Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Senin, April 26, 2010

Negeri Krisis

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Negeri ini sepertinya sudah tidak berdaya menghadapi krisis yang ada di berbagai lini kehidupan. Krisis ekonomi, budaya, politik, sosial, hingga krisis mentalitas. Negara sepertinya hanya jadi penjaga malam saja, ketika keadaan benar-benar parah barulah negara turun tangan. Image yang timbul pun di masyarakat “ada presiden atau tidak ada presiden sama saja, tidak banyak yang berubah” begitulah keluh seorang pedagang kaki lima. Adanya pemerintahan sepertinya tidak berimbas banyak pada nasib mereka-mereka ini, yang terjadi justru malah keadaan yang semakin miskin. Lihat saja betapa masyarakat miskin semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, sementara penghasilan mereka belum juga beranjak dari penghasilan biasanya.
Dibidang ekonomi kita masih saja belum bisa terlepas dari jeritan hutang. Hutang menjadi kewajiban di setiap pemerintahan kita. Hutang menjadi penolong sekaligus virus yang mematikan bagi independensi kebijakan perekonomian kita. Gali lobang tutup lobang pun menjadi semboyan bagi para ekonom dan pemerintah kita. Ekonomi makro di perhitungkan sedemikian rupa, investasi dijadikan andalan. Akan tetapi ekonomi rakyat, dikesampingkan. Padahal sejatinya ekonomi kerakyatan itulah yang menopang kesemua korporat-korporat besar itu. Menyitir pidato sukarno dalam “indonesia nenggugat” Ia mengatakan : “........kini sudah melar jadi raksasa imperialisme modern yang empat macam “saktinya”: Pertama,Indonesia tetap hanya menjadi negeri pengambil bekal hidup. Kedua, Indonesia menjadi negeri pengambilan bekal untuk pabrik-pabrik di Eropa. Ketiga, Indonesia menjadi negeri pasar penjualan barang-barang hasil dari macam-macam industri asing. Keempat, Indonesia menjadi lapang usaha bagi modal yang ratusan, ribuan-ribuan jumlahnya. Bukan hanya milik Belanda, tetapi juga modal Inggris, modal Amerika, juga modal Jepang, dan lain-lain. Sehingga imperialisme di Indonesia kini jadi internasional karenanya. Terutama “sakti” yang keempat inilah, yang membikin Indonesia menjadi daerah eksploitasi dari kapital asing, menjadi lapang usaha bagi modal-modal kelebihan dari negeri-negeri asing, adalah yang paling hebat dan makin lama, makin bertambah hebatnya.
Pernyataan sukarno tadi sepertinya terjadi di negeri ini sekarang. Kedaulatan itulah yang kini semakin hilang di negeri ini. Pertambangan kita terjerat dengan undang-undang yang kita buat sendiri UU PMA, UU MINERBA< UU MIGAS, dan lain-lain. Sepertinya kita sudah tidak yakin dengan kemampuan kita sendiri dalam mengelola sumber daya alam karena mentalitas pemimpin kita yang lemah.
Krisis juga melanda di dunia politik kita. 5 tahun terakhir politik negeri ini diwarnai dengan politik citra yang tidak hanya membuat rakyat kita terkesima dengan koitmen semu, tapi juga menggiring rakyat kita pada kepentingan pragmatis semata. Politik kita telah berubah dari kepentingan rakyat menjadi kepentingan dan kepuasan pribadi semata. Politik dijadikan kendaraan super ekspress untuk mendapatkan roti bahkan menghilangkan etik politik.
Partai politik hanya sekedar mencari pamor, kepuasan rakyat hanya diukur dari kepuasan hasil survey semata, tanpa kemudian melihat kondisi rakyat yang sebenarnya. Politik yang idealnya memperjuangkan kebenaran dan kemanusiaan berubah menjadi politik yang memperjuangkan citra dan kepuasan persepsi semata.
Rakyat sebenarnya sudah sedemikian capek, sehingga cenderung pragmatis. Tanggung jawab partai politik dalam melakukan pendidikan politik menjadi sedemikian penting sebab dengan mencerdaskan rakyat dan mendidik rakyat menjadi kader militan untuk kepentingan bangsa dan negara urgen diperlukan.Sehingga rakyat bukan hanya sebuah objek yang dimanfaatkan ketika mau pemilu saja. Ini yang biasanya terjadi.
Krisis melanda mentalitas kita. Korupsi menjadi sesuatu yang dilindungi dan dibenarkan dan diabsahkan dalam logika kemasyarakatan kita. Para koruptor yang ada saat ini belum juga mengalami efek jera dalam melakukan tindakan ini. Ketidakbecusan lembaga hukum kita begitu nampak, padahal semakin banyak lembaga yang mengurusi kearah sana. Kepolisian, KPK, satgas mafia hukum dan lain-lain. Akan tetapi bertambahnya jumlah lembaga penegak hukum belum mengurangi jumlah koruptor, tapi cenderung semakin bertambah banyak. Sebut saja yang baru-baru ini mencuat. Bagaimana rakyat akan percaya membayar pajak, kalau-kalau pajak yang dibayarkan malah dikorupsi.
Mentalitas kita sepertinya sudah akut dan kronis. Penyakit mentalitas kita yang idealnya bisa disembuhkan dengan pendidikan kita. Akan tetapi pendidikan kita saat ini cenderung materialistik pula. Kecerdasan yang ada saat ini hanya cenderung menuju pada kecerdasan artifisial semata sebagaimana yang dikatakan lyotard.

Pendidikan sebagai solusi

Pendidikanlah yang akan mengantarkan kita keluar dari krisis multidimensional ini. Pemerintah harus bertenggungjawab pada penyelenggaraan dan kualitas pendidikan kita. Pasca dibatalkannya UU BHP oleh mahkamah konstitusi problem pendidikan kita masih saja ada. Salah satu problem tersebut adalah masalah kepedulian pemerintah dalam mengurusi, dan meruwat pendidikan di negeri ini.
Pendidikanlah yang menjadikan mentalitas-mentalitas para calon pemimpin negeri ini berubah dan mampu merubah keadaan ini. Anak-anak kita harus tahu problem di negeri ini. Bukan semakin dijauhkan dari realitas yang akut ini. Yang terjadi selama ini pendidikan kita justru mengalienasi kita dari realitasnya. Kepentingan cepet dapat kerja, cepet hidup mapan seolah menjadi jualan universitas-universitas kita. Maka yang terjadi akhlak, etik, moralitas luput dari garapan pendidikan kita.
Dengan mendekatkan pendidikan dengan realitas inilah anak-anak kita akan tahu negeri ini perlu dibangun dengan optimisme dan kerja keras, perlu dibangun dengan mentalitas baja dan dengan nurani. Sehingga kita masih tetap optimis hidup di negeri krisis. Begitu.









Penulis adalah presidium kawah institute indonesia, tinggal di surakarta

Rabu, April 14, 2010

Cita_Cita

Oleh Arif Saifudin Yudistira*)1

“Manusia tanpa harapan, ia mayat berjalan”
[YB mangun wijaya,]
“Cita-cita itu ialah memperindah martabat manusia,
memuliakannya, mendekatkan kepada kesempurnaan”[RA.Kartini]


Betapa dalam dan bermaknanya cita-cita, ia ibarat sebuah ruh yang akan menghidupkan bara semangat dalam diri ini. Ia yang menggerakkan jiwa kita untuk terus optimis menjalani kehidupan ini, ia sinar disaat kita dalam gelap, ia adalah penghibur disaat kita kehilangan asa. Yah, cita-cita adalah segalanya bagi orang yang masih memiliki daya atau harapan untuk hidup.
Pernyataan YB mangun wijaya diatas tidaklah berlebihan, apalah arti hidup dan kehidupan ini tanpa adanya sebuah cita-cita atau harapan. Bahkan agama pun memotivasi umatnya dengan harapan-harapan. Harapan akan kebahagiaan akan kehidupan selanjutnya, harapan akan kehidupan yang kekal, dan sebagainya. Manusia tanpa cita-cita iamayat berjalan.
Tanpa cita-cita manusia tidak layak disebut manusia. Hidupnya berantakan, hidupnya penuh dengan ketidakjelasan, hidupnya dipenuhi dengan kekurangan dan ketidakpuasan. Bayangkan saja betapa tidak menentunya dan betapa tidak enaknya hidup tanpa tahu kemana kita melangkah, kemana hidup ini harus digerakkan, kemana kehidupan ini akan bermuara?.
Saya cukup terkesima dan takjub sekaligus tertegun ketika membaca roman pacar merah indonesia yang menceritakan sosok alimin yang meniggalkan cintanya demi sebuah cita-cita. Ia mengatakan kepada kekasihnya :
“Kekasihku, cintaku padamu bukan main besarnya, akan tetapi cintaku pada tanah airku lebih besar lagi….lebih mempengaruhi diriku. Janganlah bujuk dan rayu aku supaya mengabaikan kewajibanku terhadap tanah airku…..karena dengan berbuat demikian sia-sialah kelak hidupku diatas dunia ini tidak hanya oleh kawan ataupun lawan”[Ivan Alminsky].
Betapa dahsyatnya cita-cita mampu mengalahkan cinta seorang perempuan. Sungguh cita-cita begitu mempunyai daya pengaruh yang kuat untuk mendorong manusia melakukan sesuatu dalam hidupnya. Alimin menunjukkannya, begitupun tan malaka. rela meningalkan semuanya, demi satu cita-cita kemerdekaan indonesia 100 %.
Sosok berikutnya yang menunjukkan betapa kerasnya dan betapa kuat cita-cita mendorongnya mengarungi penjara kehidupannya menjalani hidup dalam kungkungan adat, demi terang dan demi kemajuan dan kejayaan bangsa dan nasib rakyatnya. Kartini menunjukkannya.
Ia pernah menuliskan dalam suratnya kepada nyonya abendanon : ”Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar,penuh duri, onak, lubang;jalan itu berbatu-batu, berjendal-jendul, licin.....belumdirintis!walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu,walaupun saya sudah akan patah ditengah jalan;saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka dan saya turut membantu meretas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan bumi putera”[Kartini].
Betapa gigih dan kuat seorang kartini lantang bersuara, melalui tulisannya. Sebab ia yakin melalui tulisanlah ia akan berjuang, karena tidak memungkinkan ia melakukan perjuangan lebih dari itu karena keadaan sosio-kultur masyarakat pada waktu itu. Kartini menunjukkan cintanya, menunjukkan kepeduliannya kepada nasib perempuan bumi putera demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Di dalam surat lain ia mengatakan : ” Perempuan sebagai pendukung peradaban!Bukannya karena perempuan yang dipandang cocok untuk tugas itu,tetapi karena saya sendiri juga yakin benar-benar bahwa dari perempuan dapat dipancarkan pengaruh besar, yang berakibat sangat jauh,baik yang bermanfaat maupun yang merugikan. Perempuanlah yang paling banyak dapat membantu manusia menerima pendidikannya yang pertama-tama, di pangkuan anak belajar merasa, berfikir, berbicara, dan makin lama makin mengerti saya, bahwa pendidikan yang paling awal itu tidak tanpa arti bagi seluruh kehidupan. Dan bagaimana ibu-ibu bumi putera dapat mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri tidak terdidik?”
Kartini melawan, melawan dengan segala keterbatasannya, ia ingin bahwa seluruh dunia tahu, seluruh dunia mendengar, bahwa perempuan juga berhak akan pendidikan, untuk tujuan kemanusiaan dan untuk tujuan bangsa dan peradaban negerinya. Indonesia.
Darimana kartini memperoleh dorongan yang sekuat itu, darimana kartini memperoleh keberanian semacam itu, dari sebuah perenungan dan dari sebuah cita-citanya. Ia mengatakan : ”Cita-cita kami menjadi satu dengan kehidupan kami,Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita,”.
Yah, dengan cita-citalah bangsa dan negara ini ada, dan dengan cita-citalah revolusi akan dapat kita selesaikan, dan dengan cita-cita pulalah kemerdekaan 100 % dapat diwujudkan, maka jangan takut menyuarakan cita-cita kita semua. Sebab ketakutan hanya akan membuat kita terkungkung dalam kegelapan. Demikian.

Penulis adalah presidium kawah institute indonesia, dimuat di koran pabelan UMS