Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Senin, Oktober 31, 2011

Naskah 2 Dalam Lomba Resensi UMS


The tittle : Problem-based Learning in Higher Education : Untold stories

The writer : Maggi savin-baden

Published by : SRHE and Open university Press Philadelphia USA

Year : 2000

Page : 165 page, 1,5 cm

ISBN : 0 335 20 338 8(hb)


The Problem-based Learning In Higher Education to get the best solution to be the best university

By arif saifudin yudistira*)



Study in university is more complexity. It’s related the social factor, individual factor, and environment factor for get the good strategies for get the best result after graduated from universities. Maggi savin baden analyze and explain the problem-based learning in higher education : untold stories telling the basic problem in the university in united kingdom. It’s same with the other’s university in the world.

The research problem-based learning in early in 1970’s grown in breadth and depth across the world. Problem-based learning is an aprroach to learning through which many students have been enabled to understand their own situations and frame works so that they are able to perceive how they learn,and how they see themselves as future professionals.

Problem-based learning can help students to learn with complexity,to see there are no straightforward answers to problem scenarios, but that learning and life takes places in contexts,contexts which affect the kinds of solutions that are available and possible. New definitions and new meanings of learning often emerge when the interraction of ideas and experiences collide with one another.

Maggi tell the argument of this book is that the potential and influence of problem-based learning is yet to be realized in the context of higher education. Her thesis is that problem-based learning is an important approach to more centrally located in higher education curricula than it is currently. Her statement in sevent theme ;

  1. Problem –based learning as a concept and approach is often misunderstood. This tends to result in mistaken perceptions about possibilities for it use in higher education.

  2. Problem based learning has often been confused with forms of problem-solveing leraning. It interpreted too narrowly and utilized in limited ways.

  3. Misunderstandings of problem-based learning have resulted in underestimation of its value in terms equipping students for a complexs and changing professional life.

  4. Making the “life curriculum”

  5. Need adopt of component education staff, the leader and the students to practice the concept of problem-based learning education.

  6. Learning should be seen as cyclical process in which students make transitions.

  7. The full potential of problem-based learning will only be achieved through realizing the value and complexcity to learning and challenge their situations.

This book is very important for lecturer, the institutioal leader in organization in the universities, and staff in higher university. This book is the researcher in complexity methods of learning with partisipative, elaboration and it’s the contextualization method. This book is perform how the student in higher university study with based-community.

In chapter I Maggi savin the important of managing diversity in staff, students, and employers. It’s can influence the success university. And she is explain the issues of learner identity,learning context and learning in relation. Its important for the student’s knowing that to get the qualification of student before and after their graduated from university. Maggi savin hope with elaborate that element, the student’s can be succeed study in university.

Chapter 2 explain the ilustrated the ways in which problem-based can be implemented in diverse ways across different professions and institutional contexts. Internal and exernal influence on curricula, such as curricula constraint and the requirements of proffesional bodies can affect the ways in which problem-based learning.

In generally, this book tell the method’s of problem-based learning in higher education, the purpose of this is contextual learning, strength pedagogical stances and elaborate the education and practice with relation. Maggi said that for success this method,every students must be now the identity, manage ownself with mapping the experience and elaborate their knowledge to supposed their studies. In problem-based learning methods usually called learning context. It’s exercise the student’s to solve their problem with groups, manage and maximalize their potential and develop their abilities.

The experience students is struggle students in the interaction of public theories, personal interpretations, academic boundaries and professional territories have been explored along with some of the difficulities in relationship between outcome focused agenda and problem-based learning.

According Maggi savin there are five model in Problem-based learning. Model 1 for epistimological competence, model 2 PBL for professional action, model 3 PBL for interdiciplinary understanding, model 4 PBl for transdiciplinary learning, and model five PBL for contestability. Five model its important to increasing academic competences and characterize.

The attractions of problem-based learning are many and thus the implementation of problem-based learning, in the UK(united kingdom) at least, is becoming wide spread. And it’s possible to adopt problem-based learning methods. The main of this book explain and perform the PBL method is the one of method in higher education. There are many reason to supposed that such as equip students for the world work, offer students opportunities to learn how to learn, improve students learning by complexity and ambiguity,help the students to realize and develop their learner identity,give opportunities for teaching that grounded in the world of work.

The weakness of this book is not compare the complex data to support this “main statement that PBL is the best method” because not elaborate and compare with another country and example practically in other places. But, this book is very appropiate practically in indonesia, but the system education in higher education in indonesia still used the traditional method and separate with the society. If the society, the institution in higher university, and the students ready and have integrity to practice this methods, i don’t have not the belief that education in indonesia is more best than now.



*)Pengelola Kawah Institute indonesia

Naskah Lomba Resensi UMS


Dinobatkan Sebagai Juara Umum Penyaji Terbaik Versi UMS library

Judul buku : Macaisme

Penulis : Bandung mawardi

Penerbit : Jagad abjad Solo

Tahun : 2011

Tebal : 304 halaman

Harga : Rp.30.000,00


Yang tekun dan malas mengurusi buku

oleh Arif saifudin yudistira*)


Membaca buku adalah membaca hidup, menekuni buku adalah ikhtiar membaca dan mengurusi dunia melalui teks. Pesan inilah yang ingin disampaikan penulis melalui sebuah buku bertajuk macaisme(2011). Buku ini cukup melelahkan dan melegakan. Melelahkan karena diramu dengan tebal 304 halaman dengan berbagai uraian dan cerita tentang buku yang cukup memberikan makna bagi kita maupun bagi peresensi sendiri(bandung mawardi). Melegakan karena hampir di setiap kita menghabiskan lembar-demi lembarnya kita akan menemukan letupan-letupan khasanah pemikiran dari esai dari buku macaisme.

Bandung sadar betul, bahwa pilihan bukunya memang dituliskan dan dihadirkan ke publik melalui buku macaisme dengan kesadaran penuh pembaca akan dengan sadar dan dengan tekun menekuni dan melakukan aktifitas macaisme.Macaisme disini barangkali tidak hanya diartikan hanya sekadar membaca buku dan menuntaskannya tanpa bekas apapun. Penulis buku ini menginginkan pembaca menemukan pijar-pijar, letupan-letupan khasanah intelektual yang barangkali belum ditemukan sebelumnya, karena buku-buku yang dihadirkan dalam buku macaisme dihadirkan antara 2008-2011. Waktu ini menunjukkan bahwa buku-buku yang coba dihadirkan dalam buku ini adalah buku yang layak kita baca dan perhatikan.Ungkapan ini pun dihadirkan dalam sapaan “buku ini merupakan persembahan kecil bagi para pembaca agar mengingatkan-mengikatkan diri dengan jagat buku”.

Kehadiran buku ini juga mengingatkan penulis sendiri tentang arti sebuah buku bagi publik dan kemampuan mengurusi buku perlu di manajemen dan diperhatikan. Misal saja uraian dalam essai dengan judul semaian rupa buku dalam buku macaisme. Disana dipaparkan betapa pentingnya cover sebagai alat provokasi dan alat yang diperhitungkan di masa kini dalam perbukuan di indonesia. Buku ini hadir memang dengan cover sederhana, tapi mengajak kita selaku pembaca untuk menarik dan menantang untuk dibaca.

Macaisme judul ini mungkin menggoda bagi para akademisi, para mahasiswa ataupun siapapun juga tertantang dengan bahasa yang dijadikan mahzab isme-isme. Bahwa membaca merupakan satu aktifitas penting yang bukan sekadar satu aktifitas remeh. Buku-menghadirkan buku- itulah satu narasi yang ingin disampaikan bandung mawardi melalui buku ini.

Yang tekun, dan yang malas mengurusi buku

Buku ini ingin menyampaikan pesan yang singkat dan tegas bahwa membaca buku adalah aktifitas yang sangat dan penting untuk mengubah dunia, sebab di dunia inilah kita mengaplikasikan apa yang kita bawa, apa yang kita bawa juga berasal dari apa yang kita baca. Muhammad yunus peraih nobel perdamaian 2006 dari bangladesh dalam bukunya (Grameen bank, 2007) marjin kiri , “kita bisa mengubah dunia jika kita bisa mengubah pola pikir kita”.

Perubahan pola pikir kita tentu tidak terlepas dari aktifitas membaca buku. Ketekunan pengarang dan kegigihan penulis macaisme dibuktikan dengan kehadiran koleksinya yang lebih dari 5000 buku yang pernah dibaca dan juga ditekuni selain yang diresensi dan dituliskan dan dikabarkan di media massa. Macaisme hadir bahwa ketekunan membaca buku akan membuahkan hasil yang selain pengalaman, pengetahuan, juga spirit berbagi melalui menulis. Sehingga aktifitas penulis sebagai seorang esais menunjukkan bahwa ia tidak melepaskan dari aktifitas membaca. Buku ini juga menunjukkan betapa penulis menekuni berbagai buku karya orang lain sekitar 100 judul buku yang dilahap dan dicermati hingga kita akan menemukan betapa penulis resensi bandung mawardi adalah penulis yang tekun dengan menekankan angle dan menutup essainya dengan pesan yang sangat penting disetiap akhir essainya dengan menjelaskan arti penting buku.

Bentuk essai dipilih dengan kesadaran penuh sebagaimana diungkapkan dalam uraiannya tentang buku yang mengambil pilihan sama dengan buku macaisme di halaman 132 yang bercerita tentang uraian buku filsafat kebudayaan ;proses realisasi manusia(jalasutera,2009)karya Budiono Kusumohamidjojo :” Buku ini memang tidak tebal meski sesak dan rewel dengan uraian pelbagai materi dalam empat belas bab. Pembagian dengan jumlah halaman pendek sehingga membuat pembaca harus memiliki strategi untuk merebut limpahan tafsir karena durasi dan minimalitas uraian”

Uraian diatas sepertinya cukup tegas, lugas, dan menjelaskan bahwa buku ini mestinya dibaca dengan satu cara seperti diatas untuk menangkap limpahan tafsir. Melalui buku ini kita diajak menemukan kematian pengarang dalam hal ini bandung mawardi telah mati, sebagaimana diungkapkan Roland Barthes, “kelahiran pembaca mesti dibayar kematian pengarang”. Dengan kata lain, bandung mawardi mati, tapi teks dan uraian tentang buku-buku yang dia tuliskan dan dia abadikan dalam buku macaisme akan hidup. Kematian penulis macaisme dibayar dengan kesuburan pengarang-pengarang lain yang dituliskan dalam buku macaisme, dan kesuburan tafsir yang dihadirkan dalam buku macaisme.

Buku ini juga menunjukkan bahwa teks yang dihadirkan dalam buku macaisme adalah teks yang tak mungkin pergi begitu saja, ia adalah hasil intensitas penulis membaca ratusan buku yang dihadirkan tadi, kelihaian pengarang dan refleksi, serta intensitas penulis menggeluti buku yang diresensinya sehingga menghasilkan teks sebagaiman dikatakan Roland barthes “teks adalah jejaring nukilan dari kantong-kantong kebudayaan yang tak terhingga”. Selain itu,pilihan bentuk essai mungkin lebih komunikatif ketimbang menuruti pamrih memberi penjelasan komplet dengan taburan definisi.

Terakhir, buku ini mengingatkan kita, bahwa para pemalas yang tak mau mengurusi buku tidak akan menghasilkan apa-apa dan tidak memberi apa-apa bagi dunia. Meminjam istilah pramudya ananta toer “sesungguhnya beruntunglah orang bodoh karena ia tidak tahu”. Para pemalas ini tidak akan menemukan dan mengetahui sesuatu kalau tidak bertanya dan menemukan jawaban
. Salah satunya melalui aktifitas macaisme. Begitu.




Ironi Manusia Haji



Oleh arif saifudin yudistira*)


Ibadah haji adalah wujud seorang hamba yang setia memenuhi panggilan Tuhan dengan meniadakan segala yang bermakna duniawiah, demi menghadapkan wajahnya kepada Tuhan, sehingga dengan harapan pasca mereka menemui Tuhannya, maka ia akan membawa nilai-nilai ilahiah dan misi ke-tuhanan.

Ibadah haji adalah ikhtiar manusia dalam melakukan pencarian dan “penemuan” sebagaimana al-Akkad menuliskan : “Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as. Merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom, betapapun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, … yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia. Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tapi kesewenang-wenangan ini tak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim as. itu tetap menghiasi jiwanya … penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tak diketahuinya, berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya …”

Godaan duniawiah

Ibadah haji dalam masyarakat kita dipadang sebagai laku spiritual, yang diharapkan membawa manusianya menjadi manusia yang profetik yang mencerminkan laku-laku kenabian dan menyebarkan sifat islam yang universal. Dengan ibadah haji diharapkan masyarakat akan memperoleh berkah dari seseorang yang sudah berhaji. Maka dalam masyarakat kita ada tradisi “pengajian pamitan haji” ini diadakan dengan motif mengucapkan doa dan harap agar barokah dan keselamatan ada pada manusia haji, dan masyarakat berharap hajinya mabrur atau khidmat.

Harapan masyarakat seringkali dikalahkan dengan godaan-godaan duniawi dengan godaan oleh-oleh dari arab dan madinah. Para jamaah kerap mendapatkan pesananan oleh-oleh pula dari sanak saudara dan handai taulan di desanya, sehingga jamaah haji kita kerap pulang dengan segenap barang bawaan dan belanjanya yang berlebihan. Sampai-sampai menteri agama kita memperingatkan sedari awal dengan mengatakan : “Saya berharap harus betul-betul diiringi niat yang fokus untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. Saya berpesan jangan boros tenaga dan uang, jika ada di tempat belanja,”(2/10/11).

Godaan duniawiah inilah yang kemudian menjadikan nilai ibadah haji menjadi berkurang, dan menghilangkan hakikat haji yang sebenarnya. Haji diibaratkan oleh Ali syariati sebagai “pertunjukan”. Alloh adalah sutradaranya,tema yang diproyeksikan adalah aksi dari orang-orang yang terlibat ; Adam, Ibrahim, dan syeitan adalah pelaku utamanya ; skema-skemanya adalah masjid ul-haram, tanah suci, mas’a,Arafat, masy’ar dan mina. Simbol-simbol penting adalah ka’bah ,shafa, marwa,siang, malam, matahari terbit, matahari terbenam,berhala-berhala,dan acara berkorban,pakaian dan make up Ihram.yang akan memainkan pertunjukan ini adalah engkau sendiri.

Dari situlah, ibadah haji menuntut pembersihan hati dari niat-niat yang bermakna duniawiah. Imajinasi haji dan godaan duniawiah ini pernah dikisahkan dalam film “Emak ingin naik haji”. Haji adalah ibadah yang menuntut pengorbanan, dan kerelaan sikap dan meluluhlantakkan ego pribadi. Barangkali cerita emak ingin naik haji berbeda dengan fenomena para jamaah haji saat ini. Persoalan biaya dan juga pelayanan dan kenyamanan menjadikan jamaah haji harus dibebani dengan biaya mahal dengan dalih kelengkapan fasilitas dan lain-lain. Ibadah haji dipandang sebagai ibadah bagi para kaum hartawan, dan menjadikan jamaah haji menjadi berkasta-kasta. Ibadah haji dengan fasilitas yang serba luar biasa pun ditawarkan. Mulai dengan tausiyah, paket haji dan umroh, bahkan paket haji plus wisata ke tempat-tempat bersejarah. Haji menjadi sekadar pemenuhan kebutuhan material dan duniawiah dan miskin esensi. Hal ini tentu berbeda dengan yang dialami Ahmad Tomson dalam bukunya Pengalaman Seorang Mualaf: Haji Kelana Mencari Illahi”. Ahmad Thomson merupakan mualaf dari Inggris yang memutuskan untuk melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki dari London sampai Mekah. Ahmad Thompson menemukan hikmah: “Haji merupakan kunci untuk membuka makna keseluruhan perjalanan hidup seseorang.”

Iman sosial

Ibadah haji seringkali dikaitkan dengan empati dan etos social. Buku ali shariati menjelaskan pandangan kritisnya terhadap ibadah haji dan sosok pelaku haji. Buku itu terbit dalam tiga versi terjemahan Indonesia oleh penerbit berbeda: Pustaka Salman dengan judul Haji (1983), Yayasan Fatimah dengan judul Makna Haji (2001), dan Jalasutra dengan judul Menjadi Manusia Haji (2005). Ali Syariati menjelaskan haji merupakan revolusi lahir dan batin untuk membebaskan manusia dari belenggu tuhan-tuhan palsu. Haji merupakan pertunjukan tentang “penciptaan”, “sejarah”, “keesaan”, “ideologi Islam”, dan “ummah”. Nurcholis Madjid (1997) pun menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praksis untuk komitmen-solidaritas sosial. Haji merupakan ibadah individu dengan implikasi sosial.

Quraish shihab menjelaskan esensi ibadah haji ada tiga hal diantaranya mengandung nilai-nilai : 1. Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung, bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain dari Allah swt. 2. Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak. 3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal, tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya, betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal lainnya.

Refleksi haji dan negeri ini

Indonesia hampir tiap tahun mengirimkan jamaahnya dengan angkatan terbesar di dunia karena memang jumlah umat islam di negeri ini termasuk terbesar di dunia. Sekitar 5.745 jamaah haji Indonesia sudah diberangkatkan minggu (2/10/11) .Persoalan haji menjadi tanda Tanya pada kita semua, mengapa ibadah haji belum membawa implikasi besar terhadap perubahan tatanan moralitas masyarakat Indonesia. Ketika dihadapkan persoalan korupsi, kejahatan, dan juga para pejabat negeri kita adalah mayoritas manusia haji.

Imajinasi haji bukan hanya persoalan tubuh atau jasad yang memenuhi panggilan Tuhannya melainkan ruhaniah (jiwa) yang memenuhi panggilan Tuhan. Oleh karena itu, ibadah haji ditempatkan sebagai rukun islam kelima dengan didahului ibadah syahadat, sholat, puasa, dan zakat. Barangkali Tuhan memang punya scenario bahwa manusia haji adalah manusia unggul sebagaimana yang disebut neitzhe, yang menurut kehendak Tuhan ia harus melampaui ketaatan, memiliki etos social sebagaimana yang diajarkan dalam puasa dan zakat, sehingga ibadah haji adalah penyempurnaan dari semua itu.
Haji dan Iman social pantas dijadikan Tanya bagi manusia Indonesia, ketika korupsi, ketidakadilan, kejahatan kemanusiaan, dan juga kemiskinan masih menjadi masalah di negeri ini. Lalu,dimanakah manusia haji kita?. (*)



*) Penulis adalah mahasiswa Universitas muhammadiyah surakarta bergiat di kawah institute indonesia

Tulisan dimuat Gema Nurani Selasa, 1 November 2011 |


Minggu, Oktober 23, 2011

Universitas Yang (Alpa)Mendokumentasikan Diri



Oleh arif saifudin yudistira*)

Tumpukan dokumentasi dan penelitian di rak-rak perpustakaan hampir tiap tahun menumpuk jumlahnya. Tiap tahun itu pula tumpukan itu berhenti di toko loakan yang berubah jadi sampah pembungkus makanan. Penghargaan universitas dan dunia akademik kita tentang kerja kata dan kerja penelitian berujung pada nasib tragis. Kerja kata dan kerja intelektual seperti tak bermakna hari ini, meski kita telah mengusahakannya dengan hadirnya pelembagaan-pelembagaan pengetahuan, sebab dokumentasi jarang kita tekuni.

Upaya mendokumentasikan intelektual dan kerja intelektual mulai ditinggalkan. Maka tak heran kebudayaan dan peradaban kita makin lama makin tak menuai rasa. Peradaban dan kebudayaan kita mengalami fase kritis. Kita dikenal dengan bangsa yang meniru-niru dan akrab dengan dunia penjiplakan, akrab dengan dunia plagiasi apalagi karya seni dan budaya penuh dengan cap “bajakan”.

Kerja pendokumentasian dalam dunia universitas tidak jauh berbeda. Betapa minimnya kerja pendokumentasian ini sehingga kampus tidak punya arsip sejarahnya sendiri. Anehnya, justru para peneliti dari negeri manca yang tekun meriwayatkan nasib-nasib dan perkembangan kampus-kampus kita. Mereka memiliki data lebih dan menekuni arsip-arsip dan meruwatnya menjadi data dan arsip yang kelak penting bagi dunia di masa mendatang.

Minimnya penghargaan

Rendahnya budaya pengarsipan atau pendokumentasian menjadi lumrah di negeri yang kaya raya ini karena minimnya penghargaan dan apresiasi. Ketekunan tak berujung keberuntungan begitulah nasib para kolektor-kolektor dinegeri ini. Nasib mereka justru terabaikan,karena kerja mereka tak dinilai dan diperhitungkan.

Para pustakawan kita tak jauh berbeda, mereka ibarat mesin-mesin yang hanya menata dan mengembalikan buku tanpa sadar akan kebermaknaan buku. Dunia akademik kita masih jauh dari mencintai dan meruwat buku serta arsip-arsip intelektual dari para mahasiswa,dosen, dan juga para peneliti-peneliti kita.

Alhasil, dunia akademik kita tak pernah maju, karena makalah-makalah berhenti sekali baca kemudian hilang begitu saja. Lihatlah betapa makalah-makalah dari para mahasiswa, dosen dan hasil penelitian para sarjana-sarjana kita. Hasil karya cipta mereka tidak pernah dibedah, hasil karya dan kerja mereka tidak pernah dikaji dan diperdebatkan. Sehingga timbullah stigma bekerja atau tidak bekerja sama saja. Maka tak heran muncul skripsi-skripsi dengan cara membeli dan menggadaikan harga diri.

Padahal dunia akademik kita semestinya menyadarkan kembali tanggungjawab intelektual, memunculkan karya menjadi maslahah dengan pendokumentasian melalui jurnal-jurnal, melalui diskusi intelektual, dan meruwatnya menjadi dokumentasi universitas. Dokumentasi ini akan berharga dan menjadi catatan sejarah betapapun rendah atau tingginya kualitas karya. Sebab dari sanalah kita bisa belajar tentang arti proses kemajuan dan proses kebesaran universitas yang tidak dilalui melalui kerja-kerja profesional dan formalitas melalui akreditasi dan labelisasi international. Sebab dari kerja pendokumentasian itulah kita mengenal diri, mengenali masa lalu, dan mempunyai pijakan bagaimana universitas ini akan dikembangkan di masa mendatang.

Sayang sekali penghargaan kerja intelektual dan pendokumentasian ini justru lahir dari negeri manca lewat agenda mereka. Dintaranya dengan menyekolahkan para akademisi kita keluar negeri, dengan bea siswa S-2 dan S- 3. Sujiwo tedjo mengkritik dengan tegas dengan mengatakan : “Para sarjana-dan doktor-doktor kita dari luar negeri itu, merekalah yang menjual indonesia,sebab penelitian mereka tentang indonesia dan data tentang indonesia,tapi diserahkan pada asing”

Ketika kerja pendokumentasian dan kerja intelektual kita dimiliki mereka, maka dengan tanpa sadar, data-data tersebut adalah aset berharga dari republik ini yang sangat bermanfaat dalam memetakan negara kita. Ketika itu terjadi, maka tanpa sadar negeri kita adalah negeri yang tidak berdaya dan kehilangan identitasnya.Sebab tidak bisa membaca diri, memetakan diri, dan belajar sejarah dirinya. Sebab arsip-arsip kesejarahan kita tidak kita miliki, karya intelektual kita menjadi hilang entah kemana karena hilangnya kerja pendokumentasian kita.

Sadar diri

Sudah semestinya para akademisi, dan para mahasiswa lekas sadar diri bahwa kerja pendokumentasian adalah kerja intelektual dan kerja peradaban. Melalui dokumentasi itulah kita belajar meriwayatkan diri, mengenang peristiwa, dan menghargai kerja organisasi, kerja kepenulisan kita. Sebab betapapun kerja organisasi kita, kerja kepenulisan kita dan kerja intelektual kita, jika tidak terdokumentasikan, maka akan lenyap di telan zaman.

Ketekunan dalam kerja pendokumentasian ini akan mengembalikan kembali citra universitas kita selama puluhan tahun lalu ketika zaman orde lama yang memandang kampus sebagai pusat peradaban dan dinamisasi masyarakat kita. Dengan cara memanfaatkan dan menggairahkan kembali kerja pendokumentasian itu lebih bermaslahah kepada masyarakat kita. Ini bisa dilakukan melalui seminar-seminar akademik, membangun integrasi penelitian dan pengabdian masyarakat. Sehingga dokumentasi-dokumentasi intelektual yang ada di universitas tidak menjadi sekadar catatan-catatan yang lalu lalang dan tak menuai buah dari kerja yang berkepanjangan. begitu.


*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute indonesia



Menimbang Efektifitas Gerakan Gender




Oleh arif saifudin yudistira*)

Saya sayang kepada perempuan,saya menaruh perhatian besar kepada nasibnya, karena dia tidak dihargai,dan ditindas seperti yang masih terdapat dalam banyak negeri di dalam abad terang ini”(Surat Kartini kepada NY abendanon-mandri dan suaminya)

Perempuan setelah abad 19 pasca revolusi industry, membawa mereka bermigrasi ke ruang public dengan menunjukkan eksistensinya memasuki dunia kerja, ternyata harus dibayar mahal dengan berbagai resiko dan perjuangan yang cukup panjang. Bahkan hingga kini, perempuan adalah objek yang sangat massif bagi dunia industry. Hadirnya industry menghidupi perempuan namun tanpa sadar menjadikan ia mangsa yang empuk bagi penjajahan cultural dan ideologis. Betapa kita dilihatkan fenomena di kota-kota besar, perempuan dengan profesi sebagai sekretaris, buruh pabrik, dan juga artis mereka mau tidak mau dihadapkan pilihan yang sulit antara materi dengan persoalan tubuhnya. Sehingga dari cara bergaya, cara berpakaian dan aturan dunia industry menuntut mereka tampil erotis.

Institusi atau lembaga perusahaan kerap menuntut budaya penertiban dalam bentuk pakaian seragam para buruh wanita ini, juga para pekerja kantoran dengan dalih modernitas, profesionalitas, dan perempuan tetap menjadi objektifikasi bagi kebijakan perusahaan. Persoalan tubuh perempuan tentu tidak bisa kita lepaskan dari dunia industry, kapitalisme, dan juga budaya masyarakat kita. Di china beberapa bulan lalu ada seorang berganti pakaian di kereta api toh tidak menimbulkan sesuatu apa.

Di barat, berpakaian seksi bahkan adalah kebiasaan mereka, tapi tidak menimbulkan persoalan yang merisaukan seperti di negeri kita. Ada apa dengan budaya masyarakat kita? Lebih lanjut ada apa dengan kebijakan pemerintah kita sehingga hal tersebut bisa terjadi?.

Patologi Cinta

Secara teoritik, freud menjelaskan ini dengan gamblang dalam bukunya Cilization and Its discontent. Disana ia menjelaskan ; “cinta dengan sasaran yang terlarang sungguh-sungguh penuh dengan cinta yang bersifat indrawi menurut asalnya, cinta ini begitu tenang dalam alam pikiran tak sadar manusia”maka cinta yang seperti ini adalah patologi, yakni sebagai sesuatu kemunduran pada keadaan “narsisme tak terbatas”.

Lebih lanjut Freud menjelaskan yang dituliskan kembali Erich Fromm dalam “The art of love “ : “Bahwa manusia didorong oleh suatu keinginan yang tak terbatas untuk penguasaan seksual terhadap semua wanita, dan bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”. Bagi Freud, tindakan pelecehan seksual, tindakan yang berorientasi pada nafsu hanya dapat diselesaikan oleh tekanan dari masyarakat dan pencegahan dari masyarakat kita. Ketika masyarakat menganggap ini sebagai sesuatu yang didiamkan, maka hasrat dan naluriah manusia tersebut justru semakin menjadi.

Ketika melihat kasus-kasus yang ada saat ini, perempuan menjadi korban kebijakan, dan menjadi korban nafsu lelaki, ini merupakan gejala patologi cinta yang mengakibatkan cinta jadi pelampiasan nafsu semata. Perempuan jadi sosok yang dijadikan pangkal persoalan, padahal mestinya sebab dan latar belakang kasus pelecehan seksual itu yang perlu kita lihat.

Belum efektif

Fenomena ini mengingatkan kembali kepada aktivis gerakan perempuan dan juga pemerintah, dan kita semua, bahwasannya gerakan pembebasan perempuan ternyata belum efektif di negeri ini. Diskriminasi gender, ketidakadilan terhadap perempuan masih saja terjadi di negeri ini. Meskipun UU pornografi dan porno aksi sudah ditetapkan, pemerintah belum mampu memblokir semua situs porno di negeri ini.

Selain itu, secara filosofis pornografi dipandang dari fisik semata,misalnya segi pakaian, sedangkan yang lebih fundamental adalah pembenahan masyarakat kita tentang budaya menghargai perempuan sebagai sosok yang sama dan setara sehingga keadilan gender bisa terwujud. Selain itu, pemerintah masih saja belum mampu menyeleksi tayangan-tayangan yang berbau erotis yang tiap hari hadir di layar kaca kita baik di dunia entertainment, advertising, dan dunia film kita yang mengumbar erotisme.

Kebersamaan

Ketika melihat fenomena diatas, Dr mansour fakih menyarankan dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial mengatakan ; “ Segala bentuk yang merendahkan kaum perempuan bukan semata-mata salah kaum perempuan maka usaha menghentikannya secara bersama perlu digalakkan” Fakih menyarankan gerakan ini bisa dilakukan dengan mencatat kejadian di catatan harian, catatan harian ini akan berguna ketika diproses secara hukum. Menyuarakan uneg-uneg di kolom-kolom surat kabar, surat pembaca misalnya secara serentak, berdemonstrasi secara bersama-sama, atau menyuarakan opininya melalui media massa.

Gerakan ini akan lebih efektif untuk mengurangi dan mencegah kekerasan terhadap perempuan sebagaimana yang sudah dipraktekkan di Negara maju dan juga sebagaimana yang dikatakan Freud : “bahwa hanya tekanan masyarakatlah yang mencegah manusia dari tindakan menuruti nafsunya”. Sehingga tidak lagi menempatkan perempuan sebagai pangkal persoalan dalam setiap kasus pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan. Begitu.


*) Penulis adalah mahasiswa bahasa inggris, Universitas muhammadiyah surakarta, bergiat di kawah institute Indonesia







Kerja Sastra = Kerja Pemberadaban



Oleh arif saifudin yudistira*)


Kerja sastra dan kerja kebudayaan saat ini mengalami titik nadir yang luar biasa, sehingga kerja ini perlu digiatkan lebih keras lagi,sebab budaya adalah salah satu solusi terakhir dari problematika bangsa saat ini. Jawaban tentang pentingnya revolusi kebudayaan tidak jauh berbeda dengan sejarah kita dulu ketika masa orde lama yang menjadikan masyarakat menggiatkan kerja kebudayaan meskipun pada tahun-tahun berikutnya muncullah polemik kebudayaan yang saling melengkapi dan saling beradu tentang apa yang dimaksud dengan kebudayaan dan bagaimana kebudayaan dinafaskan dalam kehidupan kita.

Pertanyaannya apa kerja kebudayaan kita belum maksimal?. Tentu tidak, ketika menilik makin bergiat masyarakat kita yang berada di bawah kaki gunung menghidupkan kembali budayanya, masyarakat kita yang di kota semakin menampilkan keseniannya, dan juga para seniman dan sastrawan makin giat bersafari ke seluruh negeri. Lalu, apa yang salah dengan kerja mereka ketika hal tersebut sudah digiatkan sementara masalah bangsa ini tak kunjung menemui jawab?. Radar panca dahana berujar dalam bukunya “kebenaran dan dusta dalam sastra”(indonesia tera) mengatakan : “Para seniman dan sastrawan belum bisa menjawab ;mengapa seni harus hidup, dihidupi, menghidupi?”.satu alasan yang eksistensial yang jika tidak terjawab akan membuat siapapun merasa lucu ketika ia melakukan kerja keseniannya”.

Persoalan pokok yang dipandang radar sebagai persoalan fundamental adalah persoalan yang ternyata hampir tidak bisa dijawab oleh para seniman dan sastrawan mengapa mereka melakukan kerja itu?. Sayangnya para sastrawan dan seniman saat ini lagi-lagi sedang melakukan pencarian itu. Sedang pencarian itu adalah pokok yang menentukan mengapa kerja pemberadaban sastra dan kesenian itu menjadi terganjal, sebab para pekerjanya sedang melakukan pencarian dan belum menentukan arah kerjanya.

Kegalauan ini tidak hanya dirasakan oleh para seniman dan sastrawan kita, kerja pencarian identitas ini seperti sudah terjadi di setiap lini kehidupan di negeri ini. Baik gerakan mahasiswa, gerakan masyarakat, dan juga para pemimpin kita yang kehilangan arah. Seperti yang diungkap Samuel P huntington “Inilah faset yang paling menyeruak di era post- perang dingin,ketika usaha pencarian identitas menyeruak dimana-mana”.

Apa sastra bisa merubah dunia?. Apa sastra bisa membuat manusia lebih beradab? Ataukah kita yang tidak bisa menangkap pesan dan makna dalam sastra?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mestinya selesai dalam bangku kuliah,diskusi-diskusi kebudayaan dan sastra, atau seminar-seminar ilmiah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ternyata hal tersebut belum bisa memberikan jawaban atas kompleksitas manusia, para sastrawan pun sejatinya mengungkapkan ini dalam karya-karyanya melalui puisi, cerpen, novel, esai dan lain-lain untuk mencoba memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Pertanyaan tersebut tak pernah selesai, dan kita tak tahu kapan akan selesainya, selama manusia hidup, selama itu pula manusia menjadi makhluk yang bernafsu mencipta, merumuskan dan menemukan kebudayaannya, menuliskannya dalam bentuk karya. Karya itulah yang menjadikan kita sadar, bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan rekam jejak. Memerlukan satu pengabadian pengalaman, memori, dan pelajaran-pelajaran hikmah melalui sastra dan pemberadaban manusia.


Gagal???


Putu wijaya, seorang sastrawan indonesia, mengungkap sebab dari kegagalan sastra dalam pemberadaban manusia dengan mengatakan : “ Pemberadaban dengan sangat potensial bisa disumbangkan oleh agama, pendidikan, ilmu pengetahuan dan sesungguhnya sastra. Kita tidak akan membuka polemik dengan mengatakan bahwa keempatnya sudah gagal. Lebih baik dikatakan belum terjadi sebagaimana seharusnya. Saat ini, sesudah reformasi, kita merasakan pemberadaban tak berjalan. Berbagai kejadian yang mengejutkan terus mengucur setiap hari menyebabkan kita malah cenderung mengatakan yang ada sekarang adalah pemunduran peradaban.”.

Agama, ilmu pengetahuan,pendidikan, dan sastra keempat unsur tersebut yang dinilai putu wijaya belum bisa menampakkan hasil dari kerjanya. Meskipun reformasi berjalan dengan berbagai peluang kebebasan berekspresi dan berkarya ternyata belum memberikan jaminan bahwa kebudayaan mampu dalam memanusiakan manusia.

Agama pun ternyata diragukan menjawab persoalan ini ketika agama yang muncul saat ini adalah kamuflase yang hadir dan dihadirkan melalui media-media semu semata. Agama dikotori oleh para pemeluknya dengan menjadikan agama sebagai teror dan agama yang tidak mampu melakukan teror terhadap runyamnya negeri ini. Para tokoh lintas agama meski sudah mengajak umatnya menyerukan bahwa negeri ini ada yang salah, para pemimpinnya harus berubah, wakil rakyatnya harus menata diri, dan negeri ini harus berubah.

Ternyata seruan jadi berhenti ketika para pemimpin kita dan wakil rakyat kita menjadi sosok yang membatu. Batu itulah yang ternyata menjadi gambaran para pengendali negara ini. Kegagalan ini di susul dengan corat-maritnya pendidikan yang sesuai kata Rendra masih mengimpor pengetahuan dari asing, masih membeo kebijakan asing sehingga identitas kita menjadi hilang dan kabur.

Sastra pun demikian halnya, sastra menjadi sesuatu yang asing di masyarakat bawah. Meskipun di kalangan akademik sastra menjadi sesuatu yang populer, tapi sastra kemudian hilang dan tidak bermakna ketika hadir di kalangan soko guru revolusi kata sukarno yakni buruh tani dan pedagang.Apakah bahasa sastra terlampau tinggi sehingga tidak mampu menyentuh dan menggerakkan mereka para kaum bawah? Ataukah tidak ada sastrawan yang menyentuh lini-lini sana?. Ternyata juga tidak, kegagalan sastra ini karena sastra masih berkecimpung dengan dirinya dan tidak mau menyentuh mereka yang dibawah dan menangkap realitasnya. Radar panca dahana mengatakan :” Bila puisi menempatkan posisi di luar sosial masyarakatnya, maka sepertinya dia mengingkari dirinya sendiri”.


Dengan demikian, kerja sastra perlu dikembalikan kembali pada hakikat dari sastra itu sendiri yakni mengembalikan manusia menjadi manusia. Artinya kerja sastra tidak lain adalah mengurusi manusia dan persoalannya. Dari situlah kita berharap sastra bisa menangkap realitas dan mengejewantahkannya,mengolahnya menjadi sesuatu yang kembali memperingatkan manusianya. Sebagaimana pramudya menuliskan dalam bumi manusia :” "Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya . (Minke, 135)”.Maka kerja sastra adalah kerja kemanusiaan dan pemberadaban, mengurusi manusia dan mengembalikan manusia pada hakikat kemanusiaannya. Inilah tugas kita semua.



*) Penulis adalah mahasiswa UMS, ikut menulis buku bersama dalam buku “Manusia = puisi” 2011.


Jumat, Oktober 21, 2011

Anak Dan Masa Depan Bangsa



Oleh Arif saifudin yudistira*)

We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today.

~Stacia Tauscher

Anak-anak kita adalah masa depan kita, begitulah orang biasa berujar dan khawatir tentang pentingnya memperhatikan anak-anak kita. Tak heran orang tua kita pun rela mengeluarkan koceknya untuk memanjakan buah hatinya, memperhatikan pendidikannya, dan dengan susah payah memberikan yang terbaik untuknya.

Perhatian ini diwujudkan dengan berbagai cara salah satunya dengan menyekolahkan mereka ke sekolah terbaik, bahkan sejak usia dini. Orang tua kita begitu rela melakukan segala sesuatunya demi meruwat masa depan mereka. Dengan harapan, mereka akan melihat generasinya lebih baik dari generasi yang pernah mereka alami sewaktu mereka kecil. Perasaan harapan berpadu dengan kecemasan, seiring berkembangnya zaman. Kemajuan teknologi membawa anak-anak kita cepat tanggap terhadap hal baru tapi terkadang lupa terhadap hal yang substantive. Alhasil, orangtua pun cenderung gagap dan tidak mampu menemukan solusi terbaik bagi anaknya. Kecenderungan ini membawa mereka(orangtua) kita menitipkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah full-day yang menjauhkan mereka dari dunia orang tua, dunia ayah dan ibu.

Sementara,waktu di sekolah jelas tak bisa mengimbangi waktu anak-anaknya bermain di lingkungan sekitar. Tanpa sadar, orangtua kita adalah orang yang menjerumuskan kita sendiri menjadi orang asing di lingkungan kita. Efeknya tidak main-main dunia anak berubah menjadi dunia yang akrab dengan dunia imajinasi mereka, tapi lupa dengan latar cultural mereka dengan lingkungannya. Sehingga banyak kemudian anak-anak kita berhasil tapi lupa dengan ideology cultural mereka di lingkungannya.

Logika Yang salah

Tugas kita adalah mendidik anak-anak kita, bukan menjadikan mereka menjadi seperti diri kita. Harapan yang berlebihan terkadang membawa sesuatu yang salah dengan dunia anak kita. Kita mempunyai harapan anak-anak kita seperti yang kita inginkan, tapi lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang berhak memiliki mimpi dan cita-citanya sendiri. Logika yang salah ini membawa kita pada satu pemaksaan keinginan kita, sehingga anak-anak kita menjadi anak yang melawan, atau menjadi anak yang terlalu penurut dan kurang kreatifitas.

Berbagai film menunjukkan betapa hebatnya anak jika dibiarkan mengejar imajinasi dan mimpi-mimpi mereka. I’m not stupid, 3 idiots, laskar pelangi, denias, dan lain-lain memberikan penuturan bahwa bakat anak perlu diberi tempat dan dikembangkan. Ketika bakat anak tidak diberi tempat dan dikembangkan, maka anak justru akan mati di tangan orangtuanya sendiri dalam arti mati tidak berkembang.

Sentuhan Ibu

Masa depan anak-anak kita tergantung dari sentuhan ibu-ibu kita. Ibu adalah sosok yang tanpa sadar telah membentuk biografi kita dengan berbagai kisah, dongeng, cerita dan petuah-petuahnya. Dalam bukunya sarinah & biografinya(sukarno,penyambung lidah rakyat) yang ditulis cindy adams, sukarno menjelaskan betapa besar peran sosok seorang ibu yang dengan kasih sayangnya membentuk pribadinya dan semangatnya.

Maka tak heran, para sastrawan, filosof, dan para nabi pun memberikan tempat tertinggi untuk menyampaikan penghargaan terhadap sosok ibu. Ibu menghadirkan imajinasi, ibu menghadirkan inspirasi, dan ibu adalah yang mencipta kita. Akan tetapi yang terjadi di negeri ini nasib para ibu tak seindah kata-kata puitis kita, tak sehebat anugerah yang berkalung di lehernya. Ibu –ibu di negeri ini adalah sejarah nestapa yang tak kunjung reda. Angka kematian ibu di negeri ini Women’s Research Center dalam penelitiannya menyebutkan: Menurunkan angka kematian ibu sesuai target MDGs 2015 sulit dicapai. Jakarta Post (5/3/10) memberitakan, pemerintah gagal memperbaiki kondisi kesehatan ibu. Terbukti angka kematian ibu (AKI) masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Lebih lanjut almarhum Prof dr Soedradji, ahli kebidanan, ”Dengan kemajuan teknologi kedokteran di Indonesia, ibu meninggal karena komplikasi melahirkan seharusnya tidak terjadi.

Ketika nasib ibu tidak bisa kita perhatikan secara serius, maka mustahil kita akan berharap ibu-ibu kita akan memberikan sentuhan yang baik kepada anak-anak kita, sebab nasib mereka dan masalah mereka belum bisa terselesaikan dengan baik. Memperhatikan masa depan anak dan bangsa kita harus diawali dengan memperhatikan dan melindungi para ibu-ibu kita. Hal ini perlu dilakukan dengan berbagai cara antara lain pertama, mensejahterakan mereka dan membebaskan mereka dari kemiskinan yang menjeratnya. Kemiskinan adalah faktor mutlak para ibu-ibu kita tidak mampu mengurusi dan mencukupi kebutuhan dasar anak-anaknya, sehingga anak-anak mereka kurang gizi dan kelaparan. Kedua,memperhatikan pendidikan mereka. Dengan memperhatikan pendidikan mereka, kita akan melahirkan generasi yang cerdas karena faktor keturunan atau gen juga berpengaruh dengan bagaimana generasi kita ke depan. Ketiga, memperhatikan kecukupan gizi dan juga faktor kesehatan para ibu. Dengan demikian, menghadirkan generasi yang cerdas dan menciptakan anak sebagai harapan dan masa depan bangsa bukan hal yang mustahil kita ciptakan.Semoga!!!


*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di kawah institute Indonesia, tulisan dimuat di gema-nurani.com selasa, 18 oktober 2011

Selasa, Oktober 18, 2011

Kampusku, masa depanku(bagian 2)


Jelang 53 tahun UMS

Oleh arif saifudin yudistira*)

Kampusku adalah penjaraku adalah kata-kata realitas kampus kita saat ini. Hampir tiga tahun ini, kampus kita selalu menjadi kampus mencekam dan mengerikan dengan pagar-pagar besi di setiap sudut nya. Betapa ruang dalam pikiran kita seolah memasuki penjara pendidikan bertajuk ; kampus ums. Nuansa islami seperti hadir disini, ketertiban seperti akrab disini, slogan-slogan populis dari birokrasi tampil dengan segera mengisi makan pagi, siang, dan malam kita.

Ruang public menjadi kotor, tak tertata, dan menteror. Ruang public penuh dengan pembatasan-pembatasan yang tak wajar dengan berbagai tanda spanduk dimana-mana, belum lagi pembatasan kelamin “hotspot”. Budaya kita menjadi budaya instant dalam menyelesaikan masalah. Masalah pencurian diselesaikan dengan cc tv, pencurian diselesaikan dengan tulisan-tulisan yang mencekam seperti di dalam masjid kita : “sering terjadi pencurian, hati-hati dengan barang bawaan anda”. Masjid kita adalah masjid yang menyeramkan dan menakutkan. Kepasrahan ibadah kita terganggu soal materi yang bingung mau kita amankan dimana?,meski sudah ada cc tv.

Penyempitan ruang public???

Benarkah sudah terjadi penyempitan ruang public di kampus kita saat ini?. Betapa kampus begitu menyedihkan dengan upaya-upaya penyempitan ini. Penyempitan ruang public hadir dalam miskinnya budaya dialog dan dialektika antara mahasiswa dan pihak pengelola universitas ini. Betapa pentingnya peradaban dibangun dari sana, diskusi, dialektika dan penyelesaian masalah-masalah universitas secara bersama.

Nalar akademik diruntuhkan dan dipersempit dengan membatasi ruang public kita adalah kelas. Lihatlah dan kelilinglah ke kampus tercinta ini, makin lama ruang public semakin sempit. Farmasi, dihabisi dengan ruang-ruang laboratorium entah laboratorium apa?, Jalan-jalan yang aspal dan makin sempit, Makin banyaknya mobil-mobil para birokrat kita.

Efek yang nampak jelas betapa tragisnya. Wisudawan-wisudawan makin bertambah banyak dan cepat menyelesaikan kuliah. Bangku kelas di UMS hampir tak menyimpan biografi, pengalaman, apalagi menyimpan memori kolektif akan berkembangnya diri dan nalar kritis akademis. Kampus adalah kenangan yang secepatnya dilupakan, sebab tidak ada yang berkesan di kampus ini. Sebab kampus memberi kesan hanya sebatas ceremonial penerimaan mahasiswa baru dan juga wisuda para sarjananya.


Lalu, masa depan kita dimana?

Bukankah masa depan kita berawal dari tempat yang kecil ini?. Bukankah kebesaran kita berawal dari ekspresionisme para kawula muda disini?. Lebih jauh lagi, bukankah miniature Negara dan peradaban ada di sini?. Ketika kita masih berkeyakinan hal tersebut atau apapun imajinasi masa depan anda akan bertumpu disini, maka penyempitan ruang public perlu kita hancurkan, budaya kritis perlu dikembangkan, bukankah universitas-universitas maju di dunia berawal dari perumusan pertanyaan dan jawaban-jawaban dari diskusi keseharian kita?

Barangkali masa depan kita adalah selembar kertas wasiat yang menjadi nyawa dan bahkan “tuhan baru” yang membuat kita tiba-tiba tak berdaya dihadapkan kehidupan mendatang sebagai manusia pendatang di masyarakat. Ijazah tak mampu memberi jawaban akan betapa kerja tak semudah kita menjadi elit sebagaimana keinginan kebanyakan orang di kampus yang mendambakan “kerja di belakang meja”(kantoran,pns,dll).

Tertib sebagai jawaban bisu

Lihatlah betapa spanduk bisu yang berceramah : “Ingat agenda akademik anda, 75 % kehadiran, KRS, dan bayar”. Apakah logika masa depan kita dibangun dengan sesederhana ini dan sesingkat ini?. Dimanakah penelitian-penelitian mahasiswa kita, dimanakah arsip-arsip sejarah mahasiswa tahun dulu-dulu, apakah seperti itu?. Sepertinya tidak, budaya diskusi, seminar akademik kemasyarakatan, dan permasalahan social menjadi agenda rutin.

Tapi kini, tertib dan budayanya seperti kembali berkampanye di kampus kita menghadirkan pengikut ribuan yang hadir tiap tahunnya, tiap tahun itu pula kita seperti dibuat takut akan masa depan kita, penyalahgunaan SPP kita, dimanakah konsepsi besar kampus yang berobsesi sebagai center of excellent ketika peradaban kita seperti peradaban yang telah menemui ajalnya dengan hilangnya ruang public, munculnya terror dan ancaman dana kemahasiswaan, dan lemahnya budaya “musyawaroh” yang kesemuanya itu menunjukkan di ultah 53 ini, kampus ini belum bangun dari tidurnya, meski sudah ada promosi dimana-mana hingga ke luar negeri dengan gaya “go internationalnya”




*) Penulis adalah alumnus DPM UMS”,ikut menulis buku “manusia = puisi”2011 Tulisan dimuat di koran pabelan 19 oktober 2011


Rabu, Oktober 12, 2011

Kampusku ; Masa depanku(bagian 1)

Jelang HUT UMS -53
Oleh arif saifudin yudistira*)


Dinamika intelektual mahasiswa yang menjadi cita-cita kita semua ternyata belum sepenuhnya maksimal, ini ditandai dengan lemahnya budaya kritik dan progressifitas dalam komunikasi antar elemen kelembagaan mahasiswa menjadikan kampus ini layaknya “kuburan akademik” yang lengkap dengan hantu-hantu dan artefak-artefak yang mengganggu pemandangan mata kita.

Hantu yang mengganggu itu adalah pesan-pesan bisu seperti “ stop plagiat”, “jangan injak rumput”, “ awas budaya tak tertib”, “visi-misi setiap fakultas kita”. Kita menjadi manusia-manusia yang lekas mati dan menjadikan itu berlalu begitu saja. Hantu-hantu itu bagi saya menjadi pemandangan yang mengganggu dan meneror saya melebihi terror bom bunuh diri. Apakah kemudian plakat-plakat dan pesan simbolik mencerminkan bahwa kita adalah manusia simbolis yang tak peka dengan pesan-pesan cultural kita, atau bahkan suara-suara yang ada di sekitaran kita.

Barangkali budaya akademik kampus kita sudah menunjukkan tanda-tanda kesuburan dalam transformasi, tapi tidak dalam budaya yang positif, melainkan negative. Lihatlah betapa transformasi itu berhasil ketika para mahasiswa baru dengan gaya nya datang di taman dengan gaya anak muda menghadap dunianya, yang menghidupkannya dan mematikannya. Facebook, kemudian twitter, searching=googling menjadi aktifitas mereka dalam menggarap makalah menjadi copy paste. Mereka kesulitan merangkai kata-kata, apalagi buku-buku referensi yang lengkap dan bahasa yang indah dalam makalah yang mencerminkan pemikiran mereka. Malas, yah itulah jawaban yang paling enak diajukan. Begitupun dosen kita malas meneliti karena “sibuk” dan tidak ada proyek penelitian, ya inilah yang sebenarnya dikutuk dalam plakat-plakat itu sebagai plagiatisme.

Bagaimana dengan para pendidik kita?

Pendidik kita adalah mereka yang fasih berpidato di dalam kelas-kelas seolah-olah kelas adalah alat pencucian otak mutakhir. Mengapa taman yang begitu indah dan subur yang mestinya jadi aktivitas akademik yang berkembang dan mempunyai daya yang dahsyat dalam meruntuhkan ruang yang tinggi dan gedung-gedung yang angkuh ini tak kunjung hadir di lingkungan kita. Atau sebaliknya, ruang public diisi dengan orasi-orasi yang mengganggu, dan membuat mahasiswa enggan atau merasa il feel dengan mereka yang heroic menampilkan dan mencoba menggerakkan dan menggairahkan kampus, tapi sayang kata-kata mereka tak rapi dan tak masuk dalam bahasa-bahasa kita(mahasiswa).Alhasil keluarlah kata-kata biasa, biasa demo, kata-katanya hidup rakyat!, hidup mahasiswa!,turunkan SBY!.

Apa itu salah? Tentu tidak, ruang demokratik harus kita hargai dan kita beri kebebasan penuh, sayang khotbah kita masih kalah dengan para hipokrit yang duduk di ruang kerjanya dan meneriakkan “mahasiswa mestinya lulus dengan score IP tinggi”, “ masa depan mahasiswa tidak boleh dikotori dengan kelulusan lama”, “jadi mahasiswa yang tertib”.Sungguh doktrin Daoed jusuf menjadi akrab di telinga kita. Meskipun demikian, kita pun belum menemukan alternative yang mencolok untuk mewujudkan kampus kita sebagai masa depan kita.

Masa depan?

Sulit rasanya menjadikan kampus sebagai masa depan kita. Selama kultur akademik, pertemuan budaya baca, tulis, kritik, sastra lisan atau tulis, juga budaya-budaya ekspresionisme anak muda belum terlihat dan Nampak di kampus kita. Mengapa kita tak mengubah segera cara berfikir kita, kampusku adalah rumahku, kampusku adalah tempat ku bertaruh seni, hidup dan kehidupanku di masa mendatang dengan berbagai pergulatan dan dinamikanya?.53 tahun UMS, akankah sama saja? Kampus, birokrasi, senat mahasiswa, senat universitas, sepertinya unsure-unsur diatas perlu rembug bareng untuk lekas sadar dan membahas “kampusku; masa depanku” atau sebaliknya “kampusku, penjaraku”???semoga tidak demikian.


*) Penulis adalah Pimpinan redaksi “Kawah media”,ikut menulis buku “manusia = puisi” 2011


Tulisan dimuat di koran pabelan UMS

Minggu, Oktober 09, 2011

Mengembalikan Diri pada Hakikat Kemanusiaan



Judul : Lalu Aku

Penulis : Radhar Panca Dahana

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juli 2011

Tebal : 124 hlm.



LALU aku, lalu kau, lalu aku kau adalah tiga bab kehidupan kita yang diterjemahkan, dituliskan, dan ditangkap Radhar Panca Dahana dalam buku puisinya ini. Aku, kau, dan kita adalah bagian dari kehidupan ini, bagian dari hakikat kosmos yang tak mungkin terpisahkan dalam kehidupan kita. Ketika aku terlepas dari kau, ketika kata aku terlepas dari kau dan kita maka aku adalah sosok yang hilang, sosok yang tak punya nyawa. Pesan itulah yang ingin disampaikan dalam sekumpulan puisi ini.

Manusia diciptakan untuk berhubungan dengan orang lain, dengan alam, dan dengan imajinasinya. Ketika manusia tidak lagi mempunyai rasa sensibilitas, tidak memiliki rasa sensitivitas dengan alam, manusia lainnya, maka tidak jauh berbeda dengan cyborg. Sebagaimana Lyotard pernah berujar tentang makhluk mekanik. Herbert Marcuse menyebut manusia yang seperti ini dengan sebutan one dimensional of men (manusia satu dimensi).

Manusia yang seperti itulah manusia yang mereka menyentuh, mereka mendengar, mereka melihat tapi tidak tersentuh, tidak mendengar, dan tidak merasakan. Akhirnya manusia yang seperti inilah yang tentu tidak sama-sama kita inginkan. Sastra adalah bagian dari kemanusiaan itu. Puisi adalah bagian dari sastra. Mencintai puisi, adalah mencintai sastra, dan mencintai kemanusiaan.Lewat kata-kata itulah kita berperan, dengan kata-kata kita bersuara, dan dengan kata-kata kita mengumpulkan dan menciptakan, serta dengan kata-kata kita berpihak. Maka tak khayal bila Pramudya pernah mengatakan: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak mencintai sastra ia ibarat anjing yang bodoh.

Dalam puisi Radhar Panca Dahana, kita akan menemukan keterasingan, kelemahan, kegembiraan, kekaguman, dan juga refleksi diri yang sangat wajar dihadapi oleh manusia. Menulis puisi adalah memerkarakan hidup dan kehidupan. Puisi bagi Radhar adalah upaya mengembalikan kita sebagai manusia. "Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta. Susunlah ia jadi puisi sehingga ia memanusiakan kamu, sebagaimana sejarah waktu ada padamu, sejarah cinta membentukmu".

Radhar meletakkan kata aku dengan lihai, aku menjelma menjadi alam, aku menjelma menjadi anak, dan metafora yang asyik dan membawa kita pada dunia imajinasi yang luar biasa. Ini yang kita baca dari sajak Ragukan Aku tanpa Ragu: laut dimana semua tetesnya/adalah cinta, untukmu semata./Tapi, sekali lagi ragukan aku/bila tetap tersedu,tetap jadi aku./Ragukan semua/tanpa ragu.

Dalam puisi ini pula kita akan menemukan rasa kekaguman, perasaan yang biasa kita alami sebagai sosok manusia yang mengagumi seseorang. Radhar menuliskan ini dengan indah dengan judul Lenggakmu, Lenggok Waktuku; Ratih sanggarwati.

Dalam puisi ini kita akan menemukan peristiwa yang intim antara penulis puisi dan Ratih Sanggarwati, yang mengalami satu peristiwa yang sama, kenyataan yang sama, yang berjalan beriringan antara mereka berdua. Dalam puisi ini kita diajak berpikir, merenung, dan mengagumi sosok Ratih Sanggarwati. Begitu pun dalam puisi sejenis berjudul Pisau Kecil Pingkan Mambo.

Radhar menggambarkan cinta yang ada hanyalah sepintas lalu, yang biasa saja dan penuh dengan kesederhanaan. Kata kesederhanaan seperti tak terlepas dari biografi Radhar yang memulai kisahnya dengan segenap kesederhanaan yang akrab dengan kemiskinan. Namun, Radhar mencintai dan mempunyai jalan seni yang awal dianggap tidak sesuai dengan keluarganya. Puisi cinta yang lain bisa ditemukan dalam Ibu yang Baik, Seindah Itukah Kamu, Dari Cinta yang Sederhana.

Puisi-puisi Radhar adalah puisi yang halus, pelan, lirih tapi terkadang menusuk ulu hati. Yang biasa, wajar dan kadang penuh dengan ketegangan. Lewat puisi-puisinya kita kembali diajak untuk bertamasya tentang manusia, manusianya, kehidupan, kehidupannya, dan kehidupan kita. Sebagaimana kita manusia, kita pun akan menemukan rasa dalam kata-katanya. Itulah yang diharapkan dengan hadirnya puisi ini. Lalu aku, lalu aku kau, lalu kita, dan semua ini akan berlalu. n

Arif Saifudin Yudistira, mahasiswa UMS, Presidium Kawah Institute Indonesia
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Oktober 2011

Senin, Oktober 03, 2011

Saatnya Menegakkan Revolusi

Menggugat tulisan Saeful Achyar”mengenang revolusi kita”

Oleh arif saifudin yudistira*)

September yang baru saja berlalu memang bulan dengan dinamika sejarah yang tida kbisa kita lupakan begitu saja. Tulisan saudara saiful achyar pada hari selasa (27/9/11) dengan tajuk mengenang revolusi kita”menunjukkan bahwa generasi muda kita saat ini lemah dalam memahami sejarah bangsanya. Akibatnya, sejarah bangsa kita difahami secara serpihan melalui nukilan-nukilan kata-kata mutiara para pendiri negeri ini sebagaimana yang dilakukan oleh saudara saeful achyar. Membaca sejarah sebagai potongan puzzle akan membuyarkan kompleksitas realitas historis negeri ini dan mengakibatkan kita buta dalam memahami sejarah. Oleh karena itu tulisan ini mencoba meluruskan hal tersebut.

John roosa menuliskan dalam bukunya Dalih pembunuhan massal bahwa teori kudeta ini mirip kudeta merangkak yang perlahan dan pasti mengkudeta pemimpin negeri ini, Wertheim pun dengan sindiran halus mengatakan : “Tidak mungkin angkatan darat tidak ada campur tangan”. Lebih lanjut john roosa mengulas ini dengan sebutan “Soeharto menggunakan politik simulachrum yang membuat seolah-olah terjadi pembunuhan kepada para jenderal-jenderal oleh gerwani dengan membuat simulakra melalui pembangunan sumur lubang budaya tanpa didukung data-data forensik sehingga menampakkan seolah-olah telah terjadi pembunuhan yang kejam sampai-sampai dilukiskan dengan pemotongan alat kelamin”.

Buku-buku tentang pemberontakan G30 S cukup memberikan gambaran terang siapa dibalik gerakan tersebut seperti buku G30 S yang ditulis Julius pour, John Roosa, juga yang pernah ditulis asvi warman adam akan memberikan gambaran yang cukup menunjukkan bahwa siapa dibalik dalang gerakan G30 S PKI ini.

Kesalahan memahami sejarah ini dituliskan dalam tulisan saudara Saeful dengan logika yang kacau dan salah kaprah. “Namun tampaknya politik devide at impera masih ampuh memberi magis perpecahan, kehendak yang didambakan sukarno justru memakan anak bangsanya sendiri. Politik nasakom membuahkan saling bertikai dan saling menyerang”.

Dialektika dan polemik yang terjadi saat itu tidak seperti yang digambarkan saeful yang mengatakan saling menyerang. Padahal konflik yang timbul jelas ada konspirasi antara dua fihak yang bernafsu menggulingkan kekuasaan yang menjadikan G30 S/PKI sebagai dalih. Dan kelompok sukarno dan kelompoknya yang berkehendak imperialisme segera diwujudkan.

Saeful menjadi korban konspirasi tersebut dengan menjadikan film G30 S PKI sebagai sumber data dan analisa. Ini menjadikan kita ragu dan naif karena belajar PKI dengan orang yang mencoba mengaburkan konsepsi sejarah PKI. Dari situlah sebenarnya tulisan saudara saeful achyar benar-benar membingungkan sejarah kita dan tidak semakin menjadikan titik sejarah itu terang.


Pelaksanaan kata-kata


Konsepsi sukarno tentang revolusi tentu dipaparkan jauh kedalam bukunya Dibawah bendera Revolusi jilid I dan II yang membicarakan panjang lebar tentang hakikat kemerdekaan. Sedangkan saeful achyar di pungkasan esainya menjelaskan “kapan lagi kita akan berevolusi kalau tidak sekarang,guna membangun indonesia”hanya menangkap serpihan dari konsepsi persatuan gaya sukarno. Lebih ironis lagi judul mengenang revolusi membuat kita gerah dan marah seakan-akan revolusi adalah kenangan dan tidak muncul di bumi yang kian runyam ini.

Syahrir menjelaskan dengan gamblang tentang arti dan pemaknaan revolusi ketika bertemu dengan sastra kawannya pemimpin buruh dengan mengatakan :” Revolusi hanya mungkin terjadi bila syarat-syaratnya terpenuhi yaitu syarat-syarat objektif dan syarat-syarat subyektif. Syarat objektif adalah ketidakpuasan rakyat umum merata dalam masyarakat, kekalutan dan lenyapnya disiplin di kalangan aparat pemerintahan dan kebingungan tokoh-tokoh yang memerintah. Sedangkan syarat subyektif adalah manusia-manusia pejuang yang memperjuangkan kebaikan keadaan itu. Keduanya harus tersedia dan juga melihat psikologis massa”(Mengenang Syahrir,Gramedia).



Oleh karena itu, melihat dan belajar dari syahrir tadi, kondisi indonesia sudah memungkinkan untuk syarat obyektif dan syarat subyektif. Diantaranya ketidakpuasan rakyat dimana-mana, masyarakat yang kalut, serta kepemimpinan yang bingung, sedangkan para subyek-subyek sudah menata diri dan melakukan perlawanan kultural melalui gerakan persatuan mahasiswa dan elemen-elemen gerakan pro demokrasi(prodem). Maka dari itu, perlu gerakan kepeloporan dari mahasiswa dan aliansi kerakyatan yang memulai untuk melakukan pengawalan terhadap revolusi ini dan sambil menunggu kondisi psikologis massa untuk revolusi.

Jadi bukan sekadar ajakan yang berisikan pepesan kosong dan bukan sekadar menulis tanpa didasari penguasaan sejarah yang kuat. Jika ini terjadi maka kesalahan konsepsi sejarah akan mengaburkan kita akan pemaknaan hakikat revolusi. Sementara itu, ruang-ruang demokratik kampus tidak dihidupkan sementara kampus mestinya menjadi pusat way of think(Jalan pikir)perubahan masyarakat belum dihidupkan kembali. Maka menegakkan revolusi tidak berhenti di gerakan menulis dan diskusi serta dialektika saja, sementara disana masih banyak rakyat kita sengsara dan nestapa. Tan malaka pernah mengatatakn :”Revolusi itu kesatuan teori dan praktek dan perlu melihat massa rakyat”. Sehingga harapan saeful tentang revolusi tidak mungkin bisa dilaksanakan ketika hanya berujar di media, apalagi menggunakan konsepsi sejarah yang salah. Sebagai pungkasan perlu kita belajar dari Rendra bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.



*) Penulis adalah mahasiswa UMS, aktivis IMM, Presidium Kawah Institute Indonesia Tulisan dipublikasikan di KORAN SOLO POS 4/ 10/2011.