Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Senin, Juli 16, 2012




Masih Tentang Dunia Impian Kita

oleh arif saifudin yudistira



Aku tak merujuk kita adalah aku dan anda semua yang membaca dan merasai hadir dan saya sebut. Saya membatasi kita adalah aku dan kamu, dan “kamu” selanjutnya kuserahkan padamu untuk menafsirkannya.
Dan kita belum selesai, di dunia ini, kita Cuma mampir. Mampir dari satu tempat ke tempat lainnya. Selanjutnya perjalanan mesti dan harus dilanjutkan. Perjalanan kemana? Hendak kemana?. Itu pertanyaan semua orang hidup, bagi orang yang hidupnya mengalir akan mengatakan hidup itu yah di lautan, kita akan kelautan, dan laut adalah persinggahan terakhir air itu. atau tanah, sebab air meresap ke tanah. Dan bagi yang mengandaikan hidup seperti angin yah mengalir ke mana angin membawa. Dan bagi yang berTuhan akan mengatakan hidup akan kembali pada Tuhan.  Dan bagi kehidupan orang yang tidak berTuhan, maka ia akan mengatakan : “hidup tak kemana-mana, kita ada dengan sendirinya”.
Tapi bagiku hidup adalah perjalanan, dari mana dan mau kemana itu yah kita sendiri yang menentukan.
Dan impian, mengapa kita harus bermimpi?. Setiap orang mengalami masa itu, masa kanak-kanak, bahkan berimajinasi ingin pergi ke langit dengan tangan dan kaki kita. imajinasi itulah yang membawa manusia mencipta kapal terbang, mencipta kapal, mencipta apa saja yang diinginkan.
Di tiap mimpi itulah, kita terkaang menaruh harapan yang tak sadar menjadi harapan kita di alam nyata, dan menjadi kenyataan sampai hari ini. Manusia memerlukan cita-cita dan mimpi untuk menjaga bahwa ia masih punya harapan, bahwa hidup harus berjalan.

Dan aku ingin meriwayatkan bhwa kampus adalah tempat tinggalku sekaligus tempat menaruh impian-impian dan imajinasiku. Pikiran tentang kampus tak lebih dari itu, mimpi itu adalah sesuatu yang besar, dan hal besar itu bisa aku namai perubahan. Perubahan macam apa yang aku inginkan setidaknya adalah perubahan yang melampaui masyarakat yang tak berumah atau bersinggah di kampus.
Kampus menyemai harapan itu,mestinya. Kampus memiliki tugas untuk itu, dan tugas keilmuan itu mahal begitu kata MT arifin. Tugas itu mahal bukan karena persoalan uang, tapi juga tenaga dan pikiran kita mesti dikuras untuk mengurusi itu.
“bayangkan, membeli buku sja mesti harus berjalan, mesti mengeluarkan uang, dan tidak berhenti sampai di situ kita mesti membca buku itu dan selanjutnya baru menulis” ia sangat ekspresif menyampaikannya.
Aku tak tahu apa professor-professor di kampus ku mengalami dan melakoni kerja semacam itu. aku tak tahu misi akademis mereka. Ada yang nyelethuk bahkan temanku sendiri mantan presma “ apa ada intelektual di ums rif”?. Pertanyaan itu seperti satire di masa kini. Realitas sekarang memang menunjukkan kampus sering dan berburu memburu gelar dengan guyonan “Doctor humoris causa”. Professor kan untuk tunjangannya yang besar dalam hatiku. Tapi esok harinya saya pun menemui professor saya di UMS. Ia adalah professor lingkungan di UMS. “Maaf pak, mengganggu. Saya mau diskusi sebentar”. Dan percakapan pun berlangsung. Waktu itu kami mempertanyakan : “apa itu pak,?”(terlihat sang professor sedang membaca-baca ulang buku laporan yang akan dibuat untuk penilaian DIKTI”.
Dan professor itu menjawab : “yah begini mas professor, harus bikin jurnal untuk tunjangan dan gaji, kalau gak bikin yah gak ada tunjangan”.
Kami pun hanya diam saja dan dalam hati gerundelan. Apa ini professor-professor kita?. aku masih berpikir bagaimana impian yang begitu besar itu masih ada di kepala-kepala mahasiswa?. Apa aku yang terlalu gila mengimpikan impian perubahan itu? dan aku masih memiliki impian perubahan itu. enam tahun berjalan masih belum terlihat juga impian itu. aku terdiam, apa aku mengikuti arus orang-orang dengan segala kenikmatan yang mereka ciptakan?. Apa aku menciptakan arus sendiri bergumul dengan buku-buku dan tulisanku? Tanpa masa depan sbagaimana orang-orang cita-citakan dan takutkan?. Atau sebaliknya, “sudah waktunya keluar dari kampus rif, ketika memang dunia kampus sudah tak memberi apa yang kau cari” begitu ungkap temanku yang kini sudah mau beranak kembar.
Dan masih tentang impian, impian itu adakah?
Di aku, kamu ,dan kita???



