Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Kamis, Juni 24, 2010

Video Mesum & Krisis Moralitas Negeri ini

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Semenjak beredarnya video hot yang diduga mirip luna maya dan ariel, serta cut tari berbagai pemberitaan hampir setiap hari rutin menyoroti kasus ini. Mulai dari media cetak hingga elektronik pun seperti terfokus mengupas masalah ini. Munculnya video tersebut mengundang perhatian dari berbagai kalangan serta mengundang tanya public apakah negeri ini sudah mengalami krisis moral yang sangat akut?.
Benar tidaknya siapa pemeran video tersebut memang menjadi PR bagi aparat kepolisian dan pakar telekomunikasi untuk menyelidiki lebih jauh. Akan tetapi efek pemberitaan dan bagaimana kemudian reaksi masyarakat menjadi fenomena yang menarik yang bisa kita kaji.
Pasca pemberitaan video hot diatas, tiba tiba saja ada infeksi mendadak di berbagai sekolah-sekolah dan instansi kedinasan pun tak lepas dari infeksi mendadak yang dilakukan aparat kepolisian setempat. Ternyata, dari berbagai infeksi mendadak ditemukan pegawai negeri, bahkan guru, serta murid yang terbukti menyimpan video hot yang mirip luna maya dan video mesum lainnya. Kita memang tidak boleh terlalu cepat berkesimpulan tentang krisis moralitas di negeri ini. Akan tetapi ketika kita melihat realitanya, Indonesia memang pantas disebut negeri paling absurd dalam segi moralitasnya.
Beberapa minggu lalu salah satu stasiun televisi kita mengabarkan bahwa Indonesia menempati urutan teratas dalam pencari situs video mesum di dunia, Ini merupakan kabar yang menyedihkan dan generasi muda adalah paling banyak diantaranya.

Anak-Anak dan Media

Krisis moralitas di negeri ini dikhawatirkan merambah pada dunia anak-anak kita. Orang tua khawatir anak-anak sekarang menjadi korban dari kasus video mesum dan pemeberitaan media. Memang media berhak dalam pemberitaan tersebut, akan tetapi pemberitaan yang berlebihan dan terus menerus akan mengundang tanya dan rasa penasaran dari anak-anak kita mengingat perkembangan teknologi sudah sedemikian pesatnya.
Program kementrian komunikasi dan telekomunikasi untuk memberantas pornografi pun sepertinya kalah dengan asupan-asupan infotainment, sinetron, dan film-film di layar televisi kita. Erotisme dan kesan kedewasaan yang muncul di sinetron kita sepertinya lebih mudah di telan oleh anak-anak kita daripada pesan moralnya. Maklum, sinetron kita saat ini pun jarang yang menonjolkan nilai pesan moralnya daripada sekedar komersial dan hiburan semata.
Kemampuan teknologi dan media massa dan elektronik pun sepertinya ikut gencar dalam memberikan iklan film-film populer serta dunia hiburan pada remaja kita, sehingga di era modern ini, banyak anak-anak kita terlalu cepat dewasa melebihi usianya.
Media mempunyai peranan besar, karena efektif dan massif dan mudah diserap oleh anak-anak kita, terutama televisi, Larangan Komisi penyiaran Indonesia[KPI]sepertinya juga tak menyurutkan media untuk memberitakan kasus video mesum yang diduga mirip luna maya,ariel, dan cut tari. Gencarnya pemberitaan tersebut justru semakin membuat anak-anak penasaran untuk mencari, dan mempertanyakan akan berita tersebut. Ketika orang tua tidak bisa memberikan jawaban yang bijak dan memuaskan, anak cenderung mencari dan menemukan sendiri jawaban pertanyaan tersebut.
Hebohnya berita video mesum mirip luna maya dan ariel ini pun begitu massif di kalangan artis hingga para remaja di desa-desa. Bahkan baru-baru ini ditemukan pula para penyebar vcd mesum yang mirip luna maya, ariel, dan cut tari.
Negeri ini memang sudah mengalami krisis moralitas dari atas hingga bawah. Kita tentu tidak lupa dengan kasus video anggota DPR yang cukup heboh di tahun-tahun lalu, kini masyarakat kita pun rela menjadikan hal yang merusak moralitas negeri menjadi sesuatu bisnis yang menggiurkan.

Solusi

Dengan melihat berbagai krisis moralitas yang ada saat ini, sudah saatnya para agamawan, para guru-guru kita serta kita semua perlu berbenah diri agar generasi mendatang Indonesia tidak menjadi semakin rusak.. Ada beberapa solusi untuk menangani krisis moralitas negeri ini diantaranya ;Pertama, Sudah selayaknya pendidikan keluarga yang paling memungkinkan untuk mendidik anak-anak kita, agar tidak mengalami krisis moralitas yang dikhawatirkan kita semua. Kedua, sudah waktunya pendidikan seks diberikan oleh sekolah-sekolah di negeri ini. Agar kaca mata kita terhadap seks bisa diarahkan pada cara pandang yang benar dan wajar. Sebab gencarnya arus modernitas dan globalisasi perlu kita tangani efek negatifnya. Agar derasnya arus informasi dan globalisasi yang ada bisa kita filter dengan bijak, selain memperkuat pendidikan moralitas dan akhlak di lingkungan keluarga.
Ketiga, perlu keteladanan dari para public figure maupun pemimpin bangsa kita, sehingga anak-anak kita dan generasi kita tidak kehilangan tokoh panutan dan teladan bagi bangsa dan negeri ini. Sebab, krisis keteladanan ini bisa kita lihat dari idola anak-anak kita yang cenderung mengidolakan artis-artis tanpa memandang secara holistic artis tersebut.
Terakhir, fenomena beredarnya video mesum ini hendaknya dijadikan pelajaran bagi kita semua dan disikapi dengan bijaksana. Selain itu, menjadi tangung jawab kita semua, agar pendidikan moralitas itu penting dan perlu diajarkan di sekolah kita masing-masing, sebab derasnya arus informasi dan kecanggihan teknologi tidak seharusnya disalahkan sepenuhnya. Melainkan sikap kita yang bijaksana untuk menyikapi kecanggihan tehnologi agar tidak meringkus dan memperdaya kita. Demikian.









PEnulis adalah Presidum Kawah Institute Indonesia, belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sisi Lain Gemerlap Piala Dunia

Oleh Arif saifudin yudistira*)

Sepak bola menjadi fenomena yang menarik kita kaji dari berbagai sudut pandang. Selain sepak bola digemari oleh seluruh dunia, negeri ini tidak kalah menjadi supporter dan penggila olahraga ini. Apalagi semenjak dibukanya piala dunia di stadion Johannesburg afrika selatan.
Akan tetapi ada sisi lain yang juga menarik untuk disimak disamping keceriaan dan kemeriahan pembukaan piala dunia, ada juga protes warga afrika selatan terhadap piala dunia. Kebijaksanaan FIFA world cup 2010 yang melakukan dominasi ekonomi di Afrika selatan menjadi fenomena yang membuktikan, sepak bola tidak pernah bisa lepas dari masalah ekonomi. FIFA mengeluarkan kebijakan hanya produk sponsorship yang boleh dijual di sekitar arena world cup. Dan anehnya, para pedagang local yang ingin menjual dan memanfaatkan moment piala dunia, dilarang pemerintah setempat dengan peraturan yang sudah ditetapkan.
Fenomena diatas hanya sebagian kecil bagaimana sepak bola bergelut dalam wilayah perekonomian, begitupun sebaliknya, sepakbola sulit dilepaskan dari aspek ekonomi. Mulai dari kontrak penayangan stasiun televisi, kemudian iklan, sampai pada wilayah infotainment yang mengupas khusus tentang sepak bola.
Kita tahu hampir semua stasiun televisi kita mengupas habis perjalanan tim-tim yang akan berlaga di piala dunia, sampai pada perkembangan pemain dan tim yang akan berlaga di piala dunia dan perjalanan karirnya menjadi berita yang menghiasi televisi kita satu bulan menjelang piala dunia. Tak hanya itu, koran-koran kita pun menyediakan rubric baru khusus piala dunia 2010.
Dominasi ekonomi di afrika selatan oleh FIFA menunjukkan bahwa kebijakan negara untuk melindungi para ekonomi local kalah dengan dominasi huru-hara sepak bola akbar ini. Negara sepertinya didesak oleh dominasi capital yang harus menggusur ekonomi dan pedagang local disana. Intervensi pun muncul melalui aturan yang dilegalkan oleh pemerintah setempat untuk menguatkan dominasi kapitalis. Akibatnya, para pedagang local pun terpaksa mengalah demi nama baik sebagai tuan rumah piala dunia yang ramah terhadap capital asing.
Tidak hanya itu, pembagian hotel di afrika selatan pun menunjukkan adanya diskriminasi yang kentara. Bagaimana kemudian kelas-kelas ekonomi dan negara-negara yang maju diberi fasilitas hotel bintang lima, sedang untuk negara yang masih terbelakang menempati hotel berbintang tiga. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertarungan antar kelas yang dulu digambarkan oleh marx masih saja terjadi sampai saat ini. Fenomena ini memberikan gambaran kepada kita bahwa sepak bola belum bisa menyatukan dan meruntuhkan segala bentuk diskriminasi dan pertarungan kelas menjadi penyatuan dan persamaan dalam laga piala dunia ini.
Sepak bola dan Politik Citra
Semenjak afrika selatan dikabarkan menjadi tuan rumah piala dunia, maka politik pencitraan pun muncul di berbagai media massa. Berbagai media mencoba meyakinkan public bahwa afrika selatan layak menjadi tuan rumah piala dunia. Mulai dari soundtrack piala dunia, sampai pada iklan televisi yang mencoba meyakinkan dan memprofilkan afrika selatan melalui media.
Tidak hanya itu, tiba-tiba saja terompet khas afrika jadi rubric di koran-koran kita yang lebih dikenal dengan vuvuzela. Dengan berbagai pencitraan maka layaklah public memandang afrika selatan sebagai tuan rumah piala dunia. Tapi ketika kita melihat di balik kemeriahan di piala dunia sekarang ini, ada ironi yang luar biasa, bahkan sampai berjalannya piala dunia pun ada saja masyarakat Durban yang melakukan unjuk rasa menuntut hak-haknya karena merasa tersingkir oleh piala dunia.
Rabu(16/6)sebagaimana dikabarkan SOLO POS, ratusan pekerja dan supporter bersama-sama memprotes kondisi yang dialami masyarakat miskin disana. Koordinator aksi Trevor ngawane juga mengatakan “Saat kami menuntut pekerjaan, pendidikan yang lebih baik serta rumah mereka bilang tak ada uang. Tapi tiba-tiba mereka menjadi miliuner dengan membangun stadion”.
Selain itu, para pekerja juga mengeluhkan masalah gaji dan kesejahteraan mereka, ada juga nelayan yang kehilangan pekerjaannya demi dibangunnya hotel yang mewah untuk para turis yang bisa langsung melihat piala dunia. Rajen inderjeeth mengatakan “mereka mengambil kehidupan kami”(SOLO POS, 16/6)
Fenomena diatas menunjukkan bahwa kebijakan kaum pemodal tetap menjadi pemenang dalam pertarungan antar kelas. Kita tahu, afrika selatan masih dikenal sebagai negara yang masih terbelakang, sehingga momentum piala dunia sengaja dimanfaatkan mereka untuk meningkatkan kehidupan mereka. Akan tetapi, kehadiran piala dunia yang diharapkan oleh mereka akan menghadirkan kesejahteraan justru malah berimbas pada kekalahan ekonomi juga kehidupan mereka.
Kebijakan pemerintah afrika selatan untuk membuat aturan yang tidak memihak warganya juga disebabkan adanya politik yang kuat dari FIFA selaku penyelenggara. Tidak hanya itu, para noni-noni belanda yang diduga membawa minuman bir pun dikeluarkan satpam karena alasan sponsor utamalah yang berhak untuk ditayangkan.
Piala dunia yang berjalan meriah dan gemerlap, spektakuler tidak selayaknya mengundang keprihatinan dengan kebijakan yang justru merugikan warga afrika selatan. Ironi semacam ini hendaknya diperhatikan bagi warga dunia dan pemerintahan afrika selatan agar lebih memperhatikan kaum pekerja dan warga disana. Sebab kemeriahan dan gemerlap piala dunia akan terlalu naïf jika dikotori dengan berita yang mencoreng nama afrika selatan selama ini.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah kemudian sepak bola yang menjadi symbol pemersatu dunia?. Ataukah sebaliknya, sepak bola menjadi symbol kekuasaan modal yang menembus segala lini termasuk negara sekalipun yang memiliki kedaulatan? Ataukah sepak bola juga harus menggusur para warga yang berhak mencari kehidupan demi gemerlapnya piala dunia?.

*)Penulis adalah Mahasiswa UMS, Presidium Kawah Institute Indonesia

Kelatahan Kita dalam Berbahasa dan Mempelajari Sastra

Oleh Arif saifudin yudistira*)

”Kita dibaca bahasa atau kita membaca bahasa???”
[Afrizal Malna dalam sebuah diskusi]

Sejarah bahasa indonesia melampui proses yang panjang dalam menentukan format bernama “bahasa indonesia” yang saat ini berubah menjadi kecenderungan yang kaku, tersistem dan baku. Kebakuan dan kekakuan ini cenderung membuat bahasa menjadi sesuatu yang sukar difahami atau justru sebaliknya menjadi seakan-akan begitu mudah dipelajari.
Keadaan ini menciptakan kelatahan kita dalam memahami bahasa yang cenderung merupakan bahasa kita sehari-hari. Kelatahan ini muncul ketika kita menemukan kesulitan-kesulitan ketika bertemu dengan pemaknaan dan pembacaan kita tentang makna ”puisi”.
Sepertinya puisi memang menjadi sempit atau disempitkan ketika berhadapan dengan logika-logika pengajaran kita di kelas. Lihat saja pengalaman kita ketika disuruh membuat puisi dengan kata gunung, ibu, keluarga, dan lain-lain.
Sekolah cenderung gagap dan bingung bagaimana kemudian metode terbaik mengajari anak-anak mempelajari pelajaran dengan tajuk ”bahasa indonesia”. Tidak hanya itu, pereduksian bahasa muncul lebih-lebih ketika dihadapkan pada soal-soal ujian nasional yang cenderung menggunakan metode rumus-rumus.Bahasa menjadi hal yang aneh tapi nyata ini dihadapi oleh para guru-guru dan dosen-dosen kita dalam memberikan pengajaran bahasa indonesia.
Kelatahan ini berlangsung melalui proses yang lama, sejak pendisiplinan pemerintah kita baik sebelum orde baru apalagi pada masa orde baru. Pendisiplinan ini dipegang pemerintah sebagai otoritas dalam mempergunakan bahasa sebagai alat kuasa pada waktu itu. Munculnya kamus besar bahasa indonesia jilid I dan sebagainya, munculnya cara mengarang, munculnya cara membuat pantun yang baik dan benar adalah berbagai contoh pendisiplinan bahasa pada waktu itu.
Pertanyaannya kemudian bagaimana kita berbahasa tanpa mengalami kelatahan-kelatahan tadi. Proses berbahasa memang tidak berlangsung sedemikian cepat. Kelatahan adalah bagian dari prosesi sejarah yang memang tidak bisa terelakkan. Afrizal malna menawarkan bagaimana ketika kita kembali pada sesuatu yang alami, mencari yang alami dari tubuh kita yang merupakan salah satu pusat bahasa.
Ia mengungkapkan ini dengan bagus dalam puisinya ”Dada”........menulis mengapa harus menulis,bagaimana harus ditulis.....Lebih lanjut ia mengatakan Membaca mengapa jadi membaca, menulis jadi mengapa menulis?.Sehari. Aku bermimpi menjadi manusia. Ia mencoba menjelaskan bagaimana kemudian kita mempertanyakan kembali pada kita, apakah sampai saat ini kita hanya bermimpi dengan yang namanya bahasa.
Bahasa, menjadi begitu penting untuk diperkarakan, sebab ia bukan hanya sekedar alat komunikasi semata, tapi ia juga merupakan cara pengungkapan perasaan manusia yang terdalam dalam menyatakan sebuah perasaannya.
Kelatahan kita dalam mempelajari bahasa adalah keniscayaan yang harus dihentikan. Membaca sejarah kebahasaan kita menjadi jarang dipelajari oleh para guru-guru kita, oleh para pemegang otoritas bahasa melainkan baru pada tahap penghargaan sebuah karya sastra, pemujaan pada logika-logika kaku dalam dunia pelajaran dan pengajaran kita. Sepertinya kita akan terpenjara dalam bahasa seperti yang diungkapkan oleh afrizal, bahasa adalah penjara.
Selama kita tidak mau melepaskan diri dari cara-cara kuno, kaku maka kelatahan itu akan menjadi sebuah hal yang dianggap wajar. Mempelajari dan menemukan kembali bagaimana ”bahasa kita” adalah sebuah keharusan yang dikerjakan oleh institusi-institusi kebahasaan, sampai pada institusi pendidikan yang memegang otoritas dalam pengajaran dan pempublikasian dalam kebahasaan.
Kemauan dan kemampuan kita untuk keluar dari logika-logika baku, akan cenderung mempermudah kita dalam menentukan dan merumuskan kembali corak kebahasaan kita di negeri ini. Dan menumbuhkan kembali semangat dan budaya kebahasaan diantaranya menulis maupun membaca teks-teks sastra ataupun produk kebahasaan kita.
Sehingga kelatahan kita dalam berbahasa menjadi sebuah keharusan kita di era yang penuh dengan pertentangan dan perebutan pengaruh orang dalam menyebarkan eksistensi kebahasaan, sebut saja bahasa inggris. Jangan sampai kita menjadi latah ketika memahami dan mempelajari bahasa indonesia, dibanding ketika kita belajar dan memahami bahasa lain. Begitu.






Penulis adalah Presidium kawah institute indonesia, belajar di universitas muhammadiyah surakarta, tulisan ini di muat di buletin sastra pawon sastra SOLO