Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Minggu, Juli 15, 2012


Sejarah Dan foto Di Abad 21
Oleh arif saifudin yudistira*)
           
“Saya ingin menghidupkan Jawa di masa lalu, yang subur, penuh dengan nuansa hutan dan hijau, padang yang luas. Karena saat ini sudah tidak ada lagi, melalui foto-foto yang saya lampirkan dalam buku KUASA RAMALAN saya berhasrat seperti Raffles”
 (Peter Carey dalam diskusi 21 april 2012)

            Telisik sejarah ternyata mampu mengundang imajinasi dan juga nuansa masa lampau di masa kini. Sejarah negeri ini sebenarnya sangat kaya akan khasanah, kebudayaan, hingga peristiwa yang begitu membuat kita takjub di jaman sekarang. Kita tak lagi mampu melacak keadaan, nuansa, suasana, hingga momen-momen yang begitu bersejarah tanpa  fotografi. Semenjak dunia fotografi yang masih berupa heliografi yang ditemukan oleh joseph Nicephore Niepche di tahun 1825, dunia fotografi pun berkembang hingga saat ini. Dunia fotografi tak hanya berkembang pada bagaimana momen-momen diabadikan begitu saja, dunia sekolah merawat ini dalam rupa biografi dan administrasi. Dunia sekolah di masa colonial pun tak berbeda jauh. Foto begitu berharga untuk menarasikan diri dan juga peristiwa yang sudah berlalu demikian jauh dari kita.
            Foto berubah menjadi alat untuk mengucap dan mendefinisikan diri. Kita pun kini menemui buku dan biografi para tokoh dan founding fathers kita dilengkapi dengan foto-foto mereka. Sebut saja buku biografi Hatta yang ditulis Deliar noer yang diterbitkan kembali oleh gramedia yang memuat lebih dari seratus foto Mohammad Hatta. Foto ini memberi penjelas sekaligus narrator untuk mengucapkan sang tokoh. Foto dengan berbagai ekspresi dan berbagai momentum indah dan momentum serius pun dihadirkan untuk melengkapi biografi. Narasi teks pun serasa hambar tanpa narasi visual. Narasi visual jauh melampaui narasi teks, konon foto adalah rangkuman dari seribu kata yang mampu menjelaskan tanpa harus ditulis.              
Dunia kini mengenal foto tak hanya sebagai dokumentasi dan arsip-arsip semata. Foto melebihi itu, foto adalah sejarah yang bergerak dan menggerakkan. Foto jadi dunia yang kemudian bisa dilacak sebagai data autentik untuk mendeskripsikan dan menarasikan seseorang di masa lampau. Kita mengetahui kerja dan jerih payah harry a.poetze yang menggunakan foto tan malaka di belanda dan juga di sumatera sebagai satu data untuk melengkapi penelitian sejarahnya tentang orang misterius dan paling berpengaruh terhadap lahirnya bangsa Indonesia ini. Melalui penelitiannya itu pula Harry a poetze menulis Tan malaka dan gerakan kiri Indonesia.
Fakta bahwa foto adalah sejarah yang menggerakkan pun bisa ditelusuri ketika Pater Carey menelusuri sejarah dan biografi Pangeran diponegoro melalui foto diponegoro yang digambarkan melawan belanda dengan berdiri tegap dan dagu ke atas. Foto inilah yang mengajak dan mengantarkannya ke jawa dan meneliti pangeran ini selama hampir 40 tahun.Ada panggilan mistis untuk meneliti dan mengganjal di foto diponegoro tersebut.  Foto pun bisa kita temui di buku Raffles (History of java)yang memuat berbagai sosok dan potret priyayi, kawula alit, demang, hingga para ulama di masa itu. Raffles menggunakan foto untuk menjelaskan kelas sosial pada waktu itu, orang china, orang jawa dan juga orang colonial. Foto pun menjadi data primer yang tak bisa dilewatkan begitu saja.
Di dalam buku Dari Jawa Menuju Acehi Linda christanty pun menulis tentang foto yang menarasikan pasukan belanda yang berpose selepas penyerbuan di sebuah kampong di aceh timur di tahun 1886. Penyerbuan tersebut bertujuan meringkus Teuku Umar suami cut nyak dien. “Di wajah-wajah itulah saya temukan jawabannya : mereka adalah orang jawa yang dikirim oleh orang belanda untuk menguasai aceh!”. Temuan foto Linda ini ditegaskan oleh pram dalam wawancara sebelum ia meninggal. Pram mengatakan “untuk menundukkan aceh orang-orang belanda mengambil tentara bayaran dari jawa. Ini terus berlanjut sampai hari ini!”.
Foto abad 21
            Di abad modernitas kini, foto pun bergerak melalui sekolah. Dunia sekolah kita pun memberikan satu pelajaran penting tentang fotografi. Foto di dunia sekolah dan dunia kerja kita pun seperti berubah menjadi foto yang berfungsi administrative dan data di sekolahan. Tak beda dengan dunia kerja, yang menjadikan foto tiba-tiba jadi sebuah syarat untuk kelulusan ataupun mendaftar pekerjaan. Foto berubah jadi arsip dan data-data di perusahaan dan juga di lembaga-lembaga pendidikan.
            Foto di abad ini seperti menjelaskan betapa foto sudah tak seperti dulu lagi. Foto tak lagi sacral, dalam foto tak ada lagi diri dan biografi. Foto di dunia modernitas pun berkembang sebagai area selebrasi dan narsisme. Dunia modern mengejewantahkan cara mereka sendiri mendefinisikan foto. Foto berubah jadi tak lagi seperti dulu yang berfungsi sebagai pengucap diri dan biografi hingga momentum-momentum bersejarah, sedang saat ini foto justru membuat kita bunuh diri. Identitas jadi tak bernilai, foto tak lagi mengucap, foto justru menipu dan menjebak kita ke dalam dunia yang asing dan absurd. Sejarah terus bergerak dari foto. Foto masih menjadi saksi dan pengingat masa lampau. 

Para sejarawan menggunakan foto untuk menyelamatkan diri dan biografi. Sedang kita seperti sebaliknya menggunakan foto untuk bunuh diri.

*)Penulis adalah pegiat di bilik literasi mengelola kawah institute Indonesia
Tulisan di muat di radar Surabaya 15 juli 2012

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda