Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Rabu, Juli 16, 2008

Platform calon ketua umum imm fkip ums

Arif Saifudin Yudistira


Data Pribadi

Nama Lengkap : ARIF SAIFUDIN YUDISTIRA

Tempat,tgl Lahir : Cilacap, 30 juni 1988

Alamat Sekarang : Bayanan, Gesikan, Gantiwarno, Klaten


Pendidikan Formal

  1. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas FKIP Bahasa Inggris 2006s/dSekarang

  2. SMA N 1 JOGONALAN Klaten 2003s/d2006

  3. SLTP N 1 Gantiwarno 2000s/d2003

  4. SDN 1 Gesikan, Gantiwarno, Klaten 1994s/d2000


Perkaderan IMM

  1. Darul Arqom Dasar 2006


Training dan Pelatihan

    1. Seminar Nasional tentang konstitusi di Universitas Sebelas Maret, 2008

    2. Seminar Nasional tentang ” Strategi Universitas Menghadapi Liberalisasi Pendidikan”,2008

    3. Pelatihan pendidikan Menengah Perkoperasian, Semarang, 2007

    4. Pengajian I’tikaf Ramadhan 2007

    5. Training Kewirausahaan bersana CES ( Citra Emas )2005

Pengalaman Organisasi di IMM

  1. Ketua Bidang SOSMI 2007-2008

  2. Anggota bidang SOSMI 2007


Pengalaman Organisasi di luar IMM

  1. Anggota IRM bidang dakwah 2005

  2. Ketua IRM Cabang Gantiwarno 2006 s/d 2008

  3. Ketua Bidang KPSDM PD IRM KLATEN 2007

  4. Staff HRD KOPMAUMS 2007s/d 2008

  5. Kabid Organisasi HKMS( Himpunan Koperasi Mahasiswa Se-Surakarta ) 2008

  6. Kabid Litbang FIGUR UMS


Publikasi Karya

  1. Ironi Masyarakat Petani ” 2007 Majalah Pers Fakultas Figur UMS 2007

  2. Demo Kenapa Tidak ?” Rubrik curhat SOLO POS

  3. Sumber Energi untuk Siapa?” Rubrik Mimbar Mahasiswa SOLO POS

  4. Tanggung Jawab Kita” rubrik POS PEMBACA,3 JULI 2008



A . Gerakan Pemikir, Pendidik, Pembaharu


Co Gito Ergo Sum, begitulah kata descrates seorang pemikir yunani, saya berpikir oleh karena itu saya ada, berfikir merupakan landasan dasar bagi kita untuk menjadi manusia yang utuh. Dalam hal ini kita sama-sama mengetahui sebuah perbedaan orang yang berfikir dengan orang yang hanya diam. Orang yang berfikir telah membuktikan dalam sejarahnya akan diberi kedudukan yang lebih tinggi.

Hal ini pula yang seharusnya digunakan landasan IMM dalam bergerak, sebagai gerakan Islam. Islam pun tidak melepaskan diri dari pengajaran tentang hakekat berfikir yang begitu mendalam. Hampir dalam tiap surat dalam Al- Quran kita menjumpai kata ” ............Afalaa yatafakkaruun”

Tidak hanya itu, Sesepuh sekaligus pendiri Muhammadiyah K.H.Ahmad Dahlan pun mengajarkan kita tentang hakikat berfikir dengan pesan yang disampaikan beliau yang berbunyi : ” Manusia perlu dikumpulkan secara bersama-sama untuk memikir untuk apa mereka hidup, untuk apa mereka diciptakan, berfikir tentang kebenaran, menimbang-nimbang serta mencari-cari agar ia selamat dalam kehidupannya karena hidup hanya sekali, alangkah meruginya manusia jika hidup sekali ini sampai sia-sia”

Dari situlah berfikir merupakan sebuah landasan penting di dalam IMM agar IMM bisa bergerak kedepan dan lebih maju. Selama ini gerakan pemikiran inilah yang dirasa kurang, sehingga kelemahan dan kemandeganlah yang terjadi. Apalagi dalam tataran komisariat, gerakan pembaruan pemikiran Islam dirasa cukup penting untuk digalakkan sehingga umat Islam/kader akan menjadi umat yang cerdas, tanggap, dan tidak gagap.

Kedua, sebagai komisariat yang ada dalam lingkungan tentunya kedepannya harus ada sebuah komunikasi pedagogik, dalam hal ini pendidikan yang kita lakukan haruslah berusaha untuk mewujudkan pendidikan yang membebaskan atau pendidikan hadap masalah( Paulo Freire ).

Dengan seperti itu, maka timbullah kesadaran dari masing-masing kader untuk senantiasa mengaktualisasikan dirinya ke dalam IMM agar terjadi aktualisasi gerakan yang progresif. Dengan adanya komunikasi pedagogik yang kontinue, secara otomatis akan timbul transfer of knowledge, transfer of value, dan transfer of morality.

Ketiga, Pembaharu dengan adanya gerakan pembaruan maka akan terjadi

perubahan dan bermunculan ide-ide segar, dan inovasi gerakan sehingga mendorong kader untuk senantiasa kreatif, inovatif,serta dinamis.


B. Filsafat Sebagai Landasan Gerakan

Terus-menerus menanyakan adalah kunci pertama menuju kebijaksanaan. Lewat kesangsianlah kita menyelidiki, dan melalui penyelidikanlah kita menggapai kebenaran”( Peter Abelard 1079s/d 1142)

Dari sebuah kata-kata diatas kita akan memahami, bahwa filsafat akan sangat berperan penting dalam mencapai sebuah progresifitas gerakan. Dengan cara berfikir filsafat serta mempertanyakan maka kita akan belajar dan menemukan berbagai sebuah kesimpulan yang bijaksana.

Dari sesuatu yang bijaksana inilah kemudian kita bisa berfikir dan bertindak dengan benar. Dalam lingkungan pendidikan tentu kita juga akan menggunakan filsafat pendidikan. Sehingga cara pendidikan yang kita lakukan dalam menjalankan roda maupun program organisasi akan senantiasa berpacu pada landasan dan dasar yang benar-benar dipertimbangkan.

Dalam hal ini saya akan mengutip kata bijak dari Max Depree : ”Kita tidak dapat menjadi apa yang perlu kita capai,kalau kita tetap seperti apa adanya”. Dalam kata mutiara ini menjelaskan bahwa setiap kita mempunyai potensi masing-masing yang bisa kita kembangkan. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk senantiasa mencari dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan sesuai dengan bakat kita.

Menjadi manusia yang utuh itulah yang menjadi tujuan kita selaku seorang kader. Untuk ke arah sana maka kesadaran individu dan kesadaran kolektif amat diperlukan. Yang terakhir, sebagai seorang kader tentunya kita harus mengembangkan sifat kemandirian pantang mengedepankan sikap mengharap-harap atau bergantung dengan financial atau apapun. Atau dalam bahasa jawa ”njagakke ndok blorok”.









C. ARAH DAN KEBIJAKAN ORGANISASI

Arah Gerakan Intelektual : Menuju Gerakan yang progresif

Disadari ataupun tidak, fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan adalah merupakan fakultas dengan basis yang cukup besar. Oleh karena itu, sebagai fakultas yang paling besar dengan basis massa yang besar pula, FKIP dituntut untuk senantiasa mengembangkan kompetensi kualitas intelektualnya, untuk mengimbangi kuantitas.

Supaya tidak terjadi obesitas gerakan, sehingga hanya terlihat banyak tanpa adanya kemampuan yang cukup. Untuk mengembangkan dan mewujudkan gerakan ini, diperlukan adanya budaya membaca, menulis, juga diskusi sehingga kader benar-benar tahu akan perkembangan kondisi yang ada di tataran bangsanya, masyarakatnya, kampus, juga lingkungan keorganisasiannya.

Wacana-wacana dasar tentang keagamaan hendaknya perlu diadakan sebuah evaluasi-evaluasi juga inovasi sehingga sebagai gerakan Islam atau dakwah tidak meninggalkan spirit keagamaannya yaitu sebagai ”Agama yang meletakkan rakyat tertindas sebagai pihak utama yang patut dilindungi, dibela, dan diperjuangkan ( Islam Kiri )”.

Disamping wacana tentang keagamaan, wacana pendidikan dan perkembangannya juga harus senantiasa di dalami juga difahami, karena hal ini merupakan pijakan awal kita sebagai kader intelektual.

Dengan memahami serta mendalami apa yang menjadi bidang studi kita, maka kita akan mampu menginterpretasikan dalam gerakan kita. Kemudian, wacana wacana umum, pengetahuan sosial juga harus kita kembangkan sebagai sebuah gerakan yang mengaku peduli terhadap kaum mustaadafin.

Kaum mustaadafin difahami tidak hanya kaum miskin saja, tetapi juga seseorang yang tertindas dalam pendidikan, misalnya kapitalisme dalam pendidikan yang melanda negeri ini, juga tidak menutup kemungkinan di kampus kita ini. Fenomena inilah yang harus senantiasa mendapat respon dari kita, seperti banyaknya kasus-kasus kesalahan sistemik, serta kebijakan pendidikan yang menindas serta kebijakan yang melenceng dari tujuan pendidikan.

Dengan demikian, gerakan progresif akan terwujud, dengan terciptanya suasana belajar yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menenteramkan, sesuai dengan visi-misi pendidikan di FKIP. Dalam hal ini saya memaknai gerakan progresif sebagai gerakan yang membawa perubahan ke arah kemajuan yang kebih baik.




    1. Visi

”Terwujudnya gerakan IMM sebagai gerakan intelektual yang mengabdi untuk kepentingan umat dengan tanpa meninggalkan pada spiritualitas Islam sebagai landasan gerakan”

    1. Misi

”Liberalisasi kader serta pemberdayaan kader (empowerment) menuju kesadaran kolektif kolegial sehingga tercapai visi dan misi IMM”

    1. Rencana dan program Strategis

      • Penguatan wacana pendidikan, sosial ,ekonomi, politik, ekonomi, serta budaya, sehingga tercipta kader yang berwawasan luas dan intelek.

      • Penguatan dan pendalaman ideologi gerakan dikalangan kader sebagai bentuk pendidikan ideologi ikatan.

      • Pemberdayaan kader melalui media-media stretegis( Sekolah kader, diskusi, juga sarana lain) untuk menumbuhkan kompetensi kader.

      • Partisipasi terhadap elemen-elemen strategis dalam mengambangkan kompetensi kader.

      • Membangun jaringan intern dan ekstern komisariat untuk menambah pengalaman kader.

      • Berpartisipasi dalam penguatan jejaring keorganisasian ditingkatan fakultas maupun universitas ( Orbitasi )

      • Individuasi kader, sehingga tercipta perwujudan tri kompetensi di setiap kader IMM.

    2. Penutup

”Dengan adanya landasan filosofis IMM KOM FKIP, sebagai generasi pemikir,pendidik, serta pembaharu serta di dukung dengan adanya filsafat sebagi landasan gerakan diharapkan mampu mewujudkan gerakan intelektual IMM yang mengabdi pada kepentingan umat tanpa meninggalkan spiritualitas Islam sebagai spirit gerakan, dengan liberalisasi kader serta pemberdayaan sehingga tercapai visi dan misi IMM”





Islam itu harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman, Kalau Islam tidak mampu buat mengejar seribu tahun itu,niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada zaman kekhalifahan,tetapi lari ke muka,mengejar zaman – itulah satu-satunya jalan menuju gilang kembali” ( Soekarno )








---Tenang Meyakinkan---

















Label:

Minggu, Juli 06, 2008

Wanita

Wanita


Kau begitu mempesona,

Dicipta bukan tuk jadi bencana,

Apa kau memilih untuk menjadi,

Menjadi apa yang kau mau,

Entah apa yang kau mau itupun aq tak tahu

Yang kadang maumu tak sesuai kata hatimu

Mereka, lelaki-lelaki tak tahu diri

Merusak dan merenggutmu

Memelukmu dengan lembut rayuan racunnya

Ah,aku ga bisa berkata jauh tentang mu

Aku belum banyak tahu tentangmu,

Kumengagumimu,

Kumembencimu,

Kupunmenaklukanmu,

Akupun ingin mengangkatmu

Tapi,aaaahhhhh kau begitu rumit untuk kufahami,

Untuk kumengerti….

Aku ingin bebas……

Bebas dari dirimu……ahhhhh apa bisa ya?

Ketakutan,kebencian,kesenangan,asmara,semuanya menjadi satu dalam dirimu

Dalam kisamu,dalam derap langkahmu,





Aku masih bertanya-tanya,

Kenapa engkau menjadi penyebab semua

Bisa bahagia juga bisa penyebab sengsara

Kau terlalu membuat berjuta mimpi-mimpi

Kau membuat hayalan tingkat tinggi

Yang membuat ku terbang,terbang,dan kian terbang


Ahhhh,terbang!terbang kemana? Ke alam impian impian,dan impian

Impian.


Impian yang kau ban gun,bisa semu juga bisa seperti madu

Bisa!!!!apakah bisa semanis yang ……

Haha……..haha………..haha……

Terserah manis yang kau mau….?????

Semua trerserah maumu….maumu…..

Ya,ya,yah yah semua kan terjadi karena dari maumu juga!

Ku tak adil bila kau yang selalu dijadikan sebab?

Tapi,kau sendiri yang memilih untuk jadi penyabab!

Ah,,pa gak salah ?,bukanklah penyebab adalah juga timbul dari lalaki?

Mau salahkan siapa?,aq tak bisa berkata…..

Lebih baik akau tak berkata dari pada semua salah menafsirkannya.



Label:

Puisi_Q

Hidup hanya sekali
tak kan terulang kedua kali
hidup bukan mencari puji
tapi mencari ni'mat yang haqiqi
Aku ingin hidupku ini
berakhir dengan kasih
Ilahi

Label:

"Sumber Energi untuk Siapa?

Sumber Energi, Untuk Siapa?
Oleh Arif Saifudin Yudistira*

Rasanya aneh, negeri pengekspor minyak harus membayar mahal untuk membeli minyak di negerinya sendiri. Sebenarnya, kalau kita melihat kekayaan alam bangsa kita, kita amat kaya dengan sumber daya alam tersebut. Kita juga kaya dengan berbagai sumber energi, terutama yang berasal dari migas.
Kita kaya akan batu bara, minyak, maupun gas bumi. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa harga BBM kita mahal?. Padahal, dalam setiap harinya, kita mampu mengekspor sekitar 500 ribu barel. Jika demikian, pemerintah idealnya bisa memberikan subsidi lebih banyak dari hasil ekspor tersebut.
Indonesia juga merupakan pengekspor sumber energi terbesar di dunia. 70 % batu bara, kita juga termasuk pengekspor LNG terbesar di seluruh dunia. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain, ketika melihat kondisi Indonesia saat ini begitu memprihatinkan. Karena saat ini, 90 % minyak kita telah dikuasai asing. Subsidi hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Hal ini disebabkan oleh hilangnya rasa nasionalisme para pemimpin bangsa kita.
Bagaimana tidak, pemimpin kita lebih percaya pada perusahaan tambang asing dari pada percaya pada pertamina perusahaan kita sendiri yang juga cukup banyak pengalaman. Ditambah lagi ketika melihat iklan yang mungkin terdengar begitu indah namun ketika diresapi begitu mengenaskan.“Kita untung bangsa untung” rasanya lebih tepat bila dikatakan “Kita apes bangsa ikutan ambles” bila melihat kenyataan 90 % minyak kita dikuasai oleh asing.
Akibatnya, tidak heran bila kasus korupsi terdengar seperti menjadi hal yang lazim dilakukan tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan ada juga pejabat yang sempat tersenyum lebar ketika diperiksa KPK, menyedihkan…!. Janji-janji para pemimpin kita pun jadi terlupakan. Yang lebih ironi lagi adalah pemimpin kita bisa menangis ketika melihat ayat-ayat cinta, dari pada melihat anak-anak kita yang mati karena busung lapar.
Amanah UUD 45 pasal 33 kemudian hanya menjadi simbol belaka. Karena pemerintah lebih memilih swastanisasi dengan dalih menjadikan perusahaan lebih efisien dan dapat berkompetisi dalam masyarakat internasional. Namun sayang kenyataan berbicara lain, swastanisasi hanya mengejar laba ketimbang kesejahteraan sosial masyarakat dan ongkos pelayanan publik menjadi amat mahal sehingga tak terjangkau rakyat miskin.
Inilah akibat dari kita menswastanisasi perusahaan nasional kita. Alasan korupsi pun kemudian dibawa-bawa oleh pemerintahan kita untuk melegitimasi swastanisasi, seolah-olah ketika di swastanisasi kemudian korupsi menjadi hilang. Padahal belum tentu demikian, efek yang jelas terlihat adalah kesejahteraan sosial menjadi kian terlupakan.
Baik kesejahteraan buruh, atau kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Apalagi kemudian diperparah dengan eksploitasi yang berlebihan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar dan keterbatasan sumber daya alam tersebut. Hal ini bisa kita lihat di kasus Freeport.
Nasionalisasi dipandang sebagai sesuatu hal yang mustahil, karena masalah mental, memang menjadi masalah yang cukup vital. Dibutuhkan sikap mental yang tegas, berani, serta siap menanggung resiko untuk melakukan hal ini. Sayang pemimpin kita belum ada yang mempunyai sikap seperti sosok Sukarno, yang tegas menolak keterikatan dan kerja sama dengan asing.
Anehnya, pemerintah saat ini bukannya berhenti dari menjual apa yang menjadi sumber daya kita, namun justru semakin nekat. Terbukti dengan diperpanjangnya kontrak PT FREEPORT di Papua dan EXXON di blok Cepu. Belum genap satu minggu ini pemerintah kita juga akan memprivatisasi krakatau steel yang labanya mencapai ratusan trillun rupiah. Maka pantas ketika dikatakan bahwa saat ini kita sedang dijajah lagi, bahkan termasuk bangsa kita sendiri.
Apa yang bisa kita lakukan ?

Melihat fenomena demikian sudah saatnya bangsa ini kemudian bangkit, serta sadar akan penindasan ini. Jika kita tidak sadar, mungkin kita akan selamanya menjadi bangsa yang diperas sumber-sumber kekayaan kita. Salah satu langkah kita untuk mengatasi hal ini, bisa dengan tidak memilih lagi pemimpin yang merugikan rakyatnya. Serta lebih berhati-hati pada janji-janji palsu calon pemimpin kita pada pemilu 2009 nanti. Karena, jika kita salah pilih lagi, lima tahun kita menanggung akibatnya. Rakyat kita sudah terlalu sabar dalam menghadapi berbagai ujian.
Kedua, dengan meningkatkan dan mengembangkan kemandirian daerah sehingga tercipta kemandirian nasional. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan peluang dan kepercayaan yang seluas-luasnya kepada masyarakat kita untuk menjadi pengelola sumber daya kita. Sehingga keuntungannya tidak lari ke asing, namun bermanfaat bagi bangsa kita sendiri .
Ketiga, meningkatkan kerja sama dengan investor namun tidak sampai ikut serta dalam pengambilan dan penentuan kebijakan. Karena, jika sampai terjadi investor sudah ikut mengambil kebijakan, kita kemudian menjadi semakin tersingkir. Hal ini bisa kita lihat seperti kasus yang terjadi pada blok Cepu maupun Freeport, yang terlalu merugikan kita..
Terakhir kalinya, kita bisa merenungkan pesan dari Ayatulloh Khomaeni : “ Inilah kata-kataku bagi kaum Muslim dan rakyat tertindas di seluruh dunia, Kalian tidak boleh duduk berpangku tangan, menunggu diberi anugerah kemerdekaan dan kebebasan oleh orang yang berkuasa di negeri kalian atau oleh kekuatan asing. Kalian wahai rakyat tertindas di dunia,Bangun! Ambillah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian”.
Dalam pesan di atas, bisa kita ambil hikmahnya yaitu sudah saatnya kita memberikan perlawanan kepada pemerintah kita yang tidak berpihak pada rakyatnya. Karena, ketika kita membiarkan negeri kita dipimpin oleh pemimpin yang dzalim, berarti kita telah membiarkan negeri kita dijajah dan ditindas kembali.











Penulis adalah aktifis IMM KOTA SURAKARTA, juga mahasiswa UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA FKIP BHS INGGRIS.TULISAN INI PERNAH DIMUAT DI KORAN SOLO POS

Label: