Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Desember 25, 2012

Hutang Kita pada Buku



NEGERI ini dibangun dan didirikan tak mungkin lepas dari peradaban buku. Buku mencipta perubahan, buku menggerakkan founding fathers kita untuk membentuk negeri ini. Betapa Sukarno adalah pengagum dan penggemar buku-buku marxis, buku-buku sosialis, pemikiran Gandhi, hingga Tan Malaka. Tak jauh berbeda dengan Hatta yang menggemari buku dan menggeluti buku adalah teman dalam perjalanan, dan juga alat untuk membaca dan menganalisis persoalan kehidupan, salah satunya aspek ekonomi. Buku menghasilkan buku. Kita mengenal buku “Di Bawah Bendera Revolusi” karya Soekarno, kita mengenal “Memoir” karya Muhammad Hatta, hingga “Madilog” karya Tan Malaka.


Perasaan-perasaan menyesal pun muncul ketika buku hilang dan buku tak ada dalam kehidupan Tan Malaka. Tan Malaka adalah tokoh sekaligus orang yang mengalami trauma dan siksa karena tak ada buku. Ia menuliskan dalam Madilog, “Saya mohon maaf karena tidak menyertakan catatan-catatan kaki karena saya dalam masa pengejaran, dan buku-buku harus saya buang ke laut untuk menyelamatkan buku-buku saya.” Nasib Tan Malaka tak seberuntung Hatta dan Soekarno, ia harus berhadapan dengan kolonialisme yang merampas hak untuk memiliki dan menyimpan buku. Kita masih ingat, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang mengalami trauma dan siksa terhadap buku. Ia seperti tak diberi hak untuk memiliki buku, hingga menuliskan buku. Kita tahu penjara adalah ruang untuk mencipta bukunya, setelah itu, ia harus mengalami pembakaran terhadap karya-karyanya, bahkan rumahnya pun dibakar oleh angkatan darat pada waktu itu.
Peradaban lahir dari kerja kata dan pendokumentasian kata-kata dan setiap ucapan yang memiliki makna pada suatu hari. Gairah menulis buku memungkinkan manusia bekerja dan berkarya untuk memberikan pencerahan dan juga mengekalkan peristiwa, pengetahuan dan lain sebagainya. Sejarah tulisan adalah sejarah pengetahuan. Usaha agama menafsirkan teks adalah iktikad dan laku seseorang beragama. Dan beragama tak lain adalah bagaimana usaha manusia menafsirkan kitab yang merupakan buku utama manusia.

Betapa kita tak tahu terima kasih kepada buku ketika menyepelekan buku yang dibuat oleh manusia. Betapa kita menyepelekan karya dan juga pemikiran dalam buku, ketika kita melihat bagaimana dunia perpustakaan kita semakin ditinggalkan. Dunia buku tak memikat, dunia kantin dan dunia bermain lebih memikat. Pikat buku tak sekadar ajakan kita menyelami ke dalam bagaimana buku itu memanggil-manggil kita untuk menemuinya, mencumbuinya, hingga pada melahirkan penafsiran ulang dan memendarkan teks tersebut pada realitas kehidupan kita.

Ajakan membaca dan memahami buku, bedah buku, hingga pada penghargaan kita pada buku akan mencerminkan sikap dan etos kita bahwa buku sejelek apapun dan seburuk apapun adalah proses dari manusia melahirkan ide, gagasan dan sampai pada bagaimana penulis menembus penerbitan. Usaha ini adalah usaha seorang penulis buku untuk menjadikan bukunya bermakna, maka kerja membaca buku adalah kerja yang merupakan penghargaan kita sebagai manusia akademik dan manusia intelektual yang memberi penghormatan melalui kritik, melalui penafsiran hingga melalui apresiasi kepada buku yang ditulis seseorang.
Buku memberikan berkah pada kehidupan manusia. Betapa peradaban yang dibangun setinggi apa pun, ia tak lepas dari penghargaannya pada buku. Etos itu lahir tidak tiba-tiba, tapi melalui proses kesadaran yang tinggi bahwa buku adalah hidup itu sendiri. Maka tak heran, orang menulis dengan menghabiskan masa hidupnya untuk menciptakan buku. Demi pengetahuan dan demi etos keilmuan dan intelektual.

Sekolah


Sekolah pun hadir dengan beragam buku, tapi belum menuntaskan untuk sampai pada iman terhadap buku. Sekolah penuh dengan buku, tapi belum dengan ajakan menekuni buku dan mengabarkan berkah buku pada siswa. Etos baca dan etos menulis belum sepenuhnya menjadi kesadaran kampus dan sekolah kita untuk mencipta dan mengekalkan ilmu dan keilmuan. Alhasil, buku semakin ditinggalkan dan seperti tak jelas nasibnya. Maka yang terjadi di perpustakaan pun tak ada cara dan etika menata buku, buku ditumpuk seenaknya, kerusakan dan kehilangan adalah hal yang wajar. Kita telah lalai dan melupakan buku secara diam-diam.

Penghormatan dan penghargaan kita pada buku, adalah etos kita untuk membaca dan menghormati sejarah, melalui kerja merawat, mengekalkan hingga memanfaatkan buku itu menjadi teks yang bergerak dan menggerakkan. Kerja itulah yang kini kian langka, dan ditinggalkan kita. Padahal, kerja itu tak lain adalah kerja kita sebagai usaha kita yang kecil untuk memberikan penebusan dosa atas tingkah laku kita dan keteledoran dan kebodohan kita tak menghargai dan menghormati buku.

Arif Saifudin Yudistira, bergiat Bilik Literasi Solo
Tulisan Dimuat Di BALI POS tanggal 16 Desember 2012

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda