Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Selasa, Juni 28, 2011

Drama ternyata Menyenangkan






ARIF SAIFUDIN YUDISTIRA
Mahasiswa FKIP/Bahasa Inggris UMS

TRIBUNJOGJA.COM, SURAKARTA - PELAJARAN drama sebagai mata kuliah Fakultas Bahasa di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memunculkan kesan tersendiri bagi kelompok drama kami. Broensist, begitulah nama kelompok kami. Dengan spirit kekeluargaan, hampir setiap minggu kami berlatih dua sampai tiga kali. Drama ini terdiri atas berbagai kelompok, yang ditampilkan 13 Juni-18 juni 2011.

Saat kami latihan pun diwarnai suka-duka. Misalnya, ada yang jarang berangkat, dan harus membayar denda Rp 5.000 setiap pertemuan. Denda itu untuk kebersamaan dan kekeluargaan. Dalam mata kuliah ini, kami beranggotakan 50 orang. Kami berlatih mengorganisir orang dan bekerjasama dalam tim.

Pemain dan tim dituntut kompak untuk menyelesaikan kerja bersama ini. Persiapan kami tergolong cukup mepet, hanya dalam waktu sebulan harus siap menampilkan apa yang menjadi kerja terbaik.

Di kelompok kami drama ini berkisah tentang dua gadis kembar berbeda karakter. Keduanya sangat merindukan ayah mereka. Sang ayah lama tidak dijumpai karena situasi perang tak memungkinkannya untuk kembali. Ketika ayahnya kembali dengan sikap agak amnesia, ternyata Red rose tidak menyadari yang datang sang ayah, sedangkan White Lily tahu. Cerita diakhiri penyesalan yang dalam ketika sang ayah meninggal dunia.

Rasa puas terlihat di wajah-wajah kami setelah menampilkan drama itu. Drama yang dipersiapkan dengan kerelaan pulang malam setiap latihan. Rasa puas tampak pula dari para pemain yang fotonya sempat nampang di koran lokal. Drama ternyata menyenangkan.


*)Tulisan dimuat di tribun jogja 27 juni 2011,di rubrik citizen Journalism

Sabtu, Juni 25, 2011

“Ketakwaan Sejati”

Oleh Arif saifudin yudistira*)

”Tuhan kami adalah nurani,neraka dan surga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami,dengan melakukan kebajikan nurani kami pulalah yang memberi kurnia”



[surat kartini 15 agustus 1902 pada nyonya EC.abendanon,ditulis kembali oleh pramudya dalam buku ”panggil aku kartini saja”]

Sepertinya kita akan sulit mengakui bahwasannya secara falsafati apa yang dikatakan kartini ada benarnya. Mungkin kita akan beranggapan bahwasannya karting sudah atéis, bahwa kartini sosok yang liberal dan apapun itu dalam cara pandang konservatif.
Menurut karting nurani memang menjadi nilai atau patokan dasar seseorang mengamalkan religiositas yang hakiki. Sebab ketika seseorang yang religius, tentu nuraninya akan berbicara jujur. Ia sudah tidak lagi memandang, apalagi membedakan status agama seseorang ketika nurani berbicara.
Esensi ketuhanan sebenarnya akan mampu menjelma dalam kehidupan manusia ketika manusia sudah menyatu atau mampu menuruti kehendak-kehendak Tuhannya. dalam falsafah Jawa kita mengenal istilah ”manunggaling kawula gusti”. Yang dimaknai bahwasannya apa yang dilakukan oleh seluruh tubuhnya, aktifitasnya, adalah kehendak Tuhan, kehendak nurani.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa di negeri ini masih saja ada semacam konflik laten yang kemudian mengatasnamakan agama?. Negeri ini sudah cukup lelah dilanda dengan berbagai konflik atas nama agama. Dari berbagai permasalahan tentang konflik antar masyarakat beragama sampai dengan kasus terbaru mengenai terorisme yang juga terkesan menyudutkan salah satu agama tertentu.
Konflik yang terlampau panjang dan berlebihan ini seringkali menimbulkan fanatisme yang sempit, yang bukan hanya memperlebar konflik, tapi juga menambah masalah baru. Tekanan psikologis, sosial, maupun budaya akan menyebabkan umat agama tertentu kemudian mengalami ”syndrome fanatisme religius” yang berlebihan.
Ketika hal ini terus dan senantiasa di biarkan, maka tidak heran yang muncul ketika di ceramah-ceramah di gereja, kotbah-kotbah di masjid, dan upacara-upacara keagamaan adalah hujatan kepada kelompok agama tertentu. Dalih pun dikeluarkan bukan hanya dengan ayat-ayat Tuhan, akan tetapi juga atas nama moralitas agama tertentu.
Ini sangat mengkhawatirkan bagi kebhinekaan kita. Menyelami hakikat ketuhanan bukan hanya kemudian kita menjalankan ibadah-ibadah sebagai sebuah rutinitas, melainkan mulai pada tahap aplikasi dalam kehidupannya. Sebagaimana dengan Betrand Russel yang ia juga menulis buku ”Bertuhan tanpa agama” dimaknai kita menyembah dan mengaplikasikan nilai-nilai ketuhanan tanpa harus diembel-embeli label agama.
Pejuang revolusioner indonesia tan malaka pernah pula mengatakan : ”ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan muslim”.Secara tidak langsung tan malaka pun sudah memberi contoh kepada kita generasi penerusnya, agama sebenarnya bukanlah pada sisi merk atau sesuatu yang bermakna simbolis semata. Meski kita butuh simbol sebagai sebuah identitas keagamaan kita.

Menyikapi pluralisme

Kenyataan yang ada pada negeri ini dengan berbagai keanekaragaman dan masyarakat yang plural mengajarkan kita bahwa perbedaan adalah rahmah. Keanekaragaman tersebut termasuk adalah keanekaragaman dalam agama dan pengamalan praktek keagamaan. Sudah menjadi fitroh bahwasannya kita itu diciptakan dengan keanekaragaman.
Pluralisme yang menjadi isu yang hangat yang difahami oleh beberapa kelompok atau agama tertentu seringkali disalah artikan. Pluralisme menurut frans magnis suzeno dimaknai sebagai ”menerima segala perbedaan di antara kita”. Perbedaan tersebut dilihat bukan hanya dari sisi agama, akan tetapi dilihat juga dari sisi yang lain, seperti bahasa, suku, kebudayaan, dan sebagainya.
Akan tetapi, pluralisme oleh beberapa kelompok agama tertentu dimaknai secara sempit yaitu semua agama itu benar. Sehingga gesekan-gesekan antar kelompok agama tertentu menjadi tidak terhindarkan. Sikap menerima, menghargai perbedaan, serta menyikapi segala perbedaan itu dengan arif diperlukan di negeri yang plural ini.Dengan begitu,
pluralisme yang dimaknai dan dijunjung tinggi secara bijak bukan menimbulkan konflik, akan tetapi menimbulkan semangat persatuan dan toleransi yang tinggi.


Memaknai Religiositas

Slamet Gundono pernah mengatakan bahwa sederhananya ”agama itu untuk manusia”.Artinya ketika orang yang beragama kemudian menyakiti sesama manusia, orang yang beragama tapi masih merusak alam, orang yang beragama masih menimbulkan keresahan bagi manusia lain, maka tidak berartilah agama manusia tersebut.
Religiositas perlu dimaknai sebagai sesuatu yang bukan lagi eksklusif, tabu, bahkan menakutkan. Makna agama akan tereduksi menjadi sesuatu yang remeh, bahkan ditinggalkan ketika demikian halnya. Memaknai agama yang seperti ini memang bukanlah hal yang mudah. Seringkali dalil-dalil agama begitu difahami secara tekstual dan dimaknai secara sempit, sehingga apa yang sering kita sebut dengan dakwah, atau penyebaran agama dipandang sebagai sesuatu yang keras, menakutkan,dan lain-lain.
Sayang sekali forum-forum kerukunan umat beragama masih saja belum menyentuh pada persoalan substansial yang dihadapi oleh masalah-masalah kemanusiaan dan kebangsaan. Yang seringkali dibicarakan masih saja berkisar pada persoalan-persoalan bagaimana menanggulangi konflik,menanggulangi gesekan antar umat beragama. Para tokoh agamawan belum mulai memikirkan bagaimana kemudian umat beragama bisa bersama-sama memerangi kapitalisme, bagimana umat ini bersatu memerangi kemiskinan, kebodohan, permasalahan kesehatan, dan lain-lain.
Sehingga agama untuk manusia, untuk rahmat seluruh alam bukan menjadi sesuatu yang utopi melainkan sebuah usaha dan praktek yang terus-menerus menjadi cita-cita semua agama. Bukankah semua agama menolak kemiskinan, bukankah agama juga menolak kekerasan, dan kebiadaban?.
Teologi Pengharapan

Sigmund Freud pernah mengatakan ”agama adalah ilusi karena ia tidak dilandaskan pada rasionalitas”.Pernyataan Freud tidak bisa kita benarkan seluruhnya tapi juga tidak baik ketika kita nafikkan seluruhnya. Yang menjadi titik tekan disini adalah agama-agama kita pada umumnya memang disiarkan dan dikabarkan melalui teologi pengharapan. Harapan-harapan surga, harapan-harapan kedamaian, bahkan juga gambaran neraka yang tidak bisa kita tangkap dalam bayangan pun.
Harapan-harapan itulah yang kemudian memberikan pengaruh, motivasi, dorongan, dan cita-cita. YB mangun wijaya pernah mengungkapkan ini dalam roman burung-burung manyar “ Manusia tanpa harapan, ia mayat berjalan”.
Dari situlah kemudian, harapan-harapan agama mempunyai titik temu dalam melawan musuh bersama. Cita-cita ini tidaklah berlebihan ketika semua agama memiliki satu visi-misi yang sama. Misalnya cita-cita akan perdamaian, cita-cita melawan kemiskinan, kejahatan, dan lain sebagainya.
Yang akhirnya, memaknai religiositas sejati tidak lain adalah merumuskan, memikirkan kembali dan bekerjasama untuk senantiasa mencari dan menemukan solusi dari pada masalah-masalah keumatan. Yang kesemuanya itu membutuhkan kerelaan hati, legowo[ikhlas] menerima perbedaan yang ada, serta menepiskan rasa curiga.

*) Penulis adalah presidium kawah institute indonesia, Tulisan dimuat di majalah bhinneka juni 2011

Kamis, Juni 23, 2011

Mempertanyakan Kembali Kontribusi Pelaku Ekonomi Di Kampus Kita

Oleh arif saifudin yudistira

Sebelum berbicara lebih jauh tentang kontribusi pelaku ekonomi di kampus kita, kita perlu mempertanyakan perlukah pelaku ekonomi di dalam lingkungan akademika atau dalam lingkungan pendidikan?. Bukankah pendidikan itu seharusnya murni artinya tidak seharusnya mengikuti logika ekonomi?. Meskipun dalam pendidikan kita juga belajar ilmu ekonomi.
Sudah hampir empat tahun saya berkecimpung dalam organisasi kemahasiswaan,tapi ternyata hadirnya pelaku ekonomi di kampus kita belum memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perkembangan geliat akademik di kampus kita. Sebut saja bank-bank yang ada di kampus kita yang muncul ketika seminar-seminar akbar.Tiba-tiba saja para pelaku ekonomi tersebut muncul. Yang menjadi soal saat ini adalah UMS begitu memberi suatu kontribusi cukup untuk mereka.Bisa kita bayangkan betapa mahasiswa kita yang ribuan itu menabung di hanya dua bank saja. apalagi saat pendaftaran mahasiswa baru.

Dulu kontribusi ini terlihat jelas dengan memberikan mobil pada lembaga kemahasiswaan, sebagai bagian dari CSR(corporate social responsibility). Ini cukup membantu untuk kegiatan akademik mahasiswa.Ketika ada kegiatan, ada mahasiswa meninggal, sakit, dan lain-lain mahasiswa sudah diberi kesempatan mengelola dan memanfaatkan mobil tersebut. akan tetapi berbeda dengan sekarang,para corporatetersebut hanya memberikan spanduk saja. mobil-mobil fakultas saat ini justru dikredit para pimpinan fakultas,sehingga semakin banyak mobil yang diprivatisasi yang semestinya untuk pengembangan dan fasilitas akademik mahasiswa.
Kita memang tidak bisa melepaskan ketergantungan diri kita pada para pelaku ekonomi di kampus kita sebagai sebuah lembaga yang hadir dan dibutuhkan di UMS sebagai pendukung dan sarana fasilitas kampus. Akan tetapi kita belum mengerti mengapa lembaga-lembaga itu?bank-bank itu? yang kemudian muncul di kampus kita.Mengapa tidak bank muamalat?mungkin pimpinan kampus yang lebih faham tentang sejarah ini mengapa lembaga-lembaga tersebut masuk di kampus kita.
Kalaupun memang pendidikan kita menggunakan logika ekonomi, produksi-konsumsi, dan timbal balik kepentingan yang muncul, idealnya para lembaga kemahasiswaan semestinya memperoleh fasilitas lebih yang bisa dibicarakan antara para pelaku ekonomi di kampus. Sehingga kontribusi dari pelaku ekonomi di kampus bisa lebih kontributif dan lebih menyentuh terhadap aspirasi-aspirasi dan kepentingan mahasiswa.
Bukankah kita selaku masyarakat indonesia lebih mengutamakan kegotongroyongan, musyawarah, dan saling berembug ketika ada masalah. Tentu kerjasama yang mutualisme akan membawa kampus kita kepada ke arah kemajuan yang dibutuhkan.
perlu pembicaraan lebih lanjut mengenai hal tersebut antara lembaga-lembaga kemahasiswaan dengan para pelaku ekonomi tersebut,sehingga kedua institusi tersebut bisa saling memberikan manfaat bagi mahasiswa yang saling menguntungkan dan membawa kemajuan bagi kampus kita kedepan.Semoga


*)Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di Komunitas tanda tanya Tulisan di muat di koran pabelan, edisi kamis 23 juni 2011

Minggu, Juni 19, 2011

Kuasa Tubuh Perempuan Dan Erotika Media Massa


Oleh Arif saifudin yudistira*)


Tubuh perempuan sampai saat ini tetap menjadi dilemma dalam era modernitas. Pemaknaan eksploitasi tentu berbeda dengan apresiasi yang ditujukan pada perempuan yang eksis di dunia entertainment dengan menggunakan kuasa tubuh. Tubuh perempuan sudah begitu sesak di serbu dengan berbagai alat kecantikan dan juga pijat estetika yang tidak lain dan tidak bukan untuk kepentingan kapitalisasi. Tidak salah wanita eksis, tampil cantik dengan berbagai produk yang mampu mereka beli. Meski tidak banyak perempuan sadar bahwa tubuh perempuan tidak harus dilihat dari sisi sosok tapi juga inner beauty dalam bentuk kecerdasan misalnya.
Beberapa bulan ini kita dihebohkan berbagai berita artis yang menggelitik masyarakat kita. Begitu banyak gossip dan entertaintment yang memuat topic yang memuat perempuan tetapi distereotipkan dengan “foto-foto syur dan nakal”. Berderet nama artis masuk dalam hot issue entertainment bahkan sampai puteri Indonesia pun tak kalah jadi objek pemberitaan tersebut. Hampir setiap hari kita disuguhi berita, gambar, serta foto-foto yang penuh dengan daya erotis menghiasi keseharian kita. Disadari atau tidak, media punya pamrih dalam menyuguhkan itu semua kepada pembaca dan kita semua.
Wanita menjadi objek dalam konteks ini. Hampir di setiap situs tiap harinya kita akan dengan mudah menemukan perempuan dengan telanjang dada, adegan cium, bahkan adegan senggama pun tak luput masuk ke media-media kita. Fenomena erotika media massa memang menjadi pilihan yang cukup bertaruh untuk memperbesar dan memperoleh kapital.
Kemampuan media massa yang begitu besar menerbitkan berita-beritanya, tak kan lepas dari peran perempuan sebagai objek dalam erotica media massa. Erotica media massa di definisikan oleh Sarlito dan Ristanti Kolopaking,sebagai “pemberitaan baik artikel maupun gambar yang mengandung makna erotik, seperti menampilkan telanjang dada pada tubuh wanita,dan menampilkan adegan cium bahkan senggama”.
Apalagi, era digital dan modernitas semakin menghantarkan perempuan kita untuk lebih mau menampilkan citra erotis dari pada yang lebih elegan, sopan, atau katakanlah feminin karena didasari oleh motif mencari kapital juga. Keadaan ini menjadi lumrah atas klaim gaji yang cukup berterima kepada perempuan yang mau menjadi objek erotis pada media massa. Dari iklan TV, dari iklan sabun, dan iklan-iklan yang lain, dan dari penyiar berita,
Variasi imbalan menjadi motifasi wanita untuk tampil erotis di media massa. Imbalan ini cukup merangsang perempuan untuk berlomba-lomba dengan mendaftarkan diri dan optimisme serta mimpi mendapat gaji yang cukup tinggi. Misal saja artis tamara blezinsky yang dibayar satu milyar dalam adegan dan sesi pemotretan dalam film “air terjun pengantin”.
Bila ditilik dari sejarah kita, sebenarnya erotica ini sudah berlangsung sejak lama, missal pada tahun 1993 majalah Tempo nomor 36 november pernah memuat gambar Dewi sukarno yang dicetak ulang untuk memenuhi kebutuhan pembaca. Film-film pun menyusul dengan adegan yang lebih dari sekedar erotis seperti : “sliver, basic instinct,save me, serta film dari indonesia yang bertajuk :“ cinta &nafsu”, “Ranjang pemikat”, “Selir”, dll.
Ajang pemilihan berbagai nominasi-nominasi pun dihadirkan sebagai apresiasi dan kontrak sosial. Bahwa secara tidak langsung transaksi untuk menyerahkan eksploitasi tubuh perempuan itu sendiri [Bengin, Burhan, juni 2001]. Dalam era saat ini misalnya banyak ajang pencarian bakat, masih saja menampilkan erotica media massa, baik ajang pemilihan miss Indonesia, puteri Indonesia, ajang penyanyi dangdut, dan lain sebagainya. Meski UU Pornografi dan pornoaksi sudah disahkan tetap saja belum mengubah perempuan dalam objek kapitalisasi.
Relasi perempuan dengan Erotika media massa mengilhami bahwasannya erotica media massa seringkali masih relevan dengan keadaan kita sekarang, serta membuat kita merefleksikan kembali bahwasannya perempuan sebagai subjek jelas di kuasai oleh motif kapitalisme dan komersialisasi produk ataupun acara yang menjual. Secara tidak sadar, dunia digital tetap saja tidak mampu dibendung dengan berbagai riuh arus informasi yang menjejali kita setiap harinya. Meskipun UU ITE melindungi para korban, tapi perlu satu kewaspadaan yang sangat bagi para artis dan para generasi muda. Sudah banyak kasus yang mestinya menjadi pelajaran buat diri kita, bahwa bermain-main di dunia maya bisa jadi merugikan kita. Sebut saja fenomena terbaru artis pretty sinta yang tanpa sadar foto-fotonya beredar di dunia maya, juga syahrini yang mengalami kasus serupa.
Akibatnya, nama baik dan juga karir yang dibangun perempuan dengan susah payah hancur gara-gara satu peristiwa saja, itupun dari hal yang tidak disengaja. Perempuan dalam hal ini selain sebagai korban, ternyata juga sebagai obyek kapitalisasi. Dengan maraknya berita dan rating yang cukup memuaskan dari pemirsa, maka iklan pun bisa digenjot cukup fantastis. Dengan begitu, yang diuntungkan tetap saja para kapitalisasi dan industry media dan entertainment. Mungkin kita mesti merefleksikan kembali apakah memang erotica media massa dapat meningkatkan kesejahteraan perempuan atau justru sebaliknya malah menindas dan mengeksploitasi perempuan.Begitu.


*) Penulis adalah Mahasiswa UMS, bergiat di IMM Surakarta
Tulisan Dimuat di Koranopini.com

Senin, Juni 06, 2011

Perempuan Mati Gaya???



Oleh arif saifudin yudistira

Hampir setiap tahunnya trend dan gaya perempuan berubah sesuai jamannya. Media massa pun mengiklankan diri untuk dijadikan referensi gaya bagi perempuan. Trend ini masih berlangsung hingga saat ini, sampai-sampai kita tak tahu sampai dimana kita akan berhenti menjadikan trend dan mode sebagai buku dan gaya perempuan-perempuan kita.

Trend ini pun muncul bak kamus dan buku yang bisa dijadikan referensi bagi perempuan kita. Ini bisa kita lihat di berbagai media cetak maupun elektronik. Mulai dari majalah, koran, tabloid, hingga siaran televisi dan radio pun ikut berlomba menarik perempuan dan memberikan referensi mutakhir “seperti apa” perempuan tampil di lebaran kali ini. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki produk pun ditawarkan. Mulai dari aksesoris kalung,gelang, hingga pakaian paling ngetrend pun juga menjadi godaan yang menggoda para perempuan kita untuk sama-sama bergaya di hari raya tahun ini. Tidak hanya itu, jilbab pun hadir dengan berbagai variasi jilbab mode atau lebih dikenal dengan jimod, jilbab seksi atau lebih dikenal dengan jisex, jilbab syar’i yang lebih dikenal dengan ji’syar dan lain-lain.

Kamus mode tersebut tidak hanya ada di pakaian semata, tetapi juga soal makanan dari snack hingga makanan kelas Mc Donalds. Al hasil, perempuan pun menjadi lengkap dengan segala yang ada di iklan dan di pasar. Lengkap sudah perempuan menjadi sosok peniru, sosok yang mengidentifikasi iklan, mengidentifikasi majalah, berguru pada televisi, dan lain-lain. Jean Paul Badrillard dalam bukunya masyarakat konsumsi mengatakan : “bahwasannya saat ini keinginan [want] sudah berubah menjadi kebutuhan [need]”. Sehingga apa yang nampak sebagai keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang harus dibeli. Maka perempuan pun menjadi sasaran yang cukup empuk untuk berbagai produk. Baik dari produk makanan, produk kecantikan, maupun gaya berpakaian.

Jebakan Iklan & Pasar

Perempuan melakukan itu semua akibat dari jebakan dan daya tarik iklan yang membius mereka untuk membeli, dan menikmati serta melakukan imitasi terhadap apa yang ada di iklan. Iklan memang menjadi alat yang represif untuk menteror, serta memaksa perempuan untuk melanggengkan masyarakat konsumsi. Melalui iklan itulah dimunculkan sosok artis idola, sosok yang semenarik mungkin yang bisa membius konsumen untuk tertarik dan membeli produk.

Dengan keterpesonaan itulah, perempuan sudah masuk dalam jeratan pasar yang melenakan. Pasar pun diciptakan di setiap bulan untuk menuruti kemauan dan hasrat bergaya, dan hasrat konsumtif. Dengan pasar inilah, diciptakan jebakan-jebakan seperti diskon, obral, dan lain-lain. Dengan rayuan diskon dan harga murah itulah, perempuan rame-rame berbelanja habis-habisan. Mumpung lagi diskon, mumpung lagi obral, begitulah kiranya. Tanpa sadar perempuan terjebak dan terlena dalam jebakan pasar tersebut, akhirnya yang diuntungkan tidak lain dan tidak bukan adalah pasar.

Mati gaya

Perempuanpun menjadi sosok yang lincah melakukan imitasi, dan identifikasi sesuai dengan apa yang diinginkan pasar. Maka tak heran, daya kreatifitas perempuan menjadi mati karena gaya hidup perempuan tidak lain adalah gaya tiruan. Tiruan dari buku iklan, tiruan dari media cetak, televise, dan lain-lain. Dengan demikian, perempuan kembali menjadi korban iklan, korban kapitalisasi, dan korban trend yang tak sadar mereka menjadi pribadi yang semu. Sebab tanpa gaya yang ada di televise, iklan, dan media lainnya perempuan akan menjadi pribadi yang hilang. Artinya, perempuan akan kehilangan kepercayaan dirinya dalam melakukan sesuatu hal. Baik dari aktifitas memasak, berpakaian, berias, dan lain-lain.

Oleh karena itu, sudah waktunya perempuan sadar dan mampu menciptakan pribadinya sendiri tanpa harus berguru pada trend dan mode yang ada pada media massa maupun elektronik. Sehingga perempuan menjadi pribadi yang mantap, kreatif, dan tetap percaya diri penuh dengan gayanya sendiri, dengan karakteristiknya sendiri. Sehingga perempuan tidak lagi menjadi korban iklan, trend, dan referensi gaya yang secara tidak langsung menipu, melenakan, dan menjebak perempuan menjadi pribadi yang hilang. Demikian.

*) Penulis adalah mahasiswa UMS, bergiat di komunitas tanda tanya UMS,dimuat di majalah pabelan APRIL 2011