Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Sabtu, Agustus 29, 2009

***PasaR RamadHan***



Oleh Arif Saifudin yudistira*)

Ramadhan memang dikenal sebagai bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan. Puasa merupakan ritual yang beriringan dengannya. Semua umat islam gembira menyambut bulan ini. Suasana masjid pun seperti disulap dengan penuhnya jamaah yang hadir disana.
Beragam produk pun juga menyambut bulan ini. Mulai dari produk makanan, minuman kesehatan, kemudian obat-obatan seperti tak mau kalah mengucapkan ” selamat menjalankan ibadah puasa”. Begitupun mall-mall juga menyambut dengan diskon habis-habisan.
Tak hanya itu, stasiun televisi beserta sponsorsipnya dadakan menggelar acara dan kuis besar-besaran untuk memeriahkan bulan ramadhan ini. Ramadhan pun tampak begitu meriah dan terasa “wow”. Kita pun ikut asyik dalam ramainya “pasar ramadhan” ini.
fenomena ini memang sering dan bahkan menjadi rutinitas dalam menyambut bulan ramadhan. Sepintas tidak ada yang salah dengan semua ini.kan tetapi, bulan sakral ini alangkah lebih bijaknya jika disambut bukan hanya dengan kemeriahan semu, tetapi juga dengan kebesaran hati kita masing-masing untuk senantiasa mendidik hati kita untuk menjadi manusia yang taqwa.
Bukan hanya hanyut dalam pola konsumtif yang tinggi, tetapi juga pola ibadah dan ritual yang meningkat sehingga pasca ramadhan kita bisa menjaga kualitas ibadah kita.

Kecerdikan para pemodal memang begitu luar biasa menawarkan beragam produknya dibungkus dan dibalut dengan diskon besar-besaran serta nuansa islami. Akan tetapi tidak harus kita ikut hanyut dalam pola konsumtif yang tinggi tadi. Puasa mengajarkan kita akan pentingnya menahan nafsu kita bukan mengumbar nafsu kita.
Kondisi ini saya beri nama “pasar ramadhan” karena memang hanya ada di dalam bulan ramadhan. Penawaran yang begitu besar, juga diiringi dengan permintaan yang begitu besar pula. bahkan permintaan tak sebanding dengan penawaran. Sehingga tidak heran, pola konsumtif di bulan ini melebihi bulan-bulan biasanya meskipun di bulan puasa.
Pasar merupakan kata atau tempat yang dalam islam dibenci Tuhan. Tentu akan menjadi sangat tidak pas ketika kata ”pasar” ini disandingkan dengan kata ramadhan yang dicintai Tuhan.
Sudah selayaknya ramadhan tidak dikotori dengan budaya boros. Sebab budaya boros itu merupakan kebiasaan yang ada di pasar, dan tentu kita harus bersama-sama menjaga nafsu kita agar senantiasa puasa kita makin berisi, meskipun tawaran iklan yang begitu menggoda dengan berbagai balutannya menghujam di media kita setiap harinya.
Obral pahala, serta obral rejeki, obral lain yang diberikan Tuhan hendaknya lebih kita dahulukan, daripada mengejar obral dan diskon khusus ramadhan yang berakibat pada pola konsumtif yang tinggi sehingga tidak sesuai dengan spirit puasa dan spirit ramadhan ini.

Penulis adalah Mahasiswa UMS,

Jumat, Agustus 21, 2009

SIPA buktikan Solo Sebagai Kota Budaya
Oleh Arif Saifudin yudistira*)
Sepertinya tekad solo untuk mewujudkan Solo sebagai kota budaya tidak hanya cukup sebagai slogan dan ucapan. When the world need harmony, art is answer. Yah ketika dunia membutuhkan harmony seni adalah jawabannya. Melalui SIPA {Solo International Performance Art} inilah tekad walikota solo Joko widodo dan rakyat solo membuktikan tekadnya.
Harmoni memang bagian dari seni. Harmoni inilah yang mencoba ditampilkan dalam SIPA. Ada salah satu pertunjukan yang menarik dari SIPA ini. Salah satunya group dance dari korea yang sebagian besar anak-anak menyanyikan lagu sang maestro “bengawan solo”. Ini menunjukkan bahwa budaya solo juga bisa bersanding dengan budaya internasional dalam spirit SIPA.
Selain itu, SIPA yang pertama ini membuktikan bahwa antusiasme warga solo dalam meruwat budayanya. Ketertarikan, rasa simpatik, kemudian pengapresiasian budaya solo bisa berawal dari sini. Memang membangkitkan gairah minat dan kecintaan terhadap budaya kepada pemuda solo rasanya perlu persepsi dulu bersifat internasional baru para pemuda-pemudinya tertarik untuk mengikuti dan menikmatinya.
Hal ini terbukti ketika pertunjukan biasanya penontonnya tidak sebesar di SIPA. SIPA membuktikan dengan “panggung yang opo anane, tapi ugo ora kalah karo liyane tingkat internasional”begitulah ungkap Slamet gundono yang menutup pertunjukan SIPA kali pertama ini.
SIPA yang diadakan mulai dari tanggal 7-10 Agustus 2009 ini sekali lagi membuktikan pada dunia bahwa Solo layak menyandang gelar sebagai kota budaya seperti yang dikatakan waljinah juga dalam cuplikan komentar para seniman akan SIPA.
Yah, SIPA merupakan awal bukan yang terakhir untuk menggairahkan dan mengajak selalu muda-mudi Solo untuk selalu melestarikan dan mencintainya. Terbukti budaya Jawa sebagai budaya Solo akan tetap menampilkan keindahan, harmoni, dan kepuasan hati bagi semua penikmat seni, baik bagi masyarakat solo maupun masyarakat internasional.
Selain itu, SIPA juga bisa meningkatkan partisipasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, karena dengan adanya SIPA, hotel-hotel, rumah makan, tukang parkir, abang becak, sampai penjual tahu bisa merasakan manfaatnya.
Selamat dan sukses atas diselenggarakannya SIPA yang pertama kalinya, Semoga SIPA-SIPA berikutnya juga akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati masyarakat Solo dan masyarakat internasional pada umumnya. SIPA JOSSS---
PEnulis adalah PEni’mat Seni, belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Selasa, Agustus 18, 2009

Jumlah mahasiswa dinilai tak sebanding jumlah dosen
UMS diminta batasi Maru


Solo (Espos) Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menuntut pembatasan jumlah mahasiswa baru (Maru). Pasalnya, jumlah mahasiswa dinilai tidak sebanding dengan jumlah dosen maupun fasilitas yang ada.


Demikian diungkapkan Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UMS, Arif Saifudin Yudistira saat ditemui wartawan di Kantor DPM UMS, Selasa (18/8). Dalam kesempatan itu, Arif mengatakan, berdasarkan data jumlah mahasiswa baru yang diterimanya, Sabtu (15/8), jumlah resmi mahasiswa baru mencapai 4.532.

Menurutnya, jumlah itu berdasarkan calon mahasiswa yang sudah melakukan registrasi masuk dari total 7.188 calon mahasiswa yang dinyatakan diterima. Padahal, hingga kini UMS masih membuka pendaftaran gelombang III pada tanggal 22 Agustus mendatang.
Ia menilai, penerimaan mahasiswa baru itu tidak realistis dengan jumlah tenaga dosen maupun jumlah sarana dan prasarana. ”Idealnya rasio jumlah dosen dan mahasiswa itu 1:20. Akan tetapi, di UMS rata-rata rasionya mencapai 1:50. Bahkan, untuk Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi rasionya mencapai 1:100. Kalau seperti itu kan berakibat kepada efektivitas pembelajaran,” papar Arif.

Arif melanjutkan, jumlah mahasiswa UMS juga tidak sebanding dengan jumlah fasilitas ruang kuliah. Menurutnya, keterbatasan ruang kelas membuat pembelajaran terpaksa dilakukan di masjid kampus. Sementara, ketika ujian semester berlangsung terpaksa menggunakan ruang sidang dosen sebagai tempat ujian. Bahkan, kondisi lahan parkir UMS dinilainya tidak sanggup lagi menampung jumlah kendaraan milik mahasiswa. Dalam hal ini, ia mempertanyakan transparansi dana pengembangan kampus yang dibebankan kepada mahasiswa baru setiap tahunnya. ”Dana pengembangan setiap tahun naik 10%. Akan tetapi, selama tiga tahun saya menjadi mahasiswa UMS, belum ada penambahan pembangunan gedung untuk ruang kuliah,” tandas Arif.

Sementara itu, Kepala Humas UMS, Agus Mulyanto mengatakan sebenarnya pada tahun ini pihak pengelola sudah berupaya menekan jumlah mahasiswa baru. Menurutnya, jumlah mahasiswa baru yang diterima UMS pada tahun ini tidak akan melebih jumlah yang diterima pada tahun lalu yakni mencapai hampir 5.000 orang. Ia menilai, jumlah mahasiswa baru masih sebanding dengan jumlah mahasiswa yang lulus setiap tahunnya.

Belum ideal

”Permintaan masyarakat sangat kuat. Jadi, kami berupaya mengakomodasi animo dari masyarakat yang tinggi,” tuturnya.

Di sisi lain, pihaknya mengakui rasio jumlah dosen di UMS belum ideal. Hal itu tampak dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Menurutnya, diperlukan sebuah solusi untuk memecahkan persoalan itu secara bersama-sama. Saat ditanya mengenai alokasi biaya pengembangan per tahun, ia menjawab biaya pengembangan sementara ini lebih banyak dialokasikan di bidang operasional. ”Kami belum merencanakan untuk membangun gedung lagi. Biaya pengembangan itu lebih digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional seperti pemenuhan kesejahteraan dosen, penambahan sarana, dan lain sebagainya,” tandas Agus. - Oleh : Moh Khodiq Duhri

Selasa, Agustus 11, 2009

"Narasi Dalam Dunia Imaginasi"



Oleh Arif saifudin yudistira*)

Pelan tapi pasti sekat imaginer itu kian lama kian luluh dan melebur menyatu dalam kehidupan kita. Pagi kita disuguhi dengan berbagai tayangan intertaint lengkap dengan kemasan berbeda-beda mulai dari gossip sampai pentas musik.
Pendongeng itu pun mulai mendongeng berbagai macam narasi dan mimpi-mimpi. Imagi yang melanakan ini dinikmati dari kalangan anak-anak sampai kalangan dewasa. Kita pun enyah meninggalkan kebiasaan mendengarkan dongengan ini sampai tak terasa kalau itu hanya dongengan.
Kita pun seakan tak kuat menghadapi dekapan dunia dibalik layar itu. Dari pagi kemudian siang,malam seakan kita tidak bisa melepaskan makhluk ini, televisi. Kita pun mulai lupa dengan orang-orang di sekeliling kita. Kita lebih intim bercanda, tertawa, menangis dengan makhluk televisi ini.
Perlahan tapi pasti dunia imaginasi ini memperbudak kita dengan gaya paling gaul,ngetrend, bahkan ”modern” . Tanpa sadar pun kita mengikuti pelan-pelan gaya, budaya, serta apa yang ada di televisi tersebut.
Pertanyaannya kemudian adakah budaya lokal? Adakah kemudian citra diri?adakah nilai otentik dari nilai budaya kita?. Yah, hilang tak terasa, tanpa sadar kita sudah dibius selama bertahun-tahun dalam hubungan intim dengan makhluk televisi ini.


Maka tidak heran banyak kasus kriminal, kemudian kasus asusila juga berawal melalui televisi ini. Berbagai mimpi, imaginasi, bahkan bualan-bualan mewarnai dunia kita setiap harinya dengan genit marayu mata, otak, bahkan hati kita untuk menyaksikannya.
Pun kita tak merasa bosan dengan apa yang disuguhkan, akhirnya kita buta melihat realita. Intuisi kita pun serasa lenyap, nilai-nilai yang ada berubah menjadi standar dalam kekaburan.
Dari fenomena ini, tak banyak orang bereaksi. Mulai sedikit-sedikit kekhawatiran ini pun dirasakan oleh beberapa kalangan. Berbagai seminar, diskusi, dan talk show pun mulai marak. Akan tetapi justru penikmat televisi pun bertambah banyak. Degadrasi bangsa bisa berawal dari sana, sedikit kemajuan bangsa juga bisa dimulai dari sini.
Dunia sudah mulai bertanya dan menggugat adanya efek mematikan ini. Dunia lain juga berteriak asyik menikmati sajian di dalamnya dan makin tak bisa lepas darinya[baca televisi].
Memang pada akhirnya kita sendiri yang akan menentukan bagaimana imagi-imagi ini tidak meringkus kita, membius, bahkan memperbudak kita, tapi kita yang menjadi tuan terhadap ”makhluk ”ini. Demikian.









Penulis adalah Mahasiswa bahasa inggris universitas Muhammadiyah Surakarta