7/juni /2012
Tulisan di muat di Koran pabelan edisi 20 /2012


Nafsu Besar Sekolah

oleh arif saifudin yudistira*)

           
Pada masa kanak-kanakku
aku jadi seragam
buku pelajaran sangat kejam
Aku tidak boleh menguap di kelas
Aku harus duduk menghadap papan di depan
Sebelum bel aku tidak boleh mengantuk
(Kenangan Anak-Anak Seragam, Widji Thukul)

            Memori sekolah itu ada di kepala kita masing-masing. Sekolah memang menyimpan luka dan trauma. Sekolah adalah waktu senggang sebagaimana dirumuskan oleh plato dan para filsuf di jaman dulu, kini tak ada lagi. Kini, sekolah bahkan lebih parah dengan berbagai perangkatnya yang semakin membawa satu ketidakfahaman dan semakin membingungkan. Apa yang dialami di sekolahan adalah siksa, apa yang dialami di sekolahan bukan lagi kenangan dan kesenangan dan tawa. Sekolah itu bisnis !
            Imbauan illich masih relevan hingga kini untuk membubarkan istitusi bernama sekolah. Bagaimana tidak, ketika nilai mata pelajaran ditentukan berapa banyak kamu membeli buku paket terbitan A,B, dan lain sebagainya. Sekolah itu memori menyakitkan bagi si miskin. Trauma itu melekat di widji thukul, ia adalah penyair yang menegaskan bahwa sekolah itu adalah trauma yang mengenaskan. Sekolah telah memukul telak kehidupannya, bapak ibunya buruh, kemiskinan yang mendera hingga siksaan kelaparan tak ada dalam kamus bernama sekolah. Sekolah bagi thukul adalah perjalanan hidupnya, kehidupannya sendiri yang ia alami bersama mall, tukang becak, dan keluarganya yang ia tuliskan di buku puisinya.
            Hari ini kita mengingat kembali memori bersekolah kita, di hari ini lah dan bulan-bulan inilah sekolahan di buka. Murid-murid baru mulai mendaftar sekolah, para mahasiswa baru pun mulai berebut kursi di perguruan tinggi. Orang tua mulai ribut dan ribet mempersiapkan uang sekolah, pegadaian ramai dengan pinjaman dan kredit untuk satu tujuan “sekolah”. Betapa selebrasi sekolah mengalahkan selebrasi international di forum-forum dunia. Toko-toko buku dan alat tulis menggeser buku-buku wacana dan buku-buku pahlawan diganti dengan buku-buku tulis dan paket-paket diskon. “paket pintar” satu paket tas, pensil dan sebagainya. Fenomena yang demikian kelihatan nampak wajar, lalu apa sebenarnya yang dicari di sekolah dan untuk apa tujuan sekolah itu?.

Belajar dan mengajar

            Saya jadi teringat nyanyian bocah-bocah kecil yang saya temui di Qorri'ah Toyyibah. Di taman belajar itu ia menyanyikan lirik “untuk menjadi pintar itu mudah kuncinya banyak membaca, untuk menjadi terampil itu mudah kuncinya banyak berkarya”. Membaca dan berkarya. Apakah sekolah mengajari dan memahami dua kata itu?. Sekolah tak lebih institusi yang mengekalkan mitos dan mitologi nilai-nilai. Betap tidak, bila sekolah mengukur dan mengubah prestasi dan bakat siswa ke dalam angka-angka statistik. Tidak hanya itu, sekolah adalah mesin yang terus-menerus menyerukan etos konsumsi. Mulai dari buku yang berjenis tiga macam buku catatan, buku tugas, hingga buku PR. Anak-anak kita diam-diam dibawa dalam suasana yang kelihatannya menyenangkan. Anak-anak dilatih berkonsumsi di tiap ajaran barunya, dengan menggunakan semua hal yang serba baru. Tapi pengetahuan tak kunjung baru. Buku paket pun ikut ikutan baru dengan label “edisi revisi”,”disesuaikan dengan kurikulum terbaru” dan lain sebagainya.
            Belajar jadi direduksi, anak-anak mengalami siksa dan tragisme ketika mereka dipaksa dalam kondisi yang serba cepat dan serba terbatas. Istirahat disetting hanya lima belas menit. Seolah waktu mereka disita untuk mengurusi buku dan mata pelajaran. Pertanyaannya benarkah mereka bapak ibu guru, murid dan sekolah mengurusi buku-buku?. Tak ada bagaimana cara membaca, yang ada adalah menjawab soal dan kunci jawaban. Bimbingan belajar tiba-tiba direduksi dengan bimbingan soal-soal dan prestasi pun dirubah menjadi “nilai tertinggi UAN” dan tak ada tempat bagi siswa bandel, siswa yang melenceng dan bertobat dari jalur demikian. Alhasil sekolah mengeliminir mereka-mereka kaum kreatif dan kaum termarginal dari sekolah. Mereka-mereka itulah kaum miskin, dengan bakat alam yang sungguh hebat tiada tara yang berbekal pengalaman itu mereka mampu mengarungi hidup yang kejam ini di negeri kaya raya. Mereka inilah yang sekolah sebenar-benarnya.
            Kita pun tak mengenal belajar dan mengajar. Guru dan murid sama-sama belajar, belajar dan mempelajari apa saja yang ada di kelas, yang ada sebaliknya guru memberi murid tetap menerima meski pola kurikulum diganti ratusan kali. Siswa adalah para pekerja yang menyelesaikan soal LKS tanpa tahu untuk apa LKS itu. Yang kemudian harinya justru dibuang dan dijual di loakan. Buku itu seperti ada batas nilai gunanya, kenang-kenangan,catatan pun dibuang begitu saja. Dan akhirnya kita tak mampu lagi mengingat memori-memori masa lalu yang dulu begitu lekat di buku-buku tulis kita. Belajar mengajar pun tiada lagi di sekolahan.

