Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Minggu, Oktober 23, 2011

Kerja Sastra = Kerja Pemberadaban



Oleh arif saifudin yudistira*)


Kerja sastra dan kerja kebudayaan saat ini mengalami titik nadir yang luar biasa, sehingga kerja ini perlu digiatkan lebih keras lagi,sebab budaya adalah salah satu solusi terakhir dari problematika bangsa saat ini. Jawaban tentang pentingnya revolusi kebudayaan tidak jauh berbeda dengan sejarah kita dulu ketika masa orde lama yang menjadikan masyarakat menggiatkan kerja kebudayaan meskipun pada tahun-tahun berikutnya muncullah polemik kebudayaan yang saling melengkapi dan saling beradu tentang apa yang dimaksud dengan kebudayaan dan bagaimana kebudayaan dinafaskan dalam kehidupan kita.

Pertanyaannya apa kerja kebudayaan kita belum maksimal?. Tentu tidak, ketika menilik makin bergiat masyarakat kita yang berada di bawah kaki gunung menghidupkan kembali budayanya, masyarakat kita yang di kota semakin menampilkan keseniannya, dan juga para seniman dan sastrawan makin giat bersafari ke seluruh negeri. Lalu, apa yang salah dengan kerja mereka ketika hal tersebut sudah digiatkan sementara masalah bangsa ini tak kunjung menemui jawab?. Radar panca dahana berujar dalam bukunya “kebenaran dan dusta dalam sastra”(indonesia tera) mengatakan : “Para seniman dan sastrawan belum bisa menjawab ;mengapa seni harus hidup, dihidupi, menghidupi?”.satu alasan yang eksistensial yang jika tidak terjawab akan membuat siapapun merasa lucu ketika ia melakukan kerja keseniannya”.

Persoalan pokok yang dipandang radar sebagai persoalan fundamental adalah persoalan yang ternyata hampir tidak bisa dijawab oleh para seniman dan sastrawan mengapa mereka melakukan kerja itu?. Sayangnya para sastrawan dan seniman saat ini lagi-lagi sedang melakukan pencarian itu. Sedang pencarian itu adalah pokok yang menentukan mengapa kerja pemberadaban sastra dan kesenian itu menjadi terganjal, sebab para pekerjanya sedang melakukan pencarian dan belum menentukan arah kerjanya.

Kegalauan ini tidak hanya dirasakan oleh para seniman dan sastrawan kita, kerja pencarian identitas ini seperti sudah terjadi di setiap lini kehidupan di negeri ini. Baik gerakan mahasiswa, gerakan masyarakat, dan juga para pemimpin kita yang kehilangan arah. Seperti yang diungkap Samuel P huntington “Inilah faset yang paling menyeruak di era post- perang dingin,ketika usaha pencarian identitas menyeruak dimana-mana”.

Apa sastra bisa merubah dunia?. Apa sastra bisa membuat manusia lebih beradab? Ataukah kita yang tidak bisa menangkap pesan dan makna dalam sastra?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mestinya selesai dalam bangku kuliah,diskusi-diskusi kebudayaan dan sastra, atau seminar-seminar ilmiah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ternyata hal tersebut belum bisa memberikan jawaban atas kompleksitas manusia, para sastrawan pun sejatinya mengungkapkan ini dalam karya-karyanya melalui puisi, cerpen, novel, esai dan lain-lain untuk mencoba memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Pertanyaan tersebut tak pernah selesai, dan kita tak tahu kapan akan selesainya, selama manusia hidup, selama itu pula manusia menjadi makhluk yang bernafsu mencipta, merumuskan dan menemukan kebudayaannya, menuliskannya dalam bentuk karya. Karya itulah yang menjadikan kita sadar, bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan rekam jejak. Memerlukan satu pengabadian pengalaman, memori, dan pelajaran-pelajaran hikmah melalui sastra dan pemberadaban manusia.


Gagal???


Putu wijaya, seorang sastrawan indonesia, mengungkap sebab dari kegagalan sastra dalam pemberadaban manusia dengan mengatakan : “ Pemberadaban dengan sangat potensial bisa disumbangkan oleh agama, pendidikan, ilmu pengetahuan dan sesungguhnya sastra. Kita tidak akan membuka polemik dengan mengatakan bahwa keempatnya sudah gagal. Lebih baik dikatakan belum terjadi sebagaimana seharusnya. Saat ini, sesudah reformasi, kita merasakan pemberadaban tak berjalan. Berbagai kejadian yang mengejutkan terus mengucur setiap hari menyebabkan kita malah cenderung mengatakan yang ada sekarang adalah pemunduran peradaban.”.

Agama, ilmu pengetahuan,pendidikan, dan sastra keempat unsur tersebut yang dinilai putu wijaya belum bisa menampakkan hasil dari kerjanya. Meskipun reformasi berjalan dengan berbagai peluang kebebasan berekspresi dan berkarya ternyata belum memberikan jaminan bahwa kebudayaan mampu dalam memanusiakan manusia.

Agama pun ternyata diragukan menjawab persoalan ini ketika agama yang muncul saat ini adalah kamuflase yang hadir dan dihadirkan melalui media-media semu semata. Agama dikotori oleh para pemeluknya dengan menjadikan agama sebagai teror dan agama yang tidak mampu melakukan teror terhadap runyamnya negeri ini. Para tokoh lintas agama meski sudah mengajak umatnya menyerukan bahwa negeri ini ada yang salah, para pemimpinnya harus berubah, wakil rakyatnya harus menata diri, dan negeri ini harus berubah.

Ternyata seruan jadi berhenti ketika para pemimpin kita dan wakil rakyat kita menjadi sosok yang membatu. Batu itulah yang ternyata menjadi gambaran para pengendali negara ini. Kegagalan ini di susul dengan corat-maritnya pendidikan yang sesuai kata Rendra masih mengimpor pengetahuan dari asing, masih membeo kebijakan asing sehingga identitas kita menjadi hilang dan kabur.

Sastra pun demikian halnya, sastra menjadi sesuatu yang asing di masyarakat bawah. Meskipun di kalangan akademik sastra menjadi sesuatu yang populer, tapi sastra kemudian hilang dan tidak bermakna ketika hadir di kalangan soko guru revolusi kata sukarno yakni buruh tani dan pedagang.Apakah bahasa sastra terlampau tinggi sehingga tidak mampu menyentuh dan menggerakkan mereka para kaum bawah? Ataukah tidak ada sastrawan yang menyentuh lini-lini sana?. Ternyata juga tidak, kegagalan sastra ini karena sastra masih berkecimpung dengan dirinya dan tidak mau menyentuh mereka yang dibawah dan menangkap realitasnya. Radar panca dahana mengatakan :” Bila puisi menempatkan posisi di luar sosial masyarakatnya, maka sepertinya dia mengingkari dirinya sendiri”.


Dengan demikian, kerja sastra perlu dikembalikan kembali pada hakikat dari sastra itu sendiri yakni mengembalikan manusia menjadi manusia. Artinya kerja sastra tidak lain adalah mengurusi manusia dan persoalannya. Dari situlah kita berharap sastra bisa menangkap realitas dan mengejewantahkannya,mengolahnya menjadi sesuatu yang kembali memperingatkan manusianya. Sebagaimana pramudya menuliskan dalam bumi manusia :” "Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya . (Minke, 135)”.Maka kerja sastra adalah kerja kemanusiaan dan pemberadaban, mengurusi manusia dan mengembalikan manusia pada hakikat kemanusiaannya. Inilah tugas kita semua.



*) Penulis adalah mahasiswa UMS, ikut menulis buku bersama dalam buku “Manusia = puisi” 2011.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda