Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Minggu, Juni 03, 2012



“Kegagapan Membaca Realitas pendidikan kita”


Tanggapan untuk al-iklas kurnia salam
Oleh Arif saifudin yudistira


Marxis tidak mampu untuk membaca perkembangan kelas social yang ada di masyarakat indonesia saat ini(Olle Tornquist).



            Ada persoalan besar yang ada di dalam dunia pendidikan kita. Kesalahan tersebut sudah seperti benang ruwet, yang sangat sulit untuk kita urai satu-persatu. Akan tetapi jika menilik tulisan Al-iklas kurnia salam pada selasa(17/4/12) yang bertajuk kesalahan terbesar pendidikan kita, kita justru akan menemukan keruwetan di dalam tulisan tersebut. Di awal tulisan, ia mengungkapkan persoalan penting yang menyangkut konsep pendidikan ala tan malaka. Pendidikan yang berdasarkan didikan kerakyatan akan berjiwa kerakyatan pendidikan berdasar kemodalan maka nalar capital yang terbentuk. Hal yang diungkap di bagian berikutnya adalah persoalan pendidikan kita yang bergaya banking, yang berkonsep Paulo freire tak sesuai dengan pendidikan kita. Pendidikan yang seperti ini dianggap sebagai kesalahan terbesar dalam pendidikan kita. Di akhir uraian, ia mengungkapkan pendidikan mestinya berdasarkan pada konsepsi Ki hajar dewantara yang mendasarkan pendidikan pada tiga hal penting kemandirian, berakhlak, dan juga anti penjajahan. Dan dipungkasan esainya ia melihat ada kemungkinan pelabelan sekolah kerakyatan,SD rakyat, SMA kerakyatan, dan lain sebagainya.
            Bila membaca dan memahami tulisan iklas, kita melihat ada kegusaran, dan kegalauan terhadap realitas pendidikan saat ini, hanya saja kita bisa melihat kegagapan pula dari seorang korban pendidikan. Persoalan kegagapan itu bisa dibaca ketika ia mencoba menerapkan teori “banking of education” ala Paulo freire yang tak mampu menganalisa relitas pendidikan kita. Persoalan freire ini diungkap ketika produktifitas tak menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi. Padahal realitas pendidikan kita justru sebaliknya bertumpu pada konsumsi yang terus menerus, hingga ia tak pernah menciptakan produktifitas dan bertumpu pada nalar konsumsi. Pendidikan kita kini tak hanya menunjukkan kesemrawutan, tapi justru sebaliknya menuju pada pendidikan yang semakin mapan.  
            Kemapanan itu terlihat pada realitas kesadaran masyarakat kita untuk mendidik anak-anaknya untuk masuk dalam jenjang pendidikan yang bermutu mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Kesadaran itu muncul dalam memasukkan anak mereka pada pendidikan dan sekolah yang berkualitas. Inisiatif masyarakat itu muncul dalam bentuk PAUD islami, SDIT atau SD program khusus, hingga Universitas berbasis international. Pada titik ini kita membaca realitas masyarakat yang berusaha menciptakan pendidikan yang mandiri dan juga berkualitas semakin ditunjukkan. Realitas ini jelas berseberangan dengan persoalan pendidikan yang diangkat iklas mengenai pendidikan yang dikhawatirkan iklas tentang didikan kemodalan dan nalar kapital. Nalar capital dan kesenjangan ada pada persoalan pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan, bukan pada persoalan model pendidikan yang mandiri dan berkualitas.

Alam dan nalar lama

            Model pendidikan gaya tan malaka dan ki hajar dewantara tentu bisa dijadikan catatan sejarah pendidikan kita dalam menapaki perkembangan pendidikan. Nalar dan alam yang dipakai tan malaka dan ki hajar adalah alam lama yang tentu tak terlepas pada kondisi di jamannya pada waktu itu. Ketika nalar itu dibawa pada realitas pendidikan saat ini, maka akan ada benturan-benturan yang tak bisa dipaksakan dengan alam modernitas saat ini. Yang jadi persoalan saat ini justru ada pada persoalan  I’tikad dan niatan pemerintah dalam mengurusi pendidikan kita. UU SISDIKNAS no.23 tahun 2003 yang ada malah mereduksi tanggungjawab pemerintah. Alhasil, peran negara jadi sekadar administrative belaka dalam dunia pendidikan kita.   
            Persoalan berikutnya adalah pada jiwa pendidik yang ada pada guru-guru kita. persoalan fasilitas dan kesejahteraan yang sudah ada tanpa dilandasi etos sebagai guru yang mendidik mentalitas bangsa sebagaimana yang pernah dikatakan sukarno : “Guru ia memikul pertanggungjawaban yang maha berat terhadap negeri dan bangsanya”. Menciptakan guru-guru dan juga pendidik yang berjiwa bangsa inilah yang belum maksimal diusahakan oleh pemerintah. Yang jadi soal bukan pada kesenjangan yang ada dalam masyarakat kita dalam mencapai akses pendidikan, tapi pada persoalan negara yang sudah semestinya mensejahterakan masyarakat kita. Sehingga antusias dan perhatian masyarakat dalam menciptakan pendidikan yang mandiri dan berkualitas harus didukung dan dikembangkan,sehingga kesenjangan yang ada dalam pendidikan itu bisa ditiadakan.

Abstrak
            Di akhir essainya Iklas mengimpikan pendidikan bergaya kerakyatan dengan munculnya SD kerakyatan, SMP kerakyatan, dan SMA kerakyatan, dll. Bila melihat hal ini, ada semacam konsep pendidikan yang abstrak yang belum mampu diterjemahkan oleh masyarakat kita. Konsep pendidikan kerakyatan ala tan malaka adalah respon alam negeri ini ketika terjajah, yang membutuhkan semangat anti kolonialistik, membutuhkan alat untuk hidup dan keterampilan hidup, dan semangat internasionalisme. Bentuk-bentuk konsepsi semacam ini adalah konsepsi yang begitu praktis yang ini dicontohkan dalam bentuk sekolah tak terlembagakan. Bayangan iklas dalam bentuk lembaga adalah kesalahan membaca pendidikan ala tan malaka.
            Kegagapan ini berujung pada tak adanya solusi yang pasti dan terarah terhadap realitas pendidikan yang ada. Tulisan iklas adalah cermin dari kegagapan dan pembacaan sebagai masyarakat korban,yang tak mampu membaca dan menafsirkan realitas pendidikan yang ada saat ini. Marxis tak mampu membaca perkembangan kelas social di negeri ini harus diakui, sedang peran pemerintah dalam mensejahterakan dan meningkatkan kualitas pendidikan rakyatnya itu yang mesti ditekankan pada pemerintah kita.


*)Penulis adalah mahasiswa UMS,ikut menulis dalam “AKU & BUKU”2012

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda