Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Juni 05, 2012


Merindukan Sosok Karno

Oleh arif saifudin yudistira*)



Riwayat Sukarno mungkin sudah usai bertahun-tahun lalu. Sukarno, sosok presiden pertama kita hadir dengan berbagai pujian dan kontroversi. Ia sosok yang kini lahir kembali. Hadirnya tak lagi seperti dulu teriak-teriak revolusi, tapi kini ia lahir kembali dengan menangis dan menyesali diri ,mengapa revolusi tak kunjung selesai sebagaimana pidatonya dulu. 
Begitulah sukarno yang lahir 6 juni di tahun 1901. Riwayatnya tak usai, ia dikenal sampai ke penjuru dunia. Keberhasilannya menjadikan negeri ini bermartabat di mata bangsa asing membuatnya menjadi presiden yang terpandang di mata dunia. Ia adalah orator sekaligus pencinta yang ulung. Perempuan adalah tempat sandaran dan cinta kasihnya. Ia bisa sangat kuat di luar rumah, tapi ia begitu lemah dan mengeluh kesah pada isterinya di rumah.
Kita mengenangkan sukarno tak hanya sebagai bapa proklamator, ia adalah sosok yang begitu terpukau dengan bacaan dan apa yang ia pelajari. Hingga ia mencetuskan cita-citanya tentang revolusi Indonesia. ia tak sekadar ingin menunjukkan bahwa nasionalisme,islamisme dan marxisme sebagaimana dituliskan di buku Di bawah bendera revolusi tidak bertentangan sama sekali. Ada cita-cita bersama diantara nasionalisme, islamisme dan komunisme yang tak lain adalah pencapaian masyarakat adil dan makmur.
Sukarno hadir di panggung politik sebagai sosok sinkretis. Sosok sinkretis inilah yang dicermati oleh Bernhard dahm dalam bukunya Sukarno and The struggle for Indonesian independence. Ia melihat watak inilah yang menyatukan Indonesia menjadi negara kesatuan yang dapat bertahan hingga hari ini. Watak sinkretis ini dilihat oleh dahm karean pengaruh nilai-nilai jawa yang ia pelajari. Hingga ia menyatukan dan mensintesakan marxisme,nasionalisme dan islamisme.
Tak hanya itu, Bernhard dahm melihat watak sinkretis sukarno yang mewujud dalam pernyataan dekrit presiden 5 juli 59.Ia menilai disitulah letak watak sukarno sebagai pemersatu. Tanpa adanya watak itu, barangkali negeri ini masih belum bisa bersatu. Akan tetapi, ini justru dilihat oleh bung hatta sebagai awal dari hancurnya demokrasi yang sebenarnya. Hatta menyebut dalam demokrasi kita : “apa yang terjadi sekarang adalah krisis daripada demokrasi atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki lambat laun menjadi diktatur”.


kritik

Kritik hatta disampaikan karena di masa-masa demokrasi terpimpin, sukarno menunjukkan sikap-sikap yang cenderung diktatur. Soekarno terkesan melebihi kewenangannya sebagai presiden dan ia mengintervensi DPR. Selain itu, soekarno dipandang oleh hatta lebih mengunggulkan terpimpinnya dan menghilangkan demokrasinya. Sebagaimana ditulis Deliar noer dalam buku biografi Hatta , Mohamamd hatta ;hati nurani bangsa : “Soekarno sendiri terus saja dengan gagasan yang menjauhkannya dari hatta.  Gagasan itu antara lain demokrasi terpimpin yang praktis menghilangkan demokrasi an menegakkan terpimpinnya”.
Sikap Soekarno yang diktatur pun ditegaskan ketika soekarno dekat dengan PKI, dan ia memilih membubarkan masyumi dan partai sosialis Indonesia di tahun 60-an. Soekarno berlaku demikian karena sudah menilai bahwa partai yang konsisten dengan agenda revolusinya adalah PKI. Kedekatannya dengan aidit mengakibatkan PKI seperti anak kesayangannya. Dan berkat dukungan dan kedekatan soekarno di tahun 1955 PKI menempati urutan empat partai dengan basis massa yang diperhitungkan di pemilu 1955.

Jatuh

            Kejatuhan soekarno ternyata sudah diprediksi oleh Hatta sejak soekarno mendekap dalam penjara dan dibuang di endeh flores. Hatta menulis di Daulat rakyat  dengan judul “Tragedi Soekarno” 30 nopember 1933: “Soekarno bakal lenyap dari pergerakan rakyat. Akan menjadi satu lakon yang sedih,yang melukai hati seluruh pergerakan radikal. Sekali ini soekarno menjadi korban bukan karena pergerakan atau kekejaman pemerintah melainkan korban daripada dirinya sendiri, karena luntur imannya”.
Setelah masa demokrasi terpimpin yang ia pimpin, hingga pada tahun 65 ia mengalami kejayaan dan bahkan soekarno memimpin pembebasan irian barat dan ganyang Malaysia dai tahun 60-an. Di tahun 1965 itulah ia harus menghadapi  tragedy gerakan 30 september 1965. Di saat itulah kondisi kesehatannya menurun, dan ia dijadikan batu loncatan soeharto untuk membangun orde barunya.

Pelajaran

Riwayat seoekarno memang mengandung berbagai pelajaran bagi kita semua. Kemampuannya berorasi dan membangkitkan semangat rakyat adalah ke khasan dia sebagai pemimpin negara. Sisi lain dia yang konon dianggap pemuja perempuan yang sering dikritik soe hok gie di masa 60-an. Soekarno hadir dengan ide-ide brilliannya tentang persatuan,nasionalisme, hingga ide revolusi yang cukup terkenal lewat karyanya di bawah bendera revolusi hingga doktrin-doktrin revolusi di pidato-pidatonya. Pidato adalah titah dan pengejewantahan ide-ide dan keputusan politiknya.
Hari ini kita mengenang hari lahir bung karno dengan pamrih muncul sosok karno yang hadir sebagai patriot negara pembela negara mengingat negeri ini kian tak berdaya dan berdaulat, dan sebagaimana yang ia bilang dalam pidatonya “revolusi belum selesai”.


*)Penulis adalah penggiat bilik literasi solo pengelola kawah institute indonesia

Minggu, Juni 03, 2012


Jokowi, Facebook, Dan Identitas Kota
Oleh arif saifudin yudistira*)
Pilihan jokowi calon gubernur DKI menggunakan metode kampanye melalui penjualan baju koko nya memang menarik public. Selain karena metode ini tergolong baru, masyarakat saat ini juga jengah melihat plakat-plakat di jalanan kota dan juga iklan di televise yang menghabiskan dana begitu banyak. Jokowi pun tak kurang cerdik, ia memilih jejaring social seperti facebook dan twitter sebagai media untuk menjaring pendukungnya.
Pilihan jokowi ini tentu patut diapresiasi, tapi perlu juga dicermati lebih lanjut.  Jika kita telisik lebih lanjut, metode kampanye jokowi di era modern seperti ini sangat tidak bisa menentukan kapasitas pendukungnya. Barangkali para penasehat dan tim kampanye jokowi perlu belajar pada kasus sebelumnya, ketika pasangan capres Amin rais dan Siswono yudho husodo yang diprediksi oleh berbagai lembaga survey menduduki paling unggul ternyata kalah dengan pasangan SBY-JK di pemilu tahun 2004 lalu. Pelajaran ini membuktikan bahwa kualitas survey ataupun prediksi teknologi tak sepenuhnya menjamin realitas social masyarakat kita.
Memang jejaring social adalah salah satu metode “jajanan politik” pasangan jokowi dan ahok, tapi justru komoditas inilah yang paling laku di media kita saat ini. Media kita tertarik karena metode ini langka dan “unik”. Selain itu, seolah-olah masyarakat diajak untuk menengok kembali keberhasilan jokowi dengan kesederhanaan dan kepiawaiannya memimpin solo.
            Lyotard dalam “The postmodern condition” menyatakan : “Teknologi, dengan demikian adalah permainan yang tidak berkaitan dengan yang benar, yang adil atau yang indah dan sebagainya, melainkan berkaitan dengan efisiensi : suatu”gerak” teknis dianggap ”baik” jika ia melakukannya dengan lebih baik dan atau menghabiskan energi yang lebih kecil daripada”gerak” lain. Artinya ketika dikaitkan dengan kondisi yang ada pada jokowi, jokowi memang hanya menonjolkan persoalan irit dan juga bagaimana cash kampanye tidak boros, meski ia juga berharap pada banyaknya dukungan. Akan tetapi, realitas teknologi kerap tampil dengan aroma menarik, indah, tapi juga sering menipu.
Facebook
            Facebook barangkali tidak bisa kita anggap sepele. Gerakan masyarakat era kini, juga lebih mengandalkan jejaring sosial alias fb untuk mendukung efektifitas gerakannya. Gerakan di tunisia dan di mesir beberapa waktu lalu juga mengunggulkan gerakan jejaring sosial untuk memobilisir massa. Selain karena memudahkan orang berkomunikasi dengan mudah, fb juga digunakan sebagai alat mobilisasi massa untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan. Kabar terbaru mengenai gerakan fb ini bisa dilihat misalnya pada  ”gerakan hakim menuntut kenaikan gaji”, gerakan ”sejuta umat menurunkan rezim neolib SBY-budiono” dan juga gerakan ”Cicak versus buaya” yang pernah membuktikan keampuhannya melindungi KPK dari serangan dan intervensi pemerintah. Hanya saja, kampanye jokowi melalui fb tidak bisa kita pastikan untuk menjamin kemenangan jokowi tanpa dukungan metode lain yang perlu diunggulkan di dalam memenangkan pilgub DKI.
Identitas kota
            Persoalan yang menonjol mengenai kota di abad 21 salah satunya adalah masalah urbanisasi. Sebagaimana paparan Daniel A.Bell dan Avner de-Shalit yang memprediksi menjelang 2025 di china akan dibangun 15 ”mega-kota”. Yang masing-masing dihuni 25 juta orang. Ketika melihat jakarta, kita tidak bisa memprediksi lima tahun lagi tingkat urbanisasi ke jakarta. Jakarta tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat desa, meski berbagai gambaran sudah biasa kita dengar tentang jakarta. Jakarta kerap identik dengan kota kejam, penuh tipu-tipu, penuh kekerasan, tidak nyaman, dan juga kerap banjir. Meski demikian jakarta tetap menjadi kota paling banyak dijadikan tujuan urbanisasi sampai lima tahun ke depan.
            Douglas Wilson pun menulis dalam buku terbaru terbitan gramedia yang berjudul 5 kota paling berpengaruh di dunia. Ia menggambarkan identitas kelima kota ini : ”  Yerussalem mengajarkan tentang kebebasan spiritual, Athena mengajarkan intelektual dengan spirit pembebasan, roma mengajarkan kebebasan dan keadilan dalam hukum, London dengan seni dan kesusateraannya, dan newyork menunjukkan arti kebebasan pasar maupun komersialnya”.
            Pertanyaannya bisakah jokowi membangun identitas kota Jakarta sebagaimana kota-kota lain seperti di solo dengan identitas kota budayanya, bandung dengan kota sepatunya, atau kota aceh dengan karakteristik islaminya?. Atau dengan cara lain sebagaimana contoh yang diberikan afrizal malna yakni membangun jembatan atau bangunan yang dijadikan ciri khas kota dan membawa perubahan besar terhadap nuansa kota yang militeristik, berbau bisnis, menjadi kota yang bernuansa dan berimaji seni dan indah seperti jembatan Samuel Beckett Bridge.
            Setidaknya inilah tantangan bagi jokowi pada khususnya, dan kepada semua calon gubernur DKI pada umumnya. Tanpa itu, Jakarta tetaplah menyimpan identitas yang selama ini kental dalam pikiran masyarakat kita yakni kota berpolutan tinggi sedunia, kota dengan tingat kriminalitas tinggi, juga kota yang kejam dan tak nyaman. Indah dan gemerlap dengan gedung-gedung tinggi, tapi penuh dan sesak dengan tipu-menipu, sesak dengan kongalikong dan korupsi.


*)Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, bergiat di Bilik literasi Solo



Bahasa Topeng Anas  

Oleh arif saifudin yudistira*)
           
Pada hari Jumat (9/3) pernyataan mengejutkan datang dari ketua partai democrat anas urbaningrum. Anas menyatakan berani digantung jika ia terbukti melakukan korupsi dalam kasus wisma atlet dan kasus hambalang. Sentak public mencoba diyakinkan oleh pernyataan anas tadi. Berbagai tanggapan pun datang, tak hanya mendukung, tapi mencurigai anas. Politik anas dinilai mengikuti politik alay alias anak lebay. KPK pun menanggapi anas dengan cuek saja, penyidikan harus tetap dilanjutkan tegas johan budi. Gaya politik anas jelas sejalur dengan SBY yang tak lain adalah Dewan Pembina partai democrat. Anas menggunakan gaya komunikasi politiknya untuk berkomunikasi terhadap public mengingat desas-desus yang terdengar kian kencang dan selama ini anas menanggapi semua ini dengan diam. Ben Anderson(1966) menyebut ini sebagai “bahasa topeng”. Topeng ini akan terbuka dikala tabir sudah terbuka semua. Jika belum terbuka, maka semua orang akan berhak beropini dan berdesas-desus. Indikasi yang mengarah kepada anas sudah sejak semula bisa dibaca ketika nazarudin tersangka kasus korupsi wisma atlet membeberkan ada dana yang mengalir ke anas. Anas juga dituding nazar memenangkan menjadi ketua umum partai democrat melalui menyuap beberapa kader partai democrat. Kesaksian semakin membuat anas terpojok, hingga ia meluapkan perkataan yang mengejutkan.

Komunikasi politik

Menurut Berelson dan Stainer(1964) komunikasi adalah proses penyampaian informasi,gagasan,emosi, keahlian melalui penggunaan symbol-symbol seperti kata-kata, gambar-gambar,angka-angka dan lain-lain. Lebih lanjut kurniawan(2003) mengatakan : “bahasa membentuk ikatan social melalui proses interaksi dan proses saling mempengaruhi penggunanya”. Maka dilihat dari efek psiko-sosial, kalimat anas tak sekadar memiliki motif subjektif semata, ia tidak bisa dilepaskan dari public yang lagi ramai membincangkannya. Ia pun tak bisa dilepaskan dari jabatan yang menempel di dirinya. Yakni sebagai ketua umum partai democrat. Gaya politik anas sangat kentara dan mirip dengan gaya politik SBY yang dikenal dengan politik pencitraan. Ia akan merasa meminta dikasihani public dan meminta empati, hingga simpati yang tinggi untuk mempertahankan citra dan posisinya. Maka tak heran, ditengah gencarnya isu BBM yang akan naik april 2012, SBY kembali bersuara melalui kubu politiknya dengan isu ada ancaman pemakzulan.
Sedangkan anas, ia menghadapi posisi yang tak jauh beda, ia terpojok, dan sulit berkilah untuk membuktikan dirinya tidak terlibat sebagai penerima dana korupsi wisma atlet dan hambalang. Maka strategi terakhir yang digunakan anas adalah mengeluarkan statement subjektif sembari berusaha menampik semua kemungkinan yang dituduhkan kepadanya. Maka dengan pernyataan “saya siap di gantung di monas jika korupsi satu rupiah pun pada kasus wisma atlet dan hambalang”, sentak public terhentak, dan bertanya-tanya. Ada yang beropini : “mungkin anas benar-benar tidak terlibat”, tapi banyak yang menilai ini pernyataan “alay”.

Sikap negara

            Tidak mungkin pernyataan anas tadi akan disikapi oleh lembaga hukum di negeri ini ketika anas benar-benar terbukti, sebab negara kita adalah negara hukum. Tak ada aturan yang mengatur soal hukuman gantung diri. Akan tetapi, kita menyikapi ini sebagai gaya politik topeng sebagaimana yang dikatakan Anderson. Ini tak lain untuk menutupi atau sekilas membantah semua tuduhan dan suara public melalui media ataupun melalui nazarudin sendiri. Sedangkan sikap negara sendiri seperti tak ada jelasnya. SBY selaku panglima tertinggi pemberantasan korupsi hanya berstatement tak akan melindungi koruptor, sementara langkah-langkah untuk menyelesaikan kasus hukum ini seperti diulur-ulur.
            Ketika melihat sikap negara, negara pun ingin melakukan komunikasi politiknya melalui SBY selaku presiden maupun selaku Dewan Pembina partai democrat. Giels dan Wieman menegaskan “ Bahasa mampu menentukan konteks, bukan sebaliknya teks menyesuaikan diri dengan konteks”. Pada konteks anas, SBY pun terpaksa harus turun tangan demi membersihkan citra politiknya. Dalam bahasa effendi Ghazali komunikasi politik seperti ini jelas tak bersih dan kelihatan vulgar dalam sistem politik. Maka melihat kasus anas, ia menunjukkan bahwasannya seluruh jajaran bawah partai democrat dianggap tidak mampu untuk membantah tuduhan dan suara public yang mengarah pada partai democrat dan dirinya. Sehingga anas perlu turun langsung untuk menampik dan melontarkan pernyataan langsung sebagai respon terhadap tuduhan pada dirinya sekaligus sebagai upaya pembersihan nama democrat yang terlanjur buruk dimata rakyat.

Sikap public

            Menyikapi hal ini, masyarakat kita perlu memahami betul bahwa ada relasi antara partai democrat, kebijakan negara, hingga urusan partai politik. Dengan demikian, masyarakat tak ikut arus dalam pemberitaan di media, meski sebenarnya rakyat sudah jengah melihat drama para politikus kita. Masih banyak kasus yang tak jelas ujungnya, century, rekening gendut polri dan juga kasus-kasus lainnya. Jika SBY dan segenap politisi partai democrat masih mengumbar “bahasa topeng”nya, maka rakyat akan semakin tak percaya. Dan jelas, partai democrat akan habis nasibnya. Sebab tak ada lagi jurus untuk menampik selain kompromi politik sebagaimana kasus-kasus sebelumnya yang tak jelas ujungnya.  


*) Penulis adalah Penggiat di Bilik Literasi solo, Mengelola Kawah Institute Indonesia       



“Kegagapan Membaca Realitas pendidikan kita”


Tanggapan untuk al-iklas kurnia salam
Oleh Arif saifudin yudistira


Marxis tidak mampu untuk membaca perkembangan kelas social yang ada di masyarakat indonesia saat ini(Olle Tornquist).



            Ada persoalan besar yang ada di dalam dunia pendidikan kita. Kesalahan tersebut sudah seperti benang ruwet, yang sangat sulit untuk kita urai satu-persatu. Akan tetapi jika menilik tulisan Al-iklas kurnia salam pada selasa(17/4/12) yang bertajuk kesalahan terbesar pendidikan kita, kita justru akan menemukan keruwetan di dalam tulisan tersebut. Di awal tulisan, ia mengungkapkan persoalan penting yang menyangkut konsep pendidikan ala tan malaka. Pendidikan yang berdasarkan didikan kerakyatan akan berjiwa kerakyatan pendidikan berdasar kemodalan maka nalar capital yang terbentuk. Hal yang diungkap di bagian berikutnya adalah persoalan pendidikan kita yang bergaya banking, yang berkonsep Paulo freire tak sesuai dengan pendidikan kita. Pendidikan yang seperti ini dianggap sebagai kesalahan terbesar dalam pendidikan kita. Di akhir uraian, ia mengungkapkan pendidikan mestinya berdasarkan pada konsepsi Ki hajar dewantara yang mendasarkan pendidikan pada tiga hal penting kemandirian, berakhlak, dan juga anti penjajahan. Dan dipungkasan esainya ia melihat ada kemungkinan pelabelan sekolah kerakyatan,SD rakyat, SMA kerakyatan, dan lain sebagainya.
            Bila membaca dan memahami tulisan iklas, kita melihat ada kegusaran, dan kegalauan terhadap realitas pendidikan saat ini, hanya saja kita bisa melihat kegagapan pula dari seorang korban pendidikan. Persoalan kegagapan itu bisa dibaca ketika ia mencoba menerapkan teori “banking of education” ala Paulo freire yang tak mampu menganalisa relitas pendidikan kita. Persoalan freire ini diungkap ketika produktifitas tak menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi. Padahal realitas pendidikan kita justru sebaliknya bertumpu pada konsumsi yang terus menerus, hingga ia tak pernah menciptakan produktifitas dan bertumpu pada nalar konsumsi. Pendidikan kita kini tak hanya menunjukkan kesemrawutan, tapi justru sebaliknya menuju pada pendidikan yang semakin mapan.  
            Kemapanan itu terlihat pada realitas kesadaran masyarakat kita untuk mendidik anak-anaknya untuk masuk dalam jenjang pendidikan yang bermutu mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Kesadaran itu muncul dalam memasukkan anak mereka pada pendidikan dan sekolah yang berkualitas. Inisiatif masyarakat itu muncul dalam bentuk PAUD islami, SDIT atau SD program khusus, hingga Universitas berbasis international. Pada titik ini kita membaca realitas masyarakat yang berusaha menciptakan pendidikan yang mandiri dan juga berkualitas semakin ditunjukkan. Realitas ini jelas berseberangan dengan persoalan pendidikan yang diangkat iklas mengenai pendidikan yang dikhawatirkan iklas tentang didikan kemodalan dan nalar kapital. Nalar capital dan kesenjangan ada pada persoalan pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan, bukan pada persoalan model pendidikan yang mandiri dan berkualitas.

Alam dan nalar lama

            Model pendidikan gaya tan malaka dan ki hajar dewantara tentu bisa dijadikan catatan sejarah pendidikan kita dalam menapaki perkembangan pendidikan. Nalar dan alam yang dipakai tan malaka dan ki hajar adalah alam lama yang tentu tak terlepas pada kondisi di jamannya pada waktu itu. Ketika nalar itu dibawa pada realitas pendidikan saat ini, maka akan ada benturan-benturan yang tak bisa dipaksakan dengan alam modernitas saat ini. Yang jadi persoalan saat ini justru ada pada persoalan  I’tikad dan niatan pemerintah dalam mengurusi pendidikan kita. UU SISDIKNAS no.23 tahun 2003 yang ada malah mereduksi tanggungjawab pemerintah. Alhasil, peran negara jadi sekadar administrative belaka dalam dunia pendidikan kita.   
            Persoalan berikutnya adalah pada jiwa pendidik yang ada pada guru-guru kita. persoalan fasilitas dan kesejahteraan yang sudah ada tanpa dilandasi etos sebagai guru yang mendidik mentalitas bangsa sebagaimana yang pernah dikatakan sukarno : “Guru ia memikul pertanggungjawaban yang maha berat terhadap negeri dan bangsanya”. Menciptakan guru-guru dan juga pendidik yang berjiwa bangsa inilah yang belum maksimal diusahakan oleh pemerintah. Yang jadi soal bukan pada kesenjangan yang ada dalam masyarakat kita dalam mencapai akses pendidikan, tapi pada persoalan negara yang sudah semestinya mensejahterakan masyarakat kita. Sehingga antusias dan perhatian masyarakat dalam menciptakan pendidikan yang mandiri dan berkualitas harus didukung dan dikembangkan,sehingga kesenjangan yang ada dalam pendidikan itu bisa ditiadakan.

Abstrak
            Di akhir essainya Iklas mengimpikan pendidikan bergaya kerakyatan dengan munculnya SD kerakyatan, SMP kerakyatan, dan SMA kerakyatan, dll. Bila melihat hal ini, ada semacam konsep pendidikan yang abstrak yang belum mampu diterjemahkan oleh masyarakat kita. Konsep pendidikan kerakyatan ala tan malaka adalah respon alam negeri ini ketika terjajah, yang membutuhkan semangat anti kolonialistik, membutuhkan alat untuk hidup dan keterampilan hidup, dan semangat internasionalisme. Bentuk-bentuk konsepsi semacam ini adalah konsepsi yang begitu praktis yang ini dicontohkan dalam bentuk sekolah tak terlembagakan. Bayangan iklas dalam bentuk lembaga adalah kesalahan membaca pendidikan ala tan malaka.
            Kegagapan ini berujung pada tak adanya solusi yang pasti dan terarah terhadap realitas pendidikan yang ada. Tulisan iklas adalah cermin dari kegagapan dan pembacaan sebagai masyarakat korban,yang tak mampu membaca dan menafsirkan realitas pendidikan yang ada saat ini. Marxis tak mampu membaca perkembangan kelas social di negeri ini harus diakui, sedang peran pemerintah dalam mensejahterakan dan meningkatkan kualitas pendidikan rakyatnya itu yang mesti ditekankan pada pemerintah kita.


*)Penulis adalah mahasiswa UMS,ikut menulis dalam “AKU & BUKU”2012