Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Rabu, September 28, 2011

BUKU Manusia = Puisi



Mengembalikan diri pada hakikat kemanusiaan

Oleh arif saifudin yudistira*)



Lalu aku, lalu kau, lalu akukau adalah tiga bab kehidupan kita yang diterjemahkan,dituliskan dan ditangkap oleh radhar panca dahana dalam puisinya yang berjudul LALU AKU. Aku, kau, dan kita adalah bagian dari kehidupan ini, bagian dari hakikat kosmos yang tak mungkin terpisahkan dalam kehidupan kita. Ketika aku terlepas dari kau, ketika kata aku terlepas dari kau dan kita maka aku adalah sosok yang hilang, sosok yang tak punya nyawa. Pesan itulah yang ingin disampaikan dalam sekumpulan puisi ini.



Manusia diciptakan untuk berhubungan dengan oranglain, dengan alam, dan dengan imajinasinya. Ketika manusia tidak lagi mempunyai rasa sensibilitas, tidak memiliki rasa sensitifitas dengan alam, manusia lainnya, maka tidak jauh berbeda dengan cyborg. Sebagaimana lyotard pernah berujar tentang makhluk mekanik. Lebih jauh lagi herbert marcuse menyebut manusia yang seperti ini dengan sebutan one dimensional of men(manusia satu dimensi).



Manusia yang seperti itulah manusia yang mereka menyentuh, mereka mendengar, mereka melihat tapi tidak tersentuh, tidak mendengar, dan tidak merasakan. Akhirnya manusia yang seperti inilah yang tentu tidak sama-sama kita inginkan. Sastra adalah bagian dari kemanusiaan itu. Puisi adalah bagian dari sastra. Mencintai puisi, adalah mencintai sastra, dan mencintai kemanusiaan.Lewat kata-kata itulah kita berperan, dengan kata-kata kita bersuara, dan dengan kata-kata kita mengumpulkan dan menciptakan, serta dengan kata-kata kita berfihak. Maka tak hayal bila pramudya pernah mengatakan : orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak mencintai sastra ia ibarat anjing yang bodoh.



Dalam puisi radhar panca dahana, kita akan menemukan keterasingan, kelemahan, kegembiraan, kekaguman, dan juga refleksi diri yang sangat wajar dihadapi oleh manusia. Menulis puisi adalah memerkarakan hidup dan kehidupan. Puisi bagi radhar adalah upaya mengembalikan kita sebagai manusia. “Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta”. Susunlah ia jadi puisi sehingga ia memanusiakan kamu,sebagaimana sejarah waktu ada padamu, sejarah cinta membentukmu”.



Radhar panca dahana meletakkan kata aku dengan lihai, aku menjelma menjadi alam, aku menjelma menjadi anak, dan metafora yang asyik dan membawa kita pada dunia imajinasi yang luar biasa. Lihatlah puisi dibawah ini :
RAGUKAN AKU TANPA RAGU
; cahaya
laut dimana semua tetesnya
adalah cinta, untukmu semata.
Tapi,sekali lagi ragukan aku
bila tetap tersedu,tetap jadi aku.
Ragukan semua
tanpa ragu.



Susunan kata-kata ini mengisahkan sosok seorang ayah yang bertutur pada anaknya,untuk meragukan aku tanpa ragu. Anak dalam puisi ini pun bisa menjadi bermacam-macam makna.
Dalam puisi ini pula kita akan menemukan rasa kekaguman, perasaan yang biasa kita alami sebagai sosok manusia yang mengagumi seseorang. Radhar panca dahana menuliskan ini dengan indah dengan judul : LENGGOKMU,LENGGOK WAKTUKU ; Ratih sanggarwati. Dalam puisi ini kita akan menemukan peristiwa yang intim antara penulis puisi dengan ratih sanggarwati, yang mengalami satu peristiwa yang sama, kenyataan yang sama,yang berjalan beriringan antara mereka berdua. Simaklah bait puisi berikut ;



Tih, diamlah sesaat
pernahkah hatimu bershalat
biar ujung kainmu jatuh tak jadi sesat
biar hidupmu berkeluh melulu kasat
Aku menari di lenggok selendangmu,mengira hari menjadi hati
.



Dalam puisi ini kita diajak berfikir, merenung, dan mengagumi sosok ratih sanggarwati. Begitupun dalam puisi sejenis yang berjudul Pisau kecil pingkan mambo.



Oksigen itu kini bernyanyi dengan melodi dusta //dan katakata yang rakus kuasa,”pingkan mambo” // kau pun mengerat potongan sirloin terakhir // tak segera kau benamkan di mulutmu//karena samudera di dalamnya membuat kapalku hilang layar selalu. …........
“cinta sesunggunya siksaan//entah mengapa sepertinya kau baru menyadari//“atau sesungguhnya ia sekedar korban”//aku menggigit pisau dan menelannya



berbeda dengan puisi yang sebelumnya, puisi ini mengisyaratkan perhatian radhar panca dahana pada sosok perempuan yang memikat perhatiannya. Dari bait kedua adalah perhatian radhar pada kisah cinta pingkan mambo. Yang memilukan, cinta sesungguhnya siksaan, atau sesunggunya ia sekedar korban adalah ekspresi yang ditulis untuknya.



Tentang cinta dan kemanusiaan ; lalu akukau,



Dalam perjalanannya manusia hanya mengisahkan dan sekadar bercerita. Kematian adalah tapal batas antara hidup dan hidup berikutnya. Dalam kehidupan itulah manusia menemukan cinta, menemukan istirahat, dan melewati masa dan mengikat peristiwa. Cinta adalah bagian dari ekspresi terindah manusia dalam hidup ini. Begitupun radhar mengisahkan cinta dalam sebentuk puisi indahnya dalam puisi aku mencintaimu



seperti punguk yang tak muluk/teh pahit yang terseduh itu/manis lewat amylasa di lidahku ;seperti itu, aku mencintaimu/sederhana saja. Seperti jeruk yang segera busuk kau matangkan semua sabar/dalam jelaga matamu/mengamuk dalam benak/ meremuk segala kehendak/membusuk semua kelak/sampai matai semua defensi/takluk sedalamnya ngeri/ di jamban tempatku berdiri ;seperti itu,seluruh ceritaku/meninggalkanmu pergi.



Cinta dalam puisi ini mengisahkan cinta adalah sebentuk kisah, sebentuk cerita, sebentuk kebersamaan yang sederhana, yang tak kekal, dan kelak akan kembali menjadi cerita yang semua itu akan meninggalkan yang dicintai. Radhar menggambarkan cinta yang ada hanyalah sepintas lalu, yang biasa saja dan penuh dengan kesederhanaan. Kata kesederhanaan seperti tak terlepas dari biografi radhar yang memulai kisahnya dengan segenap kesederhanaan yang akrab dengan kemiskinan. Namun, radhar mencintai dan mempunyai jalan seni yang awal dianggap tidak sesuai dengan keluarganya.



Puisi cinta yang lain bisa ditemukan dalam IBU YANG BAIK,SEINDAH ITUKAH KAMU?,DARI CINTA YANG SEDERHANA. Puisi-puisi radhar adalah puisi yang halus, pelan, lirih tapi terkadang menusuk ulu hati. Yang biasa, wajar dan kadang penuh dengan ketegangan.Lewat puisi-puisinya kita kembali diajak untuk bertamasya tentang manusia, manusianya, kehidupan, kehidupannya, dan kehidupan kita. Sebagaimana kita manusia, kita pun akan menemukan rasa dalam kata-katanya. Itulah yang diharapkan dengan hadirnya puisi ini. Lalu aku, lalu akukau, lalu kita, dan semua ini akan berlalu.




*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di pengajian jum'at petang












Sabtu, September 17, 2011

Memerhatikan Anak Jalanan Perempuan

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Kini di era modernitas, kehidupan para anak-anak jalanan di kota-kota besar makin lama makin bertambah banyak dan tidak terurus. Dari anak-anak jalanan yang ada, anak jalanan perempuanlah yang cenderung rentan akan adanya kekerasan seksual. Laporan UNICEF menyebutkan satu dari lima anak perempuan di negara berkembang tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya. Hanya 43 persen anak perempuan mengenyam pendidikan menengah.
Menurut sumber dari kementrian pemberdayaan perempuan Diperkirakan 1,8 juta anak perempuan di dunia dilacurkan pada usia di bawah 18 tahun. Di Indonesia, sekitar 30 persen dari perempuan yang dilacurkan berusia di bawah 18 tahun. Diperkirakan 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seksual dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan setiap tahun. Sedangkan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Dr Gianfranco Rotigliano mengingatkan, sekitar 20.000 perempuan Indonesia meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan.
Problematika perempuan dan angka kematian ibu sebenarnya bisa dikurangi ketika perhatian kita pada anak-anak perempuan lebih ditingkatkan. Perhatian kita pada anak-anak perempuan merupakan investasi kita untuk masa depan bangsa kita. Sebab dari perempuanlah akan dilahirkan generasi-generasi penerus masa depan. Perhatian kita pada perempuan adalah dengan memperhatikan pendidikan mereka. Perhatian kita kepada pendidikan inilah yang akan menyelamatkan masa depan mereka. Berdasarkan hasil penelitian, investasi $1 untuk pendidikan bagi anak perempuan akan mengahsilkan sepuluh kali lipat produktifitas lebih banyak investasi dibanding anak laki-laki(unicef).
Perempuan utamanya anak jalanan menjadi sosok yang tidak hanya butuh perhatian secara pendidikan, ekonomi, tetapi juga butuh suatu lingkungan yang kuat yang mendukung mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berpribadi. Sayang, perhatian pada mereka saat ini lebih sering bersifat sementara melalui bentuk-bentuk bakti social atau berupa pendidikan yang dilakukan oleh beberapa LSM yang cenderung bersifat praktis saja. Padahal, sejatinya ada yang lebih dibutuhkan mereka selain bimbingan praktis, yaitu bimbingan psikologis, penguatan ekonomi dan juga pemberdayaan terhadap mereka. Selama ini, program yang menjadi unggulan di kota-kota dunia, adalah kota ramah anak. Anak-anak sebenarnya menginginkan beberapa hal yang menjadi kebutuhan mereka diantaranya kota yang diinginkan oleh anak adalah kota yang menghormati hak-hak anak yang diwujudkan dengan (Innocenti Digest No.10/10/02:22).
Pertama, menyediakan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, sanitasi yang sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, Kedua,menyediakan kebijakan dan anggaran khusus untuk anak,ketiga menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman, sehingga memungkinkan anak dapat berkembang. Anak dapat berekreasi, belajar, berinteraksi sosial, berkembang psikososial dan ekspresi budayanya. Keempat, keseimbangan di bidang sosial, ekonomi, dan terlindungi dari pengaruh kerusakan lingkungan dan bencana alam, kelima,memberikan perhatian khusus kepada anak seperti yang tinggal dan bekerja di jalan, eksploitasi seksual, hidup dengan kecacatan atau tanpa dukungan orang tua. Keenam,adanya wadah bagi anak-anak untuk berperan serta dalam pembuatan keputusan yang berpengaruh langsung pada kehidupan mereka.
Sayang sekali di negeri kita, beberapa criteria kota ramah anak ternyata belum mampu diwujudkan di negeri ini. Misalnya akses air bersih,sanitasi dan jaminan kesehatan. Anak-anak jalanan di negeri ini seringkali mengalami kesulitan mencari air bersih, sanitasi, apalagi jaminan kesehatan di kota-kota besar. Perhatian yang lebih pada anak-anak jalanan, hal ini pun sepertinya juga belum mampu diwujudkan oleh pemerintah kita. Dinas-dinas social yang ada lebih difungsikan dengan program-program dan proyek dari para donatur ketimbang penyelesaian program yang substansial dibutuhkan para anak jalanan.

Para anak-anak jalanan ini terpaksa hidup di jalanan karena permasalahan ekonomi. Permasalahan ekonomi inilah yang menjadi ujung dari persoalan mengapa timbul anak jalanan perempuan selain broken home. Angka kemiskinan di negeri ini makin lama makin meningkat dari tahun ke tahun. Meski pemerintah sudah mengendalikan dengan program-program kuratif seperti raskin, BLT, dan juga pnpm tapi di dalam praktek pelaksanaannya belum mampu memenuhi kebutuhan para si miskin. Data dari bank dunia menunjukkan bahwa kemiskinan Indonesia masih berkisar sekitar 42,6 % (modjo,2009). Hal ini menunjukkan ironi yang nyata, karena Negara kita adalah Negara yang kaya raya. Disamping merebaknya korupsi, permasalahan hukum, kita juga memiliki problem mentalitas para pemimpin yang inferior menghadapi asing yang menjarah kekayaan alam kita.
Jika permasalahan ekonomi dan kemiskinan ini bisa kita selesaikan, maka anak-anak jalanan tidak akan ada lagi. Sebab ekonomi yang kurang mampu rentan dengan konflik keluarga, dan seringkali anak yang menjadi korban. Selain itu, perlu dibangun kembali komitmen pemerintah, lingkungan pendidikan, dan masyarakat agar lebih memperhatikan anak perempuan yang ada di daerahnya masing-masing dan di kota-kota besar.
Perhatian kita pada mereka, akan membantu kita mengurangi problem social di perkotaan dan juga membantu mereka untuk menemukan kembali kehidupan mereka yang lebih ramah daripada kehidupan jalanan. Bukankah kita sepakat bahwa kemiskinan adalah musuh dari peradaban. Sebagaimana para perempuan dari grameen bank sudah berhasil melawan kemiskinan. Hendaknya ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa perempuan adalah layak mendapat perhatian, karena mereka sering dimarginalkan, disubordinasikan, salah satunya adalah anak jalanan perempuan.


*) Penulis adalah mahasiswa UMS, jurusan bahasa inggris, TULISAN DIMUAT DI MAJALAH PAPIRUS edisi AGUSTUS 2011

Selasa, September 13, 2011

Bangsa Kita ; Masih Dijajah???

Oleh arif saifudin yudistira*)

“Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa yang langsung maupun tak langsung”
begitu seru sukarno. Namun,berpuluh tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya,hutang bangsa ini membengkak, SDM kita masih dikuasai elit,para pejabat, dan perusahaan luar negeri.
Kedaulatan ekonomi negeri ini sepertinya sudah hilang sebab negeri ini sudah dihabisi dari berbagai aspek. Posisi Indonesia secara geografis sedari dulu sudah menempati percaturan penting dalam posisi ekonomi-politik dunia.Indonesia menjadi sasaran bagi Negara-negara besar dunia untuk dijadikan daerah pasar yang empuk. Kekayaan alam Indonesia yang begitu luar biasa membuat para negeri capital tertarik untuk menikmati apa yang ada di “bumi emas”ini.Tak heran Tan malaka menyatakan ; “Tidak ada Negara yang letaknya lebih berbahagia dari letak Indonesia”.
Dalam ingatan kita masih segar ketika presiden Bush datang ke Indonesia.Sikap inferior muncul pula di negeri kita. SBY merasa perlu membuat lapangan helicopter di Bogor hanya untuk menyambut Presiden bush. Meskipun kita tahu kedatangan bush tidak lain adalah demi memperlancar kepentingannya memperlancar kolonialisasi di Indonesia secara halus.
Perjuangan melawan penjajah tidak saja dari luar, tetapi juga dari dalam. Meminjam istilah yang dipakai sukarno : “Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa yang tak langsung maupun yang langsung”.Oleh karena itu, bagian dari perjuangan kemerdekaan yang sepertinya masih relevan sampai sekarang adalah mengakhiri penghisapan ekonomi. Lebih lanjut lagi sukarno berbicara tentang cita-cita nasional kita setelah merdeka : “Cita-cita kita dengan keadilan social ialah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat tehnologi modern. Asal tidak dikuasai system kapitalisme”.

Perjalanan kita : Tetap sebagai bangsa terjajah???

Dulu,kita dijajah oleh Belanda,sekarang kita dijajah oleh para elit dan pejabat tinggi kita sendiri.Sumber daya alam kita digadaikan oleh mereka. Perang dalam melawan kapitalisme sudah berawal sejak era sebelum kemerdekaan. Ketika itu perlawanan masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional Ini berawal ketika VOC [vereenigde Oost-Indische Compagnie/ kompeni dagang indonesia timur, 1602-1799]telah tampil sebagai kekuatan monopoli dagang atas beberapa hasil bumi nusantara. Dan setelah VOC bangkrut, pada 1799, kekuasaannya pada 1800 diserahkan pada pemerintah belanda. Sampai pada 1910 pemerintah belanda telah meluaskan kekuasaannya atas hampir seluruh nusantara.
Sukarno menggambarkan kekejaman VOC ini dalam pembelaannya di depan pengadilan kolonial bandung membeberkan :
”…………..Kita mengetahui, bagaimana ,untuk menjaga monopoli di kepulauan maluku itu, kerajaan makassar ditaklukkan, perdagangannya dipadamkan, sehingga penduduk makassar itu ratusan, bahkan ribuan yang kehilangan mata pencaharian dan terpaksa menjadi bajak laut yang merampok kemana-mana. Kita mengetahui, bagaimana di tanah jawa dengan politik ”devide et impera”yakni dengan poltitik ” memecah belah” seperti dikatakan Prof. Veth atau Clive Day atau Raffles,kerajaan kerajaannya satu persatu diperhamba, ekonomi rakyat oleh sistem monopoli, contingenten dan leverantien,sama sekali disempitkan, ya sama sekali didesak dan dipadamkan”
.
Pada masa setelah kemerdekaan soekarno dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan ekonomi kita dari penghisapan asing. Pada awal kemerdekaan walaupun kemerdekaan baru diakui secara resmi oleh masyarakat internasional, akan tetapi proposal utang luar negeri sudah diajukan sejak tahun 1947. Bahkan di tingkat wacana, diskusi tentang arti penting utang luar negeri berlangsung sejak november 1945. Yang mencengangkan, pengakuan kemerdekaan indonesia harus dibayar dengan pengakuan utang indonesia kepada negeri hindia belanda. Sehingga pada tahun 1950, pemerintah memiliki dua utang luar negeri pertama warisan hindia belanda sebanyak US $ 4,3 miliar dan utang baru US $ 3,8 miliar.
Setelah itu, utang luar negeri baru terus mengalir. Dalam periode 1951-1956, utang luar negeri yang dibuat pemerintah masing-masing berjumlah : Rp. 4,5 miliar, rp. 5,3 miliar,Rp. 5,2 miliar, Rp. 5,2 miliar, Rp.5,0,miliar, dan Rp. 2,9 miliar. Kemudian, kondisi politik yang mempengaruhi ekonomi indonesia pada waktu itu adalah peristiwa konfrontasi indonesia dengan malaysia pada tahun 1964, yang kemudian Soekarno menasionalisasi perusahaan-perusahaan inggris, ini adalah proses nasionalisasi kedua setelah perusahaan-perusahaan belanda dinasionalisasi tahun 1956. Bahkan sampai saat ini utang indonesia yang harus dibayar dan total bunga yang harus dilunasi adalah sebesar Rp.482 trilliun.
Campur tangan Amerika ke indonesia dan tidak tahan melihat hal ini, sehingga Soekarno mengeluarkan kata-kata ”go to hell with your aid” dan mengecam amerika. Oleh karena itu, pada tanggal 14 februari 1966 ia mengeluarkan undang-undang nomer 1 tahun 1966 tentang penarikan diri Indonesia dari keanggotaan IMF dan bank international. Soekarno menganggap kongkalikong dengan negara imperialis untuk menjajah negara berkembang. Perlawanan ini terpaksa harus dibayar mahal oleh Soekarno dengan menghilangnya bantuan dari amerika dan beberapa Negara lain.Seiring memuncaknya krisis ekonomi-politik pada waktu itu, dan 11 maret 1966 pemerintahan soekarno secara sistematis mendapatkan tekanan menyerahkan kekuasaannya kepada soeharto.Dengan bercokolnya rezim Suharto atau orde baru,Indonesia mulai tergantung pada pihak asing.
Pada tanggal 10 januari 1967, Soekarno juga dipaksa oleh Soeharto pada waktu itu, untuk menandatangani undang-undang penanaman modal asing. Ia harus berurusan dengan nyawa ketika tidak menandatangani undang-undang tersebut yang membuka keran lebar-lebar akan prosesi penghisapan terhadap negeri ini secara ekonomi. Sejak saat itulah, asing mulai menancapkan modalnya untuk indonesia, termasuk pada peminjaman utang. Sampai pada tahun 1970, telah banyak sekali rentetan pertemuan antara indonesia dan kreditornya.
Pada bulan juli 1969, Herman J, Abs berkomentar terhadap laporan perkiraan utang luar negeri sebanyak US $ 3,1 miliar. Dan ia berkomentar tantang kondisi utang luar negeri indonesia :
” Meskipun menggunakan asumsi yang sangat optimis tentang neraca pembayaran dan perkembangan anggaran indonesia, dan ditambah dengan asumsi bantuan luar negeri yang besar dan berkelanjutan, saya tidak bisa tidak untuk tidak setuju dengan kesimpulan IMF dan international Bank for Reconstruction and development bahwa pembayaran dengan skala sebesar ini sampai beberapa tahun mendatang pun tetap di luar jangkauan kapasitas keuangan indonesia”
.

Ini diperburuk oleh Soeharto dengan cara merangkul dan memperkaya kerabat, kolega serta keluarganya. Obral SDM Indonesia ke pihak asing pun berlangsung pada masa orde baru,dengan mayoritas keuntungan masuk ke kas pribadi Suharto dan kroni-kroninya.Pramudya ananta toer pernah mengatakan :“ Selama beratus-ratus tahun lamanya negeri ini dijajah oleh bangsa barat, negeri ini dihisap, dirampas kekayaan alamnya,negeri yang begitu kaya, disulap menjadi negeri pengemis karena tidak adanya karakter pada kaum elit”. Pemikiran seperti inilah yang membuat pram dimusuhi Suharto.
Namun cita-cita reformasi sepertinya belum berhasil sampai sekarang. Megawati mengegolkan privatisasi BUMN ke pada pihak asing termasuk penjualan gas alam cair (LNG) Tangguh di Papua kepada Cina. Tidak hanya itu, pada masa pemerintahan SBY, saat Kabinet Indonesia Bersatu berkuasa, 2004-2009, terjadi peningkatan hutang yang luar biasa. Dari 1275 trilliun di akhir tahun 2004 menjadi 1704 triliun tahun 2005.sedangkan utang dalam negeri dari 662 trilliun menjadi 937 trilliun.
Bahkan sampai saat ini utang indonesia yang harus dibayar dan total bunga yang harus dilunasi adalah sebesar Rp.482 trilliun Sedangkan dari sisi regulasi banyak produk hukum yang pro neo liberalisme seperti UU penanaman modal, UU MINERBA, UU ketenagalistrikan, UU BHP, danlain-lain. Regulasi ini selain menguntungkan parakonglomerat, juga semakin menindas rakyat. UU MINERBA yang berdampak pada eksploitasi yang berlebihan dan UU penanaman modal yang menghapus proteksionisme sama sekali.

Muhammad Yunus dan Muhammad Hatta

Di Bangladesh ada Muhammad yunus yang memikirkan ekonomi rakyat kecil, dulu Indonesia sempat punya Bung Hatta dengan konsep koperasinya. Tapi kini, bukan kemiskinan yang dimusuhi tapi rakyat miskin yang dibuat susah!. Di Bangladesh,Muhammad yunus dengan berani memerangi kapitalisme dengan memberi kesempatan usaha dan memberi kesempatan usaha dan member kepercayaan kepada rakyat miskin.
Bagi muhammad yunus,kemiskinan adalah musuh peradaban,bukan orang miskin. Mereka justru diberi kesempatan. Yunus mendirikan Grameen Bank. Bila bank-bank lain umumnya tidak sudi memberi pinjaman dengan bunga yang cukup kecil kepada orang yang dianggap miskin, Grameen Bank berani memberi pinjaman ini.Sebagai jaminan,Grameen bank mempunyai sistem ”group solidaritas”,yaitu beberapa orang mengajukan pinjaman dan saling memberi jaminan bahwa mereka bisa membayar kembali utang tersebut.
Grup ini juga saling mendukung usaha serta ekonomi satu sama lainnya.Dengan demikian rakyat ”miskin”ini bisa mandiri dan memajukan ekonomi mereka dengan usaha sendiri.Dirintis sejak tahun 1976,grameen bank mempunyai 28.000 anggota pada tahun 1982. Di indonesia,kita sempat mempunyai Muhammad Hatta yang mencoba memperbaiki ekonomi rakyat kecil dengan koperasi, yang pada prinsipnya memperbaiki ekonomi lemah.Tujuan koperasi bukanlahmencari laba yang sebesar-besarnya,melainkan melayani kebutuhan bersama dan wadah partisipasi pelaku ekonomi skala kecil. Dalam koperasi perekonomian disusun sebagai usaha bersama dengan asas kekeluargaan. Para anggotanya saling bekerjasama untuk memajukan ekonomi mereka.Koperasi bukan sekedar pemberian kredit semata,tetapi juga pendampingan dan pembinaan berkelanjutan bagi anggota koperasi tersebut.
Tapi di negeri kita,prinsip koperasi bung Hatta seakan dilupakan. Justru orang miskin sering dimusuhi oleh pemerintah.Rumah mereka digusur, pekerjaan mereka seringkali diganggu(contohnya anak-anak asongan yang sempat dilarang pada masa orde baru hingga kini).Kesempatan bagi mereka masih sempit.Ekonomi rakyat masih dijajah oleh para pejabat tinggi, kaum elit, dan perusahaan asing.



-Arif saifudin yudistira,mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia TULISAN DIMUATDI MAJALAH BHINNEKA EDISI 7juli 2011

Universitas Mengubah Identitas Kita

Oleh arif saifudin yudistira*)


Peran universitas dalam menciptakan para pekerja dan sebagai penyedia bagi dunia industrial memang sudah sangat lazim. Begitupula peranan universitas sebagai pencetak pengangguran adalah hal yang lazim di benak kita. Apa yang salah dari universitas kita? Jika demikian halnya yang terjadi. Lebih lanjut tentu kita akan bertanya, apa yang salah dari dunia pendidikan kita?.
Di universitaslah kalau kita perhatikan terdapat praktek-praktek penyeragaman mulai dari cara berpakaian hingga cara kita berfikir, begitulah Roem topatimasang yang berceloteh lewat buku sekolah itu candu. Di universitas pula kita sering mendengar kapitalisasi kurikulum, mitos nilai-nilai, dan konsumsi massal pengetahuan sebagaimana yang diungkapkan ivan illich dalam deschooling society.
Lalu, apakah kemudian kita masih berharap pada universitas dalam rangka menciptakan mimpi-mimpi perubahan?. Persoalan mendasar tentang universitas ini sudah dibaca oleh sudjatmoko sejak puluhan tahun lalu yang menjadi tantangan universitas-universitas di Indonesia. Tujuan dari universitas adalah “mampu mengucapkan tekad dan harapan untuk mengubah kondisi kita, dan mampu pula untuk mengucapkan tekad dan harapan itu dalam bentuk usaha yang segar dan militant”(menjadi bangsa terdidik menurut sudjatmoko, kompas 2010).
Mahalnya pendidikan tinggi masih menjadi problema yang sampai sekarang belum bisa diselesaikan oleh universitas kita selama puluhan tahun. Douglas seorang peneliti amerika mengatakan : problem klasik universitas ke depan tidak lain dan tidak bukan adalah persoalan pembiayaan.
Sejak dari awal masuk di perguruan tinggi budaya-budaya penghilangan identitas sudah muncul dikala kita memasuki masa orientasi mahasiswa atau lebih dikenal dengan OSPEK. Disanalah mulai dikenalkan budaya penurut, dikenalkan budaya mahasiswa dengan cara belajarnya, budaya penyeragaman.

Almamater


Sejak semula, kita tidak diajarkan bagaimana kultur dan identitas yang kita bawa masuk di universitas. Penghilangan identitas dan penyeragaman ini makin kentara dengan hadirnya seragam di perguruan tinggi dan hadirnya alma mater. Ini mengajarkan pada kita, manusia tidak dilahirkan sederajat, tapi disederajadkan oleh alma mater(Illich). Begitupun ketika sudah memasuki dunia perkuliahan dan dunia kelas, seolah-olah dunia kita adalah kelas, dan kemampuan serta pengetahuan kita diukur dari kehadiran kita di kelas dan seberapa aktif kita dikelas. Yang lebih menyedihkan adalah persoalan budaya yang hilang kian lama tanpa disadari oleh mahasiswa-mahasiswa kita yang rata-rata adalah dari kultur agraris. Makin banyak sawah yang hilang karena semakin menjamurnya proyek perumahan-perumahan, dan makin tidak adanya para pengruwat sawah ini, karena mereka( para mahasiswa) lebih senang dan ingin menjadi elit.

Dr. A.P.E.Korever seorang peneliti belanda, pernah menuliskan pesan tjokroaminoto dalam bukunya “ Sarekat Islam Gerakan ratu adil?”,1985 : “Murid-murid sekolah desa belajar menghilangkan cintanya kepada desa mereka dan pertanian, mereka mulai belajar menulis dan membaca…menjadi “kaum muda” modern, kaum muda yang sesat. Artinya mereka memperoleh pengertian yang salah. Mereka tidak lagi menjadi petani dan membanting tulang dalam lumpur mengerjakan sawah, seperti yang dilakukan oleh bapaknya.Kalau mereka menjadi magang, makin banyak biaya yang harus dikeluarkan orangtua mereka untuk membeli sepatu, setelan putih dan kaca mata”.

Dari kesaksian Tjokro aminoto itulah mestinya kita bisa belajar tentang peranaan universitas. Universitas boleh mengembangkan pengetahuan dan mencipta pelembagaan dan penyalur (distribusi) pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi negeri ini. Akan tetapi universitas tidak boleh menggilas identitas cultural dan identitas mahasiswanya. Justru sebaliknya, peranan universitas adalah mengembangkan dan meletakkan mahasiswanya sesuai bakat dan minat yang dia kuasai. Dari potensi dan pengembangan kreatifitas mahasiswa itulah, universitas akan memperoleh tenaga ahli yang cakap dan tangkas serta tanggap akan perubahan.
Dr.Sudjatmoko pun pernah berpesan bagi mahasiswa kita yang berada diluar negeri :” Perhatikanlah dinamisasi dan kondisi terkini negeri Anda, agar anda tidak menjadi un employed intellectual,sehingga pengetahuan yang anda peroleh di luar negeri akan menjadi pengetahuan yang berguna dengan memperhatikan relevansi pengetahuan tersebut dengan perkembangan di negeri anda”. Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah para sarjana luar negeri adalah agent-agent para komparador asing yang memata-matai negeri ini dan menjadi para intelektual tukang yang mengabdi dan menghamba pada kepentinga asing(sujiwo tejo).

Oleh karena itu, universitas kita perlu belajar dari KH dewantara sebagai bapak perintis pendidikan nasional pernah mengatakan : “hakaekat pendidikan adalah pemberian kemerdekaan dan kebebasan pada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kekuatan lahir batin, hakekat filsafat hidup dan pendirian hidup, yang disertai kesadaran religius dan kebudayaan sebagai fondasinya”.


*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute Indonesia,Tulisan dimuat di SOLO POS 13 september 2011 rubrik mimbar mahasiswa