Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Rabu, Juli 28, 2010

Negeri Mimpi


Oleh Arif saifudin yudistira*)

Malam itu sepertinya aku melihat indonesia sejahtera, adil, dan makmur. Malam itu tak ada gelap semua terang. sejauh aku memandang,sejauh itu pula aku menemukan cahaya. Negeri ini seperti aku alami. Negeri ini sepertinya aku diami. Negeri ini tak ada lagi persaingan politik, sebab politik sudah menjadi lenyap dengan tujuannya. Negeri ini benar-benar seperti pernah aku singgah disana. Aku bermimpi kartini tak perlu bercita-cita lagi, pram tak perlu membikin dan mencetak ulang roman-romannya. Gunawan Muhammad berhenti membuat catatan-catatan pinggirnya. Syafii maarif berhenti menulis resonansinya di republika. Kemudian Gus Dur tak perlu lagi berdebat tentang pluralisme. Ulama berhenti berdakwah karena negeri ini sudah beriman semua. Kemudian tak ada lagi aparat kepolisian karena tidak ada lagi yang perlu diamankan dan ditangkap.
Sejenak aku nglilir. Bila indonesia seperti dalam mimpiku, berarti tak ada lagi mimpi baru? tak ada lagi harapan baru?, dan tak ada lagi tujuan negara yang baru?. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku dilahirkan di negeri yang carut-marut ini. Impian. Yah, impian yang membuat negeri ini masih optimis bersama orang-orang di dalamnya. Buya syafii maarif, dan lain-lain yang tidak mungkin saya sebut satu persatu.
Negeri ini memang dilanda masalah, agar kita tidak seperti arab yang tinggal diam dan mengurusi minyak serta menunggu dan melayani jamaah hajinya. Negeri ini pun masih mencari-cari. Meski sudah jelas pancasila,UUD 45, sebagai watak dan karakternya. Perlukah?perlu, karena bagian dari proses menemukan dan mengimani itu harus dijalani.Negeri ini perlu belajar, dan memang dalam proses belajar. Manusianya terlampau terlena dengan kekayaannya, dengan kemerdekaannya. Asyik dengan politik manipulatifnya.
Negeri ini memang lagi bermimpi. Aku tidur lagi. berharap lupa dengan apa yang kualami dan kuimpikan tadi. Tapi kemudian aku bermimpi lagi, negeri ini hampir tidak lagi bernama indonesia. Ia dilanda bencana dimana-mana. Ia dirundung masalah bertubi-tubi. Ia dilanda kemerosotan moral yang dalam. Pancasila dan UUD jadi pajangan. Pemimpinnya ibarat para pemain sinetron yang lihai dalam berakting. Negeri ini sepertinya mengerikan dalam pandanganku. Aku sepertinya benar-benar berada disitu. Para koruptor bukan lagi sedikit, tapi melebihi rekor dunia.
Aku bermimpi terus, negeri ini tidak ada lagi. Sejenak aku berfikir itu tadi kan semua Cuma mimpi?. apa arti mimpi baik- buruk ini yah?. Aku tak bisa menjawab aku hanya ingin melanjutkan mimpiku. Sejenak aku berpindah mimpi, negeri ini ,masih ada dalam anganku, tapi sejenak hilang. Kemudian aku terbang membayangkan negeri amerika yang hidupnya penuh dengan citra. Dimana-mana citra negeri nya yang dibangga-banggakan. Melalui film, atau lain-lainnya.
Kembali aku ke negeri yang konon ceritanya bernama indonesia. Yah, sebab dalam sejarah belum aku dengar detail nama indonesia secara gamblang diceritakan guruku dalam mimpiku. Jangan lupa, aku masih bermimpi. Ku teruskan. Kemudian aku bertemu lagi di negeri ini sejarah yang kompleks. sejarah orang-orang keras tapi juga lembut. Tan malaka, alimin, musso, sukarno, hatta, syahrir, dan sederetan nama lainnya. Bukannya aku lupa atau tak bisa menghafal, sebab mimpiku belum mampu menjangkau nama yang lebih banyak dari yang kuingat.
Negeri ini dibangun pula oleh lautan darah pada waktu itu, di negeri yang namanya indonesia konon katanya, aku pun tak bisa membayangkan betapa amisnya bau negeri ini. Yang penuh dengan lautan keringat dan darah. Saat ini konon ceritanya, negeri ini sedang punya mimpi seperti yang aku sebutkan tadi. Mimpinya masyarakat adil dan makmur, tapi pemimpinnya bercita-cita supaya negeri ini rusak.
Aku tidak bisa membiarkan semua ini. Aku harus merubah semuanya. Aku harus mewujudkan mimpi-mimpi indah itu. Tapi pertanyaanya satu. Apa aku bisa merubah mimpi?. Yah,,,,memang negeri ini masih bermimpi, dan mesti dibangunkan dan diingatkan dari mimpi-mimpinya. Apakah aku dan kita juga demikian???. Aku masih bermimpi, di negeri mimpi.















Penulis adalah Mahasiswa UMS, Presidium Kawah Institute Indonesia

Senin, Juli 12, 2010

Puisi & Kematian Bahasa???

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Pengalaman kepenyairan di negeri ini begitu kompleks. Puisi mengisahkan penyair dalam berbagai kegetiran dan persimpangan kehidupan. Menulis puisi adalah pilihan yang mematikan dan sesuatu yang remeh. Remeh sebab pemerintah tak perlu ribut dan memutar kepala hanya untuk mengurusi dan menghidupi puisi. Puisi menjadi jalan keras untuk orang-orang Indonesia. Mungkin hanya di negeri ini para penyair yang sibuk dengan berbagai aktifitas yang serba keras. Sebab sejarah sastrawan Indonesia tentu berbeda dengan para sastrawan eropa yang mayoritas adalah kaum borjuis yang mengisi waktu luangnya. Sejarah sastra kita adalah sejarah sastra yang penuh dengan cerita dan makna. Barangkali itu pula yang menjadi sebab mengapa sastrawan sulit konsisten dan istiqomah mendalami sastranya di negeri ini.
Sebagaimana penuturan acep zam-zam noor. Bagi acep zam-zam noor menulis puisi memerlukan latihan yang berat, perlu “khusyuk, sabar, tulus, penuh cinta, tanpa pamrih, dan tidak gampang naik darah”[kompas 22 agustus 2009]. Lebih lanjut ia mengatakan, “sebenarnya metode menulis puisi saya ini sebenarnya lahir dari kebiasaan saya sehari-hari”. Kebiasaan sehari-hari acep sebagai seorang kolektor batu, pemelihara ikan, dan bonsai. Dari kebiasaan hidup itulah lahir sebuah metode menulis puisi. Bagi acep menulis puisi ibarat menggosok batu akik dengan sabar, hingga melahirkan spirit kekhusyukan, ketulusan, dan kecintaan. Maka dengan sensitifitas dan kecintaan yang tinggi itulah, lahir puisi yang bernilai dan bermakna bagi pembaca.
Pengalaman ini tentu berbeda dengan pengalaman afrizal malna. suatu kali afrizal pernah bercerita tentang pertanyaan seseorang yang menanyakan padanya tentang ”Apa batasan puisi?””Bagaimana cara menulis puisi yang baik?”. Afrizal pun menjawab dengan jawaban : Bisakah pertanyaan itu menjadi lebih baik lagi?”Apa itu cinta? Apa itu waktu?””Bagaimanakah hubungan tubuh dengan bahasa?”. [kompas,25 mei 2008]. Jawaban afrizal memang menjadi jawaban yang mungkin berbeda dengan kebiasaan para guru-guru kita di sekolah dulu. puisi, pantun, dan soneta, atau sejenisnya seperti mati di tangan guru-guru kita. Sebut saja pantun yang belum berubah hingga kini : “Bila ada sumur diladang, bolehkah kita menumpang mandi?,kalau ada umur yang panjang bolehkah kita berjumpa lagi”.
Puisi menjadi mati, atau sempit ketika memasuki pelajaran dan sekat-sekat yang formalistik. Barangkali guru-guru kita pada waktu itu pun mengalami pelajaran dan pengalaman yang sama ketika memasuki di bangku kuliah. Afrizal pun menyarankan mengubah itu semua dengan pertanyaan sederhana tapi kaya makna, apa itu cinta?. Apa itu waktu?. Dan apa hubungan tubuh dengan bahasa?.[kompas,25 mei 2008]. Maka dengan jawaban praktis pula, afrizal bercerita tentang puisi dan kepenyairan dengan mengatakan : Bebaskan saja tubuhmu supaya kamu bisa memasuki narasi tubuhmu sendiri.
Jawaban afrizal seperti ada kesamaan dengan acep zam-zam noor, kepenyairan, puisi, dan bahasa lahir bisa jadi tidak dari tubuh lagi, melainkan lahir dari cinta dan intuisi yang khusyuk, dan tulus. Cinta, khusyuk, dan tulus ini jarang dimiliki oleh penyair yang tergoda oleh motif-motif sepele. Uang, harta, ketenaran, bukanlah sesuatu yang menggoda bagi penyair, melainkan lebih dari itu, spirit berbagi, spirit memberi, dan spirit kehidupan itu barangkali menjadi sesuatu yang lebih unggul dari pada sekedar motif-motif duniawi tadi.
Kematian bahasa
Bahasa indonesia mengalami proses dan sejarah yang panjang di negeri ini. Bahasa indonesia pun mengalami gesekan dan pertempuran sengit dengan pengaruh kolonial dan bahasa-bahasa lain. Sehingga bahasa indonesia mengalami proses yang mengakibatkan bahasa indonesia menjadi seperti sekarang ini. Sehingga bahasa seringkali latah, gagap, bahkan menjadi kaku, ketika sampai di ruang-ruang pembelajaran bernama sekolah, kampus, dan lain-lain.
Guru, dosen, atau bahkan profesor bahasa sekalipun seringkali menjadi kaku untuk menjelaskan apa yang seringkali kita gunakan ini[bahasa indonesia]. Ini nyata ketika diungkapkan seorang guru yang mengeluh bagaimana ia dipaksa menjadi guru bahasa indonesia padahal ia seorang guru matematika di sekolahan. Kelatahan ini pun dialami dosen yang mengajarkan bagaimana menceritakan “tips membuat novel”,tips membuat puisi, tips menulis esai sastra, dan lain sebagainya. Bahasa menjadi miskin esensi ketika direduksi menjadi sekedar tugas atau makalah yang diitumpuk, disetor, dinilai oleh dosen dan menjadi bungkus kacang rebus.
Pertanyaannya kemudian kelatahan-kelatahan tadi apakah menandakan sebuah kematian bahasa?. atau kematian pelajaran bahasa?. Pertanyaan ini bisa kita jawab dari kisah keseharian di negeri ini. Seringkali para guru-guru kita, para pengajar kita, dan para dosen kita adalah penyampai bahasa, penyampai kurikulum bahasa,tapi bukan penulis novel, penulis puisi, atau penulis cerpen, yang lebih parah, mereka malas, mereka enggan melakukan pembelajaran sastra, sehingga ego intelektual pun menjadi lebih tinggi.
Tak heran, bahasa menjadi mati, tidak luwes, tidak hidup di tangan mereka-mereka. Apa jadinya 5- 10 tahun ke depan ketika bahasa mengalami siklus yang seperti ini. Apakah benar, kematian bahasa terjadi karena pelembagaan, pengkurikuluman, dan penginstitusian bahasa?.
Sepertinya saya sulit untuk menjawab tidak. Saya heran ketika melihat dan mendengar sendiri sejarah latar belakang afrizal yang mengatakan ” saya tidak suka ujian, tapi saya ikuti semua pelajaran ”. Ini begitu ironis dengan keadaan mahasiswa dan dosen-dosen kita sekarang, mereka mengejar score, mengejar kenaikan pangkat,mengejar uang, dan lain-lain melalui institusi bahasa.
Mungkinkah bahasa menjadi sesuatu yang berkembang ketika dihadapkan dengan penyempitan, pendisiplinan, dan kekakuan ketika di ruang pembelajaran?. Mungkinkah kita akan melepaskan tubuh kita untuk mengikrarkan niat kita tidak hanya mengajarkan menulis puisi, tapi juga membaca dan mengilhaminya?. Mungkinkah sastra dan bahasa bisa berkembang,ketika dihadapkan dengan kemalasan budaya baca kita?.

Penulis adalah pendiri komunitas tanda tanya UMS ,presidium kawah institute indonesia, belajar di universitas muhammadiyah surakarta.

Minggu, Juli 11, 2010

Meneropong Muhammadiyah di abad ke 2

Oleh arif saifudin yudistira*)

Hiruk-pikuk dan keramaian muktamar muhammadiyah membawa berkah bagi masyarakat jogja. Beribu-ribu orang datang untuk meramaikan muktamar dan menghabiskan uangnya di Jogjakarta. Keramaian ini pun tak hanya tampak karena banyaknya penggembira, akan tetapi juga karena meriahnya arena muktamar yang luar biasa megah. Selain itu, juga karena syukuran yang berlangsung di stadion mandala krida yang spektakuler. Keramaian suasana muktamar ini menjadi bukti bahwa muhammadiyah masih dicintai masyarakat Indonesia, muhamadiyah masih diharapkan kiprahnya dan sumbangsihnya bagi rakyat Indonesia.
Seringkali buya syafii maarif mengatakan keoptimisannya terhadap bangsa ini meskipun hawa kepesimisan menggejala di mana-mana. Harapan akan muktamar ini pun dinantikan oleh beliau supaya tidak hanya meriah dalam penyelenggaraan, tapi juga menghasilkan substansi tema yang ada.”Gerak melintasi zaman, dakwah dan tajdid menuju peradaban utama”[Kedaulatan rakyat 06/07/10].
Muhammadiyah sudah terbukti memberikan sumbangsih yang nyata bagi permasalahan bangsa dan negaranya. Akan tetapi, di era saat ini, peran itu perlu kiranya kita tingkatkan kembali mengingat bangsa ini sedang sakit dan memerlukan penanganan yang cukup serius. Kemerosotan akhlak, degradasi moral yang sangat akut, perilaku korupsi yang sudah membudaya, dan permasalahan mentalitas pemimpin negeri ini yang merapuh.
Berbagai permasalahan di abad kedua ini menjadi tantangan tersendiri bagi muhamadiyah selaku organisasi yang terbesar di dunia. Peran muhammadiyah dinantikan, dan diharapkan oleh umat di tengah krisis multidimensi negeri ini. Ketika melihat tantangan muhammadiyah yang begitu berat ini, kita dihadapkan pula krisis kepemimpinan di tubuh muhammadiyah dan amal usahanya yang justru perlu diatasi terlebih dahulu.
Dinamisasi gerakan Muhammadiyah
Selama satu abad muhamadiyah, muhammadiyah mengalami dinamika yang luar biasa. Kekritisan kader muhammadiyah yang ingin muhammadiyah menjadi lebih baik menjadi dinamika tersendiri seperti lahirnya buku-buku “ selamatkan muhammadiyah”, “Para pembela islam”, “pemberontakan kaum muda muhammadiyah” adalah kritik yang perlu ditanggapi secara arif oleh generasi tua, sehingga kreatifitas kader muhammadiyah dan kekritisan ini perlu di dengarkan dan dicari solusi bersama dari permasalahan yang diungkapkan tadi.
Selain itu, lahirnya kelompok anak muda yang terwadahi dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah[JIMM]juga menjadi perdebatan yang unik di kalangan warga muhammadiyah yang belum mengerti akan pemikiran anak muda yang masih membara semangatnya. Kegelisahan pun muncul dari kaum tua, akan sekularisasi dan liberalisasi pemikiran anak muda terpengaruh oleh arus seperti JIL[jaringan islam liberal yang membingungkan umat.
Akan tetapi, JIMM lahir dengan semangat rekonstruksi muhammadiyah, kritik yang juga membangun bukan untuk menghujat perlu kita galakkan sebagai sarana untuk menyemaikan tajdid di kalangan muhammadiyah. Karena ketika tajdid tidak digalakkan, wacana tidak disemaikan, muhammadiyah akan terjebak pada virus taqlid dan kemandekan berfikir.
Selain dinamika kaum muda, dinamika amal usaha pun mengalami tantangan yang cukup signifikan. Semakin banyaknya amal usaha memang perlu dibarengi dengan banyaknya kader yang perlu mengembangkan amal usaha di dalamnya. Kekhawatiran akan munculnya virus tarbiyah yang seperti “benalu” di tubuh muhammadiyah perlu ditindak secara tegas, sebab amal usaha menjadi sarana untuk perkaderan dan sarana dakwah yang massif yang perlu dipelihara oleh muhammadiyah.
Krisis ideology dan manhaj muhammadiyah perlu kita atasi dengan pemasifan perkaderan di lingkungan perguruan tinggi muhammadiyah dan ortom muhammadiyah, agar kelak krisis kepemimpinan di tubuh muhammadiyah tidak lagi terjadi. Karena percuma muhammadiyah melahirkan amal usaha yang banyak, mempunyai kader yang banyak, tetapi kurang dalam meruwatnya.
Krisis kepemimpinan ini nampak di muktamar kali ini, mengingat kandidat ketua PP muhammadiyah masih diduduki oleh orang-orang tua. Muhammadiyah memang organisasi yang dipimpin dengan prinsip kolektif kolegial, akan tetapi perlu kiranya kaum muda muhammadiyah dipersiapkan, di dorong dan diberi ruang untuk memimpin muhammadiyah.
Oleh karena itu, di abad kedua ini muhammadiyah perlu merumuskan strategi yang jitu untuk memecahkan permasalahan organisasinya dan permasalahan kebangsaan. Spirit kebangsaan yang perlu diutamakan ini pernah diungkapkan oleh ahmad syafii maarif dalam sebuah seminar. “ Muhammadiyah yang belum bisa memberikan sumbangsih bagi warganya, bukanlah muhammadiyah yang sebenarnya”.
Dengan semangat kebersamaan dan kegotong-royongan insya Alloh muhammadiyah di abad kedua ini akan lebih maju dan lebih memberikan kontribusi yang lebih maksimal kepada bangsa dan umat manusia di dunia ini. Semoga harapan dan tema besar yang ada kali ini benar-benar bisa diaplikasikan dengan strategi dan rumusan yang dihasilkan oleh muktamar kali ini.
Hasil ini tentu dinantikan oleh jutaan umat di negeri ini dan dunia pada umumnya, sehingga substansi muktamar tidak hanya tentang bagaimana memilih ketua muhammadiyah, tapi juga merumuskan rekomendasi dan strategi untuk merumuskan solusi bagi permasalahan bangsa ini.Begitu.

*)Penulis adalah aktifis IMM Surakarta, belajar di universitas muhammadiyah Surakarta.