Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Senin, November 23, 2009

Semiotika Tikus sampai dengan “Cicak Melawan Buaya”

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Paul Ricouer dalam filsafat wacana mengatakan, “Apa yang terjadi dalam tulisan adalah manifestasi sepenuhnya dari sesuatu yang berada dalam keadaan virtual, sesuatu yang bermuncul dan bermula dalam pembicaraan yang hidup yakni pemilahan makna dari peristiwa.
Dari pernyataan Paul Ricouer tadi kita bisa melihat, bahwasannya pemunculan istilah “tikus kantor” sampai pada cicak melawan buaya adalah sesuatu yang muncul dari pemilahan makna dan peristiwa. Selain itu, pemunculan istilah ini juga bermula dari pembicaraan yang sebelumnya ada dalam era virtual pula. Misalnya pada dunia facebook.
Misalnya pada kata “tikus” kata tikus disetarakan dengan koruptor. Iwan Fals dengan apik menggambarkan dalam lagunya yang berjudul “tikus kantor”. “ Kisah usang tikus-tikus kantor yang suka berenang di sungai yang kotor”,Kisah usang tikus-tikus berdasi yang suka ingkar janji lalu sembunyi”. Tikus-tikus tak kenal kenyang, rakus-rakus bukan kepayang.
Koruptor dianggap seperti tikus kantor yang suka berenang di sungai yang kotor. Artinya, koruptor sangat senang meskipun hidupnya dalam kehinaan dan kenistaan dan tidak malu melakukan perbuatan yang jijik. Tikus atau koruptor juga dianggap sebagai seseorang yang rakus karena kebanyakan koruptor adalah pejabat tinggi yang notabene hidup berkecukupan dengan gaji yang cukup tinggi.

Metafora inipun juga pernah diungkapkan oleh Monroe beardsly sebagai puisi miniatur. Sedang menurut Paul Ricouer dalam buku filsafat wacana menjelaskan tentang metafora “ ia merepresentasikan perluasan makna dari suatu nama melalui deviasi dan makna kata literal. Secara simbolis, ketika melihat fenomena saat ini, sangat tidak mungkin jika dilihat dari realita. Bagaimana mungkin “Cicak bisa melawan Buaya”.
Kembali pada semiotika, istilah cicak , tikus, dan buaya hanyalah iconitas yang merupakan pengilhaman sesuatu yang riil secara lebih riil dari pada realitas. Karena secara realitas tidak mungkin kemudian cicak menangkap tikus apalagi melawan buaya.
Sama halnya dengan istilah “Cicak melawan Buaya”. KPK disini digambarkan melawan musuh-musuhnya yang besar, yaitu anggodo karena dianggap mafia peradilan. Yang bisa memainkan hukum dan peradilan dengan uang dan kekuasaannya.
Pengistilahan Cicak melawan Buaya sah-sah saja dalam era kekinian, Akan tetapi, gerakan rakyat dalam dunia maya akan menjadi simbolisasi semata dalam menegakkan keadilan di negeri ini.
Akan sangat ironi ketika gerakan mahasiswa saat ini bisa teriak-teriak di dunia maya “lawan koruptor” tapi enggan turun ke jalan bersama rekan-rekan lainnya menyuarakan suaranya dalam dunia realita.
Semiotika “ Cicak melawan Buaya” adalah simbolisasi perlawanan yang tidak hanya disuarakan dalam dunia maya, tetapi perlu diaktualisasikan dalam kehidupan nyata kita.


*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, alumnus LPMF FIGUR UMS.

Senin, November 16, 2009

Mencermati Relasi Linier NATIONAL SUMMIT & KESEPAKATAN APEC

Oleh Arif Saifudin yudistira*)

Negeri ini sepertinya gagap melihat dan menatap masa depan. Negeri ini sepertinya kaget menghadapi perdagangan bebas. Nampak sekali dalam NATIONAL SUMMIT yang menjadi prioritas pemerintahan SBY 100 hari ke depan bahkan 5 tahun ke depan.
Dengan melihat pokok-pokok NATIONAL SUMMIT 2010 bukannya kita optimis melihat perkembangan dan kemajuan Indonesia akan tetapi justru harus mengelus dada mengingat Negara ini semakin tidak punya tawaran dalam kebijakan ekonominya, dan kebijakan-kebijakan yang lainnya.
UU penanaman modal no.25 tahun 2007 jelas-jelas memberi “angin surga” bagi investor-investor asing. Apalagi tidak ada upaya perlindungan pada investor dalam negeri. Dengan demikian salah satu point penting dalam National summit jelas tercapai yaitu merombak aturan dan menyesuaikan dengan perdagangan bebas.
Ada pertanyaan yang mungkin kita ajukan kembali pada masa pemerintahan SBY ini, apakah benar pemerintahan SBY adalah pemerintahan neolib???. Tentu masyarakat akan semakin terang dan jelas setelah melihat National summit ini.
Dialektika pemerintah dalam memainkan citra dan perdebatan panjang akhirnya terbuka jelas dan gamblang dengan adanya kebijakan-kebijakan yang ditelorkan SBY –budiono.


Relasi neoliberalisme global
Kalau membaca keadaan ini, maka kita akan memberikan kesimpulan sementara, bahwasannya ini tidak terlepas dengan scenario neo liberalisme global. Dengan membaca kesepakatan APEC di singapura, kita akan tercengang dan kaget tentunya.
Misalnya beberapa point yang seakan-akan selaras dengan National summit. Diantaranya penghapusan segala kendala perdagangan antar daerah dan pulau dengan kesepakatan APEC perluas akses pasar dan membuka akses modal masuk.Tolak segala hambatan perdagangan dan investasi, dengan menangani hambatan yang mengancam iklim dan daya saing invsetasi,Mendesak menteri menghormati komitmen WTO.
Dengan demikian jelas bahwasannya Indonesia tidak punya tawaran yang jelas dalam membangun ekonomi ke depan selain pada investasi dan investasi. Sama halnya dengan yang dikatakan menteri ekonomi kita, yang belum apa-apa sudah berani menargetkan investasi sebesar kurang lebih 200 triliun.
Yang lebih parah lagi, relasi ini seperti menjalar pada tawaran pendidikan kita. Salah satu point penting yang bisa kita cermati pada National summit adalah mensinergikan perguruan tinggi dan dunia usaha{Solo pos, 29 oktober 2009}.
Tidak ada lagi pembangunan pendidikan berkarakter kebudayaan, pendidikan berkarakter, yang ada pendidikan berkarakter pekerja dan pengusaha. Ini berbahaya bagi perkembangan masa depan kita karena pendidikan makin hilang dari nilai-nilainya. Seperti kita lihat pendidikan kita saat ini lebih mendorong tumbunya SMK dari pada SMU yang dinilai lebih menjamin mendapatkan pekerjaan.
Dengan mencermati relasi kesepakatan APEC dan kesepakatan dalam national summit kita akan menemukan titik temnu dan benang merah yang jelas bahwasannya negeri ini sudah dikuasai oleh korporat dan tehnokrat baru.

*) Penulis adalah mahasiswa bahasa inggris universitas muhammadiyah surakarta.
*) Presidium Kawah Institute Indonesia, Pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner