Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Minggu, Juni 03, 2012


Jokowi, Facebook, Dan Identitas Kota
Oleh arif saifudin yudistira*)
Pilihan jokowi calon gubernur DKI menggunakan metode kampanye melalui penjualan baju koko nya memang menarik public. Selain karena metode ini tergolong baru, masyarakat saat ini juga jengah melihat plakat-plakat di jalanan kota dan juga iklan di televise yang menghabiskan dana begitu banyak. Jokowi pun tak kurang cerdik, ia memilih jejaring social seperti facebook dan twitter sebagai media untuk menjaring pendukungnya.
Pilihan jokowi ini tentu patut diapresiasi, tapi perlu juga dicermati lebih lanjut.  Jika kita telisik lebih lanjut, metode kampanye jokowi di era modern seperti ini sangat tidak bisa menentukan kapasitas pendukungnya. Barangkali para penasehat dan tim kampanye jokowi perlu belajar pada kasus sebelumnya, ketika pasangan capres Amin rais dan Siswono yudho husodo yang diprediksi oleh berbagai lembaga survey menduduki paling unggul ternyata kalah dengan pasangan SBY-JK di pemilu tahun 2004 lalu. Pelajaran ini membuktikan bahwa kualitas survey ataupun prediksi teknologi tak sepenuhnya menjamin realitas social masyarakat kita.
Memang jejaring social adalah salah satu metode “jajanan politik” pasangan jokowi dan ahok, tapi justru komoditas inilah yang paling laku di media kita saat ini. Media kita tertarik karena metode ini langka dan “unik”. Selain itu, seolah-olah masyarakat diajak untuk menengok kembali keberhasilan jokowi dengan kesederhanaan dan kepiawaiannya memimpin solo.
            Lyotard dalam “The postmodern condition” menyatakan : “Teknologi, dengan demikian adalah permainan yang tidak berkaitan dengan yang benar, yang adil atau yang indah dan sebagainya, melainkan berkaitan dengan efisiensi : suatu”gerak” teknis dianggap ”baik” jika ia melakukannya dengan lebih baik dan atau menghabiskan energi yang lebih kecil daripada”gerak” lain. Artinya ketika dikaitkan dengan kondisi yang ada pada jokowi, jokowi memang hanya menonjolkan persoalan irit dan juga bagaimana cash kampanye tidak boros, meski ia juga berharap pada banyaknya dukungan. Akan tetapi, realitas teknologi kerap tampil dengan aroma menarik, indah, tapi juga sering menipu.
Facebook
            Facebook barangkali tidak bisa kita anggap sepele. Gerakan masyarakat era kini, juga lebih mengandalkan jejaring sosial alias fb untuk mendukung efektifitas gerakannya. Gerakan di tunisia dan di mesir beberapa waktu lalu juga mengunggulkan gerakan jejaring sosial untuk memobilisir massa. Selain karena memudahkan orang berkomunikasi dengan mudah, fb juga digunakan sebagai alat mobilisasi massa untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan. Kabar terbaru mengenai gerakan fb ini bisa dilihat misalnya pada  ”gerakan hakim menuntut kenaikan gaji”, gerakan ”sejuta umat menurunkan rezim neolib SBY-budiono” dan juga gerakan ”Cicak versus buaya” yang pernah membuktikan keampuhannya melindungi KPK dari serangan dan intervensi pemerintah. Hanya saja, kampanye jokowi melalui fb tidak bisa kita pastikan untuk menjamin kemenangan jokowi tanpa dukungan metode lain yang perlu diunggulkan di dalam memenangkan pilgub DKI.
Identitas kota
            Persoalan yang menonjol mengenai kota di abad 21 salah satunya adalah masalah urbanisasi. Sebagaimana paparan Daniel A.Bell dan Avner de-Shalit yang memprediksi menjelang 2025 di china akan dibangun 15 ”mega-kota”. Yang masing-masing dihuni 25 juta orang. Ketika melihat jakarta, kita tidak bisa memprediksi lima tahun lagi tingkat urbanisasi ke jakarta. Jakarta tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat desa, meski berbagai gambaran sudah biasa kita dengar tentang jakarta. Jakarta kerap identik dengan kota kejam, penuh tipu-tipu, penuh kekerasan, tidak nyaman, dan juga kerap banjir. Meski demikian jakarta tetap menjadi kota paling banyak dijadikan tujuan urbanisasi sampai lima tahun ke depan.
            Douglas Wilson pun menulis dalam buku terbaru terbitan gramedia yang berjudul 5 kota paling berpengaruh di dunia. Ia menggambarkan identitas kelima kota ini : ”  Yerussalem mengajarkan tentang kebebasan spiritual, Athena mengajarkan intelektual dengan spirit pembebasan, roma mengajarkan kebebasan dan keadilan dalam hukum, London dengan seni dan kesusateraannya, dan newyork menunjukkan arti kebebasan pasar maupun komersialnya”.
            Pertanyaannya bisakah jokowi membangun identitas kota Jakarta sebagaimana kota-kota lain seperti di solo dengan identitas kota budayanya, bandung dengan kota sepatunya, atau kota aceh dengan karakteristik islaminya?. Atau dengan cara lain sebagaimana contoh yang diberikan afrizal malna yakni membangun jembatan atau bangunan yang dijadikan ciri khas kota dan membawa perubahan besar terhadap nuansa kota yang militeristik, berbau bisnis, menjadi kota yang bernuansa dan berimaji seni dan indah seperti jembatan Samuel Beckett Bridge.
            Setidaknya inilah tantangan bagi jokowi pada khususnya, dan kepada semua calon gubernur DKI pada umumnya. Tanpa itu, Jakarta tetaplah menyimpan identitas yang selama ini kental dalam pikiran masyarakat kita yakni kota berpolutan tinggi sedunia, kota dengan tingat kriminalitas tinggi, juga kota yang kejam dan tak nyaman. Indah dan gemerlap dengan gedung-gedung tinggi, tapi penuh dan sesak dengan tipu-menipu, sesak dengan kongalikong dan korupsi.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di Bilik literasi Solo


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda