (1983), Yayasan Fatimah dengan judul Makna Haji (2001), dan Jalasutra dengan judul Menjadi Manusia Haji (2005). Ali Syariati menjelaskan haji merupakan revolusi lahir dan batin untuk membebaskan manusia dari belenggu tuhan-tuhan palsu. Haji merupakan pertunjukan tentang “penciptaan”, “sejarah”, “keesaan”, “ideologi Islam”, dan “ummah”. Nurcholis Madjid (1997) pun menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praksis untuk komitmen-solidaritas sosial. Haji merupakan ibadah individu dengan implikasi sosial.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;            &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Quraish shihab menjelaskan esensi ibadah haji ada tiga hal diantaranya mengandung nilai-nilai : 1. Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung, bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain dari Allah swt. 2. Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam     kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak.  3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal, tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya, betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Refleksi haji dan negeri ini &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia hampir tiap tahun mengirimkan jamaahnya dengan angkatan terbesar di dunia karena memang jumlah umat islam di negeri ini termasuk terbesar di dunia. Sekitar 5.745 jamaah haji Indonesia sudah diberangkatkan minggu (2/10/11) .Persoalan haji menjadi tanda Tanya pada kita semua, mengapa ibadah haji belum membawa implikasi besar terhadap perubahan tatanan moralitas masyarakat Indonesia. Ketika dihadapkan persoalan korupsi, kejahatan, dan juga para pejabat negeri kita adalah mayoritas manusia haji.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;Imajinasi haji bukan hanya persoalan tubuh atau jasad yang memenuhi panggilan Tuhannya melainkan ruhaniah (jiwa) yang memenuhi panggilan Tuhan. Oleh karena itu, ibadah haji ditempatkan sebagai rukun islam kelima dengan didahului ibadah syahadat, sholat, puasa, dan zakat. Barangkali Tuhan memang punya scenario bahwa manusia haji adalah manusia unggul sebagaimana yang disebut neitzhe, yang menurut kehendak Tuhan ia harus melampaui ketaatan, memiliki etos social sebagaimana yang diajarkan dalam puasa dan zakat, sehingga ibadah haji adalah penyempurnaan dari semua itu. &lt;/blockquote&gt;Haji dan Iman social pantas dijadikan Tanya bagi manusia Indonesia, ketika korupsi, ketidakadilan, kejahatan kemanusiaan, dan juga kemiskinan masih menjadi masalah di negeri ini. Lalu,dimanakah &lt;em&gt;manusia haji&lt;/em&gt; kita?. (*)&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Universitas muhammadiyah surakarta bergiat di kawah institute indonesia&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan dimuat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gema Nurani&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Selasa, 1 November 2011 |&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-3591714707410419886?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/3591714707410419886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/ironi-manusia-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3591714707410419886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3591714707410419886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/ironi-manusia-haji.html' title='Ironi Manusia Haji'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-1544861544957096300</id><published>2011-10-23T12:07:00.001-07:00</published><updated>2011-10-23T12:07:47.107-07:00</updated><title type='text'>Universitas Yang (Alpa)Mendokumentasikan Diri</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*) &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Tumpukan dokumentasi dan penelitian di rak-rak perpustakaan hampir tiap tahun menumpuk jumlahnya. Tiap tahun itu pula tumpukan itu berhenti di toko loakan yang berubah jadi sampah pembungkus makanan. Penghargaan universitas dan dunia akademik kita tentang kerja kata dan kerja penelitian berujung pada nasib tragis. Kerja kata dan kerja intelektual seperti tak bermakna hari ini, meski kita telah mengusahakannya dengan hadirnya pelembagaan-pelembagaan pengetahuan, sebab dokumentasi jarang kita tekuni.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Upaya mendokumentasikan intelektual dan kerja intelektual mulai ditinggalkan. Maka tak heran kebudayaan dan peradaban kita makin lama makin tak menuai rasa. Peradaban dan kebudayaan kita mengalami fase kritis. Kita dikenal dengan bangsa yang meniru-niru dan akrab dengan dunia penjiplakan, akrab dengan dunia plagiasi apalagi karya seni dan budaya penuh dengan cap “bajakan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kerja pendokumentasian dalam dunia universitas tidak jauh berbeda. Betapa minimnya kerja pendokumentasian ini sehingga kampus tidak punya arsip sejarahnya sendiri. Anehnya, justru para peneliti dari negeri manca yang tekun meriwayatkan nasib-nasib dan perkembangan kampus-kampus kita. Mereka memiliki data lebih dan menekuni arsip-arsip dan meruwatnya menjadi data dan arsip yang kelak penting bagi dunia di masa mendatang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Minimnya penghargaan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Rendahnya budaya pengarsipan atau pendokumentasian menjadi lumrah di negeri yang kaya raya ini karena minimnya penghargaan dan apresiasi. Ketekunan tak berujung keberuntungan begitulah nasib para kolektor-kolektor dinegeri ini. Nasib mereka justru terabaikan,karena kerja mereka tak dinilai dan diperhitungkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Para pustakawan kita tak jauh berbeda, mereka ibarat mesin-mesin yang hanya menata dan mengembalikan buku tanpa sadar akan kebermaknaan buku. Dunia akademik kita masih jauh dari mencintai dan meruwat buku serta arsip-arsip intelektual dari para mahasiswa,dosen, dan juga para peneliti-peneliti kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Alhasil, dunia akademik kita tak pernah maju, karena makalah-makalah berhenti sekali baca kemudian hilang begitu saja. Lihatlah betapa makalah-makalah dari para mahasiswa, dosen dan hasil penelitian para sarjana-sarjana kita. Hasil karya cipta mereka tidak pernah dibedah, hasil karya dan kerja mereka tidak pernah dikaji dan diperdebatkan. Sehingga timbullah stigma bekerja atau tidak bekerja sama saja. Maka tak heran muncul skripsi-skripsi dengan cara membeli dan menggadaikan harga diri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Padahal dunia akademik kita semestinya menyadarkan kembali tanggungjawab intelektual, memunculkan karya menjadi maslahah dengan pendokumentasian melalui jurnal-jurnal, melalui diskusi intelektual, dan meruwatnya menjadi dokumentasi universitas. Dokumentasi ini akan berharga dan menjadi catatan sejarah betapapun rendah atau tingginya kualitas karya. Sebab dari sanalah kita bisa belajar tentang arti proses kemajuan dan proses kebesaran universitas yang tidak dilalui melalui kerja-kerja profesional dan formalitas melalui akreditasi dan labelisasi international. Sebab dari kerja pendokumentasian itulah kita mengenal diri, mengenali masa lalu, dan mempunyai pijakan bagaimana universitas ini akan dikembangkan di masa mendatang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Sayang sekali penghargaan kerja intelektual dan pendokumentasian ini justru lahir dari negeri manca lewat agenda mereka. Dintaranya dengan menyekolahkan para akademisi kita keluar negeri, dengan bea siswa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;S-2 dan S- 3. Sujiwo tedjo mengkritik dengan tegas dengan mengatakan : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;“Para sarjana-dan doktor-doktor kita dari luar negeri itu, merekalah yang menjual indonesia,sebab penelitian mereka tentang indonesia dan data tentang indonesia,tapi diserahkan pada asing” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ketika kerja pendokumentasian dan kerja intelektual kita dimiliki mereka, maka dengan tanpa sadar, data-data tersebut adalah aset berharga dari republik ini yang sangat bermanfaat dalam memetakan negara kita. Ketika itu terjadi, maka tanpa sadar negeri kita adalah negeri yang tidak berdaya dan kehilangan identitasnya.Sebab tidak bisa membaca diri, memetakan diri, dan belajar sejarah dirinya. Sebab arsip-arsip kesejarahan kita tidak kita miliki, karya intelektual kita menjadi hilang entah kemana karena hilangnya kerja pendokumentasian kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sadar diri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sudah semestinya para akademisi, dan para mahasiswa lekas sadar diri bahwa kerja pendokumentasian adalah kerja intelektual dan kerja peradaban. Melalui dokumentasi itulah kita belajar meriwayatkan diri, mengenang peristiwa, dan menghargai kerja organisasi, kerja kepenulisan kita. Sebab betapapun kerja organisasi kita, kerja kepenulisan kita dan kerja intelektual kita, jika tidak terdokumentasikan, maka akan lenyap di telan zaman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ketekunan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dalam kerja pendokumentasian ini akan mengembalikan kembali citra universitas kita selama puluhan tahun lalu ketika zaman orde lama yang memandang kampus sebagai pusat peradaban dan dinamisasi masyarakat kita. Dengan cara memanfaatkan dan menggairahkan kembali kerja pendokumentasian itu lebih bermaslahah kepada masyarakat kita. Ini bisa dilakukan melalui seminar-seminar akademik, membangun integrasi penelitian dan pengabdian masyarakat. Sehingga dokumentasi-dokumentasi intelektual yang ada di universitas tidak menjadi sekadar catatan-catatan yang lalu lalang dan tak menuai buah dari kerja yang berkepanjangan. begitu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-1544861544957096300?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/1544861544957096300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/universitas-yang-alpamendokumentasikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1544861544957096300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1544861544957096300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/universitas-yang-alpamendokumentasikan.html' title='Universitas Yang (Alpa)Mendokumentasikan Diri'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-4444145589122785280</id><published>2011-10-23T12:05:00.001-07:00</published><updated>2011-10-23T12:05:51.600-07:00</updated><title type='text'>Menimbang Efektifitas Gerakan Gender</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Saya sayang kepada perempuan,saya menaruh perhatian besar kepada nasibnya, karena dia tidak dihargai,dan ditindas seperti yang masih terdapat dalam banyak negeri di dalam abad terang ini”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;(Surat Kartini kepada NY abendanon-mandri dan suaminya)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perempuan setelah abad 19 pasca revolusi industry, membawa mereka bermigrasi ke ruang public dengan menunjukkan eksistensinya memasuki dunia kerja, ternyata harus dibayar mahal dengan berbagai resiko dan perjuangan yang cukup panjang. Bahkan hingga kini, perempuan adalah objek yang sangat massif bagi dunia industry. Hadirnya industry menghidupi perempuan namun tanpa sadar menjadikan ia mangsa yang empuk bagi penjajahan cultural dan ideologis. Betapa kita dilihatkan fenomena di kota-kota besar, perempuan dengan profesi sebagai sekretaris, buruh pabrik, dan juga artis mereka mau tidak mau dihadapkan pilihan yang sulit antara materi dengan persoalan tubuhnya. Sehingga dari cara bergaya, cara berpakaian dan aturan dunia industry menuntut mereka tampil erotis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Institusi atau lembaga perusahaan kerap menuntut budaya penertiban dalam bentuk pakaian seragam para buruh wanita ini, juga para pekerja kantoran dengan dalih modernitas, profesionalitas, dan perempuan tetap menjadi objektifikasi bagi kebijakan perusahaan. Persoalan tubuh perempuan tentu tidak bisa kita lepaskan dari dunia industry, kapitalisme, dan juga budaya masyarakat kita. Di china beberapa bulan lalu ada seorang berganti pakaian di kereta api toh tidak menimbulkan sesuatu apa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di barat, berpakaian seksi bahkan adalah kebiasaan mereka, tapi tidak menimbulkan persoalan yang merisaukan seperti di negeri kita. Ada apa dengan budaya masyarakat kita? Lebih lanjut ada apa dengan kebijakan pemerintah kita sehingga hal tersebut bisa terjadi?.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Patologi Cinta &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Secara teoritik, freud menjelaskan ini dengan gamblang dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Cilization and Its discontent. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Disana ia menjelaskan ; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“cinta dengan sasaran yang terlarang sungguh-sungguh penuh dengan cinta yang bersifat indrawi menurut asalnya, cinta ini begitu tenang dalam alam pikiran tak sadar manusia”maka cinta yang seperti ini adalah patologi, yakni sebagai sesuatu kemunduran pada keadaan “narsisme tak terbatas”.  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih lanjut Freud menjelaskan yang dituliskan kembali &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Erich Fromm dalam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“The art of love &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“ : “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Bahwa manusia didorong oleh suatu keinginan yang tak terbatas untuk penguasaan seksual terhadap semua wanita, dan bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Bagi Freud, tindakan pelecehan seksual, tindakan yang berorientasi pada nafsu hanya dapat diselesaikan oleh tekanan dari masyarakat dan pencegahan dari masyarakat kita. Ketika masyarakat menganggap ini sebagai sesuatu yang didiamkan, maka hasrat dan naluriah manusia tersebut justru semakin menjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika melihat kasus-kasus yang ada saat ini, perempuan menjadi korban kebijakan, dan menjadi korban nafsu lelaki, ini merupakan gejala patologi cinta yang mengakibatkan cinta jadi pelampiasan nafsu semata. Perempuan jadi sosok yang dijadikan pangkal persoalan, padahal mestinya sebab dan latar belakang kasus pelecehan seksual itu yang perlu kita lihat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Belum efektif &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Fenomena ini mengingatkan kembali kepada aktivis gerakan perempuan dan juga pemerintah, dan kita semua, bahwasannya gerakan pembebasan perempuan ternyata belum efektif di negeri ini. Diskriminasi gender, ketidakadilan terhadap perempuan masih saja terjadi di negeri ini. Meskipun UU pornografi dan porno aksi sudah ditetapkan, pemerintah belum mampu memblokir semua situs porno di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain itu, secara filosofis pornografi dipandang dari fisik semata,misalnya segi pakaian, sedangkan yang lebih fundamental adalah pembenahan masyarakat kita tentang budaya menghargai perempuan sebagai sosok yang sama dan setara sehingga keadilan gender bisa terwujud. Selain itu, pemerintah masih saja belum mampu menyeleksi tayangan-tayangan yang berbau erotis yang tiap hari hadir di layar kaca kita baik di dunia entertainment, advertising, dan dunia film kita yang mengumbar erotisme.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kebersamaan &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ketika melihat fenomena diatas, Dr mansour fakih menyarankan dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Analisis Gender dan Transformasi Sosial&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; mengatakan ; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“ Segala bentuk yang merendahkan kaum perempuan bukan semata-mata salah kaum perempuan maka usaha menghentikannya secara bersama perlu digalakkan”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Fakih menyarankan gerakan ini bisa dilakukan dengan mencatat kejadian di catatan harian, catatan harian ini akan berguna ketika diproses secara hukum. Menyuarakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;uneg-uneg &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;di kolom-kolom surat kabar, surat pembaca misalnya secara serentak, berdemonstrasi secara bersama-sama, atau menyuarakan opininya melalui media massa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Gerakan ini akan lebih efektif untuk mengurangi dan mencegah kekerasan terhadap perempuan sebagaimana yang sudah dipraktekkan di Negara maju dan juga sebagaimana yang dikatakan Freud : “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sehingga tidak lagi menempatkan perempuan sebagai pangkal persoalan dalam setiap kasus pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan. Begitu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*) Penulis adalah mahasiswa bahasa inggris, Universitas muhammadiyah surakarta, bergiat di kawah institute Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-4444145589122785280?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/4444145589122785280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/menimbang-efektifitas-gerakan-gender.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4444145589122785280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4444145589122785280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/menimbang-efektifitas-gerakan-gender.html' title='Menimbang Efektifitas Gerakan Gender'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-98467157369242091</id><published>2011-10-23T12:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T12:04:35.085-07:00</updated><title type='text'>Kerja Sastra = Kerja Pemberadaban</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="CENTER"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Kerja sastra dan kerja kebudayaan saat ini mengalami titik nadir yang luar biasa, sehingga kerja ini perlu digiatkan lebih keras lagi,sebab budaya adalah salah satu solusi terakhir dari problematika bangsa saat ini. Jawaban tentang pentingnya revolusi kebudayaan tidak jauh berbeda dengan sejarah kita dulu ketika masa orde lama yang menjadikan masyarakat menggiatkan kerja kebudayaan meskipun pada tahun-tahun berikutnya muncullah polemik kebudayaan yang saling melengkapi dan saling beradu tentang apa yang dimaksud dengan kebudayaan dan bagaimana kebudayaan dinafaskan dalam kehidupan kita.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertanyaannya apa kerja kebudayaan kita belum maksimal?. Tentu tidak, ketika menilik makin bergiat masyarakat kita yang berada di bawah kaki gunung menghidupkan kembali budayanya, masyarakat kita yang di kota semakin menampilkan keseniannya, dan juga para seniman dan sastrawan makin giat bersafari ke seluruh negeri. Lalu, apa yang salah dengan kerja mereka ketika hal tersebut sudah digiatkan sementara masalah bangsa ini tak kunjung menemui jawab?. Radar panca dahana berujar dalam bukunya&lt;i&gt;&lt;b&gt; “kebenaran dan dusta dalam sastra”(indonesia tera) mengatakan : “&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Para seniman dan sastrawan belum bisa menjawab ;mengapa seni harus hidup, dihidupi, menghidupi?”.satu alasan yang eksistensial yang jika tidak terjawab akan membuat siapapun merasa lucu ketika ia melakukan kerja keseniannya”. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Persoalan pokok yang dipandang radar sebagai persoalan fundamental adalah persoalan yang ternyata hampir tidak bisa dijawab oleh para seniman dan sastrawan mengapa mereka melakukan kerja itu?. Sayangnya para sastrawan dan seniman saat ini lagi-lagi sedang melakukan pencarian itu. Sedang pencarian itu adalah pokok yang menentukan mengapa kerja pemberadaban sastra dan kesenian itu menjadi terganjal, sebab para pekerjanya sedang melakukan pencarian dan belum menentukan arah kerjanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Kegalauan ini tidak hanya dirasakan oleh para seniman dan sastrawan kita, kerja pencarian identitas ini seperti sudah terjadi di setiap lini kehidupan di negeri ini. Baik gerakan mahasiswa, gerakan masyarakat, dan juga para pemimpin kita yang kehilangan arah. Seperti yang diungkap Samuel  P huntington &lt;i&gt;“Inilah faset yang paling menyeruak di era post- perang dingin,ketika usaha pencarian identitas menyeruak dimana-mana”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt; Apa sastra bisa merubah dunia?. Apa sastra bisa membuat manusia lebih beradab? Ataukah kita yang tidak bisa menangkap pesan dan makna dalam sastra?. &lt;/i&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut mestinya selesai dalam bangku kuliah,diskusi-diskusi kebudayaan dan sastra, atau seminar-seminar ilmiah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ternyata hal tersebut belum bisa memberikan jawaban atas kompleksitas manusia, para sastrawan pun sejatinya mengungkapkan ini dalam karya-karyanya melalui puisi, cerpen, novel, esai dan lain-lain untuk mencoba memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertanyaan tersebut tak pernah selesai, dan kita tak tahu kapan akan selesainya, selama manusia hidup, selama itu pula manusia menjadi makhluk yang bernafsu mencipta, merumuskan dan menemukan kebudayaannya, menuliskannya dalam bentuk karya. Karya itulah yang menjadikan kita sadar, bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan rekam jejak. Memerlukan satu pengabadian pengalaman, memori, dan pelajaran-pelajaran hikmah melalui sastra dan pemberadaban manusia.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Gagal???&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Putu wijaya, &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;seorang sastrawan indonesia, mengungkap sebab dari kegagalan sastra dalam pemberadaban manusia dengan mengatakan : &lt;i&gt;“ Pemberadaban dengan sangat potensial bisa disumbangkan oleh agama, pendidikan, ilmu pengetahuan dan sesungguhnya sastra. Kita tidak akan membuka polemik dengan mengatakan bahwa keempatnya sudah gagal. Lebih baik dikatakan belum terjadi sebagaimana seharusnya. Saat ini, sesudah reformasi, kita merasakan pemberadaban tak berjalan. Berbagai kejadian yang mengejutkan terus mengucur setiap hari menyebabkan kita malah cenderung mengatakan yang ada sekarang adalah pemunduran peradaban.”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Agama, ilmu pengetahuan,pendidikan, dan sastra keempat unsur tersebut yang dinilai putu wijaya belum bisa menampakkan hasil dari kerjanya. Meskipun reformasi berjalan dengan berbagai peluang kebebasan berekspresi dan berkarya ternyata belum memberikan jaminan bahwa kebudayaan mampu dalam memanusiakan manusia.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Agama pun ternyata diragukan menjawab persoalan ini ketika agama yang muncul saat ini adalah kamuflase yang hadir dan dihadirkan melalui media-media semu semata. Agama dikotori oleh para pemeluknya dengan menjadikan agama sebagai teror dan agama yang tidak mampu melakukan teror terhadap runyamnya negeri ini. Para tokoh lintas agama meski sudah mengajak umatnya menyerukan bahwa negeri ini ada yang salah, para pemimpinnya harus berubah, wakil rakyatnya harus menata diri, dan negeri ini harus berubah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Ternyata seruan jadi berhenti ketika para pemimpin kita dan wakil rakyat kita menjadi sosok yang membatu. Batu itulah yang ternyata menjadi gambaran para pengendali negara ini. Kegagalan ini di susul dengan corat-maritnya pendidikan yang sesuai kata Rendra masih mengimpor pengetahuan dari asing, masih membeo kebijakan asing sehingga identitas kita menjadi hilang dan kabur.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt; Sastra pun demikian halnya, sastra menjadi sesuatu yang asing di masyarakat bawah. Meskipun di kalangan akademik sastra menjadi sesuatu yang populer, tapi sastra kemudian hilang dan tidak bermakna ketika hadir di kalangan soko guru revolusi kata sukarno yakni buruh tani dan pedagang.Apakah bahasa sastra terlampau tinggi sehingga tidak mampu menyentuh dan menggerakkan mereka para kaum bawah? Ataukah tidak ada sastrawan yang menyentuh lini-lini sana?. Ternyata juga tidak, kegagalan sastra ini karena sastra masih berkecimpung dengan dirinya dan tidak mau menyentuh mereka yang dibawah dan menangkap realitasnya. Radar panca dahana mengatakan :&lt;i&gt;” Bila puisi menempatkan posisi di luar sosial masyarakatnya, maka sepertinya dia mengingkari dirinya sendiri&lt;/i&gt;”.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Dengan demikian, kerja sastra perlu dikembalikan kembali pada hakikat dari sastra itu sendiri yakni mengembalikan manusia menjadi manusia. Artinya kerja sastra tidak lain adalah mengurusi manusia dan persoalannya. Dari situlah kita berharap sastra bisa menangkap realitas dan mengejewantahkannya,mengolahnya menjadi sesuatu yang kembali memperingatkan manusianya. Sebagaimana pramudya menuliskan dalam bumi manusia :” "&lt;i&gt;Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya . (&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Minke, 135&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;)”.Maka kerja sastra adalah kerja kemanusiaan dan pemberadaban, mengurusi manusia dan mengembalikan manusia pada hakikat kemanusiaannya. Inilah tugas kita semua. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah mahasiswa UMS, ikut menulis buku bersama dalam buku “Manusia = puisi” 2011.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-98467157369242091?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/98467157369242091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/kerja-sastra-kerja-pemberadaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/98467157369242091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/98467157369242091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/kerja-sastra-kerja-pemberadaban.html' title='Kerja Sastra = Kerja Pemberadaban'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-3483763051278492959</id><published>2011-10-21T03:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-21T03:05:54.835-07:00</updated><title type='text'>Anak Dan Masa Depan Bangsa</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;i&gt;We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;i&gt;~Stacia Tauscher&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Anak-anak kita adalah masa depan kita, begitulah orang biasa berujar dan khawatir tentang pentingnya memperhatikan anak-anak kita. Tak heran orang tua kita pun rela mengeluarkan koceknya untuk memanjakan buah hatinya, memperhatikan pendidikannya, dan dengan susah payah memberikan yang terbaik untuknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Perhatian ini diwujudkan dengan berbagai cara salah satunya dengan menyekolahkan mereka ke sekolah terbaik, bahkan sejak usia dini. Orang tua kita begitu rela melakukan segala sesuatunya demi meruwat masa depan mereka. Dengan harapan, mereka akan melihat generasinya lebih baik dari generasi yang pernah mereka alami sewaktu mereka kecil. Perasaan harapan berpadu dengan kecemasan, seiring berkembangnya zaman. Kemajuan teknologi membawa anak-anak kita cepat tanggap terhadap hal baru tapi terkadang lupa terhadap hal yang substantive. Alhasil, orangtua pun cenderung gagap dan tidak mampu menemukan solusi terbaik bagi anaknya. Kecenderungan ini membawa mereka(orangtua) kita menitipkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah full-day yang menjauhkan mereka dari dunia orang tua, dunia ayah dan ibu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sementara,waktu di sekolah jelas tak bisa mengimbangi waktu anak-anaknya bermain di lingkungan sekitar. Tanpa sadar, orangtua kita adalah orang yang menjerumuskan kita sendiri menjadi orang asing di lingkungan kita. Efeknya tidak main-main dunia anak berubah menjadi dunia yang akrab dengan dunia imajinasi mereka, tapi lupa dengan latar cultural mereka dengan lingkungannya. Sehingga banyak kemudian anak-anak kita berhasil tapi lupa dengan ideology cultural mereka di lingkungannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Logika Yang salah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Tugas kita adalah mendidik anak-anak kita, bukan menjadikan mereka menjadi seperti diri kita. Harapan yang berlebihan terkadang membawa sesuatu yang salah dengan dunia anak kita. Kita mempunyai harapan anak-anak kita seperti yang kita inginkan, tapi lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang berhak memiliki mimpi dan cita-citanya sendiri. Logika yang salah ini membawa kita pada satu pemaksaan keinginan kita, sehingga anak-anak kita menjadi anak yang melawan, atau menjadi anak yang terlalu penurut dan kurang kreatifitas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Berbagai film menunjukkan betapa hebatnya anak jika dibiarkan mengejar imajinasi dan mimpi-mimpi mereka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;I’m not stupid, 3 idiots, laskar pelangi, denias, dan lain-lain&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; memberikan penuturan bahwa bakat anak perlu diberi tempat dan dikembangkan. Ketika bakat anak tidak diberi tempat dan dikembangkan, maka anak justru akan mati di tangan orangtuanya sendiri dalam arti mati tidak berkembang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sentuhan Ibu &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masa depan anak-anak kita tergantung dari sentuhan ibu-ibu kita. Ibu adalah sosok yang tanpa sadar telah membentuk biografi kita dengan berbagai kisah, dongeng, cerita dan petuah-petuahnya. Dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;sarinah &amp;amp; biografinya(sukarno,penyambung lidah rakyat) yang ditulis cindy adams,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; sukarno menjelaskan betapa besar peran sosok seorang ibu yang dengan kasih sayangnya membentuk pribadinya dan semangatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Maka tak heran, para sastrawan, filosof, dan para nabi pun memberikan tempat tertinggi untuk menyampaikan penghargaan terhadap sosok ibu. Ibu menghadirkan imajinasi, ibu menghadirkan inspirasi, dan ibu adalah yang mencipta kita. Akan tetapi yang terjadi di negeri ini nasib para ibu tak seindah kata-kata puitis kita, tak sehebat anugerah yang berkalung di lehernya. Ibu –ibu di negeri ini adalah sejarah nestapa yang tak kunjung reda. Angka kematian ibu di negeri ini &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Women’s Research Center dalam penelitiannya menyebutkan: Menurunkan angka kematian ibu sesuai target MDGs 2015 sulit dicapai. Jakarta Post (5/3/10) memberitakan, pemerintah gagal memperbaiki kondisi kesehatan ibu. Terbukti angka kematian ibu (AKI) masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih lanjut almarhum Prof dr Soedradji, ahli kebidanan, ”Dengan kemajuan teknologi kedokteran di Indonesia, ibu meninggal karena komplikasi melahirkan seharusnya tidak terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ketika nasib ibu tidak bisa kita perhatikan secara serius, maka mustahil kita akan berharap ibu-ibu kita akan memberikan sentuhan yang baik kepada anak-anak kita, sebab nasib mereka dan masalah mereka belum bisa terselesaikan dengan baik. Memperhatikan masa depan anak dan bangsa kita harus diawali dengan memperhatikan dan melindungi para ibu-ibu kita. Hal ini perlu dilakukan dengan berbagai cara antara lain &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; mensejahterakan mereka dan membebaskan mereka dari kemiskinan yang menjeratnya. Kemiskinan adalah faktor mutlak para ibu-ibu kita tidak mampu mengurusi dan mencukupi kebutuhan dasar anak-anaknya, sehingga anak-anak mereka kurang gizi dan kelaparan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;memperhatikan pendidikan mereka. Dengan memperhatikan pendidikan mereka, kita akan melahirkan generasi yang cerdas karena faktor keturunan atau gen juga berpengaruh dengan bagaimana generasi kita ke depan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; memperhatikan kecukupan gizi dan juga faktor kesehatan para ibu.  Dengan demikian, menghadirkan generasi yang cerdas dan menciptakan anak sebagai harapan dan masa depan bangsa bukan hal yang mustahil kita ciptakan.Semoga!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; *)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute Indonesia, tulisan dimuat di gema-nurani.com selasa, 18 oktober 2011&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-3483763051278492959?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/3483763051278492959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/anak-dan-masa-depan-bangsa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3483763051278492959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3483763051278492959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/anak-dan-masa-depan-bangsa.html' title='Anak Dan Masa Depan Bangsa'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-1700243548672510250</id><published>2011-10-18T23:31:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T23:34:47.723-07:00</updated><title type='text'>Kampusku, masa depanku(bagian 2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-wwAf9_TVr9w/Tp5vd9w7B4I/AAAAAAAAAJI/7N8orzFmCVk/s1600/UMS.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 149px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-wwAf9_TVr9w/Tp5vd9w7B4I/AAAAAAAAAJI/7N8orzFmCVk/s200/UMS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665087941865310082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Jelang 53 tahun UMS&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kampusku adalah penjaraku adalah kata-kata realitas kampus kita saat ini. Hampir tiga tahun ini, kampus kita selalu menjadi kampus mencekam dan mengerikan dengan pagar-pagar besi di setiap sudut nya. Betapa ruang dalam pikiran kita seolah memasuki penjara pendidikan bertajuk ; kampus ums. Nuansa islami seperti hadir disini, ketertiban seperti akrab disini, slogan-slogan populis dari birokrasi tampil dengan segera mengisi makan pagi, siang, dan malam kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ruang public menjadi kotor, tak tertata, dan menteror. Ruang public penuh dengan pembatasan-pembatasan yang tak wajar dengan berbagai tanda spanduk dimana-mana, belum lagi pembatasan kelamin “hotspot”. Budaya kita menjadi budaya instant dalam menyelesaikan masalah. Masalah pencurian diselesaikan dengan cc tv, pencurian diselesaikan dengan tulisan-tulisan yang mencekam seperti di dalam masjid kita : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“sering terjadi pencurian, hati-hati dengan barang bawaan anda”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Masjid kita adalah masjid yang menyeramkan dan menakutkan. Kepasrahan ibadah kita terganggu soal materi yang bingung mau kita amankan dimana?,meski sudah ada cc tv. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Penyempitan ruang public???&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Benarkah sudah terjadi penyempitan ruang public di kampus kita saat ini?. Betapa kampus begitu menyedihkan dengan upaya-upaya penyempitan ini. Penyempitan ruang public hadir dalam miskinnya budaya dialog dan dialektika antara mahasiswa dan pihak pengelola universitas ini. Betapa pentingnya peradaban dibangun dari sana, diskusi, dialektika dan penyelesaian masalah-masalah universitas secara bersama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Nalar akademik diruntuhkan dan dipersempit dengan membatasi ruang public kita adalah kelas. Lihatlah dan kelilinglah ke kampus tercinta ini, makin lama ruang public semakin sempit. Farmasi, dihabisi dengan ruang-ruang laboratorium entah laboratorium apa?, Jalan-jalan yang aspal dan makin sempit, Makin banyaknya mobil-mobil para birokrat kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Efek yang nampak jelas betapa tragisnya. Wisudawan-wisudawan makin bertambah banyak dan cepat menyelesaikan kuliah. Bangku kelas di UMS hampir tak menyimpan biografi, pengalaman, apalagi menyimpan memori kolektif akan berkembangnya diri dan nalar kritis akademis. Kampus adalah kenangan yang secepatnya dilupakan, sebab tidak ada yang berkesan di kampus ini. Sebab kampus memberi kesan hanya sebatas ceremonial penerimaan mahasiswa baru dan juga wisuda para sarjananya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Lalu, masa depan kita dimana?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bukankah masa depan kita berawal dari tempat yang kecil ini?. Bukankah kebesaran kita berawal dari ekspresionisme para kawula muda disini?. Lebih jauh lagi, bukankah miniature Negara dan peradaban ada di sini?. Ketika kita masih berkeyakinan hal tersebut atau apapun imajinasi masa depan anda akan bertumpu disini, maka penyempitan ruang public perlu kita hancurkan, budaya kritis perlu dikembangkan, bukankah universitas-universitas maju di dunia berawal dari perumusan pertanyaan dan jawaban-jawaban dari diskusi keseharian kita?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Barangkali masa depan kita adalah selembar kertas wasiat yang menjadi nyawa dan bahkan “tuhan baru” yang membuat kita tiba-tiba tak berdaya dihadapkan kehidupan mendatang sebagai manusia pendatang di masyarakat. Ijazah tak mampu memberi jawaban akan betapa kerja tak semudah kita menjadi elit sebagaimana keinginan kebanyakan orang di kampus yang mendambakan “kerja di belakang meja”(kantoran,pns&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,dll&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Tertib sebagai jawaban bisu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lihatlah betapa spanduk bisu yang berceramah : “Ingat agenda akademik anda, 75 % kehadiran, KRS, dan bayar”. Apakah logika masa depan kita dibangun dengan sesederhana ini dan sesingkat ini?. Dimanakah penelitian-penelitian mahasiswa kita, dimanakah arsip-arsip sejarah mahasiswa tahun dulu-dulu, apakah seperti itu?. Sepertinya tidak, budaya diskusi, seminar akademik kemasyarakatan, dan permasalahan social menjadi agenda rutin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Tapi kini, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;tertib&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dan budayanya seperti kembali berkampanye di kampus kita menghadirkan pengikut ribuan yang hadir tiap tahunnya, tiap tahun itu pula kita seperti dibuat takut akan masa depan kita, penyalahgunaan SPP kita, dimanakah konsepsi besar kampus yang berobsesi sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;center of excellent &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ketika peradaban kita seperti peradaban yang telah menemui ajalnya dengan hilangnya ruang public, munculnya terror dan ancaman dana kemahasiswaan, dan lemahnya budaya “musyawaroh” yang kesemuanya itu menunjukkan di ultah 53 ini, kampus ini belum bangun dari tidurnya, meski sudah ada promosi dimana-mana hingga ke luar negeri dengan gaya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“go internationalnya”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.14in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah alumnus DPM UMS”,ikut menulis  buku “manusia = puisi”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;2011 Tulisan dimuat di koran pabelan 19 oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-1700243548672510250?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/1700243548672510250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/kampusku-masa-depankubagian-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1700243548672510250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1700243548672510250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/kampusku-masa-depankubagian-2.html' title='Kampusku, masa depanku(bagian 2)'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wwAf9_TVr9w/Tp5vd9w7B4I/AAAAAAAAAJI/7N8orzFmCVk/s72-c/UMS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-7186569224147720783</id><published>2011-10-12T04:35:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T04:39:02.125-07:00</updated><title type='text'>Kampusku ; Masa depanku(bagian 1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-8alWhN84he8/TpV8EgqShwI/AAAAAAAAAI8/gQONRATWEv0/s1600/ums.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8alWhN84he8/TpV8EgqShwI/AAAAAAAAAI8/gQONRATWEv0/s200/ums.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662568523416897282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jelang HUT UMS -53&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dinamika intelektual mahasiswa yang menjadi cita-cita kita semua ternyata belum sepenuhnya maksimal, ini ditandai dengan lemahnya budaya kritik dan progressifitas dalam komunikasi antar elemen kelembagaan mahasiswa menjadikan kampus ini layaknya “kuburan akademik” yang lengkap dengan hantu-hantu dan artefak-artefak yang mengganggu pemandangan mata kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hantu yang mengganggu itu adalah pesan-pesan bisu seperti “ stop plagiat”, “jangan injak rumput”, “ awas budaya tak tertib”, “visi-misi setiap fakultas kita”. Kita menjadi manusia-manusia yang lekas mati dan menjadikan itu berlalu begitu saja. Hantu-hantu itu bagi saya menjadi pemandangan yang mengganggu dan meneror saya melebihi terror bom bunuh diri. Apakah kemudian plakat-plakat dan pesan simbolik mencerminkan bahwa kita adalah manusia simbolis yang tak peka dengan pesan-pesan cultural kita, atau bahkan suara-suara yang ada di sekitaran kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Barangkali budaya akademik kampus kita sudah menunjukkan tanda-tanda kesuburan dalam transformasi, tapi tidak dalam budaya yang positif, melainkan negative. Lihatlah betapa transformasi itu berhasil ketika para mahasiswa baru dengan gaya nya datang di taman dengan gaya anak muda menghadap dunianya, yang menghidupkannya dan mematikannya. Facebook, kemudian twitter, searching=googling menjadi aktifitas mereka dalam menggarap makalah menjadi copy paste&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ereka kesulitan merangkai kata-kata, apalagi buku-buku referensi yang lengkap &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;an bahasa yang indah dalam makalah yang mencerminkan pemikiran mereka. Malas, yah itulah jawaban yang paling enak diajukan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitupun dosen kita malas meneliti karena “sibuk” dan tidak ada proyek penelitian, ya inilah yang sebenarnya dikutuk dalam plakat-plakat itu sebagai plagiatisme.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Bagaimana dengan para pendidik kita?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendidik kita adalah mereka yang fasih berpidato di dalam kelas-kelas seolah-olah kelas adalah alat pencucian otak mutakhir. Mengapa taman yang begitu indah dan subur yang mestinya jadi aktivitas akademik yang berkembang dan mempunyai daya yang dahsyat dalam meruntuhkan ruang yang tinggi dan gedung-gedung yang angkuh ini tak kunjung hadir di lingkungan kita. Atau sebaliknya, ruang public diisi dengan orasi-orasi yang mengganggu, dan membuat mahasiswa enggan atau merasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; il feel &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dengan mereka yang heroic menampilkan dan mencoba menggerakkan dan menggairahkan kampus, tapi sayang kata-kata mereka tak rapi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;an tak masuk dalam bahasa-bahasa kita(mahasiswa).Alhasil keluarlah kata-kata biasa, biasa demo, kata-katanya hidup rakyat!, hidup mahasiswa!,turunkan SBY!.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa itu salah? Tentu tidak, ruang demokratik harus kita hargai dan kita beri kebebasan penuh, sayang khotbah kita masih kalah dengan para hipokrit yang duduk di ruang kerjanya dan meneriakkan “mahasiswa mestinya lulus dengan score IP tinggi”, “ masa depan mahasiswa tidak boleh dikotori dengan kelulusan lama”, “jadi mahasiswa yang tertib”.Sungguh doktrin Daoed jusuf menjadi akrab di telinga kita. Meskipun demikian, kita pun belum menemukan alternative yang mencolok untuk mewujudkan kampus kita sebagai masa depan kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Masa depan? &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sulit rasanya menjadikan kampus sebagai masa depan kita. Selama kultur akademik, pertemuan budaya baca, tulis, kritik, sastra lisan atau tulis, juga budaya-budaya ekspresionisme anak muda belum terlihat dan Nampak di kampus kita. Mengapa kita tak mengubah segera cara berfikir kita, kampusku adalah rumahku, kampusku adalah tempat ku bertaruh seni, hidup dan kehidupanku di masa mendatang dengan berbagai pergulatan dan dinamikanya?.53 tahun UMS, akankah sama saja? Kampus, birokrasi, senat mahasiswa, senat universitas, sepertinya unsure-unsur diatas perlu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;rembug &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bareng untuk lekas sadar dan membahas “kampusku; masa depanku” atau sebaliknya “kampusku, penjaraku”???semoga tidak demikian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah Pimpinan redaksi “Kawah media”,ikut menulis  buku “manusia = puisi”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; 2011&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tulisan dimuat di koran pabelan UMS&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-7186569224147720783?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/7186569224147720783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/kampusku-masa-depankubagian-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7186569224147720783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7186569224147720783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/kampusku-masa-depankubagian-1.html' title='Kampusku ; Masa depanku(bagian 1)'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8alWhN84he8/TpV8EgqShwI/AAAAAAAAAI8/gQONRATWEv0/s72-c/ums.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-6784596740977908253</id><published>2011-10-09T18:21:00.001-07:00</published><updated>2011-10-09T18:22:54.759-07:00</updated><title type='text'>Mengembalikan Diri pada Hakikat Kemanusiaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-mD_BQ_HZU1I/TpJIwF2nNnI/AAAAAAAAAI0/e8cTFNxMEVA/s1600/Lalu%2BAkul.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 133px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-mD_BQ_HZU1I/TpJIwF2nNnI/AAAAAAAAAI0/e8cTFNxMEVA/s200/Lalu%2BAkul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661667672600295026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul     : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalu Aku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis   : Radhar Panca Dahana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal     : 124 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LALU  aku, lalu kau, lalu aku kau adalah tiga bab kehidupan kita yang  diterjemahkan, dituliskan, dan ditangkap Radhar Panca Dahana dalam buku  puisinya ini. Aku, kau, dan kita adalah bagian dari kehidupan ini,  bagian dari hakikat kosmos yang tak mungkin terpisahkan dalam kehidupan  kita. Ketika aku terlepas dari kau, ketika kata aku terlepas dari kau  dan kita maka aku adalah sosok yang hilang, sosok yang tak punya nyawa.  Pesan itulah yang ingin disampaikan dalam sekumpulan puisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia  diciptakan untuk berhubungan dengan orang lain, dengan alam, dan dengan  imajinasinya. Ketika manusia tidak lagi mempunyai rasa sensibilitas,  tidak memiliki rasa sensitivitas dengan alam, manusia lainnya, maka  tidak jauh berbeda dengan cyborg. Sebagaimana Lyotard pernah berujar  tentang makhluk mekanik. Herbert Marcuse menyebut manusia yang seperti  ini dengan sebutan one dimensional of men (manusia satu dimensi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia  yang seperti itulah manusia yang mereka menyentuh, mereka mendengar,  mereka melihat tapi tidak tersentuh, tidak mendengar, dan tidak  merasakan. Akhirnya manusia yang seperti inilah yang tentu tidak  sama-sama kita inginkan. Sastra adalah bagian dari kemanusiaan itu.  Puisi adalah bagian dari sastra. Mencintai puisi, adalah mencintai  sastra, dan mencintai kemanusiaan.Lewat kata-kata itulah kita berperan,  dengan kata-kata kita bersuara, dan dengan kata-kata kita mengumpulkan  dan menciptakan, serta dengan kata-kata kita berpihak. Maka tak khayal  bila Pramudya pernah mengatakan: orang boleh pandai setinggi langit,  tapi selama ia tidak mencintai sastra ia ibarat anjing yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  puisi Radhar Panca Dahana, kita akan menemukan keterasingan, kelemahan,  kegembiraan, kekaguman, dan juga refleksi diri yang sangat wajar  dihadapi oleh manusia. Menulis puisi adalah memerkarakan hidup dan  kehidupan. Puisi bagi Radhar adalah upaya mengembalikan kita sebagai  manusia. "Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan  bercinta. Susunlah ia jadi puisi sehingga ia memanusiakan kamu,  sebagaimana sejarah waktu ada padamu, sejarah cinta membentukmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radhar  meletakkan kata aku dengan lihai, aku menjelma menjadi alam, aku  menjelma menjadi anak, dan metafora yang asyik dan membawa kita pada  dunia imajinasi yang luar biasa. Ini yang kita baca dari sajak Ragukan  Aku tanpa Ragu: laut dimana semua tetesnya/adalah cinta, untukmu  semata./Tapi, sekali lagi ragukan aku/bila tetap tersedu,tetap jadi  aku./Ragukan semua/tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi ini pula kita akan  menemukan rasa kekaguman, perasaan yang biasa kita alami sebagai sosok  manusia yang mengagumi seseorang. Radhar menuliskan ini dengan indah  dengan judul Lenggakmu, Lenggok Waktuku; Ratih sanggarwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  puisi ini kita akan menemukan peristiwa yang intim antara penulis puisi  dan Ratih Sanggarwati, yang mengalami satu peristiwa yang sama,  kenyataan yang sama, yang berjalan beriringan antara mereka berdua.  Dalam puisi ini kita diajak berpikir, merenung, dan mengagumi sosok  Ratih Sanggarwati. Begitu pun dalam puisi sejenis berjudul Pisau Kecil  Pingkan Mambo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radhar menggambarkan cinta yang ada hanyalah  sepintas lalu, yang biasa saja dan penuh dengan kesederhanaan. Kata  kesederhanaan seperti tak terlepas dari biografi Radhar yang memulai  kisahnya dengan segenap kesederhanaan yang akrab dengan kemiskinan.  Namun, Radhar mencintai dan mempunyai jalan seni yang awal dianggap  tidak sesuai dengan keluarganya. Puisi cinta yang lain bisa ditemukan  dalam Ibu yang Baik, Seindah Itukah Kamu, Dari Cinta yang Sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi  Radhar adalah puisi yang halus, pelan, lirih tapi terkadang menusuk ulu  hati. Yang biasa, wajar dan kadang penuh dengan ketegangan. Lewat  puisi-puisinya kita kembali diajak untuk bertamasya tentang manusia,  manusianya, kehidupan, kehidupannya, dan kehidupan kita. Sebagaimana  kita manusia, kita pun akan menemukan rasa dalam kata-katanya. Itulah  yang diharapkan dengan hadirnya puisi ini. Lalu aku, lalu aku kau, lalu  kita, dan semua ini akan berlalu. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Arif Saifudin Yudistira&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, mahasiswa UMS, Presidium Kawah Institute Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 9 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-6784596740977908253?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/6784596740977908253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/mengembalikan-diri-pada-hakikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/6784596740977908253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/6784596740977908253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/mengembalikan-diri-pada-hakikat.html' title='Mengembalikan Diri pada Hakikat Kemanusiaan'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mD_BQ_HZU1I/TpJIwF2nNnI/AAAAAAAAAI0/e8cTFNxMEVA/s72-c/Lalu%2BAkul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-8894463332933888518</id><published>2011-10-03T22:56:00.000-07:00</published><updated>2011-10-03T22:57:35.207-07:00</updated><title type='text'>Saatnya Menegakkan Revolusi</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Menggugat tulisan Saeful Achyar”mengenang revolusi kita”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;S&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;eptember yang baru saja berlalu memang bulan dengan dinamika sejarah yang tida kbisa kita lupakan begitu saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tulisan saudara saiful achyar pada hari selasa (27/9/11) dengan tajuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mengenang revolusi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;kita”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;menunjukkan bahwa generasi muda kita saat ini lemah dalam memahami sejarah bangsanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Akibatnya, s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ejarah bangsa kita difahami &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;secara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;serpihan melalui nukilan-nukila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;n kata-kata mutiara para pendiri negeri ini sebagaimana yang dilakukan oleh saudara saeful achyar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membaca sejarah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;potongan puzzle akan membuyarkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt; kompleksitas &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  realitas historis negeri ini dan mengakibatkan kita buta &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;memahami sejarah. Oleh karena itu tulisan ini mencoba &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:Times New Roman, serif;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;meluruskan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt; John roosa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; menuliskan dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Dalih pembunuhan massal&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; bahwa teori kudeta ini mirip kudeta merangkak yang perlahan dan pasti mengkudeta pemimpin negeri ini, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;b&gt;W&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;ertheim&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pun dengan sindiran halus mengatakan : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Tidak mungkin angkatan darat tidak ada campur tangan”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Lebih lanjut john roosa mengulas ini dengan sebutan “Soeharto menggunakan politik simulachrum yang membuat seolah-olah terjadi pembunuhan kepada para jenderal-jenderal oleh gerwani dengan membuat simulakra melalui pembangunan sumur lubang budaya tanpa didukung data-data forensik sehingga menampakkan seolah-olah telah terjadi pembunuhan yang kejam sampai-sampai dilukiskan dengan pemotongan alat kelamin”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Buku-buku tentang pemberontakan G30 S cukup memberikan gambaran terang siapa dibalik gerakan tersebut seperti buku G30&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt; S &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang ditulis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;b&gt;J&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;ulius pour, John Roosa, &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;juga yang pernah ditulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt; asvi warman adam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; akan memberikan gambaran yang cukup menunjukkan bahwa siapa dibalik dalang gerakan G30 S PKI ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kesalahan memahami sejarah ini dituliskan dalam tulisan saudara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ful dengan logika yang kacau dan salah kaprah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“Namun tampaknya politik devide at impera masih ampuh memberi magis perpecahan, kehendak yang didambakan sukarno justru memakan anak bangsanya sendiri.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Politik nasakom membuahkan saling bertikai dan saling menyerang”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dialektika dan polemik yang terjadi saat itu tidak seperti yang digambarkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;saeful &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;yang mengatakan saling menyerang&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Padahal konflik yang timbul jelas ada konspirasi antara dua fihak yang bernafsu menggulingkan kekuasaan yang menjadikan G30 S/PKI sebagai dalih&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;. Dan kelompok&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; sukarno dan kelompoknya yang &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;berkehendak i&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;mperialisme segera diwujudkan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Saeful menjadi korban konspirasi tersebut dengan menjadikan f&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ilm G30 S PKI &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;sebagai sumber data dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;analisa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;. Ini &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;menjadikan kita ragu dan naif karena belajar PKI dengan orang yang mencoba mengaburkan konsepsi sejarah PKI. Dari situlah sebenarnya tulisan saudara saeful achyar benar-benar membingungkan sejarah kita dan tidak semakin menjadikan titik sejarah itu terang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pelaksanaan kata-kata &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Konsepsi sukarno tentang revolusi tentu dipaparkan jauh kedalam bukunya Dibawah bendera Revolusi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;jilid &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;I dan II yang membicarakan panjang lebar tentang hakikat kemerdekaan. Sedangkan saeful achyar di pungkasan esainya menjelaskan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; “kapan lagi kita akan berevolusi kalau tidak sekarang,guna membangun indonesia”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;hanya menangkap serpihan dari konsepsi persatuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt; gaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; sukarno. Lebih ironis lagi judul mengenang revolusi membuat kita gerah dan marah seakan-akan revolusi adalah kenangan dan tidak muncul di bumi yang kian runyam ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Syahrir menjelaskan dengan gamblang tentang arti dan pemaknaan revolusi ketika bertemu dengan sastra kawannya pemimpin buruh dengan mengatakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;:” Revolusi hanya mungkin terjadi bila syarat-syaratnya terpenuhi yaitu syarat-syarat objektif dan syarat-syarat subyektif. Syarat objektif adalah ketidakpuasan rakyat umum merata dalam masyarakat, kekalutan dan lenyapnya disiplin di kalangan aparat pemerintahan dan kebingungan tokoh-tokoh yang memerintah. Sedangkan syarat subyektif adalah manusia-manusia pejuang yang memperjuangkan kebaikan keadaan itu. Keduanya harus tersedia dan juga melihat psikologis massa”(Mengenang Syahrir,Gramedia).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Oleh karena itu, melihat dan belajar dari syahrir tadi, kondisi indonesia sudah memungkinkan untuk syarat obyektif dan syarat subyektif. Diantaranya ketidakpuasan rakyat dimana-mana, masyarakat yang kalut, serta kepemimpinan yang bingung, sedangkan para subyek-subyek sudah menata diri dan melakukan perlawanan kultural melalui gerakan persatuan mahasiswa dan elemen-elemen gerakan pro demokrasi(prodem). Maka dari itu, perlu gerakan kepeloporan dari mahasiswa dan aliansi kerakyatan yang memulai untuk melakukan pengawalan terhadap revolusi ini dan sambil menunggu kondisi psikologis massa untuk revolusi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Jadi bukan sekadar ajakan yang berisikan pepesan kosong dan bukan sekadar menulis tanpa didasari penguasaan sejarah yang kuat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;. J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ika ini terjadi maka kesalahan konsepsi sejarah akan mengaburkan kita akan pemaknaan hakik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;at&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; revolusi. Sementara itu, ruang-ruang demokratik kampus tidak dihidupkan sementara kampus mesti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ya menjadi pusat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;way of think(Jalan pikir)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;perubahan masyarakat belum dihidupkan kembali. Maka menegakkan revolusi tidak berhenti di gerakan menulis dan diskusi serta dialektika saja, sementara disana masih banyak rakyat kita sengsara dan nestapa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Tan malaka pernah mengatatakn :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;”Revolusi itu kesatuan teori dan praktek dan perlu melihat massa rakyat”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Sehingga harapan saeful tentang revolusi tidak mungkin bisa dilaksanakan ketika hanya berujar di media, apalagi menggunakan konsepsi sejarah yang salah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai pungkasan perlu kita belajar dari Rendra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt; bahwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah mahasiswa UMS, aktivis IMM, Presidium Kawah Institute Indonesia Tulisan dipublikasikan di KORAN SOLO POS 4/ 10/2011.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-8894463332933888518?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/8894463332933888518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/saatnya-menegakkan-revolusi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8894463332933888518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/8894463332933888518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/saatnya-menegakkan-revolusi.html' title='Saatnya Menegakkan Revolusi'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-7211911019375778195</id><published>2011-10-02T09:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T13:20:23.690-07:00</updated><title type='text'>Toilet Mengisahkan kita</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-family: times new roman;" href="http://4.bp.blogspot.com/-lDl-USMcSGM/ToiRh4TaH4I/AAAAAAAAAIk/kG4h2S2zZ94/s1600/Tricicle%2Btoilet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 149px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lDl-USMcSGM/ToiRh4TaH4I/AAAAAAAAAIk/kG4h2S2zZ94/s200/Tricicle%2Btoilet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658932943026528130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kata toilet sering dipandang sebagai sesuatu tempat yang menjijikkan, terbelakang, dan tempat untuk membuang segala yang buruk-buruk dari diri kita. Ritus toilet mengisahkan manusia perlu membuang segala yang kotor di tubuh kita. Di dalam toilet itulah kita melakukan satu aktivitas membersihkan diri, membersihkan tubuh.  Kisah toilet ternyata menjadi satu pengalaman yang beragam dari kita. Ada yang mengisahkan toilet adalah tempat membuang kebosanan, tempat menciptakan ide-ide segar, bahkan tempat untuk menciptakan fantasi social juga kenikmatan sex.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ritus toilet tidak hanya sekadar peristiwa biologis semata,  tapi mengisahkan biografi seseorang seniman, politikus, esais, artis, kaum borjuis dan sebagainya. Sebut saja Ahmad dani yang menghiasi toiletnya dengan berbagai macam buku dan aksesoris lainnya. Ini juga dialami afrizal malna dengan rumahnya di jogja yang menjadikan toilet sebagai ruang inspirasi. Begitupun seorang esais yang menemukan ide-ide segarnya di toilet. Para artis pun tidak jauh berbeda melengkapi toilet dengan berbagai aksesoris yang memuaskan bagi dirinya. Toilet ternyata tidak hanya ruang yang sekadar diidentikkan dengan tempat membuang kotoran, tapi tempat menciptakan diri,juga tempat mengisahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Ritus Kebersihan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dalam toilet ini kita dididik untuk melakukan ritus kebersihan, ritus membersihkan diri. Orang jawa mengenal ini dengan kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;reresik&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; yang secara kasat mata mungkin dipandang orang hanya menyapu halaman rumah, membersihkannya dan membakarnya. Akan tetapi ketika kita menilik lebih jauh, falsafah jawa memaknai aktivitas reresik dimaknai dengan membersihkan kotoran yang ada di tubuh, baik penyakit dan kotoran yang terlihat maupun yang tak terlihat, membakar dendam, dengki, iri, juga penyakit-penyakit hati yang lain, sedang api diartikan sebagai cahaya yang menerangi diri di waktu menjelang malam harinya. Yang diartikan menerangi manusia dari jalan yang gelap. Di toilet itulah sebenarnya kita melakukan aktifitas reresik yang tidak hanya membuang kotoran-kotoran kita, tapi juga membakar sesuatu yang buruk di diri kita, serta menerangi diri kita setelah keluar dari toilet. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Selama ini kita memandang aktivitas dan ritus membersihkan diri dianggap sebagai sesuatu aktifitas membersihkan sesuatu di luar diri kita. Membersihkan halaman, membersihkan lingkungan, membersihkan jalan, dan lain-lain. Padahal semestinya, segala yang kotor itu hadir dan ada di dalam diri kita. Ritus kebersihan yang selama ini di dengung-dengungkan oleh pabrik lewat slogan dan gambarnya, pemerintah lewat program-program kebersihan lingkungannya, juga para politisi lewat seruan dan khotbah-khotbahnya ternyata mengingkari nalar kemanusiaan kita yang selama ini ironi dengan yang mereka lakukan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mereka melakukan ritus toilet yakni membuang asap-asap pabrik, membuang sampah-sampah di bumi kita, dan juga mendirikan mal-mal dengan sampah-sampahnya.Mengeksploitasi tambang tanpa memperhatikan lingkungan kita. Ternyata, toilet itu adalah diri kita yang kita bawa kemana-mana, yang ketika tidak kita buang kotorannya akan berakibat penyakit. Penyakit toilet yang dibawa manusia bisa berupa bencana alam, wabah penyakit, dan gejala alam lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Jika ditilik dari sisi spiritualitas, agama mengajarkan bagaimana &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;ritus toilet&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; (membuang kotoran) di diri kita dilakukan dengan zakat, puasa, dan sodaqoh. Ini yang kemudian jarang dilakukan para konglomerat dan politisi negeri kita. Sehingga mereka tak sadar bahwa mereka menampilkan kebusukan, menampilkan kotoran, aib bangsanya dengan wajah tersenyum sebagaimana mereka menampilkannya di toilet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di toilet pula kita menemukan ruang yang tak hanya menunjukkan betapa manusia berkisah dari sana. Di sanalah manusia mencari ruang kepuasan untuk melakukan satu aktifitas dirinya. Dengan menghias toilet mereka, menatanya, membersihkannya, memberi pengharum, dan rajin menyedotnya setiap tahun sekali. Ini untuk mencapai tingkat kepuasan dirinya di dalam melakukan ritus di toilet. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Metafora kotoran &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di toilet kita mengenal dan menciptakan makna tentang apa sebenarnya kotoran, dan mengapa harus dibuang. Budaya barat memandang kebersihan sebagai suatu hal yang biasa, ruang-ruang, mall-mall, dan juga rumah-rumah mereka. Berbeda dengan Indonesia, Indonesia tidak menyukai satu penataan, Indonesia lebih menyukai yang alami, hingga segala yang kotor yang alami pun jadi satu hal yang wajar di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu penelitian yang dilakukan oleh budayawan asal italia yang telah lama tinggal di solo pernah mengatakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“ Orang luar suka Indonesia karena kekacauannnya, kotornya, dan juga semrawut di pasar, di jalan-jalan dan sebagainya”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; mereka merasa menemukan yang unik dari hal yang kotor-kotor. Begitupun sebaliknya, orang Indonesia menyukai singapura, Malaysia karena kebersihannya. Perbedaan dan metaphor inilah yang tidak bisa kita samakan antara budaya bangsa satu dengan budaya bangsa lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari sanalah kita menemukan satu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;hidden agenda, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang selama ini tersembunyi dari lembaga-lembaga ekonomi, lembaga-lembaga lingkungan, para kapitalis dan juga lembaga-lembaga yang mengaku peduli terhadap apa yang menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;“kotoran“ &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bangsa Indonesia. Maka hasilnya bisa kita lihat, mereka membawa sampah-sampah baru bagi Indonesia melalui pembangunan mall-mall dengan gaya kebersihannya dengan menggusur pasar traditional yang ada di negeri ini. Pabrik-pabrik yang besar yang menghasilkan limbah dan asap dan hal-hal yang berbau kotor dibawa ke negeri kita. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bahkan sampai ada gerakan asosiasi toilet Indonesia yang berusaha menyeragamkan ritus toilet di negeri ini. Akhirnya, yang semua itu juga mengandung motif ekonomi, politik, social, dan budaya. Yang tentunya berbeda cara pandang kita memandang kotoran antara orang luar dengan bangsa kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ritus toilet mengisahkan manusia yang membawa kita pada satu budaya, politik-ekonomi, social yang mengajarkan kepada kita(bangsa Indonesia), bahwa ternyata bangsa kita masih perlu dan belajar untuk membersihkan dirinya dan membuang kotoran-kotorannya sebelum kotoran-kotoran itu menjadi penyakit yang lebih besar dan mematikan bagi dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0.14in; text-align: left; font-family: times new roman;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;*)Penulis adalah Mahasiswa UMS, bergiat di pusat studi mangkubumen Solo&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-7211911019375778195?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/7211911019375778195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/toilet-mengisahkan-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7211911019375778195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7211911019375778195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/toilet-mengisahkan-kita.html' title='Toilet Mengisahkan kita'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lDl-USMcSGM/ToiRh4TaH4I/AAAAAAAAAIk/kG4h2S2zZ94/s72-c/Tricicle%2Btoilet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-4870617820868047958</id><published>2011-10-02T08:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T08:14:23.512-07:00</updated><title type='text'>Mudik Dan Ironi Kemenangan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kerja adalah bagian dari hidup manusia dalam menjalani laku hidupnya. Kerja pula yang menuntut manusia harus berpindah dari kampung halamannya mencari berkah dan karunia Tuhan yang tersebar di berbagai kalangan di bumi nusantara ini. Etos kerja dan persoalan perut inilah yang membawa masyarakat desa dengan kulturnya bermigrasi ke kota untuk mendapatkan iming-iming hasil dan penghasilan lebih meski kadang realitanya tak seperti yang diharapkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kata kerja ini pula yang kemudian membawa masyarakat kita penuh dengan kejenuhan dan kepenatan. Bosan dan membutuhkan suasana yang sejuk, tenang, ramah, dan penuh dengan salam sapa sebagaimana mereka dulu berasal yakni kembali ke desa. Rasa kangen bertumpah, disertai rasa kebosanan inilah yang membawa masyarakat kita kepada satu budaya mudik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Mudik bukan hanya sekadar aktifitas yang rutinitas semata kalau kita telusuri lebih jauh. Pertama, Mudik menjelaskan bahwa kita bukan manusia satu dimensi sebagaimana yang dikatakan Herbert Marcuse. Kita bukan manusia mekanik sebagaimana yang dikatakan lyotard. Tetapi kita adalah makhluk sejarah. Yang sadar dan faham betul bahwa menekuni jejak-jejak cultural-historis kita kembali dengan harapan bahwa kita bisa melangkah dna menentukan peta masa depan dengan hal-hal yang gemilang dan kejayaan. Itulah yang ingin dicapai ketika seseorang dengan penuh semangat bahkan rela kehilangan nyawa hanya untuk menekuni dan melwati kembali jejak-jejak cultural –historisnya kembali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kedua, Dalam budaya masyarakat kita, kita mengenal tradisi halal bi halal yakni saling memaafkan di hari raya. Masyarakat kita menghadirkan tradisi tersebut tidak lain dan tidak bukan karena latar belakang agama yang menuntunkan umatnya setelah membersihkan diri dari dosa kepada Tuhannya, maka dosa kepada manusia mesti dibersihkan pula dengan saling memberi maaf dan meminta maaf. Oleh karena itu, nuansa mudik yang dilakukan masyarakat kota yang mudik ke desa, juga mengharapkan ampunan dan do’a dari masyarakatnya. Mereka pulang dengan mengeluarkan uang yang banyak dengan imbalan panen do’a, berkah dan ampunan dari Tuhan dan manusia di sekelilingnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Terakhir, mudik memberikan gambaran bahwa pemerintah ternyata belum mampu mensejahterakan desa dengan segala potensinya dan menciptakan ketenteraman lahir dan batin serta kecukupan ekonomi warganya sehingga masih banyak para pekerja yang rela bertaruh nyawa ke negeri seberang menjadi TKI dan TKW. Serta rutinitas yang sering kita lihat, perbaikan jalan raya akan terlihat ketika menjelang lebaran tiba. Ini menjadi gambaran bahwa ternyata perbaikan jalan adalah hal yang kadang lalai dilakukan pemerintah, meskipun pajak terus dibayar oleh rakyat kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Pantaskah perayaan kemenangan???&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apakah kita sejatinya sudah menang? Sudah merdeka? Dan menikmati kemerdekaan?. Pertanyaan diatas pantas kita ajukan bukan hanya karena momentum kemerdekaan yang ada di ramadhan kali ini, tapi dalam konteks yang lebih besar, apa yang sebenarnya sudah dilakukan bangsa ini selama 66 tahun kemerdekaan ini. Apakah memang bangsa ini kurang dalam melakukan puasa?mengingat kita adalah bangsa yang sudah begitu tabah dengan berbagai bencana alam dan peringatan dari Tuhan. Atau apakah pemimpin bangsa ini yang memang tidak ada iktikad baik melakukan penegasan bahwa kita adalah bangsa yang besar dan sudah semestinya berada di tempat yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Pertanyaan diatas dijawab dengan masih kurang pekanya para pemimpin umat maupun pemimpin Negara ini dengan pembagian zakat yang kerap membawa korban dan begitu banyaknya jumlah para penerimanya. Masyarakat kita belum sadar betul bahwa mestinya negeri ini menjadi negeri yang berlimpah ruah kejayaan. Tetapi sebaliknya negeri ini berlimpah ruah kemiskinan, berlimpah ruah korupsi dan dramatisasi elit politik kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Jadi ketika takbir, tahmid dan tahlil berucap mestinya ini adalah ironi yang besar. Sebab, negeri ini masih berlimpah ruah kejahatan tersistematis, korupsi yang terorganisir, masih kalah dengan kebaikan, persatuan yang lemah dan lain sebagainya. Maka takbir di hari raya kita, mestinya diganti dengan istighfar di mana-mana agar Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik bagi negeri kita. Sebab takbir mestinya adalah perayaan kemenangan. Sedang negeri ini ternyata belum menang hingga kini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Etos social yang diajarkan selama kita puasa, serta etos berperang melawan hawa nafsu selama kita puasa, mestinya dijadikan pelajaran penting bahwa kemungkaran di negeri ini masih banyak dan perlu diberantas. Perlawanan terhadap ketidakadilan dan kemungkaran terbesar yakni penguasa yang dzolim adalah wajib dilakukan bagi umat islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sudah waktunya konsolidasi dan persatuan umat digalakkan agar puasa yang membekas dalam diri kita menjadi spirit dalam melakukan gerakan dan pembaruan di negeri ini. Sudah waktunya rakyat yang mestinya bergerak ketika saluran-saluran aspirasi rakyat tidak mampu menampung dan menyalurkan aspirasinya. Agar cita-cita kemerdekaan 100 % yang dicita-citakan oleh para founding fathers kita bukan lagi menjadi mimpi-mimpi yang semu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*) Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-4870617820868047958?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/4870617820868047958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/mudik-dan-ironi-kemenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4870617820868047958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/4870617820868047958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/10/mudik-dan-ironi-kemenangan.html' title='Mudik Dan Ironi Kemenangan'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-2026504454239709075</id><published>2011-09-28T13:27:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T13:50:24.056-07:00</updated><title type='text'>BUKU  Manusia = Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vsTujcCLVdA/ToOIhwJ24WI/AAAAAAAAAIc/p6TyBXS3JqY/s1600/lalu-aku_t.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 106px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vsTujcCLVdA/ToOIhwJ24WI/AAAAAAAAAIc/p6TyBXS3JqY/s200/lalu-aku_t.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657515670350782818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mengembalikan diri pada hakikat kemanusiaan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku, lalu kau, lalu akukau adalah tiga bab kehidupan kita yang diterjemahkan,dituliskan dan ditangkap oleh radhar panca dahana dalam puisinya yang berjudul LALU AKU. Aku, kau, dan kita adalah bagian dari kehidupan ini, bagian dari hakikat kosmos yang tak mungkin terpisahkan dalam kehidupan kita. Ketika aku terlepas dari kau, ketika kata aku terlepas dari kau dan kita maka aku adalah sosok yang hilang, sosok yang tak punya nyawa. Pesan itulah yang ingin disampaikan dalam sekumpulan puisi ini. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manusia diciptakan untuk berhubungan dengan oranglain, dengan alam, dan dengan imajinasinya. Ketika manusia tidak lagi mempunyai rasa sensibilitas, tidak memiliki rasa sensitifitas dengan alam, manusia lainnya, maka tidak jauh berbeda dengan cyborg. Sebagaimana lyotard pernah berujar tentang makhluk mekanik. Lebih jauh lagi herbert marcuse menyebut manusia yang seperti ini dengan sebutan &lt;em&gt;one dimensional of men(manusia satu dimensi). &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang seperti itulah manusia yang mereka menyentuh, mereka mendengar, mereka melihat tapi tidak tersentuh, tidak mendengar, dan tidak merasakan. Akhirnya manusia yang seperti inilah yang tentu tidak sama-sama kita inginkan. Sastra adalah bagian dari kemanusiaan itu. Puisi adalah bagian dari sastra. Mencintai puisi, adalah mencintai sastra, dan mencintai kemanusiaan.Lewat kata-kata itulah kita berperan, dengan kata-kata kita bersuara, dan dengan kata-kata kita mengumpulkan dan menciptakan, serta dengan kata-kata kita berfihak. Maka tak hayal bila pramudya pernah mengatakan : &lt;em&gt;orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak mencintai sastra ia ibarat anjing yang bodoh.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dalam puisi radhar panca dahana, kita akan menemukan keterasingan, kelemahan, kegembiraan, kekaguman, dan juga refleksi diri yang sangat wajar dihadapi oleh manusia. Menulis puisi adalah memerkarakan hidup dan kehidupan. Puisi bagi radhar adalah upaya mengembalikan kita sebagai manusia. &lt;em&gt;“Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta”. Susunlah ia jadi puisi sehingga ia memanusiakan kamu,sebagaimana sejarah waktu ada padamu, sejarah cinta membentukmu”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Radhar panca dahana meletakkan kata aku dengan lihai, aku menjelma menjadi alam, aku menjelma menjadi anak, dan metafora yang asyik dan membawa kita pada dunia imajinasi yang luar biasa. Lihatlah puisi dibawah ini :&lt;br /&gt;RAGUKAN AKU TANPA RAGU&lt;br /&gt;; cahaya&lt;br /&gt;laut dimana semua tetesnya&lt;br /&gt;adalah cinta, untukmu semata.&lt;br /&gt;Tapi,sekali lagi ragukan aku&lt;br /&gt;bila tetap tersedu,tetap jadi aku.&lt;br /&gt;Ragukan semua&lt;br /&gt;tanpa ragu. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Susunan kata-kata ini mengisahkan sosok seorang ayah yang bertutur pada anaknya,untuk meragukan aku tanpa ragu. Anak dalam puisi ini pun bisa menjadi bermacam-macam makna.&lt;br /&gt;Dalam puisi ini pula kita akan menemukan rasa kekaguman, perasaan yang biasa kita alami sebagai sosok manusia yang mengagumi seseorang. Radhar panca dahana menuliskan ini dengan indah dengan judul : LENGGOKMU,LENGGOK WAKTUKU ; Ratih sanggarwati. Dalam puisi ini kita akan menemukan peristiwa yang intim antara penulis puisi dengan ratih sanggarwati, yang mengalami satu peristiwa yang sama, kenyataan yang sama,yang berjalan beriringan antara mereka berdua. Simaklah bait puisi berikut ;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tih, diamlah sesaat&lt;br /&gt;pernahkah hatimu bershalat&lt;br /&gt;biar ujung kainmu jatuh tak jadi sesat&lt;br /&gt;biar hidupmu berkeluh melulu kasat&lt;br /&gt;Aku menari di lenggok selendangmu,mengira hari menjadi hati&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi ini kita diajak berfikir, merenung, dan mengagumi sosok ratih sanggarwati. Begitupun dalam puisi sejenis yang berjudul Pisau kecil pingkan mambo. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oksigen itu kini bernyanyi dengan melodi dusta //dan katakata yang rakus kuasa,”pingkan mambo” // kau pun mengerat potongan sirloin terakhir // tak segera kau benamkan di mulutmu//karena samudera di dalamnya membuat kapalku hilang layar selalu. …........&lt;br /&gt;“cinta sesunggunya siksaan//entah mengapa sepertinya kau baru menyadari//“atau sesungguhnya ia sekedar korban”//aku menggigit pisau dan menelannya&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;berbeda dengan puisi yang sebelumnya, puisi ini mengisyaratkan perhatian radhar panca dahana pada sosok perempuan yang memikat perhatiannya. Dari bait kedua adalah perhatian radhar pada kisah cinta pingkan mambo. Yang memilukan, cinta sesungguhnya siksaan, atau sesunggunya ia sekedar korban adalah ekspresi yang ditulis untuknya. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tentang cinta dan kemanusiaan ; lalu akukau,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya manusia hanya mengisahkan dan sekadar bercerita. Kematian adalah tapal batas antara hidup dan hidup berikutnya. Dalam kehidupan itulah manusia menemukan cinta, menemukan istirahat, dan melewati masa dan mengikat peristiwa. Cinta adalah bagian dari ekspresi terindah manusia dalam hidup ini. Begitupun radhar mengisahkan cinta dalam sebentuk puisi indahnya dalam puisi aku mencintaimu &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;seperti punguk yang tak muluk/teh pahit yang terseduh itu/manis lewat amylasa di lidahku ;seperti itu, aku mencintaimu/sederhana saja. Seperti jeruk yang segera busuk kau matangkan semua sabar/dalam jelaga matamu/mengamuk dalam benak/ meremuk segala kehendak/membusuk semua kelak/sampai matai semua defensi/takluk sedalamnya ngeri/ di jamban tempatku berdiri ;seperti itu,seluruh ceritaku/meninggalkanmu pergi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cinta dalam puisi ini mengisahkan cinta adalah sebentuk kisah, sebentuk cerita, sebentuk kebersamaan yang sederhana, yang tak kekal, dan kelak akan kembali menjadi cerita yang semua itu akan meninggalkan yang dicintai. Radhar menggambarkan cinta yang ada hanyalah sepintas lalu, yang biasa saja dan penuh dengan kesederhanaan. Kata kesederhanaan seperti tak terlepas dari biografi radhar yang memulai kisahnya dengan segenap kesederhanaan yang akrab dengan kemiskinan. Namun, radhar mencintai dan mempunyai jalan seni yang awal dianggap tidak sesuai dengan keluarganya. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Puisi cinta yang lain bisa ditemukan dalam IBU YANG BAIK,SEINDAH ITUKAH KAMU?,DARI CINTA YANG SEDERHANA. &lt;em&gt;Puisi-puisi radhar adalah puisi yang halus, pelan, lirih tapi terkadang menusuk ulu hati. Yang biasa, wajar dan kadang penuh dengan ketegangan.Lewat puisi-puisinya kita kembali diajak untuk bertamasya tentang manusia, manusianya, kehidupan, kehidupannya, dan kehidupan kita. Sebagaimana kita manusia, kita pun akan menemukan rasa dalam kata-katanya.&lt;/em&gt; Itulah yang diharapkan dengan hadirnya puisi ini. Lalu aku, lalu akukau, lalu kita, dan semua ini akan berlalu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di pengajian jum'at petang&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-2026504454239709075?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/2026504454239709075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/manusia-puisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2026504454239709075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2026504454239709075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/manusia-puisi.html' title='BUKU  Manusia = Puisi'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vsTujcCLVdA/ToOIhwJ24WI/AAAAAAAAAIc/p6TyBXS3JqY/s72-c/lalu-aku_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-2084337835584686021</id><published>2011-09-17T00:00:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T00:03:04.877-07:00</updated><title type='text'>Memerhatikan Anak Jalanan Perempuan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kini di era modernitas, kehidupan para anak-anak jalanan di kota-kota besar makin lama makin bertambah banyak dan tidak terurus. Dari anak-anak jalanan yang ada, anak jalanan perempuanlah yang cenderung rentan akan adanya kekerasan seksual. Laporan UNICEF menyebutkan satu dari lima anak perempuan di negara berkembang tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya. Hanya 43 persen anak perempuan mengenyam pendidikan menengah.&lt;br /&gt;    Menurut sumber dari kementrian pemberdayaan perempuan Diperkirakan 1,8 juta anak perempuan di dunia dilacurkan pada usia di bawah 18 tahun. Di Indonesia, sekitar 30 persen dari perempuan yang dilacurkan berusia di bawah 18 tahun. Diperkirakan 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seksual dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan setiap tahun. Sedangkan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Dr Gianfranco Rotigliano mengingatkan, sekitar 20.000 perempuan Indonesia meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan.&lt;br /&gt;    Problematika perempuan dan angka kematian ibu sebenarnya bisa dikurangi ketika perhatian kita pada anak-anak perempuan lebih ditingkatkan. Perhatian kita pada anak-anak perempuan merupakan investasi kita untuk masa depan bangsa kita. Sebab dari perempuanlah akan dilahirkan generasi-generasi penerus masa depan. Perhatian kita pada perempuan adalah dengan memperhatikan pendidikan mereka. Perhatian kita kepada pendidikan inilah yang akan menyelamatkan masa depan mereka. Berdasarkan hasil penelitian, investasi $1 untuk pendidikan bagi anak perempuan akan mengahsilkan sepuluh kali lipat produktifitas lebih banyak investasi dibanding anak laki-laki(unicef).&lt;br /&gt;    Perempuan utamanya anak jalanan menjadi sosok yang tidak hanya butuh perhatian secara pendidikan, ekonomi, tetapi juga butuh suatu lingkungan yang kuat yang mendukung mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berpribadi. Sayang, perhatian pada mereka saat ini lebih sering bersifat sementara melalui bentuk-bentuk bakti social atau berupa pendidikan yang dilakukan oleh beberapa LSM yang cenderung bersifat praktis saja. Padahal, sejatinya ada yang lebih dibutuhkan mereka selain bimbingan praktis, yaitu bimbingan psikologis, penguatan ekonomi dan juga pemberdayaan terhadap mereka. Selama ini, program yang menjadi unggulan di kota-kota dunia, adalah kota ramah anak. Anak-anak sebenarnya menginginkan beberapa hal yang menjadi kebutuhan mereka diantaranya kota yang diinginkan oleh anak adalah kota yang menghormati hak-hak anak yang diwujudkan dengan (Innocenti Digest No.10/10/02:22).&lt;br /&gt;Pertama, menyediakan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, sanitasi yang sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, Kedua,menyediakan kebijakan dan anggaran khusus untuk anak,ketiga menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman, sehingga memungkinkan anak dapat berkembang. Anak dapat berekreasi, belajar, berinteraksi sosial, berkembang psikososial dan ekspresi budayanya. Keempat, keseimbangan di bidang sosial, ekonomi, dan terlindungi dari pengaruh kerusakan lingkungan dan bencana alam, kelima,memberikan perhatian khusus kepada anak seperti yang tinggal dan bekerja di jalan, eksploitasi seksual, hidup dengan kecacatan atau tanpa dukungan orang tua. Keenam,adanya wadah bagi anak-anak untuk berperan serta dalam pembuatan keputusan yang berpengaruh langsung pada kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Sayang sekali di negeri kita, beberapa criteria kota ramah anak ternyata belum mampu diwujudkan di negeri ini. Misalnya akses air bersih,sanitasi dan jaminan kesehatan. Anak-anak jalanan di negeri ini seringkali mengalami kesulitan mencari air bersih, sanitasi, apalagi jaminan kesehatan di kota-kota besar. Perhatian yang lebih pada anak-anak jalanan, hal ini pun sepertinya juga belum mampu diwujudkan oleh pemerintah kita. Dinas-dinas social yang ada lebih difungsikan dengan program-program dan proyek dari para donatur ketimbang penyelesaian program yang substansial dibutuhkan para anak jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para anak-anak jalanan ini terpaksa hidup di jalanan karena permasalahan ekonomi. Permasalahan ekonomi inilah yang menjadi ujung dari persoalan mengapa timbul anak jalanan perempuan selain broken home. Angka kemiskinan di negeri ini makin lama makin meningkat dari tahun ke tahun. Meski pemerintah sudah mengendalikan dengan program-program kuratif seperti raskin, BLT, dan juga pnpm tapi di dalam praktek pelaksanaannya belum mampu memenuhi kebutuhan para si miskin. Data dari bank dunia menunjukkan bahwa kemiskinan Indonesia masih berkisar sekitar 42,6 % (modjo,2009). Hal ini menunjukkan ironi yang nyata, karena Negara kita adalah Negara yang kaya raya. Disamping merebaknya korupsi, permasalahan hukum, kita juga memiliki problem mentalitas para pemimpin yang inferior menghadapi asing yang menjarah kekayaan alam kita.&lt;br /&gt;     Jika permasalahan ekonomi dan kemiskinan ini bisa kita selesaikan, maka anak-anak jalanan tidak akan ada lagi. Sebab ekonomi yang kurang mampu rentan dengan konflik keluarga, dan seringkali anak yang menjadi korban. Selain itu, perlu dibangun kembali komitmen pemerintah, lingkungan pendidikan, dan masyarakat agar lebih memperhatikan anak perempuan yang ada di daerahnya masing-masing dan di kota-kota besar. &lt;br /&gt;      Perhatian kita pada mereka, akan membantu kita mengurangi problem social di perkotaan dan juga membantu mereka untuk menemukan kembali kehidupan mereka yang lebih ramah daripada kehidupan jalanan. Bukankah kita sepakat bahwa kemiskinan adalah musuh dari peradaban. Sebagaimana para perempuan dari grameen bank sudah berhasil melawan kemiskinan. Hendaknya ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa perempuan adalah layak mendapat perhatian, karena mereka sering dimarginalkan, disubordinasikan, salah satunya adalah anak jalanan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Penulis adalah mahasiswa UMS, jurusan bahasa inggris, TULISAN DIMUAT DI MAJALAH PAPIRUS edisi AGUSTUS 2011 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-2084337835584686021?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/2084337835584686021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/memerhatikan-anak-jalanan-perempuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2084337835584686021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/2084337835584686021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/memerhatikan-anak-jalanan-perempuan.html' title='Memerhatikan Anak Jalanan Perempuan'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-1232383946673498601</id><published>2011-09-13T23:48:00.000-07:00</published><updated>2011-09-13T23:54:13.496-07:00</updated><title type='text'>Bangsa Kita ; Masih Dijajah???</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa yang langsung maupun tak langsung” &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;begitu seru sukarno. Namun,berpuluh tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya,hutang bangsa ini membengkak, SDM kita masih dikuasai elit,para pejabat, dan perusahaan luar negeri.&lt;br /&gt; Kedaulatan ekonomi negeri ini sepertinya sudah hilang sebab negeri ini sudah dihabisi dari berbagai aspek. Posisi Indonesia secara geografis sedari dulu sudah menempati percaturan penting dalam posisi ekonomi-politik dunia.Indonesia menjadi sasaran bagi Negara-negara besar dunia untuk dijadikan daerah pasar yang empuk. Kekayaan alam Indonesia yang begitu luar biasa membuat para negeri capital tertarik untuk menikmati apa yang ada di “bumi emas”ini.Tak heran Tan malaka menyatakan ; “Tidak ada Negara yang letaknya lebih berbahagia dari letak Indonesia”.&lt;br /&gt; Dalam ingatan kita masih segar ketika presiden Bush datang ke Indonesia.Sikap inferior muncul pula di negeri kita. SBY merasa perlu membuat lapangan helicopter di Bogor hanya untuk menyambut Presiden bush. Meskipun kita tahu kedatangan bush tidak lain adalah demi memperlancar kepentingannya memperlancar kolonialisasi di Indonesia secara halus. &lt;br /&gt; Perjuangan melawan penjajah tidak saja dari luar, tetapi juga dari dalam. Meminjam istilah yang dipakai sukarno : “Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa yang tak langsung maupun yang langsung”.Oleh karena itu, bagian dari perjuangan kemerdekaan yang sepertinya masih relevan sampai sekarang adalah mengakhiri penghisapan ekonomi. Lebih lanjut lagi sukarno berbicara tentang cita-cita nasional kita setelah merdeka : “Cita-cita kita dengan keadilan social ialah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat tehnologi modern. Asal tidak dikuasai system kapitalisme”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan kita : Tetap sebagai bangsa terjajah???&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Dulu,kita dijajah oleh Belanda,sekarang kita dijajah oleh para elit dan pejabat tinggi kita sendiri.Sumber daya alam kita digadaikan oleh mereka. Perang dalam melawan kapitalisme sudah berawal sejak era sebelum kemerdekaan. Ketika itu perlawanan masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional Ini berawal ketika VOC [vereenigde Oost-Indische Compagnie/ kompeni dagang indonesia timur, 1602-1799]telah tampil sebagai kekuatan monopoli dagang atas beberapa hasil bumi nusantara. Dan setelah VOC bangkrut, pada 1799, kekuasaannya pada 1800 diserahkan pada pemerintah belanda. Sampai pada 1910 pemerintah belanda telah meluaskan kekuasaannya atas hampir seluruh nusantara.&lt;br /&gt; Sukarno menggambarkan kekejaman VOC ini dalam pembelaannya di depan pengadilan kolonial bandung membeberkan : &lt;blockquote&gt;”…………..Kita mengetahui, bagaimana ,untuk menjaga monopoli di kepulauan maluku itu, kerajaan makassar ditaklukkan, perdagangannya dipadamkan, sehingga penduduk makassar itu ratusan, bahkan ribuan yang kehilangan mata pencaharian dan terpaksa menjadi bajak laut yang merampok kemana-mana. Kita mengetahui, bagaimana di tanah jawa dengan politik ”devide et impera”yakni dengan poltitik ” memecah belah” seperti dikatakan Prof. Veth atau Clive Day atau Raffles,kerajaan kerajaannya satu persatu diperhamba, ekonomi rakyat oleh sistem monopoli, contingenten dan leverantien,sama sekali disempitkan, ya sama sekali didesak dan dipadamkan”&lt;/blockquote&gt;.&lt;br /&gt; Pada masa setelah kemerdekaan soekarno dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan ekonomi kita dari penghisapan asing. Pada awal kemerdekaan walaupun kemerdekaan baru diakui secara resmi oleh masyarakat internasional, akan tetapi proposal utang luar negeri sudah diajukan sejak tahun 1947. Bahkan di tingkat wacana, diskusi tentang arti penting utang luar negeri berlangsung sejak november 1945. Yang mencengangkan, pengakuan kemerdekaan indonesia harus dibayar dengan pengakuan utang indonesia kepada negeri hindia belanda. Sehingga pada tahun 1950, pemerintah memiliki dua utang luar negeri pertama warisan hindia belanda sebanyak US $ 4,3 miliar dan utang baru US $ 3,8 miliar. &lt;br /&gt;      Setelah itu, utang luar negeri baru terus mengalir. Dalam periode 1951-1956, utang luar negeri yang dibuat pemerintah masing-masing berjumlah : Rp. 4,5 miliar, rp. 5,3 miliar,Rp. 5,2 miliar, Rp. 5,2 miliar, Rp.5,0,miliar, dan Rp. 2,9 miliar. Kemudian, kondisi politik yang mempengaruhi ekonomi indonesia pada waktu itu adalah peristiwa konfrontasi indonesia dengan malaysia pada tahun 1964, yang kemudian Soekarno menasionalisasi perusahaan-perusahaan inggris, ini adalah proses nasionalisasi kedua setelah perusahaan-perusahaan belanda dinasionalisasi tahun 1956. Bahkan sampai saat ini utang indonesia yang harus dibayar dan total bunga yang harus dilunasi adalah sebesar Rp.482 trilliun. &lt;br /&gt;      Campur tangan Amerika ke indonesia dan tidak tahan melihat hal ini, sehingga Soekarno mengeluarkan kata-kata ”go to hell with your aid” dan mengecam amerika. Oleh karena itu, pada tanggal 14 februari 1966 ia mengeluarkan undang-undang nomer 1 tahun 1966 tentang penarikan diri Indonesia dari keanggotaan IMF dan bank international. Soekarno menganggap kongkalikong dengan negara imperialis untuk menjajah negara berkembang. Perlawanan ini terpaksa harus dibayar mahal oleh Soekarno dengan menghilangnya bantuan dari amerika dan beberapa Negara lain.Seiring memuncaknya krisis ekonomi-politik pada waktu itu, dan 11 maret 1966 pemerintahan soekarno secara sistematis mendapatkan tekanan menyerahkan kekuasaannya kepada soeharto.Dengan bercokolnya rezim Suharto atau orde baru,Indonesia mulai tergantung pada pihak asing.&lt;br /&gt; Pada tanggal 10 januari 1967, Soekarno juga dipaksa oleh Soeharto pada waktu itu, untuk menandatangani undang-undang penanaman modal asing. Ia harus berurusan dengan nyawa ketika tidak menandatangani undang-undang tersebut yang membuka keran lebar-lebar akan prosesi penghisapan terhadap negeri ini secara ekonomi. Sejak saat itulah, asing mulai menancapkan modalnya untuk indonesia, termasuk pada peminjaman utang. Sampai pada tahun 1970, telah banyak sekali rentetan pertemuan antara indonesia dan kreditornya. &lt;br /&gt;        Pada bulan juli 1969, Herman J, Abs berkomentar terhadap laporan perkiraan utang luar negeri sebanyak US $ 3,1 miliar. Dan ia berkomentar tantang kondisi utang luar negeri indonesia : &lt;blockquote&gt;” Meskipun menggunakan asumsi yang sangat optimis tentang neraca pembayaran dan perkembangan anggaran indonesia, dan ditambah dengan asumsi bantuan luar negeri yang besar dan berkelanjutan, saya tidak bisa tidak untuk tidak setuju dengan kesimpulan IMF dan international Bank for Reconstruction and development bahwa pembayaran dengan skala sebesar ini sampai beberapa tahun mendatang pun tetap di luar jangkauan kapasitas keuangan indonesia”&lt;/blockquote&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Ini diperburuk oleh Soeharto dengan cara merangkul dan memperkaya kerabat, kolega serta keluarganya. Obral SDM Indonesia ke pihak asing pun berlangsung pada masa orde baru,dengan mayoritas keuntungan masuk ke kas pribadi Suharto dan kroni-kroninya.Pramudya ananta toer pernah mengatakan :“ Selama beratus-ratus tahun lamanya negeri ini dijajah oleh bangsa barat, negeri ini dihisap, dirampas kekayaan alamnya,negeri yang begitu kaya, disulap menjadi negeri pengemis karena tidak adanya karakter pada kaum elit”. Pemikiran seperti inilah yang membuat pram dimusuhi Suharto.&lt;br /&gt; Namun cita-cita reformasi sepertinya belum berhasil sampai sekarang. Megawati mengegolkan privatisasi BUMN ke pada pihak asing termasuk penjualan gas alam cair (LNG) Tangguh di Papua kepada Cina. Tidak hanya itu, pada masa pemerintahan SBY, saat Kabinet Indonesia Bersatu berkuasa, 2004-2009, terjadi peningkatan hutang yang luar biasa. Dari 1275 trilliun di akhir tahun 2004 menjadi 1704 triliun tahun 2005.sedangkan utang dalam negeri dari 662 trilliun menjadi 937 trilliun.&lt;br /&gt;       Bahkan sampai saat ini utang indonesia yang harus dibayar dan total bunga yang harus dilunasi adalah sebesar Rp.482 trilliun Sedangkan dari sisi regulasi banyak produk hukum yang pro neo liberalisme seperti UU penanaman modal, UU MINERBA, UU ketenagalistrikan, UU BHP, danlain-lain. Regulasi ini selain menguntungkan parakonglomerat, juga semakin menindas rakyat. UU MINERBA yang berdampak pada eksploitasi yang berlebihan dan UU penanaman modal yang menghapus proteksionisme sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muhammad Yunus dan Muhammad Hatta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Di Bangladesh ada Muhammad yunus yang memikirkan ekonomi rakyat kecil, dulu Indonesia sempat punya Bung Hatta dengan konsep koperasinya. Tapi kini, bukan kemiskinan yang dimusuhi tapi rakyat miskin yang dibuat susah!. Di Bangladesh,Muhammad yunus dengan berani memerangi kapitalisme dengan memberi kesempatan usaha dan memberi kesempatan usaha dan member kepercayaan kepada rakyat miskin.&lt;br /&gt;      Bagi muhammad yunus,kemiskinan adalah musuh peradaban,bukan orang miskin. Mereka justru diberi kesempatan. Yunus mendirikan Grameen Bank. Bila bank-bank lain umumnya tidak sudi memberi pinjaman dengan bunga yang cukup kecil kepada orang yang dianggap miskin, Grameen Bank berani memberi pinjaman ini.Sebagai jaminan,Grameen bank mempunyai sistem ”group solidaritas”,yaitu beberapa orang mengajukan pinjaman dan saling memberi jaminan bahwa mereka bisa membayar kembali utang tersebut.&lt;br /&gt;Grup ini juga saling mendukung usaha serta ekonomi satu sama lainnya.Dengan demikian rakyat ”miskin”ini bisa mandiri dan memajukan ekonomi mereka dengan usaha sendiri.Dirintis sejak tahun 1976,grameen bank mempunyai 28.000 anggota pada tahun 1982. Di indonesia,kita sempat mempunyai Muhammad Hatta yang mencoba memperbaiki ekonomi rakyat kecil dengan koperasi, yang pada prinsipnya memperbaiki ekonomi lemah.Tujuan koperasi bukanlahmencari laba yang sebesar-besarnya,melainkan melayani kebutuhan bersama dan wadah partisipasi pelaku ekonomi skala kecil. Dalam koperasi perekonomian disusun sebagai usaha bersama dengan asas kekeluargaan. Para anggotanya saling bekerjasama untuk memajukan ekonomi mereka.Koperasi bukan sekedar pemberian kredit semata,tetapi juga pendampingan dan pembinaan berkelanjutan bagi anggota koperasi tersebut.&lt;br /&gt;       Tapi di negeri kita,prinsip koperasi bung Hatta seakan dilupakan. Justru orang miskin sering dimusuhi oleh pemerintah.Rumah mereka digusur, pekerjaan mereka seringkali diganggu(contohnya anak-anak asongan yang sempat dilarang pada masa orde baru hingga kini).Kesempatan bagi mereka masih sempit.Ekonomi rakyat masih dijajah oleh para pejabat tinggi, kaum elit, dan perusahaan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;-Arif saifudin yudistira&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia TULISAN DIMUATDI MAJALAH BHINNEKA EDISI 7juli 2011&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-1232383946673498601?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/1232383946673498601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/bangsa-kita-masih-dijajah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1232383946673498601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1232383946673498601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/bangsa-kita-masih-dijajah.html' title='Bangsa Kita ; Masih Dijajah???'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-3131635291872779656</id><published>2011-09-13T11:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-13T11:44:06.730-07:00</updated><title type='text'>Universitas Mengubah Identitas Kita</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Peran universitas dalam menciptakan para pekerja dan sebagai penyedia bagi dunia industrial memang sudah sangat lazim. Begitupula peranan universitas sebagai pencetak pengangguran adalah hal yang lazim di benak kita. Apa yang salah dari universitas kita? Jika demikian halnya yang terjadi. Lebih lanjut tentu kita akan bertanya, apa yang salah dari dunia pendidikan kita?.&lt;br /&gt; Di universitaslah kalau kita perhatikan terdapat praktek-praktek penyeragaman mulai dari cara berpakaian hingga cara kita berfikir, begitulah Roem topatimasang yang berceloteh lewat buku sekolah itu candu. Di universitas pula kita sering mendengar kapitalisasi kurikulum, mitos nilai-nilai, dan konsumsi massal pengetahuan sebagaimana yang diungkapkan ivan illich dalam deschooling society.&lt;br /&gt; Lalu, apakah kemudian kita masih berharap pada universitas dalam rangka menciptakan mimpi-mimpi perubahan?. Persoalan mendasar tentang universitas ini sudah dibaca oleh sudjatmoko sejak puluhan tahun lalu yang menjadi tantangan universitas-universitas di Indonesia. Tujuan dari universitas adalah “mampu mengucapkan tekad dan harapan untuk mengubah kondisi kita, dan mampu pula untuk mengucapkan tekad dan harapan itu dalam bentuk usaha yang segar dan militant”(menjadi bangsa terdidik menurut sudjatmoko, kompas 2010).&lt;br /&gt; Mahalnya pendidikan tinggi masih menjadi problema yang sampai sekarang belum bisa diselesaikan oleh universitas kita selama puluhan tahun. Douglas seorang peneliti amerika mengatakan : problem klasik universitas ke depan tidak lain dan tidak bukan adalah persoalan pembiayaan. &lt;br /&gt; Sejak dari awal masuk di perguruan tinggi budaya-budaya penghilangan identitas sudah muncul dikala kita memasuki masa orientasi mahasiswa atau lebih dikenal dengan OSPEK. Disanalah mulai dikenalkan budaya penurut, dikenalkan budaya mahasiswa dengan cara belajarnya, budaya penyeragaman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;Almamater&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sejak semula, kita tidak diajarkan bagaimana kultur dan identitas yang kita bawa masuk di universitas. Penghilangan identitas dan penyeragaman ini makin kentara dengan hadirnya seragam di perguruan tinggi dan hadirnya alma mater. Ini mengajarkan pada kita, manusia tidak dilahirkan sederajat, tapi disederajadkan oleh alma mater(Illich). Begitupun ketika sudah memasuki dunia perkuliahan dan dunia kelas, seolah-olah dunia kita adalah kelas, dan kemampuan serta pengetahuan kita diukur dari kehadiran kita di kelas dan seberapa aktif kita dikelas. Yang lebih menyedihkan adalah persoalan budaya yang hilang kian lama tanpa disadari oleh mahasiswa-mahasiswa kita yang rata-rata adalah dari kultur agraris. Makin banyak sawah yang hilang karena semakin menjamurnya proyek perumahan-perumahan, dan makin tidak adanya para pengruwat sawah ini, karena mereka( para mahasiswa) lebih senang dan ingin menjadi elit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Dr. A.P.E.Korever seorang peneliti belanda, pernah menuliskan pesan tjokroaminoto dalam bukunya “ Sarekat Islam Gerakan ratu adil?”,1985 : “Murid-murid sekolah desa belajar menghilangkan cintanya kepada desa mereka dan pertanian, mereka mulai belajar menulis dan membaca…menjadi “kaum muda” modern, kaum muda yang sesat. Artinya mereka memperoleh pengertian yang salah. Mereka tidak lagi menjadi petani dan membanting tulang dalam lumpur mengerjakan sawah, seperti yang dilakukan oleh bapaknya.Kalau mereka menjadi magang, makin banyak biaya yang harus dikeluarkan orangtua mereka untuk membeli sepatu, setelan putih dan kaca mata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Dari kesaksian Tjokro aminoto itulah mestinya kita bisa belajar tentang peranaan universitas. Universitas boleh mengembangkan pengetahuan dan mencipta pelembagaan dan penyalur (distribusi) pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi negeri ini. Akan tetapi universitas tidak boleh menggilas identitas cultural dan identitas mahasiswanya. Justru sebaliknya, peranan universitas adalah mengembangkan dan meletakkan mahasiswanya sesuai bakat dan minat yang dia kuasai. Dari potensi dan pengembangan kreatifitas mahasiswa itulah, universitas akan memperoleh tenaga ahli yang cakap dan tangkas serta tanggap akan perubahan.&lt;br /&gt;Dr.Sudjatmoko pun pernah berpesan bagi mahasiswa kita yang berada diluar negeri :” Perhatikanlah dinamisasi dan kondisi terkini negeri Anda, agar anda tidak menjadi un employed intellectual,sehingga pengetahuan yang anda peroleh di luar negeri akan menjadi pengetahuan yang berguna dengan memperhatikan relevansi pengetahuan tersebut dengan perkembangan di negeri anda”. Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah para sarjana luar negeri adalah agent-agent para komparador asing yang memata-matai negeri ini dan menjadi para intelektual tukang yang mengabdi dan menghamba pada kepentinga asing(sujiwo tejo). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Oleh karena itu, universitas kita perlu belajar dari KH dewantara sebagai bapak perintis pendidikan nasional  pernah mengatakan : “hakaekat pendidikan adalah pemberian kemerdekaan dan kebebasan pada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kekuatan lahir batin, hakekat filsafat hidup dan pendirian hidup, yang disertai kesadaran religius dan kebudayaan sebagai fondasinya”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di  kawah institute Indonesia,Tulisan dimuat di SOLO POS 13 september 2011 rubrik mimbar mahasiswa &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-3131635291872779656?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/3131635291872779656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/universitas-mengubah-identitas-kita_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3131635291872779656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/3131635291872779656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/09/universitas-mengubah-identitas-kita_13.html' title='Universitas Mengubah Identitas Kita'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-1790818002475341959</id><published>2011-08-04T06:54:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T06:56:00.564-07:00</updated><title type='text'>Perang Kata dan Kata  yang Berperang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh: Arif saifudin yudistira&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan dunia modern, bahasa memegang peranan penting untuk menjadi pelopor dalam perubahan. Tanpa kelihaian dan kemahiran orang dalam memanfaatkan bahasa, maka ia bisa menjadi makhluk yang sangat ketinggalan meskipun ia memiliki kemampuan diri yang luar biasa. Bahasa menjadi alat, dimana hegemoni ideologi, kepentingan dan berbagai visi dan misi disuarakan. Salah satunya bahasa tersebut dimainkan dalam bentuk media visual maupun cetak. Dalam sejarah negeri ini kita mengenal Mas marco kartodikromo seorang tokoh jurnalis yang sangat luar biasa yang menggunakan bahasa yang bergerak-nya melalui media dan pers pada waktu itu. Selain itu, ada juga Tjokroaminoto yang bergerak melalui bahasa lisannya melalui pidato-pidatonya yang menggerakkan rakyat. Kedua tokoh diatas sama-sama memainkan peranannya dalam menggunakan bahasa sebagai alat gerak, sebagai alat penyampaian visi- misi yaitu indonesia merdeka.&lt;br /&gt;Pers merupakan sarana strategis dalam menyampaikan pikiran-pikiran kita untuk mempengaruhi pikiran-pikiran massa rakyat pada waktu itu, begitupun dengan saat ini. Pers merupakan alat ideologisasi, alat doktrinasi, alat penguasa untuk mengatur maunya penguasa, agar rakyat tidak melakukan perlawanan terhadap sesuatu yang dipandang menindas dan tidak benar. Atau sebaliknya pers juga bisa merupakan alat untuk melakukan perlawanan terhadap rezim atau penguasa yang menindas rakyat seperti pers pada jaman pra kemerdekaan abad 19-an. Pers pada waktu itu dimanfaatkan betul oleh para tokoh pergerakan untuk melakukan aktualisasi dari pemikiran-pemikirannya. Maka tidak heran pada waktu itu, para penjajah dibuat bingung dengan dinamisasi para tokoh pergerakan itu.Selain itu, tampak jelas betul bagaimana pers memainkan peranannya sebagai penyampai ide, gagasan revolusioner dari para pemiliknya, juga dari para “kromo” yang tertindas yang ingin melakukan perlawanan. Disamping itu, gagasan yang muncul tidak sedikit yang kemudian mendapatkan perlawanan, respon, kritik, dan serangan balik dari orang atau pers yang bertolak belakang.&lt;br /&gt;Perang kata ini muncul sejak lama, misalnya ketika 31 januari 1914 pada waktu Dunia bergerak pertama kali terbit, yang memuat artikel yang kontroversi dengan fihak kolonial dengan tajuk “pro of contra Dr.Rinkes” yang berisi pertentangan marco dengan Dr.rinkes. Kemudian, pada 6 april  1914 juga, terjadi pro kontra antara Dunia bergerak dengan koran Oetoesan Hindia yang pada waktu itu digawangi oleh tjokro aminoto yang berdebat tentang Marco dan Wagio redaksi OH yang saling mengkritik diantara keduanya. Dialektika kata dalam pers saat itu menjadi satu diskusi dan iklim yang mendewasakan pada satu sisi, sisi lain juga menunjukkan kepada rakyat bahwa pers punya misi, punya ideologi yang mesti dipertahankan dan diwujudkan dalam sikap yang tegas. Sehingga tulisan-tulisan pada waktu itu, sangat terang maksudnya dan cenderung berupa subjektif lebih mendominasi.Sebut saja tulisan suwardi suryaningrat “andai aku seorang belanda”. Tulisan tersebut sangat subjektif dan jelas maksudnya, sama seperti karakter tulisan-tulisan Soekarno, Muh. Hatta, Natsir, dan juga Agus salim yang dengan bahasa-bahasa yang subjektif dan lebih mengena kepada rakyat.&lt;br /&gt;Melihat karakter pers sekarang, tulisan-tulisan yang berbau subjektif cenderung disisihkan dan tidak mendapatkan tempat. Media saat ini cenderung mementingkan bagaimana susunan tulisan terstruktur dan nikmat untuk dibaca. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kejayaan kaum positifistik di era post modernitas. Tulisan lebih menampilkan keni'matan semu dan kegenitan daripada isi atau maksud yang disampaikan. Sehingga tulisan-tulisan saat ini yang muncul dalam pers kita cenderung kaku, tidak mengena, dan cenderung menggunakan bahasa elit atau bahasa intelektual.  &lt;br /&gt;Begitupun kritik dan budaya dialektika cenderung melemah, sebab tulisan yang muncul sekali selesai, dan cenderung mengakhiri dengan alternatif solusi yang cenderung instant dan terkesan objektif. Dengan karakter tulisan yang demikian, tidak memungkinkan rakyat atau massa melakukan respon maupun kritik terbuka melalui pers yang sama ataupun pers yang berbeda. Padahal, semestinya di era kebebasan pers ini, iklim dialektika dan diskusi yang konstruktif ketika sarana komunikasi verbal tidak mampu menampung itu, maka pers idealnya mampu menampung itu.&lt;br /&gt;Perang kata dan kata yang berperang sangat penting dimunculkan di era saat ini, untuk menjembatani kemandegan berfikir, dan kejayaan rezim positifistik. Apalagi saat ini rezim positifistik ini lebih inten menghujam dunia kampus melalui format gerakan “PKM” yang lebih berorientasi pada hasil dan hadiah yang diburu untuk kebutuhan mahasiswa. Sehingga dengan memunculkan kembali perang kata melalui pers kita, harapan kita tulisan yang muncul akan memberi tempat kepada bahasa-bahasa kaum “kromo” dan menghidupkan kembali budaya kritis.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia, LITBANG PERS FIGUR UMS  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;tulisan dimuat di koran opini,com edisi 29-7-2011  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-1790818002475341959?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/1790818002475341959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/08/perang-kata-dan-kata-yang-berperang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1790818002475341959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/1790818002475341959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/08/perang-kata-dan-kata-yang-berperang.html' title='Perang Kata dan Kata  yang Berperang'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-6979203930177309050</id><published>2011-07-05T09:24:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T09:26:27.695-07:00</updated><title type='text'>Mari, Mendeteksi Kebohongan (Crap detecting)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebohongan adalah kata yang ternyata tidak ramai dalam dunia perpolitikan di negeri ini, tapi mulai merambah dalam dunia pendidikan. Ternyata moralitas yang selama ini didengung-dengungkan oleh kemendiknas kita, yang masuk melalui pendidikan karakter belum mampu diaplikasikan penuh dalam dunia yang menyuarakannya yakni dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan kita kembali tercoreng dengan dibukanya kejujuran atas kedok yang hampir tiap tahun muncul dalam kasus UN. Kali ini ada ibu siami yang menyuarakan kejujurannya yang justru berakibat dikucilkan dan dicerca oleh warga masyarakatnya. &lt;br /&gt; Ibu siami dihujat dan diusir warganya lantaran melaporkan kasus mencontek massal saat ujian nasional mei silam.  Anaknya alif adalah anak yang pintar tapi diperintahkan gurunya untuk mencontek massal. Alif pun berontak dan tak mau melakukan yang tak sesuai dengan nuraninya,hingga ia melapor pada ibunya. Alhasil, ibunya dan anaknya justru menimpa hasil dari kejujurannya dengan dikucilkan masyarakatnya. Kejujuran menjadi nilai yang diabaikan sebab Negara abai terhadap persoalan ini. Meski sudah dibuktikan oleh pengakuan anaknya, tapi pemerintah tetap saja membantah kalo ada mencontek massal, Mendiknas pun menolak diadakan UN(SM,15/6/11). Pemerintah justru menyalahkan pihak guru. Persoalan kejujuran menjadi masalah yang diabaikan pemerintah karena nasib pelapor contek massal justru masih belum memperoleh ketenangan. &lt;br /&gt; Dunia pendidikan kita menjadi cermin yang bisa dilihat secara gamblang bahwa pendidikan kita ternyata masih belum bisa menanamkan fondasi moralitas utamanya kejujuran dalam sekolahan. Yang menjadi apparatus ideologis menurut pierre bordieu justru gurunya sendiri yang dituntut mengatasnamakan “demi kebaikan bersama”. Tuntutan ini pun tidak lahir secara tiba-tiba melainkan iklim masyarakat yang mendukung dan mendorong pola semacam ini. Nilai UN dijadikan standar, atau jumlah kelulusan yang dijadikan tolak ukur kualitas sekolahan. Akhirnya, sekolah yang jumlah muridnya tidak lulus hampir separuh, dinilai sekolah dengan standar buruk. Meskipun disana ada banyak siswa berbakat sepak bola, catur, tari, dan lain-lain. &lt;br /&gt; Akhirnya, sekolah pun beramai-ramai mengejar kelulusan 100 % kalau perlu nilai UN nya bagus semua. Meskipun dengan menghalalkan segala cara. Yang terjadi guru, murid, pengawas, dan semua yang ada di institusi sekolah bergotong-royong ria untuk melakukan ketidak jujuran atau kebohongan. Alhasil, seperti kasus di Surabaya, baru duduk di SD sudah mencontek massal. Kejujuran pun diabaikan untuk mengejar statistic dan pamor sekolahan.&lt;br /&gt; Norbert Wiener menegaskan bahwa sekolah-sekolah saat ini harus berfungsi sebagai “system umpan balik anti-entropik”.Entropi adalah kata yang dipakai untuk menunjukkan kecenderungan umum dan kecenderungan yang tak diragukan lagi dari semua system baik system alam maupun buatan manusia. Proses ini dimaksudkan untuk mengurangi kekacauan dan kesia-siaan. Entropi ini adalah sebuah proses yang tidak bisa diperlambat dan sebagian bisa dikontrol.&lt;br /&gt; Lebih lanjut Norbert Wiener mengatakan : Syarat-syarat sekolah yang bisa disebut sebagai system umpan balik anti-entropik ialah pertama, masyarakat terdidik. Artinya masyarakat tersebut tentu adalah masyarakat berpendidikan dan mengunggulkan logika intelektual. Kedua, menurut john gardner masyarakat yang selalu memperbaharui. Ia atau masyarakat ini adalah seseorang yang memandang aktivitas-aktivitas kelompoknya sendiri sebagai seorang antropolog,mengamati ritual-ritual sukunya, ketakutan-ketakutannya, dengan cara ini seseorang atau masyarakat bisa tahu ketika realitas mulai bergeser terlalu jauh dari pemahaman kelompoknya, sukunya.&lt;br /&gt; Dari syarat-syarat diatas, sekolah kita belum memenuhi syarat diatas, sehingga ketika ada masyarakat pelapor, reaksi masyarakat justru sebaliknya justru melawan dengan kaget dan mengejutkan. Siami adalah crap detector atau pendeteksi kebohongan, akan tetapi tidak bisa di terima oleh logika masyarakatnya sendiri. Ia bisa membaca masyarakat saat ini sudah harus berubah,akan tetapi masyarakat sendiri cenderung lamban menyikapi perubahan. Maklum, sebab di negeri ini kejujuran, moralitas berhenti dalam kurikulum pendidikan berkarakter, tapi tidak ditegakkan benar-benar dalam kehidupan kita sehari-hari. Siami menunjukkan itu, sehingga masyarakat menjadi terbuka dan membuka mata mereka terhadap realitas di masyarakat yang ternyata belum menerapkan dan menegakkan kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terlambat mendeteksi kebohongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan jadikan Negara sebagai panutan dalam mendeteksi kebohongan, karena Negara sendiri justru yang dicap sebagai pembohong paling ulung. Lihat saja komentar salah satu menteri kita yang mengatakan pernagkat korupsi kita tertinggi tidak usah dihiraukan yang dilansir oleh media online menunjukkan Negara ini tidak hanya terlambat mendeteksi kebohongan tetapi malu mengungkapkan kenyataan negeri ini, dan lebih parah lagi abai.&lt;br /&gt; Begitupun pemerintah yang dinilai sebagai rezim pembohong dengan data-data statistiknya yang semu, justru menuduh gerakan tokoh lintas agama sebagai gerakan politik dan tidak murni(ditunggangi) seperti yang diungkapkan oleh sekretaris Dipo alam. Malah dikatakan seperti gagak hitam. Akhirnya masyarakat kita menjadi masyarakat yang tidak hanya cepat melupakan masalah, tapi masyarakat yang mengikuti pola pemerintah yang mengunggulkan citra semu. Akhirnya dari atas sampai bawah, dari sector ekonomi, politik, social, budaya pun meniru budaya yang mengunggulkan citra semu.&lt;br /&gt; Oleh karena itu, langkah siami dan anaknya yang jitu dan membuka mata kita mendeteksi kebohongan harus diapresiasi dan mendapatkan perlindungan yang layak. Ketika langkah siami dan anaknya dicaci, dihujat dan tidak mendapatkan perlindungan yang layak, maka ini menunjukkan bahwa Negara ini tidak hanya cleptokrasi karena korupsi, tapi juga cleptokrasi karena hilangnya nilai-nilai kejujuran. Ketika kejujuran dilingkungan pendidikan sebagai dasar fondasi para penerus bangsa ke depan diabaikan, kemana lagi kita akan berharap akan kejujuran di negeri ini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Penulis adalah presidium kawah institute Indonesia, aktif di IMM Surakarta, mahasiswa UMS.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-6979203930177309050?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/6979203930177309050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/07/mari-mendeteksi-kebohongan-crap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/6979203930177309050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/6979203930177309050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/07/mari-mendeteksi-kebohongan-crap.html' title='Mari, Mendeteksi Kebohongan (Crap detecting)'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-7295478254128952693</id><published>2011-06-28T00:46:00.000-07:00</published><updated>2011-07-04T09:52:29.308-07:00</updated><title type='text'>Drama ternyata Menyenangkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-CK1bpXRnXyE/ThHvup77fTI/AAAAAAAAAHs/55px4dQyE3Y/s1600/fotoku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-CK1bpXRnXyE/ThHvup77fTI/AAAAAAAAAHs/55px4dQyE3Y/s200/fotoku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625540994372697394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARIF SAIFUDIN YUDISTIRA&lt;br /&gt;Mahasiswa FKIP/Bahasa Inggris UMS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRIBUNJOGJA.COM, SURAKARTA - PELAJARAN drama sebagai mata kuliah Fakultas Bahasa di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memunculkan kesan tersendiri bagi kelompok drama kami. Broensist, begitulah nama kelompok kami. Dengan spirit kekeluargaan, hampir setiap minggu kami berlatih dua sampai tiga kali. Drama ini terdiri atas berbagai kelompok, yang ditampilkan 13 Juni-18 juni 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami latihan pun diwarnai suka-duka. Misalnya, ada yang jarang berangkat, dan harus membayar denda Rp 5.000 setiap pertemuan. Denda itu untuk kebersamaan dan kekeluargaan. Dalam mata kuliah ini, kami beranggotakan 50 orang. Kami berlatih mengorganisir orang dan bekerjasama dalam tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain dan tim dituntut kompak untuk menyelesaikan kerja bersama ini. Persiapan kami tergolong cukup mepet, hanya dalam waktu sebulan harus siap menampilkan apa yang menjadi kerja terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelompok kami drama ini berkisah tentang dua gadis kembar berbeda karakter. Keduanya sangat merindukan ayah mereka. Sang ayah lama tidak dijumpai karena situasi perang tak memungkinkannya untuk kembali. Ketika ayahnya kembali dengan sikap agak amnesia, ternyata Red rose tidak menyadari yang datang sang ayah, sedangkan White Lily tahu. Cerita diakhiri  penyesalan yang dalam ketika sang ayah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa puas terlihat di wajah-wajah kami setelah menampilkan drama itu. Drama yang dipersiapkan dengan kerelaan pulang malam setiap latihan. Rasa puas tampak pula dari para pemain yang fotonya sempat nampang di koran lokal. Drama ternyata menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Tulisan dimuat di tribun jogja 27 juni 2011,di rubrik citizen Journalism&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-7295478254128952693?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/7295478254128952693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/06/drama-ternyata-menyenangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7295478254128952693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5677345061594789782/posts/default/7295478254128952693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/2011/06/drama-ternyata-menyenangkan.html' title='Drama ternyata Menyenangkan'/><author><name>Kawah Institute indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00448035795934565789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='15' src='http://1.bp.blogspot.com/_H_nk-gxTk08/SiNcvf1utyI/AAAAAAAAADg/YfGkj4UPNyA/S220/logo+kawah+Institute.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-CK1bpXRnXyE/ThHvup77fTI/AAAAAAAAAHs/55px4dQyE3Y/s72-c/fotoku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5677345061594789782.post-2026380830248317818</id><published>2011-06-25T08:03:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T08:10:08.730-07:00</updated><title type='text'>“Ketakwaan Sejati”</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Arif saifudin yudistira*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;”Tuhan kami adalah nurani,neraka dan surga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami,dengan melakukan kebajikan nurani kami pulalah yang memberi kurnia”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[surat kartini 15 agustus 1902 pada nyonya EC.abendanon,ditulis kembali oleh pramudya dalam buku ”panggil aku kartini saja”]&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;        Sepertinya kita akan sulit mengakui bahwasannya secara falsafati apa yang dikatakan kartini ada benarnya. Mungkin kita akan beranggapan bahwasannya karting sudah atéis, bahwa kartini sosok yang liberal dan apapun itu dalam cara pandang konservatif.&lt;br /&gt; Menurut karting nurani memang menjadi nilai atau patokan dasar seseorang mengamalkan religiositas yang hakiki. Sebab ketika seseorang yang religius, tentu nuraninya akan berbicara jujur. Ia sudah tidak lagi memandang, apalagi membedakan status agama seseorang ketika nurani berbicara.&lt;br /&gt; Esensi ketuhanan sebenarnya akan mampu menjelma dalam kehidupan manusia ketika manusia sudah menyatu atau mampu menuruti kehendak-kehendak Tuhannya. dalam falsafah Jawa kita mengenal istilah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;”manunggaling kawula gusti”&lt;/span&gt;. Yang dimaknai bahwasannya apa yang dilakukan oleh seluruh tubuhnya, aktifitasnya, adalah kehendak Tuhan, kehendak nurani.&lt;br /&gt; Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa di negeri ini masih saja ada semacam konflik laten yang kemudian mengatasnamakan agama?. Negeri ini sudah cukup lelah dilanda dengan berbagai konflik atas nama agama. Dari berbagai permasalahan tentang konflik antar masyarakat beragama sampai dengan kasus terbaru mengenai terorisme yang juga terkesan menyudutkan salah satu agama tertentu.&lt;br /&gt; Konflik yang terlampau panjang dan berlebihan ini seringkali menimbulkan fanatisme yang sempit, yang bukan hanya memperlebar konflik, tapi juga menambah masalah baru. Tekanan psikologis, sosial, maupun budaya akan menyebabkan umat agama tertentu kemudian mengalami ”syndrome fanatisme religius” yang berlebihan.&lt;br /&gt; Ketika hal ini terus dan senantiasa di biarkan, maka tidak heran yang muncul ketika di ceramah-ceramah di gereja, kotbah-kotbah di masjid, dan upacara-upacara keagamaan adalah hujatan kepada kelompok agama tertentu. Dalih pun dikeluarkan bukan hanya dengan ayat-ayat Tuhan, akan tetapi juga atas nama moralitas agama tertentu.&lt;br /&gt; Ini sangat mengkhawatirkan bagi kebhinekaan kita. Menyelami hakikat ketuhanan bukan hanya kemudian kita menjalankan ibadah-ibadah sebagai sebuah rutinitas, melainkan mulai pada tahap aplikasi dalam kehidupannya. Sebagaimana dengan Betrand Russel yang  ia juga menulis buku ”Bertuhan tanpa agama”  dimaknai kita menyembah dan mengaplikasikan nilai-nilai ketuhanan tanpa harus diembel-embeli label agama.&lt;br /&gt; Pejuang revolusioner indonesia tan malaka pernah pula mengatakan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan muslim”&lt;/span&gt;.Secara tidak langsung tan malaka pun sudah memberi contoh kepada kita generasi penerusnya, agama sebenarnya bukanlah pada sisi merk atau sesuatu yang bermakna simbolis semata. Meski kita butuh simbol sebagai sebuah identitas keagamaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menyikapi pluralisme &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang ada pada negeri ini dengan berbagai keanekaragaman dan masyarakat yang plural mengajarkan kita bahwa perbedaan adalah rahmah. Keanekaragaman tersebut termasuk adalah keanekaragaman dalam agama dan pengamalan praktek keagamaan. Sudah menjadi fitroh bahwasannya kita itu diciptakan dengan keanekaragaman.&lt;br /&gt; Pluralisme yang menjadi isu yang hangat yang difahami oleh beberapa kelompok atau agama tertentu seringkali disalah artikan. Pluralisme menurut frans magnis suzeno dimaknai sebagai ”menerima segala perbedaan di antara kita”. Perbedaan tersebut dilihat bukan hanya dari sisi agama, akan tetapi dilihat juga dari sisi yang lain, seperti bahasa, suku, kebudayaan, dan sebagainya.&lt;br /&gt; Akan tetapi, pluralisme oleh beberapa kelompok agama tertentu dimaknai secara sempit yaitu semua agama itu benar. Sehingga gesekan-gesekan antar kelompok agama tertentu menjadi tidak terhindarkan. Sikap menerima, menghargai perbedaan, serta menyikapi segala perbedaan itu dengan arif diperlukan di negeri yang plural ini.Dengan begitu, &lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pluralisme yang dimaknai dan dijunjung tinggi secara bijak bukan menimbulkan konflik, akan tetapi menimbulkan semangat persatuan dan toleransi yang tinggi&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memaknai Religiositas&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet Gundono pernah mengatakan bahwa sederhananya ”agama itu untuk manusia”.Artinya ketika orang yang beragama kemudian menyakiti sesama manusia, orang yang beragama tapi masih merusak alam, orang yang beragama masih menimbulkan keresahan bagi manusia lain, maka tidak berartilah agama manusia tersebut.&lt;br /&gt; Religiositas perlu dimaknai sebagai sesuatu yang bukan lagi eksklusif, tabu, bahkan menakutkan. Makna agama akan tereduksi menjadi sesuatu yang remeh, bahkan ditinggalkan ketika demikian halnya. Memaknai agama yang seperti ini memang bukanlah hal yang mudah. Seringkali dalil-dalil agama begitu difahami secara tekstual dan dimaknai secara sempit, sehingga apa yang sering kita sebut dengan dakwah, atau penyebaran agama dipandang sebagai sesuatu yang keras, menakutkan,dan lain-lain.&lt;br /&gt; Sayang sekali forum-forum kerukunan umat beragama masih saja belum menyentuh pada persoalan substansial yang dihadapi oleh masalah-masalah kemanusiaan dan kebangsaan. Yang seringkali dibicarakan masih saja berkisar pada persoalan-persoalan bagaimana menanggulangi konflik,menanggulangi gesekan antar umat beragama. Para tokoh agamawan belum mulai memikirkan bagaimana kemudian umat beragama bisa bersama-sama memerangi kapitalisme, bagimana umat ini bersatu memerangi kemiskinan, kebodohan, permasalahan kesehatan, dan lain-lain.&lt;br /&gt; Sehingga agama untuk manusia, untuk rahmat seluruh alam bukan menjadi sesuatu yang utopi melainkan sebuah usaha dan praktek yang terus-menerus menjadi cita-cita semua agama. Bukankah semua agama menolak kemiskinan, bukankah agama juga menolak kekerasan, dan kebiadaban?.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teologi Pengharapan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sigmund Freud pernah mengatakan ”agama adalah ilusi karena ia tidak dilandaskan pada rasionalitas”.Pernyataan Freud tidak bisa kita benarkan seluruhnya tapi juga tidak baik ketika kita nafikkan seluruhnya. Yang menjadi titik tekan disini adalah agama-agama kita pada umumnya memang disiarkan dan dikabarkan melalui teologi pengharapan. Harapan-harapan surga, harapan-harapan kedamaian, bahkan juga gambaran neraka yang tidak bisa kita tangkap dalam bayangan pun.&lt;br /&gt; Harapan-harapan itulah yang kemudian memberikan pengaruh, motivasi, dorongan, dan cita-cita. YB mangun wijaya pernah mengungkapkan ini dalam roman burung-burung manyar “ Manusia tanpa harapan, ia mayat berjalan”.&lt;br /&gt; Dari situlah kemudian, harapan-harapan agama mempunyai titik temu dalam melawan musuh bersama. Cita-cita ini tidaklah berlebihan ketika semua agama memiliki satu visi-misi yang sama. Misalnya cita-cita akan perdamaian, cita-cita melawan kemiskinan, kejahatan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Yang akhirnya, memaknai religiositas sejati tidak lain adalah merumuskan, memikirkan kembali dan bekerjasama untuk senantiasa mencari dan menemukan solusi dari pada masalah-masalah keumatan. Yang kesemuanya itu membutuhkan kerelaan hati, legowo[ikhlas] menerima perbedaan yang ada, serta menepiskan rasa curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Penulis adalah presidium kawah institute indonesia, Tulisan dimuat di majalah bhinneka juni 2011&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5677345061594789782-2026380830248317818?l=kawahinstitute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawahinstitute.blogspot.com/feeds/2026380830248317818/comments/default' title='Poskan K
