Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Oktober 07, 2008

Fenomena Pemakaian Bahasa indonesia

Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia
Oleh Arif Saifudin Yudistira*

Membaca fenomena penggunaan bahasa saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Bahasa Indonesia yang diperjuangkan menjadi bahasa nasional kita oleh para pahlawan bangsa kita, menjadi tiada berarti saat ini. Hal ini disebabkan karena telah dirusak dan dikotori oleh para generasi muda sendiri.
Melalui bahasa gaul, bahasa pop, bahasa gado-gado dan bahasa iklan para generasi kita begitu cepat melupakan dan meninggalkan apa yang menjadi bahasa Indonesia. Generasi muda kita begitu cepat terkena pengaruh bahasa-bahasa yang “unik” di telinga mereka. Tanpa peduli itu bahasa baku atau tidak, mereka menggunakan itu dalam keseharian mereka.
Karena sudah menjadi kebiasaan yang mengasyikkan itulah, seakan-akan mereka lebih ”wuaah” jika menggunakan bahasa-bahasa diatas daripada menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Akibatnya mereka tidak bisa memperhatikan juga yang mana bahasa yang sesuai dengan EYD dan aturan baku bahasa Indonesia. Kita bisa melihat seperti kata-kata : “so what gitu looooh”, ”emang gue pikirin”, ”mamamia lezatos” dan lain-lain.
Gitu, gue, loe, terasa sudah menjadi bahasa yang fasih diucapkan oleh anak-anak muda kita. Tidak heran ketika bahasa mencerminkan sifat dalam diri seseorang. Jika dilihat dalam konteks bangsa indonesia kita tahu saat ini bangsa kita sudah tidak lagi dikenal sebagai bangsa yang ramah. Hal itu bisa kita ketahui salah satunya melalui bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Peranan media memang sangat besar dalam mempengaruhi dan membentuk pola komunikasi dalam berbahasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Saat ini pun media terutama televisi hampir tidak ada yang memperhatikan mengenai efek penggunaan bahasa iklan, bahasa sinetron, dan lain-lain yang bisa mengikis bahasa nasional kita.
Kita bisa melihat dalam setiap penampilan tokoh lawak yang banyak menggunakan bahasa seenaknya saja seperti dalam tayangan ”empat mata”, ”ekstravaganza” dan ”tawa sutra”. Memang dari kaca mata seni kita bisa mentolerir namun dalam sisi penghargaan dan eksistensi bahasa indonesia hal tersebut perlu diperhatikan.
Tidak hanya media, terkadang kesadaran para pemimpin dan tokoh-tokoh kita juga amat kurang. Seperti kita lihat dari apa yang dikatakan Gus Dur: ”Gitu aja kok repot”. Para pemimpin kita jarang yang memperhatikan efek yang begitu besar yang kemudian digunakan anak muda menjadi kebiasaan dalam berkomunikasi.
Menjaga eksistensi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional adalah tanggung jawab semua fihak. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa secara tidak langsung kita sudah dijajah bahasa kita melalui media iklan maupun film-film yang menggunakan bahasa-bahasa yang cenderung mengalir. Kemudian diikuti dengan ketidakpedulian kita terhadap efek yang ditimbulkan yang mengikis dan semakin mengaburkan ciri dari bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa nasional.














Penulis adalah Aktivis Kabid LITBANG FIGUR Universitas Muhammadiyah Surakarta(2007/2008)

Label: