Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Desember 25, 2012

Kata, buku, kita



Oleh arif saifudin yudistira*)
           
“Pada mulanya adalah kata-kata itu mengada bersama Tuhan serupa dengan kata-Tuhan,kata itu merupakan kreasi”
(Nadine Gordimer)

Manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk lain. Salah satu diantaranya adalah bahasa. Kemampuan berbahasa itulah yang membuat manusia bisa mengucap kata. Huruf jadi acuan kedua setelah belajar berkata-kata diajarkan kepada kita di masa bayi. Kata itulah yang mengucap dan diucapkan oleh kita. Dunia kita dicipta dan digerakkan oleh kata. Siapa tak kenal filsuf eksistensialis kita Jean paul Sartre yang menuliskan indah pengalamannya mengucap dan diucap oleh kata dalam bukunya “kata-kata”(Words). Sartre memahami kata adalah pikiran dan gagasannya yang diungkapkan dan ditulis ulang di masa dewasanya. Buku Sartre menegaskan dan menjelaskan bahwa kata “tidak” adalah kata paling cukup menjelaskan adanya kita.Bila kita hanya menggunakan kata “ya” atau setuju saja, berarti kita tak memiliki eksistensi. Ferdinand de Saussure dalam kanonnya, Cours de linguistique générale, (1965: 157), “pikiran adalah recto dan suara adalah verso; seseorang tak dapat memotong satu sisinya tanpa memotong sisi lainnya di waktu yang sama; dan di dalam arti yang sama, dalam bahasa, seseorang tak dapat mengisolasi suara dari pikiran maupun pikiran dari suara (kata)”.

            Dengan mengucap ‘kata’ itulah kita tak langsung menyatukan antara pikiran dan gagasan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Takjub kata membuat manusia semakin menyadari bahwa ia adalah makhluk berbudaya. Melalui kata itu pula kita mengenal sastra. Puisi dan karya sastra lain setidaknya adalah kata-kata yang membicarakan dirinya. Kita pun mengenali sastrawan nobelis najib mahfuz yang mampu menggunakan medium bahasanya untuk alat penyadaran dan perlawanan. Edward said memujinya dengan mengatakan : “Mahfuz sebenarnya memiliki suara khusus. Ia berhasil menunjukkan kehebatan bahasa pribumi yang justru belum banyak diperhatikan”. Dari sanalah sebenarnya kita menemukan kata berkembang menjadi slogan, hingga menjadi bualan para politisi kita. kata jadi rusak karena aroma politik  dan juga media. Dan disanalah tugas penulis mesti menjernihkan dan mencerahkan kata kepada asalinya.

Suparto brata seorang penulis novel “generasi yang hilang” yang pernah menjuarai sayembara “kartini” menuturkan alasan mengapa manusia Indonesia sekarang kehilangan spirit membaca dan kehilangan ghirah mengurusi buku.  “kita telah salah dalam merumuskan kurikulum pendidikan kita, kita mesti merubahnya dengan spirit membaca  dan menulis buku”. Bapak tua itu mungkin sudah uzur usianya, tapi ia tak lelah dan tak berhenti mengurusi kata, melalui menulis buku dan membaca buku. Puluhan buku pun dihadirkan sebagai kerja dan semangat hidup yang tak kunjung pudar meski jaman sudah berubah.

Membaca buku dan mengurusi buku adalah pekerjaan langka di era multi kulturalisme ini. Era teknologi sekarang menghadirkan e-book dan internet sebagai penyedia layanan dalam dunia pendidikan kita. Internet dan teknologi pun memanjakan kita, tapi belum memuaskan dan menunjukkan-kualitas membaca- manusia Indonesia. Kita terkadang miris ketika  melihat buku-buku dijual dengan harga mahal-mahal di awal terbit, tetapi ketika di bazaar menjadi sebegitu murah. Pemerintah kita tak memiliki politik penerbitan dan politik dalam meningkatkan mutu baca masyarakat kita melalui buku-buku yang ada. Dulu semasa soekarno buku-buku terjemahan dan buku-buku berbau revolusi dan politik dihadirkan, sedang dimasa soeharto buku-buku penataran p4 dan buku berbau pancasilais digalakkan melalui sekolah dan pendidikan. Setidaknya setelah dua presiden itu, politik untuk meningkatkan mutu dan penyediaan buku bagi masyarakat luas belum tampak kembali.

Dunia buku dan dunia penulisan mengajarkan kita setidaknya pada dua hal penting “kerja intelektual” dan juga “ penghormatan intelektual”. Dua kerja inilah yang akan kita jumpai dalam dunia menulis buku dan dunia membaca buku. Ketika kita membaca buku setidaknya kita sedang melakukan dua kerja itu. Yakni kerja intelektual dan penghormatan intelektual. Sebab penulis yang menulis bukunya tak semudah yang kita bayangkan selesai begitu saja. George Orwell mengatakan “ menulis buku itu mengerikan,perjuangan yang meletihkan seperti sakit yang berkepanjangan”.

Negeri kita seolah melupakan kerja kata yang sebenarnya adalah kerja intelektual dan kerja kemanusiaan. Kita lupa bahwa mengurusi kata, dan mengurusi buku tak beda dengan mengurusi kita. Siapa mau mengurusi arsip nasional di Jakarta yang sudah menghasilkan berderet-deret gelar dan juga berates-ratus buku dan penelitian. Kata kembali mengingatkan kita akan keberadaan dan eksistensi kita. Dengan budaya membaca buku dan menulis buku yang masih minim dibanding negara tetangga kita maupun di dunia, setidaknya menunjukkan betapa kita tak menghargai kita. Dunia kata, dunia buku, dan dunia kita adalah tiga frase yang tidak bisa kita lepaskan dan pisahkan dalam kehidupan kita. Saya ingin menutup essai ini dengan kesimpulan menarik dari Virginia Wolf yang mengatakan : “ Masa sekarang adalah masa yang buruk karena kemiskinan cara pandang terhadap sastra dibiarkan begitu saja”. Jika demikian halnya, masihkan kita percaya akan kekuatan kata dan buku-buku kita untuk menggerakkan dan mencipta peradaban dan mengulang kejayaan kita?.




*)Penulis adalah Pegiat Bilik Literasi , Pengelola kawah institute Indonesia
*)Tulisan Termuat di Bali Post 25 November 2012

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda