Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Senin, Desember 26, 2011

Kerja Kata Mencipta Peradaban

Oleh arif saifudin yudistira*)


Sudah menjadi ghalibnya manusia berkata-kata. Kelahiran seorang bayi di dunia ini dinanti-nanti ketika manusia mengucapkan kata-kata. Dari kata-kata itulah kita mengenal kosakata yang pertama di dunia ini. Ayah, ibu, mama, papa, bu, pa dan lain-lain. Mengapa ibu dan bapak adalah kosakata yang pertama di dunia ini, sebab dari rahim merekalah kita mengenal peradaban manusia itu lahir. Keluarga tanpa kita sadari adalah mikro kosmos dari makro kosmos dunia dan seisinya ini. Dari keluarga itulah keterampilan berbahasa mempengaruhi bagaimana kerja kata dan cipta bahasa lahir.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia, kebudayaan pun dihasilkan dari berbagai kata-kata yang berhamburan. Hingga manusia sadar kata-kata mesti diabadikan dan dituliskan. Meski terkadang kekuatan pikiran dan budaya manusia tidak mampu dituliskan dalam sejuta kamus dan pengertian. Penulisan kata-kata justru hadir menghentikan, menyempitkan dan mengunci pengertian dan makna dari kata-kata tersebut. Ini bisa jadi kemajuan atau sebaliknya kemunduran. Kita selalu lambat dan gagap menangkap berjuta kata yang berseliweran dihadapan kita. Sebab itulah, manusia memiliki keterbatasan dalam menafsir begitu cepatnya dan begitu kompleksnya perubahan budaya manusia.

Dalam sejarah awal manusia, kata-kata pula yang membedakan kapasitas manusia dengan makhluk lainnya dihadapan Tuhan. Manusia mengenal dan memiliki nama-nama semua yang ada diajarkan Tuhan, sedang iblis tak sanggup untuk itu. Maka tak heran, gen tersebut diwariskan adam hingga pada kita semua selaku keturunannya yang memiliki kelebihan berbahasa yang membedakan manusia dengan hewan. Begitupun munculnya berbagai ideologi-ideologi besar dan mahzab pemikiran besar yang muncul di dunia kini berasal dari pemikiran dan kata-kata sederhana. Co gito ergo sum, misalnya adalah kata-kata dari descrates. Ia tak sadar bahwa kata-katanya akan memenuhi ruang-ruang diskusi dan dituliskan hingga kini. Spirit dan etos buruh yang kerap hadir dengan ketertindasannya muncul dengan berbagai problematikanya dituliskan dengan kata-kata sederhana dalam puisi widji thukul ; hanya ada satu kata :lawan!.

Kata adalah senjata, begitulah yang biasa dikatakan oleh para jurnalis. Para musisi menggunakan kata sebagai alat untuk mengingat nostalgia dan kenangan masa lalu, selain untuk membahasakan kerja perlawanan lewat lagu. Dunia tanpa sadar dicipta oleh kata, kun faya kun, adalah kata-kata dari Tuhan yang mencipta dunia ini. Bagaimana kemudian kita sebagai manusia bisa meremehkan kata dan kerja kata?. Presiden ceko-slovakia Vaclav havel pernah menuliskan esai yang berjudul “kekuatan kata”. Baginya kata bisa memancarkan harapan besar, atau sebaliknya mengirimkan seberkas kematian. Kata bisa membuat penulisnya hidup, atau sebaliknya mati di tiang gantungan.

Kata, buku,dan kita

Untuk apa berkata-kata jika tak abadi nasibnya, pesan itu yang disampaikan oleh pramudya ananta toer dalam beberapa karyanya. Ia mengutip kartini, “menulis adalah kerja keabadian”. Siapa yang lebih mulia dari ahli kitab yang menuliskan kitab-kitab agama di dunia ini, serta menjadikan kata-kata itu lentera bagi umat manusia. Kita tak bisa membayangkan seandainya kitab-kitab itu tidak dituliskan?. Ilmu modern dan kebudayaan kita sekarang muncul karena jasa para ilmuwan yang menuliskan penelitiannya di waktu dahulu.

Maka buku adalah kumpulan kata-kata,yang menyapa berjuta pemikiran, berjuta respon dan kata-kata dari pembaca, buku-buku menjadi antologi kehidupan yang terangkum dalam bentuk puisi, cerpen, novel, ataupun essai. Dan tiba-tiba saja, dunia modern menyediakan wadah yang sangat akrab dan intens dengan kita melalui facebook, twitter, dan juga media sosial lainnya. Media tersebut tak lupa menawarkan kita untuk sekadar berceloteh atau berkata-kata.

Tak jauh berbeda dengan “puisi” yang dimaknai sebagai pencapaian estetika bahasa manusia. Di puisi itulah tersirat cerita, riwayat, lelucon, dan segala tentang kehidupan kita. Oktavio paz membandingkan pasar dan puisi, pasar tahu segalanya tentang harga,namun tak tahu apa-apa tentang nilai. Puisi itulah yang meriwayatkan nilai-nilai itu. Puisi bergerak dari mulut-ke mulut, seperti udara dan air, nilai dan manfaatnya tak dapat diukur.

Kerja

Intensitas, spiritualitas, dan religiositas adalah hal yang tak bisa dianggap sepele dari kerja seorang penulis. Penulis menyimpan tulisan dengan kerja pikir dan dzikir yang tak semua orang melakoni itu. Dari kerja pikir dan dzikir itulah penulis mesti dihargai karena jasa-jasanya telah menuliskan yang berjalan cepat yakni kata-kata.

Nasib pengarang dan penulis tak seindah yang dibayangkan. Banyak penulis yang menekuni kerja kata memperoleh penghargaan, pujian atau nobel gara-gara kepenulisannya. Tapi banyak juga penulis yang sengsara dan tak berdaya menunggu dengan sabar kata-kata menemui pembacanya dan menemui penggemarnya. Sebagaimana yang pernah dituliskan jokpin “Pengarang, engkau sungguh sabar menunggu ide yang tanpa kabar. Dirimu sangat percaya diri, meskipun karyamu tidak banyak terbeli. (Paska WW, Bobo,
27 November 2003).

Menekuni kata dan menuliskannya serta menjadikannya sebagai kerja yang tak pernah selesai adalah laku dan spirit penulis. Menulis adalah kerja kata yang mencipta peradaban. Sebab dari tulisan itulah kelak tercipta perilaku, kebudayaan serta aktifitas manusia melalui pengejawantahan dan tafsir kepenulisan.

Kartini memaknai kerja kata ini dengan kalimat yang indah: “ Tahu kenapa aku mencintaimu? Karena engkau menulis. Menulis adalah kerja untuk keabadian”.Maka menekuni kerja kata melalui aktifitas membaca, serta mengabadikannya lewat tulisan adalah kerja yang mesti kita tekuni bukan untuk mencari puji dan pamer akan diri, tetapi lebih dari itu, untuk memuliakan diri, mengekalkan makna, dan mencipta dunia dengan kerja kata itu pula kita akan menemukan peradaban kita.

*) Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di Bilik Literasi Solo,


*)Dimuat di Radar surabaya , 25 desember 2011

Kamis, Desember 22, 2011

Imajinasi Pernikahan Yang Sakral


Oleh arif saifudin yudistira*)

Pernikahan bila ditinjau dari ilmu pengetahuan, kita akan mengenal sejarah sexology sebagai sejarah yang kerap intim dengan berbagai simbolisasi. Laki-laki disimbolkan dengan sosok yang utuh, dan perempuan diidentikkan dan disimbolkan sebagai paruh atau separuh. Maka kehadiran wanita dalam kehidupan ini adalah pelengkap tulang rusuk yang hilang ini. Ditinjau dari perspektif teologis, pernikahan adalah manifestasi penyatuan kembali sosok yang hilang, sosok yang hilang itulah perempuan.

Perempuan hadir sebagai entitas yang sempurna, kehadirannya melengkapi dalam alam mikro kosmos. Alam mikro kosmos menjelma dalam fisiologis berupa rahim, perempuan adalah rahim, sedangkan laki-laki adalah yang membuahi rahim. Maka entitas pernikahan dan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut adalah sakral ditinjau dari sisi religiositas. Sisi religiositas memandang bahwa pernikahan dihukumi wajib jika sudah mampu lahir dan batin, hukum nikah menjadi makruh bila tidak mampu secara lahir dan batin untuk motif tertentu dan nikah dihukumi haram bila hanya untuk menyakiti dan untuk mengambil harta orang yang mau dinikahi saja.

Sisi religiositas memandang bahwa agama menghalalkan nikah jika memang sudah mampu. Nikah dipandang tidak hanya untuk sekadar kenikmatan biologis saja, tetapi untuk mengekalkan peradaban. Peradaban itu dilahirkan dengan pelestarian konsepsi dan budaya manusia melalui pelestarian keturunan. Maka secara biologis, menikah merupakan penyempurnaan pertemuan dua entitas yang terpisah.

Ibnu Al-arabi pernah menuliskan ini :”Tubuh manusia pertama yang terwujud adalah adam.Ia adalah Ayah pertama jenis makhluk ini.Kemudian Tuhan memisahkan darinya seorang Ayah kedua bagi kita yang disebutNya ibu.Maka benarlah jika dikatakan bahwa Ayah pertama ini mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari pada ibu, karena Ayah adalah asalnya(Ibu)”.

Maka sejarah penciptaan manusia adalah kesatuan. Kesatuan itulah yang kemudian menciptakan peradaban manusia hingga saat ini. Lebih lanjut Al-arabi menjelaskan :”Kaum perempuan dibuat sebagai yang dicintai karena mereka adalah lokus yang menerima aktifitas untuk mewujudkan bentuk yang paling sempurna daripadanya.Tidak ada lokus yang menerima aktifitas mempunyai kesempurnaan istimewa ini”.

Patologi Cinta

Freud menjelaskan yang dituliskan dalam Erich Fromm dalam “The art of love “ : “Bahwa manusia didorong oleh suatu keinginan yang tak terbatas untuk penguasaan seksual terhadap semua wanita, dan bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”. Bagi Freud, tindakan pelecehan seksual, tindakan yang berorientasi pada nafsu hanya dapat diselesaikan oleh tekanan dari masyarakat dan pencegahan dari masyarakat kita. Ketika masyarakat menganggap ini sebagai sesuatu yang didiamkan, maka hasrat dan naluriah manusia tersebut justru semakin menjadi.

Erotika media massa, serta pergaulan masyarakat modern hadir dalam budaya-budaya yang tak terkontrol. Budaya barat menjelma menjadi perilaku masyarakat kita dengan paradigma barat bahwa hubungan lawan jenis dimaknai sebebas-bebasnya. Maka budaya kita menjadi budaya yang mereduksi pergaulan dan misi suci pernikahan.

Imajinasi yang sakral

Imajinasi pernikahan adalah imajinasi yang sakral. Sakralitas dalam pernikahan diwujudkan dengan kebersatuan kepentingan, jiwa, hingga pada cita-cita membangun keturunan dan pewarisan nilai-nilai budaya dan peradaban manusia. Maka pernikahan tidak bisa dipandang sebagai aktifitas yang terpisah dari fisik dan jiwa. Yang terjadi saat ini, aktifitas pernikahan menjadi hilang kesakralannya. Para pemuda-pemudi saat ini menganggap pernikahan sebagai hal yang dilakukan setelah mereka melakukan sex setelah nikah. Nikah dipandang sebagai pelengkap sex tersebut.

Maka sex in the cost menjadi culture yang tidak asing di setiap perguruan tinggi. Data menunjukkan bahwasannya hubungan antara mahasiswa dengan dosen, antara mahasiswa dengan mahasiswa dalam melakukan hubungan nikah menjadi hal yang dilakoni setelah mereka melakukan hubungan sexual. Kenikmatan dan penyatuan jiwa direduksi menjadi pleasure(kenikmatan).

Kampus menjadi entitas yang melindungi ini dan menutupi ini demi citra. Citra akademis menjadi hal yang diutamakan padahal nikah mesti dimaknai sebagai penyatuan dua entitas yang terpisah, nikah itu mulia dan memuliakan kita. Nikah muda justru hadir sebagai jawaban yang premature karena peradaban manusia direduksi sekadar untuk menghindari pergaulan bebas. Hingga kualitas pernikahan tidak diperhitungkan baik sisi usia maupun bagaimana pernikahan membangun peradaban, alhasil pernikahan jadi buruk ketika konflik dalam keluarga tidak bisa diatasi oleh orang yang nikah muda.

Dalih rejeki akan dimudahkan, tentu akan didukung dengan kemampuan dan kedewasaan para pemuda dan mahasiswa yang melakukan nikah muda dengan kesiapan mental maupun spiritual.Meskipun realitas memberikan jawaban lain, bahwa nikah muda tidak didukung oleh sarana dan prasarana layaknya di Iran yang lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang dari pemerintah. Sehingga nikah muda sering diakhiri dengan cerai gara-gara persoalan ketidak matangan secara ekonomi maupun psikologis, hingga persoalan keturunan yang tidak sehat.

Nikah sebagai tradisi

Di beberapa daerah dan suku di indonesia, pernikahan adalah budaya yang berjalan biasa. Nikah muda adalah keterbatasan mereka dalam membentuk dan membangun peradaban selanjutnya dan untuk melindungi arus modernitas. Nikah muda dijadikan sarana untuk motif bahwa pemuda harus segera meneruskan keturunan dan mengolah tanah yang ada di suku-suku dan daerah mereka. Lihatlah budaya suku samin, dan budaya di beberapa daerah pelosok di nusa tenggara barat, di papua, bugis, dan lain sebagainya.

Pernikahan bukan perkara modal atau kapital, tapi pernikahan adalah sarana pertemuan antar suku antar budaya, dan pelestarian alam mereka. Berbeda dengan di bugis atau dayak dan pelosok di indonesia, tradisi di sumatera dan madura menunjukkan hal lain. Pernikahan di kedua wilayah tersebut dipandang sebagai sarana untuk mewujudkan budaya mereka yakni budaya rantau. Budaya rantau dilakukan karena imajinasi perantuan membawa pada imajinasi kemakmuran, kesejahteraan dan kematangan.

Maka di kedua daerah tersebut, menikah dijadikan motifasi bahwa kematangan itu harus diperoleh melalui pernikahan dan perantauan. Aktifitas ini tidak bisa terlepas dalam budaya masyarakat di kedua wilayah tersebut. Maka menikah bukan persoalan kapital, tetapi persoalan harkat dan martabat lelaki sebagai sosok yang mampu mengayomi dan matang dalam membentuk dan membangun keluarga.

` Imajinasi pernikahan hadir sebagai imajinasi yang suci, sakral dan penuh dengan motif mulia sebagaimana yang dititahkan Tuhan. Menikah adalah sarana membangun peradaban dan meneruskan generasi dan melestarikan visi dan misi kemanusiaan. Maka pernikahan adalah persoalan yang tak terlepas dengan kemampuan dan kekuatan manusia secara lahir dan batin yang membutuhkan persiapan matang. Sehingga persoalan modal adalah hal yang menopang,tapi tidak menutup kemungkinan,kekurangan modal digunakan sebagai motif bagaimana membangun kerja spiritual dan kerja fisik untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang ditanggung dalam pernikahan”.

Maka kapital bisa dipandang sebagai sebuah sarana untuk mendukung atau sebaliknya dijadikan motif yang jahat untuk menjadikan perempuan atau lelaki yang dinikahi sebagai sarana untuk memperoleh harta tersebut. Dan pernikahan pun menjadi hilang kesakralannya, karena motif harta, kuasa, pamor, dan wilayah-wilayah material. Akhirnya pernikahan menghilangkan misi sucinya “melestarikan keturunan, dan visi-misi umat manusia sebagaimana fitroh manusia sebagai kholifah di bumi ini” untuk mewujudkan masyarakat yang beradab.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di Kawah institute Indonesia, tulisan tersebar di berbagai media massa dan juga majalah nasional. Bisa dihubungi di tan.muda@yahoo.com


*) Tulisan Dimuat di MAJALAH PABELAN EDISI DESEMBER 2011

Imajinasi Pernikahan Yang Sakral

Oleh arif saifudin yudistira*)

Pernikahan bila ditinjau dari ilmu pengetahuan, kita akan mengenal sejarah sexology sebagai sejarah yang kerap intim dengan berbagai simbolisasi. Laki-laki disimbolkan dengan sosok yang utuh, dan perempuan diidentikkan dan disimbolkan sebagai paruh atau separuh. Maka kehadiran wanita dalam kehidupan ini adalah pelengkap tulang rusuk yang hilang ini. Ditinjau dari perspektif teologis, pernikahan adalah manifestasi penyatuan kembali sosok yang hilang, sosok yang hilang itulah perempuan.

Perempuan hadir sebagai entitas yang sempurna, kehadirannya melengkapi dalam alam mikro kosmos. Alam mikro kosmos menjelma dalam fisiologis berupa rahim, perempuan adalah rahim, sedangkan laki-laki adalah yang membuahi rahim. Maka entitas pernikahan dan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut adalah sakral ditinjau dari sisi religiositas. Sisi religiositas memandang bahwa pernikahan dihukumi wajib jika sudah mampu lahir dan batin, hukum nikah menjadi makruh bila tidak mampu secara lahir dan batin untuk motif tertentu dan nikah dihukumi haram bila hanya untuk menyakiti dan untuk mengambil harta orang yang mau dinikahi saja.

Sisi religiositas memandang bahwa agama menghalalkan nikah jika memang sudah mampu. Nikah dipandang tidak hanya untuk sekadar kenikmatan biologis saja, tetapi untuk mengekalkan peradaban. Peradaban itu dilahirkan dengan pelestarian konsepsi dan budaya manusia melalui pelestarian keturunan. Maka secara biologis, menikah merupakan penyempurnaan pertemuan dua entitas yang terpisah.

Ibnu Al-arabi pernah menuliskan ini :”Tubuh manusia pertama yang terwujud adalah adam.Ia adalah Ayah pertama jenis makhluk ini.Kemudian Tuhan memisahkan darinya seorang Ayah kedua bagi kita yang disebutNya ibu.Maka benarlah jika dikatakan bahwa Ayah pertama ini mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari pada ibu, karena Ayah adalah asalnya(Ibu)”.

Maka sejarah penciptaan manusia adalah kesatuan. Kesatuan itulah yang kemudian menciptakan peradaban manusia hingga saat ini. Lebih lanjut Al-arabi menjelaskan :”Kaum perempuan dibuat sebagai yang dicintai karena mereka adalah lokus yang menerima aktifitas untuk mewujudkan bentuk yang paling sempurna daripadanya.Tidak ada lokus yang menerima aktifitas mempunyai kesempurnaan istimewa ini”.

Patologi Cinta

Freud menjelaskan yang dituliskan dalam Erich Fromm dalam “The art of love “ : “Bahwa manusia didorong oleh suatu keinginan yang tak terbatas untuk penguasaan seksual terhadap semua wanita, dan bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”. Bagi Freud, tindakan pelecehan seksual, tindakan yang berorientasi pada nafsu hanya dapat diselesaikan oleh tekanan dari masyarakat dan pencegahan dari masyarakat kita. Ketika masyarakat menganggap ini sebagai sesuatu yang didiamkan, maka hasrat dan naluriah manusia tersebut justru semakin menjadi.

Erotika media massa, serta pergaulan masyarakat modern hadir dalam budaya-budaya yang tak terkontrol. Budaya barat menjelma menjadi perilaku masyarakat kita dengan paradigma barat bahwa hubungan lawan jenis dimaknai sebebas-bebasnya. Maka budaya kita menjadi budaya yang mereduksi pergaulan dan misi suci pernikahan.

Imajinasi yang sakral

Imajinasi pernikahan adalah imajinasi yang sakral. Sakralitas dalam pernikahan diwujudkan dengan kebersatuan kepentingan, jiwa, hingga pada cita-cita membangun keturunan dan pewarisan nilai-nilai budaya dan peradaban manusia. Maka pernikahan tidak bisa dipandang sebagai aktifitas yang terpisah dari fisik dan jiwa. Yang terjadi saat ini, aktifitas pernikahan menjadi hilang kesakralannya. Para pemuda-pemudi saat ini menganggap pernikahan sebagai hal yang dilakukan setelah mereka melakukan sex setelah nikah. Nikah dipandang sebagai pelengkap sex tersebut.

Maka sex in the cost menjadi culture yang tidak asing di setiap perguruan tinggi. Data menunjukkan bahwasannya hubungan antara mahasiswa dengan dosen, antara mahasiswa dengan mahasiswa dalam melakukan hubungan nikah menjadi hal yang dilakoni setelah mereka melakukan hubungan sexual. Kenikmatan dan penyatuan jiwa direduksi menjadi pleasure(kenikmatan).

Kampus menjadi entitas yang melindungi ini dan menutupi ini demi citra. Citra akademis menjadi hal yang diutamakan padahal nikah mesti dimaknai sebagai penyatuan dua entitas yang terpisah, nikah itu mulia dan memuliakan kita. Nikah muda justru hadir sebagai jawaban yang premature karena peradaban manusia direduksi sekadar untuk menghindari pergaulan bebas. Hingga kualitas pernikahan tidak diperhitungkan baik sisi usia maupun bagaimana pernikahan membangun peradaban, alhasil pernikahan jadi buruk ketika konflik dalam keluarga tidak bisa diatasi oleh orang yang nikah muda.

Dalih rejeki akan dimudahkan, tentu akan didukung dengan kemampuan dan kedewasaan para pemuda dan mahasiswa yang melakukan nikah muda dengan kesiapan mental maupun spiritual.Meskipun realitas memberikan jawaban lain, bahwa nikah muda tidak didukung oleh sarana dan prasarana layaknya di Iran yang lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang dari pemerintah. Sehingga nikah muda sering diakhiri dengan cerai gara-gara persoalan ketidak matangan secara ekonomi maupun psikologis, hingga persoalan keturunan yang tidak sehat.

Nikah sebagai tradisi

Di beberapa daerah dan suku di indonesia, pernikahan adalah budaya yang berjalan biasa. Nikah muda adalah keterbatasan mereka dalam membentuk dan membangun peradaban selanjutnya dan untuk melindungi arus modernitas. Nikah muda dijadikan sarana untuk motif bahwa pemuda harus segera meneruskan keturunan dan mengolah tanah yang ada di suku-suku dan daerah mereka. Lihatlah budaya suku samin, dan budaya di beberapa daerah pelosok di nusa tenggara barat, di papua, bugis, dan lain sebagainya.

Pernikahan bukan perkara modal atau kapital, tapi pernikahan adalah sarana pertemuan antar suku antar budaya, dan pelestarian alam mereka. Berbeda dengan di bugis atau dayak dan pelosok di indonesia, tradisi di sumatera dan madura menunjukkan hal lain. Pernikahan di kedua wilayah tersebut dipandang sebagai sarana untuk mewujudkan budaya mereka yakni budaya rantau. Budaya rantau dilakukan karena imajinasi perantuan membawa pada imajinasi kemakmuran, kesejahteraan dan kematangan.

Maka di kedua daerah tersebut, menikah dijadikan motifasi bahwa kematangan itu harus diperoleh melalui pernikahan dan perantauan. Aktifitas ini tidak bisa terlepas dalam budaya masyarakat di kedua wilayah tersebut. Maka menikah bukan persoalan kapital, tetapi persoalan harkat dan martabat lelaki sebagai sosok yang mampu mengayomi dan matang dalam membentuk dan membangun keluarga.

` Imajinasi pernikahan hadir sebagai imajinasi yang suci, sakral dan penuh dengan motif mulia sebagaimana yang dititahkan Tuhan. Menikah adalah sarana membangun peradaban dan meneruskan generasi dan melestarikan visi dan misi kemanusiaan. Maka pernikahan adalah persoalan yang tak terlepas dengan kemampuan dan kekuatan manusia secara lahir dan batin yang membutuhkan persiapan matang. Sehingga persoalan modal adalah hal yang menopang,tapi tidak menutup kemungkinan,kekurangan modal digunakan sebagai motif bagaimana membangun kerja spiritual dan kerja fisik untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang ditanggung dalam pernikahan”.

Maka kapital bisa dipandang sebagai sebuah sarana untuk mendukung atau sebaliknya dijadikan motif yang jahat untuk menjadikan perempuan atau lelaki yang dinikahi sebagai sarana untuk memperoleh harta tersebut. Dan pernikahan pun menjadi hilang kesakralannya, karena motif harta, kuasa, pamor, dan wilayah-wilayah material. Akhirnya pernikahan menghilangkan misi sucinya “melestarikan keturunan, dan visi-misi umat manusia sebagaimana fitroh manusia sebagai kholifah di bumi ini” untuk mewujudkan masyarakat yang beradab.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di Kawah institute Indonesia, tulisan tersebar di berbagai media massa dan juga majalah nasional. Bisa dihubungi di tan.muda@yahoo.com


*) Tulisan Dimuat di MAJALAH PABELAN EDISI DESEMBER 2011

Kamis, Desember 15, 2011

Buku Puisi Dan Do'a Penyair Joko pinurbo(Jokpin)


Oleh arif saifudin yudistira*)


Selamat ulang tahun buku/ anggap saja aku kekasih atau pacar naasmu/ panjang umur, cetak ulang selalu.[selamat ulang tahun buku].Membaca puisi jokpin seperti merapal do'a penyair. Penyair menyimpan do'a dan pujian pada buku yang pernah ditulisnya. Buku yang ditulis jokpin memang bukan buku pelajaran, melainkan buku kehidupan dia, mereka atau saya yang membacanya. Buku puisi adalah buku penyair, puisi adalah penyair, meminjam nobelis sastra tahun 90-an oktavio paz berujar penyair adalah puisinya, dalam puisi penyair ada disana. Maka buku-buku puisi jokpin adalah tubuh jokpin dan buku kehidupan dia.

Tapi untuk siapa dan untuk apa ia melahirkan buku puisi itu?. Untuk mengingatkan kembali tubuh yang cerewet, tubuh yang tak selalu bisa memakai celana, tubuh yang selalu rindu kekasihnya, tubuh yang rindu yesus, dan tubuh yang penuh canda, tubuh jokpin adalah tubuh manusia dengan segala humor dan segala kelucuannya yang tak pernah dan jarang ditangkapnya. Jokpin ingin menjelaskan dan mengajak, bacalah tubuhmu, maka akan kau temukan dirimu.Betapa jokpin tekun dan menggeluti tubuhnya hingga jadi puisi yang tak murahan, tak mudah, dan tak main-main. Simaklah betapa ia berdarah-darah membuat dan merampungkan buku puisinya : “kau bahkan tidak seperti dulu ketika aku berdarah-darah menuliskanmu”. Sebagaimana rapal do'a dan pujanya, buku puisi jokpin seperti doa yang dipanjatkannya. Buku kumpulan puisi dari tiga buku kumpulan puisinya diterbitkan kembali oleh gramedia pustaka utama 2007 : Celana,Pacar kecilku, dan dibawah kibaran sarung. Begitupun buku puisi “kekasihku dicetak ulang oleh omah sore(2010)”.

Puisi memberi diri dan mengucap arti, memuliakan penyair. Simaklah sajak yang meriwayatkan hal ini : Aku tidur berselimutkan uang/aku tidur berselimutkan uang/ ketika bangun tahu-tahu tubuhku sudah telanjang. Tubuhku sudah telanjang, penyair meriwayatkan keuntungannya, merayakan kerjanya, dan menggambarkan kebahagiaannya. Akan tetapi selimut yang menyelimutinya kemudian tiada ketika ia bangun, penyair ingin mengatakan bahwasannya uang tak patut menyelimuti terus menerus sementara tubuh dalam ketelanjangan. Tubuh tak patut diselimuti uang, melainkan cukup dikasih celana sebagai pakaian yang khas yang jadi pakaian tubuhnya.

Do'a Penyair

Ada dua judul yang secara tersirat bercerita tentang buku dalam kumpulan puisi jokpin yang berjudul “Telepon Genggam”(2003); yakni “buku” dan selamat ulang tahun buku”. Dua-duanya menceritakan betapa lugunya dan betapa bodohnya jokpin sebagai penyair. Ia barangkali ingin bercerita soal taktik bagaimana membaca buku yang ia peroleh dari buku loak yang sederhana sekali, kusut dan cenderung ditinggalkan tapi justru kaya makna. Buku dalam judul puisinya “buku” mengingatkan bahwa buku tak sekadar menyimpan memori dan ingatan yang membawa kita pada kesederhanaan dan kepapaan manusia, pembaca buku. Buku memberi arti pada sosok teman dan mengajarkannya pentingnya membaca buku. Melakoni laku membaca buku bukan sekadar aktifitas sederhana, melainkan aktifitas yang sulit, sampai-sampai jokpin menggambarkan sulitnya membaca buku melupakan membaca sosok isteri di malam pertama kawannya. Dan puisi ini diakhiri dengan keluguan, bahwa pembaca buku justru tak menemukan isteri yang sebenarnya, isteri menjelma jadi buku.

Di puisi yang kedua “Selamat ulang tahun buku” adalah do'a penyair yang merindukan dan mengenang buku yang sudah menjadi berkah dan penuh dengan catatan dan coretan dari berbagai pendapat orang. Buku puisi jadi pengingat dan doa tersendiri bagi penyair. Do'a penyair tak lain dan tak bukan adalah agar puisinya memberi makna bagi dirinya dan pembaca. Sebagai penghargaan akan buku puisinya, ia menghimpun ratusan komentar dalam blognya jokpiniana. Berbagai catatan dan coretan yang bingung mau ditaruh mana ditaruh dalam blognya sebagai memori kolektif, pengingat, dan wujud kebesaran bukunya yang digambarkan dalam puisinya : Maaf, aku tidak bisa kasih hadiah apa-apa / selain sejumlah ralat dan catatan kaki yang aku tak tahu akan kutaruh atau kusisipkan di mana. Sebab kau sudah pintar membaca /dan meralat dirimu sendiri.Do'a dari penyair menemui jawabnya, buku puisinya sudah jadi besar, dan sudah berulang tahun dengan cetak-ulang.

Buku puisi joko pinurbo meriwayatkan tubuhnya, dan juga do'a penyair yang membutuhkan amin dari para pembacanya. Amin dimaknai sebagai wujud relasional antara penyair dan pembaca yang berhasil menemui puisi-puisi jokpin sekaligus berhasil menemui buku kehidupan jokpin yang tak lain dan tak bukan adalah buku kehidupan kita juga.Yakni tubuh kita yang dihadirkan dengan berbagai warna.



*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bergiat di Pengajian Jumat Petang, Komunitas tanda tanya, dan presidium Kawah institute Indonesia.

Celeng Degleng




Oleh arif saifudin yudistira*)

Jaman memang memiliki kisahnya sendiri-sendiri, bertutur sebagaimana riwayat yang ingin mereka ceritakan. Begitupun kisah sang pelukis ternama joko pekik yang dikenal dengan pelukis “satu milyar”. Nasibnya tak seburuk sebelumnya, miskin, melarat dan serba kekurangan. Semenjak lukisannya yang salah kedaden dianggap sebagai ramalan jaman yang akan datang, maka hebohlah tentang riwayat “jaman celeng” kemana-mana.

Celeng, adalah riwayat dan dongeng dari lukisan joko pekik, tanpa sadar pelukis “nggendhong bejo”. Tapi tak hanya keberuntungan yang datang, tapi penyesalan, kenapa celeng yang ada dalam lukisannya menjelma jadi riwayat di negerinya. Negeri-nya kali ini jadi negeri celeng karena lukisan yang dilukisnya”Indonesia 1998 berburu celeng”.

Celeng adalah simbolisasi penguasa, pejabat-pejabat yang melahap uang rakyat.Mereka adalah penguasa yang membuat rakyat melarat. Celeng-celeng itu membuat kita jadi sekarat.Sungguh mereka adalah bagian dari kaum laknat. Sudah tidak dikehendaki rakyat, tapi mereka berulah seperti pimpinan yang memperoleh mandate. Kejahatan mereka sudah terkuak,tapi mereka malah semakin nekad. Akal busuk mereka sudah terungkap, tapi malah menjadi mata gelap.Untuk mempertahankan kekuasaannya,mereka menggelapkan uang rakyat. Zaman sudah berubah, seharusnya mereka mundur. Mereka pandai mengulur-ulur,dengan mudahnya janji mereka diundur-undur. Mereka menyeruduk sana menyeruduk sini. Menyusup sana menyusup sini.

Begitulah sindhunata mengisahkan dunia celeng degleng yang ada dalam lukisannya joko pekik dalam buku “Tak entheni keplokmu,tanpa bunga dan telegram duka”(2001). Jaman sekarang lebih diidentikkan dengan riwayat dan ramalan jangka jaya baya sebagai jaman kalatidha, jaman edhan, sing ra edhan ra keduman, jaman gila yang tidak gila tidak kebagian. Maka jaman sekarang ibarat jaman di negeri celeng, makin lama mereka bingung setelah menangkap celeng, mereka pun bersepakat tapi kemufakatan itu adalah meneruskan perjalanan hidup mereka, meski salah.

Maka yang terjadi yah seperti dunia sekarang ini, keburukan jadi biasa dipertontonkan di muka rakyat, sebab rakyat sudah terbiasa dengan peristiwa yang semacam itu. Jaman celeng degleng, memang degleng tak hanya celeng-nya yang degleng, pimimpinnya degleng, rakyatnya degleng, dan semuanya jadi degleng.

Berburu Celeng

Kenapa celeng yang diburu?. Celeng identik dengan babi ngepet di jaman sekarang, babi ngepet diburu karena ia menyukai selokan dan lubang-lubang sanitasi, disanalah ia menyedot semua yang ada disekitarnya. Babi ngepet itulah yang merupakan symbol keserakahan, pencurian, perampokan, dan tak mati-mati.

Rakyat akan sangat senang ketika celeng ini musnah dan sirna dalam kehidupan manusia. Sebab watak serakah, ingin menang sendiri, serta merampok adalah hobi dari celeng, dan aneh nya celeng ini susah mati. Untuk menangkap celeng, rakyat harus berpuasa dan membersihkan diri. Celeng tetap saja susah ditangkap, ia hidup lagi menjelma menjadi celeng-celeng berikutnya, yah celeng sudah ada di hati rakyat-kita, cuek, dan membiarkan watak celeng ini ada dimana-mana.

Mereka sebenarnya menantikan satrio piningit yang hadir menyelamatkan mereka dari terror celeng. Tapi apa daya, satrio piningit ternyata adalah celeng juga, maka jaman sudah bicara, celeng deglenglah yang kini berkuasa, tanpa malu menyebut dirinya penguasa, merampas semua yang ada, meski dikritik oleh rakyatnya, ia sama sekali tak mendengarnya. Hartanya digunakan tak kenal puas untuk keluarganya. Sampai-sampai ia lupa dan tak berdaya menghadapi maut yang kian lama kian mendekat padanya.

Negeri Celeng

Siapa bisa melawan celeng degleng?. Negeri ini negeri celeng, perutnya besar dengan penuh makanan, apa-saja ia makan, bahkan tambang dan juga alam pun ia makan hingga tubuhnya begitu besar sampai menyentuh tanah. Maka perut celeng kalau tidur menyentuh tanah. Gigi celeng digambarkan dengan gigi indah dan taring yang indah, begitu senyum semua rakyat terkesima, padahal giginya itu hanya digunakan untuk menyeruduk siapa yang berani menghalangi keinginannya. Celeng punya enam susu, yang boleh ngemut yah hanya anak cucunya.

Si celeng hampir selesai masa kerjanya. Siceleng pun menggelar sayembara untuk mempersiapkan raja celeng berikutnya. Tapi siapa mau jadi raja celeng?. Calon-calon celeng kini ber-atraksi, berunjuk gigi pagi,siang, dan malam hari di layar-layar televisi. Nasib celeng benar-benar mujur, rakyat kini mudah ditipu dengan sekarung cerita tak jujur, bentar lagi celeng jadi raja, menindas sama seperti penguasa-penguasa berikutnya.



Degleng

Si celeng memang terlanjur degleng, si celeng belum mati hingga kini. Nafsu ketamakannya menjadi-jadi,dalam gelap hidup yang tak pasti. Meski celeng sudah tertangkap, justru jaman semakin gelap. Kini rakyat hanya bisa berharap,dan berdoa penuh harap.

Kini negeri jadi ngeri, penuh fitnah dimana-mana, musibah pun datang tak disangka-sangka. Kutukan jaman celeng sudah terlanjur menimpa, pada rakyat dan pemimpinnya. Jaman celeng sudah bukan cerita langka, rakyat sudah banyak jadi korbannya. Tapi apa daya tangan mereka, tak mampu melawan jaman yang sudah terlanjur mereka cipta. Lewat lukisan tak disengaja, celeng degleng mencipta cerita. Tapi siapa sangka siapa menduga, jaman celeng adalah jaman kita, yang diam-diam kita ada disana.





*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, presidium kawah institute indonesia

Selasa, Desember 13, 2011

RUU perguruan Tinggi Dan Otonomi mahasiswa



Oleh arif saifudin yudistira*)

Mahasiswa selalu ramai dengan geliat aktifitas dan dinamika politik serta ekspresinya. Ekspresi intelektual ataupun ekspresi social sebagaimana yang diungkapkan oleh Tilaar (2001) Pendidikan yang baik tak melepaskan dari realitas di masyarakatnya. Seringkali aktifitas dan geliat mahasiswa menarik bukan saja karena ide-ide perubahannya dan cita-cita yang menghebohkan, tapi juga semangat heroic yang melekat padanya.

Etos akademik membawa mahasiswa tak hanya jadi makhluk individualisme semata, tapi juga membawa pada konsekuensi moral bahwa aplikasi keilmuan dari mahasiswa perlu diberi ruang dan membutuhkan wadah yang cukup untuk mengembangkan potensi kemahasiswaan tersebut. Sudah dari dulu, peran mahasiswa sebagai tonggak dan pelopor dalam pembangunan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya tak perlu kita nafikkan. Begitupun harapan-harapan para kaum tua pun bertumpu pada anak muda. Syafii maarif pun berharap besar pada perguruan tinggi dimana mahasiswa bisa melakukan perubahan dan memberikan alternative solusi dari persoalan kebangsaan ini.

Aparatus ideology

Beragam fihak dan berbagai lembaga pun ingin berebut pengaruh, berebut ruang dan memperebutkan posisi dan letak strategis dari mahasiswa ini. Melalui berbagai cara salah satunya melalui kebijakan pemerintah, muncullah para pemegang kepentingan untuk mempengaruhi, mengkader, membina mahasiswa dalam kerangka kepentingannya. Salah satu lembaga paling efektif adalah perguruan tinggi. Disanalah berkembang paradigma keilmuan,mentalitas mahasiswa terbentuk, juga kebudayaan mahasiswa dilahirkan.

Disanalah apparatus ideology memainkan peranannya, dengan demikian, kampus dipandang sebagai tempat yang cukup empuk dengan masuknya berbagai kepentingan melalui program-program pemerintah, program kerjasama dengan swasta, juga lembaga-lembaga lain yang memiliki kepentingan terhadap perkembangan mahasiswa ke depan.

Pemerintah, melalui RUU Perguruan tinggi membuat peranan mahasiswa seperti tak ada gaungnya. Mahasiswa tak diberi tempat dalam memberikan pengaruh,sumbangsih, dan tetap saja ditempatkan sebagai objek dari kebijakan perguruan tinggi. Sedangkan perguruan tinggi adalah objek dari kebijakan pemerintah baik pendidikan swasta maupun negeri. Meski tidak kentara, kurikulum tetap menjadi monopoli pemerintah dalam menentukan arah perguruan tinggi kita. Alhasil, mahasiswa semakin tak bisa mengulangi kejayaan di masa lalu, ia bisa lebih lentur dan leluasa mengelola administrasi, mengelola keuangan dan konsep kemandirian dalam organisasinya.

Otonomi kampus vs otonomi mahasiswa

Sejauh ini, tak muncul kreatifitas mahasiswa yang tidak dibawah monitoring dari kampus dalam hal ini birokrat. Pengembangan kewirausahaan menjadi sebatas penyaluran dana pemerintah yang dijadikan legitimasi bahwasanya pemerintah memiliki relasi dan kepedulian terhadap mentalitas wira usaha mahasiswa. Begitupun pengembangan kemahasiswaan yang bertumpu pada pengembangan intelektualitas dan gagasan mahasiswa.

Yang aneh, penelitian mahasiswa pun ikut melengkapi rak-rak penelitian yang juga dari lembaga ilmu pengetahuan yang terlantar. Penelitian kita pun dikatakan kalah telak dan belum dimanfaatkan secara maksimal(kompas,24/11/2011). Akhirnya, mahasiswa pun tak tahu penelitiannya lari kemana dan difungsikan untuk apa, logika yang muncul adalah mahasiswa puas karena mendapatkan imbalan berupa uang yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. Intelektualitas mahasiswa jadi tak berharga, bahkan tak lagi dipedulikan, cukup dihargai dengan uang pembinaan dan hadiah saja. Kejadian diatas adalah salah satu contoh dari otonomi kampus, atau otonomi birokrat, lebih jauh lagi otonomi pemerintah yang jadi alat kuasa untuk mengontrol mahasiswa, menentukan mahasiswa mau jadi apa, dan yang tidak mengenakkan adalah kreatifitas mahasiswa jadi terbelenggu dan tak maju.

Hal ini menandakan bahwasannya otonomi kampus atau birokrasi lebih dominan dari pada otonomi mahasiswa. Sehingga yang terjadi mahasiswa tetaplah menjadi objek kebijakan, tak memungkinkan merubah kebijakan. Melalui NKK/BKK format baru itulah mahasiswa tak beda dengan sapi perah yang siap disedot hasilnya dan juga dimanfaatkan untuk kepentingan tuan rumah yakni birokrasi dan pemerintah.

Kampus dan Peranan Kebebasan akademik

Kampus semestinya mengembalikan fungsinya sebagai tempat kebebasan ekspresi mahasiswa dan juga tempat mahasiswa beraktualisasi dengan berbagai konsepsi dan pemikirannya. Otonomi dimaknai sebagai wujud penghargaan dan penghormatan bahwasannya mahasiswa adalah sosok yang dianggap sudah mampu mengembangkan pemikirannya sendiri dan mengaktualisasikannya. Birokrasi tak lain adalah fasilitator dalam memberikan, membantu, dan mengusahakan berbagai fasilitas yang kiranya perlu untuk pengembangan mahasiswa. Dengan otonomi mahasiswa maka kebebasan akademik mahasiswa akan lebih berpeluang untuk berkembang. Mahasiswa diberi keleluasaan untuk berfikir, beraktualisasi, dan mengevaluasi diri, sehingga mereka akan lebih terlatih dalam mengembangkan bakat, keilmuan dan juga aktualisasi diri di dalam masyarakat.

Selama otonomi kampus atau birokrat yang lebih dominan dan berkuasa, maka tak mungkin mahasiswa memiliki perkembangan yang signifikan dalam melakukan kajian, refleksi dan aktualisasi yang mengembalikan perannya sebagai tonggak penerus bangsa ini. RUU Perguruan tinggi masih dalam pembahasan, kita tentu berharap banyak bahwasannya otonomi mahasiswa diberi tempat yang semestinya dalam kebijakan pemerintah melalui RUU ini. Di RUU inilah nasib otonomi kampus atau otonomi mahasiswa ditentukan. Jika memang pemerintah dan kampus peduli terhadap perkembangan dan peningkatan kualitas mahasiswa, tentu ruang-ruang kebebasan berekspresi dan otonomi mahasiswa diberi tempat yang semestinya. Begitu.



*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta,

Negara Tanpa Politik Pangan




Oleh arif saifudin yudistira*)


Negeri ini dikaruniai dengan berbagai kekayaan dan sumber daya yang begitu besar. Hanya saja kekayaan dan sumber daya tersebut cenderung tidak dikelola dengan baik, atau tidak ada kemauan untuk mengelola kekayaan dan seumber daya tersebut dari negara. Negeri ini semakin lama semakin bergeser ke arah Negara industrial, kota-kota semakin menyempitkan lahan pertanian,sehingga pabrik-pabrik di kota-kota besar menggusur dan semakin merampas tanah pertanian kita. Konsekuensi yang dihasilkan adalah hilangnya kedaulatan pangan, ketahanan pangan, dan tak ada politik pangan.

Lihatlah betapa logika pemerintah kita yang mencoba menyelesaikan persoalan pangan dengan cara-cara yang sangat pragmatis, dan hanya sebatas pada ketahanan pangan. Asumsi yang muncul hanya pada bagaimana kebutuhan pangan terpenuhi, bukan pada aspek pangan adalah hak setiap warga, dan petani wajib sejahtera. Yang menyedihkan lagi data statistic kita menunjukkan petani gurem kita jumlahnya 14,029 juta rumah tangga, atau sekitar 56,4 persen dari total 24,869 juta petani(Kompas,2/12/11).

Logika yang salah dari penyelesaian persoalan pangan adalah tak ada politik pangan yang menyadarkan kita bahwa alat produksi bagi petani adalah penting. Sebab alat produksi itulah yang akan menjamin kehidupan petani-petani kita. Yang ada hanyalah politik pemenuhan kebutuhan pangan. Pemerintah melalui BPN akan memanfaatkan tanah yang terlantar sejumlah 850.000 hektar yang ada di 31 propinsi untuk lahan pertanian(kompas,2/12/11).Dari situ kita bisa melihat bagaimana mungkin kebijakan itu bisa dimaksimalkan,sementara tanah terlantar belum tentu produktif semua.

Involusi pertanian Geertz

Meski konsep Geertz belum bisa kita adopsi sepenuhnya, konsep tentang “involusi pertanian”yang akhirnya menghasilkan shared poverty patut kita cermati. Sejak Sistem colonial yang menerapkan intensifikasi pertanian karena ekstensifikasi pertanian yang tak memungkinkan lagi, dan membagi-bagi lahan tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan kemiskinan bersama. Persoalan lain adalah system tebasan yang memperparah jurang sosial bertambah parah.

Penelitian geertz penting untuk menarik kesimpulan bahwa kebijakan pertanian kita ternyata tak jauh beda dengan colonial, bahkan lebih parah lagi. Reforma agraria cenderung diabaikan dan tak berfihak dengan logika liberalisasi yang semakin masuk dalam kebijakan Negara. Anehnya, politik liberalisasi pertanian ini justru masuk dalam konstitusi Negara kita melalui produk RUU pangan. Maka pemerataan lahan bagi petani adalah mustahil, karena tak ada politik dari Negara untuk mensejahterakan petani kita.

Liberalisasi pertanian

RUU pertanian yang dibahas di DPR justru memberikan penjelasan kepada kita, bahwa tumpuan pangan nasional kita masih pada produksi dan konsumsi beras sehingga swasta dibebaskan bermain di pasar dan impor sejalan dengan produksi. Dalam rancangan undang-undang ini, pasal 15 disebutkan logika impor dibenarkan, tapi tak ada bagaimana strategi pengaturan cadangan pangan belum diatur. Ini penting agar spekulan dan para pengusaha tidak memainkan harga dalam pasar.Negara perlu mengatur kebijakan harga dalam pangan.

Pasal 48 memberikan sinyalemen liberalisasi pertanian. Di pasal tersebut memberikan peluag bagi para investor dan para spekulan, karena kebijakan pangan kita dikaitkan dengan bagaimana investasi berjalan. Jika orientasinya untuk menghindari inflasi, maka kebijakan pangan justru kehilangan tujuan semula yakni mensejahterakan petani dan mewujudkan kedaulatan pangan jadi tersingkirkan.

Selain itu, perlu bagi Negara untuk mengatur lebih lanjut bagaimana perencanaan, pengendalian harga, pengembangan penelitian dan penentuan harga tidak boleh dilepaskan dari bagaimana Negara berperan dalam kebijakan pangan kita.Sehingga pasal 10 dalam RUU ini belum jelas siapa yang berperan dalam berbagai kebijakan ini. Karena, jangan sampai para spekulan dan swasta besar yang justru memiliki andil lebih besar.

Land Grabbing

Praktik land grabbing-penguasaan tanah dalam luasan besar di tangan satu dua orang,termasuk asing justru dihalalkan oleh pemerintah melalui UU no.25 tahun 2007. Melalui peraturan presiden nomer III tahun 2007 membolehkan kepemilikan modal asing sampai 95 persen pada budidaya pertanian tanaman pangan. Meskipun, MK telah membatalkan pasal 22 yang mengizinkan penguasaan lahan hingga 90 tahun.

Land-grabbing ini tak hanya Nampak pada bagaimana tak ada keberfihakan pada petani gurem, tapi yang lebih Nampak adalah ketika Negara merampas tanah rakyat untuk kepentingan pembangunan utamanya di tanah jawa yang makin sempit. Pembangunan tol, pembangunan perumahan, dan juga pembangunan perluasan jalan. Hal ini menunjukkan bahwasannya cita-cita kebangsaan kita dalam rangka menegakkan pasal 33 ayat 2 :“bumi,air, dan segala yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara”semakin tak terlaksana.

Jalan yang memungkinkan tak lain adalah segera melaksanakan reforma agraria yang mesti harus berkonfrontasi kembali dengan kepentingan asing dan para pemodal. Kebijakan ini tentu membutuhkan kepemimpinan yang tegas untuk menegakkan politik pangan kita. Mungkinkah kebijakan ini bisa dilaksanakan oleh pemimpin negeri kita?. Rasanya akan jadi mustahil,sebab negara ini memang tak ada politik pangan yang jelas untuk mewujudkan dan menegakkan kedaulatan pangan.

*)Penulis adalah mahasiswa Universitas muham,adiyah Surakarta, presidium kawah institute Indonesia

Jumat, Desember 09, 2011

Tragedi Dan Ironi “Wong Ndeso”



Oleh arif saifudin yudistira*)


Kembali ke laptopkatrok…dasar ndeso!!!….”adalah jargon yang sering dipake thukul arwana presenter dan pelawak yang terkenal “ndeso”nya. Jargon tersebut menunjukkan bahwa orang desa kerap dihadirkan sebagai sosok yang lugu, tidak banyak tahu apa-apa, gagap teknologi, dan tidak gaul. Kehadiran Thukul sebagai sosok pelawak “ndeso” memang mencoba menggali dan mengingatkan kota yang penuh hiruk-pikuk dengan segala kemewahannya, dengan segala modernitasnya, dan kemajuan teknologinya hingga melupakan, meminggirkan dan menghilangkan identitas orang desa. Sosok Thukul mencoba mengembalikan itu dengan gaya lawaknya yang khas. Gaya lawak Thukul mengajak kita mengembalikan memori kolektif kita bahwasannya tidak selayaknya kita melupakan identitas kita berasal, yakni dari desa. Yah, kita ini orang desa, dan berasal dari sana.

Imaji orang desa juga dihadirkan oleh koes ploes dalam lagunya “gadis desa jadi biduan”.Di lagu tersebut koes ploes menggambarkan potret gadis desa yang datang ke kota menjadi biduan tapi lupa identitas kulturalnya, lupa identitas social dan kehilangan dirinya, sehingga ia merasa perlu mengubah dan menghilangkan identitasnya dan melebur ke dalam identitas kota. Identitas kota yang penuh dengan cap “maju, gaul, modis, dan tidak ketinggalan zaman” menjadi impian orang desa ketika hijrah ke kota.

Namun, saat ini kehadiran desa menjelma dalam ruang-ruang komoditas. Baik pada komoditas ekonomi, maupun komoditas politik. Dalam komoditas ekonomi, banyak produk yang memanfaatkan citra “orang desa”(wong ndeso) yang melekat pada artis. Dalam komoditas politik, kita juga mendengar jargon “bali ndeso mbangun ndeso” yang menjadi sihir politik bagi rakyat dalam kampanye. Alhasil, produk-produk ekonomi kita laku keras, dan kampanye politik politisi kita juga berhasil memperoleh kemenangan.

Ironi

Desa tidak hanya menjadi komoditas politik dan ekonomi dalam perkembangannya. Akan tetapi desa juga sebagaimana yang distereotipkan selama ini. Orang desa tetap saja menjadi sosok yang terpinggirkan, tersingkirkan dan tetap miskin. Harapan orang-orang dusun yang bermigrasi ke kota dengan berbagai khayalannya tak mampu mengubah nasib dan keadaan orang desa.

Sebenarnya kisah pahit ini sudah pernah dituliskan jauh-jauh hari oleh pramudya dalam cerpennya “Jakarta”. Simaklah peringatan pram berikut : Jadi beginilah, kawan. Jakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Jakarta. Tapi Jakarta sendiri hanya kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan yang masak tidak punya. Anak-anak men­jadi terlampau cepat masak, karena baji-baji, kanak­-kanak dan orangtuanya digiring ke dalam ruangan­-ruangan yang teramat sempit sehingga tiap waktu me­reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada yang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men­jadi hilang, dan segi-segi yang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini menjadi tum­pul. Agama telah menjadi gaya kehidupan, bukan perbentengan rohani yang terachir.

Dalam cerpennya pramudya mengingatkan tentang sosok orang dusun yang sia-sia mendambakan impiannya dan mempertaruhkan hidupnya dijakarta. “Jakarta hanyalah kelompokan besar dusun” yang dengan kehadiran kita justru mempercepat runtuhnya dusun tersebut. Imajinasi kerja hanyalah impian semata, sebab Jakarta justru menghadirkan sebaliknya, kekerasan, kesengsaraan dan kemiskinan.

Desa telah jadi ironi dalam imajinasi orang-orang modern saat ini. Yang kalau kita kaji lebih dalam apa yang mereka harapkan sebenarnya ada di desa. Kehidupan yang tenteram, suasana yang akrab, budaya gotong-royong, serta kekayaan alam yang melimpah justru berada disana. Pendidikan telah mengubah imajinasi “wong ndeso” menjadi akarab dengan dunia kerja, status social, pekerja kantoran, hidup lebih kaya, dan akrab dengan nuansa kemajuan. Mas marco kartodikromo mengisahkan ini dengan baik dalam novelnya “student hidjo”. Hidjo diperingatkan oleh ibu dan ayahnya agar menjaga kesopanan dan cara berpakaiannya. Pendidikan membuat orang desa mengubah identitas mereka dan melupakan riwayat biografis mereka.

Realitas desa

Desa sebenarnya akrab dengan nilai-nilai filosofis dan khazanah yang luhur. Wejangan, pitutur dan juga kekayaan cultural begitu kaya di desa. Sebagaimana petuah orang jawa berikut : “Nge’li ning ora ke’li” yang maknanya ikut mengikuti perkembangan zaman, tapi tidak ikut arus dalam gemuruh dan tergelincir dalam arus jaman tersebut. Masih banyak pepatah yang lain yang berasal dari desa, misalnya di bali “Limane’ ane’h ngisiang tampul aneh’- ane’he ngisi pedang”yang artinya hukum dan patokan yang kokoh akan berani melawan kebatilan yang menghadang.

Selain itu, desa begitu lengkap dengan berbagai sumber daya alam dan kebutuhan kita. Kita seringkali lupa apa-apa yang ada di kota sebenarnya dipasok dari desa. Seperti beras dan bahan pokok lainnya, begitupun sumber daya manusia di kota adalah pasokan dari desa kita. Desa juga menggambarkan suasana pemerintahan yang dinamis, tenteram, dan penuh kedamaian yang sangat jauh berbeda dengan suasana di kota.

Oleh karena itu, sudah selayaknya desa kita bangun kembali. Dan menjadikannya sebagai subjek bukan objek dari pembangunan, serta tidak hanya menjadikannya sebagai lelucon tapi jadi motor perubahan bagi bangsa ini. Bukankah perubahan Negara-negara besar di dunia ini juga berasal dari peran besar orang desa?. Bukan sebaliknya kita tinggalkan dengan berduyun-duyun dan melupakan identitas,riwayat, dan biografis kita yang justru membuat tragedy dan ironi orang desa(wong ndeso). Begitu.


*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di kawah institute indonesia