Perayaan konsumsi

            Siapa yang sebenarnya bermain dibalik etos konsumsi yang muncul di tiap ajaran baru ini?. Negara seperti tak mau tahu urusan kualitas manusia-manusia indonesia. Negara memahami sekolah dalam pengertian pemasok perusahaan-perusahaan dan angka statistik yang berurusan dengan laporan kebijakan dan keberhasilan presiden yang tiap tahunnya dipamerkan di pidato kenegaraan. Ada persoalan substansial yang melampaui itu semua. Yakni etos konsumsi yang diam-diam berjalan terus-menerus, seperti siklus yang tak berhenti. Orangtua, murid, pemerintah hingga sekolahan sendiri seperti mengamini dan tidak bisa berbuat banyak. Saya jadi teringat lagu iwan fals “Dan orde paling baru” : Kota besar menjadi magnit. karena televisi mengiming imingi. Yang jelas rakyat butuh pendidikan. Tapi pendidikan yang didapat adalah rongsokan “.
            Sepertinya memang demikian halnya, pendidikan yang didapat adalah rongsokan.  Dan rongsokan itu makin lama makin mendapat pengakuan saja dari manusia indonesia. Pendidikan itu kian tak menemui jawaban terhadap persoalan-persoalan. Sebab tanya jawab kita berbeda dengan tanya jawab realitas. Sungguh saya membenarkan kegagapan para mahasiswa yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi kita. Diam-diam kita pun mengikuti apa yang dikatakan Baudrillard yakni “keberlimpahan”. Semua sudah berlimpah, termasuk apa yang kita mau dan butuhkan. Keberlimpahan itulah yang coba dijelaskan dengan berapa biaya kita selama kuliah? Ternyata ratusan juta dibuang tiap tahunnya, dan untuk apa?. Sedang negeri ini masih saja bicara, mari masuk sekolah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bukankah kita semua rugi?, kita sudah keluar begitu banyak uang, begitu banyak biaya untuk memenuhi nafsu besar “sekolah”.
            Dan kita masih saja terlena, berjalan apa adanya seolah tidak ada apa-apa dan mengamininya. Sekolah, meski banyak dera dan derita, tapi kita masih memasukinya, dengan rela,dengan suka cita, dengan senyum manis di wajah orangtua kita. Dan inilah dehumanisasi sekolah hari ini, kemaren dan mungkin nanti. Entah-entah sampai kapan.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo, Pengelola Kawah Institute Indonesia
*)Tulisan dimuat di bulletin ora weruh edisi enam 2012 

Minggu, Juli 15, 2012


Sejarah Dan foto Di Abad 21
Oleh arif saifudin yudistira*)
           
“Saya ingin menghidupkan Jawa di masa lalu, yang subur, penuh dengan nuansa hutan dan hijau, padang yang luas. Karena saat ini sudah tidak ada lagi, melalui foto-foto yang saya lampirkan dalam buku KUASA RAMALAN saya berhasrat seperti Raffles”
 (Peter Carey dalam diskusi 21 april 2012)

            Telisik sejarah ternyata mampu mengundang imajinasi dan juga nuansa masa lampau di masa kini. Sejarah negeri ini sebenarnya sangat kaya akan khasanah, kebudayaan, hingga peristiwa yang begitu membuat kita takjub di jaman sekarang. Kita tak lagi mampu melacak keadaan, nuansa, suasana, hingga momen-momen yang begitu bersejarah tanpa  fotografi. Semenjak dunia fotografi yang masih berupa heliografi yang ditemukan oleh joseph Nicephore Niepche di tahun 1825, dunia fotografi pun berkembang hingga saat ini. Dunia fotografi tak hanya berkembang pada bagaimana momen-momen diabadikan begitu saja, dunia sekolah merawat ini dalam rupa biografi dan administrasi. Dunia sekolah di masa colonial pun tak berbeda jauh. Foto begitu berharga untuk menarasikan diri dan juga peristiwa yang sudah berlalu demikian jauh dari kita.
            Foto berubah menjadi alat untuk mengucap dan mendefinisikan diri. Kita pun kini menemui buku dan biografi para tokoh dan founding fathers kita dilengkapi dengan foto-foto mereka. Sebut saja buku biografi Hatta yang ditulis Deliar noer yang diterbitkan kembali oleh gramedia yang memuat lebih dari seratus foto Mohammad Hatta. Foto ini memberi penjelas sekaligus narrator untuk mengucapkan sang tokoh. Foto dengan berbagai ekspresi dan berbagai momentum indah dan momentum serius pun dihadirkan untuk melengkapi biografi. Narasi teks pun serasa hambar tanpa narasi visual. Narasi visual jauh melampaui narasi teks, konon foto adalah rangkuman dari seribu kata yang mampu menjelaskan tanpa harus ditulis.              
Dunia kini mengenal foto tak hanya sebagai dokumentasi dan arsip-arsip semata. Foto melebihi itu, foto adalah sejarah yang bergerak dan menggerakkan. Foto jadi dunia yang kemudian bisa dilacak sebagai data autentik untuk mendeskripsikan dan menarasikan seseorang di masa lampau. Kita mengetahui kerja dan jerih payah harry a.poetze yang menggunakan foto tan malaka di belanda dan juga di sumatera sebagai satu data untuk melengkapi penelitian sejarahnya tentang orang misterius dan paling berpengaruh terhadap lahirnya bangsa Indonesia ini. Melalui penelitiannya itu pula Harry a poetze menulis Tan malaka dan gerakan kiri Indonesia.
Fakta bahwa foto adalah sejarah yang menggerakkan pun bisa ditelusuri ketika Pater Carey menelusuri sejarah dan biografi Pangeran diponegoro melalui foto diponegoro yang digambarkan melawan belanda dengan berdiri tegap dan dagu ke atas. Foto inilah yang mengajak dan mengantarkannya ke jawa dan meneliti pangeran ini selama hampir 40 tahun.Ada panggilan mistis untuk meneliti dan mengganjal di foto diponegoro tersebut.  Foto pun bisa kita temui di buku Raffles (History of java)yang memuat berbagai sosok dan potret priyayi, kawula alit, demang, hingga para ulama di masa itu. Raffles menggunakan foto untuk menjelaskan kelas sosial pada waktu itu, orang china, orang jawa dan juga orang colonial. Foto pun menjadi data primer yang tak bisa dilewatkan begitu saja.
Di dalam buku Dari Jawa Menuju Acehi Linda christanty pun menulis tentang foto yang menarasikan pasukan belanda yang berpose selepas penyerbuan di sebuah kampong di aceh timur di tahun 1886. Penyerbuan tersebut bertujuan meringkus Teuku Umar suami cut nyak dien. “Di wajah-wajah itulah saya temukan jawabannya : mereka adalah orang jawa yang dikirim oleh orang belanda untuk menguasai aceh!”. Temuan foto Linda ini ditegaskan oleh pram dalam wawancara sebelum ia meninggal. Pram mengatakan “untuk menundukkan aceh orang-orang belanda mengambil tentara bayaran dari jawa. Ini terus berlanjut sampai hari ini!”.
Foto abad 21
            Di abad modernitas kini, foto pun bergerak melalui sekolah. Dunia sekolah kita pun memberikan satu pelajaran penting tentang fotografi. Foto di dunia sekolah dan dunia kerja kita pun seperti berubah menjadi foto yang berfungsi administrative dan data di sekolahan. Tak beda dengan dunia kerja, yang menjadikan foto tiba-tiba jadi sebuah syarat untuk kelulusan ataupun mendaftar pekerjaan. Foto berubah jadi arsip dan data-data di perusahaan dan juga di lembaga-lembaga pendidikan.
            Foto di abad ini seperti menjelaskan betapa foto sudah tak seperti dulu lagi. Foto tak lagi sacral, dalam foto tak ada lagi diri dan biografi. Foto di dunia modernitas pun berkembang sebagai area selebrasi dan narsisme. Dunia modern mengejewantahkan cara mereka sendiri mendefinisikan foto. Foto berubah jadi tak lagi seperti dulu yang berfungsi sebagai pengucap diri dan biografi hingga momentum-momentum bersejarah, sedang saat ini foto justru membuat kita bunuh diri. Identitas jadi tak bernilai, foto tak lagi mengucap, foto justru menipu dan menjebak kita ke dalam dunia yang asing dan absurd. Sejarah terus bergerak dari foto. Foto masih menjadi saksi dan pengingat masa lampau. 

Para sejarawan menggunakan foto untuk menyelamatkan diri dan biografi. Sedang kita seperti sebaliknya menggunakan foto untuk bunuh diri.

*)Penulis adalah pegiat di bilik literasi mengelola kawah institute Indonesia
Tulisan di muat di radar Surabaya 15 juli 2012