Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, April 24, 2012

Negara Sekuler ; Melacak Jejak Perebutan Tafsir

Oleh arif saifudin yudistira*)

    Sejak berdirinya negara ini, negara kita sudah mengalami berbagai perseteruan dan perdebatan tafsir mengenai seperti apa negara ini dibentuk. Baik yang berideologi nasionalis, komunis, sosialis, hingga yang beridiologi pancasilais. Perseteruan ini akhirnya mampu diselesaikan oleh sukarno melalui sikapnya yang cenderung sinkretis. Sukarno adalah sosok yang mampu mendamaikan perseteruan tersebut hingga negeri ini kembali pada dasar negara kita yakni UUD 45 melalui dekrit presiden 5 juli 1959. Semasa sidang panitia sembilan yang menghasilkan piagam jakarta,para pendiri negara mengambil sikap bijak dan toleran dengan menghapus bunyi pancasila sila kesatu :”dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya”. Sikap toleran dan kelegaan para pendiri negara ini ternyata tak berujung baik. Ada sekelompok gerakan yang akhirnya tak rela terjadi pemisahan antara agama dan negara.Sekulerisasi ini ditentang oleh kelompok islam dengan nama DI/TII yang melakukan pemberontakan. Paska pemberontakan ini diselesaikan, ternyata tak berhenti sampai disini. Gerakan untuk menyatukan antara negara dan agama muncul kembali dan bergeliat sepanjang tahun 90-an hingga kini. Gerakan ini berhasil paska reformasi. Di tahun 1999-2002 kembali tertolak karena dukungan politik di MPR maupun real sosiologis dari masyarakat.Ini terlihat pada sidang tahunan MPR tahun 2002 untuk memasukkan tujuh kata dalam piagam jakarta dalam perubahan pasal 29 UUD 45. Pada waktu itu, politisi dari PBB najib ahjad dan politisi PPP syafriansyah pun mengatakan mereka tidak akan menyerah dan akan terus mengupayakan syariat islam dalam konstitusi.

    Ada tiga fase dalam menerapkan syariat islam yang dilakukan oleh  kelompok yang menginginkan negara ini menjadi negara yang berlandaskan agama. Pertama,Melalui konstitusionalisasi syariat islam. Ini terjadi pada tahun 1945, tahun 1956-1959, dan terakhir tahun 2002. Pada fase pertama ini, usaha dilakukan melalui konstitusi. Melalui konstitusi itulah harapan akan berdirinya negara yang menerapkan syariat islam terwujud. Kedua fase formalisasi syariat islam melalui undang-undang. Pada fase ini, terbukti lebih efektif dengan adanya berbagai undang-undang yang mengarah pada formalisasi syariat islam melalui konstitusi. Diantaranya munculnya berbagai undang-undang berikut :
UU no.1 tahun 47 yakni undang-undang tentang perkawinan
Makin marak tahun 80-an dan di era 90-an. Kini ada sekitar 28 ruu yang bernuansa syariat islam.
UU no.7 tahun 89 tentang peradilan agama
UU no.17 tahun 99 tentang penyelenggaraan haji
UU no.38 tahun 99 tentang pengelolaan zakat
UU no.7 tahun 92 jo.10 tahun 99 jo.23 tahun 99 tentang sistem perbankan.

Selain undang-undang diatas, ada pula undang-undangisasi syariat islam yakni ditetapkannya  UU.no.4 tah un 99 tentang keistimewaan Daerah istimewa Aceh.Kemudian UU no.18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi NAD. Dalam UU no.4 tahun 99 pasal 4 ayat 1 berbunyi: “Penyelenggaraan kehidupan beragama di daerah diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan syariat islam bagi pemeluknya dalam masyarakat”. Selain itu, dengan dikeluarkannya UU no.44 tahun 99 tentang perda syariat islam, menunjukkan betapa persinggungan dan perebutan tafsir dan perdebatan mengenai “negara” belum selesai hingga kini. Fase ketiga, adalah perda syariat islam. Dengan jalan inilah, akhirnya para kelompok yang menginginkan negara ini bernuansa syariat islam menggunakan strateginya kembali. Alhasil, banyak daerah yang menginisiasi perda syariat islam di jawa (pamekasan, madura, resik, malang, banten, garut, tasikmalaya,indramayu, cianjur dan kediri) sumatera (aceh dan padang)  sulawesi (maros, sinjai, gowa, janeponto, bulukamba) nusa tenggara barat, kalimantan (banjarmasin, banjar, amuntai, dan pontianak).

Perda syariat islam yang akhir-akhir ini marak diwacanakan masih dalam arti sempit yakni berupa cara berbusana islami, membaca al-qur’an,pengelolaan zakat, penghapusan perjudian, dan jum’at khusus. Mestinya syariat islam yang lebih luas harus mencakup sejenis perlindungan HAM,pelestarian lingkungan hidup dan sejenisnya.
Perubahan wilayah hukum perjuangan syariat islam dari semula diperjuangkan di tingkat konstitusi menjadi kemudian di tingkat peraturan dibawah undang-undang dasar khusunya pada level UU dan perda.Artinya perjuangan tidak lagi dilakukan di pusat jantung kota melainkan menyebar melalui aturan-aturan lokaldan lebih rendah. Inilah strategi syariat islam yang menurut sebagian orang adalah strategi Mao zedong :”desa mengepung kota”

Kontras

    Strategi penerapan dan penegakan syariat islam melalui tingkat konstitusionalisasi ini jelas berbeda dengan apa yang menjadi pikiran sukarno pada waktu itu. Sukarno selaku pendiri negara ini memiliki sikap yang justru berkebalikan dengan para generasi penegak syariat saat ini. Ia justru menyarankan akan negara kita berbentuk negara sekuler. Artinya apa, negara memberi kewenangan penuh agama-agama di negeri ini berkembang dan mengembangkan diri tanpa harus direcoki dan dicampur tangani oleh negara. “Negara sekuler itu merupakan suatu keharusan historis”.

Sukarno melihat contoh turki yang dibawah kemal attaturk adalah contoh yang ideal dalam hal memposisikan negara dan agama. “Tindakan-tindakan yang diambil oleh kaum turki muda, terutama tindakan kemal attaturk yang memisahkan agama dan negara pada dasarnya “memerdekakan agama”. Lebih lanjut ia mengatakan : “Agama akan kembali hidup subur apabila ia sudah mendapat peluang untuk berkembang dengan merdeka” Meskipun sukarno adalah pemeluk islam, tapi ia tak merasa khawatir dengan persoalan agama dan negara yang selama ini diperdebatkan dan dipertentangkan apalagi kini berujung pada formalisasi syariat islam. “Islam yang hanya bisa hidup apabila dilindungi atau didukung oleh negara,bukanlah islam”.Ia menyangkal dan menolak islam yang hanya bisa dilindungi oleh negara atau bersembunyi dibalik kekuasaan negara. Agama mestinya melampaui dan melebihi itu.

Negara sekuler bukanlah sosok yang mengerikan dan menjadikan agama menjadi suatu masalah ketika ia tidak bersanding dan berurusan dengan negara. Justru sebaliknya negara sekuler hadir untuk membebaskan agama. Tanpa campur tangan dari negara, agama diharapkan bisa membebaskan diri dan memerdekakan dirinya dengan berkreasi dan berkegiatan semaksimal mungkin tentu selama ia tidak bertentangan dan bersinggungan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Perebutan tafsir kenegaraan akan relasi agama dengan negara yang selama ini gencar disuarakan dalam rangka untuk mengembalikan negara ini, pada negara yang berdasarkan syariat islam yang mengacu pada piagam jakarta, justru akan menimbulkan gesekan dan perpecahan jika kondisi sosiologis dan masyarakat kita belum siap. Apalah arti syariat islam dalam konstitusi jika secara realitas nilai-nilai dan jiwa islam belum mampu diwujudkan dan diterapkan secara tegak. Kemiskinan dan kemelaratan itulah sejatinya musuh islam yang mesti diperangi terlebih dahulu.  Menyikapi perdebatan antara negara dan agama ini, Sukarno menyarankan  dengan ulasan singkat dalam buku dibawah bendera revolusi :  “Baik kita terima negara dipisah dari agama, tetapi kita akan kobarkan seluruh rakyat dengan apinya islam, sehingga semua utusan di dalam badan perwakilan itu adalah utusan islam, dan semua putusan-putusan badan perwakilan itu bersemangat dan berjiwa islam”

Terakhir, persoalan agama adalah persoalan yang mestinya diurusi dilembagakan dalam ranah lembaga-lembaga agama, negara sebagaimana dalam pasal 29 UUD 45 memberi kebebasan seluas-luasnya dan memberikan jaminan akan hak warga negara dalam beragama. Mengenai perdebatan dan perebutan tafsir mengenai negara dan agama baik kita mengutip pendapat ahmad sukardja : “Berpikiran dan bersikap realistis serta menekankan aspek yang islami dalam penerimaan dan pelaksanaan UUD 45 merupakan pikiran yang tepat dan perlu ditanamkan serta dikembangkan. Sebaliknya formalisme dalam arti bahwa segala peraturan harus berlabel islam tidak perlu dikembangkan”.

*)Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta bergiat di bilik literasi Solo, presidium kawah institute indonesia

Sabtu, April 14, 2012

Tentang Cita-Cita


Oleh arif saifudin yudistira

Menuliskan cita-cita dalam secarik kertas putih ibarat menerka-nerka dan meraba-raba kembali diri ini. Tubuh dengan segala karunianya dihadirkan Tuhan bukan tanpa alasan. Tubuh dengan berbagai keajaiban menciptakan kisah, menuliskan sendiri apa yang hendak dituliskannya. Sebab sebagaimana kitab-kitab dahulu pernah menuliskan, semua yang kita coba tuliskan dalam hidup ini oleh tubuh kita sebenarnya adalah pengulangan dari kitab yang berjalan. Yakni kitab kita, mengapa seseorang mesti hidup? Ketika ia pada akhirnya mati. Pertanyaan itu ,menjadi kunci mengapa orang ingin sekali menjadi dirinya, menjadi sosok entah lekat dengan profesi, lekat dengan biografi, pun lekat dengan keahlian. Bagaimana dengan orang yang tak pernah memiliki cita-cita? Ia ingin menjalani hidup ini layaknya air yang mengalir menjalani hidup dengan segenap kedalaman dan kehanyutan sampai ia sendiri menemukan jalan kemana ia harus tempuh. Cita-cita barangkali tak bisa dilepaskan dari diri sendiri. Manusia selalu menyimpan hasrat dan keinginan menuliskan biografinya sebagaimana yang ia suka, orang lain suka, dan lingkungan suka bahkan keluarga menjadi yang utama.

Mengapa manusia mesti memiliki keinginan dan hasrat untuk membentuk diri menjadi “sesuatu”yang lain?. Orang kerap menyebut ini dokter, pilot, masinis, pelaut, atau polisi. Siapa mereka, dan apa maksud dari nama-nama itu disodorkan di hadapan kita ketika kita sekolah. Apakah kita mesti menjalani hidup dengan nama-nama itu? Atau setelah kita menjadi semua itu, untuk apa?. Pertanyaan itu kujumpai setelah aku dewasa. Hidup ternyata tak semudah yang aku pikirkan. Manusia, selalu menjadi pertanyaan dalam hidupku, untuk apa kau hidup?, untuk menjadi manusia barangkali itulah jawabanku. Apa itu manusia?, kata ini tak kan habis dikupas meski dengan ribuan halaman. Pram pernah menuliskan tentang manusia dengan kalimat sederhana dalam novelnya “bumi manusia”: “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana;biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.

Sederhana bukan?, tapi mengapa ini penting ditanyakan?. Sekolah seperti tak mengajari pertanyaan ini untuk dipupuk,dibina dan diperhatikan hingga sesosok murid menemukan dirinya, menemukan tubuhnya hingga menemukan kreatifitas dan dunianya. Seringkali sekolah sebaliknya, ia hanya sekadar bertanya, dan memenjarakan keinginan siswanya, mematikan kreatifitasnya, dan mengunci tubuhnya. Cita-cita itulah yang kelak membentuk diri, dan menciptakan diri-diri itu di masa mendatang. Manusia mana yang rela dirinya hilang dan hanyut dalam ketidakkaruan apalagi dijaman penuh kekalutan dan jaman yang penuh dengan ketidakpastian. Cita-cita jadi sesuatu yang ganjil dipertanyakan.

Hidup dan Mati

Yah,hidup dan mati. Cita-cita adalah sesuatu yang ada diantara hidup dan mati. Manusia lahir menyimpan riwayat, kisah, dan juga biografinya masing-masing. Maka ari itu, bayi tak mengenal cita-cita barangkali ia pun lupa untuk apa ia lahir di dunia ini. Maka agama mengajarkan ibu dan bapak yang membentuk diri dan tubuh ini. Maka ketika dewasalah, atau ketika kita sedang beranjaklah, manusia menemukan sosok, imitasinya, sehingga ia memperlakukan tubuhnya seperti tubuh idolanya. Tubuh yang ia ingini berpindah ketubuhnya. Maka kita mengenal anak-anak kita tiba-tiba jadi penyanyi di depan televise, jadi penyiar radio di kamar mandi kita, dan jadi artis pujaannya di rumah-rumah kita. Kita jadi asing dengan cita-cita kita, manakala sosok itu tak ada sama sekali dalam hidup kita. Astronot misalnya, insinyur, atau arsitektur. Tanpa mendekati, menyentuh bahkan mendalami tubuh yang kita ingini kita tak mungkin berhasil menjadi apa yang kita inginkan. Maka dari itu, cita-cita tak bisa dilepaskan dari ruang imajinasi, ruang realitas, keluarga hingga dari pengetahuan dan imajinasi kita tentang sosok kita di masa depan.

Imajinasi

Melalui imajinasilah manusia dapat menjangkau dan menerka-nerka dirinya dimasa depan. Imajinasi kemudian tertuang dalam catatan harian, jadi tulisan, hingga jadi buku, bahkan jadi perilaku yang akan membawanya kepada cita-cita yang ia inginkan. Misalkan ketika seseorang memiliki cita-cita menjadi model, maka ia berlaku, bergaya dan merias wajahnya seperti model. Melalui imajinasilah, pesawat terbang tercipta, melalui imajinasilah astronot sampai kebulan. Betapa mahal dan berharganya imajinasi. Hingga albert enstein pun mengatakan : “Imagination is more important than knowledge”.

Dunia sekolah kita seringkali menghabisi imajinasi, sosok orangtua pun demikian halnya.anak seringkali dipaksa untuk menjadi orang yang bukan dia inginkan. Orangtua membentuk pribadi-pribadi anaknya. Maka dari itu, keterpecahan biografi,kesimpangsiuran diri seringkali ditemukan disekolah-sekolah kita. Mereka murid-murid seringkali menyadari ini ketiak mereka keluar dan lepas dari sekolah. Ketika mereka lulus dari perguruan tinggi, barulah mereka menyadari bahwa diri ini lebih suka di bidang ini, diri ini dan tubuh ini lebih nyaman disini, dan sebagainya. Kelak disitulah manusia menyadari kembali bahwa belajar tak mesti harus meninggalkan dan melupakan hak tubuh. “Tugas sekolah tak lain dan tak bukan adalah meruwat dan merawat imajinasi-imajinasi siswanya”. Oleh karena itulah, bangun imajinasi kita masing-masing, dan ajaklah tubuh ini menekuni dunia yang disukai tubuh ini, bukan dunia yang disukai oleh guru-guru kita dan juga oleh teman-teman kita.

Mimpi itu kini, dan esok

Laskar pelangi seringkali meneriakkan bahwa mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Kata-kata itu bisa dipercayai penuh, bisa juga jangan dipercayai sama sekali. Mimpi itu bisa jadi adalah apa yang pernah kita katakan dimasa kecil. Mimpi pun bisa jadi adalah kata-kata kita hari ini, dan mimpi itu pun bisa jadi adalah kata-kata kita yang kita ucapkan di masa depan. Maka mimpi itu adalah laku. Siapa menjalani laku itu, maka ia yang akan memenangkan cita-cita. Tubuh ini tak sekadar tubuh yang bisa dibawa dan ditentukan kemana saja ia harus menjadi. Kontrol masyarakat, control budaya, hingga control televise tiba-tiba jadi tubuh yang membentuk kita. Al hasil, mimpi hanya jadi angan-angan belaka. Maka cita-cita membutuhkan iman, iman tak sekadar ucap, tapi juga berbuat. Dengan ucapan yang menjelma menjadi perbuatan dan didasari keyakinan yang teguh itulah, manusia bisa menjalani apa yang sebetulnya sudah menjadi haknya. Barang siapa berbuat, maka kelak ia akan memetik buah dari apa yang ia perbuat. Oleh karena itu, tak ada yang tahu cita-cita itu selain diri kita sendiri. Sebab cita-cita belum tentu sama di masa dulu, saat ini hingga esok tubuh ini mau kemana dan menjadi apa tergantung pada diri kita masing-masing. Dari mimpi itulah ternyata kita menciptakan tubuh-tubuh baru kita, dan mimpi itu tidak selalu diperoleh dari tidur kita. Kita sadar, bahwa kita sedang memimpikan diri kita menjadi “sesuatu atau sesosok” di masa mendatang.

Mati

Bila kita menyepakati bahwa cita-cita adalah masa depan, maka cita-cita kita semua adalah mati. Meski kita tak suka, meski kita kecewa, dan bahkan membencinya. Dalam buku “mati bertahun yang lalu” soe tjen marching menuliskan tentang kematian sebagai cita-cita : “begitu ngerinya kematian. Ia hidup dimana-mana. Ia terkadang lebih hidup daripada hidup itu sendiri. Dan karenanya, ia dapat menguasai hidup dan menghantuinya”. Kematian menjadi sesuatu yang tak hanya ditakuti, tapi dinanti-nanti,disambut dan juga dirayakan dengan berabagai upacara. Karena disaat itulah, manusai memahami bahwa ia akan menyudahi dan atau melunasi cita-citanya. Lebih lanjut soe menyatakan : “Dan sebagai akhir perjalanan, ia adalah tujuan. Namun sebagai tujuan yang paling pasti,ia paling mengerikan.karenanya, manusia menciptakan berbagai agama dan kepercayaan untuk menghadapinya. Sehingga mereka dapat melihatnya sebagai surga, kehidupan abadi, dan pertemuan dengan Yang Maha Tinggi”.

Maka alangkah sia-sianya manusia yang tak menyadari dan tak mengerti mengapa ia harus mati dan untuk apa ia membangun semua yang kelak ia merasakan kepuasan dengan senyum riang, ia merayakan dengan kegembiraan dan ekspresi yang lain, tiba-tiba disambut dengan satu peristiwa yakni kematian. Mati sekali lagi adalah langkah dan juga cita-cita yang tak hanya menghidupkan imajinasi-imajinasi tentang siksaan hingga nikmat melalui pesan moral agama. Maka kematian adalah peristiwa yang tak pernah selesai dalam perbincangan,sebab ia akan hidup dalam pembicaraan orang hidup, dan tak hanya melahirkan energy yang luar biasa dan menjadi tindakan luar biasa yang memotivasi seseorang untuk berbuat banyak. Entah kebajikan atau sebaliknya keburukan. Dan mati pun tetap menjadi cita-cita yang misteri.

Pada akhirnya

Pada akhirnya kita sendiri yang menentukan, merumuskan dan juga menuliskan dalam biografi kita akan menjadi apa kita kelak.Yang orang menyebut ini cita-cita. Cita-cita inilah yang kata kartini memuliakan seseorang, dan mengangkat derajat manusia. Sebab dari cita-cita itulah manusia bisa berjalan dengan kehendaknya, menuliskan kehidupannya. Dan pada akhirnya cita-cita itu tergantung anda, bukan saya, apalagi mereka. Maka tuliskanlah cita-citamu dengan keringat,hingga dengan darah, agar kelak di saat-saat cita-cita kita terakhir kita tiba, yakni kematian menjemput kita. Kita sudah tersenyum pulas dengan berbagai kebahagiaan dan bekal yang sudah kita tuliskan bersama dengan orang-orang tercinta.

*)ARIF SAIFUDIN YUDITIRA . Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten, masih studi di universitas muhammadiyah surakarta mengambil jurusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa inggris, selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai, esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar surabaya, Suara merdeka, Harian joglosemar, Solo pos, Media Indonesia, Lampung post, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra pawon, Koran opini.com, gema nurani-com dan lain-lain. Ikut menulis dalam buku Manusia = puisi(2011) dan ”Aku dan buku” pawon (2012) .Buku puisinya Hujan ditepian tubuh diterbitkan di greenta jakarta(2012) Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Mengelola Kawah institute indonesia

Senin, April 09, 2012

Kosmologi Cinta

Oleh arif saifudin yudistira*)


Nilai cinta sejati itu adalah kalau cinta itu bisa menerima yang tidak berharga. Bagi yang berharga, Tuhan memberi banyak imbalan dibumi, tetapi Tuhan menyediakan cinta bagi yang tak berharga(Tagore dalam Bimala)

Begitulah penilaian cinta, cinta tak hayal selalu jadi menarik dalam dunia manusia. Karena cinta barangkali tak dikenal dalam dunia binatang. Mencintai dan dicintai itulah fitrah manusia. Manusia dilahirkan sejak pertama memerlukan kasih sayang, memerlukan cinta, itulah sebab manusia pertama adam tak betah meski disurga tanpa ditemani cintanya yakni hawa.Uraian tagore dalam bimala sepertinya tak seperti dunia kita saat ini. Nilai cinta sejati seringkali diukur hanya dari persoalan harta, tahta, hingga keturunan. Tak hanya itu, sinetron-sinetron kita begitu fasih menggambarkan kata “cinta” lekat dengan dunia yang mewah, dan berstrata. Cinta itu berkelas, yang tak mampu memenuhi itu ia akan kalah dalam hidupnya. Cinta itulah yang direduksi hingga saat ini.Cinta itu sebatas tubuh semata. Hegel pun pernah mengatakan “tak ada cinta, yang ada hanya cinta kelamin”. Ungkapan hegel relevan dengan cinta yang ada di dunia modern kita., Cinta direduksi dan dieliminir dengan persoalan seksualitas semata.

Nafas cinta

Dunia kita meramaikan cinta dengan segi-segi bersifat material seperti dengan cara kita berkencan, cara kita merayakan hal-hal special. Acara tahun baru, surprise di kala ulang tahun, hingga perayaan hari kasih sayang. Alangkah picisannya cinta yang demikian, cinta demikian jadi bernafas sejengkal dan tak lama. Betapa cinta bukan persoalan itu, tapi ada yang lebih berharga dan bermakna dari cinta selain itu. Cinta yang kekal dan tak terhargakan di mata sebagian besar orang, itulah yang sering diremehkan, tapi disitulah letak cinta sesungguhnya. Lihatlah betapa ival alminsky atau nama lain dari alimin yang begitu besar mengungkapkan cintanya pada negerinya :Kekasihku, cintaku padamu bukan main besarnya, akan tetapi cintaku pada tanah airku lebih besar lagi….lebih mempengaruhi diriku. Janganlah bujuk dan rayu aku supaya mengabaikan kewajibanku terhadap tanah airku…..karena dengan berbuat demikian sia-sialah kelak hidupku diatas dunia ini tidak hanya oleh kawan ataupun lawan”(patjar merah Indonesia).
Cinta itu untuk negeri, dan tak bisa cinta dibatasi hanya sekadar materialistic. Alimin menolak itu, ia memilih cinta yang lebih besar, bukan persoalan untuk dikenang, tapi cinta itulah yang kelak akan menuntunnya pada jalan kemuliaan. Para politisi, para pejabat, hingga para artis yang kerap dilanda gossip miring karena persoalan seksualitas menunjukkan mereka mencintai yang sejengkal, yang pendek, dan nista. Cinta tak semestinya demikian, cinta itu indah, dan cinta itu sebagaimana pramudya pernah berujar ia adalah anak kebudayaan, bukan batu yang turun dari langit.

Rayuan

Cinta adalah tantangan dan hadiah : Sebuah tantangan bagi orang lain untuk mengembalikan cinta itu. Dan agar dirayu,seseorang harus menantang yang lain untuk dirayu[taka da argumen yang lebih baik ketimbang mencurigai wanita yang tdk mampu di goda](Jean paul badrillard). Kata cinta memang lekat dengan kata rayuan, barang siapa pandai merayu, maka cinta dalam genggamannya. Rayuan adalah senjata ketika manusia bercinta, disitulah rayuan adalah hal yang mistis, tapi mematikan. Siapapun laki-laki maupun perempuan ketika tak kuat dengan rayuan, maka ia bisa hanyut dalam nista. Kisah nabi yusuf adalah pelajaran berharga bahwasannya laki-laki begitupun kuatnya, ia akan luluh terhadap rayuan wanita tanpa perlindungan dari Tuhan. Memang tipis perbedaan antara cinta sejati dengan cinta picisan, disaat manusia lengah dan tak kuat menahan nafsunya, disitulah ia akan menemui dirinya jatuh dalam kenistaan. Sebagaimana gambaran yang dilukiskan oleh YB mangunwijaya dalam burung-burung manyar : ”Mengapa selalu segala hal yang indah berdampingan dengan yang kotor dan berbau?.Jika benar cinta dan kemesraan pria wanita itu mulia dan sumber kebahagiaan,mengapa Tuhan menciptakan tubuh kita sedemikian, sehingga organ cinta sangat didekatkan berdampingan bahkan bersatu dengan lubang pembuangan kotoran?. Maka dari situlah, manusia seringkali terjerumus pada persoalan nafsu, bukan cinta. Sehingga hal-hal yang dilarang Tuhan dilanggar dengan meletakkan organ-organ cinta tak pada tempatnya.

Takdir cinta

Tak ada keseimbangan ketika tak ada cinta. Begitulah kehidupan ini, ketika cinta tak ada yang muncul adalah antologi kekerasan. Sebagaimana yang terjadi di negeri ini akhir-akhir ini, konflik pembakaran pesantren, penembakan warga di sape, bima, Mesuji dan lain sebagainya. Belum lagi kasus-kasus lain, seolah menunjukkan cinta manusia di negeri ini kian tergerus dan kian tak ada. Hal ini muncul karena negeri kita saat ini sedang sakit, cinta sesama manusia sudah makin terkikis di negeri ini. Dom helder camara menyarankan : “Apapun agamamu,cobalah berusaha agar agama membantu menyatukan umat manusia, bukan untuk memecah belah”. Konflik yang ada dengan motif sara, sering terjadi di negeri ini karena cinta sudah tak lagi ada di manusia-manusia kita.Begitulah takdir cinta, ketika cinta jadi spirit dalam hidup manusia, untuk mencintai dan menyayangi, maka keindahan dan kedamaian yang ada. Begitupun sebaliknya, ketika cinta sudah tak ada lagi, maka kekerasan, penindasan, dan kerusakan yang terjadi. Itu pun berlaku ketika kita tak mencintai lingkungan kita, tak mencintai sesama kita. Bukankah kita percaya, peradaban yang agung tak mungkin bisa diwujudkan tanpa rasa cinta?. Lalu dimanakah cinta kita?.



*) Penulis adalah mahasiswa Univeristas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di bilik literasi solo