Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Juli 05, 2011

Mari, Mendeteksi Kebohongan (Crap detecting)

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Kebohongan adalah kata yang ternyata tidak ramai dalam dunia perpolitikan di negeri ini, tapi mulai merambah dalam dunia pendidikan. Ternyata moralitas yang selama ini didengung-dengungkan oleh kemendiknas kita, yang masuk melalui pendidikan karakter belum mampu diaplikasikan penuh dalam dunia yang menyuarakannya yakni dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan kita kembali tercoreng dengan dibukanya kejujuran atas kedok yang hampir tiap tahun muncul dalam kasus UN. Kali ini ada ibu siami yang menyuarakan kejujurannya yang justru berakibat dikucilkan dan dicerca oleh warga masyarakatnya.
Ibu siami dihujat dan diusir warganya lantaran melaporkan kasus mencontek massal saat ujian nasional mei silam. Anaknya alif adalah anak yang pintar tapi diperintahkan gurunya untuk mencontek massal. Alif pun berontak dan tak mau melakukan yang tak sesuai dengan nuraninya,hingga ia melapor pada ibunya. Alhasil, ibunya dan anaknya justru menimpa hasil dari kejujurannya dengan dikucilkan masyarakatnya. Kejujuran menjadi nilai yang diabaikan sebab Negara abai terhadap persoalan ini. Meski sudah dibuktikan oleh pengakuan anaknya, tapi pemerintah tetap saja membantah kalo ada mencontek massal, Mendiknas pun menolak diadakan UN(SM,15/6/11). Pemerintah justru menyalahkan pihak guru. Persoalan kejujuran menjadi masalah yang diabaikan pemerintah karena nasib pelapor contek massal justru masih belum memperoleh ketenangan.
Dunia pendidikan kita menjadi cermin yang bisa dilihat secara gamblang bahwa pendidikan kita ternyata masih belum bisa menanamkan fondasi moralitas utamanya kejujuran dalam sekolahan. Yang menjadi apparatus ideologis menurut pierre bordieu justru gurunya sendiri yang dituntut mengatasnamakan “demi kebaikan bersama”. Tuntutan ini pun tidak lahir secara tiba-tiba melainkan iklim masyarakat yang mendukung dan mendorong pola semacam ini. Nilai UN dijadikan standar, atau jumlah kelulusan yang dijadikan tolak ukur kualitas sekolahan. Akhirnya, sekolah yang jumlah muridnya tidak lulus hampir separuh, dinilai sekolah dengan standar buruk. Meskipun disana ada banyak siswa berbakat sepak bola, catur, tari, dan lain-lain.
Akhirnya, sekolah pun beramai-ramai mengejar kelulusan 100 % kalau perlu nilai UN nya bagus semua. Meskipun dengan menghalalkan segala cara. Yang terjadi guru, murid, pengawas, dan semua yang ada di institusi sekolah bergotong-royong ria untuk melakukan ketidak jujuran atau kebohongan. Alhasil, seperti kasus di Surabaya, baru duduk di SD sudah mencontek massal. Kejujuran pun diabaikan untuk mengejar statistic dan pamor sekolahan.
Norbert Wiener menegaskan bahwa sekolah-sekolah saat ini harus berfungsi sebagai “system umpan balik anti-entropik”.Entropi adalah kata yang dipakai untuk menunjukkan kecenderungan umum dan kecenderungan yang tak diragukan lagi dari semua system baik system alam maupun buatan manusia. Proses ini dimaksudkan untuk mengurangi kekacauan dan kesia-siaan. Entropi ini adalah sebuah proses yang tidak bisa diperlambat dan sebagian bisa dikontrol.
Lebih lanjut Norbert Wiener mengatakan : Syarat-syarat sekolah yang bisa disebut sebagai system umpan balik anti-entropik ialah pertama, masyarakat terdidik. Artinya masyarakat tersebut tentu adalah masyarakat berpendidikan dan mengunggulkan logika intelektual. Kedua, menurut john gardner masyarakat yang selalu memperbaharui. Ia atau masyarakat ini adalah seseorang yang memandang aktivitas-aktivitas kelompoknya sendiri sebagai seorang antropolog,mengamati ritual-ritual sukunya, ketakutan-ketakutannya, dengan cara ini seseorang atau masyarakat bisa tahu ketika realitas mulai bergeser terlalu jauh dari pemahaman kelompoknya, sukunya.
Dari syarat-syarat diatas, sekolah kita belum memenuhi syarat diatas, sehingga ketika ada masyarakat pelapor, reaksi masyarakat justru sebaliknya justru melawan dengan kaget dan mengejutkan. Siami adalah crap detector atau pendeteksi kebohongan, akan tetapi tidak bisa di terima oleh logika masyarakatnya sendiri. Ia bisa membaca masyarakat saat ini sudah harus berubah,akan tetapi masyarakat sendiri cenderung lamban menyikapi perubahan. Maklum, sebab di negeri ini kejujuran, moralitas berhenti dalam kurikulum pendidikan berkarakter, tapi tidak ditegakkan benar-benar dalam kehidupan kita sehari-hari. Siami menunjukkan itu, sehingga masyarakat menjadi terbuka dan membuka mata mereka terhadap realitas di masyarakat yang ternyata belum menerapkan dan menegakkan kejujuran.

Terlambat mendeteksi kebohongan


Jangan jadikan Negara sebagai panutan dalam mendeteksi kebohongan, karena Negara sendiri justru yang dicap sebagai pembohong paling ulung. Lihat saja komentar salah satu menteri kita yang mengatakan pernagkat korupsi kita tertinggi tidak usah dihiraukan yang dilansir oleh media online menunjukkan Negara ini tidak hanya terlambat mendeteksi kebohongan tetapi malu mengungkapkan kenyataan negeri ini, dan lebih parah lagi abai.
Begitupun pemerintah yang dinilai sebagai rezim pembohong dengan data-data statistiknya yang semu, justru menuduh gerakan tokoh lintas agama sebagai gerakan politik dan tidak murni(ditunggangi) seperti yang diungkapkan oleh sekretaris Dipo alam. Malah dikatakan seperti gagak hitam. Akhirnya masyarakat kita menjadi masyarakat yang tidak hanya cepat melupakan masalah, tapi masyarakat yang mengikuti pola pemerintah yang mengunggulkan citra semu. Akhirnya dari atas sampai bawah, dari sector ekonomi, politik, social, budaya pun meniru budaya yang mengunggulkan citra semu.
Oleh karena itu, langkah siami dan anaknya yang jitu dan membuka mata kita mendeteksi kebohongan harus diapresiasi dan mendapatkan perlindungan yang layak. Ketika langkah siami dan anaknya dicaci, dihujat dan tidak mendapatkan perlindungan yang layak, maka ini menunjukkan bahwa Negara ini tidak hanya cleptokrasi karena korupsi, tapi juga cleptokrasi karena hilangnya nilai-nilai kejujuran. Ketika kejujuran dilingkungan pendidikan sebagai dasar fondasi para penerus bangsa ke depan diabaikan, kemana lagi kita akan berharap akan kejujuran di negeri ini?.

*) Penulis adalah presidium kawah institute Indonesia, aktif di IMM Surakarta, mahasiswa UMS.