Kawah Institute Indonesia

Pusat Studi dan Pembelajaran Generasi revolusioner

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Solo, Central Java, Indonesia

Kawah Institute adalah Lembaga independen yang senantiasa berusaha untuk bersama-sama menjadikan tempat ini sebagai pusat studi dan pembelajaran generasi revolusioner,bertujuan agar senantiasa terjadi perubahan secara radikal, sistematis, serta terencana {Revolusi}

Senin, Oktober 15, 2012

Sejarah Kecil dan Humanisme Rosihan Anwar 

oleh arif saifudin yudistira*)


          Bila kita pernah belajar dan mempelajari sejarah kita di masa sekolah-sekolah kita, kita akan merasakan setidaknya menyadari bahwa sejarah di masa sekolah-sekolah kita tak memberikan rasa yang cukup menggetarkan di sanubari kita. Cara bercerita dan bertutur mempengaruhi bagaimana kita bisa memahami dan merasakan para pejuang dan pahlawan kemerdekaan di masa lampau mengalami penderitaan yang tiada habisnya demi tercapainya Indonesia merdeka. Beruntunglah kita yang menemui buku-buku sejarah yang naratif, sekaligus eksplanatif kita mengenali ini dari sartono kartodirjo, meski dengan bahasa yang ketat, kita bisa memasuki alam masa lampau yang diceritakan. Atau sebut saja buku pangeran diponegoro karya peter carrey(2011). Disana kita akan menemukan betapa sejarah, alam, hingga peristiwa masa lampau jadi hidup di depan kita.
          Dan di tahun 2012  ini, kita menikmati kembali sejarah yang dikemas dengan bahasa jurnalistik, renyah, penuh dengan intimitas, dan tentu membawa kita merasakan apa yang diceritakan oleh penulisnya. Rosihan anwar wartawan cum sejarawan yang hidup di tiga jaman ini lihai dan menggeluti terhadap profesinya. Jika Jacob oetama menyebut ia adalah wartawan yang tak pernah berhenti untuk bergulat dan mengalami pergulatan di masanya.  Rosihan anwar menunjukkan pada kita bahwa setiap peristiwa kecil, kenangan kecil dan hubungan dengan kerabat, teman-teman adalah peristiwa yang sayang untuk dilewatkan untuk dicatat. Melalui profesinya itulah, ia sering meninggalkan catatan-catatan kecil tentang hidup orang-orang. Melalui rubric “in memoriam” harian kompas itulah tulisannya memperoleh perhatian public dan mengalami kontroversi. Sebab kisah yang ditulis rosihan tidak semuanya baik, dengan menceritakan kebaikan dan keburukan yang diceritakan rosihan mencoba bersikap objektif dalam menuliskan kisah-kisahnya itu.

Reportase dari dalam

              Tulisan Rosihan anwar dalam buku “petite historie 5” ini setidaknya memberikan gambaran pada kita bagaimana kita melakukan teknik reportase dari dalam. Reportase yang dilakukan oleh rosihan adalah percakapan-percakapan ringan, kenangan-kenangan kecil, dan peristiwa kecil yang sebenarnya biasa saja. Justru dari pengalaman yang biasa itulah, ia menemukan cara berkisah yang menunjukkan sejarah dari sisi lain. Dengan itulah ia menuliskan sejarah para pelopor negeri ini. Baik dari pejuang kemerdekaan, bapak proklamasi, hingga para perintis kemerdekaan dan para pegiat sastera dan kemanusiaan. Telisik sejarah memang memberikan kita sengatan tersendiri akan memori masa silam yang dibawa melalui tulisan. Sejarah mengundang kita, bahwa ia bukan sekadar cerita. Sejarah itu saksi yang tak terlepas dari tragedy, cerita sedih, senang. Kekurangan dan kesempurnaan.
                Kita bisa menemui kisah yang menunjukkan betapa soekarno adalah sosok yang penuh dengan integritas, penuh dengan keakraban yang hangat, tapi di sisi lain ia adalah pejantan sebagaimana yang dituliskan oleh cindy adams dalam otobiografinya. Di masa mudanya ia adalah pemimpin yang sering mengejar sinyo, dan di masa tuanya pun sempat bercanda dengan dokter pribadinya- dr ong. Simaklah percakapan berikut ini : “tahukah kamu bagaimana cara memastikan apakah seorang gadis pada penglihatan dari luar masih perawan?” Tanya bung karno. “Tidak tahu,”jawab ong. Dan bung karno pun menunjukkan caranya pada Ong. Percakapan yang bagi kita sulit dipercaya, soekarno adalah sosok yang begitu terbukanya kepada dokter pribadinya. Di sisi lain, rosihan menyebut paska 1950-an soekarno lebih dikenal dengan sosok diktatur dan keras berbeda ketika sebelum 1950-an hal ini karena soekarno juga yang memberedel harian PEDOMAN yang dipimpin rosihan anwar. Dari kisah soekarno kita menemui pelajaran bagaimana pemimpin dididik dari buku, realitas dan pengalaman yang mendalam. Soekarno adalah pembangun national and character building yang menyebabkan rakyat kita tak lagi minder di mata asing.
           Di dalam buku ini kita juga bisa menemui kisah soedjatmoko yang akrab di panggil “koko”. Intelektual sosialis ini memenuhi tugasnya, ia meninggal dengan petuah dan kuliah terakhirnya tentang bagaimana memandang negeri ini ke depan. Kita pun menyimak kisah kesederhanaan yang tulus dari Bung Hatta. Meskipun di tengah-tengah keterpurukan dan kesulitan ekonomi, hatta tak mau menggunakan uang negara sepeser pun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya meskipun kesempatan itu ada. Rosihan pun menceritakan peran bung kecil (syahrir) dalam membangun dan menciptakan kemerdekaan negeri ini.
Rosihan dengan objektif mengangkat sisi manusiawi syahrir, yang perlu kita dengarkan. Ia berhasil keluar dari cara pandang subjektif meskipun secara pribadi rosihan lebih simpatik terhadap partai sosialis ini. Sebagaimana di tulis rosihan mengutip syahrir di tahun 1946 : “saya percaya ideas have legs, pikiran-pikiran itu punya kaki,mampu menyebar, dan pikiran bisa mewujudkan kekuasaan”. Dengan prinsip itulah syahrir diejek bahwa partai gagasannya itu tak akan membawa apa-apa bahkan tiada berguna, sebab partai di masa itu penuh dengan semangat haus akan kuasa.

               Hampir semua liputan yang dilakukan oleh rosihan dipadu dengan fakta dan data sejarah, didukung oleh intimitas personal yang mendalam sehingga mengerti betul apa dan sosok seperti apa yang dia tulis. Sehingga tulisan rosihan memiliki ruh yang memanggil pada kita untuk masuk dalam alam yang dituliskannya.

Humanis

             Rosihan anwar yang dikenal dengan sosok humanis, menggunakan watak humanis ini untuk menulis. Dengan itulah kita mengerti betapa soekarno yang besar seperti itu tak berdaya di akhir menjelang jatuhnya, ia mengenali kesederhanaan hatta dan mengartikulasikannya dengan baik. Kita bisa mendengar bagaimana syahrir yang konsisten dalam konsep perjuangannya. Kita juga diajak untuk meneladani para isteri-isteri tokoh-tokoh kita melalui kesetiaan rahmi hatta, keteguhan fatmawati soekarno, dan “mbekti”nya hartini soekarno. Dengan buku ini pula kita bisa mengambil pelajaran berharga dari para tokoh pelopor, perintis kemerdekaan, juga pegiat film, sastra dan kemanusiaan. Cerita dan kisah dalam buku ini mungkin hanya sepenggal, tapi ia turut membentangkan kesejarahan kita, dan turut melantunkan sisi lain sejarah Indonesia. Begitu.


*)Penulis adalah Mahasiswa UMS pegiat bilik literasi solo, Presidium kawah institute indonesia

*)Tulisan termuat di Lampung Post 14 oktober 2012